Arsip | 13.47

Keseimbangan

17 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Allah menciptakan segalanya dalam keseimbangan. Dengan itu ia tetap indah, selaras, harmonis dan lestari. Sebagaimana makhluk yang lain, manusia juga diciptakan dengan fitrah keseimbangan. Apabila berada pada fitrah keseimbangan ini ia disebut sebagai orang yang hanif [lurus].

Manusia sebagai individu tersusun dari unsur jiwa, akal dan jasad. Masing-masing membutuhkan sentuhan dan pemenuhan kebutuhan secara wajar dan proporsional. Kurang dalam memberikan sentuhan dan pemenuhan akan menyebabkan kekerdilan yang berakibat munculnya ketidakseimbangan. Sebaliknya berlebihan dalam pemenuhan dan sentuhan terhadapnya juga akan menyebabkan terabainya dan terlalaikannya bagian lain. Kekurangan maupun berlebihan dalam memberikan hak-haknya akan menyebabkan terjadinya ketidakwajaran.

– Ruh [jiwa]
Kesehatan jiwa sangat mempengaruhi kesehatan fisik. Karena itu sentuhan dan pemenuhan terhadap kebutuhan jiwa juga tidak boleh diabaikan. Rasulullah saw. mengatakan bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia sehat maka sehatlah seluruh tubuhnya dan jika ia sakit maka sakitlah seluruh tubuhnya. Segumpal dagin itu adalah hati. Kebutuhan jiwa adalah kedekatannya kepada Allah yang telah menciptakan dan memberikan jaminan kepadanya. Karena itu santapan ruhani adalah dzikir. Dengan dzikir hati akan menjadi tenang. Keresahan, kegelisahan, dan kegundahan hanya terjadi manakala hati tidak berdzikir kepada Allah. Pada kondisi yang parah, jiwa akan mengalami stress dan depresi bahkan sinting dan gila.

– Akal
Sebagaimana fisik, akal juga membutuhkn pemenuhan kebutuhan secara wajar dan proporsional. Kalau daya tampung dan kebutuhan tubuh terbatas, kebutuhan dan kapasitas akal dapat dikembangkan lebih dari kemampuan fisiknya. Karena itu rakus terhadap materi merupakan sifat tercela. Sebaliknya rakus terhadap ilmu dan hikmah adalah sifat terpuji. Pemenuhan kebutuhan akal dilakukan dengan cara belajar mencari ilmu, tadabbur ayat-ayat quliyah, dan tafakkur ayat-ayat kauniyah.

– Jasad (fisik)
Sel-sel, organ-organ tubuh, dan fisik menusia menunjukkan keseimbangan yang sangat jelas. Keseimbangan pada fisiknya akan mempengaruhi keindahan dan kesehatan fisik itu sendiri dan juga psikis. Karena itu ia harus menjaga keseimbangan fisiknya dengan memberikan sentuhan dan pemenuhan kebutuhannya secara seimbang. Jasad membutuhkan pemenuhan berupa makanan, minuman, gerak dan istirahat. Makanan dan minuman yang ia konsumsi juga harus seimbang sesuai dengan kebutuhan. Seimbang dalam makanan meliputi kuantitas dan kualitasnya. Kuantitas makanan disesuaikan dengan kebutuhan, kualitas meliputi aspek kelengkapan nutrisi dan bobot gizi sesuai kebutuhan.
“Makanlah yang halal dan yang baik [bergizi] dari apa yang terdapat di muka bumi, dan janganlah kamu mengikuti cara-cara setan.” (al-Baqarah: 168)
Apabila fungsi-fungsi fisik normal, kelebihan makanan dan nutrisi akan dibuang sia-sia. Termasuk kebutuhan fisik adalah gerak badan dengan bekerja, berolahraga, menjaga kebersihan diri, tempat tinggal dan lingkungan hidup.

Ketiga aspek di atas saling terkait dan mempengaruhi. Terpenuhinya kebutuhan secara seimbang akan membentuk pribadi utuh dan sehat sehingga ia dapat menunaikan tugas-tugasnya dengan baik.
Itulah nikmat Allah lahir dan batin.

&

Buah Ketakwaan

17 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Manusia adalah makhluk mulia karena Allah telah memuliakannya dan memberikan kelebihan kepadanya. Untuk menjaga kemuliaan itu, Allah memerintahkan agar manusia hanya beribadah kepada Allah saja. manusia jika tidak menjadi hamba Allah, ia akan menjadi hamba bagi dirinya sendiri atau bagi sesama makhluk. Bila itu yang terjadi, kehormatan dan kemuliaannya tercampakkan, ia jerumuskan dirinya dalam lembah kehinaan.

Manusia yang bersedia beribadah, ia akan menjadi orang yang bertakwa. Kemuliaan berbanding lurus dengan ketakwaan, semakin tinggi ketakwaan seseorang semakin besar kemuliaannya.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.” (al-Hujurat: 13)
Rahasia kemuliaan itu terletak pada berbagai fasilitas tambahan yang Allah berikan kepada manusia. Di antara fasilitas tambahan yang hanya diberikan kepada mereka yang bertakwa adalah:

1. Rahmat. Bersama dengan penciptaan langit dan bumi, Allah menciptakan seratus rahmat. Satu di antaranya diturunkan ke bumi, yang 99 tersimpan dan akan diberikan kepada hamba-hamban-Nya yang beriman, sementara ketakwaan adalah derajat iman yang tertinggi.
“Dan [al-Qur’an] ini adalah kitab suci yang Kami turunkan, yang diberkahi. Karena itu ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian dirahmati.” (al-An’am: 155)

2. Furqaan (Pembeda).
Iman adalah cahaya yang menerangi hati. Dengannya orang yang beriman dapat melihat persoalan dengan terang dan gamblang. Takwa memberikan cahaya dan kemampuan lebih bagi orang yang beriman untuk membedakan halal dan haram. Bahkan terhadap hal-hal yang shubhat pun sikapnya sangat jelas tegas hingga tidak terlibat penodaan dan pelanggaran.

3. Keberkahan.
Kuantitas bukan ukuran. Keberkahan dapat dilihat pada bobot dan kualitas rizky. Keberkahan adalah kehidupan yang hanya diberikan kepada mereka yang bertakwa.

4. Solusi
Hati yang bening dan fikiran yang jernih menjadikannya lebih arif. Di samping itu, Allah pasti memberikan solusi bagi permasalahan yang di luar kemampuannya.

5. Rezeki
Yang tidak bertakwa, rizky nya hanya sebatas yang diusahakan, atau bahkan lebih kecil dari apa yang diusahakannya. Yang bertakwa akan mendapat rizky lebih dari yang ia duga, Allah menjanjikan kebahagiaan akhirat yang tidak ada bandingannya.

6. Kemudahan
Sebenarnya tidak ada hal yang sulit selama hati tetap bening dan fikiran tidak kusut. Iman dan takwa efektif mengkondisikan itu. Allah telah menjamin bahwa bersama [bukan setelah] kesulitan ada kemudahan.

7. Penghapusan dosa dan kesalahan
Ketakwaan mendorong orang untuk melakukan kebaikan. Kebaikan menghapus keburukan, sebagaimana air memadamkan api.

8. Ampunan
Dosa dan kesalahan kita tiada habis-habisnya. Takwa menjadikan orang bertaubat atas kesalahan dan dosanya, kemudian membangun kehidupan baru dengan berusaha maksimal untuk tidak terlibat dalam kesalahan dan dosa lagil.

9. Pahala besar
Ketaatan pasti mendapat balasan yang berlipat. Bila Allah yang ridla memberi, jangan tanyakan seberapa kemampuan-Nya untuk membalas.
Itulah kebaikan di dunia dan kebaikan akhirat. Itulah kebesaran dan kejayaan. Itulah buah yang akan dipetik orang yang bertakwa.

&

Hasil Ibadah

17 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Allah menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Tujuan yang hendak dicapai dengan ibadah itu adalah agar mereka bertakwa. Hal ini dapat kita pahami dari perintah-perintah ibadah dalam al-Qur’an maupun sunnah, baik ibadah secara umum maupun ibadah yang disebut secara khusus. Ibadah ghairu mahdhah yang disebut langsung dan disampaikan pula tujuannya misalnya dalam surah al-Baqarah: 21. Adapun ibadah mahdhah misalnya puasa (al-Baqarah: 183).

Takwa adalah derajat iman yang tertinggi, dimana orang yang menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Namun tidak setiap ibadah akan dapat mengantarkan pelakunya pada derajat takwa. Ia baru akan efektif membentuk pribadi takwa apabila dilakukan dengan syarat dan kualifikasi tertentu.
Syarat-syarat kualifikasi itu adalah:

1. Iman. Imanlah yang membedakan amal orang mukmin dan amal orang munafik. Tanpa iman, suatu amal menjadi tanpa ruh dan kosong. Al-Qur’an menyebutnya sebagai fatamorgana atau bagai debu yang tertiup angin kencang. Demikian itu karena ibadah yang dilakukan tanpa iman tidak diperuntukkan bagi Allah, tidak disertai harapan untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya, dan tidak mengikuti tuntunan Rasul-Nya.

2. Islam. Islam sikapnya [ketundukan dan menyerahkan diri] maupun Islam sebagai sistem. Dalam konteks sistem, iman lebih banyak menyangkut urusan hati dan berkaitan dengan aspek aqidah. Islam mengatur bagaimana beriman itu. Al-Qur’an mengatakan bahwa beriman dengan cara selain Islam, tidak dianggap iman karena barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, ia termasuk orang yang rugi. Sebab, agama di sisi Allah hanyalah Islam. Karena itu orang belum dianggap beriman kalau ia belum Islam.

3. Ihsan. Ihsan adalah sikap seseorang yang melakukan ibadah seakan-akan ia melihat Allah dan kalaupun ia tidak emlihat, ia yakin bahwa Allah melihatnya. Kondisi hati yang demikian akan mempengaruhi kualitas amalnya sehingga ia akan merupakan amal yang terbaik.

4. Ketundukan. Yaitu kondisi hati yang tunduk mengakui kebesaran Allah dan keagungan ayat-ayat-Nya, tidak ada kesombongan, kecongkakan, dan kepongahan.

5. Tawakkal. Yaitu menyerahkan urusan kepada Allah. Tugas manusia hanya melakukan /berproses sesuai manhaj. Hasilnya ia serahkan kepada Allah.

6. Cinta (lihat kembali Hakekat ibadah)

7. Harapan (lihat kembali Hakekat ibadah)

8. Takut (lihat kembali Hakekat ibadah)

9. Taubat. Betapapun telah melakukan ibadah dan ketaatan, seorang mukmin tetap hatus senantiasa bertaubat dan istighfar. Hal ini untuk mengantisipasi kalau ia melakukan kesalahan yang tidak disadari.

10. Doa. Harap dan takut menjadikannya berdoa agar ibadahnya diterima dan dijauhkan dari kerugian dunia dan akhirat.

11. Khusyu’. Kekhusyu’an hati akan terindikasikan oleh kekhusyu’an lahir apabila dilakukan dengan tuma’ninah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (5)

17 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

tulisan arab alquran surat al mumtahanah ayat 10-11“10. Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 11. dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka Maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman.” (al-Mumtahanah: 10-11)

Di dalam surah al-Fath, telah disampaikan kisah perdamaian Hudaibiyyah yang berlangsung antara Rasulullah saw. dengan orang-orang kafir Quraisy, di antara isi perjanjian itu berbunyi: “Tidak ada seorang pun dari kami yang mendatangimu meskipun ia memeluk agamamu melainkan engkau [Muhammad] harus mengembalikannya kepada kami.” Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Tidak seorang pun dari kami yang datang kepadamu meski sebagai pemeluk agamamu melainkan engkau harus mengembalikannya kepada kami.” Demikian pendapat ‘Urwah, adh-Dhahhak, ‘Abdurrahman bin Zaid, az-Zuhri, Muqatil bin Hayyan, dan as-Suddi. Berdasarkan riwayat ini, maka ayat ini mentakhshih [mengkhususkan] sunnah. Ini merupakan contoh terbaik tentang masalah ini, dan sebagian ulama salaf memandangnya sebagai ayat nasikh [ayat yang menghapus]. Karena sesungguhnya Allah swt. telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, jika wanita-wanita ikut berhijrah datang kepada mereka, hendaklah wanita-wanita itu diuji terlebih dahulu. Jika telah diketahui bahwa mereka itu adalah wanita-wanita yang beriman, maka mereka tidak boleh dikembalikan kepada orang-orang kafir. Karena wanita-wanita itu tidak halal bagi mereka dan juga sebaliknya.

Dan telah disebutkan dalam biografi ‘Abdullah bin Ahmad bin Jahsy dalam kitab al-Musnad al-Kabiir, melalui jalan Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, dari ‘Abdullah bin Abi Ahmad, ia bercerita: Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’ith berhijrah. Kemudian kedua orang saudaranya, ‘Amarah dan al-Walid menemui Rasulullah saw. Kedua orang tersebut berbincang dengan Rasulullah saw. agar beliau berkenan mengembalikan saudara perempuannya itu kepada mereka. Maka Allah swt. mengecualikan para wanita, khususnya dari perjanjian yang telah dibuat antara Rasulullah saw. dan orang-orang musyrik itu sehingga Allah melarang orang-orang yang beriman mengembalikan para wanita yang berhijrah kepada orang-orang musyrik, dan Allah pun menurunkan ayat tentang pengujian mereka.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Nashr al-Asadi, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas ra. pernah ditanya: “Bagaimana pengujian yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap para wanita tersebut?” Maka Ibnu ‘Abbas menjawab: “Beliau menguji mereka dengan meminta mereka mengatakan: ‘Demi Allah, aku tidak pergi karena benci kepada suami. Demi Allah, aku tidak keluar karena membenci negeri ini dan pindah ke negeri lain. Demi Allah, aku tidak pergi untuk mencari kesenangan dunia. Demi Allah, aku tidak pergi melainkan karena kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya.’”
Kemudian riwayat tersebut disampaikan dari sisi lain, dari al-Agharr bin ash-Shabah dengan lafadznya. Demikian juga diriwayatkan oleh al-Bazzar yang juga melalui jalannya.

Mengenai firman Allah: yaa ayyuHalladziina aamanuu idzaa jaa-akumul mu’minaatu muHaajiraatin famtahinuuHunna (“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu menguji [keimanan] mereka.”) al-‘Aufi menceritahakn dari Ibnu ‘Abbas, ia mengatkan: “Bentuk pengujian beliau terhadap wanita-wanita itu adalah dengan meminta mereka mengucapkan syahadat: asyHadul allaa ilaaHa illallaaH wa anna Muhammadan ‘abdullaaHi wa rasuuluHu (“Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”) jika mereka bersedia mengucapkan hal tersebut, maka hal itu akan diterima dari mereka.”

Dan firman Allah: fa in ‘alimtumuuHunna mu’minaatin falaa tarji’uuHunna ilal kuffaar (“Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka [benar-benar] beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada [suami-suami mereka] orang-orang kafir.”) di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa keimanan itu dapat dilihat secara pasti.

Firman-Nya lebih lanjut: laa Hunna hillul laHunna wa laa Hum yahilluuna laHunna (“Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka.”) ayat ini mengharamkan wanita-wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik. Padahal pada permulaan Islam, laki-laki musyrik diperbolehkan menikah dengan wanita muslimah. Berdasarkan hal tersebut, terlaksanalah pernikahan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dengan putri Rasulullah saw. Zainab ra. dimana pada saat itu Zainab sebagai seorang muslimah, sedang Abul ‘Ash masih memeluk agama kaumnya. Dan ketika ia masuk dalam tawanan perang Badar, Zainab mengutus seseorang untuk menebusnya dengan kalung yang dahulu milik Ibunya, Khadijah binti Khuwailid ra. Ketika melihatnya, Rasulullah saw. merasa sangat pilu sekali dan berkata kepada kaum muslimin: “Jika kalian memutuskan untuk membebaskan tawanannya, lakukanlah.”
Maka mereka pun melakukannya. Dan Rasulullah saw. membebaskannya dengan syarat kaum kafir Quraisy harus mengirimkan Zainab kepada beliau. Dia pun memenuhi permintaan Rasulullah saw. tersebut dan memenuhi janjinya terhadap beliau dengan mengirimkan Zainab kepada beliau bersama Zaid bin Haritsah ra. maka Zainab pun bermukimm di Madinah setelah perang Badar. Hal ini terjadi pada tahun ke 2 Hijrah sehingga suaminya memeluk Islam pada tahun ke 8 Hijrah, lalu Rasulullah saw. mengembalikan Zainab kepada suaminya dengan pernikahan yang pertama dan tidak meminta mahar yang baru. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. mengembalikan puterinya, Zainab kepada Abul ‘Ash. Hijrahnya dari suaminya sebelum suaminya memeluk Islam itu berlangsung selama 6 tahun, dengan tetap memberlakukan pernikahan yang pertama dan tidak melakukan persaksian dan mahar kembali.”

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (4)

17 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

tulisan arab alquran surat al mumtahanah ayat 7-9“7. Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. 9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (al-Mumtahanah: 7-9)

Allah berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman: ‘asallaaHu ay yaj’al bainakum wa bainal ladziina ‘aadaitum minHum mawaddatan (“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka.”) maksudnya adalah kasih sayang setelah kebencian, kasih sayang setelah permusuhan, dan kerukunan setelah pertikaian. wallaaHu qadiir (“Dan adalah Allah Mahakuasa.”) maksudnya atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, diantaranya menyatukan hati-hati manusia setelah sebelumnya penuh dengan permusuhan dan kebencian, sehingga menjadi hati yang bersatu dan penuh kerukunan.

Seorang penyair mengungkapkan yang artinya: “Dan Allah pernah menyatukan dua orang yang sudah tercerai-berai, setelah sebelumnya keduanya mengira bahwa keduanya tidak akan pernah bersatu.”

Dan firman Allah: wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) maksudnya, Dia akan memberikan ampunan kepada orang-orang kafir akibat kekufuran yang telah mereka perbuat, jika memang mereka benar-benar bertaubat kepada Rabb-nya dan menyerahkan diri kepada-Nya, karena Dia Mahapengampun lagi Mahapenyayang bagi setiap orang yang bertaubat kepada-Nya dari segala macam dosa.

Firman-Nya: laa yanHaakumullaaHu ‘anil ladziina lam yuqaatiluukum fiddiini wa lam yukhrijuukum min diyaarikum (“Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusirmu dari negerimu.”) maksudnya, mereka yang telah membantu mengusir kalian. Artinya, Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena agama, seperti kaum wanita dan orang-orang lemah di antara mereka. An tabarruuHum (“Untuk berbuat baik kepada mereka.”) yakni berlaku baik kepada mereka. Wa tuqsithuu ilaiHim innallaaHa yuhibbul muqsithiin (“serta berbuat adil terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar ra, ia bercerita: Ibuku pernah datang kepadaku sedang ia dalam keadaan musyrik pada waktu kaum Quraisy melakukan perdamaian [Hudaibiyyah]. Lalu kukatakan: “Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku datang kepadaku dan berharap [dia dapat bertemu denganku], apakah aku boleh menyambung hubungan dengannya?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Ahmad juga meriwayatkan, ‘Arim memberitahu kami, ‘Abdullah bin al-Mubarak memberitahu kami, Mush’ab bin Tsabit memberitahu kami, ‘Amir bin ‘Abdullah bin az-Zubair memberitahu kami, dari ayahnya, ia bercerita: Qutailah pernah datang menemui putrinya –Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa daging dhabb [biawak] dan minyak samin sebagai hadiah, sedang dia seorang wanita musyrik. Maka Asma’ pun menolak pemberiannya dan memasukkan ibunya ke rumahnya. Kemudian ‘Aisyah bertanya kepada Nabi saw. Lalu Allah menurunkan ayat: laa yanHaakumullaaHu ‘anil ladziina lam yuqaatiluukum fiddiini wa lam yukhrijuukum min diyaarikum (“Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusirmu dari negerimu.”) kemudian beliau menyuruh Asma’ menerima pemberian ibunya itu dan mempersilakannya masuk [ke dalam rumah].”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.

Dan firman Allah: innallaaHa yuhibbul muqsithiin (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”) penafsiran ayat ini telah diuraikan dalam surah al-Hujuraat. Dan telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan ‘Arsy, yaitu orang-orang yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan semua yang berada di bawah kekuasaan mereka.”
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa-i dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah.

Firman Allah: innamaa yanHaakumullaaHu ‘anil ladziina qaataluukum fiddiini wa akhrajuukum min diyaarikum wa dhaaHaruu ‘alaa ikhraajikum an tawallauHum (“Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusirmu dari negerimu dan membantu [orang lain] untuk mengusirmu.”) maksudnya, Allah hanya melarang kalian berteman dengan orang-orang yang telah melancarkan permusuhan terhadap kalian, kemudian mereka memerangi dan mengusir kalian dan bantu membantu untuk mengusir kalian. Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia melarang kalian menjadikan mereka sebagai teman, Dia berfirman: wa may yatawallaHum fa ulaa-ika Humudh dhaalimuun (“Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim”)

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (3)

17 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

Firman Allah: illaa qaula ibraaHiima li abiiHi la astaghfiranna laka (“kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu.’”) maksudnya pada diri Ibrahim dan kaumnya itu terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, kecuali perihal permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya, karena permohonan ampun itu hanya karena Ibrahim sudah terlanjur berjanji untuk memintakan ampun bagi ayahnya. Namun ketika Ibrahim tahu bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, dia pun segera berlepas diri darinya. Hal itu terjadi karena sebagian dari kalangan orang-orang yang beriman selalu mendoakan ayah-ayah mereka yang telah meninggal dunia dalam kemusyrikan dan memohonkan ampunan untuk mereka seraya mengatakan: “Sesungguhnya Ibrahim telah mendoakan ampunan untuk ayahnya.” Maka Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia menurunkan ayat yang artinya:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (at-Taubah: 113-114)

Sedangkan dalam surah al-Mumtahanah ini Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.”
Maksudnya tidak ada suri tauladan bagi kalian dalam hal tersebut, yakni dalam hal permohonan ampunan bagi orang-orang musyrik. Demikian itu yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, adh-Dhahhak dan lain-lain.

Setelah itu Allah berfirman seraya memberitahukan tentang ucapan Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berpisah dari kaumnya dan melepaskan diri dari mereka. Lalu mereka menuju perlindungan Allah Ta’ala dan menundukkan diri pada-Nya seraya berkata: rabbanaa ‘alaika tawakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir (“Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau-lah kami bertawakal dan hanya kepada Engkau-lah kami bertaubat, dan hanya kepada-Mu lah kami kembali.”) maksudnya kami betawakal kepada-Mu dalam segala urusan, kami serahkan seluruh permasalahan kami kepada-Mu dan sesungguhnya hanya kepada-Mu kami akan kembali di alam akhirat kelak.
Rabbanaa laa taj’alnaa fitnatal lilladziina kafaruu (“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami [sasaran] fitnah bagi orang-orang kafir.”) Mujahid mengatakan: “Janganlah Engkau mengadzab kami melalui tangan-tangan mereka dan tidak juga dengan adzab yang ada pada-Mu.” Maka mereka berkata: “Seandainya orang-orang itu berada dalam kebenaran, niscaya mereka tidak akan tertimpa hal ini.” Demikian pula yang dikatakan oleh adh-Dhahhak. Sedangkan Qatadah mengemukakan: “Artinya, janganlah Engkau memenangkan mereka atas kami sehingga dengan kemenangan itu mereka akan menimbulkan fitnah. Mereka akan berpandangan bahwa kemenangan mereka atas kami semata-mata karena mereka berada di atas kebenaran.” Penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Ibnu Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Janganlah Engkau memberikan kekuasaan kepada mereka atas kami, sehingga mereka akan memberikan fitnah kepada kami.”

Firman Allah: waghfirlanaa rabbanaa innaka antal ‘aziizul hakiim (“Dan ampunilah kami, ya Rabb kami. Sesungguhnya hanya Engkau-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) maksudnya tutupilah dosa-dosa kami dari pihak selain diri-Mu, dan ampunilah dosa-dosa yang pernah terjadi antara kami dan Diri-Mu. Innaka antal ‘aziiz (“Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahaperkasa”) artinya, orang yang berlindung kepada-Mu tidak akan pernah terdhalimi. Alhakiim (“lagi Mahabijaksana”) yakni dalam ucapan, perbuatan, syariat dan ketetapan-Mu.

Firman Allah: laqad kaana lakum fiiHim uswatun hasanatul liman kaana yarjullaaHa wal yaumil aakhira (“Sesungguhnya pada mereka itu [Ibrahim dan umatnya] ada teladan yang baik bagimu, [yaitu] bagi orang yang mengharap [pahala] Allah dan [keselamatan di] hari kemudian.”) yang demikian itu merupakan penekanan atas pernyataan sebelumnya. Dan dikecualikan dari itu permohonan ampunan oleh Ibrahim untuk ayahnya. Karena keteladanan yang baik yang telah ditegaskan di sini adalah yang pertama itu sendiri.

Liman kaana yarjullaaHa wal yaumal aakhira (“bagi orang yang mengharap [pahala] Allah dan [keselamatan di] hari kemudian.”) hal itu merupakan pemicu bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir agar mereka menjadikannya sebagai teladan.
Wa may yatawalla (“dan barangsiapa yang berpaling”) dari apa yang diperintahkan Allah Ta’ala: fa innallaaHa Huwal ghaniyyul hamiid (“maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Mahaterpuji”)

‘Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Alghaniyyu [Mahakaya], yang kekayaan-Nya telah mencapai kesempurnaan. Demikian sifat Allah yang tidak dapat dinisbatkan kecuali hanya kepada-Nya saja, tidak ada yang dapat menandingi-Nya, serta tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahaesa, Mahaperkasa, Mahaterpuji. Dan “alhamiid” [Mahaterpuji] berarti yang memberikan segala [sesuatu] yang terpuji kepada makhluk-Nya. Dengan kata lain, hanya Dia yang terpuji dalam segala ucapan dan perbuatan-Nya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb melainkan hanya Dia.

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (2)

17 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

Dan firman Allah: yukhrijuunar rasuula wa iyyaakum (“Mereka mengusir Rasul dan [mengusir]mu.”) demikianlah kenyataannya, disyariatkan permusuhan terhadap mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai teman setia, karena mereka telah mengusir Rasulullah saw. dan para shahabatnya dari tengah-tengah mereka sebagai bentuk kebencian terhadap apa yang ada pada Rasulullah saw. dan para shahabatnya berupa tauhid dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah berfirman: an tu’minuuna billaaHi rabbakum (“Karena kamu beriman kepada Allah, Rabb-mu.”) maksudnya, kalian tidak mempunyai kesalahan terhadap mereka kecuali keimanan kalian kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini: wa maa naqamuu minHum illaa ay yu’minuu billaaHil ‘aziizil hamiid (“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”) (al-Buruuj: 8)

Firman Allah: in kuntum kharajtum jiHaadan fii sabiilii wabtighaa-a mardlaatii (“Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridlaan-Ku.”) maksudnya jika kalian seperti itu, maka janganlah kalian menjadikan mereka sebagai teman setia jika kalian benar-benar akan pergi berjihad di jalan-Ku (Allah) dengan tujuan mencari keridlaan-Ku. Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan juga musuh-musuh kalian sebagai teman setia kalian. Karena mereka telah mengusir kalian dari negeri dan harta kalian serta murka terhadap agama kalian.

Firman Allah: tusirruuna ilaiHim bil mawaddati wa ana a’lamu bimaa akhfaitum wa maa a’lantum (“Kamu memberikan secara rahasia [berita-berita Muhammad] kepada mereka karena kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”) maksudnya kalian perbuat semua itu, sedang Aku Mahamengetahui semua rahasia, bisikan hati dan yang terang-terangan.

Wamay yaf’alHu minkum faqad dlalla sawaa-as sabiil. Iy yatsqafuukum yakuunuu lakum a’daa-aw wa yabsuthuu ilaikum aidiyaHum wa alsinataHum bis suu-i (“Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti[mu].”) maksudnya jika mereka menguasaimu, mereka pasti tidak dapat menjaga lidah dan perbuatan mereka sebagai sarana untuk menyakiti kalian. Wawadduu lau takfuruun (“dan mereka ingin supaya kamu [kembali] kafir.”) mereka berkeinginan keras agar kalian tidak mendapatkan kebaikan apapun, permusuhan mereka terhadap kalian akan tetap ada dan tampak jelas, maka bagaimana mungkin kalian berteman setia dengan orang-orang seperti ini? Yang demikian itu merupakan pendorong untuk mengadakan permusuhan dengan mereka.

Firman Allah: lan tanfa’akum arhaamukum wa laa aulaadukum yaumal qiyaamati yafshilu bainakum wallaaHu bimaa ta’maluuna bashiir (“Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tidak bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”) yakni kaum kerabat kalian tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi kalian di sisi Allah jika Dia menghendaki keburukan menimpa diri kalian. Dan kemanfaatan mereka pun tidak akan sampai pada kalian jika kalian mencari kerelaan mereka dengan cara melakukan sesuatu yang dimurkai Allah. Barangsiapa yang menyutujui kekufuran keluarganya supaya mereka senang, maka sesungguhnya ia benar-benar merugi lagi sesat. Dan kaum kerabatnya sama sekali tidak membawa manfaat baginya di sisi Allah, meskipun ia merupakan kerabat dekat salah seorang Nabi.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwasannya ada seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulallah, dimanakah ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” setelah itu ia pergi sambil menunduk, Rasulullah saw. memanggilnya dan bersabda: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu ada di neraka.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari hadits Hammad bin Salamah.

tulisan arab alquran surat al mumtahanah ayat 4-6“4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” 5. “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan Kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. dan ampunilah Kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. 6. Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan Barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (al-Mumtahanah: 4-6)

Allah berfirman kepada hamba-hamba-Nya: qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibraahiima wal ladziina ma’aHu (“Sesungguhnya sudah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.”) yaitu para pengikut beliau yang beriman bersamanya.
Idz qaaluu liqaumiHim innaa bura-aa-u minkum (“Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri darimu.’”) maksudnya kami melepaskan diri dari kalian. Wa mimmaa ta’buduuna min duunillaaHi kafarnaa bikum (“dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari [kekafiran]mu.”) maksudnya kami mengingkari agama dan jalan kalian. Wa badaa bainanaa wa bainakumul ‘adaawatu wal baghdlaa-u abadan (“dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya.”) maksudnya permusuhan dan kebencian di antara kami dan kalian, sedang kami selama-lamanya melepaskan diri dari kalian dan membenci kalian. Hattaa tu’minuu billaaHi wahdaHu (“sampai kamu beriman kepada Allah saja”) maksudnya sampai kalian mentauhidkan Allah dengan cara beribadah hanya kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, sampai kalian berlepas diri dari apa-apa yang disembah selain Allah berupa berhala dan tandingan.

Bersambung ke bagian 3