Arsip | 14.50

Potensi Manusia

11 Okt

Potensi Manusia
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Manusia yang kecil lagi lemah bila dibanding dengan makhluk lain yang pernah ditawari amanah kekhilafahan sebenarnya menyimpan potensi yang sangat besar. Inti dari potensinya ini tersimpan dalam pendengarannya, penglihatan, dan hatinya. Dengan ketiga potensi ini ia dapat melakukan hal-hal besar yang tidak dapat dilakukan oleh langit,bumi dan gunung-gunung. Karena itu Allah mengungkapkan ketiga potensi itu sebagai nikmat besar yang harus disyukuri. Apabila penggunaan nikmat tersebut tidak sebagaimana yang Allah kehendaki akan menyebabkan manusia terjerembab ke dalam neraka. namun ternyata banyak orang yang tidak mensukuri nikmat tersebut.

“Sesungguhnya kami jadikan untuk [isi neraka jahanam] kebanyakn dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati namun tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah; mereka mempunyai mata namun tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah]; dan mereka mempunyai telinga namun tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah].” (al-A’raaf: 179)

TANGGUNG JAWAB

Nikmat-nikmat besar itu adalah amanah yang harus ia jaga dengan penuh tanggung jawab. Manusia akan dimintai tanggung jawab di hadapan Allah swt; apakah menunaikannya dengan amanah ataukah khianat. Sebagaimaan dikatakan pada pembahasan yang lalu, amanah itu adalah ibadah dan khilafah. Ia dikatakan amanah bila status dan kedudukannya di bumi tidak lebih dari sekedar sebagai khalifah.

PRINSIP DALAM KEKHALIFAHAN

Khilafah adalah perwakilan. Demikian itu karena manusia mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk mewakili kekuasaan-Nya di bumi. Sebagai khalifah [wakil] ia harus memperhatikan beberapa prinsip berikut:
1. Tidak memiliki kekuasaan hakiki
Pada hakikatnya kepemilikan dan kekuasaan itu bukan milik manusia karena pemilik dan penguasa yang hakiki adalah Allah, pencipta alam semesta. Di tangan Allah-lah segala kerajaan langit dan bumi. Manusia hanya mendapat amanah untuk mengelolanya.
2. Bertindak sesuai dengan kehendak yang mewakilkan
Karena ia bukan pemilik dan penguasaan yang hakiki maka ia bertindak hanya sesui dengan kehendak pihak yang mewakilkan kepadanya yaitu Allah.
3. Tidak melampaui batas
Tindakan wakil yang menyimpang dan melampaui batas-batas yang dikehendaki pihak yang mewakilkan adalah pengkhianatan. Apabila mengkhianati amanah kekhilafahan, sesungguhnay manusia telah mencampakkan dirinya dalam kehinaan. Pengkhianatan tersebut merupakan tindakan yang sangat melampaui batas. Bahkan, al-Qur’an menyamakan mereka dengan makhluk-makhluk yang lebih rendah darinya:
– Seperti hewan ternak (al-A’raaf: 179; al-Furqaan: 43-44)
– Seperti anjing (al-A’raf 176)
– Seperti kera (al-Maidah: 60)
– Seperti kayu (al-Munafiquun: 4)
– Seperti babi (al-Maidah 60)
– Seperti batu (al-Baqarah: 74)
– Seperti laba-laba (al-Ankabut: 41)
– Seperti keledai (al-Jumu’ah: 5)

&

Hakekat Manusia

11 Okt

Hakekat Manusia
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Siapapun dan apapun kedudukannya, manusia harus memahami hakekat diri dan kehidupannya. Hal ini penting agar manusia dapat bersikap dan berlaku adil terhadap dirinya, terhadap Penciptanya, terhadap sesama manusia, dan terhadap makhluk-makluk lain. Beberapa hakekat yang harus dipahami diantaranya adalah bahwa dirinya:

1. Makhluk
Sebagai makhluk, ia diciptakan di atas fitrah Islam sebagaimana makhluk-makhluk yang lain. Sebagai manusia dia tidak pernah menjadi malaikat yang tercipta dari cahaya. Namun ia juga bukan iblis yang tercipta dari api. Dilihat dari fisiknya, ia termasuk makhluk lemah, memiliki banyak sekali keterbatasan dan kekurangan. Ia juga bodoh. Sepandai-pandainya manusia, ia tetap tidak dapat mengetahui rahasia yang belum Allah bukakan untuknya. Ia juga tidak dapat berdiri sendiri. Bahkan untuk kelangsungan hidupnya saja manusia sangat bergantung kepada pihak lain.

2. Mukkaram
Betapapun ia tercipta dari tanah liat atau air hina, akan tetapi Allah menghendaki agar ia menjadi makhluk yang mulia. Hanya bestatus sebagai manusia saja, orang sudah dipanggil al-mukkaram [yang dimuliakan]. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang absolut. Dengan kekuasaan-Nya, makhluk yang tercipta dari tanah itu mendapat tiupan ruh dari Allah swt. Di samping itu Allah juga memberikan berbagai kelebihan padanya. Dalam hal penciptaan, ia diciptakan dengan penciptaan yang paling sempurna. Akal merupakan kelebihannya yang paling istimewa. Bukan hanya itu, alam semesta ini pun Allah tundukkan untuknya.

3. Mukallaf
Mukallaf artinya yang dibebani. Sebagai makhluk yang telah diistimewakan dengan berbagai kelebihan, manusia tidak dibiarkan tanpa tugas dan tanggung jawab. Nikmat penciptaan dan berbagai kelebihan itu harus disyukuri dengan melakukan ibadah secara benar dengan segala ketundukan dan keihklasan kepada Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat itu kepadanya. Potensi besar yang diberikan kepadanya itu juga dimaksudkan agar ia mampu mengelola bumi ini mewakili Allah mengatur kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. sebagai khalifah ia tidak boleh bertindak sekehendaknya.

4. Mukhayyar
Kalau Allah menghendaki, manusia diciptakan tanpa akal dan fikiran sehingga ia tidak dapat memilih apa yang hendak ia lakukan. Keistimewaan hati dan akalnya itu, manusia menjadi makhluk pilihan sehingga ia bebas memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Akal dan kebebasan ini sebenarnya adalah ujian. Bila ia menggunakan akal dan hatinya dengan baik, ia akan beriman kepada Allah. Bila ia kemudian sombong dan menutupi nikmat itu, ia akan mengidap kekafiran. Orang kafir adalah musuh Allah.

5. Majziy
Keberadaannya sebagai makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih itu bukan tanpa konsekuensi. Sesungguhnya nikmat-nikmat yang telah dia terima sejak awal penciptaan, berbagai kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lain, dan tugas yang dibebankan kepadanya itu akan diperhitungkan oleh Allah. Usainya keberadaan manusia di dunia, Allah akan memberikan balasan secara adil dan proporsional di akhirat berupa surga atau neraka. sebagian dari balasan itu kadang diberikan di dunia. Satu kebaikan akan mendapat balasan sepuluh kali lipat kebaikan atau berlipat-lipat sebagaimana yang Allah kehendaki. Demikian pula yang buruk, ia akan mendapat balasan yang setimpal.

&

Definisi Manusia

11 Okt

Definisi Manusia
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Dari tiga pokok bahasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Islam merupakan sistem yang sangat menjanjikan kebahagiaan. Kenyataannya tidak semua manusia menerima Islam dengan baik, bahkan ada yang antipati dan memusuhi. Padahal Islamlah yang menentukan nasibnya, konon sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia diberi kelebihan yang makhluk lain tidak diberi.

Dilihat dari asal penciptaannya, manusia tersusun dari unsur bumi dan unsur langit. Unsur bumi karena manusia diciptakan dari tanah. Unsur langit karena setelah proses penciptaan fisiknya sempurna, Allah meniupkan ruh kepadanya. Dari dua unsur itu, berdasar fungsinya manusia disimbolkan dengan tiga unsur utama yaitu hati, akal dan jasad.

1. Hati
Rasulullah mengatakan bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Bila daging itu baik, baiklah seluruh jasad. Namun bila daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Meskipun hepar [hati secara fisik] sangat menentukan kesehatan tubuh, namun dilihat dari konteks pembahasan ayat-ayat maupun hadist nabawi yang berbicara tentang qalb [hati] yang dimaksud bukan hati fisis. Ia abstrak, termasuk unsur rohani, yang merasa haru, bahagia, suka, duka, pedih dan emosi lainnya. Hati yang berbolak-balik di antara berbagai perasaan itu. Karena tidak berada di satu keadaan itulah kemudian ia dinamakan qalb. Berdasarkan terminologi bahasa, qalb berasal dari qalaba yang berarti berbolak-balik. Dalam konteks kekhalifahan, di dalam hatilah tersimpan potensi besar untuk berniat dan bertekad.

2. Akal
Imam al-Ghazali memasukkan akal sebagai bagian dari hati, sehingga beliau memasukkan tafakkur [kerja akal] dalam bab dzikr [yang merupakan kerja hati]. Allah berfirman bahwa pemahaman merupakan pekerjaan hati.
“Mereka mempunyai hati, namun tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah].” (al-A’raaf: 179)

Akal juga bukan otak karena otak bahasa Arabnya dimagh, yang ini bersifat fisik. Dengan demikian akal pun bersifat abstrak. Akal termasuk karunia Allah yang terbesar bagi manusia karena dengan akal inilah kemudian ia menjadi makhluk yang paling istimewa. Dengan akal itu manusia dapat memahami berbagai hal yang Allah ajarkan kepadanya. Dalam konteks kekhalifahan, akal memberi manfaat besar kepada manusia dalam bidang ilmu pengetahuan hingga ia dapat melakukan pengembangan dan inovasi.

Terlepas dari perdebatan tentang hakekat hati dan akal, yang jelas kita dapat merasakan keberadaannya. Lebih penting lagi, adalah bagaimana memanfaatkan keduanya secara baik. Dengan hati manusia bercita-cita, beobsesi, dan bertekad; dengan akal ia memperoleh ilmu yang ia gunakan untuk merencanakan strategi demi mencapai tujuan.

3. Jasad
Jasad sangat mudah dikenali karena ia dapat kita lihat dan kita raba. Karena itu tidak ada perbedaan tentang hakekat jasad ini. Yang terpenting bagi manusia adalah menggunakannya sebagai pelaksana sebagai apa yang telah ditekadkan oleh hati dan direncanakan oleh akal. Tanpa jasad, tekad dan pengetahuan hanya akan menjadi impian dan teori yang kosong.

Hati, akal dan jasad adalah anugerah Allah yang harus digunakan untuk menjalankan amanah yang langit, bumi, dan gunung tak sanggup mengembannya. Amanah itu tidak lain adalah ibadah dan khilafah. Yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana manusia menunaikan amanah itu.

&

Amal Islami

11 Okt

Amal Islami
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Sengaja judul ini tidak diterjemahkan karena amal Islami mengandung makna dan pengertian tersendiri yang lebih luas dari sekedar kerja Islami atau aktifitas Islami. Amal Islami adalah rangkaian perjuanan Islam yang panjang dalam rangka reeksistansi Islam ke pentas dunia. Demikian itu karena Islam adalah keyakinan. Dalam waktu yang sama ia adalah pemikiran, perasaan, dan akhlak. Islam adalah idealisme yang harus diwujudkan dalam realitas kehidupan hingga tercipta kondisi yang Islami. Kondisi paling ideal dalam interaksi kaum muslimin dengan saudara seiman adalah ketika mereka mendahulukan kepentingan jamaah [kaum muslimin] dibanding kepentingan sendiri.

REALITAS KAUM MUSLIMIN

Realitas terkini menunjukkan bahwa Islam sangat jauh dari kehidupan bahkan kehidupan kaum muslimin sendiri. Islam unggul dan tidak terungguli namun kaum muslimin mundur dan terpinggirkan. Sungguh ironis. Syaikh Syakib Arselan menulis kitab dengan judul “Mengapa Muslim Terbelakang dan Non Muslim Maju”. Dalam kitab itu beliau menjawab bahwa kaum muslimin terbelakang karena mereka meninggalkan kitab sucinya sementara non muslim maju karena mereka meninggalkan kitab sucinya.

SIKAP ISLAMI

Kondisi seperti di atas harus diubah menjadi kondisi yang Islami melalui perjuangan dakwah dan jihad nan ikhlas tak kenal lelah, lemah dan menyerah. Barisan mukmin harus sabar dan tabah, selalu istighfar dan memohon ampun kepada Allah, serta menghindari perbuatan yang melampaui batas. Mereka harus selalu teguh hingga datangnya kemenangan dan pertolongan Allah. Amal Islam meliputi:

1. Dakwah dan tarbiyah
Mendakwahkann Islam adalah upaya menyampaikan Islam kepada seluruh manusia melalui berbagai cara dan pendekatan yang sah lagi halal. Selain itu mereka yang telah menerima dakwah juga harus mendapat pembinaan dan pendidikan Islam secara cukup dan baik. Tarbiah adalah usaha untuk merawat dan menlayani jamaah agar komitmen dan loyalitas mereka kepada Allah, Islam, dan Rasulullah tetap segar.

2. Harakat dan jihad
Islam tidak cukup hanya disampaikan melalui tabligh. Harus ada upaya-upaya sadar dan terprogram untuk mengimplementasikan dalam kehidupan nyata dalam semua lini kehidupan. Masyarakat yang stagnan, pasif, apatis, dan beku harus digerakkan kembali. yang dapat menggerakkan mereka tidak lain adalah aktifitas yang berkemampuan sebagai reformer di levelnya. Dakwah dan tarbiyah serta harakah dan jihad harus berorientasi pada pemurnian ibadah kepada Allah untuk mencapai masyarakat yang bertakwa. Bila itu dapat diwujudkan, manusia dapat menyaksikan bukti kebenaran Islam yang unggul dan tidak terungguli. Amal Islam yang dilakukan secara manhaji memberi harapan kepada kita akan kemenangan. Kepercayaan dan dukungan akan diberikan Allah [hablun minallah] dan umat manusia [hablun minannaas] kepada kaum muslimin. Jika demikian, pertolongan dan kemenangan tinggal menghitung hari. Kepercayaan adalah amanah yang harus dijaga dengan baik agar kemapanan yang Allah janjikan pun terwujud. Sebagaimana tersebut dalam surah an-Nuur: 55.

&

Tabiat Agama Islam

11 Okt

Tabiat Agama Islam
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Islam adalah tabiat hidup yang mempunyai ruh, yang dengan ruh itu mampu membentuk kepribadian penganutnya. Maka siapa yang tershibghah oleh ruh Islam, pasti menjadi orang yang memiliki kepribadian khusus. Di antara tabiat itu adalah:

1. Agama yang murni dan fitrah
Kitab sucinya dijamin tidak akan berubah. Seluruh riwayatnya diriwayatkan secara mutawatir. Sunnah nabinya diriwayatkan melalui seleksi sangat ketat hingga para ahli hadits mengenal ilmu jarh wa ta’dil, ilmu yang tidak dimiliki oleh agama lain. Aqidahnya bebas dari kemusyrikan, ibadah dan syariahnya berorientasi pada tauhid. Adapun fitrah karena ia sejalan dengan apa yang ada pada makhluk, dimaksudkan untuk menjaga dan mengembalikan makhluk kepada fitrah. Tabiat ini membentuk kepribadian yang tulus ikhlas, lurus, dan mencintai hal-hal yang bersifat fitrah. Maka berbentuklah hamba alim yang akrab dengan sesama dan alam semesta.

2. Agama nilai dan pedoman
Islam sarat dengan nilai-nilai kebaikan dan tuntunan. Hal ini membentuk kepribadian yang bernilai dan disiplin dengan aturan.
“Tidak sempurna keislaman seseorang sebelum ia menjadi orang yang teratur dalam urusannya.” (al-Hadits)

3. Agama hukum dan akhlak
Hukum-hukum Islam tidak akan pernah kering dari akhlak. Hal ini menjadikan muslim sebagai orang yang memiliki kesadaran hukum yang tinggi. Komitmennya pada moral menjadikannya mudah untuk senantiasa taat hukum dan perundang-undangan. Ia adalah orang yang bijak dan bermoral.

4. Agama kebersihan dan kesucian
Sebagian besar ibadah yang ada di dalamnya mensyariatkan kebersihan dan kesucian. Rasulullah saw. menganjurkan agar setiap muslim selalu berada dalam keadaan suci. Anjuran ini membuat seorang mukmin berusaha selalu bersih dan suci lahir batin. “Kebersihan adalah bagian dari iman.” (al-Hadits)

5. Agama ilmu dan amal
Ayat yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Selanjutnya adalah perintah mencari ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim. Islam mengangkat derajat ilmu dan orang yang berilmu, lantas mewajibkan pengamalan atas ilmu yang dimiliki. Dalam hadits disebut bahwa kaki anak Adam tidak akan bergeser di hari kiamat sebelum ditanya tentang empat perkara: diantaranya tentang ilmunya, diamalkan untuk apa.

6. Agama dzikir dan fikir
Dzikir dilakukan setiap saat dalam setiap keadaan. Sehingga, diamnya seorang muslim adalah emas karena ia menggunakan waktu diamnya untuk dzikir atau berfikir. Dengan dzikir hati akan menjadi tenang dan tentaram. Dengan berfikir otak akan terasah dan cerdas sehingga ia akan selalu inovatif, kreatif, dan melakukan pembaruan.

7. Agama kerja dan harapan
Islam tidak mengharapkan seorang muslim berpangku tangan, bergantung, dan berputus asa. Allah yang telah menciptakannya tidak akan membiarkan hamba mati kelaparan . rizky sudah ditentukan bahkan sebelum ia diciptakan. Seseorang tidak akan mati sebelum mendapatkan rizky dan menggenapkan azalnya. Tugas dan kewajibannya adalah bekerja, berusaha dan menggantungkan harapannya kepada Allah. Sebaik-baik makanan adalah yang didapatkan dari hasil keringat sendiri. Islam menekankan bahwa bekerja adalah ibadah. Setiap ibadah harus dilakukan dengan niat tulus dan cara yang terbaik, hasilnya ia serahkan kepad Allah.
“Dan tidak ada satupun makhluk yang bernyawa di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizky-nya.” (Huud: 6)

8. Agama kekuatan dan tanggung jawab
Rasulullah saw. mengatakan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibandingkan mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing terdapat kebaikan. Islam menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin, masing-masing bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Ini menjadikan muslim sebagai orang yang kuat dan bertanggungjawab

9. Agama kemuliaan dan kasih sayang
Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia, namun kemuliaan tidak boleh menjadikannya sewenang-wenang dan diskriminatif. Kemuliaan adalah kenikmatan yang harus disyukuri karena dengan bersyukur Allah akan menambah nikmat-Nya. Untuk mempertahankan kemuliaan dilakukan dengan Islam dan Iman. Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Penciptaannya dilakukan dengan rahmat Allah, pemeliharaannya merupakan wujud rahmat Allah. Islam diturunkan sebagai rahmat bagi manusia karena Islam memberi petunjuk, bimbingan, sistem yang lengkap untuk meraih, menjaga dan meningkatkan kemuliaan itu. Prinsip ini menjadikan muslim hidup mulia dan cinta sesama.

10. Sistem negara dan ibadah
Negera dan kekuatan dimaksudkan untuk menegakkan batas-batas diin dan melayani rakyat, bukan untuk kedhaliman dan kemaksiatan atau memperbudak manusia. Ia merupakan sebagian ibadah dan untuk menegakkan peribadatan yang benar. Demikian itu karena misi penciptaan manusia adalah agar mereka beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah yang memakmurkan bumi.
Kehalifahan di bumi hanya akan tegak bila ada imam yang adil dan pendukung yang tulus. Imam yang adil adalah satu di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari ketia tidak ada naungan lain selain naungan-Nya. tidak sempurna keislaman seseorang sebelum ia memiliki kesadaran politik yang baik. Politik adalah bagian tak terpisahkan dari agamanya. Ini menjadikannya sebagai seorang politikus yang ahli ibadah.

11. Agama pedang dan mushaf
Pedang melambangkan kekuatan dan kekuasaan. Batas-batas agama tidak akan tegak tanpa kekuatan dan kekuasaan. Hal demikian karena ada beberapa keadaan /kondisi serta ada sebagian orang yang tidak dapat diluruskan dengan ayat-ayat suci. Mereka hanya dapat diluruskan dengan pedang atau kekuasaan. Namun demikian, kekuasaan dan kekuatan itu senantiasa dalam biminngan kitab suci. Jihad dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah. Hal ini menjadikan muslim sebagai mujahid yang rabbani [berorientasi kepada Allah]. Ia berpegang bukan karena dendam atau kebencian pribadi. Ia bejihad dengan niat atas bimbingan kalam ilahi dan sunnah nabawi.

12. Agama pergerakan dan konsep
Allah mentakdirkan bahwa gerak adalah ciri kehidupan. Selama masih ada kehidupan, gerakan akan selalu ada. Sejalan dengan karakter dunia yang selalu bergerak itu, Islam adalah agama yang dinamis. Maksudnya selalu selaras mengikuti perkembangan zaman. Gerakan Islam melakukan perubaan ke arah yang lebih baik. Gerakan ini tidak mengizinkan penganutnya diam terhadap kemungkaran. Ia harus dirubah menjadi kebaikan. Gerakan ini harus dilakukan sesuai dengan pedoma. Yang leibh baik dipertahankan dan ditingkatkan menjadi lebih baik.
Muslim adalh aktifis dinamis namun disiplin dan konsep. Gerakan yang dilakukan tanpa manhaj yang jelas hanya akan membuang-buang waktu dan potensi, itulah gerakan yang mubadzir.

&

Islam Agama yang Benar

11 Okt

Islam Agama yang Benar
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ternyata di dunia ini terdapat banyak agama, konsep dan sistem. Masing-masing menganggap diri dan dakwahnya sebagai kebenaran. Masing-masing mengajak manusia untuk menganut, membela, dan memperjuangkannya. Agar tidak salah pilih dan tidak tersesat, timbanglah dan bandingkan konsep, sistem dan agama itu dengan segala kearifan, menggunakan akal sehat dan dalil nyata.

ISLAM

Konsep yang dijamin kebenarannya adalah konsep yang dibuat oleh Dzat yang Maha Mengetahui, yang ilmunya meliputi segala yang ada di langit dan di bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yang awal dan yang akhir. Dzat yang demikian itu tidak lainn adalah Dzat yang telah menciptakan segala makhluk. Dia adalah Allah. Konsep dan agama yang dibuat-Nya disebut dinullah. Karena ilmunya yang Mahaluas itu maka Allah adalah Dzat yang Mahabijaksana, disebut juga sebagai al-Haq dengan kebenaran yang absolut. Karena itu agama-Nya disebut juga sebagai din al-Haq atau din al-haq (al-Haq dengan huruf besar adalah Allah, al-haq dengan huruf kecil adalah sistem yang dibuat-Nya). din al-haq yang dibuat-Nya tidak lain adalah al-Islam. Isi yang terkandung di dalamnya adalah petunjuk yang datang dari Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

“Dialah [Allah] yang mengutus rasul-Nya dengan [membawa] petunjuk dan dinul haq agar Dia memenangkannya atas agama-agama lain meskipunn orang-orang musyrik tidak suka.” (ash-Shaff: 9)
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk [yang sebenarnya].’” (al-Baqarah: 120)

SELAIN ISLAM

Konsep dan sistem apapun yang dibuat oleh selain Allah adalah jahiliyyah karena ia dibuat oleh al-jahl. Betapapun pintarnya, karena ilmunya terbatas manusia [bahkan malaikat sekalipun] disebut sebagai al-jahl karena mereka hanya akan mengetahui apabila diberitahu Allah. Apa yang tidak ia ketahui jauh lebih banyak dibanding dengan apa yang ia ketahui.

Yang menyandang sifat jahl itu adalah makhluk. Kalau ia mengklaim sebagai tuhan atau dipertuhankan, pastilah ia bukan tuhan yang sebenarnya. Sistem yang diterapkan oleh makhluk yang demikian itu posisinya biasanya disebut sebagai dinul malik, sistem raja. Konsep yang dibuatnya berdasarkan pada prasangka semata. Penelitian saja tidak menjamin sampai ke tingkat keyakinan. Hakekat kebenaran yang sebenarnya hanya diketahui oleh Allah. Kebenaran yang masih relatif itu kalau kemudian dijadikan sebagai konsep, agama, atau sistem, yang terjadi adalah konsep batil, sistem kebatilan, atau agama bathil. Sistem demikian disebut jahiliyyah karena apapun yang bukan Islam dan atau bukan Islam adalah jahiliyyah. Isi yang terkandung di dalamnya adalah kesesatan. Betapapun dikemas dalam nama dan penampilan yang baik, kesesatan adalah tetaplah kesesatan yang hanya akan menyesatkan manusia dan menjerumuskan ke jurang kenistaan di dunia dan di akhirat.

“Apakah hukuman jahiliyyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)
“Maka apakah mereka mencari agama lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah-lah menyerahkan diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan kepada Allah lah mereka dikembalikan.” (Ali ‘Imraan: 83)

&

Islam sebagai Fikrah

11 Okt

Islam sebagai Fikrah
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Iman yang mendalam akan meningkatkan kemampuan jiwa dalam melihat persoalan, karena iman adalah pelita yang menyejukkan. Semakin tinggi keimanan, pasti makin kuat rasa kesejukannya. Maka tidak mengherankan bila mukmin dalam melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang kafir.

Dalam diri manusia terdapat potensi iman dan kufur. Selalu akan terjadi konflik yang tak pernah henti antara bashirah [mata hati] dan nafsunya. Mana yang dominan di antara keduanya, dialah yang akan mempengaruhi pandangan terhadap berbagai persoalan. Persoalan-persoalan besar yang sangat penting untuk dipahami secara benar dan lurus adalah yang menyangut tentang hakikat ketuhanan, kerasulan, ibadah, alam, manusia dan hakekat kehidupan.

Dengan iman, seorang muslim akan memperoleh ketajaman bashiran. Dalam waktu yang sama ia merujuk kepada hujjah dan argumentasi yang nyata, baik dari al-Qur’an, sunnah, maupun ilmu pengetahuan. Cahaya di atas cahaya. Ia kalahkan nafsunya. Karena itu persepsinya tentang ketuhanan, risalah, ibadah, alam, manusia, dan kehidupan adalah persepsi yang Islami. Persepsi yang Islami akan melahirkan pemikiran akan dan gagasan-gagasan yang Islami, pada akhirnya akan menghasilkan aktifitas yang Islami.

Adapun orang kafir, nafsunya menutupi bashirah dan menolak dalil, sehingga ia tidak bisa melihat hakekat dengan terang. Persoalan-persoalan yang tidak cukup dipahami dengan akal ia paksakan untuk dicerna dengan akalnya yang terbatas. Yang lebih buruk lagi adalah ternyata akalnya itupun diselimuti kabut nafsu yang pekat. Karena itu persepsinya tentang ketuhanan, risalah, ibadah, alam, manusia, dan kehidupan adlah persepsi yang keliru. Persepsi yang keliru hanya akan melahirkan pemikiran dan gagasan-gagasan yang jahiliyah [tidak Islami]. Tidak mengherankan kalau kemudian aktifitas yang mereka lakukan adalah aktifitas jahiliyah.

Sebagai orang yang telah menyatakan syahadat, seorang muslim harus memandang segala persoalan berdasarkan hujjah-hujjah yang nyata, dengan kaca mata Islam. Ia harus mendahulukan iman, dalil, dan argumentasi serta mengesampingkan nafsu. Hanya dengan itulah ia akan menjadi muslim yang baik, yaitu arah perubahan diri menuju pribadi yang utuh; persepsinya, pemikirannya, dan perbuatannya. Sebab bila nafsunya yang dominan ia hanya akan menjadi muslim secara status; persepsinya, permikirannya, dan perbuatannya masih jahiliyah.

Abu Dzar al-Ghifari, shahabat yang agung itu sempat mendapat teguran keras dari Rasulullah saw. dan disebut sebagai orang yang di dalam dirinya terdapat sifat jahiliyah. Hal itu terjadi karena ia masih memiliki persepsi yang salah tentang manusia yang bernama Bilal bin Rabab, sahabat Rasul yang suara sandalnya sudah terdengar di surga saat ia masih tinggal di dunia. Msalahanya adalah karena Abu Dzar memanggil Bilal ra sebagai anak perempuan hitam. Bukankah Allah tidak melihat wajah dan warna kulit? Bukankah orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa? Mendapat teguran keras dari Rasulullah saw. Abu Dzar menyesali perbuatannya dan minta agar Bilal membalas dengan menginjak kepalanya.

Bagaimana kepribadian itu terjadi, Ibnu Qayyim ra. menuturkan bahwa yang pertama kali muncul adalah lintasan-lintasa pemikiran, bila lintasan itu dibiarkan maka ia akan berkembang menjadi fikrah. Bila fikrah dibiarkan maka akan berkembang menjadi niat. Niat akan berkembang menjadi tekad, tekad akan menjelma menjadi perbuatan. Bila dibiarkan maka perbuatan itu akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan, lama-lama akan menjadi karakter. Pada akhirnya karakter itulah yang menjadi budaya.

Orang yang kuat lagi arif adalah orang yang dapat mengendalikan diri. Mengendalikan lintasan fikiran lebih ringan daripada mengubah kebiasaan.

&