Arsip | 11.35

Agama adalah Nasehat

11 Nov

Hadits Arbain ke 7
Al-Wafi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 7 (Ketujuh)Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dary ra. berkata, Nabi saw. bersabda: “Agama itu nasehat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untukk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum muslimin.” (HR Muslim)

URGENSI HADITS

Hadist ini merupakan ucapan yang singkat dan padat, yang hanya dimiliki oleh Nabi saw. Ucapan yang singkat namun mengandung berbagai nilai dan manfaat penting. Hingga tampak semua hukum syara’, baik ushul maupun furu’ terdapat padanya. Bahkan satu kalimat saja, “wa likitabiHi” sudah mencakup semuanya. Karena kitab Allah mencakup seluruh permasalahan agama, baik ushul maupun furu’, perbuatan maupun keyakinan. Allah swt. berfirman: “Tidak Aku tinggalkan sedikitpun dalam kitab ini.” (al-An’am: 38) karenanya ada ulama yang berpendapat bahwa hadits ini merupakan siklus ajaran Islam.

KANDUNGAN HADITS

1. Ketulusan kepada Allah
Hal ini terimplementasi dalam bentuk iman kepada Allah swt. tidak menyekutukan-Nya, tidak mengingkari sifat-sifat-Nya, meyakini bahwa segala kesempurnaan hanyalah milik Allah, mensucikan-Nya dari semua kekurangan, ikhlash dalam beribadah kepada-Nya, senantiasa taat, tidak berbuat maksiat, mencintai karena-Nya, membenci karena-Nya, loyal kepada orang-orang yang taat kepada-Nya, dan tidak loyal kepada orang-oran gyang berbuat maksiat kepada-Nya. komitmen terhadap masalah ini, dalam setiap ucapan maupun perbuatannya, akan mendatangkan kebaikan bagi seorang muslim, di dunia dan di akhirat.

2. Ketulusan kepada Al-Qur’an
Hal ini terimplementasi dalam bentuk iman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah swt. dan meyakini bahwa al-Qur’an merupakan penutup dari semua kitab-kitab tersebut. Ia adalah kalam Allah yang penuh dengan mukjizat, yang senantiasa terpelihara, baik dalam hati maupun dalam bentuk tulisan. Allah sendirilah yang menjamin hal itu. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur’an dan Kami sendiri yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Lebih rincinya, ketulusan kepada al-Qur’an dilakukan melalui beberapa hal berikut:

a. Membaca dan menghafal al-Qur’an
Dengan membaca al-Qur’an akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Di samping itu, akan melahirkan kebersihan jiwa, kejernihan perasaan dan mempertebal ketakwaan. Membaca al-Qur’an merupakan kebaikan dan merupakan syafaat yang akan diberikan pada hari kiamat kelak.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bacalah al-Qur’an, karena pada hari kiamat, al-Qur’an akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya.”

Sedangkan menghafal al-Qur’an merupakan keutamaan yang sangat besar. Melalui hafalan hati akan lebih hidup dengan cahaya kitabullah, manusia juga akan segan dan menghormatinya. Bahkan dengan hafalan itu derajatnya di akhirat akan semakin tingi, sesuai dengan banyaknya hafalan yang dimiliki.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dikatakan kepada orang yang menghafal al-Qur’an: bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia dengan tartil. Karena kedudukanmu [di surga] sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

b. Membaca dengan tartil dan suara yang bagus, sehingga bacaannya dapat masuk dan diresapi. Rasulullah saw. bersabda: “Bukan golongan kami orang yang tidak membaca al-Qur’an dengan irama.” (HR Muslim)

c. Mentaddaburi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayat. Allah swt. berfirman: “Apakah mereka tidak mentaddaburi al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad: 24)

d. Mengajarkannya kepada generasi muslim, agar mereka ikut berperan dalam menjaga al-Qur’an. Mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an adalah kunci kebahagiaan dan izzah umat Islam. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang memperlajari dan mengajarkan al-Qur’an.” (HR Bukhari)

e. Memahami dan mengamalkannya. Tidaklah baik membaca al-Qur’an namun tidak berusaha memahaminya. Tidaklah baik memahami al-Qur’an namun tidak mengamalkannya. Bagaimanapun, buah dari membaca al-Qur’an baru akan kita peroleh setelah memahami dan mengamalkannya. Karenanya alangkah buruknya, jika kita memahami namun kita tidak mau mengamalkannya. Allah swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan yang tidak kalian lakukan. Dosa besar di sisi Allah jika kalian mengatakan tapi tidak mau menjalankan.” (ash-Shaff: 2-3)

3. Ketulusan kepada Rasulullah saw.
Hal ini terimplementasi dalam bentuk membenarkan risalahnya, membenarkan semua yang disampaikan, baik dalam al-Qur’an maupun sunnah, mencintai dan menaatinya. Mencintai Rasul secara otomatis mencintai Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Katakanlah [wahai Muhammad], ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku [Muhammad] niscaya kalian dicintai Allah.” (Ali ‘Imraan: 31).
Ketaatan kepada Rasulullah saw. secara otomatis menaati Allah, “Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka ia telah menaati Allah.” (an-Nisaa’: 80)

Ketulusan kepada Rasulullah sepeninggalan beliau, dilakukan dengan cara mempelajari sirah, mencontoh akhlak dan adabnya, komitmen dengan sunnahnya, senantiasa mengambil manfaat dan pelajaran dari kehidupannya, ikut andil dalam penyebaran sunnah [hadits] di tengah-tengah masyarakat, dan itu serta membantah berbagai tuduhan bohong yang dilemparkan para musuh dan penentang Rasulullah saw.

4. Ketulusan para pemimpin
Pemimpin orang-orang muslim adalah para penguasa, wakil-wakilnya atau para ulama. Agar penguasa ditaati, maka penguasa tersebut harus dari orang Islam sendiri. Allah berfirman, “Taatlah kepada Allah, taatlah kepada rasul dan penguasa dari kalian.” (an-Nisaa’: 59).

Ketulusan kepada para pemimpin adalah dengan menyukai kebaikan, kebenaran dan keadilannya, bukan lantaran individunya. Juga karena melalui kepemimpinannya, kemashlahatan kita bisa terpenuhi. Kita juga senang dengan persatuan umat dibawah kepemimpinan mereka yang adil, dan membenci perpecahan umat di bawah penguasa yang semena-mena.

Ketulusan kepada para pemimpin, juga dilakukan dengan cara membantu mereka untuk senantiasa berada dalam rel kebenaran, menaati mereka dalam kebenaran, mengingatkan mereka dengan cara yang baik. Karena tidak ada kebaikan, masyarakat yang tidak mau menasehati penguasanya, dan masyarakat yang tidak mau mengatakan kepada penguasanya yang dhalim “anda dhalim”. Juga tidak ada kebaikan, penguasa yang menindas rakyatnya dan membungkam orang-orang yang berusaha menasehatinya, menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar suara-suara kebenaran. Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi justru kerendahan dan kehancuran. Ini sangat mungkin terjadi jika masyarakat muslim telah menyeleweng dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Adapun para ulama, ketulusan kepada kitab Allah dan sunnah Rasul, dilakukan dengan cara meng-counter berbagai pendapat sesat yang berkenaan dengan al-Qur’an dan sunnah. Menjelaskan berbagai hadits, apakah hadits tersebut shahih atau dla’if.
Mereka juga mempunyai tanggung jawab yang besar untuk selalu menasehati para penguasa, senantiasa menyerukan agar mereka berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka lalai dalam mengemban tanggung jawab ini, hingga tidak ada satupun orang yang menyuarakan kebenaran di depan penguasa, maka kelak Allah akan menghisabnya. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya jihad yang paling mulia adalah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang semena-mena.” Mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban jika mereka justru memuji penguasa yang semena-mena, bahkan kemudian menjadi corong mereka.

Sedangkan ketulusan kita kepada para ulama, adalah dengan senantiasa mengingatkan mereka akan tanggung jawab tersebut, mempercayai hadits-hadits yang disampaikan jika memang mereka orang bisa dipercaya. Juga dengan jalan tidak mencerca mereka, karena hal tersebut dapat mengurangi kewibawaannya dan menjadikan mereka bahan tuduhan.

5. Ketulusan kepada kaum Muslimin
Ketulusan kepada kaum muslimin bisa dilakukan dengan cara menuntun mereka kepada berbagai hal yang membawa kebaikan dunia dan akhiratnya. Sangat disayangkan bahwa kaum muslim telah mengabaikan tugas ini. Mereka tidak mau menasehati muslim yang lain. Khususnya yang berkaitan dengan urusan akhirat.

Nasehat yang dilakukan , seharusnya tidak terbatas dengan ucapan, tetapi harus diikuti dengna amalan. Dengan demikian nasehat tersebut akan terlihat nyata dalam masyarakat muslim, sebagai penutup keburukan, pelengkap kekurangan, pencegah terhadap bahaya, pengambilan manfaat, amar ma’ruf nahi munkar, penghormatan terhadap yang besar, kasih sayang terhadap yang lebih kecil, dan menghindari penipuan dan kedengkian. Meskipun harus bertaruh jiwa dan harta.

6. Nasehat yang paling baik
Yaitu nasehat yang diberikan ketika seseorang dimintai nasehat. Rasulullah bersabda: “Jika seseorang minta dinasehati maka nasehatilah ia.” Termasuk ketulusan yang paling baik adalah yang dilakukan saat orang itu tidak ada di hadapannya. Ini dengan cara menolong dan membelanya. Ini bukti ketulusan yang sungguh-sungguh. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya termasuk hak seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah tetap tulus meskipun tidak ada di hadapannya.”

7. Pendapat ulama seputar nasehat
Hasan al-Bahsry berkata: “Sesungguhnya engkau belum terhitung menasehati saudaramu, sebelum engkau menasehatinya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia mampu melakukannya.”
Ia juga menyebutkan bahwa beberapa shahabat pernah berkata: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, orang yang paling dicintai Allah, adalah orang yang menyebabkan Allah mencintai hamba-Nya, menyebabkan cinta kepada Allah dan melakukan nasehat.”

Abu Bakar al-Mazni berkata: “Yang menjadikan Abu Bakar lebih tinggi derajatnya dari pada shahabat-shahabat lainnya bukanlah puasa ataupun shalat. Akan tetapi karena sesuatu yang ada di dalam hatinya. Yang ada di hatinya adalah kecintaan kepada Allah dan nasehat terhadap makhluk-Nya.
Fudhail bin Iyadh berkata: “Kemuliaan yang diperoleh oleh generasi kami, bukanlah karena shalat dan puasa. Namun karena kemurahan hati, lapang dada dan suka memberi nasehat.

8. Adab-adab nasehat
Di antara adab nasehat dalam Islam adalah menasehati saudaranya dengan tidak diketahui orang lain. Karena barangsiapa yang menutupi keburukan saudaranya, maka Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat. Sebagian ulama berkata: “Barangsiapa yang menasehati seseorang dan hanya ada mereka bedua, maka itulah nasehat yang sebenarnya. Barangsiapa yang menasehati saudaranya di depan banyak orang, maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasehati.”

Fidhail bin Iyadh berkata: “Seorang mukmin adalah orang yang menutupi aib dan menasehatinya. Sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak dan mencela.”

9. Beberapa ibrah yang disinyalir oleh Ibnu Bathal:
a. Nasehat adalah islam itu sendiri. Sementara Islam dilakukan melalui ucapan dan perbuatan.
b. Nasehat merupakan fardlu kifayah
c. Orang yang measa yakin bahwa orang yang akan dinasehati, akan menerima dan tidak akan bereaksi negatif, maka dalam konsisi seperti ini, wajib baginya untuk memberikan nasehat. Namun jika sebaliknya, justru orang yang dinasehatai akan bereaksi sehingga membahayakan jiwa, maka dalam kondisi ini ia bisa memlikih, menasehati atau tidak.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (5)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 8-10“8. Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang Mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka Mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. 9. Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada rasul. dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. 10. Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu Tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (al-Mujaadilah: 8-10)

Ibnu Najih menceritakan dari Mujahid: alam tara ilalladziina nuHuu ‘anin najwaa tsumma ya’uuduuna limaa nuHuu ‘anHu (“Apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali [megerjakan] larangan itu.”) ia mengatakan: “Yakni orang-orang Yahudi.” Demikian pula yang dikatakan oleh Muqatil bin Hayyan, dan ia menambahkan: “Bahwasannya telah terjadi sebuah perjanjian antara Rasulullah saw. dengan orang-orang Yahudi. Jika salah seorang shahabat Nabi lewat di hadapan mereka, mereka segera duduk dan saling berbisik di antara mereka, sehingga orang mukmin yang lewat mengira bahwa mereka tengah merencanakan untuk membunuhnya atau melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Bila seorang mukmin melihat hal tersebut, dia menjadi takut terhadap mereka dan tidak melewati jalan itu lagi. Maka Nabi saw. melarang mereka berbisik-bisik, namun mereka tidak juga mau berhenti dan melanjutkan perbuatan mereka itu.”

Kemudian Allah berfirman: alam tara ilalladziina nuHuu ‘anin najwaa tsumma ya’uuduuna limaa nuHuu ‘anHu (“Apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali [megerjakan] larangan itu.”)

Dan firman Allah Ta’ala: wa yataajauna bil itsmi wal ‘udwaani wa ma’shiyatir rasuuli (“Dan mereka mengagakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul,”) maksudnya mereka saling membicarakan masalah dosa yang terjadi di antara mereka, dan itu berkaitan dengan mereka.
Wal ‘udwaan (“dan permusuhan”) yakni yang berkaitan dengan orang-orang selain mereka. Di antaranya adalah berbuat durhaka kepada Rasulullah saw. dan menyelisihinya. Mereka terus menerus melakukan hal tersebut dan saling berwasiat dengannya.

Firman-Nya lebih lanjut: wa idzaa jaa-uuka hayyauka bimaa lam yuhayyika biHillaaHi (“Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagaimana ditentukan Allah untukmu.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw. pernah didatangi oleh orang-orang Yahudi, lalu mereka berkata: ‘Assamu ‘alaika yaa Abal Qasim [wahai Abu Qasim, mudah-mudahan kamu binasa.”) maka ‘Aisyah berkata: ‘Wa ‘alaikumussaam [mudah-mudahan kebinasaan juga menimpa kalian].’” Lebih lanjut ‘Aisyah menceritakan: Maka Rasulullah saw. bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuatan dan ucapan keji.” ‘Aisyah berujar: “Tidakkah engkau mendengar mereka mengatakan kepadamu: ‘Assaamu ‘alaika?’” Beliau menjawab: “Tidakkah engkau mendengar aku mengatakan kepada mereka: ‘Wa ‘alaikum.’ [mudah-mudahan kalian juga demikian]?’” kemudian Allah menurunkan ayat: wa idzaa jaa-uuka hayyauka bimaa lam yuhayyika biHillaaHi (“Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagaimana ditentukan Allah untukmu.”)

Dalam sebuah riwayat dalam kitab shahih, bahwasannya ‘Aisyah ra. berkata kepada mereka: “Wa’alaikumussaam, wadz-dzaam, sal-la’nah [mudah-mudahan kebinasaan, kehinaan dan laknat menimpa kalian].” Dan Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya yang dikabulkan adalah doa kita terhadap mereka dan doa mereka kepada kita tidak akan dikabulkan.”

Ibnu Jarir menceritakan dari Anas bin Malik, bahwa ketika Rasulullah saw. duduk bersama shahabatnya, tiba-tiba datang kepada mereka seorang Yahudi dan mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka menjawab salam Yahudi itu. Maka Nabi saw. bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa yang dia katakan?” Merekapun menjawab: “Dia memberi salam, ya Rasulallah.” Beliau bersabda: “Bukan, tetapi dia mengucapkan: ‘Assaamu ‘alaikum.’ Maksudnya menghinakan agama kalian.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Jawablah salamnya.” Maka merekapun memberikan jawaban kepadanya. Lalu Nabi saw. bertanya: “Apakah kalian menjawab: ‘Saamun ‘alaikum?’” “Ya.” Jawab mereka. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang dari ahlul kitab yang memberikan salam kepada kalian, maka katakan kepada mereka: “’Alaika.’” Artinya apa yang kamu ucapkan akan menimpa dirimu.

Dan asal hadits Anas itu diriwayatkan dalam kitab Shahih. Dan ada juga hadits yang serupa dengan hadits ini yang terdapat dalam kitab Shahih dari ‘Aisyah ra.

Dan firman Allah: wa yaquuluuna fii anfusiHim lau laa yu’adzdzibunallaaHu bimaa naquul (“Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: ‘Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?’”) maksudnya mereka mengerjakan hal itu dengan mengucapkan perkataan menyimpang dan pembelokan salam. Karena hal itu di dalamnya merupakan celaan. Meskipun begitu, mereka mengatakan dalam hati mereka: “Andai saja ia seorang Nabi, pasti Allah akan mengadzab kita semua atas ucapan kita terhadapnya yang tersembunyi itu, karena Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan. Seandainya dia seorang nabi yang sebenarnya, niscaya Allah akan menyegerakan hukuman-Nya kepada kita di dunia.” Maka Allah Ta’ala berfirman: hasbuHum jaHannam (“Cukuplah bagi mereka neraka jahanam.”) artinya neraka jahanam cukup baginya sebagai hukuman mereka di alam akhirat. yashlaunaHaa fabi’sal mashiir (“Yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (3)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Firman Allah: maa Hunna ummaHaatiHim in ummaHaatuHum illal laa-ii waladnaHum (“Tidaklah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.”) yakni seorang wanita itu tidak menjadi ibu bagi suaminya sendiri hanya karena dikatakan oleh suaminya: “Kamu bagiku seperti ibuku.” Atau “Seperti punggung ibuku.” Dan lain-lain yang semisalnya. Ibunya itu hanyalah wanita yang telah melahirkan dirinya sendiri.

Oleh karena itu Allah berfirman: wa innaHum layaquuluuna mungkaram minal qauli wazuuran (“Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh telah mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta.”) yakni perkataan yang keji dan bathil: wa innallaaHa la’afuwwun ghafuur (“Dan sesungguhnya Allah Mahapemaaf lagi Mahapengampun.”) yakni terhadap perbuatan-perbuatan yang datang dari diri kalian sendiri pada masa jahiliyah. Demikian juga halnya dengan perkataan yang tidak sengaja terucapkan oleh lidah, sedangkan yang mengatakannya sendiri tidak bermaksud demikian, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah saw. pernah mendengar seorang laki-laki mengatakan pada istrinya: “Wahai saudara perempuanku.” Kemudian Rasulullah saw. bertanya: “Apakah dia memang saudara perempuanmu?”

Demikianlah bentuk pengingatan dari beliau, tetapi beliau tidak mengharamkannya karena ucapannya tersebut, karena ia tidak bermaksud demikian. Seandainya ia mengucapkan hal tersebut dengan sengaja, maka istrinya itu menjadi haram baginya. Sebab menurut pendapat yang shahih, tidak ada bedanya antara seorang ibu dengan mahram-mahram yang lainnya, baik saudara perempuan, bibi dari ayah atau ibu dan sebagainya.

Dan firman Allah: walladziina yudhaaHiruuna min nisaa-iHim tsumma ya’uuduuna limaa qaaluu (“Orang-orang yang menziHar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.”) para ulama salaf dan para imam [madzab] berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala: tsumma ya’uuduuna limaa qaaluu (“Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan.”) dimana sebagian mengatakan: “Yang dimaksud dengan al-‘aud berarti kembali kepada kata azh-zhihaar, yang berarti menjatuhkan zhihar berkali-kali.” Namun pendapat ini keliru. Dan ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Hizam dan pendapat Dawud [azh-zhihar].

Diceritakan dari Abu ‘Umar bin ‘Abdil Barr, dari Bakir bin al-Asyuj dan al-Farra’ serta sekelompok orang dari ahlul Kalam. Imam Asy-Syafi’i mengemukakan: “Artinya, suaminya menahan istrinya beberapa saat setelah zhihar, yang sebenarnya ia bisa menjatuhkan talak selama waktu itu, tetapi ia tidak melakukannya.”

Imam Ahmad bin Hambal mengemukakan: “Yang dimaksudkan adalah berhubungan badan kembali, atau berniat untuk melakukannya. Maka istrinya tidak lagi halal baginya sehingga ia harus membayar kaffarat terlebih dahulu.”

Dan telah diceritakan dari Malik, bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah keinginan kembali berhubungan badan atau mempertahankan pernikahan. Dan dari Imam Malik juga, yang dimaksudkan adalah hubungan badan itu sendiri. Abu Hanifah mengungkapkan: “Maksudnya kembali kepada zhihar setelah diharamkan dan dihapuskannya kebiasaan yang berlaku pada zaman jahiliyah. Dengan demikian, jika seorang suami menzhihar istrinya, maka telah diharamkan baginya istrinya kecuali dengan membayar kaffarat.”
Dan pendapat itu pula yang dikemukakan oleh para shahabat Abu Hanifah dan al-Laits bin Sa’ad.

Ibnu Lahi’ah meriwayatkan, ‘Atha’ memberitahuku dari Sa’id bin Jubair: tsumma ya’uuduuna limaa qaaluu (“Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.”) yakni mereka hendak melakukan kembali hubungan badan yang telah mereka haramkan untuk diri mereka sendiri. Sedangkan al-Hasan al-Bashri mengemukakan: “Yang dimaksud adalah memasukkan alat kelamin.” Menurutnya tidak ada larangan mencampuri istri dengan catatan tidak memasukkan alat kelaminnya, meskipun ia belum membayar kaffarat.

Dan mengenai firman Allah Ta’ala: ming qabli ay yatamaassan (“Sebelum keduanya bercampur.”) Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan bercampur [al-massu] disini adalah hubungan badan. Demikian yang dikemukakan oleh ‘Atha’, az-Zuhri, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan. Az-Zuhri mengemukakan: “Dia tidak boleh mencium maupun mencampurinya sehingga ia membayar kaffarat terlebih dahulu.”

Telah diriwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan, dari hadits ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku telah menzhihar istriku, lalu aku mencampurinya sebelum aku membayar kaffarat.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu. Apa yang menyebabkan dirimu berbuat seperti itu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya aku telah melihat gelang kakinya di bawah pancaran sinar rembulan.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah engkau mendekatinya lagi sampai engkau mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu.”

Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan gharib shahih. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i, dari ‘Ikrimah sebagai hadits mursal. Imam an-Nasa-i mengatakan: “Hal itu yang lebih tepat.”

Firman Allah: fatahriiru raqabatin (“Maka [wajib atasnya] memerdekakan seorang budak.”) maksudnya membebaskan seorang budak secara penuh, sebelum suami istri itu bercampur. Budak disini bersifat mutlak dan tidak terikat pada keimanan. Artinya tidak harus budak yang beriman saja. sedangkan kaffarat dalam kasus pembunuhan karena tidak sengaja, maka budak yang dimerdekakan harus budak yang beriman. Imam Syafi’i menafsirkan budak yang disebut secara mutlak di sini sebagai budak yang bukan beriman seperti budak dalam kasus pembunuhan karena ketidak sengajaan atau kekeliruan, sebab yang mewajibkan kaffarat itu sama, yaitu memerdekakan budak. Dalam hal tersebut, Imam asy-Syafi’i memperkuat pendapatnya dengan hadits yang diriwayatkan dari Imam Malik dengan sanadnya dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami mengenai kisah seorang budak perempuan berkulit hitam, bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Merdekakanlah budak itu, sesungguhnya dia adalah wanita mukmin.”
Hadits tersebut juga telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya al-Musnad dan Imam Muslim dalam shahihnya.

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (4)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Dan firman Allah: dzaalikum tuu’adhuuna biHi (“Demikianlah yang diajarkan kepadamu”) maksudnya Allah melarang kalian berbuat demikian. wallaaHu bimaa ta’maluuna khabiir (“Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya, Mahamengetahui apa yang terbaik bagi kalian dan sangat memahami keadaan kalian.

Dan firman Allah: famal lam yajid fashiyaamu syaHraini mutataabi’aini ming qabli ay yatamaassan famal lam yastati’ fa ith’aamu sittiina miskiinan (“Barangsiapa yang tidak mendapatkan [budak] maka [wajib atasnya] berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa [wajib atasnya] memberi makan enam puluh orang miskin.”) dalam pembahasan sebelumnya telah dikemukakan beberapa hadits yang memerintahkan pelaksanaan kaffarat itu secara berurutan, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab ash-Shahihain mengenai kisah seorang suami yang mencampuri istrinya pada siang hari bulan Ramadlan. Dzaalika litu’minuu billaaHi warasuuliHi (“Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”) maksudnya, Kami [Allah] telah menetapkan hal itu untuk masalah tersebut.

Firman-Nya: wa tilka huduudullaaHi (“dan itulah hukum-hukum Allah”) yakni berbagai hal yang telah diharamkan-Nya. Oleh karenanya janganlah kalian melanggarnya. Wa lil kaafiriina ‘adzaabun aliim (“Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”) yaitu orang-orang yang tidak beriman dan tidak menjalankan berbagai hukum syariat ini serta tidak meyakini bahwa mereka akan selamat dari berbagai musibah. Tidaklah demikian, sesungguhnya peristiwa yang akan terjadi tidak seperti yang mereka kira, tetapi mereka mendapatkan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 5-7“5. Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan. 6. pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, Padahal mereka telah melupakannya. dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu. 7. tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Mujaadilah: 5-7)

Allah menceritakan tentang orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta membangkang terhadap syariat-Nya: kubituu kamaa kubitalladziina ming qabliHim (“Pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”) maksudnya mereka dihinakan, dilaknat, dan direndahkan, sebagaimana yang telah Allah lakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka sebelumnya. Wa qad anzalnaa aayaatim bayyinaat (“Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata”) artinya sangat jelas, yang tidak dapat ditentang dan dilanggar kecuali oleh orang kafir, bejat dan sombong. Wa lil kaafiriina ‘adzaabun aliim (“Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.”) maksudnya sebagai balasan terhadap kesombongan mereka untuk mengikuti dan tunduk kepada syariat Allah, serta merendahkan diri di hadapan-Nya.

Kemudian Allah berfirman: yauma yab’atsuHumullaaHu jamii’an (“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya”) yakni pada hari kiamat, dimana Allah menghimpun orang-orang terdahulu dan juga orang-orang yang hidup pada akhir jaman dalam satu waktu. Fayunabbi-uHum bimaa ‘amiluu (“Lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan maupun kejahatan. ahshaaHullaaHa wa nasuuHu (“Allah mengumpulkan [mencatat] amal perbuatan mereka, padahal mereka telah melupakannya.”) maksudnya Allah menjaga dan memelihara amal perbuatan mereka, sedang mereka telah melupakannya. wallaaHu ‘alaa kulli syai-ing syaHiid (“Dan Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu”) artinya tidak ada sesuatu pun yang ghaib [tidak tampak] bagi-Nya, tidak juga tersembunyi dari-Nya, dan Dia sama sekali tidak akan pernah melupakannya sedikitpun.

Selanjutnya dengan memberitahukan tentang ilmu-Nya yang meliputi seluruh makhluk-Nya dan pengawasan-Nya terhadap mereka, pendengaran-Nya akan ucapan-ucapan mereka, dan penglihatan-Nya terhadap tempat dimana dan bagaimana mereka, Dia berfirman: alam tara annallaaHa ya’lamu maa fis samaawaati wa maa fil ardli maa yakuunu min najwaa tsalaatsatin (“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengentahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang.”) yakni rahasia yang ada antara tiga orang.

Illaa Huwa raabi’uHum wa laa khamsatin illaa Huwa saadisuHum walaa adnaa min dzaalika wa laa aktsara illaa Huwa ma’aHum aina maa kaanuu (“Melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada [pembicaraan antara] lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak [pula] pembicaaan antara [jumlah] yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka dimanapun mereka berada.”) maksudnya Allah senantiasa mengawasi mereka, mendengar ucapan, rahasia, dan perbincangan mereka. Dan para utusan-Nya bersama ilmu-Nya mencatat apa yang telah mereka bisikkan itu, meskipun Allah sendiri mengetahui dan mendengarnya. Oleh karena itu, banyak riwayat yang menceritakan ijma’ yang menyepakati bahwa yang dimaksud ayat ini adalah kebersamaan ilmu-Nya. maksudnya seperti itu tidak diragukan lagikebenarannya. Tetapi pendengaran-Nya juga bersama ilmu-Nya meliputi mereka dan pandangan-Nya meliputi mereka dan pandangan-Nya menembus mereka. Dengan demikian, Allah senantiasa mengawasi semua makhluk-Nya, tidak ada sedikitpun dari urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya.

Kemudian Dia berfirman: tsumma yunabbi-uHum bimaa ‘amiluu yaumal qiyaamati innallaaHa bikulli syai-in ‘aliim (“Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”) imam Ahmad mengatakan: “Ayat ini diawali dengan ilmu dan ditutup dengan ilmu.”

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (2)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Ada juga yang menyebut wanita itu dengan sebutan Khaulah binti Malik bin Tsa’labah. Ada juga yang menyebut dengan sebutan kecilnya sehingga dipanggil Khuwailah. Namun di antara pendapat-pendapat tersebut tidak ada pertentangan antara satu dengan yang lainnya, karena semuanya berdekatan. wallaaHu a’lam.

Dan inilah yang benar mengenai sebab turunnya surah ini. Adapun hadits Salamah bin Shakhr tidak menyebutkan bahwa itu merupakan sebab turunnya ayat di atas, namun surah tersebut mengandung perintah memerdekakan budak, berpuasa, dan memberi makan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Salamah bin Shakhr al-Anshari, dimana ia bercerita: Aku adalah seorang lelaki yang mempunyai hasrat yang besar kepada wanita, tidak seperti orang lain. Ketika bulan Rhamadlan tiba, aku mendziHar istriku dengan niat sampai bulan Ramadlan usai. Hal ini aku lakukan karena aku khawatir jika malamnya aku berhubungan badan sedikit saja, maka aku akan melanjutkannya sampai siang, padahal aku ini orang yang tidak mampu menahan hasrat.

Pada suatu malam ketika istriku melayaniku, tiba-tiba ia menyingkapkan kain yang menutupi sebagian tubuhnya padaku, maka akupun langsung melompat dan mendekapnya. Dan pada pagi harinya aku pergi menemui kaumku lalu aku beritahukan kepada mereka tentang diriku. Aku mengajak mereka: “Ayolah pergi bersamaku menghadap Rasulullah saw., lalu beritahukan masalahku itu kepada beliau.” Tetapi mereka menjawab: “Demi Allah, tidak mau. Kami khawatir jangan-jangan ada wahyu yang turun mengenai kita, atau Rasulullah mengatakan sesuatu mengenai diri kita sehingga kita akan tercela selamanya. Tetapi pergilah sendiri dan lakukan apa yang menurutmu baik.” Maka akupun langsung menghadap Nabi saw. kemudian aku ceritakan hal itu kepada beliau. Maka beliau bertanya: “Apa benar engkau melakukan hal tersebut?” “Ya.” “Apakah benar engkau melakukannya?” “Ya.” “Apakah benar engkau melakukannya?” “Ya beginilah aku.” Jawabku, “Maka berikanlah putusan untukku dengan hukum Allah. Aku akan tabah menghadapinya.” Lanjutku. “Merdekakanlah seorang budak.” Kata Rasulullah saw. Mendengar hal tersebut, aku pukulkan tanganku pada tengkukku seraya berkata: “Tidak mungkin, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku hanya memiliki leherku ini.” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu berpuasalah dua bulan berturut-turut.”

Menurut ceritanya, Shakhr mengatakan: Aku pun berkata: “Ya Rasulallah, bukankah apa yang telah menimpaku ini tidak lain ketika aku sedang berpuasa?” “Kalau begitu bershadaqahlah.” Papar beliau. “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, semalam suntuk kami bersedih hati, karena malam tadi kami tidak makan.” Lanjut Shakhr. Kemudian Rasulullah saw. pun menasehatinya: “Pergilah kepada siapa saja yang akan bershadaqah dari kalangan bani Zuraiq, dan katakan kepada mereka agar memberikannya kepadamu. Lalu dari sedekah itu berilah makan olehmu satu wasaq kurma kepada enam puluh orang miskin. Sedang lebihnya gunakanlah untuk dirimu dan keluargamu.”

Selanjutnya Shakhr mengatakan: “Akhirnya aku kembali kepada kaumku dan kukatakan pada mereka bahwa aku melihat kesempitan dan pandangan picik pada diri kalian. Sesungguhnya aku telah mendapatkan keluasan dan berkah pada diri Rasulullah saw. Sesungguhnya beliau telah menyuruhku mengambil shadaqah dari kalian, maka berikanlah shadaqah itu kepadaku. Mereka pun kemudian memberikan shadaqah kepada diriku.” Lanjut Shakhr mengakhiri ceritanya.

Demkianlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Serta diringkas dan dihasankan oleh at-Tirmidzi. Secara lahiriyah hadits di atas menunjukkan bahwa kisah tersebut terjadi setelah kisah Aus bin ash-Shamit dan istrinya, Khaulah binti Tsa’labah. Hal itu dipertegas oleh redaksi hadits tersebut dan pendapat ini setelah melalui pendalaman.

Khasif meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas: “Laki-laki pertama yang menzhihar istrinya adalah Aus bin ash-Shamit, saudara ‘Ubadah bin ash-Shamit, dan istrinya bernama Khaulah binti Tsa’labah bin Malik.”

Setelah Aus bin ash-Shamit menzhihar istrinya, maka istrinya pun khawatir hal tersebut menjadi talak, sehingga iapun mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya Aus telah menziharku, dan jika kami berpisah, maka binasalah kami.”

Ibnu ‘Abbas dan juga mayoritas ulama berpendapat seperti apa yang mereka katakan. wallaaHu a’lam.

Dengan demikian, firman Allah: alladziina yudhaaHiruuna mingkum min nisaa-iHim (“Orang-orang yang menzihar istrinya di antara kamu.”) merupakan asal kata zhihar, yang berasal dari kata azh-Zhahru yang berarti punggung. Yang demikian itu karena jika salah seorang dari orang-orang jahiliyah dulu menzhihar istrinya, maka ia akan mengatakan: “Kamu bagiku seperti ibuku.”

Selanjutnya menurut istilah syariat, zhihar ini dinisbatkan kepada seluruh anggota badan, sebagai qiyas kepada punggung. Hukum zhihar pada masa jahiliyah berkedudukan sebagai talak. Kemudian Allah memberikan keringanan untuk umat Muhammad ini dengan memberlakukan kaffarat padanya dan tidak dikategorikan sebagai talak, sebagaimana yang menjadi sandaran mereka pada masa jahiliyah. Demikianlah hal tersebut dikemukakan oleh sebagian ulama salaf.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia bercerita: Jika pada masa jahiliyah seorang suami mengatakan kepada istrinya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku.” Maka istrinya telah diharamkan baginya. Dan orang yang pertama kali menzhihar istrinya adalah Aus bin ash-Shamit yang memperistri puteri pamannya, Khaulah binti Tsa’labah. Dia yang telah menjatuhkan zhihar kepadanya. Ia mengatakan: “Aku tidak melihat dirimu melainkan telah haram bagiku.” Dan istrinya pun mengatakan hal yang sama kepadanya.

Sa’id bin Jubair mengatakan: “Ila’ dan zhihar merupakan bentuk talak orang-orang Jahilyah. Kemudian Allah Ta’ala menetapkan empat bulan bagi ila’ dan kaffarat bagi zhihar.”

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Dan Imam Malik telah menjadikan dalil bahwa orang kafir tidak termasuk ke dalam ayat ini, dengan berdasarkan firman-Nya: mingkum (“di antara kamu”) dengan demikian yang menjadi khithab [lawan bicara] adalah orang-orang mukmin. Sedangkan jumhur ulama menjadikan ayat; min nisaa-iHim (“di antara istri-istrinya”) sebagai dalil yang menunjukkan bahwa seorang budak wanita tidak dapat dizhihar dan tidak termasuk dalam khithab ayat di atas.

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (1)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 1bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Sesungguhnya Allah telah mendengar Perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (al-Mujaadilah: 1)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah meluaskan pendengaran-Nya ke semua suara. Sesungguhnya telah datang seorang wanita yang mengadu kepada Nabi saw. dan berbicara kepada beliau, dan ketika aku tengah berada di sudut rumah, sama sekali tidak terdengar apa yang dibicarakannya. Lalu Allah menurunkan ayat: qad sami’allaaHu qaulallatii tujaadiluka fii zaujiHaa wa tasytakii ilallaaHi wallaaHu yasma’u tahaawurakumaa innallaaHa samii’um bashiir (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Mahamendengar Lagi Mahamelihat.”)
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab at-Tauhid secara mu’allaq. Dan juga diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i, Ibnu Majah, Abu Hatim, dan Ibnu Jarir dari al-A’masy.

Dan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari ‘Aisyah ra, ia bercerita: “Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku telah mendengarkan perkara yang diadukan oleh Khaulah binti Tsa’labah, namun sebagian ucapannya tidak dapat aku tangkap. Ketika itu dia mengadukan suaminya kepada Nabi saw., ia berkata: “Ya Rasulallah, dia telah memakan hartaku dan menghabiskan masa mudaku serta perutku telah banyak melahirkan anaknya, sehingga ketika aku sudah tua dan tidak dapat melahirkan anak lagi, dia malah menzhiHarku. Aku mengadukan masalah ini kepadamu.” Tidak hentinya dia mengatakan hal itu sehingga Allah melalui Jibril as. menurunkan ayat ini: qad sami’allaaHu qaulallatii tujaadiluka fii zaujika (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.”) ‘Aisyah berkata, suami Khaulah itu adalah Aus bin ash-Shamit.

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 2-4“2. orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) Tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu Perkataan mungkar dan dusta. dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. 3. orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi Makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (al-Mujaadilah: 2-4)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yusuf bin ‘Abdullah bin Salam, dari Khaulah binti Tsa’labah, ia bercerita: “Demi Allah, mengenai diriku dan suamiku, Aus bin ash-Shamit, Allah telah menurunkan ayat yang terdapat pada permulaan surah al-Mujaadilah.”

Lebih lanjut, ia bercerita: “Aku hidup bersamanya, sedang dia adalah seorang lelaki yang sudah tua renta, akhlaknya sangat buruk sekali.” Lalu ia mengatakan: “Pada suatu hari ia masuk menemui diriku, namun aku menolak keinginannya. Maka iapun marah seraya mengatakan: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’” Selanjutnya ia mengatakan: “Kemudian dia keluar dan duduk-duduk di warung kaumnya sejenak, kemudian masuk lagi menemuiku. Ternyata dia ingin bercampur denganku. Kukatakan: “Tidak. Demi yang diri Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh lagi denganku. Engkau telah mengatakan apa yang telah engkau katakan tadi. Sehingga Allah dan Rasul-Nya memberikan keputusan mengenai urusan kita dengan hukum-Nya.” lalu ia mendekapku, namun aku tetap bertahan. Aku pun melumpuhkannya dengan cara yang dapat digunakan untuk mengalahkan laki-laki yang sudah tua renta.

Akupun menjatuhkan diri darinya. Kemudian aku keluar untuk bertemu dengan sebagian tetanggaku. Aku meminjam darinya beberapa potong pakaian. Setelah itu aku keluar rumah hingga aku mendatangi Rasulullah saw. Selanjutnya aku duduk di hadapan beliau dan kuceritakan kepada beliau perlakuan yang aku terima dari suamiku tersebut. Mulailah aku mengadukan kepada beliau tentang akhlaknya yang jelek.” Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Khaulah, putera pamanmu itu adalah laki-laki yang sudah tua renta. Bertakwalah engkau kepada Allah dalam menghadapinya.”

Khaulah pun berkata: “Demi Allah, aku berdiam diri semalaman sehingga turunlah ayat mengenai diriku. Pada saat itu pula Rasulullah saw. pun pingsan dan tidak sadarkan diri. Setelah sadar, beliau sangat bergembira. Lalu beliau bersabda kepadaku: “Wahai Khaulah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat mengenai dirimu dan suamimu.

Kemudian beliau membacakan ayat ini: qad sami’allaaHu qaulallatii tujaadiluka fii zaujiHaa wa tasy-takii ilallaaHi wallaaHu yasma’u tahaawurakumaa innallaaHaa samii’um bashiir…. walil kaafiriina ‘adzaabun aliim (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Mahamendengar Lagi Mahamelihat. –sampai dengan firman-Nya- dan orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”)

Khaulah melanjutkan ceritanya: Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Perintahkanlah dia agar memerdekakan seorang budak.” Kukatakan: “Ya Rasulallah, dia tidak mempunyai apa-apa untuk memerdekakan budak.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Kalau begitu perintahkanlah kepadanya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut.” Lalu kukatakan lagi: “Demi Allah dia adalah seorang yang sangat tua. Dia tidak akan mampu puasa sebanyak itu.” Lebih lanjut Rasulullah saw. bersabda: “Kalau begitu perintahkanlah kepadanya untuk memberi makan kepada enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.” Dan kukatakan: “Ya Rasulallah, dia tidak mempunyai apa-apa untuk itu.” Beliau pun kemudian mengatakan: “Kalau begitu kami akan menolongnya dengan satu keranjang kurma.” Maka aku katakan: “Ya Rasulallah, aku pun akan menolongnya dengan satu keranjang kurma lagi.” Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh engkau telah berbuat benar dan berbuat baik. Pergilah dan bersedekahlah untuknya. Kemudian nasehatilah putera pamanmu itu dengan kebaikan.” Maka akupun segera melakukan hal tersebut.

Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam sunan-nya, kitab ath-Thalaaq, dari dua jalan, dari Muhammad bin Ishaq bin Yasar dengan sebutan nama Khaulah binti Tsa’labah.

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hasyr (11)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr (Pengusiran)
Surah Madaniyyah; surah ke 59: 24 ayat

Dan telah dikemukakan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, juga dari Abu Hurairah ra. dan setelah sabda beliau: “Allah itu ganjil, menyukai yang ganjil.” Menurut redaksi at-Tirmidzi terdapat tambahan-tambahan (dikatakan bahwa riwayat Asma-ul husna seperti ini dalam Musnad hadits adalah mudraj [perkataan rawi yang bersambung dengan bagian hadits sehingga seolah-olah itu bagian dari hadits, padahal bukan]):

“Dia menyukai yang ganjil, (ia menambahkan): dialah Allah, yang tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan hanya Dia semata, ar-Rahmaan ar-Rahiim [Yang Mahapemurah, lagi Mahapenyayang], al-Malik [Raja], al-Quddus [Yang Mahasuci], as-Salaam [Yang Mahamemberi keselamatan], al-Mu’min [Yang Mahamemberi keamanan], al-Muhaimin [Yang Mahamemelihara], al-‘Aziiz [Yang Mahamulia], al-Jabbar [Yang Mahakuasa untuk memaksakan kehendak-Nya terhadap seluruh makhluk], al-Mutakabbir [Yang Mempunyai segala kebesaran dan keagungan], al-Khaaliq [Yang Menciptakan], al-Baari’ [Yang Mengadakan], al-Mushawwir [Yang Memberi bentuk dan rupa], al-Ghaffar [Yang Mahapengampun], al-QaHHar [Yang Mahaperkasa], al-WaHHab [Yang Mahapemberi], ar-Razzaaq [Yang Mahapemberi rizky], al-Fattaah [Yang Mahapemberi keputusan], al-‘Aliim [Yang Mahamengetahui], al-Qaabidh [yang menyempitkan rizky], al-Baasith [Yang Melapangkan rizky], al-Khaafidh [Yang merendahkan], ar-Raafi’ [Yang Meninggikan], al-Mu’izz [Yang Memuliakan], al-Mudzill [Yang Menghinakan], as-Samii’ [Yang Mahamendengar], al-Bashiir [Yang Mahamelihat], al-Hakam [Yang Menetapkan keputusan atas segala ciptaan-Nya], al-‘Adl [Yang Mahaadil], al-Lathiif [Yang Mahalembut terhadap hamba-Nya], al-Khabiir [Yang Mahamengetahui], al-Haliim [Yang Mahapenyantun], al-‘Adhiim [Yang Mahaagung], al-Ghafuur [Yang Mahapengampun], asy-Syakuur [Yang Mahamensyukuri], al-‘Aliyy [Yang Mahatinggi], al-Kabiir [Yang Mahabesar], al-Hafidz [Yang Mahamemelihara], al-Muqiit [Yang berkuasa memberi setiap makhluk rizkynya, Yang Menjaga dan Melindungi], al-Hasiib [Yang Memberi kecukupan dengan kadar yang tepat], al-Jaliil [Yang Mahamulia, Yang Mahaagung], al-Kariim [Yang Mahapemurah], ar-Raqiib [Yang Mahamengawasi], al-Mujiib [Yang Mahamengabulkan, memperkenankan], al-Waasi’ [Yang Mahaluas], al-Hakiim [Yang Mahabijaksana], al-Waduud [Yang Mahapengasih], al-Majiid [Yang Mahamulia, Mahaterpuji], al-Baaits [Yang menghidupkan kembali, membangkitkan], asy-Syahiid [Yang Mahamenyaksikan], al-Haqq [Yang Mahabenar], al-Wakiil [Pemelihara, Pelindung], al-Qawiyy [Yang Mahakuat], al-Matiin [Yang Mahakokoh], al-Waliyy [Yang Melindungi], al-Hamiid [Yang Mahaterpuji], al-Muhshiyy [Yang Mengumpulkan/mencatat amal perbuatan], al-Mubdi’ [Yang Menciptakan [makhluk] dari permulaan], al-Mu’iid [Yang Menghidupkan kembali], al-Muhyiy [Yang Menghidupkan], al-Mumiit [Yang Mematikan], al-Hayy [Yang Mahahidup], al-Qayyum [Yang terus-menerus mengurus [makhluk-Nya]], al-Waajid [Yang Mengadakan], al-Majiid [Yang Mahaagung], al-Waahid [Yang satu, tunggal], al-Ahad [Yang Mahaesa], al-Fard [Yang Tunggal], ash-Shamad [Yang Mahasempurna, bergantung kepada-Nya segala sesuatu], al-Qaadir [Yang Berkuasa], al-Muqtadir [Yang Mahaberkuasa], al-Muqaddim [Yang Mendahulukan], al-Mu-akhkhir [Yang Mengakhirkan], al-Awwal [Yang awal, yang telah ada sebelum segala sesuatu], al-Akhir [Yang Akhir, Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah], adh-Dhahir [Yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya], al-Baathin [Yang tidak ada sesuatupun menghalangi-Nya], al-Waaliy [Penolong], al-Muta’aaliy [Yang Mahatinggi], al-Barr [Yang Melimpahkan kebaikan], at-Tawwab [Yang Mahamenerima taubat], al-Muntaqim [Yang Mahabelas kasihan], Maalikul Mulk [Raja segala raja], Dzul Jalaali wal Ikraam [Yang Mempunyai keagungan dan kemuliaan], al-Muqsith [Yang Mahaadil], al-Jamii’ [Yang Menghimpun Manusia pada hari kiamat], al-Ghaniyy [Yang Mahakaya], al-Mughni [Yang Menjadikan kaya], al-Maani’ [Yang Menahan], adh-Dharr [Yang Mencelakakan], an-Naafi’ [Yang Memberikan manfaat], an-Nuur [Yang Menerangi], al-Haadi [Yang memberi petunjuk], al-Badii’ [Yang Menciptakan], al-Baaqi [Yang Kekal], al-Waarits [Yang Mewariskan], ar-Rasyiid [Yang Memberi Petunjuk], ash-Shabuur [Yang Mahasabar].”

Sedangkan menurut redaksi Ibnu Majah, terdapat penambahan dan pengurangan, juga ada perbedaan dalam penyusunannya. Dan hal itu telah dikemukakan secara panjang lebar pada pembahasan surah al-A’raaf ayat 180.

Dan firman Allah: yusabbihu laHuu maa fis samaawaati wal ardli (“Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.”) sebagaimana firman-Nya pula: wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdiHi (“Dan sesungguhnya tidak ada sesutupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.”)(al-Israa’: 44)

Dan firman-Nya : wa Huwal ‘aziiz (“dan Dialah Yang Mahaperkasa”) artinya tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Alhakiim (“Lagi Mahabijaksana”) yakni, dalam syariat dan ketetapan-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’qil bin Yasar, Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa ketika bangun pagi mengucapkan tiga kali: a’uudzubillaaHis samii’il ‘aliimi minasy syaithaanir rajiim [Aku berlindung kepada Allah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari syaitan yang terkutuk], lalu membaca tiga ayat dari akhir surah al-Hasyr, maka Allah menugaskan kepadanya tujuh puluh ribu malaikat untuk mendoakannya hingga sore hari. Dan jika ia meninggal pada hari itu, maka ia wafat sebagai syahid. Dan barangsiapa mengucapkannya pada sore hari, maka ia juga mendapatkan kedudukan yang sama.”

Demikian hadits riwayat at-Tirmidzi. Ia mengatakan: “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.”

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hasyr (10)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr (Pengusiran)
Surah Madaniyyah; surah ke 59: 24 ayat

Dan firman-Nya: Huwar rahmaanur rahiim (“Dia Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”) penafsiran ayat ini telah dikemukakan di surah al-Faatihah. Artinya, Dia adalah Rabb yang mempunyai sifat rahmat yang sangat luas dan mencakup seluruh makhluk. Jadi Dia adalah yang Mahapemurah di dunia dan akhirat, juga Mahapenyayang di kedua alam tersebut. Allah telah berfirman: wa rahmatii wasi’at kulla syai-in (“Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”) (al-A’raaf: 156).

Kemudian firman-Nya: HuwallaaHulladzii laa ilaaHa illaa Huwal maliku (“Dia lah Allah yang tidak ada ilah [yang haq] selain, Dia, Raja.”) yakni yang menguasai segala sesuatu, mengendalikan semuanya tanpa ada rintangan dan halangan. Dan firman-Nya: al-kudduus (“Yang Mahasuci”) Wahb bin Munabbih mengatakan: “Yakni Ath-ThaHir [Yang Mahabersih].” Mujahid dan Qatadah mengemukakan: “Yakni al-Mubaarak [Yang Mahasuci].” Ibnu Juraij mengatakan: “Disucikan oleh para Malaikat yang mulia.” As salaam (“Yang Mahasejahtera”) yakni selamat dari segala macam aib dan kekurangan, karena keesempurnaan-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya.

Dan firman-Nya: almu’minu (“Yang mengaruniai keamanan”) adh-Dhahhak menuturkan dari Ibnu ‘Abbas, ia mengatakan: “Yakni memberikan rasa aman kepada makhluk-Nya bahwa Dia tidak mendhalimi mereka.” Qatadah mengatakan: “Dia mengaruniai rasa aman melalui firman-Nya bahwa Dia adalah benar.” Ibnu Zaid mengatakan: “Yakni membenarkan hamba-hamba-Nya yang beriman dalam keimanan mereka kepada-Nya.”

Firman-Nya lebih lanjut: almuHaiminu (“Yang Mahamemelihara”) Ibnu ‘Abbas dan beberapa ulama mengatakan: “Al-Muhaimin, yakni yang memantau seluruh amal perbuatan makhluk-Nya. Artinya, Dia mengawasi mereka. Sebagaimana firman-Nya: wallaaHu ‘alaa kulli syai-ing syaHiid (“Dan Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu.”)(al-Buruuj: 9)

Firman-Nya: al’aziizu (“Yang Mahaperkasa”) yakni atas segala sesuatu dengan menguasai dan menundukkannya. Karenanya, Dia tidak dapat dicapai oleh siapapun karena keperkasaan, keagungan, kemuliaan dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman: aljabbaarul mutakabbir (“Yang Mahakuasa, Yang memiliki segala keagungan.”) yakni tidak patut kebesaran itu kecuali bagi-Nya, dan tidak ada keagungan kecuali karena keagungan-Nya. sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih: “Keagungan adalah kain kebesaran-Ku, dan kebesaran [kesombongan] adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang melepaskan salah satu dari keduanya dari diri-Ku, pasti Aku akan mengadzabnya.” (Sunan Abi Dawud, Sunan Ibnu Majah dan Musnad al-Imam Ahmad)

Menurut Qatadah: “Aljabbar, yaitu yang mencukupi makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.” sedangkan Ibnu Jarir mengungkapkan: “Aljabbaar, yakni yang mengurus seluruh urusan makhluk-Nya dan mengaturnya untuk kebaikan mereka.” Qatadah berkata: “Al-Mutakabbir, yakni Yang Mahaagung dari segala keburukan.”

Setelah itu Allah berfirman: SubhaanallaaHi ‘ammaa yusyrikuuna (“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Firman Allah selanjutnya: HuwallaaHul khaaliqul baari-ul mushawwir (“Dialah Allah, Yang Menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk rupa.”) al-Khalq berarti menetapkan. Sedangkan al-Bar-u berarti melaksanakan dan melahirkan apa yang telah ditetapkan ke alam wujud. Dan tidak setiap yang menetapkan dan menyusunnya mampu untuk melaksanakan dan mewujudkannya kecuali Allah.

Seorang penyair memuji orang lain seraya mengungkapkan: “Dan engkau tentu melaksanakan apa yang telah engkau tetapkan, sedangkan sebagian kaum ada yang menetapkan kemudian tidak dapat melaksanakan.” Maksudnya, engkau mampu melaksanakan apa yang telah engkau tetapkan, sementara orang lain tidak mampu melaksanakan apa yang diinginkannya. Dengan demikian, kata al-Khalq berarti menetapkan, sedangkan al-Faryu berarti melaksanakan.

Firman Allah: alkhaaliqul baari-ul mushawwir (“Yang menciptakan, Yang Mengadakan, Yang membentuk rupa.”) yaitu Rabb yang jika menghendaki sesuatu, maka Dia cukup hanya mengucapkan, “Jadilah.” Maka jadilah sesuai bentuk yang dikehendaki-Nya dan rupa yang diinginkan-Nya. sebagaimana firman-Nya: fii ayyi shuuratim maa syaa-a rakkabaka (“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu.” (al-Infithaar: 8).

Oleh karena itu, Dia menyebut al-Mushawwir, yakni yang melaksanakan apa yang hendak diwujudkan menurut bentuk yang dikehendaki.

Dan firman Allah selanjutnya: laHul asmaa-ul husnaa (“Yang mempunyai nama-nama yang paling baik.”) penafsiran ayat ini telah disampaikan dalam pembahasan sebelumnya dalam surah al-A’raaf. Dan berikut ini dikemukakan hadits yang terdapat dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa dapat menghitungnya [menghafal dan mengamalkannya] maka dia akan masuk surga. Dan Allah itu ganjil, menyukai yang ganjil.”

Bersambung ke bagian 11