Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hasyr (9)

6 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr (Pengusiran)
Surah Madaniyyah; surah ke 59: 24 ayat

Dan firman Allah: wal tandhur nafsum maa qaddamat lighad (“dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,”) maksudnya hisablah diri kalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal shalih untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kalian. wattaqullaaHa (“dan bertakwalah kepada Allah”) merupakan penegasan kedua. innallaaHa khabiirum bimaa ta’maluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mengetahui seluruh perbuatan kalian dan keadaan kalian. Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya, baik perkara kecil maupun besar.

Dan firman Allah Ta’ala: walaa takuunuu kalladziina nasullaaHa fa ansaaHum anfusaHum (“dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.”) yakni janganlah kalian lupa berdzikir kepada Allah sehingga Allah pun menjadikan kalian lupa berbuat untuk kepentingan kalian sendiri yang bermanfaat bagi kalian di akhirat kelak, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: ulaa-ika Humul faasiquun (“Mereka itulah orang-orang yang fasik.”) yakni orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang binasa pada hari kiamat, dan merugi pada hari pembalasan kelak. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalikanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munaafiquun: 9).

Firman-Nya lebih lanjut: laa yastawii ash-haabunnaari wa ash-haabul jannaH (“Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga.”) maksudnya para penghuni surga dan penghuni neraka itu tidak akan sama di hadapan hukum Allah pada hari kiamat kelak. Dan dalam ayat-ayat lain terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memuliakan orang-orang yang baik dan menghinakan orang-orang yang jahat. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: ash-haabul jannati Humul faa-izuun (“Para penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”) yakni orang-orang yang selamat dan terbebas dari adzab Allah swt.

tulisan arab alquran surat al hasyr ayat 21-24“21. kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. 22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 23. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. 24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Hasyr: 21-24)

Dalam firman-Nya ini, Allah mengagungkan perkara al-Qur’an dan menjelaskan kedudukannya yang tinggi. Karena itu seyogyanya seluruh hati manusia tunduk kepadanya dan tidak terpecah belah mendengarnya, karena di dalamnya terdapat janji yang benar dan ancaman yang keras: lau anzalnaa Haadzal qur-aana ‘alaa jabalil lara-aitaHuu khaasyi’am mushaddi’am min khsy-yatillaaH (“Dan sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.”)

Yakni jika gunung yang perkasa dan keras, seandainya ia memahami makna al-Qur’an ini, lalu merenungkannya, niscaya ia akan tunduk terpecah belah karena rasa takut kepada Allah. Lalu apakah patut bagi kalian, wahai sekalian umat manusia, bila hati kalian tidak bersikap lunak, tunduk dan patuh karena rasa takut kepada Allah, padahal kalian dapat memahami perintah Allah dan merenungkan Kitab-Nya? oleh karena itu Allah berfirman: wa tilkal amtsaalu nadl-ribuHaa linnaasi la’allaHum yatafakkaruun (“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”) dengan demikian, Allah memerintahkan umat manusia jika turun al-Qur’an kepada mereka supaya mereka mengambilnya dengan rasa takut yang mendalam lagi penuh ketundukan.

Di dalam hadits mutawathir telah ditegaskan, bahwa Rasulullah saw. dibuatkan sebuah mimbar. Sebelumnya ketika berkhutbah beliau berdiri di sisi batang kurma yang ada di dalam masjid. Tatkala mimbar itu pertama kali dipasang, datanglah beliau untuk berkhutbah lalu melewati batang pohon kurma menuju mimbar. Pada saat itu batang kurma tersebut merintih seperti anak kecil, dan berhenti setelah mendengar dzikir dan wahyu di sisinya.
Menurut sebagian riwayat hadits, al-Hasan al-Bashri berkata setelah mengutip hadits ini: “Maka kalian lebih berhak untuk merindukan Rasulullah saw. daripada batang kurma ini.”

Demikian pula ayat suci ini, seandainya gunung-gunung yang tuli itu mendengar dan memahami firman Allah Ta’ala, pasti akan tunduk dan terpecah belah karena takut kepada-Nya. Lalu bagaimana dengan kalian, padahal kalian telah mendengar dan memahami firman-firman-Nya? Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Padahal di antara batu-batuan itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah.” (al-Baqarah: 74).

Selanjutnya firman Allah: HuwallaaHulladzii laa ilaaHa illaa Huwa ‘aalimul ghaibi wasy syaHaadati Huwar rahmaanur rahiim (“Dialah Allah yang tidak ada ilah [yang haq] selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”) Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada ilah yang haq selain Dia, karena itu tidak ada Rabb melainkan Dia semata, dan tidak ada sembahan bagi alam semesta alam kecuali Dia. segala sembahan selain Dia adalah bathil. Dan bahwasannya Dia Mahamengetahui segala yang ghaib dan yang tampak. Artinya, Dia mengetahui seluruh ciptaan ini baik yang tampak oleh pandangan kita maupun yang tidak tampak. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya baik di muka bumi ini maupun di langit, kecil maupun besar, bahkan semut kecil yang berada di kegelapan sekalipun.

Bersambung ke bagian 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: