Arsip | 15.43

Kedudukan Rasul

7 Okt

Kedudukan Rasul
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Syahadat rasul yang kita ucapkan menuntut kita untuk mengakui bahwa Muhammad bin Abdullah adalah nabi dan utusan Allah. Pengakuan akan kenabian dan kerasulannya harus dibarengi dengan sikap proporsional, tidak berlebihan, namun juga tidak mengurangi hak-haknya. Beliau saw. melarang ketika ada sebagian shahabat yang memperlakukannya secara berlebihan seraya menjelaskan kedudukan yang sebenarnya dengan sabdanya: “Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya. karena itu panggillah aku Abdullah wa RasuluHu.”

1. Rasul Allah
Dengan sebutan sebagai hamba Allah di antara hamba-hamba Allah yang lain, beliau menanamkan prinsip egaliter. Beliau ingin diperlaukan sebagai manusia biasa biasa betapapun beliau adalah manusia pilihan yang lahir dari keturunan pilihan, dan memiliki fisik yang sempurna. Hal itu supaya tidak ada alasan untuk diperolok-olok atau didustakan. Tentang ini dapat kita pelajari lewat sejarah hidupnya.

2. Utusan Allah
Dengan kedudukan ini beliau menjadi manusia yang paling istimewa dengan risalah-Nya yang memiliki tugas:
a. Menyampaikan risalah pada umatnya
b. Menunaikan amanah, karena risalah ini tidak lain adalah titipan yang harus ditunaikan sebagaimana dikehendaki sang pemberi amanah.
c. Memimpin umat

Kedudukan ini mewajibkan beliau untuk melakukan dakwah ilallah, mengajak seluruh umat manusia untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, membebaskan mereka dari penghambaan kepada sesama makhluk dan menghamba hanya kepada al-Khaliq

Syahadat rasul mewajibkan setiap muslim untuk mengikuti dan meneladani Rasulullah saw. dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah maupun sebagai rasul. Di kala beliau masih hidup, keteladanan itu dapat disaksikan langsung. Setelah beliau wafat, keteladanan itu dapat kita temukan dalam sunnah yaitu riwayat tentang beliau berupa ucapan, perbuatan, dan taqriirnya.

Dalam sunnah akan kita temukan:
1. Sejarah perjalanan hidup Rasulullah saw. (sirah nabawiyah)
Yaitu riwayat yang mengutarakan perjalanan hidup beliau sebagai manusia sejak sebelum lahir hingga wafatnya. Mempelajarinya merupakan ibadah karena dengannya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan semakin kuat.
2. Hukum-hukum.
Syariat telah menentukan apa yang halal dan apa yang haram. Yang dibiarkan tidak perlu dipertanyakan. Pemahaman kita terhadap hukum-hukum ini penting agar ibadah kita bersihh dari bid’ah dan khurafat.
3. Konsep dakwah
Pemahaman yang mendalam terhadap sunnah juga memberikan konsep yang benar dalam mendakwahkannya –disamping memberi gambaran yang utuh tentang pribadi rasul dan syariat. Karena dakwah merupakan ibadah, maka bukan hanya muatan dakwah yang harus diperhatikan namun juga pendekatan dan metodolongi yang digunakan. Hal ini perlu supaya tidak terjadi kontra produktif. Pemahaman yang benar dan utuh terhadap sunnah beliau saw. dalam berdakwah akan memberikan hasil yang baik.

&

Definisi Rasul

7 Okt

Definisi Rasul
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Secara bahasa rasul berarti utusan. Siapa saja yang diutus pihak lain, secara bahasa disebut rasul. Dalam istilah syar’i rasul adalah lelaki pilihan yang diutus Allah dengan membawa risalah kepada umat manusia. Hanya hamba pilihan saja yang Allah angkat sebagari utusan-Nya, baik berupa malaikat maupun manusia sebagaimana difirmankan dalam surah al-Hajj ayat 75.

Namun bagaimanapun istimewanya, rasul tersebut tidak pernah menjadi tuhan, tidak pernah mengaku sebagai tuhan, dan tidak mau dipertuhankan. Karena tidak ada tuhan selain Allah. Ia adalah manusia biasa yang tidak lepas dari sifat-sifat kemanusiaan.
“Kami tidak pernah mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka juga memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (al-Furqan: 20)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kamu, yang mendapat wahyu bahwa tidak ada tuhan selain Allah.’” (al-Kahfi: 110)
“Sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa. Sungguh kalian mengangkat perkara kepadaku, boleh jadi sebagian kalian lebih pintar mengemukakan alasan-alasannya dibanding yang lain sehingga aku menangkan perkaranya sebagaimana yang aku dengar….’” (Muttafaqun ‘alaih)

Fungsi Rasul

1. Membawa risalah dari Allah
Ia diberi amanah untuk menyampaikan apa saja yang Allah kehendaki kepada umat manusia, tidak menambah atau pun mengurangi.

2. Teladan dalam menetapkan risalah
Manusia membutuhkan figur yang dapat memberi contoh dan teladan dalam mempraktekkan aqidah dan syari’ah yang Allah kehendaki. Karena itu rasul diambil dari manusia. Sekiranya ia diambil dari malaikat, tentu manusia tidak akan mampu meneladaninya. Orang kafir tidak mau beriman karena rasul berasal dari kalangan manusia. Benarkah mereka akan beriman jika rasul berasal dari malaikat? Bahkan, dapatkah mereka hidup tenang? Perhatikan surah al-Israa’ ayat 94-95 yang artinya:
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali Perkataan mereka: ‘Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?’ Katakanlah: ‘Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang Malaikat menjadi Rasul.’”

Kenabian dan kerasulan adalah karunia Allah, diberikan kepada siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang Allah kehendaki. Karena kedudukannya yang mulia itu maka kemudian banyak manusia yang mengklaim sebagai nabi. Padahal yang telah diangkat sebagai rasul saja tidak pernah memimpikannya. Agar tidak keliru dan sesat, harus dikenali tanda-tanda kerasulan itu. Yaitu:

a. Memiliki sifat-sifat asasi sebagai rasul yang dengan itu ia layak menjadi orang yang menerima kehormatan amanah dari Allah. Sifat-sifat itu lebih pada kredibilitas moral dan kemampuan intelektual yaitu shidiq [jujur], amanah, tabligh [menyampaikan], fathanah [pintar], disamping sifat-sifat pendukung yang lain.
b. Mendapat mukjizat, yaitu hal luar biasa yang Allah tujukan kepada umat manusia melalui dirinya. Mukjizat ini tidak diminta dan tidak dipelajari. Mukjizat terjadi atas kehendak Allah untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan kebenaran ajarannya.
c. Bisyarah, yaitu berita akan kedatangannya yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya di dalam kitab suci mereka.
d. Nubuat, yaitu bahwa ia menyampaikan berita-berita ghaib tentang ha-hal yang akan terjadi di kemudian hari.
e. Hasil [pencapaian], yaitu pencapaian gemilang nan sempurna yang hanya dapat dicapai oleh para rasul. Demikian itu karena ia adalah teladan yang memberi contoh terbaik. Contoh yang diberikannya adalah teladan yang paling ideal.

&

Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

7 Okt

Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Allah telah menciptakan manusia di atas fitrahnya. Hal ini termaktub dalam kitab suci-Nya dan disabdakan oleh Rasul-Nya.
“..[tetaplah atas] fitrah Allahyang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (ar-Ruum: 30)
“Sesungguhnya setiap anak dilahirkan dengan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau majusi.” (HR Muslim)

Maksudnya adalah bahwa Allah menciptakan manusia dalam kondisi fitrah dengan sifat-sifat dan karakteristik dasar yang asli. Secara fitri manusia telah memiliki kesadaran tentang adanya Rabb yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta hanya kita daptkan pada wahyu karena keberadaan manusia sebelum lahir ke dunia adalah masalah ghaib. Padahal hanya Allah lah yang mengetahui keghaiban. Al-Qur’an menginformasikan bahwa Allah telah mengambil sumpah adak-anak Adam saat mereka masih berada di “tulang sulbi ayah” mereka.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Benar [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi.” (al-A’raaf: 172)

Hal yang demikian ini Allah lakukan agar kelak nanti di hari kemudian mereka tidak memungkiri. Sampai saat ini tidak ada manusia yang mengklaim telah menciptakan alam semesta. Sebenarnya semua manusia mengakui bahwa Tuhannya yang telah menciptakan alam raya ini. Bahkan termasuk kaum atheis pun tidak dapat membuktikan bahwa alam ini terjadi tanpa Pencipta pertama yang telah menciptakan sebab-sebab dan mengatur akibat-akibat.

Karena manusia mengakui kebenaran al-Khaliq maka secara fitrah manusia juga memiliki kecenderungan untuk menyembah Allah swt. sebagai wujud syukur atas nikmat hidup, rizky, dan pemeliharaan yang telah diterimanya. Penyembahan manusia pada sesuatu yang tidak pernah menciptakannya merupangan penyimpangan atas fitrah tersebut. Penyimpangan ini terjadi karena pengaruh eksternal berupa godaan setan yang selalu berusaha menyesatkan manusia sehingga ia menyembah hal-hal yang ditakuti, yang besar, yang aneh, yang luar biasa, bahkan ada pula manusia menyembah dirinya sendiri.

Secara fitri manusia juga menginginkan kehidupan yang teratur, selaras dan harmonis. Manusia pasti tidak menginginkan kerusakan, kesemrawutan, dan kekacauan. Manusia ingin hidup tenang, dan damai dalam naungan kasih sayang dan cinta kasih. Manusia tidak ingin hidup dengan kondisi jiwa terancam. Namun setan selalu berusaha menimbulkan kekacauan dan keributan di antara manusia sehingga mereka pun bermusuhan dan saling bunih.

Fitrah yang suci itu apabila terawat dengan baik dan mendapatkan bimbingan yang benar maka akan melahirkan kebaikan bagi diri manusia dan alam semesta. Namun adakalanya setan menculik mereka sehingga mereka pun berbuat kemusyrikan , menghalalkan hal-hal yang Allah haramkan, dan mengharamkan hal-hal yang Allah halalkan. Untuk merawat fitrah, melawan nafsu, dan memerangi setan itu manusia membutuhkan petunjuk dan bimbingan Allah. Akan tetapi Allah Yang Maha Ghaib tidak dapat ditemuinya secara langsung bahkan ia sendiri tak kuasa untuk berhadapan langsung dengan-Nya. Karena itulah Allah mengutus para utusan berupa malaikat dan manusia pilihan untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia bagaimana mengenal penciptanya dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik. Karena itu, para Rasul diberi wahyu sebagai pedoman hidup yang terjamin kebenarannya. Dengan pengenalan dan pedoman hidup yang terjamin kebenarannya itu manusia dibimbing untuk melakukan ibadah yang benar.

&

Ilmu Allah

7 Okt

Ilmu Allah
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Sebagai pencipta, Allah adalah Tuhan yang Maha mengetahui. Ilmu-Nya Mahaluas tersebar di alam semesta, di samping masih ada pula yang tersimpan dalam perbendaharaan ilmu-Nya. Untuk menggambarkan keluasan ilmu Allah itu Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat indah, di antaranya:
“Sekiranya pohon-pohon yang ada di bumi ini adalah pena dan lautan [menjadi pena] ditambah lagi dengan tujuh lautan sesudahnya [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habis [dituliskan] kalimat-kalimat Allah.” (Lukman: 27)

Dilihat dari jalan untuk mendapatkannya, ilmu Allah itu dapat diketahui melalui dua cara:

1. Khusus, diperoleh melalui jalur formal yaitu melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul-Nya. Ilmu yang ada di dalam wahyu disebut sebagai ayat-ayat quliyah. Ia berada di dalam kitab suci al-Qur’an, Taurat, Zabur, dan Injil. Di samping itu, juga terdapat dalam sabda nabi-Nya yang telah dihimpun oleh para ulama dalam kitab-kitab hadits.
2. Umum, diperoleh melalui jalur non formal yang oleh Allah berikan melalui ilham. Ilmu yang didapat tidak melalui wahyu tetapi melalui ilham disebut ayat-ayat kauniyah. Allah memberikan ilmu-Nya kepada manusia umumnya secara langsung. Didapatkannya ilmu dengan cara ini, kalau menemukannya sendiri disebut inspirasi, dan kalau melalui orang lain disebut aspirasi. Inspirasi mau aspirasi dalam bahasa arab disebut ilham.

Ada sinergi yang sangat baik antara ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah, karena keduanya berasal dari sumber yang satu dan merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya. ayat-ayat qauliyah memberikan isyarat-isyarat kepada para ulama dan ilmuwan untuk melakukan kajian dan penelitian terhadap fenomena alam, hasilnya merupakan bukti kebenaran ayat-ayat qauliyah itu. Sebagai contoh, al-Qur’an mengatakan bahwa kita mengira bahwa bumi ini diam padahal ia bergerak seperti halnya awan. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa bumi bergerak demikian.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw. mengatakan.: “Apabila ada lalat hidup di air minum, hendaklah tenggelamkan sekalian.” Penelitian ilmiah membuktikan bahwa salah satu sayap lalat membawa microba dan sayap lain membawa anti microba yang hanya akan efektif kalau mendapatkan tekanan dengan ukuran tertentu yaitu dengan menenggelamkannya. Sinergi yang baik antara kedua ilmu itu akan memberikan kemaslahatan yang besar bagi kehidupan umat manusia.

Wahyu datang dari Allah Yang Maha Mengetahui meka seharusnya berlapang dada untuk menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup sebab kebenarannya adalah kebenaran yang mutlak. Akan tetapi, ilham [penemuan-penemual ilmiah yang dilakukan manusia] tidak dapat dijadikan sebagai pedoman hidup karena kebenarannya tidak mutlak. Kebenaran ilham merupakan kebenaran eksperimental yang kadang terbukti sesuai dengan wahyu namun terkadang terbukti sebaliknya. Penemuan ilmiah yang satu terbantah oleh eksperimen yang dilakukan oleh ilmuwan yang lain, bahkan tidak jarang terjadi bahwa penemuan seorang ilmuwan kemudian termentahkan oleh penemuannya sendiri di waktu yang lain.

Kebenaran sains dan kemajuan teknologi dapat digunakan untuk sarana kehidupan, dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Namun harus tetap memperhatikan batas-batas syar’i yang terdapat dalam ayat-ayat qauliyah. Penggunaan sains dan teknologi yang tidak mengindahkan batas-batas wahyu seringkali menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem dan keseimbangan alam. Bila ini yang terjadi, tentu bukan kemashlahatan yang akan dinikmati umat manusia. Sebaliknya yang terjadi selalu saja berupa kerusakan, tragedi, petaka, bencana, dan kehancuran. Semua petaka tersebut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taqhaabun (3)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taghaabun (Hari Ditampakkan Kesalahan-kesalahan)
Surah Madaniyyah; surah ke 64: 18 ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dan dia pernah ditanya tentang ayat ini: inna min azwaajikum wa aulaadikum ‘aduwwallakum fahdzaruukum (“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”) dia mengatakan, mereka adalah orang-orang yang menyatakan diri masuk Islam dari kota Makkah, kemudian mereka hendak bertemu dengan Rasulullah saw., namun anak-anak dan istri-istri mereka menolaknya. Setelah mereka mendatangi Rasulullah saw. mereka melihat orang-orang telah mendalami ilmu agama. Kemudian mereka bermaksud untuk memberikan hukuman kepada istri dan anak mereka, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat ini: wa in ta’fuu wa tushfihuu wa taghfiruu fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni [mereka], maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Muhammad bin Yahya, dari al-Firyani, yakni Muhammad bin Yusuf. Dia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan ath-Thabrani dari hadits Israil.
Dan hal yang sama juga diriwayatkan melalui jalan al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas. Demikian itu pula yang dikatakan oleh’Ikrimah.

Dan firman Allah: innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnatuw wallaaHu ‘indaHuu ajrun ‘adhiim (“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan [bagimu], di sisi Allah-lah pahala yang besar.”) Allah berfirman: “Sesungguhnya harta benda dan anak itu adalah fitnah.” Artinya harta dan anak itu akan menjadi bahan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala bagi makhluk-Nya agar Dia mengetahui siapakah hamba-hamba-Nya yang taat dan yang durhakan kepada-Nya.

Firman-Nya lebih lanjut: wallaaHu ‘indaHuu (“di sisi Allah-lah”) yakni pada hari kiamat kelak, ajrun ‘adhiim (“Pahala yang besar.”)
Firman Allah Ta’ala: fattaqullaaHa mastatha’tum (“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”) maksudnya berdasarkan usaha dan tenaga kalian, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika aku perintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian, dan apa yang aku larang bagi kalian, maka tinggalkanlah.”

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa sebagaimana yang diriwayatkan Imam Malik dari Zaid bin Aslam, bahwa ayat ini menaskh [menghapus] ayat yang terdapat dalam surah Ali ‘Imraan, yaitu firman Allah: yaa ayyuHalladziina aamanuut taqullaaHa haqqa tugaatiHii walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun (“Hai orang-orang ang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan benar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-sekali kamu mati melainkan dalam kedaan beragama Islam.”) (Ali ‘Imraan: 102)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala: yaa ayyuHalladziina aamanuut taqullaaHa haqqa tugaatiHii walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun (“Hai orang-orang ang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan benar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-sekali kamu mati melainkan dalam kedaan beragama Islam.”) dia mengatakan: “Setelah ayat ini turun, orang-orang gencar melakukan amal. Mereka melakukan shalat sampai kaki mereka bengkak dan kening mereka terluka. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat ini sebagai keringanan bagi orang-orang muslim. fattaqullaaHa mastatha’tum (“Maka bertakwalah kemu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”) dengan demikian ayat yang terdapat di dalam surah Ali ‘Imraan itu dihapuskan oleh ayat ini.
Hal yang sama juga diriwayatkan dari Abul ‘Aliyah, Zaid bin Aslam, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, as-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan.

Dan firman Allah Ta’ala: wasma’uu wa athii’uu (“Dengarlah serta taatlah.”) maksudnya, jadilah kalian tunduk patuh kepada apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kalian, dan janganlah kalian melakukan pembangkangan. Dan janganlah kalian lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah kalian berani melanggar apa yang telah diperintahkan kepada kalian, jangan pula kalian mengerjakan apa yang kalian telah dilarang mengerjakannya.

Firman Allah: wa anfiquu khairal li-anfusikum (“dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.”) maksudnya, dermakanlah sebagian rizky yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian bagi kaum kerabat, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan. Dan berbuat baiklah kepada semua makhluk Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berbuat baik kepada kalian, maka yang demikian itu lebih baik bagi kalian di dunia dan akhirat. Dan sebaliknya jika kalian tidak mengerjakannya, maka yang demikian itu akan menjadi keburukan bagi kalian di dunia dan di akhirat.

Firman Allah Ta’ala lebih lanjut: wa may yuuqa shuhha nafsiHii fa-ulaa-ika Humul muflihuun (“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) penafsiran penggalan ayat ini telah dikemukakan di surah al-Hasyr, yang disertai dengan hadits-hadits yang mempunyai makna sejalan dengan ayat tersebut.

Firman Allah Ta’ala: in tuqridlullaaHa qardlan hasanay yudlaa’ifHu lakum wa yaghfirlakum (“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan [pembalasannya] kepadamu dan mengampunimu.”) maksudnya apapun yang kalian nafkahkan maka Allah akan memberikan gantinya. Dan apapun yang kalian sedekahkan, maka balasannya tergantung kepada-Nya. yang demikian itu sejajar dengan pinjaman baginya, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-shahihain: “Bahwa Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Orang yang meminjamkan itu tidak aniaya dan tidak miskin.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala befirman bahwa Dia melipatgandakan pahala bagi kalian, sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya dalam surah al-Baqarah: wa yu-dlaa’afu laHuu adl’aafan katsiiran (“Maka dia akan memberikan kelipatan baginya dengan kelipatan yang banyak.” (al-Baqarah: 245)

Wa yaghfirlakum (“Dan Dia akan memberikan ampunan kepadamu.”) maksudnya memaafkan segala kesalahan kalian. Oleh karen itu Allah berfirman: wallaaHu syakuur (“Dan Allah Mahapembalas jasa.”) yakni Dia akan membalas amal yang sedikit dan balasan yang banyak. Haliim (“Lagi Mahapenyantun.”) yakni Dia memberikan maaf dan ampunan serta menutupi keburukan, menghapuskan dosa, kesalahan dan keburukan.
‘aalimul ghaibi wasy-syaHaadatil ‘aziizil hakiim (“Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) dan ayat ini pun telah dijelaskan berberapa kali dalam pembahasan sebelumnya.

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taqhaabun (2)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taghaabun (Hari Ditampakkan Kesalahan-kesalahan)
Surah Madaniyyah; surah ke 64: 18 ayat

tulisan arab alquran surat at taghaabun ayat 11-13“11. tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. 12. dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. 13. (Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (at-Taghaabun: 11-13)

Allah berfirman seraya mengabarkan tentang apa yang telah dikabarkan dalam surah al-Hadiid: maa ashaaba mim mushiibatin illaa bi idznillaaHi (“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”) Ibnu ‘Abbas megatakan: “Yakni dengan perintah Allah, atau dengan kata lain atas dasar ketetapan dan kehendak-Nya.” wa may yumin billaaHi yaHdi qalbaHu wallaaHu bikulli syai-in ‘aliim (“Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”) maksudnya barangsiapa yang ditimpa musibah lalu ia menyadari bahwa hal itu terjadi atas gadla’ dan takdir Allah, lalu ia bersabar dan mengharapkan balasan pahala atas kesabarannya itu, serta menerima keputusan yang telah ditetapkan hatinya dan akan menggantikan apa yang telah hilang dari dirinya di dunia dengan petunjuk dan keyakinan di dalam hatinya. Terkadang, Allah Ta’ala mengganti apa yang telah diambil-Nya atau menggantinya dengan yang lebih baik darinya.

Mengenai firman Allah: wa may yu’min billaaHi yaHdi qalbaHu (“dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada dahtinya.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni memberikan petunjuk kepada hatinya untuk benar-benar yakin, sehingga ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya itu tidaklah keliru [meleset] dan sebaliknya.”

Dan dalam hadits yang disepakati oleh al-Bukhari Muslim telah diriwayatkan dimana Rasulullah saw. bersabda: “sungguh menakjubkan keadaan mukmin itu. Allah tidak menetapkan suatu keputusan baginya melainkan keputusan itu adalah baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, maka ia bersabar dan yang demikian itu lebih baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, maka dia akan bersyukur maka yang demikian itu adalah baik baginya. Dan hal tersebut tidak akan menjadei milik seorang pun kecuali orang mukmin.” (Muttafaqun ‘alaih)

Firman Allah: wa athii’ullaaHa war rasuula (“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul.”) Allah memerintahkan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya atas segala sesuatu yang disyariatkan serta mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Kemudian firman Allah: fa in tawallaitum fa innamaa ‘alaa rasuulinal balaaghul mubiin (“Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Rasul Kami hanyalah menyampaikan [amanat Allah] dengan terang.” Maksudnya jika kalian tidak mau mengerjakannya, maka yang menjadi tanggung jawab Rasul itu hanyalah menyampaikan saja, sedangkan yang menjadi tanggung jawab kalian adalah mendengar dan mentaatinya.

Az-Zuhri mengatakan: “Risalah itu datangnya dari Allah, dan Rasul berkewajiban untuk menyampaikannya, sedangkan kita berkewajiban untuk menerimanya.”

Kemudian Allah berfirman seraya mengabarkan bahwa Dia adalah Rabb Yang Mahaesa, seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, yang tiada Ilah yang berhakk diibadahi selain Dia. Dia berfirman: AllaaHu laa ilaaHa illaa Huwa wa ‘alallaaHi falyatawakkalil mu’minuun (“[Dia lah] Allah, tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.”) yang pertama merupakan berita tentang tauhid dan mempunyai makna tuntutan. Maksudnya, Esakanlah peribadahan henya bagi-Nya dan ikhlaskanlah penyembahan hanya bagi-Nya, dan bertawakkallah kalian kepadanya.

tulisan arab alquran surat at taghaabun ayat 14-18“14. Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. 16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. 17. jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. 18. yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(at-Taghaabun: 14-18)

Allah berfirman seraya mengabarkan tentang istri-istri dan anak-anak. Di antara mereka ada yang menjadi musuh suami dan ayah. Maksudnya, istri atau anak yang dapat menjadikan seseorang lalai dari berbuat amal shalih. Yang demikian itu sama seperti firman Allah yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa yaang melakukan hal tersebut, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munafiquun: 9)

Oleh karena itu di sini Allah berfirman: fahdzaruuHum (“Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”) Ibnu Zaid mengatakan: “Maksudnya, terhadap agama kalian.”)

Dan mengenai firman Allah: inna min azwaajikum wa aulaadikum ‘aduwwallakum (“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.”) Mujahid mengatakan: “Seorang laki-laki dapat terseret kepada pemutusan tali kekeluargaan atau juga durhaka kepada Rabbnya. Dan seorang laki-laki tidak mampu berbuat apa-apa karena hatinya telah dikuasai rasa cinta kepada seseorang selain menuruti semua yang diinginkannya.”

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Munaafiquun (3)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Munaafiquun (Orang-orang Munafik)
Surah Madaniyyah; surah ke 63: 11 ayat

Firman-Nya: ka annaHum khusyubum musannadatun (“Seakan-akan mereka itu seperti kayu yang tersandar.”) dia berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang tampan.” Telah diriwayatkan dari Imam al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa-i, dari hadits Zuhair. Juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan at-Tirmidzi dari hadits Israil, keduanya dari Abu Ishaq ‘Amr bin ‘Abdullah as-Subai’i al-Hamdani al-Kufi, dari Zaid.

tulisan arab alquran surat al munaafiquun ayat 9-11“9. Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. 10. dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?” 11. dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (al-Munaafiquun: 9-11)

Allah telah berfirman seraya memberitahukan hamba-hamba-Nya yang beriman supaya berdzikir kepada-Nya sekaligus melarang mereka supaya tidak melupakan dzikir hanya karena disibukkan oleh harta kekayaan dan anak. Selain itu, Dia juga memberitahukan bahwa barangsiapa yang terpedaya dengan kenikmatan dunia dan perhiasannya dengan melupakan diri untuk berbuat taat dan berdzikir kepada-Nya, maka dia termasuk orang-orang yang benar-benar merugi, yang merugikan dirinya sendiri dan juga keluarganya pada hari kiamat kelak.

Selanjutnya Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk berinfak di jalan-Nya, dimana Dia berfirman: wa anfiquu mimmaa razaqnaakum ming qabli ay ya’tia ahadakumul mautu fayaquula rabbi lau laa akhkhartanii ilaa ajaling qariib (“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapat Engkau tidak menangguhkan [kematian]ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’”) dengan demikian, setiap orang yang berlebih-lebihan akan menyesal kelak pada saat menghadapi kematian [sakaratul maut], dan dia akan meminta supaya usianya diperpanjang lagi meski hanya sebentar. Padahal sesuatu yang akan terjadi pasti akan terjadi, dan apa yang akan datang itu pasti datang. Dan semua itu tergantung pada tindakannya yang berlebihan. Sedangkan orang-orang kafir, maka mereka adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala yang artinya: “Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, maka dia berkata: ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku [ke dunia]. Agar aku berbuat amal yang shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-sekali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan.” (al-Mu’minuun: 99-100)

Kemudian Allah berfirman: wa lay yu-akhkhirallaaHu nafsan idzaa jaa-a ajaluHaa wallaaHu khabiirum bimaa ta’maluun (“Dan Allah sekali-sekali tidak akan menangguhkan [kematian] seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya Allah swt. tidak akan memberikan tangguh kepada seseorang jika telah datang waktu kematiannya. Dan hanya Allah Ta’ala Yang Mahamengetahui orang yang jujur dalam perkataan dan permintaannya supaya ditangguhkan, dari orang yang kalau saja dikembalikan, pastilah dia akan kembali mengerjakan keburukan yang sama.

Oleh karen itu, Allah Ta’ala berfirman: wallaaHu khabiirum bimaa ta’maluun (“Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) wallaaHu a’lam.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abud Darda’, dia berkata: Kami pernah menyebutkan di hadapan Rasulullah saw. mengenai tambahan umur, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan satu jiwa pun jika telah datang ajalnya. Dan sesungguhnya penambahan dalam umur adalah Allah akan mengaruniai keturunan yang shalih kepada seorang hamba, dan mereka akan mendoakannya kelak setelah ia berada di dalam kubur.”

alhamdulillaaHi rabbil ‘aalamiin.
Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Munaafiquun (2)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Munaafiquun (Orang-orang Munafik)
Surah Madaniyyah; surah ke 63: 11 ayat

tulisan arab alquran surat al munaafiquun ayat 5-8“5. dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu Lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. 6. sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. 7. mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. 8. mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (al-Munaafiquun: 5-8)

Allah berfirman seraya mengabarkan tentang orang-orang munafik, semoga laknat Allah menimpa mereka, dimana mereka berkata: wa idzaa qiila laHum ta’aalau yastaghfirlakum rasuulullaaHi lawwa ru-uusaHum (“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah [beriman], agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu.’ Mereka membuang muka.”) maksudnya menghalang-halangi dan berpaling dari apa yang dikatakan kepada mereka karena sombong terhadap hal tersebut dan meremehkan sesuatu yang dikatakan kepada mereka. Itulah sebabnya Allah berfirman: wa ra-aitaHum yashudduuna wa Hum mustakbiruun (“Dan kamu melihat mereka berpaling sedang mereka cenderung menyombongkan diri.”)

Kemudian Allah memberikan balasan kepada mereka atas tindakan mereka itu, Dia berfirman: sawaa-un ‘alaiHim astaghfarta laHum am lam yastaghfir laHum lay yaghfirallaaHu laHum innallaaHa laa yaHdil qaumal faasiqiin (“Sama saja bagi mereka, kamu memintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”) sebagaimana yang Dia firmankan dalam surah at-Taubah, dan telah dibahas sebelumnya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, ayahku memberitahuku, Ibnu Abi ‘Umar al-Adani memberitahu kami, dia berkata bahwa Sufyan berkata tentang firman-Nya: lawwaw ru-uusaHum (“Mereka membuang muka.”) Ibnu Abi ‘Umar mengatakan: “Sufyan memalingkan wajahnya ke sebelah kanan dan memandang dengan mata merah. Kemudian dia berkata: “Seperti inilah dia.”

Beberapa ulama salaf menyebutkan bahwa siyaq [redaksi] secara keseluruhan turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, yang akan dikemukakan kemudian.

Al-Hafizh Abu bakar al-Baihaqi meriwayatkan, Abu ‘Abdillah al-Hafizh memberitahu kami, Abu Bakarbin Ishaq memberitahu kami, Bisyir bin Musa memberitahu kami, al-Humaidi memberitahu kami, Sufyan memberitahu kami, ‘Amr bin Dinar memberitahu kami, aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami pernah bersama Rasulullah saw. dalam suatu peperangan, kemudian salah seorang dari kaum Muhajirin memukul dan mendorong orang Anshar ke belakang. Maka orang Anshar itu berujar: “Hidup orang-orang Anshar.” Sedangkan yang Muhajirin berujar: “Hidup orang-orang Muhajirin.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Mengapa terjadi seruan jahiliyyah? Tinggalkanlah hal itu, sesungguhnya seruannya itu busuk.”
‘Abdullah bin Ubay bin Salul mengatakan: “Mereka sungguh telah melakukannya. Demi Allah, jika saja kita kembali ke kota Madinah, pastilah orang-orang yang lebih kuat dan mulia akan mengusir orang yang lemah dan terhina.”
Jabir bin ‘Abdillah mengatakan: “Orang-orang Anshar yang ada di kota Madinah lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang Muhajirin ketika Rasulullah saw. sampai di kota Madinah. Setelah beberapa waktu, kaum Muhajirin pun semakin banyak.” Kemudian ‘Umar berkata : “Biarkan aku memenggal leher orang munafik ini.” Maka Nabi saw. bersabda: “Biarkan saja dia, agar orang-orang tidak membicarakan bahwa Muhammad telah membunuh para shahabatnya.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Husain bin Muhammad al-Marwazi dari Sufyan bin ‘Uyainah. Dan juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari al-Humaidi. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan lain-lain dari Sufyan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dia berkata: “Aku pernah bersama Rasulullah saw. dalam perang Tabuk [cerita ini masyhur di kalangan ahli perang dan ahli sejarah bahwa masalah ini terjadi pada saat perang bani Mushthaliq dan Ubay bin Salul tidak muncul dalam perang Tabuk], lalu ‘Abdullah bin Ubay berkata: “Jika saja kita kembali ke kota Madinah, pasti orang-orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang hina.” Kemudian dia berkata: kemudian aku mendatangi Nabi saw. dan kuberitahu mengenai hal tersebut. Tetapi ‘Abdullah bin Ubay malah bersumpah bahwa dia tidak pernah mengatakan hal tersebut. Sehingga kaumku mencelaku dan berkata: “Apa yang kamu inginkan dari semua ini?” aku pun pergi lalu tidur dengan perasaan sedih dan berduka. Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan utusan kepadaku dan mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan [ayat] perihal alasanmu dan kebenaranmu.” Kemudian dia berkata: maka turunlah ayat ini:
Humul ladziina yaquuluuna laa tungfiquu ‘alaa man ‘inda rasuulillaaHi hattaa yangfadl-dluu wa lillaaHi khazaa-inus samaawaati wal ardli wa laa kil munaafiqiina laa yafqaHun. Yaquuluuna lair raja’naa ilal madiinati layukhrijannal a’azzu minHal adzall (“mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (al-Munaafiquun: 7-8)

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari tentang ayat ini dari Adam bin Abi Iyas, dari Syu’bah. Kemudian dia mengatakan, Ibnu Abi Zaidah mengatakan dari al-A’masy, dari ‘Amr, dari Ibnu Abi Laila, dari Zaid, dari Nabi saw. Dan diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan an-Nasa-i, juga tentang penafsiran ayat di atas, dari hadits Syu’bah.

Imam Ahmad meriwayatkan, Hasan bin Musa memberitahu kami, Zuhair memberitahu kami, Abu Ishaq memberitahu kami, bahwa dia pernah mendengar Zaid bin Arqam berkata: “Kami pernah pergi bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan, lalu orang-orang merasa kepayahan, lalu ‘Abdullah bin Ubay berkata kepada para shahabatnya: “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka pergi meninggalkan beliau.” Lebih lanjut dia berkata: “Andai saja kita kembali ke Madinah, niscaya orang-orang kuat akan dapat mengusir orang-orang lemah.” Kemudian aku mendatangi Nabi saw. dan memberitahukan hal itu kepada beliau. Lalu beliau mengirimkan utusan untuk menanyakan hal tersebut kepadanya. Kemudian ia mengucapkan sumpah untuk menginkari ucapan tersebut. Kemudian orang-orang berkata: “Zaid telah berbohong, wahai Rasulallah.” Maka apa yang mereka katakan itu sangat menyakitkan hatiku. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat yang membenarkan keyakinanku itu: idzaa jaa-akal munaafiquuna (“Jika orang-orang munafik itu datang kepadamu”) dia berkata: kemudian Rasulullah saw. memanggil mereka untuk memohonkan ampunan bagi mereka, tetapi mereka justru memalingkan muka.

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Munaafiquun (1)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Munaafiquun (Orang-orang Munafik)
Surah Madaniyyah; surah ke 63: 11 ayat

tulisan arab alquran surat al munaafiquun ayat 1-4bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. 2. mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. 3. yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. 4. dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (al-Munaafiquun: 1-4)

Allah berfirman seraya mengabarkan orang-orang munafik. Mereka selalu memuliakan agama Islam jika menghadap Nabi saw. Padahal dalam batin mereka tidak demikian, bahkan sebaliknya. Oleh karena itu Allah berfirman: idzaa jaa-akal munaafiquuna qaaluu nasyHadu innaka larasuulullaaHi (“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’”) maksudnya orang-orang munafik itu mendatangimu dan menghadapkan wajahnya kepadamu, serta menampakkan diri seperti itu, padahal keadaannya bukanlah seperti yang mereka katakan. Oleh karena itu disertai kalimat bantahan yang mengabarkan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dimana Dia berfirman: wallaaHu ya’lamu innaka larasuuluHu (“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya.”) setelah itu Dia berfirman: wallaaHu yasyHadu innal munaafiqiina lakaadzibiin (“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”) yakni mereka bedusta dalam berita yang mereka sampaikan, meskipun sesuai dengan keadaan luar [lahiriyah] nya. karena mereka tidak meyakini kebenaran ucapan mereka dan tidak juga membenarkannya. Oleh karena itu Allah Ta’ala mendustakan apa yang menjadi keyakinan mereka.

Dan firman Allah: ittakhadzuu aimaanaHum junnatan fashadduu ‘an sabiilillaaHi (“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi [manusia] dari jalan Allah.”) maksudnya mereka menjaga diri dari orang-orang dengan supah palsu agar kaum muslimin percaya terhadap apa yang mereka ucapkan sehingga orang-orang yang tidak tahu tentang hakekat mereka tertipu dan mengira bahwa mereka benar-benar sebagai orang-orang muslim. Bahkan tidak jarang orang-orang yang tertipu itu akan ikut mengerjakan apa yang mereka kerjakan tersebut serta membenarkan semua ucapakan mereka. Yang menjadi sifat mereka adalah secara bathi mereka sama sekali tidak condong dan tidak berpihak kepada Islam. Keadaan itulah yang menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi ummat manusia. Oleh karena itu Allah Ta’la berfirman: fashadduu ‘an sabiilillaaHi innaHum saa-a maa kaanuu ya’maluun (“Lalu mereka menghalangi [manusia dari jalan Allah. Sesungguhnay sangat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

Dan firman Allah lebih lanjut: dzaalika bi annaHum aamanuu tsumma kafaruu fathubi’a ‘alaa quluubiHim faHum laa yafqaHuun (“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir [lagi] lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.”) maksudnya ditetapkan kemunafikan sebagai sifat mereka, karena mereka berpaling dari keimanan kepada kekufuran, dan tindakan mereka merubah petunjuk menjadi kesesatan. Sehingga Allah mengunci mati hati mereka, sehingga mereka menjadi tidak mengerti sama sekali. Akhirnya tidak ada satu pun petunjuk yang masuk ke dalam hati mereka dan tidak juga ada kebaikan yang dapat diterimanya, sehingga tidak pernah menyadari dan mendapatkan petunjuk.

Firman Allah Ta’ala: wa idzaa ra-aitaHum tu’jibuka ajsaamuHum wa iy yaquuluu tasma’ liqauliHim (“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikanmu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan.”) maksudnya mereka mempunyai penampilan yang bagus dan fasih bicara, sehingga apabila ada orang yang mendengar mereka, dia akan tertarik pada ucapannya itu karena unsur sastranya yang tinggi. Dengan demikian sebenarnya mereka berada di puncak kelemahan, kegelisahan, kekhawatiran, dan menjadi pengecut.

Oleh karena itu Allah befirman: yahsabuuna kulla shaihatan ‘alaiHim (“Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.”) maksudnya setiap kali terjadi peristiwa, perkara, atau ketakutan, mereka mengira dengan rasa pengecut bahwa perkara itu ditujukan kepada mereka. Mereka ini sebenarnya adalah tubuh-tubuh dan bentuk rupa yang tidak mempunyai makna. Oleh karena itu Allah berfirman: Humul ‘aduwwu rahdzaruuHum qaatalaHumullaaHu annaa yu’fakuun (“Mereka itulah musuh [yang sebenarnya] maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [dari kebenaran]?”) bagaimana mungkin mereka berpaling dari petunjuk kepada kesesatan? Padahal Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang munafik mempunyai beberapa tanda yang dapat digunakan untuk mengenali mereka; penghormatan mereka adalah laknat, makanan mereka adalah hasil rampasan, ghanimah [harta rampasan perang] mereka adalah kecurangan, mereka tidak mendekati masjid kecuali berhijrah darinya, tidak mendatangi shalat kecuali telah selesai, sombong dan congkak, tidak mau bersahabat dan tidak mau diajak bersahabat, berkumpul pada malam hari dan gaduh pada siang hari.”
Yazid bin Murrah mengatakan: “Artinya, hiruk pikuk di siang hari.”

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jumu’ah (5)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jumu’ah (Hari Jum’at)
Surah Madaniyyah; surah ke 62: 11 ayat

Firman Allah: dzaalikum khilulakum ing kuntum ta’lamuun (“yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”) maksudnya, tindakan kalian meninggalkan jual beli dan keputusan kalian berangkat untuk berdzikir kepada Allah dan melaksanakan shalat adalah lebih baik bagi kalian di dunia dan di akhirat, jika kalian memang mengetahui.

Firman Allah: fa idzaa qudliyatish shalaatu (“Dan jika telah menunaikan shalat.”) artinya telah selesai mengerjakannya. Fantasyiruu fil ardli wabtaghuu min fadl-lillaaHi (“Maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.”) ketika Allah melarang mereka berjual beli setelah terdengar suara adzan dan memerintahkan mereka untuk berkumpul, maka Allah mengizinkan mereka setelah selesai menunaikan shalat untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah Ta’ala.

Firman Allah: wadzkurullaaHa katsiiral la’allakum tuflihuun (“dan berdzikirlah kepada Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”) yakni ketika kalian sedang berjual beli, dan pada saat kalian mengambil dan memberi, hendaknya kalian berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya dan janganlah kesibukan dunia melupakan kalian dari hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Oleh karena itu, di dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa masuk ke salah satu pasar, kemudian dia mengucapkan: Laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaHu, laHul mulku walaHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir [Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu] maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan dan akan menghapus baginya sejuta keburukan.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi. Dia mengatakan: “Hadits tersebut gharib.” Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Mujahid mengatakan: “Seorang hamba tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya sehingga dia mengingat Allah dalam keadaan bediri, duduk, maupun berbaring.”

tulisan arab alquran surat al jumu'ah ayat 11“11. dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki.” (al-Jumu’ah: 11)

Allah mencela tindakan meninggalkan khutbah pada hari Jum’at untuk mengurus barang dagangan yang datang ke kota Madinah saat itu. Maka Allah berfirman: wa idzaa ra-au tijaaratan au laHwaning fadl-dluu ilaiHaa watarakuuka qaa-iman (“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu sedang berdiri.”) yakni berdiri di atas mimbar seraya berkhutbah. Demikian itulah yang disebutkan oleh para ulama kalangan Tabi’in, di antaranya adalah Abul ‘Aliyah, al-Hasan, Zaid bin Aslam dan Qatadah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: “Pernah datang satu rombongan perniagaan ke kota Madinah. Ketika itu Rasulullah saw. tengah berkhutbah. Kemudian orang-orang yang mendengar khutbah itu segera keluar sehingga yang tersisa hanya dua belas orang, maka turunlah ayat: wa idzaa ra-au tijaaratan au laHwaning fadl-dluu ilaiHaa (“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya.”)
Demikian yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab ash-Shahihain, dari hadits Salim.
Dan di antara kedua belas orang yang tetap tinggal bersama Rasulullah saw. itu terdapat Abu Bakar dan Umar ra.

Firman-Nya: wa tarakuuka qaaiman (“Dan mereka meninggalkan kamu sedang berdiri [berkhutbah].”) terdapat dalil yang menunjukkan bahwa imam berkhutbah pada hari Jum’at dalam keadaan berdiri.

Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shahihnya, dari Jabir bin Samurah, dia berkata: “Nabi saw. menggunakan dua khutbah, dimana beliau duduk di antara kedua khutbah itu. Beliau membaca al-Qur’an dan mengingatkan orang-orang.”

Dan firman Allah Ta’ala: qul maa ‘indallaaHi (“Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Alah.’”) yakni berupa pahala yang disediakan di akhirat kelak: khairum minal laHwi wa minat tijaaratin wallaaHu khairur raaziqiin (“Adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan, dan Allah adalah sebaik-baik Pemberi Rizky.”) yakni bagi orang yang bertawakkal kepada-Nya dan mencari rizky pada waktu yang telah ditetapkan.

Sekian.