Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (3)

17 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

Firman Allah: illaa qaula ibraaHiima li abiiHi la astaghfiranna laka (“kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu.’”) maksudnya pada diri Ibrahim dan kaumnya itu terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, kecuali perihal permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya, karena permohonan ampun itu hanya karena Ibrahim sudah terlanjur berjanji untuk memintakan ampun bagi ayahnya. Namun ketika Ibrahim tahu bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, dia pun segera berlepas diri darinya. Hal itu terjadi karena sebagian dari kalangan orang-orang yang beriman selalu mendoakan ayah-ayah mereka yang telah meninggal dunia dalam kemusyrikan dan memohonkan ampunan untuk mereka seraya mengatakan: “Sesungguhnya Ibrahim telah mendoakan ampunan untuk ayahnya.” Maka Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia menurunkan ayat yang artinya:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (at-Taubah: 113-114)

Sedangkan dalam surah al-Mumtahanah ini Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.”
Maksudnya tidak ada suri tauladan bagi kalian dalam hal tersebut, yakni dalam hal permohonan ampunan bagi orang-orang musyrik. Demikian itu yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, adh-Dhahhak dan lain-lain.

Setelah itu Allah berfirman seraya memberitahukan tentang ucapan Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berpisah dari kaumnya dan melepaskan diri dari mereka. Lalu mereka menuju perlindungan Allah Ta’ala dan menundukkan diri pada-Nya seraya berkata: rabbanaa ‘alaika tawakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir (“Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau-lah kami bertawakal dan hanya kepada Engkau-lah kami bertaubat, dan hanya kepada-Mu lah kami kembali.”) maksudnya kami betawakal kepada-Mu dalam segala urusan, kami serahkan seluruh permasalahan kami kepada-Mu dan sesungguhnya hanya kepada-Mu kami akan kembali di alam akhirat kelak.
Rabbanaa laa taj’alnaa fitnatal lilladziina kafaruu (“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami [sasaran] fitnah bagi orang-orang kafir.”) Mujahid mengatakan: “Janganlah Engkau mengadzab kami melalui tangan-tangan mereka dan tidak juga dengan adzab yang ada pada-Mu.” Maka mereka berkata: “Seandainya orang-orang itu berada dalam kebenaran, niscaya mereka tidak akan tertimpa hal ini.” Demikian pula yang dikatakan oleh adh-Dhahhak. Sedangkan Qatadah mengemukakan: “Artinya, janganlah Engkau memenangkan mereka atas kami sehingga dengan kemenangan itu mereka akan menimbulkan fitnah. Mereka akan berpandangan bahwa kemenangan mereka atas kami semata-mata karena mereka berada di atas kebenaran.” Penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Ibnu Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Janganlah Engkau memberikan kekuasaan kepada mereka atas kami, sehingga mereka akan memberikan fitnah kepada kami.”

Firman Allah: waghfirlanaa rabbanaa innaka antal ‘aziizul hakiim (“Dan ampunilah kami, ya Rabb kami. Sesungguhnya hanya Engkau-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) maksudnya tutupilah dosa-dosa kami dari pihak selain diri-Mu, dan ampunilah dosa-dosa yang pernah terjadi antara kami dan Diri-Mu. Innaka antal ‘aziiz (“Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahaperkasa”) artinya, orang yang berlindung kepada-Mu tidak akan pernah terdhalimi. Alhakiim (“lagi Mahabijaksana”) yakni dalam ucapan, perbuatan, syariat dan ketetapan-Mu.

Firman Allah: laqad kaana lakum fiiHim uswatun hasanatul liman kaana yarjullaaHa wal yaumil aakhira (“Sesungguhnya pada mereka itu [Ibrahim dan umatnya] ada teladan yang baik bagimu, [yaitu] bagi orang yang mengharap [pahala] Allah dan [keselamatan di] hari kemudian.”) yang demikian itu merupakan penekanan atas pernyataan sebelumnya. Dan dikecualikan dari itu permohonan ampunan oleh Ibrahim untuk ayahnya. Karena keteladanan yang baik yang telah ditegaskan di sini adalah yang pertama itu sendiri.

Liman kaana yarjullaaHa wal yaumal aakhira (“bagi orang yang mengharap [pahala] Allah dan [keselamatan di] hari kemudian.”) hal itu merupakan pemicu bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir agar mereka menjadikannya sebagai teladan.
Wa may yatawalla (“dan barangsiapa yang berpaling”) dari apa yang diperintahkan Allah Ta’ala: fa innallaaHa Huwal ghaniyyul hamiid (“maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Mahaterpuji”)

‘Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Alghaniyyu [Mahakaya], yang kekayaan-Nya telah mencapai kesempurnaan. Demikian sifat Allah yang tidak dapat dinisbatkan kecuali hanya kepada-Nya saja, tidak ada yang dapat menandingi-Nya, serta tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahaesa, Mahaperkasa, Mahaterpuji. Dan “alhamiid” [Mahaterpuji] berarti yang memberikan segala [sesuatu] yang terpuji kepada makhluk-Nya. Dengan kata lain, hanya Dia yang terpuji dalam segala ucapan dan perbuatan-Nya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb melainkan hanya Dia.

Bersambung ke bagian 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: