Tafsir Ibnu Katsir Surah Ash-Shaff (1)

7 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Ash-Shaff (Barisan)
Surah Madaniyyah; surah ke 61: 14 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Salam, ia menuturkan: kami pernah bermusyawarah, siapakah di antara kalian yang bersedia datang kepada Rasulullah saw. untuk menanyakan kepada beliau tentang amal apakah yang paling disukai Allah. Namun tidak ada satu orang pun dari kami yang beranjak bangun. Kemudian Rasulullah saw. mengutus seseorang kepada kami. Lalu utusan itu mengumpulkan kami dan membacakan surah ini kepada kami. Yakni surah ash-Shaff secara keseluruhan.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

tulisan arab alquran surat ash-shaff ayat 1-4bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. 4. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (ash-Shaff: 1-4)

Firman Allah: yaa ayyuHal ladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluun (“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”) ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang menetapkan suatu janji atau mengatakan suatu ucapan tetapi ia tidak memenuhinya. Oleh karena itu ayat ini dijadikan sebagai landasan bagi ulama salaf yang berpendapat mengharuskan pemenuhan janji itu secara mutlak, baik janji itu adalah sesuatu yang harus dilaksanakan atau tidak. Dalam hal ini mereka berlandaskan pada sunnah juga, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berjanji ia mengingkari, jika berbicara ia berdusta dan jika dipercaya ia berkhianat.”

Dan dalam hadits yang lainnya juga masih dalam kitab shahih disebutkan: “Ada empat perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat keempat perkara tersebut, maka ia termasuk munafik murni. Dan barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari keempat itu, maka padanya telah terdapat salah satu ciri kemunafikan sampai ia meninggalkannya.” Kemudian beliau menyebutkan diantaranya, yaitu tidak menepati janji.

Oleh karena itu Allah menegaskan pengingkaran terhadap mereka melalui firman-Nya: kabura maqtan ‘indallaaHi an taquuluu maa laa taf’aluun (“Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”)

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, ia menuturkan: Rasulullah saw. pernah mendatangi kami, ketika itu aku masih kecil. Kemudian aku pergi untuk bermain, maka ibuku berkata kepadaku: “Wahai ‘Abdullah, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.” Maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya [ibunya]: “Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?” “Kurma.” Jawabnya. Lalu beliau bersabda: “Tahukah engkau, jika engkau tidak melakukannya, maka telah ditetapkan bagimu dusta.”

Imam Malik berpendapat bahwa jika suatu janji terkait dengan sesuatu yang harus dilaksanakan pada orang yang diberi janji, maka janji tersebut harus dipenuhi. Misalnya jika ada orang yang berkata kepada kawannya: “Jika engkau menikah, maka setiap hari engkau berhak mendapatkan ini.” Kemudian orang itupun menikah, maka ia pun harus memenuhi janjinya terkait dengan hak manusia, berdasarkan adanya tekanan atau desakan. Namun menurut jumhur ulama, hal tersebut tidak wajib secara mutlak. Dalam hal ini, mereka beralasan bahwa ayat tersebut turun ketika orang-orang mengharap diturunkannya kembali kewajiban jihad kepada mereka, tetapi setelah kewajiban jihad itu diberikan, sebagian mereka ingkar. Demikian pendapat yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Muqatil bin Hayyan mengemukakan, orang-orang mukmin berkata: “Seandainya kami menemukan amalan yang paling disukai oleh Allah, pasti kami akan mengamalkannya.” Kemudian Allah menunjukkan kepada mereka amalan yang paling dicintai-Nya, melalui firman-Nya: innallaaHa yuhibbulladziina yuqaatiluuna fii sabiiliHii shaffan (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.”) Allah menjelaskan kepada mereka bahwa mereka diuji melalui peperangan Uhud, namun mereka berpaling dari Rasulullah saw. seraya meninggalkan beliau. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya yang berkenaan dengan hal tersebut: yaa ayyuHal ladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluun (“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”) padahal menurut firman-Nya: “Orang yang paling Aku cintai di antara kamu adalah siapa yang berperang di jalan-Ku.”

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan keadaan perang. Ada yang berkata: “Aku telah berperang.” Padahal ia sama sekali tidak berperang. “Aku telah menikam.” Padahal ia sama sekali tidak melakukannya dan lain-lain.

Mengenai firman Allah: yaa ayyuHal ladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluun (“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”) imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, ia mengatakan: “Yakni jihad.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga kelompok orang yang Allah akan tertawa kepada mereka, yaitu pada orang yang bangun tengah malam, kepada orang-orang jika berbaris untuk mengerjakan shalat, dan orang-orang jika berbaris untuk berperang.” (HR Ibnu Majah)

Mengenai firman Allah: innallaaHa yuhibbulladziina yuqaatiluuna fii sabiiliHii shaffan (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni teguh, tidak akan tumbang, masing-masing bagian mereka erat dengan yang lain.”

Adapun Qatadah, masih mengenai firman-Nya ini: ka annaHum bun-yaanum marshuush (“Seakan akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”) ia mengatakan: “Tidakkah engkau perhatikan pemilik bangunan, bagaimana ia tidak ingin bangunannya itu berantakan.” Demikian pula Allah Yan Mahaperkasa lagi Mahamulia tidak menyukai jika perintah-Nya tidak dipenuhi. Dia telah membariskan orang-orang mukmin dalam peperangan dan shalat. Maka kalian harus berpegang teguh pada perintah-Nya, karena ia merupakan pelindung bagi orang yang mau perpegang kepadanya. Semua tafsiran ini telah disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Bersambung ke bagian 2

9 Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah Ash-Shaff (1)”

  1. Muhammad Rafiq 3 Juni 2014 pada 16.15 #

    Bismillah Alhamdulillah ,,syukran katsiran,,Jazakumullahu Fiikum

    • untungsugiyarto 4 Juni 2014 pada 06.05 #

      Subhaanallaah, terima kasih juga kepada anda yang bersedia berkunjung ke blog ini. silakan dishare ke teman yang lain, silakan digunakan utk kepentingan dakwah. syukran jz

  2. panggih 22 September 2014 pada 16.59 #

    syukron ya syaiikh….subhanalloh….

    • untungsugiyarto 22 September 2014 pada 17.04 #

      Inggih Pak Panggih, sami-sami. Semoga bermanfaat…

      • sri darmono 30 Oktober 2014 pada 14.24 #

        sangat memudahkan dalam mencari referensi. mudah-mudahan banyak yang memanfaatkan, amien

  3. ra 26 Februari 2017 pada 19.18 #

    alhamdulillah

  4. AL FARUQ 16 Oktober 2017 pada 01.56 #

    TERIMAKASIH, BARAKALLAH….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: