Arsip | November, 2013

Keikutsertaan Nabi Muhammad saw. dalam Membangung Ka’bah

29 Nov

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Ka’bah adalah “rumah” yang pertama dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah, dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para nabi; Ibrahim as. setelah menghadapi “perang berhala” dan penghancuran tempat-tempat ibadah yang didirikan di atasnya. Ibrahim as. membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah Allah.

“Dan ingatlah, ketika Ibrahim meninggikan [membina] dasar-dasar Baitullah beserta Ismail [seraya berdoa]: ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami [amalan kami], sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Mahamengetahui.” (al-Baqara: 127)

Setelah itu, ka’bah mengalami beberapa kali serangan yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Di antaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Makkah beberapa tahun sebelum bi’tsah sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Hal ini memaksa orang-orang Quraisy harus membangun ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap ka’bah merupakan “sisa” atau peninggalan dari syariat Ibrahim as. yang masih terpelihara di kalangan orang Arab.

Sebelum bi’sah, Rasulullah saw. pernah ikut serta dalam pembangunan ka’bah dan pemugarannya. Beliau ikut serta aktif mengusung batu di atas pundaknya. Saat itu beliau berusia 35 tahun menurut riwayat yang shahih.

Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: “Ketika Ka’bah dibangun, Nabi saw. dan Abbas mengusung batu. Abbas berkata kepada Nabi saw. ,”Singkirkan kainmu di atas lutut.’ Nabi saw. lalu mengikatkannya.”

Nabi saw. memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antara Kabilah tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Semua pihak tunduk kepada usulan yang diajukan Nabi saw. karena mereka mengenalnya sebagai al-Amiin [terpercaya] dan mencintainya.

BEBERAPA IBRAH:

1. Urgensi, kemuliaan, dan kekudusan ka’bah yang telah di tetapkan Allah. Cukuplah sebagai dalilnya bahwa orang yang mendirikan dan membangunnya adalah Ibrahim, kekasih Allah, dengan perintah Allah supaya menjadikan rumah pertama untuk menyembah Allah semata, sebagai tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.

Akan tetapi ini tidak berarti bahwa Ka’bah memiliki pengaruh terhadap orang-orang yang thawaf di sekitarnya atau orang-orang yang i’tikaf di dalamnya. Ka’bah –kendati memiliki kekudusan dan kedudukan di sisi Allah- adalah batu yang tidak dapat memberikan bahaya dan manfaat.

Ketika Allah mengutus Ibrahim untuk meruntuhkan berhala-berhala dan para thaghut, menghancurkan rumah-rumah peribadatannya, melenyapkan rambu-rambu dan menghapus penyembahannya, Allah menghendaki agar dibangun di atas bumi suatu bangunan yang akan menjadi lambang pertauhidan dan penyembahan Allah semata. Suatu lambang yang mencerminkan –sepanjang masa- arti agama dan peribadahan yang benar, dan penolakan terhadap kemusyrikan dan penyembahan berhala. Selama beberapa abad, manusia menyembah batu, berhala, dan para thaghut, dan mendirikan rumah-rumah ibadah untuknya. Sekarang telah tiba saatnya untuk mengganti “Rumah-rumah” yang didirikan untuk menyembah Allah semata. Setiap orang yang memasukinya akan mendapatkan kemuliaannya karena ia tidak tunduk dan merendah kecuali pada Pencipta alam semesta.

Jika orang-orang yang beriman kepada wahdaniyah (keesaan) Allah dan para pemeluk agama-Nya harus memiliki suatu ikatan yang akan mempertalikan mereka dan sebuah tempat yang akan mempertemukan mereka kendatipun berlainan negeri, bangsa, dan bahasa, tidak ada yang lebih tepat untuk dijadikan ikatan dan tempat pertemuan selain dari “rumah” yang akan didirikan sebagai lambang untuk mentauhidkan Allah dan menolak kemusyrikan ini. Di bawah naungannya mereka saling berkenalan. Di sini mereka bertemu karena panggilan kebenaran yang dilambangkan oleh rumah ini. “Rumah” yang mencerminkan persatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia, mencerminkan pentauhidan dan penyembahan Allah semata kendatipun selama beberapa abad pernah dijadikan tempat penyembahan tuhan-tuhan palsu.

Inilah yang dimaksud oleh firman Allah: “Dan [ingatlah] ketika Kami menjadikan rumah itu [Baitullah] tempat berkumpul bagi manusia dan tempat aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

Inilah yang dirasakan oleh setiap orang yang akan melakukan thawaf di Baitul Haram jika ia telah memahami arti ‘ubudiyah kepada Allah dan tujuan melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik karena sebagai perintah yang harus dilaksanakan maupun karena sebagai seorang hamba yang berkewajiban mematuhi perintah. Di sinilah tampak kekudusan ka’bah dan keagungan kedudukannya di sisi Allah. Di sini pula terasa perlunya menunaikan haji dan thawaf di sekitarnya.

2. Penjelasan menyangkut beberapa peristiwa perusakan dan pembangunan Ka’bah.
Sepanjang masa, Ka’bah pernah dibangun empat kali tanpa diragukan lagi. Akan halnya bangunan Ka’bah sebelum itu masih diperselisihkan dan diragukan kebenarannya.

Pembangunan Ka’bah yang pertama kali dilakukan oleh Ibrahim as. dibantu anaknya, Ismail as, atas perintah Allah sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam al-Qur’an dan sudah yang shahih. Firman Allah: “Dan [ingatlah] ketika Ibrahim meninggikan [membina] dasar-dasar Baitullah beserta Ismail [seraya berdoa], ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami [amalan kami], sesungguhnya Engkaulah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas ra.: “… kemudian [Ibrahim] berkata: ‘Hai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan aku [untuk melakukan] suatu perkara.’ Ismail berkata: ‘Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu.’ Ibrahim bertanya: ‘Kamu akan membantuku?’ Ismail menjawab: ‘Aku akan membantumu.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar aku membangun rumah [Ka’bah] di sini.’ Seraya menunjuk ke bukit di sekitarnya. (Nabi Muhammad saw. bersaba): “Pada saat itulah keduanya membangun dasar-dasar Ka’ah kemudian Ismail mengusung batu dan Ibrahim membangun…” (Shahihul Bukhari, Kitabu Ahaditsil Anbiya, bab firman Allah: wat takhadzallaaHu IbraaHiima khaliila…)

Az-Zarkasyi mengutip dari Sejarah Makkah karangan al-Azraqi bahwa Ibrahim membangun Ka’bah dengan tinggi tujuh depa, dalamnya ke bumi tiga puluh depa, dan lebarnya dua puluh depa, tanpa atap. (A’lamus Sajid oleh az-Zarkasyi hal. 146). As-Suhaili menceritakan bahwa tingginya sembilan depa (: ‘Uyunul Atsar, 1/52). Menurut Dr. Al-Buthy riwayat as-Suhaili lebih tepat daripada riwayat al-Azraqi.

Pembangunan ka’bah kedua dilakukan oleh orang-orang Quraisy sebelum Islam, dimana Nabi saw. ikut serta dalam pembangunannya sebagaimana telah disebutkan di atas. Mereka membangunnya dengan tinggi delapan belas depa, dalamnya enam depa, dan beberapa depa mereka biarkan di hijr (Isma’il) (Bukhari meriwayatkannya dalam Kitabul Hajj, bab Fathul Makkah. Lihat juga A’lamus Sajid, oleh az-Zarkasyi hal. 46)

Menyangkut hal ini, Rasulullah saw. pernah bersabda dalam sebuah riwayat Aisyah: “Wahai A’isyah, kalau bukan karena kaummu masih dekat dengan masa jahiliyah, niscaya aku perintahkan (untuk membongkar dan membangun) Ka’bah, kemudian aku memasukkan kepadanya apa yang telah dikeluarkan darinya, aku perdalam lagi ke bumi, dan aku buat padanya pintu timur dan barat, lalu aku sempurnakan sesuai asas Ibrahim.” (Muttafaq alaihi, lafal ini bagi Bukhari)

Pembangunan Ka’bah yang ketiga ialah setelah mengalami kebakaran di masa Yazid bin Mu’awiyah, ketika tentara-tentaranya dari penduduk Syam menyerangnya. Para tentara tersebut atas perintah Yazid mengepun Abdullah Ibnu Zubair di Makkah di bawah pimpinan al-Hashin bin Numair as-Sakuni pada akhir tahun 36. Mereka melempari Ka’bah dengan menjanik sehingga menimbulkan kerusakan dan kebakaran. Ibnu Zubair lalu menunggu sampai orang-orang datang di musim haji lalu ia meminta pendapat seraya berkata: “Wahai manusia, berikanlah pendapat kalian tentang Ka’bah. Aku gempur [hancurkan] kemudian aku bangun lagi atau aku perbaiki yang rusak-rusak saja?” Ibnu Abbas berkata: “Menurut saya, sebaiknya anda memperbaiki yang rusak-rusak saja dan tidak perlu menggempurnya.” Ibnu Zubair berkata: “Seandainya rumah salah seorang kamu terbakar, pasti ia akan memperbaruinya, apalagi ini rumah Allah. Sesungguhnya saya sudah tiga kali istikharah kepada Allah kemudian bertekad untuk melaksanakan keputusanku.”

Tiga hari berikutnya ia menggempurnya sampai rata dengan tanah. Ibnu Zubair lalu mendirikan beberapa tiang di sekitarnya dan memasang tutup di atasnya. Mereka lalu mulai meninggikan bangunannya. Ia tambahkan enam depa pada bagian yang pernah dikurangi. Ia tambahkan panjangnya sepuluh depa dan dibuatnya dua pintu: pintu masuk dan pintu keluar. Ibnu Zubair berani memasukkan tambahan ini berdasarkan hadits A’isyah dari Rasulullah saw. terdahulu.

Pembangunan ka’bah yang keempat dilakukan setelah terbunuhnya az-Zubair. Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Atha’ bahwa ketika Ibnu Zubair terbunuh, al-Hajjaj menulis kepada Abdul Malik bin Marwan kabar tentang kematiannya dan bahwa Ibnu Zubair membangun Ka’bah di atas asas yang masih dipermasalahkan oleh para tokoh kepercayaan Makkah. Kemudian Abdul Malik menjawabnya melalui surat, “Kami tidak bisa menerima tindakan Ibnu Zubair. Menyangkut tambahan panjangnya masih dapat ditolerir tetapi menyangkut tambahan Hijr (Ismail) hendaklah dikembalikan kepada bangunannya [semula] dan tutuplah pintu yang dibukanya.” Setelah itu gempurlah ka’bah dan bangunlah lagi. (Muslim 4/49)

Dikatakan bahwa ar-Rasyid pernah bertekad akan membongkar Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan Ibnu Zubair kemudian dicegah oleh Malik bin Annas, “Wahai Amirul Mukminin, janganlah rumah ini dijadikan permainan oleh para raja sesudahmu. Janganlah setiap dari mereka mengubahnya sesuka hatinya karena tindakan tersebut akan menghapuskan wibawa rumah ini dari hati manusia.” Ar-Rasyid lalu membatalkan niatnya. (Imam an-Nawawi di dalam syarahnya atas Muslim dan menyebutkan bahwa orang yang dimaksud ingin membongkar ka’bah adalah ar-Rasyid. Akan tetapi di dalam ‘Uyunul Atsar dan A’lamus Sajid disebutkan Abu ja’far al-Mashur. Seperti diketahui Imam Malik hidup di masa Harun ar-Rasyid dan al-Manshur. Jadi kemungkinannya ada.)

Itulah empat kali pembangunan ka’bah yang dapat diyakini kebenarannya. Adapun pembangunannya sebelum Ibrahim as. masih diperselisihkan dan diragukan kebenarannya. Apakah ka’bah waktu itu sudah dibangun atau belum.

Disebutkan dalam beberapa atsar dan riwayat bahwa orang yang pertama kali membangunnya adalah Adam as. di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi dalam kitab Dala’ilun Nubuwwah dari hadits Abdullah bin Amr, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah mengutus Jibril kepada keduanya [Adam dan Hawa], ‘Bangunlah sebuah rumah untukku.’ Jibril lalu membuat garis kepada keduanya. Adam lalu mulai menggali, sedang Hawa mengusung sampai menyentuh air, lalu dipanggil dari bawahnya, ‘Cukup Adam!’ ketika keduanya telah membangunnya, Allah mengilhamkan kepada Adam agar ia thawaf di sekitarnya dan dikatakan: ‘Kamu manusia pertama dan ini adalah rumah pertama.’ setelah itu berlalulah beberapa abad sampai Ibrahim meninggikan dasar-dasar bangunannya.’”

Al-Baihaqi berkata: “Ibnu Lahi’ah meriwayatkannya secara sendirian.. Ibnu Lahi’ah dikenal sebagai seorang yang lemah , tidak dapat dijadikan hujjah.”

Selain itu terdapat beberapa riwayat lain yang semakna dengan riwayat yang dikeluarkan Baihaqi ini, tetapi semuanya tidak terhindar dari kelemahan. Dikatakan juga orang yang pertama kali membangun adalah Syith as.

Dengan demikian, Ka’bah –berdasarkan riwayat-riwayat yang lemah- telah dibangun sebanyak lima kali.
Sudah sepatutnya kita berpegang pada riwayat yang shahih, yaitu bahwa ka’bah dibangun sebanyak empat kali, sebagaimana telah dijelaskan. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan pembangunannya selain yang empat itu,kita serahkan kepada Allah. Ini tentu saja tidak termasuk beberapa kali pemugaran dan perbaikan setelah itu.

3. Kebijaksanaan Nabi saw. dalam menyelesaikan masalah dan mencegah terjadinya permusuhan. Dan permusuhan antar kaum seringkali menimbulkan pertumpahan darah. Dalam masalah ini Bani Abdid Dar telah menghampiri mangkuk berisi darah kemudian bersama Bani ‘Ady berikrar untuk mati seraya memasukkan tangan-tangan mereka ke darah tersebut. Sementara itu kaum Quraisy tinggal diam selama empat atau lima malam tanpa adanya kesepakatan atau penyelesaian yang dapat diajukan sampai api fitnah tersebut padam di tangan Rasulullah saw.

Kita harus mengembalikan keistimewaan Rasulullah saw. ini kepada persiapan Allah kepadanya untuk mengemban tugas risalah dan kenabian sebelum mengembalikannya kepada kecerdasan dan kejeniusan Nabi saw. yang telah menjadi fitrahnya. Hal ini karena asas pertama dalam pembentukan kepribadian Nabi saw. ialah bahwa ia sebagai seorang Rasul dan Nabi. Setelah itu, baru menyusun keistimewaan Nabi saw. seperti kecerdasan dan kejeniusannya.

4. Ketinggian kedudukan Nabi saw. di kalangan tokoh Quraisy dari berbagai tingkatan dan kelas. Di kalangan mereka, Nabi saw. dikenal sebagai al-Amin (terpercaya) dan sangat dicintai. Mereka tidak pernah meragukan kejujurannya apabila bicara, ketinggian akhlaknya apabila bergaul, dan keikhlasannya apabila dimintai pertolongan. Hal ini mengungkapkan kepada anda betapa kedengkian dan keangkuhan telah menguasai hati mereka ketika mendustakan, memusuhi, dan menghalangi dakwah yang disampaikan kepada mereka.

&

Perniagaan Rasulullah saw. dengan harta Khadijah dan Pernikahannya

29 Nov

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Ibnu Hisyam, adalah seorang wanita pedangan yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendegar tentang kejujuran Nabi saw. dan kemuliaan akhlaknya, Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw. dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania)

Khadijah membawa barang dagangan yang lebih baik daripada apa yang dibawakan kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi Muhammad saw. ditemani oleh Maisarah, seorang pria kepercayaan Khadijah. Nabi saw. menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah dan membawa keuntungan yang berlipat ganda sehingga kepercayaan Khadijah bertambah kepada beliau. Selama perjalanan itu Maisarah sangat terkesan dengan akhlak dan kejujura Nabi saw., dan hal itu dilaporkannya kepada Khadijah.

Khadijah merasa tertarik dan terkejut dengan keberkahan dari perniagaan Nabi saw. Khadijah kemudian menyatakan hasratnya untuk menikah dengan Nabi saw. dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi saw menyetujuinya dan menyampaikan hal tersebut kepada paman-pamannya.
Khadijah dipinang untuk Nabi saw. dari paman Khadijah bernama Amr bin Asad. Ketika menikahinya Nabi berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun.

Sebelum menikah dengan Nabi saw. Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin A’idz at-Tamimi dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi, namanya Hindun bin Zurarah (diriwayatkan oleh Ibnu Sayyid dalam ‘Uyunul Atsar, Ibnu Hajar dalam al-Ishabah dan lainnya)

BEBERAPA IBRAH:

Usaha menjalankan perniagaan Khadijah ini merupakan kelanjutan dari kehidupan mencari nafkah yang telah dimulainya dengan mengembala kambing.

Mengenai keutamaan dan kedudukan Khadijah dalam kehidupan Nabi saw. sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasululllah saw. sepanjang hidupnya. Telah diriwayatkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Khadijah adalah wanita terbaik di jamannya.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali ra. pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik wanita [langit] adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita [bumi] adalah Khadijah binti Khuwailid.”

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: “Aku tidak pernah cemburu pada istri-istri Nabi saw. kecuali pada Khadijah sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Apabila Rasulullah saw. menyembelih kambing, beliau berpesan, ‘Kirimkan daging pada teman-teman Khadijah.’ Pada suatu hari aku memarahinya lalu aku katakan: ‘Khadijah?’ Nabi saw. kemudian bersabda: ‘Sesungguhnya, aku telah dikaruniai cintanya.’” (Muttafaq ‘alaiHi, lafal ini bagi Muslim)

Ahmad dan Thabari meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah ra. ia berkata: “Hampir tidak pernah Rasulullah saw. keluar rumah sehingga menyebutkan Khadijah dan memujinya. Pada suatu hari, Rasulullah menyebutnya sehingga menimbulkan kecemburuanku. Aku lalu katakan: ‘Bukankah ia hanya seorang tua yang Allah telah menggantikannya untuk tuan orang yang lebih baik darinya?’ Rasulullah saw. lalu marah seraya bersabda: ‘Demi Allah, Allah tidak menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan aku, dia membela dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak sama seklai dari istri yang lain.”

Sehubungan dengan pernikahan Rasulullah saw. dengan Khadijah, kesan yang pertama kali didapatkan dari pernikahan ini adalah bahwa Rassulullah saw. sama sekali tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadi. Seandainya Rasulullah memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau mencari wanita yang lebih muda atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya. Tampaknya Rasulullah saw. menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya di antara kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendapatkan julukan ‘Afifah Thahirah [wanita suci] pada masa jahiliyah.

Pernikahan ini berlangsung hingga khadijah meninggal dunia pada usia 65 tahun. Sementara itu Rasulullah saw. telah mendekati usia 50 tahun, tanpa berfikir selama masa ini untuk menikah dengan wanita atau gadis lain, padahal usia antara 20-50 tahun merupakan beregolaknya keinginan atau kecenderungan untuk menambah istri karena dorongan syahwat.

Akan tetapi, Muhammad saw. telah melampaui masa tersebut tanpa pernah berfikir untuk memadu Khadijah. Seandainya beliau mau, tentu akan mendapatkan istri tanpa bersusah payah menentang adat atau kebiasaan masyarakat. Terlebih lagi, beliau menikah dengan Khadijah yang berstatus janda dan lebih tua darinya.

Hakekat ini akan membungkam mulut orang-orang yang hatinya terbakar oleh dendam kepada Islam dan kekuatan pengaruhnya dari kalangan misionaris, orientalis, dan antek-antek mereka.
Mereka mengira bahwa tema pernikahan Rasulullah saw. akan dapat dijadikan sasaran empuk untuk menyerang Islam dan merusak Nabi saw. Dibayangkan bahwa mereka akan mampu merobah citra Rasulullah saw. di mata semua orang; sebagai seorang seks mania yang tenggelam dalam kelezatan jasadiah.

Para misionaris dan sebagian besar orientalis adalah musuh-musuh bayarang terhadap Islam yang menjadikan “penikaman agama [Islam]” sebagai profesi untuk mencari nafkah. Adapun para murid mereka yang tertipu, kebanyakan memusuhi Islam karena taklid buta, sekedar ikut-ikutan tanpa perfikir sedikitpun, apalagi melalui kajian. Permusuhan mereka [para murid orientalis] terhadap Islam tak ubahnya seperti lencana yang tergantung seseorang di atas dadanya sekedar supaya diketahui orang keterkaitannya dengan pihak tertentu. Seperti diketahui , lencana itu tidak lebih sekedar simbol yang menjelaskan identitas mereka kepada semua orang, bahwa mereka bukan termasuk dari bagian sejarah Islam, dan bahwa loyalitas mereka hanyalah sekedar lencana yang menjelaskan identitas mereka di tengah kaum mereka, bukan suatu hasil pemikiran untuk pengkajian atau argumentasi.

Jika tidak tentu tema pernikahan Rasulullah saw. merupakan dalil yang dapat digunakan oleh Muslimin yang mengetahui agama dan mengenal sirah Nabinya untuk membantah tikaman-tikaman para musuh agama ini.

Mereka bermaksud menggambarkan Rasulullah saw. sebagai seorang pemburu seks yang tenggelam dalam kelezatan jasadiah, padahal tema pernikahan Rasulullah saw. ini saja sudah cukup sebagai dalil untuk membantah tuduhan tersebut.

Seorang pemburu seks tidak akan hidup bersih dan suci sampai menginjak usia 25 tahun dalam suatu lingkungan Arab Jahiliah seperti itu tanpa terbawa oleh arus kerusakan yang mengelilinginya. Seorang pemburu seks tidak akan pernah bersedia dengan seorang janda yang lebih tua darinya, kemudian hidup bersama sekian lama tanpa melirik kepada wanita-wanita lain yang juga menginginkannya, sampai melewati masa remajanya, kemudian masa tua memasuki pascatua.

Adapun pernikahannya setelah itu adalah dengan Aisyah kemudian dengan lainnya, maka masing-masing memiliki kisah tersendiri. Setiap pernikahannya memiliki hikmah dan sebab yang akan menambah keimanan seorang Muslim kepada keagungan Muhammad saw. dan kesempurnaan akhlaknya.

Tengtang hikmah dan sebabnya, yang jelas pernikahan tersebut bukan untuk memperturutkan dorongan seksual, sebab seandainya demikian, niscaya sudah dilampiaskannya pada masa-masa sebelumnya. Terlebih lagi, pada masa-masa tersebut, pemuda Muhammad saw. belum memikirkan dakwah dan permasalahannya yang dapat memalingkan dari kebutuhan nalurinya.

Kita tidak memandang perlu untuk memanjangkan pembelaan terhadap pernikahan Nabi saw. sebagaimana dilakukan oleh sebagian penulis sebab kita tidak mengaggap adanya permasalahan yang perlu dibahas kendatipun para musuh Islam berusaha mengada-adakannya.
Kemungkinan lainnya bahwa para musuh Islam tidaklah bermaksud merusak beberapa hakekat Islam kecuali hanya sekedar menyeret kamu Muslimin kepada perdebatan apologis.

&

Sembelihan dan Buruan

29 Nov

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat bahwa sembelihan yang dianggap sah adalah sembelihan orang Islam, berakal, dan dapat menyembelih, baik ia laki-laki atau perempuan. Merekapun sepakat bahwa sembelihan orang kafir adalah haram, berbeda dengan sembelihan ahlul kitab.

Para imam madzab juga sepakat bahwa menyembelih bisa dilakukan dengan menggunakan sesuatu yang dapat mengeluarkan darah dan memutuskan kerongkongan, seperti pisau, pedang, batu, dan bambu yang ditajamkan. Namun mereka berbeda pendapat tentang menyembelih dengan menggunakan gigi dan kuku.

Maliki, Syafi’i, dan Hambali: tidak sah menyembelih dengan menggunakan gigi/ kuku. Hanafi: boleh jika keduanya telah terpisah dari tubuh.

Sudah dipandang sah menyembelih apabila sudah dipotong kerongkongan dan tenggorokan binatang tersebut. Tidak wajib memotong kedua urat, melainkan hanya mustahab. Demikian pendapat Syafi’i dan Hambali. Hanafi berpendapat: wajib memotong kerongkongan dan tenggorokan serta salah satu dari pembuluh darah. Maliki: wajib memotong keempat-empatnya, yaitu kerongkongan, tenggorokan, pembuluh balik dan nadi di leher.

Tidak diharamkan jika kepala binatang dipotong hingga lepas dari tubuhnya. Demikian menurut kesepakatan imam madzab.
Ibn al-Musayyab berpendapat: hal demikian diharamkan.

Jika seseorang menyembelih binatang dari tengkuknya, dan masih ada kehidupan menurut perkiraan, maka sembelihan tersebut halal dimakan jika sudah terpotong kerongkongannya. Jika kerongkongannya tidak terpotong maka tidak boleh dimakan. Kehidupan menurut perkiraan itu dapat diketahui dari gerakan yang tampak disertai keluarnya darah. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.
Menurut Maliki dan Hambali tidak halal.

Menurut sunnah, unta disembelih dengan cara diikat kakinya. Sedangkan sapi dan kambing disembelih dengan cara dibaringkan. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab.

Boleh menyembelih binatang dengan cara memotong bagian dekat dada. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i, dan Hambali. Menurut Hanafi: makruh.
Menurut Maliki, jika kambing dipotong pada bagian dekat dadanya atau untah disembelih, padahal tidak dalam keadaan terpaksa, maka dagingnya tidak boleh dimakan. Tetapi sebagian ulama pengikutnya memakruhkannya.

Jika seseorang menyembelih binatang, lalu dimakan, kemudian didapati anak yang sudah mati dalam perutnya, maka daging anaknya halal dimakan. Demikian menurut tiga imam madzab. Menurut Hanafi: tidak halal.

Para imam madzab sepakat tentang boleh berburu dengan binatang buas yang telah dilatih, seperti anjing, macan ludil, burung elang, dan burung rajawali. Kecuali anjing hitam menurut Hambali. Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat: Tidak boleh berburu kecuali dengan anjing yang telah dilatih. Pendapat ini disepakati oleh tiga imam madzab.

Adapun yang dimaksud dengan anjing yang dilatih adalah jika dilepas untuk berburu ia mencari buruan, tetapi jika dicegah dia diam dan jika digalakkan ia menjadi galak. Apabila ia menerkam binatang buruannya dan menggenggamnya untuk diberikan tuannya, ia tidak memakan buruan itu. Anjing itu dipandang sudah terlatih jika sudah berkali-kali melakukan tugasnya dengan baik.
Malikia: tidak disyaratkan hal yang demikian itu.

Apakah disyaratkan anjing itu sudah harus berulang kali melakukan tugasnya dengan baik? Hanafi dan Hambali: jika sudah dicoba dua kali dan hasilnya baik, maka dianggap sudah terlatih. Syafi’i: cukup menurut kebiasaan bahwa anjing itu sudah terlatih. Maliki: tidak perlu demikian.
Menurut al-Hasan: cukup dipandang terlatih dengan sekali berburu saja.

Mengucapkan basmalah (tasmiyyah) ketika melepaskan binatang yang terlatih untuk berburu hukumnya sunnah dan jika tidak maka hukumnya haram. Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi: tasmiyyah merupakan syarat ketika ingat, dan jika ditinggalkan dengan sengaja maka binatang buruan itu tidak halal. Jika ditinggalkan karena lupa maka buruan itu halal.

Maliki: jika tasmiyyah ditinggalkan dengan sengaja maka binatang buruan tersebut tidak halal. Sedangkan jika ditinggalkan karena lupa maka dalam hal ini ada dua riwayat.

Hambali ada beberapa riwayat, dan yang lebih kuat adalah jika tasmiyyah ditinggalkan ketika melepas anjing, atau pada waktu melepas anak panah, maka binatang buruan itu tidak halal secara mutlak, baik ditinggalkan dengan sengaja atau lupa.

Dawud, asy-Sya’bi dan al-Tsawr mengatakan: tasmiyyah adalah syarat bolehnya memakan daging binatang. Jika ditinggalkan dengan sengaja atau tidak sengaja, maka daging binatang sembelihan atau binatang buruan tersebut tidak boleh dimakan.

Apabila anjing melukai binatang buruannya, tetapi tidak dibunuh sampai mati, lalu masih didapati tanda-tanda kehidupan menurut perkiraan kemudian mati sebelum disembelih, maka hala dagingnya untuk dimakan.
Hanafi: tidak halal.

Jika binatang buruan tersebut mati karena genggaman binatang buruannya maka halal dimakan, menurut salah satu pendapat Syafi’i yang dipandang paling shahih oleh ar-Rafi’. Demikian juga menurut Maliki.
Pendapat Syafi’i yang kedua: tidak halal. Demikian juga menurut Hambali dan pendapat Abu Yusuf serta Muhammad bin al-Hasan.
Dari Hanafi diperoleh dua riwayat, yakni seperti kedua pendapat di atas, tetapi yang paling mahsyur adalah pendapat yang pertama, yakni halal.

Jika anjing pemburu memakan binatang buruannya maka tidak halal daging binatang buruan tersebut, begitu juga binatang buruan sebelumnya. Demikian menurut Hanafi. Menurut Maliki: halal.
Syafi’i punya dua pendapat: pertama halal, seperti pendapat Maliki. Kedua tidak halal, dan inilah pendapat yang paling kuat. Demikian pula menurut Hambali.

Menurut pendapat tiga imam madzab, jika burung pemburu memakan buruannya maka daging buruannya dihukumi seperti hukum buruan anjing di atas. Hanafi: tidak haram binatang yang dimakan sebagian dagingnya oleh burung pemburu.

Jika seseorang menembak, memanah, dan menombak binatang buruan, atau melepaskan anjing pemburunya, lalu melukai binatang buruan, dan tiba-tiba hilang dari pandangannya, kemudian binatang itu ditemukan dalam keadaan sudah mati, sedangkan luka itu memungkinkan penyebab kematiannya, maka binatang tersebut boleh dimakan. Demikian menurut pendapat segolongan ulama pengikut Syafi’i karena adanya hadits shahih yang membolehkannya. Tetapi menurut pendapat yang paling shahih dari Syafi’i: tidak boleh dimakan. Demikian juga Hambali.

Hanafi berpendapat: jika setelah ditembak, dipanah atau ditombak, lalu diikuti dan ditemukan sudah mati, maka halal dimakan dagingnya. Maliki: jika ditemukannya pada hari itu juga maka halal dimakan. Sedangkan jika ditemukannya keesokan harinya maka tidak halal dagingnya.

Apabila seseorang memasang perangkap, lalu ada binatang jatuh de dalamnya dan mati, maka tidak halal dimakan dagingnya.
Hanafi: jika di dalam perangkapt tersebut terdapat benda tajam, maka halal dimakan dagingnya.

Apabila binatang jinak menjadi liar, tidak dapat ditangkap untuk disembelih, maka menyembelihnya sama dengan cara menyembelih binatang liar. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali.
Maliki: harus dipotong pada pangkal dada atau lehernya.

Apabila seseorang melempar binatang buruan, lalu binatang tersebut terbelah menjadi dua bagian, maka kedua bagian tadi halal dimakan. Demikian menurut Syafi’i dan salah satu pendapat Hambali.

Hanafi: jika kedua bagiannya sama maka masing-masing halal dimakan. Maliki: kalau bagian yang beserta kepala lebih kecil maka tidak halal dimakan, dan bagian lain pun tidak halal.

Apabila seseorang melepas anjing untuk menangkap binatang buruan, lalu ia menghentikannya, tetapi anjing itu tidak berhenti bahkan bertambah giat memburunya hingga berhasil membunuh binatang buruan tersebut, maka binatang tersebut tidak halal dimakan. Demikian menurut Syafi’i.
Hanafi dan Hambali: halal, sedangkan dari Maliki ada dua riwayat.

Apagila seseorang melempar seekor burung dan melukainya, lalu burung tersebut jatuh ke tanah, kemudian didapati sudah mati, maka halal dimakan. Sedangkan jika burung tersebut masih hidup maka tidak halal dimakan. Demikian menurut pendapat tiga madzab.
Hambali: jika buruannya sudah jatuh lari ke dalam hutan maka hilang hak kepemilikannya.

Jika seseorang memiliki binatang buruan, lalu dilepaskan, maka tidak hilang hak kepemilikannya atas binatang tersebut. Demikian nas yang tegas dalam madzab Syafi’i.

Diterangkan dalam kitab al-Hawi, bahwa jika binatang buruan dilepaskan dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, maka hilang hak kepemilikannya, sebagaimana memerdekakan budak. Sedangkan jika tidak dimaksud demikian, maka tentang hilangnya hak kepemilikan itu ada dua pendapat, seperti jika ia melepaskan unta atau kudanya. Pendapat yang paling shahih adalah tidak boleh, sebab hal itu menyerupai sawa’ib jahiliyyah [unta yang dilepaskan pada masa jahiliyah untuk nadzar tidak ditunggangi, tidak diminum air susunya, dan dibiarkan bebas pergi kemana saja hingga mati. Tetapi hak kepemilikannya tidak hilang. Inilah pendapat perama. Dan kedua: hilang kepemilikannya.

Jika ia melepaskannya seraya mengatakan: “Saya membolehkan siapa saja mengambil binatang ini.” Maka binatang itu halal dimakan orang lain. Tetapi jika tidak mengucapkannya maka orang lain tidak boleh memakannya. Pembolehannya sudah mencukupi dan tidak diwajibkan membayar bagi siapa saja yang memakannya, tetapi tidak dibolehkan untuk keperluan lain.

Apabila seseorang memburu seekor burung, lalu burung itu diletakkan disebuah sangkar, kemudian burung itu lepas dan masuk ke sangkar milik orang lain, maka tidak hilang hak kepemilikannya. Inilah pendapat yang shahih menurut Syafi’i sebagaimana tercantum dalam ar-Rawdhah.

Maliki berpendapat: jika burung tersebut tidak lama dalam sangkarnya, lalu terbang, maka hilanglah hak kepemilikannya dan menjadi milik pemilik sangkar yang dihinggapi burung tersebut. Sedangkan jika ia kembali ke sangkarnya semula maka kembalilah hak kepemilikannya.

&

Tadbir

29 Nov

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat bahwa apabila seorang tuan mengatakan kepada budaknya: “Engkau merdeka sesudah kematianku.” Maka budak itu menjadi mudabbar dan ia menjadi merdeka setelah kematian tuannya.

Para imam madzab berbeda pendapat, apakah budak mudabbar boleh dijual? Hanafi: tidak boleh dijual jika tadbir itu mutlak. Sedangkan jika ia tadbir itu bersyarat, umpamanya setelah kembali dari safar tertentu atau sembuh dari sakit tertentu, maka budak itu boleh dijual.

Maliki berkata: tidak boleh dijual ketika tuannya masih hidup. Boleh dijual setelah kematian tuannya jika tuannya mempunyai hutang. Sedangkan jika tidak mempunyai hutang dan dapat dilunasi dari sepertiga hartanya, maka ia merdeka sepenuhnya. Jika tidak dapat dilunasi dari sepertiga harta maka ia menjadi merdeka sebanyak yang dapat dilunasi dari sepertiga harta tersebut. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara tadbir yang mutlak dan tadbir yang bersyarat.
Syafi’i berpendapat: budak mudabbar boleh dijual lagi oleh tuannya secara mutlak.
Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, seperti pendapat Syafi’i. Kedua boleh dijual dengan syarat tuannya itu mempunyai hutang.

Menurut pendapat Hanafi: anak dari budak mudabbar hukumnya sama dengan hukum ibunya. Namun Hanafi membedakan antara tadbir mutlak dan tadbir bersyarat.
Maliki dan Hambali berbeda pendapat seperti pendapat Hanafi tersebut. Namun pendapat Maliki dan Hambali: tidak ada perbedaan antara tadbir mutlak dan tadbir bersyarat.

Syafi’i mempunyai dua pendapat. Pertama, seperti pendapat Maliki dan Hambali. Kedua, anak seorang budak mudabbar tidak mengikuti hukum ibunya dan tidak dihukumi sebagai mudabbar

&

Memerdekakan Budak

29 Nov

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Memerdekakan budak merupakan suatu ibadah pendekatan diri kepada Allah, yang sangat disukai. Demikian kesepakatan pendapat para imam madzab.
Apabila seseorang memerdekakan baginya dari seorang budak dan ia membayar sebagian kongsinya, dan ia seorang budak yang fakir, maka yang merdeka hanya bagiannya. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Hanafi berkata: yang merdeka hanya bagiannya, dan kongsinya boleh memilih salah satu di antara tiga perkara sebagai berikut:
1. Memerdekakan bagiannya
2. Menyuruh budak itu berusaha untuk menebus dirinya yang sebagian lagi
3. Menyuruh memberikan pertanggungan kepada kongsinya, jika kongsi itu seorang yang kaya.

Namun jika ia seorang miskin, hendaklah dipilih antara memerdekakan atau menyuruh berusaha. Budak itu tidak boleh diperintahkan untuk membayar kepada kongsinya yang memerdekakanya.

Apabila tiga orang memilih seorang budak maka yang pertama memilih separuh, orang kedua memilih seperenam, dan seorang lagi memilih sepertiga, dan yang memilih sepertiga dan seperenam memerdekakan bagiannya dalam satu masa, maka keduanya harus membayar kepada seorang lagi bagian dengan dibagi dua. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali.

Maliki berkata: masing-masing pihak membayar menurut haknya.
Menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali: apabila seseorang memerdekakan seluruh budaknya dalam keadaan sakit dan tidak dibenarkan warisnya yang lebih dari sepertiga harta, hendaklah dilakukan undian untuk melepaskan sebanyak sepertiga harta saja.

Hanafi berkata: masing-masing budak merdeka sepertiga dan diperintahkan berusaha untuk menebus dirinya.
Apabila seseorang memerdekakan seorang budaknya tanpa ditentukan, majikannya boleh mengeluarkan mana yang dikehendakinya di antara budak-budaknya. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.

Maliki dan Hambali berkata: dikeluarkan seorang melalui undian.
Apabila seseorang memerdekakan seorang budaknya, dan tak ada harta lain baginya padahal ia mempunyai hutang yang menghabiskan seluruh hartanya, maka memerdekakannya tidak sah. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Hanafi berkata: hendaklah budak itu disuruh berusaha untuk membayar harganya, dan setelah dibayar harganya ia menjadi merdeka.
Apabila seorang mengatakan kepada seorang budaknya yang berumur lebih tua darinya: “Ini anakku.” Maka dengan cara demikian budak itu tidak menjadi merdeka. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Hanafi berkata: menjadi merdeka, tetapi tidak ditetapkan keturunannya.

Apabila seseorang berkata kepada budaknya yang berumur lebih muda darinya, “Ini anakku.” Maka budak tersebut menjadi merdeka. Demikian menurut pendapat Syafi’i yang dishahihkan oleh sebagian ulama pengikutnya. Sedangkan pendapat Syafi’i yang dipilih dalam madzabnya: jika dimaksudkan sekedar memuliakan budaknya maka budak itu tidak menjadi merdeka.

Adapun menurut Hanafi, Maliki, dan Hambali: Tidak menjadikannya merdeka.
Apabila seseorang berkata: “Ia adalah untuk Allah.” Dan diniatkan untuk memerdekakannya maka budak itu menjadi merdeka. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Hanafi: tidak jadi merdeka.

Orang yang memiliki ibu bapak, anak-anak, kakek atau nenek, baik yang dekat maupun yang jauh, maka dengan dimilikinya orang itu, mereka menjadi merdeka. Demikian menurut Syafi’i.
Hanafi berkata: apabila seseorang memiliki saudara, baik laki-laki maupun perempuan, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, maka mereka menjadi merdeka disebabkan orang itu dimiliki.

&

Budak Kitabah

29 Nov

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat bahwa meminta budak agar membayar harganya dengan cara diangsur supaya merdeka dari perbudakannya jika ia mempunyai usaha, adalah sangat disukai dalam syara’. Bahkan Hambali mengatakan: jika budak itu memiliki usaha, lalu diminta oleh tuannya agar membayar harganya dengan cara diangsur, maka ia wajib memenuhi permintaan tuannya.

Sifat budak mukatabah ialah tuan meminta kepada budaknya untuk berusaha dan menebus kemerdekaan dirinya dari hasil usahanya dengan cara diangsur.
Budak yang tidak memiliki usaha tidak dimakruhkan menjadi budak mukatabah. Demikian menurut Hanafi, Maliki dan Syafi’i.
Dari Hambali diperoleh dua riwayat: pertama, makruh. Kedua tidak makruh.

Para imam madzab sepakat bahwa membuat mukatabah [perjanjian untuk memerdekakan budak dalam jangka waktu tertentu dengan pembayaran tertentu] dengan budak perempuan yang tidak mempunyai usaha adalah makruh.

Tidak diperbolehkan membuat mukatabah dengan cara membayar sekaligus, dan pembayaran itu harus dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua kali pembayaran. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan Hambali.

Hanafi dan Maliki mengatakan: Boleh dengan cara memberikan pembayaran angsuran dan boleh juga dengan pembayaran sekaligus.
Menurut Syafi’i dan Hambali: Apabila budak mempunyai uang untuk membayar, tetapi ia tidak mau membayar, maka tuannya boleh membatalkan perjanjiannya.

Hanafi berkata: jika ia mempunyai harta maka ia boleh dipaksa untuk membayarnya. Sedangkan jika tidak mempunyai harta maka ia boleh dipaksa untuk berusaha.
Maliki berkata: jika budak tidak menampakkan kelemahan dirinya dan ia mampu untuk berusaha maka ketika itu ia boleh dipaksa untuk berusaha. Wajib bagi tuan melakukan mukatabah atas budaknya yang mempunyai penghasilan. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi dan Maliki mengatakan: Tidak diwajibkan, melainkan disunahkan.

Menurut pendapat Syafi’i: tidak ditentukan kadar yang harus diberikan oleh budak yang mempunyai penghasilan untuk menebus dirinya, semuanya diserahkan pada pertimbangan tuannya.

Hambali berkata: hendaklah diberikan kepada budak mukatabah seperempat dari penghasilan yang diperoleh dari usahanya.

Budak mukatabah tidak boleh dijual lagi. Demikian menurut pendapat Hanafi, Maliki, dan Syafi’i dalam qaul jadidnya. Namun, Maliki membolehkan tuannya menjual harta berupa budak mukatabah jika ia mempunyai utang yang harus dibayar segera senilai harga budak mukatabah. Hambali membolehkan menjualnya, tetapi kitabah itu diteruskan oleh tuannya yang baru.

Apabila seseorang berkata kepada budaknya: “Aku melakukan mukatabah denganmu senilai 1000.” Maka untuk mewujudkan kemerdekaan budak tersebut harus dikatakan pula kalimat, “Jika engkau telah membayar seharga itu, maka engkau merdeka.” Demikian menurut pendapat Syafi’i.
Hanafi, Maliki dan Hambali mengatakan: Perkataan tersebut tidak perlu disebutkan.

&

Persaksian

29 Nov

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat bahwa kesaksian merupakan syarat dalam pernikahan. Adapun dalam akad-akad lainnya, seperti jual-beli, maka tidak disyaratkan adanya saksi.

Para imam madzab sepakat bahwa hakim tidak boleh mengajarkan kesaksian kepada saksi, tetapi wajib mendengarkan apasaja yang dituturkannya. Namun mereka berbeda pendapat apakah pernikahan dapat ditetapkan satu saksi laki-laki dan dua orang perempuan?
Hanafi: diterima jika terjadi pertengkaran. Maliki dan Syafi’i: tidak ditetapkan.
Dari hambali diperoleh dua riwayat, dan pendapatnya yang lebih jelas mengatakan: hal demikian tidak dapat ditetapkan.

