Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hasyr (5)

6 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr (Pengusiran)
Surah Madaniyyah; surah ke 59: 24 ayat

Mengenai firman-Nya: wa laa yajiduuna fii shuduuriHim haajatam (“Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka.”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni kedengkian.” Mimmaa uutuu (“terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka.”) Qatadah mengatakan: “Yakni atas apa yang telah diberikan kepada saudara-saudara mereka.” Demikian pula dikemukakan oleh Ibnu Zaid. Dan di antara hadits yang dijadikan dasar pengertian tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, dari Anas, ia berkata: “Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: ‘Akan muncul kepada kalian sekarang ini seorang dari penghuni surga.’ Kemudian muncullah seorang dari kaum Anshar, sedang jenggotnya masih basah dari bekas wudlunya seraya menjinjing sedalnya dengan tangan kirinya. Dan pada keesokan harinya Rasulullah saw. mengucapkan hal yang sama, lalu orang tersebut muncul kembali seperti pada kali yang pertama. dan pada hari ketiga Rasulullah saw. mengucapkan hal yang sama juga, lalu orang itupun muncul dalam keadaan seperti penampilannya yang pertama. setelah Rasulullah saw. berdiri, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash mengikuti orang itu. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: ‘Sesungguhnya aku marah kepada ayahku dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Kalau saja engkau berkenan memberikan tempat tinggal kepadaku sampai berlalu tiga hari itu.’ Orang itu menjawab: ‘Baiklah.’”

Anas mengatakan: Abdullah bin ‘Amr memberitahukan bahwa ia menginap bersama orang itu selama tiga malam. Selama itu ia tidak pernah melihat orang itu bangun malam sedikitpun, namun jika terbangun pada malam hari dan tidak bisa tidur ia senantiasa berdzikir kepada Allah dan bertakbir sehingga ia bangun untuk shalat shubuh. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan. Setelah tiga malam itu berlalu dan hampir saja aku menganggap remeh perbuatannya, kukatakan: ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara diriku dan ayahku tidak ada rasa marah ataupun putus hubungan, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda untukmu tiga kali: Akan muncul kepada kalian sekarang ini seorang penghuni surga. Akan tetapi yang muncul adalah engkau selama tiga kali itu. Dan aku ingin tinggal di tempatmu agar aku dapat melihat amal perbuatanmu sehingga aku dapat menirunya. Tetapi aku tidak melihatmu melakukan amal perbuatan yang besar. Lalu apa yang mengantarkanmu sampai pada apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw.?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada, selain apa yang telah engkau saksikan.’ Ketika aku pergi, ia pun memanggilku dan berkata: ‘Tidak ada kecuali apa yang telah engkau saksikan, hanya saja aku tidak pernah mendapatkan di dalam diriku rasa ingin menipu terhadap kaum muslimin, dan aku tidak merasa dengki kepada seorangpun atas kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya.’ ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: ‘Inilah yang telah mengantarkan dirimu pada tingkat puncak, dan itulah yang sulit dicapai.’”

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam kitab al-Yaum wal Lailah, dari Suwaid bin Nashr, dari Ibnul Mubarak, dari Ma’mar. Dan sanad hadits tersebut shahih menurut persyaratan ash-Shahihain.

Dan firman Allah: wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusiHim walau kaana biHim khashaashatun (“Dan mereka mengutamakan [orang-orang Muhajirin] atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan.”) maksudnya, mereka lebih mendahulukan orang-orang yang membutuhkan daripada kebutuhan diri mereka sendiri. Dan mereka memulia dengan orang lain sebelum diri mereka, meskipun mereka sendiri membutuhkannya. Di dalam kitab ash-Shahihain telah ditegaskan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik shadaqah adalah usaha [jerih payah] orang yang miskin.”

Maqam [kedudukan] ini lebih tinggi daripada keadaan orang-orang yang disifati Allah Ta’ala melalui firman-Nya: wa yuth’imuunath tha’aama ‘alaa hubbiHi (“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insaan: 8)
Dan firman-Nya: wa aatal maala ‘alaa hubbiHii (“Dan memberikan harta yang dicintainya.”)(al-Baqarah: 177).

Karena itu mereka telah menginfakkan dari harta mereka apa yang mereka sukai dan mungkin mereka tidak memerlukan atau sangat membutuhkannya. Adapun orang-orang tadi, mereka lebih mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri sekalipun mereka sangat memerlukannya. Pada maqam inilah, Abu Bakar ash-Shiddiq ra. menyedekahkan seluruh hartanya sehingga Rasulullah saw. bersabda: “Apakah engkau tidak sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab: “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” (HR Tirmidzi).

Demikian pula air yang disuguhkan kepada ‘Ikrimah dan para shahabatnya pada peristiwa Yarmurk. Dimana masing-masing dari mereka menyuruh untuk menyerahkan kepada shahabatnya, sedang dia sendiri dalam keadaan luka berat dan sangat membutuhkan air tersebut. Kemudian air itu diserahkan kepada orang ketiga. Hingga belum sampai pada orang ketiga itu, mereka [orang-orang sebelumnya] telah meninggal dunia sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang meminumnya. Semoga Allah meridlai mereka dan menjadikan mereka ridla.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa seseorang mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah, aku sedang dalam kesulitan.” Lalu Rasulullah saw. mengutus kepada istri-istri beliau, namun mereka tidak mempunyai apa-apa. Rasulullah saw. bersabda: “Tidakkah ada seseorang yang dapat menjamu orang ini pada malam ini? Semoga Allah merahmatinya.” Kemudian salah seorang dari kaum Anshar berdiri dan berkata: “Aku ya Rasulallah.” Diapun pergi kepada keluarganya lalu berkata kepada istrinya: “Ini adalah tamu Rasulullah saw. Jangan engkau sembunyikan makanan apapun untuknya.” Istrinya menjawab: “Demi Allah, aku tidak mempunyai apa-apa kecuali makanan untuk anak-anak.” Selanjutnya ia berkata: “Kemarilah, matikan lampu, tidak mengapa kita tidak makan pada malam ini.” Istrinya pun mematuhi. Pada pagi hari laki-laki itu datang menghadap Rasulullah saw., beliau bersabda: “Allah kagum –tertawa- atas perbuatan si fulan dan fulanah.” Maka Allah menurunkan ayat: wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusiHim walau kaana biHim khashaashatun (“Dan mereka mengutamakan [orang-orang Muhajirin] atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan [apa yang mereka berikan itu].”)
Hadits ini diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dalam bab yang lain, juga Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i. Dan meurut riwayat Muslim, nama orang Anshar itu adalah Abu Thalhah ra.

Bersambung ke bagian 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: