Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (1)

11 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 1bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Sesungguhnya Allah telah mendengar Perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (al-Mujaadilah: 1)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah meluaskan pendengaran-Nya ke semua suara. Sesungguhnya telah datang seorang wanita yang mengadu kepada Nabi saw. dan berbicara kepada beliau, dan ketika aku tengah berada di sudut rumah, sama sekali tidak terdengar apa yang dibicarakannya. Lalu Allah menurunkan ayat: qad sami’allaaHu qaulallatii tujaadiluka fii zaujiHaa wa tasytakii ilallaaHi wallaaHu yasma’u tahaawurakumaa innallaaHa samii’um bashiir (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Mahamendengar Lagi Mahamelihat.”)
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab at-Tauhid secara mu’allaq. Dan juga diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i, Ibnu Majah, Abu Hatim, dan Ibnu Jarir dari al-A’masy.

Dan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari ‘Aisyah ra, ia bercerita: “Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku telah mendengarkan perkara yang diadukan oleh Khaulah binti Tsa’labah, namun sebagian ucapannya tidak dapat aku tangkap. Ketika itu dia mengadukan suaminya kepada Nabi saw., ia berkata: “Ya Rasulallah, dia telah memakan hartaku dan menghabiskan masa mudaku serta perutku telah banyak melahirkan anaknya, sehingga ketika aku sudah tua dan tidak dapat melahirkan anak lagi, dia malah menzhiHarku. Aku mengadukan masalah ini kepadamu.” Tidak hentinya dia mengatakan hal itu sehingga Allah melalui Jibril as. menurunkan ayat ini: qad sami’allaaHu qaulallatii tujaadiluka fii zaujika (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.”) ‘Aisyah berkata, suami Khaulah itu adalah Aus bin ash-Shamit.

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 2-4“2. orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) Tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu Perkataan mungkar dan dusta. dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. 3. orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi Makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (al-Mujaadilah: 2-4)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yusuf bin ‘Abdullah bin Salam, dari Khaulah binti Tsa’labah, ia bercerita: “Demi Allah, mengenai diriku dan suamiku, Aus bin ash-Shamit, Allah telah menurunkan ayat yang terdapat pada permulaan surah al-Mujaadilah.”

Lebih lanjut, ia bercerita: “Aku hidup bersamanya, sedang dia adalah seorang lelaki yang sudah tua renta, akhlaknya sangat buruk sekali.” Lalu ia mengatakan: “Pada suatu hari ia masuk menemui diriku, namun aku menolak keinginannya. Maka iapun marah seraya mengatakan: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’” Selanjutnya ia mengatakan: “Kemudian dia keluar dan duduk-duduk di warung kaumnya sejenak, kemudian masuk lagi menemuiku. Ternyata dia ingin bercampur denganku. Kukatakan: “Tidak. Demi yang diri Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh lagi denganku. Engkau telah mengatakan apa yang telah engkau katakan tadi. Sehingga Allah dan Rasul-Nya memberikan keputusan mengenai urusan kita dengan hukum-Nya.” lalu ia mendekapku, namun aku tetap bertahan. Aku pun melumpuhkannya dengan cara yang dapat digunakan untuk mengalahkan laki-laki yang sudah tua renta.

Akupun menjatuhkan diri darinya. Kemudian aku keluar untuk bertemu dengan sebagian tetanggaku. Aku meminjam darinya beberapa potong pakaian. Setelah itu aku keluar rumah hingga aku mendatangi Rasulullah saw. Selanjutnya aku duduk di hadapan beliau dan kuceritakan kepada beliau perlakuan yang aku terima dari suamiku tersebut. Mulailah aku mengadukan kepada beliau tentang akhlaknya yang jelek.” Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Khaulah, putera pamanmu itu adalah laki-laki yang sudah tua renta. Bertakwalah engkau kepada Allah dalam menghadapinya.”

Khaulah pun berkata: “Demi Allah, aku berdiam diri semalaman sehingga turunlah ayat mengenai diriku. Pada saat itu pula Rasulullah saw. pun pingsan dan tidak sadarkan diri. Setelah sadar, beliau sangat bergembira. Lalu beliau bersabda kepadaku: “Wahai Khaulah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat mengenai dirimu dan suamimu.

Kemudian beliau membacakan ayat ini: qad sami’allaaHu qaulallatii tujaadiluka fii zaujiHaa wa tasy-takii ilallaaHi wallaaHu yasma’u tahaawurakumaa innallaaHaa samii’um bashiir…. walil kaafiriina ‘adzaabun aliim (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Mahamendengar Lagi Mahamelihat. –sampai dengan firman-Nya- dan orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”)

Khaulah melanjutkan ceritanya: Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Perintahkanlah dia agar memerdekakan seorang budak.” Kukatakan: “Ya Rasulallah, dia tidak mempunyai apa-apa untuk memerdekakan budak.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Kalau begitu perintahkanlah kepadanya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut.” Lalu kukatakan lagi: “Demi Allah dia adalah seorang yang sangat tua. Dia tidak akan mampu puasa sebanyak itu.” Lebih lanjut Rasulullah saw. bersabda: “Kalau begitu perintahkanlah kepadanya untuk memberi makan kepada enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.” Dan kukatakan: “Ya Rasulallah, dia tidak mempunyai apa-apa untuk itu.” Beliau pun kemudian mengatakan: “Kalau begitu kami akan menolongnya dengan satu keranjang kurma.” Maka aku katakan: “Ya Rasulallah, aku pun akan menolongnya dengan satu keranjang kurma lagi.” Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh engkau telah berbuat benar dan berbuat baik. Pergilah dan bersedekahlah untuknya. Kemudian nasehatilah putera pamanmu itu dengan kebaikan.” Maka akupun segera melakukan hal tersebut.

Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam sunan-nya, kitab ath-Thalaaq, dari dua jalan, dari Muhammad bin Ishaq bin Yasar dengan sebutan nama Khaulah binti Tsa’labah.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: