Arsip | 15.41

Kondisi Kaum Muslimin Saat Ini

23 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Dewasa ini kondisi kaum muslimin masih sangat memprihatinkan. Umat terbaik itu tengah dilanda wabah penyakit pada berbagai aspek kehidupan, yaikni:

1. Aqidah
Hal ini ditandai dengan kebanyakan umat Islam yang ragu terhadap kebenaran Islam dan keunggulannya. Banyak di antara mereka [bahkan tidak jarang yang berstatus sebagai kiai] melakukan kemusyrikan secara transparan. Ritual tradisi yang jelas syirik mereka ikuti. Majalah, tabloid, TV, dipenuhi dengan informasi dan propaganda tentang perdukunan dan paranormal.

2. Tarbiyah [pendidikan]
Anggaran negara untuk bidang pendidikan yang sangat rendah menyebabkan pendidikannya hanya terbatas pada orang-orang kaya. Kondisi ini diperparah dengan masih banyaknya praktik korupsi dan kolusi di dunia suci yang harusnya bebas dari perbuatan tak terpuji. Pelacuran akademik [jual beli gelar] masih marak dilakukan, bahkan oleh para pemimpin yang harusnya menjaganya. Apa yang dapat diharapkan dari dunia pendidikan yang demikian?

3. Tsaqafah [pengetahuan/ kebudayaan]
Pengetahuan dan wawasan kaum muslimin yang picik sesungguhnya merupakan mata rantai yang tak terhindarkan. Problematika yang sangat rumit dan menjadi benang kusut ini disebabkan tingkat pendidikan yang rendah, informasi yang terbatas, keterbelakangan di bidang teknologi, dan semangat belajar yang rendah. Maka harus ada langkah awal yang “berani”.

4. Dakwah
Kelemahan aspek ini dapat dilihat dari kuantitas penyebarannya, kualitas muatannya, maupun keterbatasan sarana yang digunakan. Kondisi ini menjadikan kaum muslimin mandul dan tidak berdaya.

5. Pengorganisasian
Terutama dalam hal manajemen pengorganisasian potensi yang tidak efisien dan kurang efektif. Hal ini banyak disebabkan oleh kelemahan pendidikan dan wawasan.

6. Akhlak
Bangsa yang dikenal menjunjung tinggi nilai dan moral ini sudah tercemari oleh ghazwul fikri. Banyak di antara mereka yang tidak lagi berpegang kepada nilai-nilai agama. Padahal, eksistensi suatu bangsa dapat ditentukan oleh akhlak [moral]nya.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan, sebab dapat menyebabkan kehancuran. Harus ada upaya untuk melakukan reformasi total yang dilakukan dengan dakwah harakiah.

KARAKTERISTIK DAKWAH HARAKIAH

1. Rabbaniyah
Artinya, dakwah ini berorientasi kepada Allah semata, bukan menyeru kepada madzab, golongan, nasionalisme dan isme yang lainnya.

2. Manhajiyah [konsepsional]
Apa dan bagaimana dakwah ini. Dakwah harus didasarkan pada konsep yang jelas dan terprogram, bukan asal-asalan. Perubahan dapat dilakukan secara efektif.

3. Marhaliyah [bertahab]
Perubahan total atas kerusakan total tidak mungkin dilakukan sekaligus dalam satu waktu.

4. Aulawiyah [menekankan prioritas]
Mendahulukan yang mendasar dan prinsipil, sebelum memberikan perhatian pada hal-hal yang bersifat sekunder atau kurang mendasar.

5. Waqi’iyah [realis]
Dakwah yang memahami realitas yang sedang terjadi kemudian berusaha untuk memperbaiki realitas yang buruk kepada kondisi ideal.

6. Mutawazinah [keseimbangan]
Dakwah yang memberikan sentuhan dan perhatian pada setiap aspek secara seimbang dan proporsional.

&

Ciri-ciri Golongan Setan

23 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Golongan setan adalah orang-orang yang pemikiran, mental, konsepsi, amliyah [perbuatan], dan sistemnya telah dikuasai oleh setan hingga ia membuat lupa dzikir [mengingat] Allah.

Dalam menguasai manusia dan jin, setan menempuh berbagai langkah yang dilakukan secara bertahab, yaitu:

1. Waswasah. Yaitu menimbulkan was-was pada manusia dan jin sehingga mereka ragu-ragu untuk bersikap dan bertindak. Rasa was-was yang berlebihan lama kelamaan akan menyebabkan orang jenuh dan letih dalam melakukan kebaikan. Akhirnya daripada tersiksa dalam kejenuhan dan letih maka ia tinggalkan kebaikan itu.

2. Insaa. Yaitu melenakan atau membuat mereka lupa. Hal ini dilakukan dengan berbagai hal yang menyenangkan dan mengasyikkan hingga mereka terlena. Karena itu hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskan biasanya menyenangkan dan melenakan. Setan selalu berusaha memanfaatkan nafsu yang ada pada manusia dan jin dalam program-program penyesatan ini.

3. Tamanni yaitu memberi angan-angan. Semakin panjang angan-angan orang, semakin besar kesengsaaran yang ia rasakan. Hal ini dilakukan agar manusia dan jin tidak sempat berfikir atau memberi perhatian untuk beribadah dan menyukuri nikmat Allah yang ada di hadapannya.

4. Tazyiin. Yaitu menghiasi kemaksiatan, kebatilan, dosa, dan kejahatan hingga terkesan sebagai ketaatan, keindahan, kebenaran, dan menarik. Rasulullah saw. mengatakan bahwa di akhir zaman akan semakin banyak orang yang menyeru ke pintu neraka, mereka berkata dengan bahasa kita [bahkan menggunakan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits], berpakaian dengan pakaian kita layaknya para ulama.

5. Wa’d yaitu janji-janji palsu yang tak pernah ditepati. Janji itu kadang berupa bantuan, pertolongan, bahkan kebahagiaan hidup namun pada hakekatnya hanya isapan jempol dan pengingkaran.

6. Kaid atau tipu daya. Siang malam setan selalu melancarkan makar dan tipu daya untuk mencelakakan manusia. Bahkan hal ini mereka lakukan dalam gedung-gedung megah bertingkat dengan berbagai acara yang melibatkan para pakar, ahli, dan ilmuwan.

7. Shadd yaitu menghalangi mereka dari jalan Allah, baik dengan terang-terangan maupun tersembunyi.

8. ‘Adaawah yaitu permusuhan. Semakin tinggi ketaatan hamba kepada Allah, semakin besar permusuhan setan kepadanya.

Langkah-langkah itu ditempuh dalam rangka untuk menyesatkan dan menimbulkan rasa takut kepadanya. Akibat dari penyesatan itu, kebenaran menjadi samar, kebenaran dan kebatilan bercampur aduk hingga susah dibedakan. Maka korban-korban penyesatan pun berjatuhan.

Intimidasi dan rasa takut yang ditanamkan setan kepada manusia menimbulkan sifat pengecut, hingga mereka tidak berani mengemukakan dan menampakkan kebenaran. Intimidasi setan memakan banyak korban hingga banyak orang jadi pengecut dan penakut, menyembunyikan kebenaran, atau tidak berani mengemukakannya.

Korban dari penyesatan dan intimidasi itu adalah lahirnya kepribadian yang tidak lurus, tidak mendapat bimbingan, dan tidak mendapat petunjuk. Kepribadian semacam ini ditandai dengan sifat-sifat khianat, kolot [konservatif] dan pengecut.

&

Golongan Setan

23 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Setan dalam kamus bahasa Arab berasal dari kata syathana yang berarti jauh. Imam al-Qurthubi mengatakan, “Disebut setan karena ia jauh dari kebenaran lagi membangkang. Setiap yang membangkang, baik berupa jin, manusia, maupun hewan disebut setan.” (Lisanun ‘Arab dari Tafsir Qurtubi jilid 1 hal 90)

Setan tidak hanya dari kalangan jin, ada juga manusia yang disebut setan. Allah berfirman: “…setan-setan manusia dan jin.”
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umar bin Khaththab ra. menunggang keledai. Tiba-tiba keledai itu membelot dan meronta-ronta, Umar pun mengatakan, “Turunkan aku. Kalian menunggangkan aku pada setan.” (Mafatihul Ghaib, Fakhrur-Razi jilid 1 hal 50)

Allah swt. dengan kekuasaan-Nya telah menciptakan manusia, malaikat dan jin. Malaikat yang diciptakan dari cahaya hanya memiliki sifat positif maka tidak pernah membangkang. Seluruh malaikat patuh dan taat kepada Allah dan tidak kenal lelah dalam ibadah kepada-Nya.

Adapun jin dan manusia, kedua makhluk ini memiliki potensi baik dan buruk sehingga ada yang taat dan ada pula yang maksiat. Manusia dan jin yang taat disebut muslim. Seperti halnya malaikat, jin dan manusia yang taat berada pada satu golongan yaitu golongan mukmin.

Adapun jin dan manusia, ada di antaranya yang membangkang perintah Allah. Merekalah yang disebut kafir. Di antara jin yang membangkang itu bernama iblis. Iblis inilah yang kemudian disebut sebagai pembangkang pertama, nenek moyangnya setang-setan. Para ulama berbeda pendapat tentang iblis ini. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa iblis dari bahasa ‘ajam, namun ada pula di antara mereka yang mengatakan bahwa iblis diambil dari kata ablasa-yablisu-iblaasan yang berarti iiyaasan yaitu keputus-asaan. Disebut demikian karena ia berputus asa dari rahmat Allah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir II [hal.167) dikatakan bahwa iblis, jin kafir dan manusia kafir, karena kekafiran dan pembangkangannya disebut setan. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui riwayat adh-Dhahhak yang mengatakan bahwa jin punya setan-setan yang menyesatkan mereka sebagaimana setan-setan manusia menyesatkan manusia. Setan-setan manusia bertemu dengan setan-setan jin lalu mengatakan, orang ini aku sesatkan dengan ini. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah, “Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain kata-kata indah untuk menipu [manusia].” (al-An’am: 112)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Dzarr berkata: Aku menghadap Nabi saw. ketika beliau berada di masjid. Ketika aku duduk, beliau saw. bersabda: “Hai Abu Dzarr, sudahkah kau shalat?” Aku menjawab: “Belum.” Beliau bersabda: “Bangun dan shalatlah.” Aku pun bangun dan shalat. Beliau bersabda: “Hai Abu Dzarr, berlindunglah dari kejahatan setan-setan manusia dan jin.” Aku pun bertanya: “Wahai Rasulallah, benarkah manusia punya setan-setan?” beliau saw. menjawab: “Benar.”

Riwayat-riwayat di atas memperjelas kenyataan bahwa setan juga punya pasukan dan golongan. Sebagaimana ada golongan Allah yang terdiri dari malaikat, kaum mukminin jin dan manusia serta alam semesta, ada pula golongan setan [hizbusy syaithaan, yang terdiri dari iblis serta jin dan manusia yang membangkang].

Sebagaimana bahwa ketaatan dan kemaksiatan tak pernah bertemu, kebenaran dan kebatilan juga tidak pernah bersatu. Setan pasti akan selalu memusuhi orang-orang yang beriman. Karena itu Allah memerintahkan agar manusia, khususnya orang-orang yang beriman menjadikan setan sebagai musuh.

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, karena itu jadikanlah ia sebagai musuh. Ia hanya mengajak golongannya untuk menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

&

Sebab-sebab Jahiliyah

23 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Apa saja yang bukan dan atau tidak sejalan dengan Islam disebut jahiliyah, baik berupa sifat, sikap, kondisi, perilaku maupun sistem. Rasulullah saw. pernah mengatakan bahwa pada diri Abu Dzarr al-Ghifari terdapat sifat jahiliyah. Demikian itu karena shahabat yang satu ini memanggil Bilal bin Rabah dengan panggilan yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Suatu ketika Abu Dzarr al-Ghifari memanggil Bilal dengan kata-kata: “Hai anak perempuan hitam.” Maka Bilal pun mengadu kepada Rasulullah saw. Setelah melakukan klarifikasi atas pengaduan Bilal itu, Rasulullah saw. memberi teguran keras kepada Abu Dzarr dengan sabdanya: “Hai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau ini orang yang pada dirimu terdapat [sifat] jahiliyah.” Apabila sifat itu kuat dan melembaga, lahirlah sistem dan masyarakat jahiliyah.
Sebenarnya jahiliyah itu awalnya hanya merupakan akibat dari sikap dan realitas yang tidak Islami, diantaranya:

1. Prasangka buruk terhadap Allah
Kekafiran menyebabkan orang tidak percaya kepada Allah dan selalu berprasangka buruk kepada-Nya. Sikap ini menyebabkan apriori terhadap dakwah dan kebenaran sehingga mereka tidak pernah membuka hati untuk hidayah. Prasangka yang demikian disebut juga sebagai dhannul jahiliyah [prasangka jahiliyah].

2. Merasa cukup dan tidak membutuhkan petunjuk Allah
Karena berprasangka buruk kepada Allah akhirnya mereka enggan berhukum kepada hukum Allah. Mereka merasa lebih bisa mengatur hidup ini sehingga mereka membuat atau menggunakan hukum lain selain Islam.

3. Kesombongan
Demikian itu karena kesombongan, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah saw. adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain. Mereka tolak nasehat dari siapapun.

4. Kerahiban yang diada-adakan
Kerahiban merupakan sikap yang berlebih-lebihan dalam agama karena para rahib mengharamkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Sikap ini bertentangan dengan Islam yang menghendaki penganutnya untuk patuh dan taat kepada Allah dalam segala hal, kecil maupun besar, berat maupun ringan, suka maupun terpaksa.

5. Nafsu dan kesenangan
Nafsu dan kesenangan cenderung menjerumuskan manusia pada hal-hal yang tidak terpuji. Orang yang kuat dan cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan dirinya kepada hawa nafsunya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa.”

6. Tradisi
Hati, penglihatan, dan pendengaran akan dimintai pertanggungjawaban. Apapun yang dilakukan harus didasarkan pada petunjuk Allah, bukan semata-mata mengikuti tradisi yang berlaku. Apalagi tradisi itu bertentangan dengan agama Islam, sebab sesungguhnya agama ini diturunkan untuk memperbaiki kehidupan. Perbaikan dan perubahan tidak akan pernah terjadi kalau masyarakatnya lebih suka mempertahankan tradisi.

Keenam hal tersebut menyebabkan orang menjadi jahil [bodoh] dan menolak kebenaran. Kebodohan mereka terhadap kebenaran itu ditandai adanya prasangka jahiliyah, berhukum dengan hukum jahiliyah, melakukan ibadah jahiliyah, fanatisme jahiliyah, tabarruj [berpenampilan] jahiliyah, dan menjalankan tradisi jahiliyah.

Itulah kegelapan jahiliyah yang menimpa masyarakat kita dewasa ini. Realitas jahiliyah abad duapuluh yang lebih buruk dan lebih luas dibanding kejahilan masa sebelum Islam. wallaaHu a’lam.

&

Bahaya Perang Pemikiran

23 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Perang pemikiran ternyata lebih berbahaya dibanding perang militer. Peperangan di medan laga bersifat limited, ada batas-batasnya. Perang tersebut paling berlangsung beberapa waktu, biaya yang bisa dihitung, jumlah korban yang dapat didata, kerugian yang dapat ditaksir, dan bahayanya pun sesaat. Sedang perang pemikiran sifatnya un-limited, serta tak terbatas. Perang tersebut dapat berlangsung selamanya, biaya yang tak terkira, jumlah korban yang tak bisa didata [karena banyaknya], kerugian yang dapat ditaksir, ban bahayanya pun turun-temurun.

Bentangan sejarah telah membuktikan bahwa banyak di antara negara-negara kecil yang meraih kemerdekaannya bukan karena persenjataan yang lebih canggih dibanding persenjataan penjajah. Bambu runcingnya rakyat Indonesia mampu mengalahkan kaum penjajah dengan persenjataan yang lebih hebat. Namun meskipun secara lahiriah bangsa ini telah memperoleh kemerdekaannya, secara psikis dan budaya mereka masih belum terbebaskan.
Di antara bahaya ghazwul fikri adalah:

1. Tertipu [terpedaya] dengan ucapan, penampilan, dan prestasi-prestasi orang-orang kafir. Hal ini menjadi sangat berbahaya karena bangsa ini hanya menjadi konsumen dan penonton. Akibatnya mereka selalu menjadi pasar [konsumen] dan tidak mampu menjadi pelaku tatkala bersaing dengan bangsa-bangsa yang lebih kuat. Dampak ini semakin tampak jelas-tegas terutama setelah dunia memasuki pasar bebas.
2. Kecenderungan pada kekafiran. Hal ini terjadi setelah mereka kagum kepada orang-orang kafir dan tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih besar. Akibatnya, mereka menjiplak segala yang datang dari kamu kufar.
3. Kekaguman dan kecenderungan tersebut lambat laun melahirkan rasa cinta. Kecintaan kepada orang-orang kafir inilah yang akan mampu meninggalkan jati diri kaum muslimin.

&

Sarana Perang Pemikiran

23 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Betapapun berbeda ideologi, nama, wadah, dan kepentingannya, musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum atheis, Yahudi, Nasrani, Musyrikin dan munafiqin bersatu memerangi Islam dan kaum muslimin. Untuk sementara waktu, mereka dapat melupakan permusuhan dan konflik horisontal yang terjadi di antara mereka dalam rangka mencapai tujuan yang lebih besar dan menghadapi musuh yang lebih besar. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai golongan sekutu [al-Ahzab] dengan kesombongan dan keangkuhan sebagai karakteristiknya.

Engkau mengira bahwa mereka bersatu padahal hati mereka bercerai berai. Mereka bersama dengan pasukan iblis lainnya telah mengeluarkan biaya sangat besar untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka pasti akan membelanjakannya, kemudian dana itu akan menjadi penyesalan bagi mereka. Dan mereka pasti akan kalah.
Sarana-sarana yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan busuk itu adalah:

1. Pers dan media informasi
Media cetak maupun elektronik telah mendapatkan posisi tersendiri di era informasi global ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, ia akan menguasai dunia. Musuh-musuh Islam telah menggunakan media-media itu sebagai mimbar dan corong yang efektif untuk menyebarkan syubhat dan kemungkaran.

2. Pendidikan
Mereka menempatkan orang-orang nya di berbagai jabatan, bahkan memasukkan ajaran agama dan ideologi mereka ke dalam kurikulum di semua level. Melalui pendidikan mereka telah berhasil memurtadkan pemuda-pemuda Islam, terutama mereka yang telah diberi beasiswa untuk belajar di negeri-negeri barat.

3. Penerbitan
Mereka menerbitkan brosur, buletin, dan sejenisnya. Meskipun tidak terang-terangan, nilai-nilai kekafiran dan propaganda kefasikan sangat kentara dalam media-media mereka.

4. Hiburan
Mulai hiburan tradisional, modern, hingga reality show mereka manfaatkan juga. Untuk itu mereka tidak hanya mendirikan cafe-cafe, pub, bioskop, tempat-tempat lokalisasi, namun juga memanfaatkan radio, tv, internet dan sebagainya. Demikian itu karena hiburan sangat efektif untuk melalaikan umat dari agenda besar dan nasib memprihatinkan yang menimpa saudara atau negeri mereka.

5. Klub-klub
Klub seni dan budaya, hobi, bahkan klub arisan tak luput dari perhatiannya. Dalam kelompok-kelompok itu mereka menanamkan tradisi-tradisi jahiliyyah seperti khamr, judi, ikhtilath, standing party dan sebagainya.
6. Olah raga
Mereka menyebut prestasi dalam olahraga sebagai kepahlawanan yang pantas dibanggakan. Kalau hanya sebatas olahraga, tentu akan baik-baik saja. masalahnya adalah bahwa olahragapun mereka gunakan untuk melalaikan probema azazi kehidupan.

7. Yayasan dan LSM
Sebagiannya menggunakan nama Islami dan melakukan kegiatan-kegiatan yang terkesan Islami. Bahkan ada sejumlah gereja yang menggunakan pakaian adat masyarakat Islam berikut puji-pujian mereka dalam misa di gereja.

Seluruh usaha dan sarana itu mereka kerahkan secara simultan kepada sasaran paling empuk yaitu kaum mustadl’afin [kaum lemah]. Hasilnya banyak di antara mereka yang miskin dan berpendidikan rendah itu murtad. Mereka itu menjadi sasaran empuk ghazwul fikri karena pengalaman membuktikan bahwa orang tidak akan berpindah dari agama Islam kecuali yang lemah imannya, ditambah lagi miskin, bodoh, atau beambisi terhadap kedudukan. Strategi yang mereka lakukan adalah memberi perhatian dan advokasi. Setelah bertanam budi, mereka minta komitmen.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mumtahanah (8)

23 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah (Perempuan Yang Diuji)
Surah Madaniyyah; surah ke 60: 13 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan, Ya’qub memberitahu kami, ayahku memberitahuku dari Ibnu Ishaq, Salith bin Ayyub bin al-Ahkam bin Salim telah memberitahuku dari ibunya, Salma binti Qais, ia termasuk salah seorang bibi Rasulullah saw. Ia sempat mengerjakan shalat bersama beliau dengan dua kiblat. Dan dia adalah salah seorang wanita Bani ‘Adi bin an-Najjar. Ia bercerita: Aku pernah mendatangi Rasulullah saw. untuk berbaiat kepada beliau bersama wanita kaum Anshar. Setelah memberikan persyaratan kepada kami bahwa kami tidak boleh menyekutukan Allah dengan suatu apapun, tidak boleh mencuri, berzina, dan membunuh anak-anak kami, serta tidak boleh mengerjakan dosa besar antara kedua tangan dan kaki kami, dan tidak mendurhakai beliau dalam suatu kebaikan, beliau bersabda: “Janganlah berbuat curang terhadap suami-suami kalian.” Kemudian Binti Qais berkata: Lalu kami berbaiat kepada beliau. Setelah itu kami kembali pulang, tetapi sempat kukatakan kepada salah seorang wanita dari mereka: “Kembalilah kepada Rasulullah saw. dan tanyakan kepada beliau, apa yang dimaksud berbuat curang kepada suami kami?” Maka wanita itu pergi dan menanyakanya, dan beliau pun menjawab: “Engkau mengambil hartanya tetapi engkau mencintai laki-laki lain.” Ma’mar memberitahu kami dari Ummu ‘Athiyyah, ia bercerita: Kami pernah berbaiat kepada Rasulullah saw. lalu beliau membacakan kepada kami ayat: laa yusyrikna billaaHi syai-an (“Dan janganlah kamu menyekutukan Allah dengan suatu apapun.”) dan beliaupun melarang kami meratapi mayat. Kemudian ada seorang wanita yang menggenggam tangannya dan berkata: “Fulanah telah membuatku bahagia dan aku ingin membalasnya.” Rasulullah saw. tidak memberikan jawaban sedikitpun. Lalu wanita itu pun pergi, kemudian kembali lagi dan berbaiat kepada beliau.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Sedangkan menurut riwayat al-Bukhari dari Ummu ‘Athiyyah, ia bercerita: Rasulullah saw. pernah mengambil janji setia kepada kami ketika membaiat yang isinya: “Kami tidak boleh meratapi mayat.” Dan ternyata tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali lima orang saja.”

Rasulullah saw. juga pernah mengambil janji setia dari kaum wanita dengan baiat tersebut pada hari raya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas ra. ia bercerita: aku pernah mengerjakan shalat hari raya ‘Idul fitri bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman. Mereka semua mengerjakan shalat sebelum berkhutbah. Kemudian Nabi saw. berkhutbah, setelah itu beliau turun dari mimbar, seolah-olah aku melihat beliau menyuruh orang-orang duduk dengan mengisyaratkan tangan beliau. Kemudian menghadap mereka dan membelah barisan kaum laki-laki, dan itu berlangsung setelah beliau berada di belakang kaum laki-laki dengan disertai Bilal. Setibanya di tempat kaum wanita itu, beliau membacakan ayat [yang artinya]: “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk Mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat Dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik,”) sampai akhir ayat tersebut. Setelah membacanya beliau bersabda: “Kalian telah mengadakan baiat tersebut.” Kemudian salah seorang dari mereka menjawab seruan tersebut. Kemudian Rasulullah saw. bersabda lagi: “Maka bersedekahlah kalian.” Selanjutnya Bilal menggelar kainnya, lalu kaum wanita itu melemparkan cincin-cincin ukuran besar dan ukuran kecil ke kain yang digelar Bilal tersebut.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ubaidah bin ash-Shamit, ia bercerita: Kami pernah bersama Rasulullah saw. dalam suatu majelis, lalu beliau bersabda: “Kalian telah berbaiat kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anak kalian.” Kemudian beliau membacakan ayat yang ditujukan kepada kaum wanita ini, yaitu: idzaa jaa-akal mu’minaatu (“Apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman.”) barangsiapa yang memenuhi baiat tersebut, maka pahalanya diserahkan kepada Allah. Dan siapa yang melakukan salah satunya saja lalu ditegakkan hukuman kepadanya, maka hukuman itu menjadi kaffarat baginya. Tetapi barangsiapa yang melakukan salah satunya kemudian perkaranya ditutupi oleh Allah, maka hal itu terserah Allah. Jika berkehendak, Dia akan memberikan ampunan, dan jika berkehendak Dia akan mengadzabnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya).

Firman Allah: yaa ayyuHan nabiyyu idzaa jaa-akal mu’minaatu yubaayi’naka (“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia.”) maksudnya, siapa saja di antara mereka yang datang kepadamu untuk berbaiat untuk memenuhi persyaratan ini, maka baiatlah dia untuk tidak menyekutukan Allah dan tidak mencuri harta orang lain yang tidak mempunyai hubungan apa-apa. Adapun jika suami terlalu sedikit memberikan nafkah kepadanya, maka dia berhak memanfaatkan hartanya dengan cara yang baik, sesuai dengan nafkah yang biasa diterima oleh kaum wanita yang sesuai dengan keadaannya meskipun tanpa sepengetahuan suaminya. Hal itu sekaligus dalam rangka mengamalkan hadits Hindun binti ‘Utbah, dimana dia berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang sangat kikir, tidak memberikan nafkah yang mencukupi diri dan anak-anakku. Maka berdosakah jika aku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya?” Beliau menjawab: “Ambillah sebagian hartanya dengan cara yang baik sesuai dengan kebutuhanmu dan juga anak-anakmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya).

Firman Allah: wa laa yazniina (“tidak berzina”) penggalan ayat ini sama seperti firman-Nya yang lain: walaa taqrabuz zinaa innaHuu kaana faahisyataw wa saa-a sabiilan (“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, karena ia adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”)(al-Israa’: 32)

Firman-Nya lebih lanjut: wa laa yaqtulna aulaadaHunna (“Tidak akan membunuh anak-anaknya”) penggalan ayat ini mencakup pembunuhan anak setelah lahir, sebagaimana yang pernah dilakukan orang-orang zaman jahiliyyah, dimana mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin. Atau pembuhuhan ketika anak masih dalam wujud janin di dalam rahim ibunya. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh wanita-wanita dungu, dimana mereka melakukan suatu hal agar mereka tidak jadi hamil, baik karena tujuan yang tidak benar maupun tujuan-tujuan lain yang serupa.

Firman Allah: wa laa ya’tiina bibuHtaaniy yaftariinaHu baina aidiiHinna wa arjuliHinna (“Tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Artinya, tidak menasabkan anak orang lain kepada suami mereka.” Demikian pula yang dikatakan oleh Muqatil bin Hayyan. Hal ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah ra. dimana dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda ketika turun ayat li’an: “Wanita mana saja yang menasabkan seseorang kepada suatu kaum yang bukan dari keturunan mereka, maka lepaslah dia dari pertolongan Allah dan Dia tidak akan memasukkannya ke dalam surga. Dan laki-laki mana saja yang tidak mengakui anaknya padahal dia melihatnya sendiri, maka Allah akan menutup diri darinya dan akan mempermalukannya di hadapan orang-orang generasi pertama sampai terakhir.”

Bersambung ke bagian 9