Para imam madzab berbeda pendapat, apakah sesuatu dapat ditetapkan dengan kesaksian dua orang budak? Hanafi dan Hambali mengatakan: pernikahan adalah sah dengan persaksian dua budak. Menurut Hambali: dua orang budak dapat ditetapkan sebagai saksi.

Para ulama pengikut Syafi’i berbeda pendapat dalam masalah ini, dan pendapat yang terpilih: Kesaksian dalam jual-beli hukumnya mustahab, tidak wajib.
Diriwayatkan dari Dawud bahwa ia berpendapat: Persaksian dalam jual beli diperlukan.

Persaksian perempuan tidak dapat diterima dalam perkara hudud dan qisas. Tatapi diterima kesaksiannya dalam perkara-perkara yang tidak dilihat oleh kaum laki-laki, seperti melahirkan anak dan menyusui dan segala hal yang biasanya tidak dapat dilihat laki-laki.

Para imam madzab berbeda pendapat, apakah dalam perkara yang biasanya dilihat laki-laki, seperti pernikahan dan talak, kesaksian perempuan dapat diterima? Hanafi: dalam hal demikian, kesaksian perempuan dapat diterima, baik perempuan itu sendiri maupun bersama orang laki-laki.

Maliki berkata: dalam hal tersebut, kesaksian perempuan tidak dapat diterima. Namun menurutnya, kesaksian perempuan dapat diterima dalam perkara selain harta benda dan sesuatu yang berkaitan dengannya seperti kecacatan perempuan dan bagian-bagian yang tidak dapat dilihat selain oleh mereka. Seperti ini juga pendapat Syafi’i dan Hambali.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang jumlah saksi perempuan yang diperlukan. Hanafi dan Hambali dalam riwayatnya yang masyhur mengatakan: kesaksian seorang perempuan saja dapat diterima. Maliki dan Hambali dalam riwayat lainnya mengatakan: tidak dapat diterima, kecuali dua orang perempuan. Syafi’i berkata: tidak diterima kesaksian perempuan, kecuali empat orang perempuan.

Berdasarkan apakah penetapan kelahiran anak dalam keadaan hidup? Hanafi berkata: berdasarkan kesaksian dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan, karena hal itulah yang menjadi dasar penetapan adanya waris. Adapun dalamhal dishalatkan dan dimandikan, cukuplah disaksikan oleh seorang perempuan saja.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang kesaksian penyusuan. Hanafi berkata: kesaksian perempuan saja tidak dapat diterima dalam soal ini. Adapun yang diterima adalah kesaksian dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Maliki dan Syafi’i mengatakan: diterima kesaksian perempuan saja dalam soal ini. Tetapi dalam riwayatnya yang masyhur, Maliki berkata: harus dua orang perempuan. Dari Maliki diperoleh riwayat lainnya: dapat diterima kesaksian seorang perempuan saja, jika hal itu telah tersiar di kalangan tetangganya.
Hambali berkata: dalam hal ini, hanya kesaksian perempuan yang dapat diterima, dan cukup seorang perempuan saja.

Kesaksian anak-anak tidak dapat diterima, demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali.
Maliki berkata: dapat diterima dalam perkara pelukaan jika mereka berkumpul karena suatu sebab yang diperbolehkan, sebelum mereka bubar. Seperti yang diriwayatkan oleh Hambali. Sedangkan dalam riwayat ketiga, Hambali mengatakan: kesaksian anak-anak dapat diterima dalam semua perkara.

Orang yang telah menjalani hukuman had lantaran melakukan tuduhan zina kepada seseorang, apakah kesaksiaannya dapat diterima? Hanafi berkata: tidak diterima, meskipun ia bertobat setelah menjalani hukuman had.
Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: diterima jika ia bertobat, baik tobatnya dilakukan setelah menjalani hukuman had maupun sebelumnya. Maliki mensyaratkan, hendaknya yang dipersaksikan itu bukan masalah tuduhan zina.

Apakah dalam tobatnya disyaratkan harus telah mengamalkan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan selama satu tahun? Maliki berkata: harus terlihat perbuatan baiknya serta pendekatan dirinya kepada Allah dengan menjalankan ketaatan. Maliki juga tidak memberikan batas masa satu tahun. Hambali berkata: cukup dengan bertobat saja.

Para imam madzab berbeda pendapat mengenai sifat tobatnya. Syafi’i berkata: ia harus mengucapkan, “Menuduh zina adalah perbuatan batil yang diharamkan, dan aku tidak akan mengulangi lagi apa yang telah aku lakukan.”
Maliki dan Hambali mengatakan: harus mengakui kebohongan dirinya.

Kesaksian anak dari hasil zina dapat diterima, baik dalam masalah perzinaan maupun masalah lain. Demikian menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Maliki berkata: dalam masalah perzinaan kesaksiaannya tidak dapat diterima.

Bermain catur adalah makruh. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab.
Apakah mereka mengharamkannya? Hanafi: haram, karena jika ia sering lalai karena bermain catur maka ditolak kesaksiannya. Syafi’i berkata: tidak haram jika tidak memakai uang [berjudi] dan tidak membuat lupa akan kewajiban shalat dan bacaan dalam shalat.
Orang yang minum tuak [nabidz] yang diperselisihkan hukumnya, selama tidak memabukkan, kesaksiaanya ditolak. Sedangkan jika memabukkan maka ditolak menjadi saksi. Demikian menurut pendapat Syafi’i.

Hanafi berkata: tuak itu mubah sehingga tidak ditolak kesaksiaan peminumnya selama tidak sampai mabuk.
Maliki: tuak itu hukumnya adalah haram diminum, peminumnya dihukumi fasik dan kesaksiannya ditolak.
Dari Hambali diperoleh dua pendapat: pertama seperti pendapat Hanafi, kedua seperti pendapat Maliki.

Apakah kesaksian orang buta dapat diterima? Hanafi berkata: tidak diterima sama sekali. Maliki dan Hambali: dapat diterima jika perkaranya dapat disaksikan dengan cara mendengar, seperti masalah nasab, kematian, kepemilikan secara mutlak, wakaf, pernikahan, jual-beli, perdamaian, persewaan dan pengakuan.

Menurut Syafi’i: kesaksian orang buta dapat diterima dalam tiga perkara:
1. Dalam masalah yang sudah dikenal tengah masyarakat
2. Dalam menerjemahkan bahasa
3. Dalam masalah kematian
Syafi’i juga berpendapat bahwa kesaksian orang buta tidak dapat diterima dalam perkara yang memerlukan keakuratan sehingga pengakuan orang yang bersangkutan dapat dipercaya dan terus dihadapkan ke muka hakim. Kesaksian orang bisu tidak dapat diterima, meskipun ia mempunyai isyarat yang dapat dipahami. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Hambali. Menurut Maliki: dapat diterima jika mempunyai isyarat yang dapat dipahami.

Para ulama mengikuti madzab Syafi’i berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian mereka menyatakan dapat diterima. Inilah pendapat yang paling shahih. Sebagian lain menyatakan dapat diterima jika mempunyai isyarat yang dapat dipahami.

Kesaksian berdasarkan kemasyhuran di tengah masyarakat dapat diterima dalam lima perkara sebagai berikut:
1. Pernikahan
2. Mencampuri istri
3. Keturunan
4. Kematian
5. Otoritas peradilan (ulayah qadha)
Demikian menurut pendapat Hanafi.

Menurut pendapat yang shahih dalam madzab Syafi’i: kesaksian berdasarkan kemasyhuran di tengah masyarakat yang dapat diterima adalah dalam delapan perkara sebagai berikut:
1. Pernikahan
2. Keturunan
3. Kematian
4. Otoritas peradilan
5. Kepemilikan
6. Kemerdekaan
7. Wakaf
8. Perwalian

Sedangkan menurut pendapat Hambali: hal itu berlaku dalam sembilan perkara, yaitu delapan perkara seperti pendapat Syafi’i, dan ditambah urusan mencampuri istri.

Apakah diterima kesaksian tentang suatu barang dengan penguasaan semata-mata, seperti barang itu sudah lama dipegang oleh pemegangnya? Menurut pendapat madzab Syafi’i: hal itu diterima.

Apakah boleh kesaksian dengan semata-mata memilikinya? Dalam masalah ini, Syafi’i mempunyai dua pendapat. Pertama dari Abu Sa’id al-Isthakhri bahwa ia membolehkan kesaksian atas barang yang telah dikenal masyarakat bahwa barang tersebut adalah miliknya. Seperti ini juga pendapat Hambali. Kedua, dari Abu Ishaq al-Mawardi bahwa hal demikian tidak diperbolehkan.

Hanafi berkata: dibolehkan kesaksian dalam perkara kepemilikan dengan sebab telah dikenal dalam masyarakat bahwa barang tersebut adalah milik pemegangnya. Seperti ini juga pendapat Hambali dalam riwayat lainnya.

Maliki berkata: diterima kesaksian karena penguasaan semata meskipun dalam masa yang singkat, tetapi bukan dalam masalah kepemilikan. Jika masanya cukup lama, seperti sepuluh tahun ke atas, maka dapat diputuskan bahwa barang tersebut milik pemegangnya apabila penggugat itu ada di tempat itu, yaitu ketika pemegang menguasainya. Lain halnya, kalau orang yang memegangnya adalah kerabat penggugat atau terhambatnya gugatan lantaran takut pada kekuasaannya.

Kesaksian budak tidak dapat diterima sama sekali. Demikian menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Maliki. Sedangkan pendapat yang masyhur dalam madzab Hambali: diterima dalam masalah-masalah selain hudud dan qisas.
Persaksian yang disaksikan oleh seorang budak dalam masa perbudakannya dan dikemukakan sesudah dimerdekakan dapat diterima, demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.

Maliki berkata: jika budak tersebut telah mengemukakan kesaksiannya ketika masih dalam perbudakan dan ditolak hakim maka kesaksian yang telah ditolak tersebut tidak dapat diterima sesudah kemerdekaannya.

Kesaksian seorang kafir pada masa kekafirannya dan kesaksian seorang anak kecil pada masa kanak-kanaknya jika dikemukakan sesudah orang kafir itu masuk Islam dan anak-anak itu sudah dewasa adalah diterima. Demikian Hanafi dan Syafi’i.
Sedangkan Maliki dalam masalah ini sama dengan pendapatnya dalam masalah kesaksian budak.

Apakah kesaksian kafir dzimmi dapat diterima untuk kalangan mereka? Hanafi berkata: dapat diterima. Maliki dan syafi’i: tidak dapat diterima.
Dari Hambali diperoleh dua riwayat, yaitu seperti kedua pendapat tersebut.

Apakah kesaksian kafir dzimmi atas orang Islam dalam masalah wasiat dalam perjalanan dapat diterima jika tidak ada orang Islam yang menjadi saksi? Hanafi, Maliki, dan Syafi’i mengatakan: tidak dapat diterima. Hambali berkata: diterima dan disumpah dengan nama Allah, selain mereka memberikan kesaksian bahwa mereka tidak berkhianat, tidak mengubah kesaksian, dan benar-benar diwarisi oleh pemberi wasiat.

Para imam madzab sepakat tentang tidak sahnya memutuskan hukum berdasarkan keterangan seorang saksi dan sumpah dalam perkara di luar perkara-perkara mengenai harta dan hak-hak harta. Namun, mereka berbeda pendapat dalam masalah harta, apakah dianggap sah keputusan jika berdasarkan seorang saksi dan sumpah? Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: sah memutuskan perkara berdasarkan seorang saksi dan sumpah dalam masalah harta. Hanafi berkata: tidak sah.

Apakah boleh memutuskan perkara pemerdekaan budak berdasarkan seorang saksi dan sumpah? Hanafi, Maliki, dan Syafi’i mengatakan: tidak boleh. Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, seperti pendapat jamaah mujtahid di atas. Kedua orang yang dimerdekakan dan saksinya disumpah, lalu dibenarkan pengakuannya.

Apakah dibolehkan dalam masalah harta dan hak-haknya diputuskan berdasarkan dua orang perempuan berikut sumpah? Maliki berkata: boleh. Safi’i dan Hambali mengatakan: tidak boleh.

Apabila hakim memutuskan perkara berdasarkan seorang saksi dan sumpah, lalu saksi tersebut menarik kembali kesaksiannya, maka saksi itu dikenai denda separuh harta. Demikian menurut pendapat Syafi’i. Sedangkan Maliki dan Hambali mengatakan: ia harus membayar seluruh harta.

Apakah kesaksian seorang musuh terhadap seteruannya dapat diterima? Hanafi berkata: diterima jika permusuhan di antara mereka tidaka menjurus pada kefasikan. Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: tidak diterima secara mutlak.

Apakah dapat diterima kesaksian orang tua untuk anaknya dan kesaksian anak untuk orang tuanya? Hanafi, Maliki, dan Syafi’i mengatakan: tidak dapat diterima keduanya, baik laki-laki maupun perempuan, baik sudah jauh maupun masih dekat. Sedangkan dari Hambali diperoleh tiga riwayat. Pertama seperti pendapat ketiga imam di atas, kedua kesaksian bapak untuk anaknya tidak diterima, tetapi kesaksian anak untuk bapaknya diterima. Ketiga, diterima selama tidak menarik keuntungan, sebagaimana kebiasaan.

Sedangkan jika untuk kerugian maka kesaksian orangtua terhadap anaknya atau sebaliknya dapat diterima. Demikian menurut pendapat para ulama. Namun Syafi’i berpendapat: tidak diterima kesaksian anak terhadap orang tuanya dalam perkara hudud dan qisas, karena hal itu menyangkut perkara pewarisan.

Apakah kesaksian seseorang terhadap saudaranya atau kesaksian seseorang terhadap kawannya dapat diterima? Hanafi, Syafi’i, dan Hambali mengatakan: dapat diterima. Maliki berkata: tidak diterima.

Apakah dapat diterima kesaksian suami untuk istrinya atau sebaliknya? Hanafi, Maliki dan Hambali mengatakan: tidak diterima. Syafi’i berkata: diterima.

Apakah kesaksian orang-orang pengumbar hawa nafsu dan ahli bid’ah dapat diterima? Menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i: diterima jika ia menjauhkan diri dari berdusta, kecuali golongan khithabiyyah dari aliran Rafidhah, karena mereka membenarkan orang yang bersumpah bahwa ia mempunyai kewajiban pada si fulan begini dan begitu, lalu mereka memberikan kesaksian kepadanya.
Maliki dan Hambali mengatakan: tidak diterima secara mutlak.

Apakah kesaksian orang badui yang adil untuk orang kota dapat diterima? Hanafi dan Syafi’i mengatakan: diterima dalam segala perkara. Hambali berkata: tidak diterima secara mutlak. Maliki berkata: diterima dalam perkara pelukaan dan pembunuhan, sedangkan yang lainnya tidak.

Barangsiapa yang diwajibkan menjadi saksi maka tidak boleh mengambil bayaran. Sedangkan jika tidak wajib, ia boleh meminta bayaran kecuali menurut salah satu pendapat Syafi’i.

Kesaksian atas kesaksian diperbolehkan dalam segala hak, baik hak Allah maupun hak manusia. Demikian menurut pendapat Maliki dalam riwayatnya yang masyhur.

Hanafi berkata: diterima dalam hak manusia selain qisas, tetapi tidak diterima dalam hak Allah swt. seperti hudud. Syafi’i berkata: diterima dalam hak manusia saja. adapun dalam hak Allah, seperti had zina, minum minuman keras, dan pencurian, Syafi’i mempunyai dua pendapat, dan pendapatnya yang jelas: diterima.

Para imam madzab sepakat pendapat bahwa saksi cabang tidak diterima selama masih ada saksi utama, kecuali ada udzur yang menghalangi saksi utama, seperti sakit atau tempat tinggalnya jauh yang melebihi dari jarak diperbolehkannya qashar shalat. Namun, Hambali menyatakan: tidak diterima kesaksian dari saksi cabang kecuali sesudah kesaksian dari saksi utama.

Apakah boleh saksi cabang itu perempuan? Hanafi: boleh. Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: tidak boleh.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang jumlah saksi cabang. Hanafi, Maliki, dan Hambali mengatakan: cukup dua orang dan masing-masing menggantikan seorang di antara dua saksi utama. Syafi’i mempunyai dua pendapat dalam hal ini. Pertama, seperti pendapat ketiga imam madzab di atas, dan inilah pendapatnya yang paling shahih. Kedua, empat orang saksi cabang dan setiap dua orang menggantikan seorang saksi yang utama.

Menurut pendapat empat imam madzab dan seluruh fuqaha, apabila saksi-saksi cabang telah membersihkan, mengadilkan, atau memuji kedua saksi utama, tetapi tidak menyebut nama dan nasabnya kepada hakim, maka kesaksiannya untuk kesaksian saksi utama tidak diterima.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Jarir ath-Thabari membolehkan hal demikian itu . misalnya seseorang mengatakan: “Kami bersaksi bahwa orang itu adil. Kami telah menyaksikan kesaksiannya bahwa si fulan telah menetapkan terhadap si fulan bin fulan dengan 1000 dirham.”

Apabila dua orang saksi telah memberikan kesaksian terhadap suatu harta, lalu keduanya menarik kembali kesaksian mereka sesudah perkara diputuskan, maka mereka dibebani pembayaran. Demikian menurut pendapat Hanafi, Maliki dan qaul qadim Syafi’i.
Sedangkan dalam qal jadidnya, Syafi’i mengatakan: tidak dibebani suatu apapun.

Para imam madzab sepakat bahwa pemutusan yang telah diputuskan sebelum para saksi mencabut kesaksian mereka tidak dibatalkan lantaran adanya pencabutan kesaksian, asalkan pencabutan tersebut dilakukan sesudah putusan hakim dijatuhkan.

Apabila hakim memutuskan perkara dengan saksi fasik, lalu diketahui kefasikannya sesudah perkara diputuskan, maka keputusan tersebut tidak dibatalkan. Demikian menurut pendapat Hanafi.

Maliki dan Hanafi mengatakan: dibatalkan.
Syafi’i mempunyai dua pendapat: pertama dibatalkan. Kedua tidak dibatalkan.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang hukuman bagi saksi palsu. Hanafi berkata: tidak di-ta’zir, melainkan diumumkan kepada kaumnya bahwa ia adalah saksi palsu. Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: dikenai ta’zir serta dipertontonkan kepada kaumnya dan diberitahukan bahwa ia adalah saksi palsu. Maliki menambahkan: dipertontonkan di masjid-masjid, pasar-pasar, dan tempat-tempat keramaian.

&

Makanan

29 Nov

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Hewan ternak adalah halal, menurut para imam madzab. Daging kuda adalah halal, menurut pendapat Syafi’i, Hambali, Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan.

Maliki berpendapat: daging kuda adalah makruh dimakan. Tetapi yang paling kuat menurut pendapat madzhabnya adalah haram. Hanafi berpendapat tentang haramnya daging kuda.

Daging bighal dan himar adalah haram, menurut tiga imam madzab. Dari Maliki diperoleh riwayat, bahwa memakan daging binatang tersebut adalah makruh yang amat berat. Sedangkan para imam ahli tahqiq pengikut Maliki berpendapat: binatang tersebut haram. Al-Hasan al-Bashri menghalalkan daging bighal. Ibn Abbas ra membolehkan makan daging himar kampung.

Tiga imam madzab, yaitu Hanafi, Syaf’i dan Hambali berpendapat tentang haramnya segala daging burung yang bercakar yang dapat dipergunakan untuk menyakiti binatang lain, seperti burung rajawali dan elang. Demikian juga burung yang tidak bercakar tajam tetapi pemakan bangkai, seperti burung gagak, burung garuda dan sebangsanya. Sedangkan menurut pendapat Maliki: boleh memakan daging burung-burung tersebut secara mutlak.

Adapun daging burung selain yang disebutkan di atas hukumnya adalah mubah. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab. Semua burung yang dilarang dibunuh, seperti burung layang-layang, beo, merak,kelelawar dan burung hantu, tidak makruh memakan dagingnya. Demikian menurut kesepakatan ulama, kecuali Syafi’i yang memakruhkannya. Adapun pendapat yang paling kuat dalam madzab Syfi’i adalah mengharamkannya.

Para imam madzab juga sepakat atas keharaman daging binatang buas yang bertaring, yang dengannya ia dapat membinasakan binatang lain, seperti singa, harimau, srigala, beruang, kucing, gajah, badak, dan macan tutul. Kecuali Maliki yang membolehkan memakan daging semua binatang itu meskipun makruh.

Daging kelinci adalah halal. Demikian menurut kesepakatan empat imam madzab. Jerapah adalah halal, menurut tarjih as-Subki seorang ulama madzab Syafi’i, dalam kitabnya Fatwa al-Halabiyyah. Sedangkan pengarang kitab at-Tahbir mengharamkannya.
Kancil dan sebangsanya serta pelanduk adalah halal, menurut pendapat Syafi’i dan Hambali, juga pendapat maliki walaupun ia memakruhkan memakan dagingnya. Sedangkan menurut pendapat Hanafi adalah haram.

Biawak dan yarbu’ (sejenis tikus) adalah halal, menurut kesepakatan Maliki dan Syafi’i. Hambali membolehkan memakan daging biawak. Adapun tentang yarbu’, ia mempunyai dua riwayat.

Semua binatang yang merayap di bumi, seperti tikus adalah haram, menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Menurut Maliki: hanya makruh tidak haram.

Belalang boleh dimakan, menurut pendapat Syafi’i, meskipun sudah mati. Sedangkan menurut pendapat Maliki, belalang yang mati sendiri tidak boleh dimakan.
Daging landak adalah halal menurut Maliki dan Syafi’i. Sedangkan menurut Hanafi dan Hambali, landak adalah haram.
Menurut Maliki, halal memakan daging tikus sawah dan ular jika disembelih terlebih dahulu.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang ibn awa (sejenis srigala). Menurut pendapat Hanafi dan Hambali: haram. Ini juga pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat Maliki: makruh.

Kucing liar adalah haram, menurut Hanafi. Seperti ini juga pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi’i. Maliki berpendapat kucing liar adalah makruh. Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, mubah kedua haram.

Menurut kesepakatan para imam madzhab, hewan laut seperti ikan adalah halal. Adapun hewan laut selain ikan, menurut Hanafi adalah tidak boleh dimakan kecuali ikan dan sejenisnya. Maliki berpendapat: boleh memakan ikan dan selainnya dari hewan laut, seperti kepiting, katak, anjing laut dan babi laut, meskipun tetap makruh memakan daging babi laut.

Hambali berpendapat: semua binatang yang berada di dalam laut boleh dimakan, kecuali buaya, katak dan kawsaj. Menurutnya selain tiga binatang tadi, perlu disembelih terlebih dahulu, seperti babi laut, anjing laut dan ikan duyung.

Para ulama pengikut Syafi’i berbeda pendapat bahwa semua binatang laut selain ikan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa semua binatang laut boleh dimakan. Inilah pendapat paling shahih menurut mereka. Di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa tidak boleh dimakan kecuali sejenis ikan saja. juga sebagian lainnya berpendapat bahwa anjing laut, babi laut, ular laut, tikus air, lipan dan segala binatang air yang ada bandingannya di darat tidak boleh dimakan. Tetapi pendapat yang paling kuat yang dijadikan pegangan para ulama Syafi’i, adalah bahwa segala binatang laut adalah halal,kecuali buaya, katak, ular, kepiting, penyu dan kura-kura.

Binatang yang dibiasakan memakan makanan najis, seperti unta, lembu, kambing dan ayam dagingnya menjadi makruh untuk dimakan. Demikian menurut pendapat tiga imam madzab. Hambali bependapat: haram makan dagingnya, air susunya dan telurnya.

Binatang yang biasanya memakan najis tersebut apabila dikarantina terlebih dahulu, lalu diberikan makanan yang bersih sehingga hilang bau najisnya, maka menjadi hilang kemakruhannya untuk dimakan dagingnya. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab.

Dikatakan oleh para ulama ahli fiqih bahwa lama masa karantina untuk unta dan sapi adalah empat puluh hari, untuk kambing tujuh hari, untuk ayam tiga hari.

Orang yang terpaksa, boleh memakan bangkai. Demikian menurut ijma’ para imam madzab. Tetapi pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi’i adalah bahwa yang demikian hukumnya tidak wajib. Apakah ia boleh memakannya sampai kenyang ataukah sekadar yang perlu demi keselamatan?

Syafi’i mempunyai dua pendapat, pertama, tidak boleh sampai kenyang. Begitu juga pendapat Hanafi. Kedua, boleh sampai kenyang, begitu juga pendapat Maliki dalam salah satu riwayat Hambali. Pendapat yang kuat dalam madzab Syafi’i adalah halal memakannya sekedar untuk mempertahankan hidup, jika tidak ada harapan akan segera mendapatkan makanan lain.

Apabila seseorang yang terpaksa menemukan bangkai dan makanan orang lain, sedang ia sendiri tidak mempunyai makanan, menurut Maliki, kebanyakan ulama pengikut Syafi’i, dan segolongan ulama pengikut Hanafi: boleh memakannya dengan syarat akan diganti.
Menurut Hambali, segolongan ulama dari Hanafi dan sebagian para ulama Syafi’i: boleh makan bangkai.

Apabila tikus mati dalam minyak, seperti minyak samin, minyak zaitun, dan minyak lainnya, dan jika minyak tersebut beku, hendaknya tikus dan minyak yang berada di sekitar dibuang, dan sisanya dianggap suci, boleh dimakan. Tetapi jika minyak tersebut cair maka semuanya menjadi najis.
Apakah minyak yang najis tersebut bisa disucikan? Menurut Syafi’i yang paling shahih adalah tidak dapat disucikan. Sedangkan menurut pendapat lainnya, minyak tersebut dapat disucikan dengan cara disiram air.

Apabila kita berpendapat bahwa minyak tersebut tidak dapat disucikan, apakah minyak tersebut boleh dijadikan minyak lampu? Syafi’i punya dua pendapat, dan yang paling shahih menyatakan boleh. Demikian pula Hanafi dan Maliki.
An-Nawawi dalam kitab al-Majmu Syarh al-Muhadzdzah pada bab jual beli menyatakan bahwa Syafi’i telah memutuskan hukumnya demikian.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang hukum binatang berlemak yang diharamkan oleh Allah atas orang-orang Yahudi. Apakah orang Yahudi menyembelih binatang yang berlemak tersebut, apakah orang Islam boleh memakannya?

Hanafi dan Syafi’i: boleh orang Islam memakannya, asalkan binatangnya halal dimakan. Maliki punya dua riwayat: pertama, makruh. Kedua haram. Hambali juga punya dua riwayat seperti Maliki. Segolongan ulama pengikut Hambali memilih pendapat yang mengharamkan. Sedangkan al-Khurqi memilih pendapat yang memakruhkan.

Apakah boleh meminum khamr dalam keadaan terpaksa karena kehausan atau untuk obat? Hanafi: boleh. Para ulama Syafi’i punya dua pendapat: pertama, yang dianggap paling shahih oleh para ahli tahqiq Syafi’i: dilarang secara mutlak, baik bagi orang yang kehausan maupun untuk obat. Kedua boleh secara mutlak. Ketiga, boleh bagi orang yang kehausan, tetapi tidak boleh untuk obat. Pendapat ini dipilih oleh segolongan ulama.

Seseorang yang melewati kebun orang lain yang tidak berpagar, dan di dalamnya terdapat buah-buahan yang ranum, maka ia tidak boleh memakannya kecuali mendapat izin dari pemiliknya jika tidak terpaksa. Sedangkan jika terpaksa, ia boleh memakannya dengan syarat akan menggantinya. Demikian menurut pendapat Hanafi, Maliki dan Syafi’i.

Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, boleh ia memakannya, meskipun tidak dalam keadaan darurat dan tidak akan menggantinya. Kedua boleh dimakan jika terpaksa dan tidak diwajibkan menggantinya.
Adapun jika kebun itu dipagari, maka tidak boleh memakannya kecuali mendapat izin dari pemiliknya. Demikian menurut ijmak para imam madzab.

Apabila seorang Muslim meminta jamuan kepada Muslim lainnya di suatu desa yang tidak mempunyai pasar, dan ia memintanya itu tidak dalam keadaan terpaksa, maka tidak wajib bagi Muslim lain untuk menjamunya. Akan tetapi, menjamunya adalah mustahab. Demikian menurut pendapat tiga imam madzab.
Menurut Hambali: wajib menjamunya, dan kewajiban itu hanya untuk satu malam. Tetapi disunahkan menjamunya sampai tiga hari. Jika tidak melaksanakan yang wajib tersebut, maka hal itu menjadi utang atasnya.

&

Hadits Arbain ke 21: Istiqamah dan Iman

29 Nov

Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu

Hadits Arbain nomor 21 (dua puluh satu)

Abu Amr (ada yang menyebutnya Abu Amrah) Sufyan binn Abdillah ra. berkata kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, katakan kepadaku perkataan tentang Islam yang tidak akan kutanyakan kepada selain engkau.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aamantu billaaHi [aku beriman kepada Allah].’ Kemudian istiqamahlah.” (HR Muslim)

URGENSI HADITS

Hadits ini termasuk Jawami’ul Kalim yang hanya dimiliki oleh Nabi saw. meskipun hanya dua kalimat yaitu iman dan istiqamah, namun dapat menerangkan kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang seluruh dasar Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Islam pada dasarnya adalah tauhid dan ketaatan. Tauhid terwujud dengan keimanan kepada Allah, sedangkan ketaatan terwujud dengan istiqamah, yaitu merealisasikan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan, yang meliputi pekerjaan hati dan anggota badan. Allah berfirman: “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (Fushilat: 6)

KANDUNGAN HADITS

1. Pengertian Istiqamah.
Rasulullah saw. bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah swt, lalu istiqamahlah” dan riwayat lain: “Katanlah, Tuhanku adalah Allah lalu istiqamahlah.” Adalah diambil dari firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa bersedih; dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushilat: 30) juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada [pula] berduka cita.” (al-Ahqaf: 13)

Dalam menafsirkan kalimat: “tsummas taqaamuu”, Abu Bakar ra. berkata: “Tiada menyekutukan Allah sedikitpun.” Juga berkata: “Kemudian mereka tetap teguh bahwa Allah adalah Rabb mereka.”

Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Khaththab ra. membaca ayat ini di atas mimbar lalu berkata: “Istiqamahlah untuk menaatinya dan janganlah berbolak-balik seperti musang.”

Semua pendapat ini berakhir ke satu muara, yaitu istiqamah dalam mentauhidkan Allah swt. secara sempurna. Al-Qusyairy berkata: “Istiqamah tingkat sempurnanya suatu perkara. Dengan adanya istiqamah, akan tercipta kebaikan. Dan barangsiapa yang tidak memiliki sikap istiqamah, maka semua usaha yang dilakukannya akan lenyap.”
Al-Wasithy berkata: “Istiqamah adalah etika yang menjadikan sempurnanya berbagai kebaikan.”
Ibnu Rajab berkata: “Istiqamah adalah menempuh jalan yang lurus, agama yang benar, tanpa berpaling ke kanan atau ke kiri. Mencakup semua ketaatan, yang dhahir dan yang batin. Juga mencakup semua larangan. Sehingga pesan ini mencakup semua kebaikan.”

2. Pasti terdapat kekuarangan.
Istiqamah adalah tingkatan tertinggi dalam kesempurnaan pengetahuan dan perbuatan, kebersihan hati yang tercermin dalam ucapan dan perbuatan, dan kebersihan aqidah dari segala bid’ah dan kesesatan. Karenanya manusia tidak akan bisa mencapai sifat istiqamah secara sempurna. Pasti terdapat kekurangan. Ini diisyaratkan dalam firman Allah: “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (Fushishilat: 6)
Perintah untuk memohon ampun dalam ayat ini, karena adanya kekurangan. Nabi saw. bersabda: “Istiqamahlah kalian semua, dan kalian tidak akan mampu.” (HR Imam Ahmad dan Muslim)
Beliau juga bersabda: “Berusahalah untuk senantiasa benar dan mendekatinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Istiqamah Hati
Pada dasarnya, istiqamah adalah istiqamah hati terhadap tauhid. Maka apabila hati telah istiqamah pada ma’rifatullah, rasa takut kepada-Nya, mengagungkan dan mencintai-Nya, berdoa kepada-Nya, dan tawakkal sepenuhnya kepada-Nya, niscaya seluruh anggota badan akan taat kepada Allah swt. Karena hati adalah raja dan anggota badan adalah prajuritnya. Jika rajanya berlaku benar, maka prajuritnya akan berlaku benar.

Rasulullah saw. bersabda: “Ketahuilah bahwa di dalam badan terdapat segumpal darah. Jika ia baik maka semua anggota badan akan baik. Jik ia rusak, maka semua anggota badan akan rusak. Segumpal darah itu adalah hati.”

4. Istiqamah lisan.
Setelah hati, yang perlu diperhatikan dalam istiqamah adalah lisan [ucapan]. Karena ucapan merupakan penerjemah bagi hati. Hal ini ditegaskan oleh hadits Nabi saw. bahwasannya seorang shahabat bertanya kepada Rasulullahs saw: “Ya Rasulallah, apa yang perlu saya takuti?” Mendengar pertanyaan ini Rasulullah saw. lalu memegang mulutnya. (HR Tirmidzi, seraya berkata: “Hadits ini hasan shahih.”)

Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Tidaklah benar iman seseorang hingga hatinya menjadi benar. Dan tidaklah benar hati seseorang hingga benar lisannya. (HR Imam Ahmad dan Anas ra.)

“Jika anak Adam memasuki harinya, pagi-pagi, maka semua anggota badan mengingatkan lisan dan berkata: ‘Bertakwalah kamu kepada Allah karena kami sangat bergantung kepadamu. Jika kamu istiqamah, kami pun istiqamah. Jika kamu berpaling kami pun berpaling.” (HR Tirmidzi dan Abu Sa’id Al Khudzri)

5. Manfaat istiqamah
Istiqamah adalah keteguhan dan kemenangan, kejantanan dan keberuntungan di medan pertempuran antara ketaatan dan hawa nafsu. Karena itu malaikat layak turun kepada orang-orang yang istiqamah, mengusir segala ketakutan dan keresahan mereka, memberi kabar gembira dengan surga dan menegaskan bahwa mereka [malaikat] senantiasa mendampingi mereka baik di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah.’ Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan], ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

6. Urgensi Istiqamah
Satu hal yang mengindikasikan bahwa istiqamah sangat urgen ialah Rasulullah saw. diperintahkan oleh Allah untuk tetap istiqamah: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (Huud: 112)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Tidak ada satu ayatpun di dalam al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah yang lebih berat baginya dari ayat ini.”
Ketika itu para shahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: “Mengapa engkau cepat beruban ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Itu karena ayat-ayat pada surat Huud.”

Hasan ra. berkata: “Ketika turun ayat ini, Rasulullah saw. sangat serius dan tidak pernah terlihat tertawa.”
Al-Qusyairi menyebutkan bahwa salah seorang shahabat bermimpi bertemu Rasulullah saw. ia berkata kepada beliau: “Ya Rasulallah, engkau bersabda, bahwa ubanmu itu disebabkan oleh surat Huud. Bagian manakah?” Beliau menjawab: “Firman Allah: ‘Maka istiqamahlah, sebagaimana diperintahkan kepadamu.’”

7. Hadits ini memerintahkan untuk istiqamah dalam masalah tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah swt.

8. Hadits ini merupakan bukti keinginan yang kuat dari para shahabat untuk mempelajari agamanya dan menjaga keimanannya.

&

Hadits Arbain ke 40: Mengambil Dunia untuk Keselamatan di Akhirat

29 Nov

Hadits Arbain ke 40; DR.Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu

Hadits Arbain nomor 40 (Keempat puluh)

Ibnu ‘Umar ra. berkata, Rasulullah saw. memegang pundakku seraya berkata: “Dia dunia ini, jadilah kamu seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar berkata, ‘Jika kamu di soren hari, jangan menunggu pagi hari; dan jika berada di pagi hari jangan menunggu sore hari. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupnya sebelum kamu mati.” (HR Bukhari)

URGENSI HADITS

Hadits ini mempunyai nilai dan manfaat yang sangat besar. Mencakup berbagai macam kebaikan dan nasehat. Sebagai pijakan bagi seorang muslim untuk tidak terlena dengan dunia. Karena seorang muslim tidak sepatutnya menjadikan dunia sebagai tempat tinggal abadi, tidak bersikap tamak dan berlebih-lebihan. Namun hanya sebatas kebutuhan. Itu pun sebagai bekal perjalanan menuju akhirat.

KANDUNGAN HADITS

1. Rasulullah saw. adalah seorang Murabbi
Rasulullah saw. adalah pengajar dan murabbi (pendidik) bagi para shahabatnya. Bahkan bisa disebut pakar pendidikan. Karena dalam mendidik para shahabat, beliau telah memakai berbagai sistem dan metode yang dipakai oleh praktisi pendidikan dewasa ini.

Beliau memanfaatkan moment-moment yang ada, menggunakan berbagai ilustrasi, mengajarkan sesuai kebutuhan, dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat intelektual masyarakat. Semua itu dilakukan dengan keteladanan dan kesabaran yang tinggi. Dalam hadits ini misalnya Rasulullah saw. memegang pundah Abdullah bin Umar ra. agar lebih perhatian terhadap apa yang akan disampaikannya.

Mengenai metode pengajaran Nabi ini, Ibnu Hajar al-Haitami berkata: “Salah satu bentuk metode tersebut adalah pendidik menyentuh salah satu anggota tubuh anak didik, ketika menyampaikan suatu ilmu. Hal ini juga pernah dialami oleh Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Rasulullah telah mengajarkan kepadaku cara bertasyahud, sambil memegang telapak tanganku.”

Hikmah dari metode ini adalah lahirnya perasaan dekat dan akan lebih perhatian. Sehingga akan senantiasa ingat. Karena hampir mustahil kejadian seperti ini akan dilupakan begitu saja. terlebih hal semacam itu biasanya tidak dilakukan kecuali kepada orang yang disayangi. Dengan demikian, apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. juga merupakan tanda bahwa beliau menyayangi Ibnu Umar ra. dan Ibnu Mas’ud ra.” (Fathul Mubin Li Syarhil Arba’in, hal 276).

2. Dunia akan sirna dan akhirat kekal abadi.
Manusia hidup di dunia sesuai kehendak Allah swt. Suatu hari nanti ia pasti mati.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imraan: 185)
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati [pula].” (az-Zumar: 30)
Namun demikian tak ada seorangpun yang mengetahui kapan ajalnya tiba. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui [dengan pasti] apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Berapapun panjangnya usia seseorang, dunia tetap akan berakhir baginya. Ini adalah realita nyata yang bisa kita saksikan. Setelah kematian, setiap manusia mau tidak mau akan merasakan kehidupan yang kekal abadi, itulah kehidupan akhirat. Setelah Allah membangkitkan manusia dari kubur dan memperhitungkan seluruh perbuatan yang telah dilakukan di dunia, lalu memutuskan tempatnya, di surga yang luasnya seluas langit dan bumi atau di neraka yang bara-nya berupa manusia dan batu.

Mukmin yang berakal tidak akan tertipu degan dunia, ia mengangap dunia hanya sebagai ladang untuk menyemai benih-benih amal shalih aga ia bisa memetik buahnya di akhirat kelak. Dunia hanya sebagai bekal agar bisa selamat melewati shirath yang berada di neraka jahanam.

Hakekat ini sudah dipesankan oleh semua nabi. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan tentang orang yang beriman dari keluarga Fir’aun: “Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan [sementara] dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Ghafir: 39)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan dunia bagiku adalah ibarat seorang musafir yang istirahat sejenak di bahwa sebuah pohon lalu meneruskan perjalanannya.” (HR Muslim)

3. Dunia Hanyalah Jembatan yang Menghubungkan ke Akhirat.
Seorang mukmin menjalani hidup di dunia ini hanyalah bagaikan orang asing atau seseorang yang menyeberang jalan. Ia tidak menetap di dunia, terlebih disibukkan atau tertipu dengan gemerlap kemewahannya. Baginya, dunia hanyalah tempat untuk sekedar lewat dan bukan tempat tinggal yang abadi.
Firman Allah: “Kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imraan: 185)

Dengan begitu, seorang mukmin akan senantiasa merasa bahwa ia orang asing yang hanya tinggal sementara, atau orang yang menyeberangi jalan. Ia senantiasa merindukan tempat asalnya, yaitu di sisi Allah swt. Maka ia tidak akan merasakan ketenteraman sejati tinggal di dunia meskipun dikaruniai usia panjang. Ia tidak membangun rumah yang megah dan menumpuk perabotan yang mewah. Ia merasa cukup dengan apa yang didapat. Itupun untuk bekal di tempat tinggal yang sebenarnya. Karena ia tahu persis bahwa di sanalah ia akan tinggal selama-lamanya. Demikian seharusnya sikap seorang mukmin terhadap dunia. Karena dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi. Dia hanyalah sepenggal kehidupan yang singkat, jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat.

Firman Allah: “Padahal kenikmatan hidup di dunia [dibandingkan dengan kehidupan] di akhirat hanyalah sedikit.”(at-Taubah: 38)
“Dan Sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (al-Mukmin: 39)
Hasan Bashri berkata: “Seorang mukmin ibarat orang asing. Tidak merasa sedih dengan sedikitnya kekayaan di dunia, dan tidak berebut untuk mendapatkannya. Ia sibuk dengan urusannya, ketika orang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.”
Ibnu Rajab berkata: “Ketika Allah menciptakan Adam as. ia dan istrinya ditempatkan di surga. Setelah itu keduanya dikeluarkan, dan dijanjikan untuk kembali lagi beserta keturunannya yang shalih. Seorang mukmin tentu akan merindukan tanah airnya. Dan cinta tanah air adalah bagian dari iman.”

4. Nasehat Ibnu Umar
Abdullah bin Umar ra. menerima nasehat dari Rasulullah saw. dengan sepenuh hati dan fikiran, maka ia adalah murid teladan yang kemudian menjadi pemancar cahaya hidayah. Ia menyerukan untuk bersikap zuhud di dunia. Jika di malam hari, seseorang merasa seakan umurnya tidak sampai esok hari. Demikian juga sebaliknya. Bahkan menyangka bahwa ajalnya lebih dekat dari itu.
Ibnu ‘Abbas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk dan hidup sebelum mati.” (HR Hakim)

5. Setiap muslim hendaklah segera melakukan kebaikan, banyak melakukan ketaatan dan berbagai kebaikan lainnya. Juga hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu dengan menunda-nunda pekerjaan, karena kita tidak tahu kapan ajal itu akan tiba.

6. Bagi setiap muslim hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan yang dimilikinya sebelum terlambat.

7. Hadits di atas merupakan dorongan untuk bersikap zuhud terhadap dunia. Yang dimaksud zuhud di sini bukanlah meninggalkan usaha, akan tetapi mewaspadai dunia agar tidak melupakan akhirat.

8. Seorang muslim adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih, memperbanyak kebaikan, di samping itu ia juga senantiasa takut terhadap azab dari Allah swt. atau seperti kondisi seseorang yang sedang menempuh perjalanan. Ia senantiasa bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Juga sangat ketakutan kalau-kalau tersesat atau tidak bisa meneruskan perjalanan, sehingga tidak bisa sampai tujuan.

9. Waspada terhadap orang-orang yang berperilaku buruk. Mereka ini ibarat perampok yang senantiasa menghalangi langkah orang-orang yang menempuh perjalanan, agar tidak bisa sampai ke tempat tujuan.

10. Perbuatan yang bersifat duniawi wajib dilakukan, jika dalam rangka mencukupi kebutuhan jiwa dan mendapatkan berbagai manfaat. Bagi seorang muslim, semua itu akan dijadikan jembatan menuju akhirat.

11. Hadits ini mendorong kita untuk bersikap proporsional antara dunia dan akhirat.

&