Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ (1)

9 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah: Surah Bani Israil, al-Kahfi, Maryam, Thaahaa, dan al-Anbiyaa’, semua itu dari peninggalan yang pertama dan merupakan peninggalan-peninggalan lama yang kuwarisi.”

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 1-6bismillaaHir rahmaanir rahiim
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”
“1. telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). 2. tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, 3. (lagi) hati mereka dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: “Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu, Padahal kamu menyaksikannya?” 4. berkatalah Muhammad (kepada mereka): “Tuhanku mengetahui semua Perkataan di langit dan di bumi dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. 5. bahkan mereka berkata (pula): “(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan Dia sendiri seorang penyair, Maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana Rasul-rasul yang telah lalu di-utus”. 6. tidak ada (penduduk) suatu negeripun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebeIum mereka; Maka Apakah mereka akan beriman?” (al-Anbiyaa’: 1-6)

Ini adalah peringatan dari Allah akan hampir dekatnya hari kiamat. Sedangkan manusia dalam keadaan lalai terhadap hari itu, dimana mereka tidak beramal untuknya dan tidak mempersiapkannya. An-Nasa-i berkata dari Abu Said, bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang: fii ghaflatim mu’ridluun (“Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.”) yaitu di dunia.

Firman Allah: ataa amrullaaHi falaa tasta’jiluuHu (“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta disegerakan datangnya.”) (an-Nahl: 1)

Kemudian Allah mengabarkan bahwa mereka tidak memperhatikan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul-Nya. pembicaraan ini ditujukan kepada orang-orang Quraisy dan orang-orang kafir yang serupa dengan mereka. Maka Dia berfirman: maa ya’tiiHim min dzikrim mir rabbiHim muhdatsin (“Tidak datang kepada mereka dari Rabb mereka satu ayat al-Qur’an pun yang muhdats.”) yang baru turunnya, illastama’uuHu wa Hum yal’abuun (“Melainkan mereka mendengarnya sedang mereka bermain-main.”)

Sebagaimana Ibnu ‘Abbas berkata; “Apakah kalian bertanya kepada Ahlul Kitab tentang apa yang ada di tangan mereka, padahal mereka telah merubah dan menggantinya serta menambahkan dan menguranginya. Sedangkan Kitab kalian adalah kitab yang paling baru milik Allah yang kalian baca dan belum bercampur?” (HR al-Bukhari)

Firman-Nya: wa asarrunnajwal ladziina dhalamuu (“dan mereka yang dhalim itu merahasiakan pembicaraan mereka.”) yaitu mereka mengatakan tentang hal di antara mereka secara sembunyi-sembunyi. Hal Haadzaa illaa basyarum mitslukum (“Orang ini tidak lain adalah seorang manusia sepertimu.”) yang mereka maksud adalah Rasulullah saw. yang mereka anggap tidak mungkin menjadi nabi karena dia adalah manusia biasa seperti mereka. Maka bagaimana dia diberi kekhususan wahyu yang tidak diberikan kepada orang lain?

Untuk itu Dia berfirman: afa ta’tuunas sahra wa antum tubshiruuna (“Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya.”) apakah kalian mengikutinya, sehingga kalian seperti orang yang mendapat sihir, padahal ia tahu bahwa itu adalah sihir? Maka Allah Ta’ala memberikan jawaban tentang apa yang mereka tuduhkan dan kedustaan yang mereka buat tentangnya: qaala rabbii ya’lamul qaula fis samaa-i wal ardli (“Berkatalah Muhammad: ‘Rabbku mengetahui semua perkataan di langit dan di bum.’”) yaitu Rabb yang mengetahui hal itu, tentu tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya. Dia-lah yang telah menurunkan al-Qur’an yang mencakup berita tentang orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian dimana tidak ada seorangpun yang mampu mendatangkan yang seperti itu, melainkan Dia Yang Mahamengetahui rahasia di langit dan di bumi.

Firman-Nya: wa Huwas samii’ul ‘aliim (“Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) yaitu Mahamendengar perkataan-perkataan kalian lagi Mahamengetahui kondisi-kondisi kalian. Di dalam ayat ini terkandung ancaman dan peringatan kepada mereka. Firman-Nya: bal qaaluu adl-ghaatsu ahlaamim baliftaraaHu (“Bahkan mereka berkata: ‘Al-Qur’an ini adalah mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakan.’”) ini adalah kabar tentang penentangan dan penyimpangan kaum kafir serta perbedaan, kebingungan dan kesesatan mereka dalam memberikan sifat kepada al-Qur’an. Terkadang mereka menyebutnya sebagai sihir, terkadang sebagai syair, terkadang sebagai khayalan, mimpi-mimpi dan terkadang pula menjadikannya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Sebagaimana Dia berfirman: undhur kaifa dlarabuu lakal amtsaala fadlalluu falaa yastathii’uuna sabiilan (“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan [yang benar].”) (al-Israa’: 48)

Firman-Nya: falya’tinaa bi-aayatin kamaa ursilal awwaluun (“Maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana para Rasul yang telah lalu diutus.”) yang dimaksudkan adalah seperti unta Nabi Shalih, mukjizat-mukjizaat Musa dan ‘Isa as. Allah Ta’ala berfirman: maa aamanat qablaHum ming qaryatin aHlaknaaHaa afaHum yu’minuun (“Tidak ada [penduduk] suatu negeri pun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?”) yaitu tidakkah Kami datangkan kepada sebuah kampung, tempat diutusnya para Rasul satu mukjizat di tangan para Nabinya yang mereka imani. Bahkan mereka mendustakannya, sehingga mereka Kami binasakan karena hal itu. Apakah mereka akan mengimani ayat-ayat [mukjizat-mukjizat] tersebut. Apakah mereka akan mengimani ayat-ayat [mukjizat-mukjizat] tersebut, seandainya mereka melihatnya tanpa para Nabi itu? Tidak akan mungkin, bahkan: innalladziina haqqat ‘alaiHimm kalimatu rabbika laa yu’minuuna walau jaa-atHum kullu aayatin hattaa yarawul ‘adzaabal aliim (“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabb-mu, tidaklah akan beriman meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih.”) (Yunus: 96-97). Ini semuanya, sesungguhnya mereka menyaksikan langsung ayat-ayat yang luas, bukti-bukti yang kongkrit dan dalil-dalil yang nyata di tangan Rasulullah saw. yang lebih jelas, nyata, melimpah, pasti dan lebih banyak dari apa yang disaksikan dari para Nabi yang lainnya.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: