Arsip | 14.56

Sarana-Sarana Tarbiyah

30 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Proses dakwah Islamiyah ini tidak bisa dan tidak boleh dilakukan dengan sporadis, asal-asalan, dan tanpa alat. Begitupun dalam mentarbiyah para peserta, diperlukan beragam perangkat yang komprehensif untuk mendukung tercapainya tujuan tarbiyah. Perangkat-perangkat itu meliputi:

1. USRAH
a. Definisi usrah: wadah yang menampung kumpulan orang-orang yang terikat oleh kepentingan yang sama, yaitu: bekerja, mentarbiyah, dan mempersiapkan kekuatan untuk Islam.
b. Tujuan: tujuan usrah di antaranya adalah untuk membentuk kepribadian Islami para anggotanya dan untuk mengukuhkan makna ukhuwah yang sesungguhnya dalam diri anggota.
c. Agenda acara atau program dalam usrah antara lain:
– Evaluasi umum kondisi dan aktifitas anggota
– Mengkaji permasalahan dakwah mutakhir
– Membaca risalah dan arahan pemimpin umum usrah
– Berdiskusi dengan semangat saling menasehati dan etika penghormatan yang tinggi. Dilarang berdebat negatif dan provokatif
– Mengkaji buku-buku yang berkualitas
– Merealisasikan makna ukhuwah dalam pergaualan praktis, seperti menjenguk saudara yang sakit, mencari informasi tentang saudara absen, dan memberi perhatian kepada orang yang memutuskan hubungan.

2. KATIBAH
a. Definisi katibah: kegiatan khusus dalam mentarbiyah anggota yang bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik untuk melaksanakan ibadah secara umum, tahajud, dzikir, tadabur dan merenung.
b. Tujuan katibah: untuk menciptakan keharmonisan bangunan kepribadian Islam yang utuh kepada para anggota dengan menanamkan karakter pandai mendekatkan diri kepada Alah
c. Agenda katibah:
– Shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan berbuka puasa
– Sambutan pembukaan dari pemimpin katibah atau yang ditunjuk oleh pemimpin
– Pembacaan al-Qur’an oleh Qari’ dan disimak oleh seluruh peserta.
– Membaca wirid al-ma’tsurat wazhifah kubra sendiri-sendiri, kecuali diagendakan secara bersama-sama
– Bangun di sebagian malam
– Shala tahajjut beberapa rekaat sebelum fajar secara munfarid dan dengan bacaan pelan yang tidak mengganggu pesertalain.
– Dzikir, istighfar dan berdoa
– Mengkaji tafsir sebagian al-Qur’an, dianjurkan yang tematik
– Pelajaran sirah nabawiyah untuk diambil ibrah dan keteladanannya
– Penjelasan sejarah dakwah sebagai bahan kajian komprehensif dakwah kontemporer
– Penjelasan tentang tarbiyah, pembinaan, dan penyiapan anggota oleh seorang anggota yang berkompeten dalam bidang tersebut.
– Sambutan penutup oleh pemimpin katibah atau yang mewakilinya
– Evaluasi katibah meliputi waktu dan tempat kegiatan, respon anggota, kedisiplinan, semangat, ketaatan, dan komitmen peserta, realisasi tujuan katibah, syarat, rukun dan etika-etikanya.

3. RIHLAH
a. Definisi rihlah: salah satu sarana tarbiyah sebagai pelengkap untuk mentarbiyah anggotanya berupa kegiatan kolektif yang berorientasi fisik dimana peserta diberi kebebasan untuk bergerak, berolahraga, berlatih, bersabar untuk berkerja sungguh-sungguh, serta menahan haus dan lapar dengan kadar yang berbeda dari usrah maupun katibah.
b. Tujuan rihlah: secara khusus adalah untuk membugarkan fisik dan psikis para anggota. Secara umum adalah untuk mempererat hubungan antar anggota, dan bersama-sama melatih pemahaman serta aplikasi hidup berjamaah dan tugas-tugas kepemimpinan.
c. Agenda acara rihlah:
– Sambutan pembuka dari pemimpin atau yang mewakilinya
– Shalat dluha dan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an
– Acara inti rihlah yang dipersiapkan
– Forum evaluasi
– Sambutan penutup oleh pemimpin atau yang mewakilinya

4. MUKHAYAM
a. Definisi mukhayam: salah satu sarana tarbiyah berupa kegiatan semacam kepanduan untuk menyiapkan para pemuda agar menjadi team pejuang Islam, yang dari merekalah ide jihad dalam Islam dapat terwujud
b. Tujuan mukhayam lebih luas cakupannya:
– Pengumpulan orang secara umum atau anggota secara khusus dalam satu kebersamaan
– Program tarbiyah yang tidak tercakup dalam sarana-sarana tarbiyah terdahulu.
– Pelatihan yang merupakan tujuan utama mukhayam yakni latihan untuk hidup secara militer dengan segala tugas dan kewajibannya.
c. Agenda acara mukhayam
– Olahraga untuk persiapan fisik agar bugar dan segar
– Latihan kemiliteran untuk menyiapkan tugas-tugas kemiliteran
– Tarbiyah ruhiyah untuk membersihkan hati dan mendekat Allah
– Perenungan tentang jihad dan diikuti latihan kemiliteran.
– Peningkatan tsaqafah dengan diskusi bertema tertentu.
– Ta’aruf untuk memperkokoh ikatan ukhuwah peserta.
– Berlomba di arena mukhayam antar peserta untuk menampilkan kerja yang terbaik masing-masing peserta.

5. Daurah
a. Definisi daurah adalah salah satu sarana tarbiyah berupa kegiatan mengumpulkan sejumlah anggota yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, penelitian, dan pelatihan tentang suatu masalah, dengan mengangkat tema tertentu yang dirasa penting bagi keberlangsungan amal Islamni.
b. Tujuan: untuk mempersiapkan personil atau pemimpin dengan matang untuk menunaikan tugas-tugas aktifitas, studi, dan dialog di satu sisi, serta untuk mampu melihat sampel ideal yang docontohkan oleh para pembicara di forum daurah, di sisi yang lain.
c. Agenda acara daurah minimal harus terealisasi antara lain:
– Ceramah, komentar dan tanya jawab yang dimoderatori pakar
– Forum diskusi yang dipandu ahlinya
– Presentasi hasil kajian lalu mendiskusikannya
– Forum evaluasi oleh pimpinan daurah.
– Pelatihan kegiatan yang harus dilatihkan

6. NADWAH
a. Definisi, nadwah adalah sebuah pertemuan yang menghimpun sejumlah pakar dan para spesialis untuk mengkaji suatu tema ilmiah atau persoalan dimana setiap mereka memberikan pendapatnya dengan argumentasi dan bukti-bukti.
b. Tujuan nadwah adalah untuk membuka pengetahuan dan wawasan pemikiran
c. Agenda nadwah minimal yang harus terealisasi antara lain:
– Kecermatan memilih tema yang meyakinkan dan urgen bagi masyarakat dan perjuangan kaum muslimin.
– Memperdalam kajian terpilih dengan pemaparan yang argumentatif dan terbukti
– Memberi kesempatan dialog kepada para peserta dan hadirin
– Disiplin dalma setiap mata acaranya, dibingkai dengan penuh kesungguhan, ketenangan, dan senyuman.
– Komentar secukupnya dari pimpinan nadwah/moderator atas setiap pembicara.
– Ringkasan semua pendapat yang terlontar (juga segala yang terjadi di nadwah) didokumentasi dengan baik.

7. MUKTAMAR
a. Definisi: Muktamar adalah sebuat forum yang pesertanya bersifat umum baik personal, lembaga, maupun para pakar, untuk bermusyawarah dan mengkaji suatu persoalan serta membuat beberapa keputusan dan rekomendasi yang perlu disebarluaskan.
b. Tujuan muktamar:
– Mengumpulkan para pakar, peneliti, dan ahli ilmu tertentu
– Mengumpulkan peserta yang konsern terhadap suatu tema
– Melatih pengkaji menyiapkan analisanya secara matang.
– Melatih peserta menyiapkan pendapatnay secara matang.
– Cermat dan teliti dalam memilih tema yang urgen dan layak didiskusikan para ahli dan peserta.
– Upaya membangkitkan semangat mengkaji secara ilmiah dan obyektif terhadap suatu persoalan dakwah dan umat.
– Membangun prinsip kebebasan berpendapat dalam kajian ilmiah.
– Melatih amal jama’i.
– Mengakomodasi para ulama dan pakar untuk saling berkenalan.
– Meneguhkan ukhuwah dalam kebesamaan dalam satu tujuan melalui interaksi ilmiah suatu persoalan yang diangkat.
– Meneguhkan prinsip penting: kontinyuitas pengembangan amal Islam menghadapi berbagai perubahan zaman.
c. Agenda/ program muktamar berarti segala muatan acara muktamar secara internal berupa tata aturan, administrasi, pemilihan tema, seleksi para pembicara dan peserta, penentuan waktu dan tempat, serta sistem kepanitiaan dan rekomendasi.

&

Tujuan Tarbiyah

30 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Tarbiyah mempunyai tujuan agar peserta memiliki konsep keislaman yang jelas, sehingga mereka dapat berinteraksi dan bergerak dengannya agar mendapatkan pengalaman-pengalaman serta memiliki tanggung jawab dan kemampuan yang baik dalam dakwah.

1. Konsepsi Islam yang Jelas
Dengan mengikuti program-program tarbiyah, diharapkan peserta mendapatkan konsepsi keislaman yang utuh menyeluruh, gamblang, dan benar bahwa Islam adalah pedoman hidup yang mencakup dan mengatur seluruh aspek kehidupan.

2. Interaksi
Konsepsi keimanan yang diberikan dalam tarbiyah bukan sesuatu yang mati. Ia akan melahirkan reaksi dan efek positif ke dalam maupun ke luar.
– Efek ke dalam yaitu ketika konsepsi keislamannya membentuk keyakinan yang melandasi amalnya, membentuk pola fikir sehingga mewarnai pemikirannya, dan mempengaruhi perasaan yang menentukan seleranya. Efek internal ini akan melahirkan tekad yang kuat pada dirinya.
– Efek eksternal dapat dilihat dalam bentuk penampilan sehingga mempengaruhi sikap, melahirkan perilaku dan amal perbuatan. Tampilan luar ini menampakkan kepribadian dan identitas keislamannya.

3. Gerakan
Setelah kepribadian Islamnya terbentuk dan kokoh, konsepsi keislaman itu akan mendorongnya untuk melakukan ekspansi. Bentuk ekspansinya adalah peningkatan diri dalam penguasaan teori dan pengendalian mental sehingga terjadi peningkatan kemampuan. Di samping itu, ia juga akan melakukan perluasan dengan manufer, membangun kader, dan merapikan pengorganisasiannya sehingga dicapai penguasaan dakwah. Itulah gerakan yang produktif.

4. Pengalaman
Apa yang dilakukannya dalam gerakan dakwah itu memberi pengalaman operasional, sehingga dapat menyelesaikan problematika operasional yang sangat berharga. Hal ini akan memberikan kepadanya kekuatan pengalaman.

5. Tanggung jawab
Pemahaman yang baik akan menentukan tingkat interaksinya dengan dakwah, meningkatkan kinerja, menambah pengalaman, dan meningkatkan rasa tanggung jawab syar’i maupun struktural. Tanggung jawab syar’i yang lahir dari pemahamannya terhadap kukum-hukum syariat itu diberikan kepada Allah.
Adapun tanggung jawab struktural, diperoleh dari pemahamannya terhadap dakwah dan diberikan kepada jamaah. Semua itu harus selalu ada agar dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan yang selalu berambah pada tiap-tiap tahapan dakwah.

6. Kafaah (kemampuan)
Pada akhirnya tarbiyah akan mengantar setiap kadernya untuk menjadi pelopor dalam dakwah dan keilmuan. Disamping kepeloporan di bidangnya masing-masing. Akhirnya setiap kader dakwah akan menjadi referensi bagi masyarakatnya.
Sebagaimana struktur dakwah telah memberikan pelayanan dan tarbiyah kepadanya, setelah matang ia akan melayani dakwah dan menggunakan kemampuan yang telah dicapainya itu untuk kepentingan dakwah dan strukturnya.

&

Urgensi Tarbiyah

30 Okt

Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Tarbiyah adalah usaha sadar yang dimaksudkan untuk mengantar peserta didik ke arah kesempurnaannya. Tarbiyah memiliki urgensi yang sangat besar bagi kehidupan seseorang secara pribadi maupun sosial. Al-Qur’an menyebut umat yang tidak tarbiyah sebagai umat jahiliyah yang lekat dengan kebodohan, kehinaan, kelemahan, dan perpecahan.

KEBODOHAN

Islam melihat bahwa bodoh itu bukan hanya tidak tahu atau tidak punya ilmu. Bodoh yang sebenarnya adalah ketika tidak dapat memahami hakekat-hakekat yang ada di luar materi. Orang-orang kafir dan musyrik disebut jahili karena mereka tidak dapat memahami hak-hak Allah atas manusian padahal Allah telah memberikan segala yang ada di bumi ini untuknya. Mereka tidak dapat memahami bahwa ada kematian setelah kehidupan dan ada kehidupan setelah kematian, tatkala manusia akan mendapat balasan atas segala yang ia kerjakan di dunia ini. Bodoh juga terkadang bermakna tidak arif sehingga seseorang yang melakukan perbuatan yang tidak paa tempatnya pun disebut bodoh. Rasulullah saw. mengatakan bahwa dalam diri Abu Dzar al-Ghifari ra. terdapat sifat jahiliyah. Demikian itu terjadi karena Abu Dzar memanggil Bilal bin Rabah dengan panggilan yang tidak sepantasnya.

KEHINAAN

Karena tidak dapat memahami hakekat-hakekat di luar materi, orang-orang kafir dan musyrikin kemudian mendapat kehinaan yang bertambah-tambah, mereka lebih hina dibanding binatang ternak sekalipun.

KELEMAHAN

Lemah pada kemampuan berfikirnya, lemah mencerna dan mamahami hal-hal ghaib yang ada di luar materi. Kemampuan akal itu sendiri terbatas, apabila manusia memperlakukan akalnya sebagai sesuatu yang memiliki segala kemampuan, itulah sebenarnya kelemahan.

PERPECAHAN

Hal ini disebabkan karena mereka berbeda pedoman, berbeda ideologi, berbeda visi, berbeda orientasi, dan akhirnya berbeda pula amalnya.
Kondisiyang demikian itu oleh Allah disebut sebagai kesesatan yang nyata. Untuk menyelamatkan dan mengentaskan mereka dari kesesatan itulah, Allah mengutus Rasul-Nya yang melakukan perubahan melalui proses tarbiyah secara integral. Hal ini dapat kita pahami dari tugas Rasul sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an yaitu:
– Membaca ayat-ayat-Nya
– Menyucikan jiwa yaitu membersihkannya dari sifat-sifat buruk, lantas menghiasinya dengan sifat-sifat utama.
– Mengajarkan pedoman hidup.

Kehadiran Rasulullah saw. di tengah masyrakat jahiliyah untuk mengentaskan mereka dari jahiliyah kepada Islam termasuk nikmat terbesar yang mereka terima. Demikian itu karena dengan nikmat Islam kemudian mereka mendapatkan ilmu pengetahuan, kemuliaan, kekuatan, dan persatuan. Hal ini disadari sepenuhnya oleh generasi pertama Islam sehingga mereka sangat besar komitmennya kepada agama ini. Mereka benar-benar dapat merasakan dan membedakan antara kehidupan mereka sebelum Islam dan sesudah Islam. Betapa tidak, dengan Islam itu seakan mereka terlahir kembali ke dunia sebagai masyarakat baru dengan karakteristik yang khas. Dengan tarbiyah Islamiyah itu, masyarakat yang sebelumnya disebut sebagai jahiliyah itu kemudian menjadi umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk seluruh umat manusia. Umar bin al-Khaththab ra mengatakan: “Kita ini adalah suatu kaum yang dibesarkan oleh Allah dengan Islam. Apabila kita mencari kebesaran itu dengan selainnya, niscaya Allah menghinakan kita.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hasyr (3)

30 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr (Pengusiran)
Surah Madaniyyah; surah ke 59: 24 ayat

tulisan arab alquran surat al hasyr ayat 6-77. apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (al-Hasyr: 7)

Firman Allah ini menjelaskan tentang makna fa’i, sifat dan hikmahnya. Fa’i adalah segala harta benda yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui peperangan dan tanpa mengerahkan kuda maupun unta. Seperti harta benda Bani Nadhir ini, dimana kaum Muslimin memperolehnya tanpa menggunakan kuda maupun unta, artinya mereka dalam hal ini tidak berperang terhadap musuh dengan menyerang atau menyerbu mereka, tetapi para musuh itu dihinggapi rasa takut yang telah Allah timpakan ke dalam hati mereka karena wibawa Rasulullah saw. Kemudian Allah memberikan harta benda yang telah mereka tinggalkan untuk Rasul-Nya. oleh karena itu beliau mengatur pembagian harta benda yang diperoleh dari Bani Nadhir sekehendak hati beliau, dengan mengembalikannya kepada kaum Muslimin untuk dibelanjakan dalam sisi kebaikan dan kemaslahatan yang telah disebutkan Allah dalam ayat-ayat ini.

Allah berfirman: wa maa afaa allaaHu ‘alaa rasuuliHii minHum (“Dan apa saja harta rampasan [fa’i] yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya [dari harta benda] mereka.”) yakni bani an-Nadhir: fa maa au jaftum ‘alaiHi min khailiw walaa rikaabiw wa laakinnallaaHa yusallithu rusulaHuu ‘alaa may yasyaa-u wallaaHu ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan [tidak pula] seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) artinya, Dia Mahakuasa, tidak dapat dikalahkan dan dihalangi oleh siapapun, bahkan Dia-lah Yang Mahamengalahkan segala sesuatu.

Kemudian Allah berfirman: maa afaa allaaHu ‘alaa rasuuliHii min aHlil quraa (“Apa saja harta rampasan [fa’i] yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota.”) yakni semua kota yang telah ditaklukkan secara demikian, maka hukumnya disamakan dengan hukum-hukum harta rampasan perang Bani an-Nadhir. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: falillaaHi wa lir rasuuli wa lidzil qurbaa wal yataamaa wal masaakiini wabnis sabiili (“Adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang [sedang] dalam perjalanan.”) dan seterusnya dan ayat setelahnya. Demikianlah pihak-pihak yang berhak menerima harta fa’i.

Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan bin ‘Amr dan Ma’mar memberitahu kami dari az-Zuhri, dari Malik bin Aus bin al-Hadatsan, dari ‘Umar ra, ia berkata: “Harta bani an-Nadhir termasuk yang telah Allah berikan kepada Rasul-Nya, dengan tidak usah terlebih dahulu dari kaum Muslimin untuk mengerahkan kuda dan untanya. Oleh karena itu, harta rampasan itu hanya khusus untuk Rasulullah, beliau nafkahkan untuk keluarganya sebagai nafkah untuk satu tahun. Dan sisanya beliau manfaatkan untuk kuda-kuda perang dan persenjataan di jalan-Nya.”

Demikian hadits yang diriwayatkan Ahmad di sini secara ringkas. Diriwayatkan juga oleh sekelompok ahli hadits di dalam kitab-kitab mereka kecuali Ibnu Majah dari hadits Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, dari az-Zuhri.

Dan pihak-pihak yang memperoleh bagian harta fa’i seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas merupakan pihak-pihak yang disebutkan pada seperlima ghanimah. Dan semua sudah dijelaskan di dalam surah al-Anfaal.

Firman-Nya: kailaa yakuuna duulatam bainal aghniyaa-i mingkum (“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”) yakni Kami jadikan pihak-pihak yang memperoleh bagian harta fa’i ini agar tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang kaya saja, lalu mereka pergunakan sesuai kehendak dan hawa nafsu mereka, serta tidak mendermakan harta tersebut kepada fakir miskin sedikitpun.

Dan firman-Nya: wa maa aataakumur rasuulu fakhudzuuHu wa maa naHaakum ‘anHu fantaHuu (“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”) yakni apapun yang beliau perintahkan kepada kalian maka kerjakanlah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Karena beliau hanyalah memerintahkan kepada kebaikan dan melarang keburukan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Allah melaknat kaum wanita yang membuat tato dan minta dibuatkan tato, yang mencabuti rambutnya, dan memperlihatkan kecantikannya, dan mereka yang merubah ciptaan Allah swt.” tatkala ucapan ini sampai kepada seorang wanita dari kalangan Bani Asad yang bernama Ummu Ya’qub, ia pun mendatanginya dan berkata: “Telah sampai kepadaku berita bahwa engkau mengatakan begini dan begitu.” Maka ‘Abdullah berkata: “Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw. dan diperintahkan di dalam Kitabullah.” Ummu Ya’qub berkata: “Sesungguhnya aku telah membaca isi al-Qur’an, namun aku tidak mendapati apa yang engkau maksudkan.” ‘Abdullah berkata: “Bukankah engkau telah membaca firman Allah: wa maa aataakumur rasuulu fakhudzuuHu wa maa naHaakum ‘anHu fantaHuu (“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”)?” Jawab Ummu Ya’qub: “Memang.” ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Rasulullah saw. telah melarang hal itu.” Ummu Ya’qub berkata: “Sesungguhnya aku kira keluargamu pun mengerjakannya.” Lebih lanjut Ibnu Mas’ud berkata: “Pergilah kamu dan lihatlah.” Maka Ummu Ya’qub pun pergi, tetapi ia tidak medapati sesuatu pun dari apa yang diperlukannya. Lalu ia berkata: “Aku sama sekali tidak mendapatkan sesuatu pun.” Ibnu Mas’ud berkata: “Jika demikian, berarti engkau tidak pernah bergaul dengan kami.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain, dari hadits Sufyan ats-Tsauri.

Bersambung ke bagian 4