Arsip | 16.06

Konsekuensi Iman Kepada al-Qur’an

21 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Iman kepada al-Qur’an menuntut beberapa hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Diantara konsekuensi-konsekuensi itu adalah:

1. Akrab dengan al-Qur’an
Seseorang dikatakan akrab dengan al-Qur’an apabila ia melakukan interaksi yang intens dengannnya. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain.
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi:
a. Bacaannya. Membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj – tajwidnya merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik.
b. Pemahamannya. Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami oleh para salafushalih melalui riwayat-riwayat yang shahih. Pemahaman kontekstual dapat juga dengan penalaran akal, asal tidak menyimpang dari riwayat, karena Nabi saw. dan para shahabatnya tentu lebih memahaminya. Merekalah yang mengalami masa turunnya wahyu itu.
c. Penerapannya. Apa yang telah dipahami hendaklah diterapkan dalam kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
d. Penghafalan dan penjagaannya. Ia menghafal al-Qur’an dan mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang.

2. Mendidik diri dengannya
Al-Qur’an memuat nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan al-Qur’an. Bila berhasil, ia akan menjadi orang yang berkepribadian khas karena al-Qur’an dengan shibghah mewarnai seluruh dirinya secara utuh.

3. Tunduk menerima hukum-hukumnya.
Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh Allah swt. Yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Penolakan dan pembangkangan terhadap al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran.

4. Mengajak [menyeru] orang kepadanya
Karena ia yakin bahwa al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menentramkan, maka ia pun mengajak orang lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Disamping itu karena sebagian nilai dan hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah jamaatul muslimin yang solid.

5. Menegakkannya di bumi
Nilai dan hukum-hukum yang menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam konteks kehidupan sosial politik ia ditegakkan bersama dengan kaum mukminin lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik dan kenegaraan.

&

Nama-nama Al-Qur’an

21 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Al-Qur’an memiliki sejumlah nama lain sebagaimana Allah sebutkan dalam al-Qur’an itu sendiri. Masing-masing nama memberikan gambaran yang jelas mengenai fungsinya bagi kehidupan manusia.
Nama-nama al-Qur’an adalah:

1. Al-Kitab, karena ia ditulis, diambil dari kata kataba [menulis]. Kitaab sama dengan maktuub berarti yang ditulis. Disamping dihafal oleh Rasulullah dan para hafidz, sejak awal al-Qur’an sudah ditulis oleh team pencatat al-Qur’an dari kalangan shahabat. hal itu dimaksudkan untuk menjamin keasliannya. Nama ini memberikan pesan agar kita membacanya.
2. Al-Huda [petunjuk] bagi orang-orang yang beriman. Bagi mereka, al-Qur’an adalah yang memberi komando. Bila al-Qur’an mengatakan mereka melakukannya, bila al-Qur’an mengatakan berhenti mereka berhenti. Sesungguhnya petunjuk Allah-lah yang sebenar-benar petunjuk.
3. Al-Furqaan [pembeda] karena ia membedakan yang benar [haq] dengan yang batil. Al-Qur’an yang dibaca, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan akan membentuk kepribadian yang khas dengan identitas yang berbeda dengan seseorang yang tidak membaca al-Qur’an. Generasi pertama umat Islam dikatakan oleh sebagian penulis sebagai generasi al-Qur’an. Mereka adalah al-Qur’an yang berjalan, artinya kandungan al-Qur’an teraplikasi dalam keseharian mereka.
4. Ar-Rahmah [rahmat] karena keberadaannya merupakan wujud rahmat Allah bagi umat manusia. Dengan al-Qur’an, mereka tidak terhindar dari kebimbangan dalam mencari petunjuk.
5. An-Nuur [cahaya] karena ia menerangi jalan hidup manusia. Orang yang beriman menjadikannya sebagai obor penerang jalan hidup mereka agar tidak sesat.
6. Asy-Syifaa’ [obat] karena ia mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam dada.
7. Al-haq [kebenaran] karena al-Qur’an adalah kebenaran haqiqi yang diturunkan dari Allah, al-haq kepada Nabi-Nya melalui malaikat Jibirl al-Amin dan sampai kepada kita melalui hadits-hadits mutawatir.
8. Al-Bayan [penjelasan] karena ia menjelaskan berbagai hal. Bahkan hal-hal yang tidak pernah dijelaskan di kitab lain.
9. Al-Mau’izhah [nasehat] karena isinya merupakan nasehat-nasehat dan wejangan yang sangat berguna bagi umat manusia.
10. Adz-Dzikr [peringatan] karena ia memberikan peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat penolakan dan pendustaan yang mereka lakukan.

KEDUDUKAN AL-QUR’AN

Nama-nama tersebut menjelaskan tentang kedudukan al-Qur’an, antara lain sebagai:
– Kitab berita dan kabar tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi, baik yang terjangkau oleh indera manusia maupun yang masih ghaib.
– Kitab hukum dan syariat karena memuat hukum dan perundang-undangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan.
– Kitab jihad karena ia menggelorakan semangan jihad dan menjadi panduan para mujahidin.
– Kitab tarbiyah karena ia mendidik orang-orang yang beriman. Mereka membaca, memahami dan mengamalkannya agar menjadi mukmin yang baik.
– Pedoman hidup karena orang-orang yang beriman menjadikannya sebagai panduan dalam hidup mereka.
– Kitab ilmu pengetahuan karena ia memuat berbagai pengetahuan, mendorong, dan memberi dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan.

&

Definisi Al-Qur’an

21 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Al-Qur’an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang diturunkan ke hati Muhammad saw. diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.

1. Al-Qur’an adalah kalamullah
Hal ini memberikan pengertian bahwa al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk lain. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana yang ada pada semua kitab selainnya. Kebenarannya yang ada di dalamnya adalah mutlak.

2. Mukjizat
Mukjizat adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti kenabiannya. Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya dapat dilihat dari keorisinilannya. Belasan abad sudah kitab ini tidak berubah meskipun hanya satu huruf, demikian hingga akhir jaman. Allah telah menjamin untuk menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa dan kandungannya.

3. Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw.
Keberadaannya sebagai wahyu yang diturunkan ke dalam hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberikan manfaat kalau interaksi dengannya merupakan interaksi qalbiyah [hati]. Initeraksi inilah yang akan menggerakkan hingga tercipta perubahan.
Hubungan lisan akan menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi kehidupan.

4. Diriwayatkan secara mutawatir
Informasi agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang yang adil [kredibilitas moral], sempurna hafalannya [kapabilitas], dan tidak mungkin sepakat bohong. Seluruh ayat-ayat al-Qur’an sampai kepada kita dengan derajat periwayatan yang demikian.

5. Membacanya merupakan ibadah
Karena ia adalah kalamullah, maka membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang. Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya. Semakin intens membacanya semakin meningkat keimanannya. Pahala besar akan diberikan oleh Allah pada mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam mimm bukan satu huruf, tapi tiga huruf. Subhaanallaah.

&

Membangun Kejayaan

21 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Setiap manusia menghendaki kemuliaan, kebesaran, kejayaan. Ini wajar karena ia dilahirkan sebagai makhluk yang dimuliakan. Karena mulia adalah sesuatu yang potensial dalam dirinya, sehingga untuk meraihnyapun sebenarnya tidak sulit.

MANUSIA

Begitu manusia lahir ke dunia, ia sudah membawa potensi kebesaran itu, mengapa? Karena:
– Allah telah memuliakannya (al-Israa’: 70)
– Allah melebihkannya atas makhluk yang lain (al-Israa’: 70)
– Allah menundukkan apa yang di langit dan di bumi untuknya (Luqman: 20)
– Allah memberikan kepercayaan kepadanya untukk mengemban amanah (al-Ahzab: 72)
Berbagai potensi ini menunjukkan kehormatan dan kebesaran manusia.

INDIVIDU MUSLIM

Disamping potensi umum sebagai manusia, individu muslim memiliki potensi yang lebih besar dibanding manusia lain. Sebab dia dikaruniani Allah aqidah, ibadah dan ketakwaan. Aqidah membuatnya tidak bertuhan kecuali kepada Allah, Rabb yang telah menciptakannya, memberinya rizky, melindunginya, dan memberikan kepadanya apa yang ia minta. Aqidah membuatnya bertakwa sehingga kemuliaannya semakin bertambah karena yang lebih mulia adalah yang lebih bertakwa.
Aqidah, ibadah dan ketakwaan menyimpan potensi yang sangat besar bagi kejayaan Islam.

UMAT ISLAM

Individu-individu yang memiliki potensi sangat besar tersebut apabila kemudian bersatu dalam barisan, akan melahirkan sebuah masyarakat adidaya yang paling kuat dalam seluruh aspek kehidupannya. Potensi kaum muslimin adalah:
– Iman
Iman merupakan azas yang mendasari seluruh gerak sehingga melahirkan kesatuan ideologis, moral, perilaku, dan kekuatan jamaah yang sangat kokoh. Perumpamaan mereka seperti bangunan, seluruh unsur bangunan satu dengan yang lain saling menguatkan.
– Kejujuran
Iman membuat mereka tidak mengucapkan selain kebenaran. Ketika ditanya apakah mungkin seorang mukmin berdusta? Rasulullah saw. bersabda: “Tidak mungkin.”
– Kepercayaan
Kejujuran dalam berkata membuat mereka saling percaya, tidak perlu curiga atau prasangka buruk kepada sesamanya. Merekapun akan dipercaya dan mendapat kepercayaan.
– Loyalitas
Di samping karena pola interaksi bersih di atas, Islam juga mewajibkan mereka untuk loyal kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin.
– Ketaatan,
Loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya ulil amri di antara mereka juga merupakan konsekuensi iman dan syahadat yang mereka ucapkan. Tidak benar, jika keimanan tidak disertai dengan ketaatan ini.
– Komitmen
Iman yang benar akan melahirkan komitmen Islam yang sangat kuat
– Pergerakan
Keimanan tidak akan benar apabila tidak disertai dengan gerakan
– Kekuatan
SDM kaum muslimin adalah lebih dari sepertiga penduduk bumi, sungguh ini kekuatan yang sangat besar. Ditambah lagi SDM yang ada di negeri-negeri muslim, semuanya menjanjikan kejayaan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (7)

21 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

Firman Allah: dzaalikum hukmullaaHi yahkumu bainakum (“Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu”) yakni yang terdapat dalam perjanjian dan pengecualiannya untuk kaum wanita. Semua perkara ini adalah keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah bagi semua hamba-Nya.
wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana”) yakni Yang Mahamengetahui apa yang terbaik bagi kemaslahatan hamba-hamba-Nya dan Mahabijaksana dalam semua itu.

Firman Allah: wa in faatakum syai-um min azwaajikum ilal kuffaari fa-‘aaqabtum fa aatulladziina dzaHaba azwaajuHum mitsla maa an faquu (“Dan jika seseorang dari istri-istrimu lari kepada orang-orang kafir lalu kamu mengalahkan mereka, maka bayarlah kepada orang-orang yang [kepadanya] lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar.”) Mujahid dan Qatadah berkata: “Yang demikian itu berkenaan dengan orang-orang kafir yang tidak mempunyai ikatan perjanjian, dimana jika ada seorang wanita yang melarikan diri kepada mereka, mereka tidak berbuat apapun terhadap suaminya. Dan jika ada seorang wanita dari mereka yang datang, maka mereka tidak akan membayar sesuatupun kepada suaminya itu sehingga dia membayar [mahar] kepada suami wanita yang pergi kepada mereka itu sebanyak mahar yang telah dibayarkan kepadanya.”

Ibnu Jarir menceritakan dari az-Zuhri, ia bercerita: “Orang-orang mukmin mengakui hukum Allah, sehingga mereka mau melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, yakni membayarkan mahar kepada kaum musyrikin yang telah diberikan kepada kaum wanita mereka [kaum mukminin]. Sedangkan kaum musyrikin tidak mau mengakui hukum tersebut sehingga mereka enggan menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka berupa pembayaran mahar kepada kaum muslimin.”

Oleh karena itu Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman: wa in faatakum syai-um min azwaajikum ilal kuffaari fa-‘aaqabtum fa aatulladziina dzaHaba azwaajuHum mitsla maa an faquu. wattaqullaaHal ladzii antum biHii mu’minuun (“Dan jika seseorang dari istri-istrimu lari kepada orang-orang kafir lalu kamu mengalahkan mereka, maka bayarlah kepada orang-orang yang [kepadanya] lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman.”)
Jika setelah ayat ini turun masih ada istri dari kaum muslimin yang pergi kepada kaum musyrikin, maka orang-orang muslimin harus mengembalikannya kepada suaminya mahar yang telah dibayarkan kepadanya, yaitu berupa sisa mahar yang ada di tangan mereka yang mereka bayarkan kepada istri-istri mereka yang telah melarikan diri tersebut. Kemudian mereka mengembalikan sisanya kepada kaum musyrikin.

Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat ini: “Artinya, jika istri seorang Muhajirin bergabung dengan orang-orang kafir, Rasulullah saw. memerintahkan untuk memberikan sebagian harta rampasan perang kepada orang tersebut sejumlah mahar yang telah ia berikan.”

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mujahid mengenai firman-Nya: fa’aaqabtum (“Lalu kamu mengalahkan mereka.”) ia mengatakan: “Artinya, jika kalian mendapatkan ghanimah dari kaum Quraisy atau selain mereka.”
Fa aatulladziina dzaHaba azwaajuHum mitsla maa anfaquu (“Maka bayarlah kepada mereka orang-orang yang [kepadanya] lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar.”) yakni mahar yang semisal.

Demikian pula yang diungkapkan oleh Masruq, Ibrahim, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, adh-Dhahhak, Sufyan bin Husain dan juga az-Zuhri. Dan itu jelas tidak bertentangan dengan yang pertama. sebab jika memungkinkan yang pertama itulah yang terbaik, dan jika tidak maka diambilkan dari ghanimah yang diambil dari tangan kaum kafir. [Pendapat] inilah yang lebih luas dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. alhamdulillaaH.

tulisan arab alquran surat al mumtahanah ayat 12“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk Mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat Dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka[1472] dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, Maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Mumtahanah: 12)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Ya’qub bin Ibrahim memberitahu kami, putera saudaraku, Ibnu Syihab memberitahu kami, dari pamannya, ia bercerita, ‘Urwah memberitahuku bahwa ‘Aisyah ra, istri Nabi saw. pernah memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. telah menguji kaum wanita mukminah yang berhijrah dengan ayat ini: yaa ayyuHan nabiyyu idzaa jaa-akal mu’minaatu yubaayi’naka…..innallaaHa ghafuurur rahiim (“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan perjanjian setia… sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) ‘Urwah bercerita bahwa ‘Aisyah berkata: “Wanita mukminah yang mau menerima persyaratan ini, Rasulullah saw. akan berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku telah membaiatmu.’ Beliau hanya mengucapkan kata-kata itu dan demi Allah, tangan beliau sama sekali tidak bersentuhan dengan seorang wanita pun dalam baiat tersebut. Rasulullah saw. tidak membaiat mereka melainkan hanya dengan mengatakan: ‘Sungguh aku telah membaiatmu atas hal itu.’” Demikianlah menurut lafadz al-Bukhari.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umaimah binti Ruqaiqah, ia bercerita: Aku pernah mendatangi Rasulullah saw. bersama beberapa wanita untuk berbaiat kepada beliau. Maka beliau membaiat kami dengan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an, yaitu kami tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatupun. Lalu beliau bersabda: “Yakni berkenaan dengan yang kalian mampu dan sanggupi.” Maka kamipun berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih menyayangi kami dari diri kami sendiri.” Lebih lanjut, kami mengatakan: “Ya Rasulallah, tidakkah kita perlu bersalaman?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak menyalami wanita. Ucapanku kepada satu orang wanita sama dengan untuk seratus orang wanita.”

Sanad riwayat ini shahih, juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah. Dan diriwayatkan oleh an-Nasa-i dari hadits ats-Tsauri dan Malik bin Anas. Semuanya bersumber dari Muhammad bin al-Munkadir. Imam at-Tirmidzi mengungkapkan: “Hadits ini hasan shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Muhammad bin al-Munkadir.”

Bersambung ke bagian 8