Arsip | 14.37

Islam Sebagai Akhlak

10 Okt

Islam Sebagai Akhlak
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Konsep akhlak Islam berangkat dari konsepsinya tentang hubungannya dengan Allah yaitu hubungan penciptaan. Allah telah menciptakan manusia dan selanjutnya Allah disebut al-Khaliq dan manusia disebut al-Makhluk. Hubungan penciptaan ini menuntut komitmen untuk mensyukuri nikmat penciptaan dengan sikap dan perilaku yang benar sesuai dengan yang dikehendaki Penciptanya. Dalam kerangka itu Allah menurunkan sistem akhlak itu kepada mereka melalui nabi dan Rasul-Rasu-Nya. Akhlak Islam menyatu dengan seluruh sistemnya. Ia ada dalam aqidah, ada dalam ibadah, syariah, bahkan dalam seni dan budaya. Tidak ada satupun sisi kehidupan muslim yang tidak terwarnai oleh aqidah dan akhlaknya. Rasulullah saw. bersabda bahwa beliau tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak ini harus selalu ditunjukkan dalam berinteraksi dengan Allah, dengan Rasul, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.

1. Akhlak kepada Allah
Inti akhlak manusia kepada Allah adalah beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya dalam kitab suci-Nya.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyaat: 56)
Hal ini dapat diwujudkan dengan beriman kepada-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

2. Akhlak kepada Rasul
Bagaimana mengimplementasikan sistem akhlak ini, Rasulullah saw. telah memberi contoh yang terbaik. Kewajiban muslim adalah berterima kasih kepadanya dengan cara mengimani, mengikuti ajaran yang dibawanya, menaati dan meneladaninya. Dalam hal kecintaan, hubungan muslim dengannya saw. bagai hubungan anak dengan ayahnya; dalam proses pembelajaran bagai hubungan murid dengan gurunya; dalam melaksanakan tugas bagai hubungan prajurit dengan komandannya.

3. Akhlak kepada dirinya sendiri
Allah telah memuliakan manusia dan melebihkan dirinya di atas makhluk yang lain dengan suatu kelebihan. Statusnya sebagai manusia mengharuskan orang memuliakan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai segi. Kalau orang lain saja wajib memuliakan dirinya, tentu dia sendiri lebih patut untuk memuliakan dirinya sendiri. Karena itu orang Islam tidak boleh menghina, merendahkan atau meremehkan dirinya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya dan menjauhi hal-hal yang dapat merugikan. Kalau menghormati dirinya saja tidak bisa siapakah yang akan menghormati dirinya.

4. Akhlak kepada sesama manusia
Status dan kedudukan manusia lain di hadapan muslim berbeda-beda sesuai dengan kedekatan dengan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai segi. Ada yang dekat karena aqidah, dekat bila dilihat dari sisi nasab, karena hubungan pertetanggaan, aspek kesukuan, kebangsaan, profesi dan sebagainya. Yang paling dekat di antara mereka adalah yang memiliki kedekatan aqidah. Merekalah yang paling berhak atas perlakuan baik darinya.

5. Akhlak kepada alam semesta
Hatta hewan, tumbuhan dan benda-benda matipun mendapat sentuhan akhlak Islam secara proporsional. Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan kepada segala sesuatu, di antaranya bahkan kepada musuh sekalipun.
Hakekat pembinaan akhlak adalah membersihkan diri dari sifat-sifat tercela lalu menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji.

&

Islam sebagai Pedoman Hidup

10 Okt

Islam sebagai Pedoman Hidup
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Sebagai pedoman hidup, Islam memberi konsepsi yang lengkap dan sempurna tentang seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu sisi kehidupan pun yang terlewati dari pembahasannya. Demikian itu karena kitab sucinya adalah wahyu yang diturunkan Allah Yang Mahaluas pengetahuan-Nya.
“Tidaklah Kami lewatkan sesuatu pun dalam kitab itu.” (al-An’am: 38)
Sebagai pedoman hidup yang integral dan menyeluruh ia meliputi konsepsi yang benar tentang:

1. Masalah keyakinan
Keyakinan tentang Tuhan, nama-nama dan sifat-Nya, kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, wewenang-Nya, hak-hak-Nya, pengawasan-Nya, pembalasan-Nya di dunia dan di akhirat, tentang nabi dan rasul, tentang alam ghaib, malaikat, jin, iblis, setan, tentang kehidupan sesudah mati, alam barzakh, kebangkitan, hisab, surga, neraka, dan masalah-masalah ghaib lainnya yang hanya akan benar kalau datang dari Allah. Keyakinan tentang hal-hal demikian apabila bukan berdasarkan wahyu hanya akan menyesatkan manusia dan menjadikan mereka sebagai budak bagi sesama makhluk. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Baqarah: 255.

2. Masalah /akhlak
Moral/ akhlak manusia terhadap Allah, terhadap dirinya, terhadap sesama manusia, maupun terhadap alam semesta hanya akan benar dan lurus apabila ia memiliki keyakinan yang benar tentang Allah dan hari akhir. Demikian itu karena aqidah akan membentuk kesadaran untuk selalu berbuat baik dan menghindari perbuatan yang tidak terpuji, bahkan ketika ia sendang sendirian sekalipun. Moral yang tidak didasarkan kepada aqidah yang lurus seringkali hanya merupakan kemunafikan dan bersifat temporal, karena memang tidak jelas standarnya. Adapun akhlak Islam sudah jelas dan lugas, yakni al-Qur’an. Sebagaimana tersebut dalam surah al-A’raaf: 96 dan ar-Ra’du: 28.

3. Tingkah laku
Tingkah laku terimplikasi pada aspek psikomotorik. Ia sangat diwarnai dan ditentukan oleh aqidah dan akhlak. Tidak ada perbedaan antara aspek lahir dan batin kecuali orang munafik. Demikian itu karena tingkah laku adalah bentuk implementasi dan ejawantah dari fikiran dan jiwa manusia. Ketika melihat orang shalat tetapi anggota badannya tidak khusu’, Rasulullah saw. bersabda: “Sekiranya hati orang ini khusyu’, tentu khusyu’ pula anggota badannya.” Sebagaimana pula tersebut di dalam surah al-Baqarah: 138.

4. Perasaan
Suka dan duka, cinta dan benci, sedih dan gembira, sensitive atau tidak, juga sangat dipengaruhi oleh aqidah dan akhlak. Karena itu Rasulullah saw. mengatakan bahwa di antara kesempurnaan iman seseorang adalah ketika seseorang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi atau tidak memberi karena Allah. Dalam materi maksan syahadatain telah dibicarakan bahwa di antara konsekuensinya adalah mencintai apa dan siapa yang dicintai Allah serta membenci apa dan siapa yang dibenci Allah. Sebagaimana tersebut dalam surah asy-Syu’araa’: 192-195 dan ar-Ruum: 30.

5. Tarbawi [pendidikan]
Setiap orang membutuhkan pendidikan untuk mencapai kesempurnaannya. Di samping itu ia juga menghendaki agar anak keturunannya dapat meneruskan tugas dan perjuangannya. Karenanya ia melakukan pendidikan untuk mereka. Secara sadar atau tidak, setiap masyarakat melakukan proses pendidikan ini dengan kualitas dan intensitas yang berbeda. Islam sebagai pedoman hidup juga harus dipahami dengan baik dan diwariskan pemahamannnya kepada generasi penerus agar mereka tidak sesat. Tentunya proses tersebut hanya berhasil melalui pendidikan. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Baqarah: 151 dan Ali ‘Imraan: 164.

6. Sosial
Dalam hidup ini manusia tidak dapat berdiri sendiri. Karena keterbatasannya ia selalu membutuhkan pihak lain. Ia butuh berdialog, bekerja sama, saling membantu, dan tolong menolong. Interaksi sosial inipun tidak lepas dari sentuhan Islam. Islam mengatur sedemikian rupa sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis, penuh kasih sayang, dan bebas dari permusuhan. Sebagaimana tersebut dalam surah An-Nuur: 2-10

7. Politik
Manusia diciptakan sebagai khalifah Allah di bumi. Karena itu kehidupan tidak akan pernah lepas dari masalah politik, baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Politik yang tidak didasarkan pada aqidah dan akhlak selalu hanya merupakan cara untuk meraih kekuasaan dengan segala cara. Sejarah telah mencatat bahwa banyak penguasa yang berlaku dhalim kepada rakyatnya. Bahkan ada di antara mereka yang mengklaim dirinya sebagai tuhan lantas memperlakukan rakyatnya dengan kejam. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Allah sendiri, padalah Dialah yang menciptakan dan memberi rizky kepada mereka. Dengan Islam, Allah mengatur sebagaimana seharusnya politik dan berpolitik itu. Sebagaimana tersebut dalam surah Yusuf: 40.

8. Ekonomi
Untuk bertahan hidup, manusia melakukan kegiatan ekonomi, bercocok tanam, berdagang, dan profesi lainnya. Allah telah menciptakan mereka untuk saling tergantung kepada orang lain. Orang kaya membutuhkan orang miskin, dan sebaliknya. Orang pintar membutuhkan orang bodoh dan orang bodoh juga membutuhkan orang piintar dan seterusnya. Ini menuntut mereka untuk menghormati dan menghargai orang lain, siapapun dan apapun kedudukan dan profesinya. Islam mengatur agar motifasi ekonomi itu tidak mendorong mereka untuk mengeruk keuntungan besar sesaat namun menimbulkan kerugian besar dalam waktu yang lama. Sebagaimana tersebut dalam surah at-Taubah: 60.

9. Militer
Karena kepentingan politik, sosial, dan ekonomi, manusia kemudian menyiapkan kekuatan untuk memperoleh dan mempertahankannya. Nafsu manusia yang menjerumuskan selalu didukung oleh setan agar mereka melakukan kejahatan, atau bahkan pengrusakan dalam mencapai tujuannya. Karena itu dunia tidak pernah sepi dari konflik antar pemilik kebenaran dan pemilik kebathilan karena al-haq dan al-bathil tidak akan pernah bertemu. Untuk itu Islam mewajibkan kepada pemilik kebenaran untuk bersiap siaga, menyiapkan kekuatan, dan berjihad membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Bahwa jihad merupakan jalan pintas menuju surga. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Anfaal: 60.

10. Peradilan.
Termasuk dalam kaitan ini adalah masalah hukum dan perundang-undangan, baik perdata maupun pidana. Karena dibuat oleh manusia yang tidak lepas dari nafsu dan keterbatasan, undang-undang dan hukum positif selalu menyimpan berbagai kekurangan dan subyektifitas. Selain itu karena ia telanjang dari aqidah dan moral, seringkali hukum dipakai untuk legitimasi bagi kecurangan dan keberpihakan oknum. Islam mewajibkan umatnya untuk berlaku adil, terhadap dirinya sendiri dan terhadap keluarganya. Ini tidak mungkin bila orang tidak merasa bahwa apa yang ia ucapkan dalam peradilan dicatat oleh Allah dan akan mendapat balasan di akhirat. Keyakinan akan hari akhirat inilah yang mendorong mukmin untuk senantiasa adil, bahkan mereka minta dihukum di dunia bila khilaf. Baginya, hukum di dunia tidak seberapa bila dibanding dengan hukuman di akhirat. Sebagaimana tercantum dalam surah al-Anfaal: 60.

Demikian pula sisi-sisi kehidupan manusia yang lain. Semuanya tidak lepas dari pedoman hidup yang diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam yang merupakan wujud dari pemeliharaan atas makhluk-Nya.

&