Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (1)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

tulisan arab alquran surat al mumtahanah ayat 1-3bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; Padahal Sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan Barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya Dia telah tersesat dari jalan yang lurus. 2. jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. 3. karib Kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Mumtahanah: 1-3)

Yang menjadi sebab turunnya awal surah ini adalah kisah Hathib bin Abi Balta’ah. Dikisahkan, Hathib adalah salah seorang di antara kaum Muhajirin yang juga orang yang termasuk mengikuti perang Badar. Di Makkah dia mempunyai beberapa orang anak, dan dia bukan orang Quraisy. Tetapi ia adalah seorang sekutu ‘Utsman. Ketika Rasulullah saw. bertekad untuk menaklukkan kota Makkah setelah penduduknya melanggar perjanjian, beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap berperang dengan mereka secara terang-terangan. Beliau bersabda: “Ya Allah rahasiakanlah kepada mereka berita kami ini.”

Kemudian Hathib muncul, lalu ia menulis surat dan mengirimkannya melalui seorang wanita dari suku Quraisy kepada penduduk Makkah untuk memberitahukan kepada mereka tentang tekad Rasulullah saw. untuk memerangi mereka, supaya mereka bersiap-siap. Kemudian Allah memperlihatkan hal tesebut kepada Rasul-Nya sebagai bentuk pengabulan-Nya terhadap doa beliau. Lalu Rasulullah saw. mengirimkan utusan untuk menyusul wanita tersebut. Utusan beliau pun mengambil surat dari wanita itu.
Hal teresebut telah dikemukakan dalam hadits yang sudah disepakati keshahihannya.

Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami dari pamannya, dari Hasan bin Muhammad bin ‘Ali dari ‘Abdullah bin Abi Rafi’, Murrah berkatan: Sesungguhnya ‘Ubaidullah bin Abi Rafi’ memberitahunya, bahwa ia pernah mendengar ‘Ali bercerita: Rasulullah saw. pernah mengutusku, az-Zubair dan al-Miqdad. Lalu beliau bersabda: “Pergilah kalian hingga sampai ke kebun Khakh. Disana terdapat seorang wanita yang memegang surat, ambillah surat itu darinya.” Kamipun pergi melarikan kuda kami hingga sampai di kebun itu. Ketika kami bertemu wanita itu, kami berkata: “Keluarkanlah surat itu.” Ia mengatakan: “Aku tidak membawa surat.” Kami berkata: “Kamu keluarkan surat itu atau kamu tinggalkan pakaianmu.” Lalu ia mengeluarkan surat itu dari sanggulnya. Kami pun mengambil surat itu dan memberikannya kepada Rasulullah saw. Ternyata surat dari Hathib bin Abi Balta’ah yang dialamatkan kepada kaum musyrikin Makkah. Surat itu memberitahukan kepada mereka tentang sebagian perkara yang akan dilakukan oleh Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bertanya: “Hai Hathib, apa ini?” Hathib berkata: “Jangan engkau terburu-buru [berprasangka buruk] terhadapku. Dahulu aku adalah orang yang berada [hidup] di dekat orang-orang Quraisy, namun aku bukan dari kalangan mereka. Sedangkan kaum Muhajirin yang ada bersamamu selalu memberikan perlindungan kepada keluarga mereka yang berada di Makkah. Oleh karena itu aku sangat ingin membantu melindungi keluargaku, meskipun aku tidak mempunyai hubungan nasab dengan mereka. Aku tidak melakukan semua itu karena kufur, murtad dari agamaku dan rela terhadap kekafiran setelah aku masuk Islam.” Lalu ‘Umar pun berkata: “Biarkan aku penggal leher orang munafik ini.” Maka Rasulullah saw. pun bersabda: “Dia telah mengikuti perang Badar, dan engkau tidak tahu bahwa Allah telah mengetahui seluk beluk para prajurit perang Badar itu. Allah swt. berfirman: “Berbuatlah sekehendak kalian, karena Aku telah memberikan ampunan kepada kalian.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Jama’ah kecuali Ibnu Majah dari Sufyan bin ‘Uyainah. Dan Imam al-Bukhari menambahkan dalam kitab al-Maghaazi [peperangan] dalam shahihnya: “Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat: yaa ayyuHalladziina aamanuu laa tattakhdzuu ‘aduwwii wa ‘aduwwakum auliyaa-a (“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.”)

Dengan demikian firman Allah: yaa ayyuHalladziina aamanuu laa tattakhdzuu ‘aduwwii wa ‘aduwwakum auliyaa-a tulquuna ilaiHim bil mawaddati wa qad kafaruu bimaa jaa-akum minal haqqi (“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka [berita-berita Muhammad] karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.”) yakni orang-orang musyrik dan kafir yang memerangi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang Dia telah menetapkan permusuhan dan perlawanan terhadap mereka. Dan Dia melarang kaum muslimin menjadikan mereka itu sebagai teman setia atau sahabat. Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya sebagai berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Yang demikian itu merupakan kecaman keras sekaligus ancaman yang sangat tegas. Allah berfirman yang artinya:
“28. janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imraan: 28)

Oleh karena itu Rasulullah menerima alasan Hathib ketika ia menyebutkan bahwa apa yang ia lakukan itu hanya sebagai suatu siasat terhadap suku Quraisy untuk menjaga harta dan anak-anaknya di tengah-tengah mereka.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: