Arsip | 15.41

Hadits Arbain ke 33: Dasar-dasar Hukum dalam Islam

12 Nov

Al-Wafi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 33 (tiga puluh tiga)

Ibnu ‘Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya setiap orang bebas mengklaim, pasti banyak orang yang mengklaim harta dan jiwa orang lain. Karena itu orang yang mengklaim harus mendatangkan bukti, dan orang yang menyangkal harus bersumpah.” (Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh imam Baihaqi dan yang yang lain. Bagian dari hadits ini tertera di shahih Bukhari dan Muslim)

URGENSI HADITS

Imam Nawawi ra. berkata: “Hadits ini adalah dasar penting bagi hukum syar’i.” Sedangkan Ibnu Daqiq al-Id berkata: “Hadits ini merupakan dasar dari berbagai dasar hukum Islam. Juga tumpuan saat terjadi pertikaian.”

KANDUNGAN HADITS

1. Ketinggian hukum Islam
Islam adalah sistem hidup yang sempurna. Islam mengajarkan aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang mulia, hukum yang menjamin setiap hak dan melindungi nyawa, harta dan kehormatan setiap individu.

Peradilan adalah rujukan dan tumpuan untuk mencari solusi saat terjadi pertikaian. Sehingga setiap hak berada pada pemiliknya. Karena itulah Islam meletakkan dasar-dasar hukum yang tidak memberi celah sedikitpun bagi jiwa-jiwa kotor yang berusaha merampas hak orang lain. Hukum-hukum tersebut melindungi masyarakat dari segala bentuk kesia-siaan dan kedhaliman. Sebagai contoh konkret adalah hadits di atas. Bahwa sebuah dakwaan harus didukung oleh saksi dan bukti-bukti agar bisa dijadikan pegangan bagi hakim untuk mengambil keputusan.

2. Macam-macam saksi
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan bayyinah dalam hadits di atas adalah saksi. Kesaksian itu akan membantu terkuaknya suatu kasus, atau benar tidaknya suatu dakwaan.
Saksi itu berbeda-beda sesuai dengan kasus yang terjadi. Namun demikian, dalam hukum Islam terdapat empat macam kesaksian, diantaranya:

a. Kesaksian terhadap zina
Saksi terhadap perbuatan zina harus dilakukan empat laki-laki. Kesaksian wanita, dalam masalah zina tidak bisa diterima. Allah swt. berfirman: “Dan [terhadap] para wanita yang melakukan perbuatan keji, hendaklah ada empat saksi di antara kamu [yang menyaksikannya].” (an-Nisaa’: 15)
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik [menuduh mereka telah berbuat zina], akan tetapi mereka tidak mendatangkan empat orang-orang saksi, maka deralah mereka [yang menuduh itu].” (an-Nuur: 4)

b. Kesaksian terhadap pembunuhan dan kejahatan selain zina yang hukumnya telah ditentukan, seperti pencurian, minum-minuman keras dan menuduh orang lain berbuat zina [dalam istilah fiqih disebut hudud].
Kesaksian terhadap tidak kejahatan ini harus dilakukan dua orang laki-laki. Wanita juga tidak bisa menjadi saksi terhadap kejahatan seperti ini.

Allah swt. berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.” (ath-Thalaq: 2)
Sebagian ahli fiqih seperti pengikut Imam Syafi’i memasukkan ke dalam masalah ini hak-hak immateri, seperti: pernikahan, perceraian, dan lain sebagainya. Karenanya mereka berbeda pendapat bahwa maslah-masalah tersebut juga harus ada dua orang laki-laki yang menjadi saksi.

c. Kesaksian untuk menetapkan hak-hak yang bersifat materi
Contohnya: jual beli, pinjam-meminjam, dan lain sebagainya. Dalam masalah ini bisa dilakukan dengan dua saksi laki-laki, atau satu laki-laki dan dua perempuan.
Allah berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki-laki [di antaramu]. Jika tak ada dua orang lelaki, maka [boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan] dari saksi-saksi yang kamu ridlai.” (al-Baqarah: 282)
Ulama madzab Hanafi memberlakukan ketentuan ini untuk semua yang berkaitan dengan hak milik selain hudud dan qishash.

d. Kesaksian terhadap masalah-masalah wanita yang biasanya tidak diketahui oleh laki-laki, seperti: melahirkan, menyusui, keperawanan, dan lain sebagainya.
Dalam masalah ini kesaksian wanita bisa diterima meskipun tanpa laki-laki. Bahkan dalam madzab Hanafi kesaksian wanita dalam masalah ini bisa diterima meskipun hanya satu wanita.

Uqbah bin Harits ra. berkata, bahwa ia menikahi seorang gadis putri dari Ihab bin Abdul Aziz. Seorang wanita kemudian datang kepada Uqbah dan berkata: “Sesungguhnya aku telah menyusui kamu dan juga wanita yang telah engkau nikahi.” Uqbah menjawab: “Saya tidak tahu kalau engkau menyusuiku dan engkau sebelumnya tidak memberitahuku.”
Setelah itu Uqbah datang kepada Rasulullah saw. dan menanyakan masalah yang dialaminya. Rasulullah saw. menjawab: “Bagaimana kamu masih tetap menikahinya, padahal telah dikatakan bahwa ia adalah saudara sesusuanmu.” Uqbah lalu menceraikannya. Wanita itupun kemudian menikah dengan orang lain. (HR Bukhari).

Rasulullah saw. menerima kesaksian itu meskipun hanya satu orang wanita. Akan tetapi ualam selain madzab Hanafi berpendapat, tetapi diharuskan adanya wanita leibh dari satu sebagai saksi, agar kesaksiannya bisa diterima. Adapun yang dilakukan Aqabah, menceraikn istrinya adalah karena kehati-hatiannya, bukan perintah dari Rasulullah saw.

3. Saksi adalah bukti bagi pihak penggugat, sedangkan sumpah adalah bukti dari pihak yang tergugat.
Seorang hakim, hendaknya memutuskan hukuman dan memenangkan orang yang memiliki bukti yang benar, baik itu penggugat maupun yang tergugat. Dalam syariat telah ditetapkan, bahwa penggugat harus memberikan bukti dengan mendatangkan saksi. Sedangkan pihak tergugat bisa memperkuat argumentasinya dengan bersumpah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

Rasulullah juga pernah berkata kepada kepada penggugat: “Berikan dua saksimu, atau sumpah dari orang yang tergugat.” (HR Muslim)
Adapun hikmah dari hal ini adalah, bahwasannya penggugat biasanya mengklaim sesuatu yang sifatnya tidak diketahui orang, maka ia perlu bukti yang kuat untuk mendukung gugatannya, bukti yang kuat tersebut adalah saksi. Karena saksi merupakan pengakuan pihak ketiga atau orang lain yang tidak terlibat dalam pertikaian.

Sedangkan sumpah lebih lemah bila dibanding dengan saksi, karena sumpah itu dijadikan hujjah bagi orang yang tergugat. Karena tergugat pada dasarnya tidak mengklaim sesuatu yang tidak tampak. Ia berada pada posisi bertahan, mempertahankan apa yang sudah ada. Dengan demikian ia boleh menggunakan bukti yang lebih lemah yaitu sumpah.

4. Bukti yang diajukan Penggugat harus didahulukan
Jika semua syarat pengaduan telah terpenuhi, maka hakim harus mendengarkan [menyidangkan] pengaduan tersebut. Dalam persidangan yang digelar, hakim harus menanyakan kepada pihak tergugat. Jika pihak tergugat membenarkan gugatan, maka hakim harus memenangkan pihak penggugat.

Namun jika pihak tergugat membantah, maka hakim harus meminta bukti dari pihak penggugat. Jika pihak penggugat mendatangkan bukti, maka hakim harus memenangkannya tanpa menimbang kembali ucapan pihak tergugat, meskipun ia bersumpah habis-habisan. Akan tetapi jika pihak penggugat tidak bisa mendatangkan bukti, maka hakim harus meminta sumpah dari pihak tergugat. Jika pihak tergugat bersumpah, maka ia terbebas dan masalah pun selesai.

Proses ini berdasarkan pertanyaan Rasulullah saw. kepada penggugat: “Engkau memiliki saksi?” Penggugat menjawab: “Tidak.” Rasulullah lalu berkata kepada pihak tergugat, “Kalau begitu berikan sumpahmu.” (HR Muslim). Dalam hadits ini secara jelas Rasulullah saw. menanyakan bukti bagi penggugat terlebih dahulu. Setelah penggugat tidak mampu memberikan bukti, barulah meminta agar tergugat bersumpah.

5. Menyuruh penggugat bersumpah
Jika pihak tergugat tidak mau bersumpah, bahkan meminta hakim untuk mengambil sumpah dari penggugat, apakah permintaan itu dikabulkan?
Sebagian ulama [termasuk madzab Syafi’i] berpendapat, bahwa permintaan itu dikabulkan. Karena ia berhak untuk bersumpah lalu bebas. Jika kemudian ia rela diputuskan oleh sumpah pihak lawan, itu adalah keputusannya.

Sebagian ulama yang lain [termasuk mazhab Hanafi] berpendapat, hak untuk bersumpah, tidak diberikan kepada penggugat, karena Rasulullah telah bersabda kepada penggugat, “Dua saksimu, atau sumpah darinya. Kamu tidak mempunyai hak selain itu.” (Hr Bukhari dan Muslim)
Begitu juga dalam hadits di atas, Rasulullah telah memberikan hak pada masing-masing pihak. “Hak penggugat adalah mendatangkan saksi, dan hak tergugat adalah bersumpah.” (HR Tirmidzi)

6. Putusan hukum karena tidak mau bersumpah
Ketika hakim meminta tergugat untuk bersumpah, namun ia menolak, maka hakim menjatuhkan putusan dengan kemenangan di pihak penggugat. Ini adalah pendapat para ulama madzab hanafi dan Hambali.

Dalil mereka adalah sabda Nabi, “Sedangkan sumpah, diwajibkan bagi orang yang mengingkari [tergugat].” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa sumpah bagi tergugat adalah wajib. Orang yang menggunakan akal jernih, tentu tidak akan menolak untuk menunaikan kewajiban tersebut. Karena menolak untuk bersumpah, berarti mengakui bahwa apa yang dituduhkan kepadanya adalah benar.

Sedangkan para ulama madzab Syafi’i dan Maliki berpendapat, jika tergugat menolak memberikan sumpah, maka hakim belum bisa memutuskan perkara. Hakim harus leibh dahulu meminta penggugat untuk bersumpah. Jika ia mau bersumpah maka diputuskan bahwa gugatannya adalah benar. Namun jika ia tidak mau bersumpah, maka dakwaan yang dilontarkannya tidak bisa dibenarkan, karena secara hukum asal, pihak tergugat adalah bersih dari tuduhan, hingga ada bukti yang menyudutkannya. Sedangkan keengganan untuk bersumpah tidak bisa dijadikan bukti bahwa apa yang dituduhkan memang benar. Karena boleh jadi keengganan tersebut akibat kehati-hatian agar terhindar dari sumpah palsu. Dengan demikian keputusan belum bisa diambil dengan penolakan sumpah oleh tergugat, karena masih adanya kemungkinan-kemungkinan.

7. Kapan pihak tergugat harus bersumpah.
Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa waktu bersumpah bagi tergugat adalah ketika ia diminta untuk bersumpah. Dalil mereka adalah keumuman hadits yang dinyatakan bahwa tergugat harus bersumpah.

Sedangkan imam Malik berpendapat bahwa tergugat tidak perlu memberikan sumpah, kapan pun, kecuali jika antara keduanya jelas telah terjadi muamalah, hutang-piutang, dan semisalnya. Atau jika pihak tergugat memang ada indikasi seperti yang dituduhkan kepadanya.
Ia beralasan bahwa hal tersebut adalah demi sebuah mashalah (kebaikan), agar tidak membuka celah saling tuduh di tengah masyarakat atau membawa paksa seseorang ke pengadilan tanpa alasan yang jelas.

8. Bagaimana bentuk sumpah yang harus diucapkan.
Jika hakim meminta salah seorang dari dua orang yang bertikai bersumpah, maka sumpah tersebut adalah dengan nama Allah. Tidak dibenarkan bersumpah dengan selain Allah, baik orang yang bersumpah tersebut muslim atau kafir.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan [nama] nenek moyang kalian. Barangsiapa yang tidak bersumpah, bersumpahlah dengan nama Allah atau [jika tidak] hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan hakim dibenarkan mempertegas redaksi sumpah, dengan menambahkan sifat-sifat Allah dalam bersumpah. Misalnya menyuruh bersumpah dengan lafadz: “Demi Allah tiada Tuhan kecuali Dia, Mahamengetahui yang ghaib dan yang tampak, Mahapengasih lagi Mahapenyayang.” Atau sifat-sifat lain yang menjadikan sumpah lebih berbobot bagi yang mengucapkannya, sehingga ia tidak akan menersukan sumpahnya jika ia merasa bedusta.

Contoh lainnya adalah dengan menghadirkan al-Qur’an lalu ia bersumpah, jika ia seorang muslim, tentunya dengan memenuhi syarat-syarat dan adab memegang al-Qur’an. Bisa juga menyuruh bersumpah dengan lafadz: “Demi Allah, Dzat yang menurunkan Taurat kepada Musa,” jika ia seorang Yahudi. Atau “Demi Allah Dzat yang telah menurunkan Injil,” jika ia seorang Kristen. Bisa juga: “Demi Allah yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.” Jika ia seorang animis.

9. Adab-adab bersumpah.
Jika salah seorang yang bertikai dimintai hakim untuk bersaksi, maka sebelum orang tersebut bersumpah, hakim dianjurkan untuk terlebih dahulu menasehatinya dan memperingatkan terhadap bahaya dan dosa dari sumpah palsu [bohong]. Bisa juga membacakan ayat-ayat atau hadits yang berkenaan dengan dosa-dosa dari sumpah yang dusta.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dua orang wanita menyulam dalam sebuah rumah. Lalu seoran di antara mereka keluar rumah dengan luka di tangannya tertusuk alat sulam. Ia menuduh temannya telah melakukannya. Ketika masalah itu diadukan kepada Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: “Ingatlah ia akan Allah, dan bacakanlah untuknya firman Allah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan] Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian [pahala] di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak [pula] akan mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imraan: 77)

Jika orang yang dimintai bersumpah, merasa bahwa ia telah berbohong, maka lebih baik ia mengaku terus terang, dan tidak bersumpah palsu, agar ia tidak mendapat kemarahan dari Allah swt. dan agar tidak dijauhkan dari rahmat Allah swt.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah, untuk mendapatkan harta seorang muslim, maka ia akan bertemu Allah dan Allah dalam keadan marah kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Namun jika ia berada di pihak yang benar, maka ia harus mengucapkan sumpah. Karena Allah mensyariatkan sumpah dalam persengketaan, agar setiap hak muslim terjaga. Juga agar orang-orang yang berhati kotor tidak mudah melontarkan tuduhan, untuk bisa mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, karena mereka tahu bahwa orang-orang yang dituduh sangat hati-hati untuk bersumpah.

10. Satu saksi dan sumpah.
Jika penggugat hanya bisa menghadirkan satu saksi, padahal dalam perkara yang sedang disidangkan membutuhkan dua saksi, maka apakah dibolehkan bersumpah untuk mengganti saksi yang satunya? Para ulama dari madzab Hanafi berpendapat, bahwa tidak bisa menggunakan sumpah sebagai ganti saksi. Jika tidak mampu, maka giliran tergugat untuk memberikan sumpahnya.

Dalil mereka adalah sabda Rasulullah saw. “[Berikan] dua saksimu atau dia [tergugat] yang akan bersumpah. Kamu tidak berhak kecuali itu.”

Sedangkan menurut para ulama dari madzab Maliki, Syafi’i, dan Hambali, pelaksanaan pengajuan bukti dengan hanya menghadirkan satu saksi dan sumpah untuk menggantikan posisi saksi yang tidak bisa dipenuhi, bisa dilakukan dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan materi. Dalil mereka adalah hadits riwayat Muslim, dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. memutuskan perkara dengan sumpah dan satu saksi.

11. Penggugat dan perihal saksi yang didatangkan.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa bukti bagi penggugat adalah adanya saksi, jika ini dipenuhi maka hukuman bisa diputuskan. Namun demikian, jika hakim masih ragu, maka ia berhak untuk menyumpah penggugat bahwa saksi yang dihadirkan adalah betul, bukan rekayasa. Ketika imam Ahmad ditanya masalah ini, ia menjawab bhwa hal itu pernah dilakukan Ali ra.
Disamping penyumpah penggugat, hakim juga berhak menyumpah saksi, bahwa kesaksiannya memang benar. Jika ini dilakukan, maka akan menepis segala keraguan.

12. Bolehkan keputusan Hakim didasarkan pada apa yang ia ketahui.
Jika seorang hakim betul-betul mengetahui hakekat kasus yang diajukan kepadanya, maka ia tidak bisa memutuskan kasus tersebut hanya berdasarkan pengetahuannya. Akan tetapi ia harus memutuskannya berdasarkan berbagai bukti yang diajukan, baik oleh penggugat maupun tergugat, meskipun bukti-bukti tersebut bertentangan dengan apa yang ia ketahui.

Dalil dari pendapat ini adalah sabda Rasulullah saw. “Saya hanyalah seorang manusia. Kalian bersengketa dan mengadu kepadaku. Boleh jadi satu pihak mendatangkan bukti lebih kuat dari pihak lain, maka akan kuputuskan sesuai yang saya dengar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini jelas dinyatakan bahwa Rasulullah memutuskan hukuman sesuai yang beliau dengar dan tidak berdasarkan apa yang beliau ketahui. Dengan demikian, semua pintu kedhaliman dan kerusakan akan ditutup rapat, sehingga tidak memberikan celah kepada hakim yang jahat untuk menghukum orang-orang yang bersalah, dengan klaim bahwa ia mengetahui hal yang sebenarnya. Bahkan jika keputusan hakim bisa dilakukan berdasarkan pengetahuannya, akan mengundang maraknya suap. Artinya, bisa saja seorang menyuap hakim untuk mengakup; bahwa ia mengetahui masalah yang terjadi sebenarnya.

13. Keputusan hakim tidak bisa menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan yang dihalalkan.
Jika semuanya telah terpenuhi, baik saksi yang dihadirkan penggugat atau sumpah yang diucapkan oleh tergugat, maka hakim harus mengambil keputusan. Putusan itu juga harus dilaksanakan oleh pihak yang diputuskan kepadanya suatu hukuman.

Meskipun demikian, keputusan ini kadang bertolak belakang dengan realita yang ada. Misalnya, karena penggugat menghadirkan saksi palsu atau orang yang tergugat mengucapkan sumpah palsu. Dalam konteks seperti ini, orang yang dimenangkan tidak halal dengan kemenangannya, demikian juga orang yang diputuskan tetap tidak diharamkan untuk tidak melaksanakan keputusan.

Sebagai contoh, seandainya ada dua orang saksi yang bersaksi dengan kesaksian palsu, bahwa seorang wanita telah diceraikan oleh suaminya, akan tetapi suaminya membantahnya. Lalu hakim memutuskan bahwa perceraian itu sah, maka wanita tadi tidak boleh menikah kecuali dengan suaminya itu. Karena sebenarnya ia tetap menjadi istri dari suaminya itu. Demikian juga suaminya tetap dihalalkan melakukan hubungan badan dengan istri yang telah divonis cerai oleh hakim.

Dasar masalah ini adalah hadist Ummu Salamh ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang aku putuskan berkaitan dengan hak saudaranya, maka hendaklah ia tidak mengambilnya. Karena dengan begitu, aku telah memberikan potongan dari neraka.”

14. Pahala bagi hakim yang adil
Seorang hakim harus bersungguh-sungguh untuk mengenali kasus yang ia tangani. Lalu memutuskan sesuai dengan ijtihadnya bahwa itulah yang benar.
Ummu Salamah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Menurutku dialah yang benar. Karena itu aku putuskan dialah yang menang dalam perkara ini.” (HR Bukhari)

Jika hakim menempuh cara ini, maka ia telah menempuh cara yang benar. Terlepas, apakah putusannya sesuai dengan kejadian yang sebenarnya atau tidak.
Amru bin Ash ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda; “Jika dalam mengambil keputusan , seorang hakim berijtihad, lalu keputusannya benar, niscaya dia mendapatkan dua pahala. Dan jika salah , ia mendapat satu pahala.” (HR Bukhari, Muslim dan lainnya)

15. Satu hakim masuk surga, dan dua hakim masuk neraka.
Syarat untuk menjadi hakim adalah mengetahui masalah halal dan haram dalam hukum Islam, memiliki kemampuan untuk mereferensikan berbagai persoalan kepada sumber-sumber hukum Islam, dan mampu mengambil hukum dan berbagai masalah yang ia tangani.
Di samping itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh dengan penuh kehati-hatian dalam memutuskan satu perkara. Jika seorang hakim memutuskan satu perkara, tanpa kesungguhan dan kehati-hatian, atau bahkan tidak mengetahui hukum Islam sama sekali, maka ia berdosa. Meskipun keputusannya benar, karena kebenaran keputusan tersebut bersumber dari ketidaksengajaan. Sekali ini ia benar, tetapi berkali-kali yang lain bisa dipastikan ia berbuat salah.

Yang lebih celaka adalah hakim yang mengetahui kebenaran, namun memutuskan kebalikannya, hanya karena kepentingan dunia, atau karena dorongan hawa nafsu semata.

Rasulullah saw. bersabda: “Ada golonga tiga hakim, satu di surga dan dua di neraka. adapun yang masuk surga adalah hakim yang tahu kebenaran dan memutuskan sesuai dengan kebenaran tersebut. Yang masuk neraka adalah hakim yang mengetahui kebenaran namun memutuskan kebalikannya, dan hakim yang memutuskan perkara tapi tidak mengerti apa-apa.” (HR Abu Dawud)

selesai

Hadits Arba’in ke 8: Haramnya Darah Seorang Muslim (Tidak Boleh Dibunuh)

12 Nov

Al-Wafi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 8 (Kedelapan)

Ibnu Umar Ra. berkata Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu berarti telah melindungi darah dan harta mereka kecuali dengan alasan yang dibenarkan Islam, sedangkan perhitungan mereka [termasuk baik atau buruk] adalah wewenang Allah swt. (HR Bukhari dan Muslim)

URGENSI HADITS

Hadits ini sangat penting, karena memuat perkara-perkara yang fundamental dari berbagai dasar Islam. Perkara-perkara tersebut adalah Syahadat, dengan meyakini sepenuhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat.

KANDUNGAN HADITS

1. Riwayat hadits
Hadits ini diriwayatkan dalam berbagai bentuk. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat seperti shalat kami, menghadap kiblat kami, makan sembelihan kami, maka diharamkan bagi kami jiwa dan harta benda mereka, kecuali dengan ketetapan hukum Islam.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka memenuhinya, maka mereka telah terjaga (terpelihara jiwa dan hartanya) kecuali dengan ketetapan hukum Islam, sedangkan hisabnya berada di sisi Allah.

2. Mengucapkan syahadatain
Sebenarnya, hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, seseorang telah terpelihara jiwa dan hartanya. Hal ini didasari pada apa yang terjadi di masa Rasulullah saw. Pada saat itu Rasulullah saw. menerima orang yang datang kepadanya untuk masuk Islam dengan hanya mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu mereka sudah dianggap muslim yang terpelihara jiwa dan hartanya.

Hal ini juga didukung oleh sebuah hadits shahih yang senada dengan hadits di atas. Namun tidak menyebutkan masalah shalat dan zakat. “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka berkata, ‘Saya bersaksi tiada tuhan selain Allah.’ Barangsiapa yang mengatakan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah.’ Maka jiwa dan hartanya terpelihara. Kecuali dengan ketetapan hukum Islam. Sedangkan kejujurannya adalah urusan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sementara riwayat Muslim menyebutkan, “Sehingga mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah, beriman kepadaku dan beriman kepada apa yang aku bawa.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan ‘Tiada tuhan selain Allah’ dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka Allah mengharamkan jiwa dan hartanya. Sedangkan kejujurannya adalah urusan Allah.”

Bukti lainnya adalah pengingkaran Nabi terhadap Usamah bin Zaid karena membunuh orang yang mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH.”

Berbagai hadits di atas tidaklah bertentangan, bahkan semuanya benar. Sekedar mengucapkan syahadatain, seseorang telah terpelihara jiwa dan hartanya serta dianggap sebagai muslim. Jika setelah itu ia mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka ia memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan masyarakat muslim lainnya. Akan tetapi jika ia meninggalkan salah satu dari rukun Islam, dan ia didukung oleh kelompok yang kuat dan berpengaruh, maka mereka harus diperangi. Allah Ta’ala berfirman: “Jika mereka taubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka..” (at-Taubah: 5)
Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, maka mereka adalah saudaramu seagama…” (at-Taubah: 11)

Bukti lain adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. setiap hendak menyerang satu kaum. Jika beliau dan pasukannya sampai di tempat kaum yang dimaksud pada malam hari, beliau menunggu pagi dan tidak langsung menyerang. Jika terdengar adzan, beliau pun membatalkan penyerangan.

3. Perdebatan antara Abu Bakar dan Umar
Yaitu seputar keharusan memerangi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat adalah bukti bahwa dengan hanya mengucapkan syahadatain seseorang telah masuk Islam. Juga bukti bahwa memerangi orang yang menolak untuk membayar zakat, hanya bisa dilakukan ketika mereka dalam bentuk kelompok.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa setelah Nabi sawa. Wafat dan Abu Bakar menjadi khalifah, banyak orang Arab yang kufur. Saat itulah Umar berkata kepada Abu Bakar, “Mengapa engkau memerangi mereka [pembangkang zakat]? Padahal Rasulullah saw. bersabda: ‘Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata: saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Barangsiapa mengatakan ‘Tiada tuhan selain Allah.’ Maka jiwa dan hartanya terpelihara. Kecuali dengan ketetapan hukum Islam. Sedangkan kejujurannya adalah urusan Allah.’”
Abu Bakar ra. menjawab: “Demi Allah akan aku perangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat, karena zakat merupakan hak dari harta. Siapapun yang tidak mengeluarkan zakat meskipun hanya sedikit, yang dulu mereka keluarkan kepada Rasulullah, niscaya aku perangi.” Umar berkata: “Demi Allah, saya merasa bahwa Allah telah memberi petunjuk kepada Abu Bakar untuk memerangi mereka. Dan saya melihatnya sebagai hal yang benar.”

Sikap Abu Bakar ra. dalam memerangi orang yang menolak membayar zakat adalah mengacu pada kalimat “illaa bihaqiHi”[kecuali dengan ketetapan hukum Islam]. Sedangkan Umar ra. menyangka bahwa cukup dengan dua kalimat syahadat seseorang telah terpelihara jiwa dan hartanya, yakni dengan mengacu pada keumuman bagian awal dari hadits. Namun setelah mendengar penjelasan Abu Bakar, ia pun setuju.

Bisa dipastikan, Abu Bakar dan Umar ra belum mengetahui hadits yang diriwayatkan Ibu Umar ra. yang jelas-jelas merupakan perintah untuk memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Bisa jadi hal itu karena disaat keduanya berdebat Ibnu Umar tidak ada disitu.

Kisa di atas juga mengisyaratkan ketinggian ilmu Abu Bakar dan kejeliannya menyimpulkan sebuah hukum. Sehingga apa yang dilakukan sesuai dengan nash, meskipun ia tidak mengetahuinya. Melalui kisah perdebatan Abu Bakar ra. dan Umar ra. di atas, bisa juga kita pahami bahwa perintah untuk memerangi orang yang tidak mau mendirikan shalat merupakan sesuatu yang disepakati oleh para shahabat ra.

Muslim meriwayatkan dari Ummu Salama ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kalian akan dipimpin oleh para penguasa yang sewenang-wenang. Di antara kalian ada yang berdiam saja, dan ada yang mengingkari. Barangsiapa yang mengingkarinya maka ia terbebas dari dosa. Barangsiapa hanya menahan kebencian, maka ia selamat. Akan tetapi barangsiapa yang rela bahkan mengikuti, maka ia ikut menanggung dosa.” Para shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, tidakkah kami memerangi mereka?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka melakukan shalat.”

4. Hukum bagi orang yang meninggalkan semua rukun Islam
Jika mereka satu kelompok yang kuat dan berpengaruh, maka mereka harus diperangi, sebagaimana orang menolak membayar zakat dan tidak mau mendirikan shalat. Ibnu Syihab az-Zuhry meriwayatkan dari Handlalah Ibnu Abi Ibnu Asqa’ bahwa Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk memerangi manusia karena lima hal. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari lima hal tersebut, maka tetap juga diperangi, sebagaimana mereka meninggalkan kelimanya. Kelima hal itu adalah:
a. Syahadatain
b. Mendirikan shalat
c. Mengeluarkan zakat
d. Puasa Ramadlan
e. Haji

Sa’id bin Jubair meriwayatkan bahwa Umar ra. berkata, “Seandainya sekelompok orang meninggalkan haji niscaya kami akan memerangi mereka sebagaimana kami memerangi mereka manakala mereka meninggalkan shalat dan zakat.”

Jika seorang muslim meninggalkan dan tidak mau melaksanakan salah satu dari rukun Islam. Menurut madzab Maliki dan Syafi’i, ia harus dibunuh, sebagai hukuman jika yang ditinggalkan adalah shalat. Sedangkan menurut Ahmad, Ishaq dan Ibnu Mubarak, ia harus dibunuh karena telah kafir.
Adapun yang menolak membayar zakat, tidak mau puasa dan menunaikan ibadah haji, menurut madzab Syafi’i ia tidak dibunuh. Sedangkan menurut Imam Ahmad –dalam pendapatnya yang paling masyhur- ia harus dibunuh.

5. Iman yang diharapkan.
Hadits ini menjelaskan bahwa iman yang diharapkan oleh syariat adalah pengakuan yang mendalam dan keyakinan terhadap rukun-rukun Islam tanpa keraguan sedikitpun. Sedangkan pengetahuan sebagai dalil bagi keimanan tersebut bukan syarat sahnya iman. Artinya seseorang hanya dituntut untuk yakin terhadap apa yang diwaha Nabi Muhammad saw. dan tidak disyaratkan untuk mengetahui dalil-dalilnya.

6. Maksud kalimat illaa bihaqqiHaa “Kecuali dengan haknya”
Dalam riwayat yang lain illaa bihaqqil islaam “kecuali hak Islam”, oleh Abu Bakar, sebagaimana kisah yang telah lalu, dipahami bahwa hal tersebut adalah mendirikan shalat, mengeluarkan zakat. Sebagian ulama ada juga yang memasukkan puasa dan haji ke dalam hak tersebut. Termasuk juga perbuatan yang menjadikan jiwa seorang muslim tidak terpelihara [misalnya membunuh, zina dan sebagainya].

Lebih jelasnya kalimat “kecuali dengan haknya” bisa kita lihat penjabarannya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Jarir ath-Thabari, dari Anas ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka berkata: ‘Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah.’ Jika mereka mengatakannya maka jiwa dan harta mereka terpelihara, kecuali dengan haknya. Sedangkan kejujurannya urusan Allah.” Seorang shahabat bertanya: “Lantas apa yang dimaksud dengan haknya?” Rasulullah saw. menjawab: “Zina setelah menikah, murtad dan membunuh. Maka ia dijatuhi hukuman mati karena telah melakukan hal-hal tersebut.”

Dipertegas lagi oleh hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kecuali diakibatkan oleh salah satu dari tiga hal; orang tua yang berzina [telah menikah], membunuh dan murtad.”

7. Perhitungan di akhirat adalah urusan Allah.
Adapun ketika di akhirat maka Allah lah yang akan menghisabnya, karena hanya Allah lah yang tahu masalah isi hati. Jika seseorang ternyata benar-benar beriman maka ia pun masuk surga. Namun jika ternyata ia dusta dan keislamannya hanya pura-pura, maka ia adalah munafik dan akan bertempat di neraka yang paling bawah. Adapun tugas Rasulullah dan para da’i di dunia hanyalah mengingatkan dan menasehati.

Firman Allah yang artinya: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada kamilah kembalinya mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban kamilah menghisab mereka.” (al-Ghaasyiyah: 21-26)

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk melihat hati manusia dan menyingkap batinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

8. Memerangi penyembah berhala adalah wajib, hingga mereka masuk Islam

9. Jiwa dan harta seorang Muslim terpelihara.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Waaqi’ah (1)

12 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat)
Surah Madaniyyah; surah ke 56: 96 ayat

bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)

Abu Ishaq menceritakan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata bahwa Abu Bakar berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya engkau telah beruban.” Maka beliau bersabda: “Aku telah dijadikan beruban oleh surah Huud, al-Waaqi’ah, al-Mursaalaat, ‘Amma Yatasaa-aluun, dan Idzasy syamsu Kuwwirat.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia mengatakan: “Hadits tersebut hasan gharib.”

‘Abdullah bin Wahb meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa membaca surah al-Waaqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kesusahan untuk selamanya.” (Didlaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dlaiiful Jami’ no.5773)

Abu Zhabiyyah pun tidak pernah meninggalkannya. Demikian pula yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Samak binHarb, dimana ia pernah mendengar Jabir bin Samurah bercerita: “Rasulullah saw. senantiasa mengerjakan shalat seperti shalat yang kalian kerjakan sekarang ini, tetapi beliau meringankannya. Shalat beliau itu lebih ringan dari shalat kalian. Dan beliau membaca surah al-Waaqi’ah dan surah-surah sejenisnya pada shalat shubuh.”

tulisan arab alquran surat al waaqi'ah ayat 1-12“1. apabila terjadi hari kiamat, 2. tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. 3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), 4. apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, 5. dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, 6. Maka jadilah ia debu yang beterbangan, 7. dan kamu menjadi tiga golongan. 8. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. 9. dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. 10. dan orang-orang yang beriman paling dahulu, 11. mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. 12. berada dalam jannah kenikmatan.” (al-Waaqi’ah: 1-12)

Al-Waaqi’ah adalah salah satu nama dari nama hari kiamat. Disebut demikian karena hari kiamat itu pasti terjadi dan pasti ada. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: fa yauma-idziw waqa’atil waaqi’ah (“Maka pada hari itu terjadilah al-Waaqi’ah[hari kiamat].”) (al-Haaqqah: 15)

Dan firman Allah: laisa liwaq’atiHaa kaadzibah (“Terjadinya hari kiamat itu tidak dapat didustakan [disangkal].”) maksudnya jika Allah sudah menghendaki kejadiannya, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan dan menolaknya. Dan makna “kaadzibah” sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab: “Yakni sudah pasti terjadi.” Qatadah mengungkapkan: “Tidak ada pengecualian, penolakan, dan pengulangan.” Ibnu Jarir mengatakan: “Kata =alkaadzibaH= berkedudukan sebagai masdar, seperti kata al’aaqibaH dan al’aafiyaH.”

Dan firman-Nya: khaafi-dlatur raafi’aH (“[Kejadian itu] merendahkan [satu golongan] dan meninggikan [golongan yang lain].”) maksudnya merendahkan beberapa kaum ke bagian yang paling bawah sampai ke neraka jahim, meskipun dahulu mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi dan terhormat. Dan meninggikan kaum lainnya setinggi-tingginya sampai ke surga Na’im yang kekal abadi, meskipun mereka dahulu ketika di dunia adalah orang-orang yang rendah. Demikianlah yang disampaikan oleh al-Hasan, Qatadah dan lain-lain.

Firman Allah: idzaa rujjatil ardlu rajjan (“Apabila bumi diguncang sedahsyat-dahsyatnya.”) maksudnya digerakkan sekencang-kencangnya sehingga menjadi goncang, baik luas maupun panjangnya. Oleh karena itu, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah dan beberapa ulama lainnya berkata tentang firman-Nya: idzaa rujjatil ardlu rajjan (“Apabila bumi diguncang sedahsyat-dahsyatnya.”) yaitu bumi goncang kedahsyat-dahsyatnya.

Dan firman-Nya: wa bussatil ardlu bassaa (“Dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya.”) maksudnya diremukkan seremuk-remuknya. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Qatadah, dan lain-lain. Dan Ibnu Ziad mengungkapkan: “Gunung-gunung menjadi seperti yang difirmankan Allah: katsiibam maHiilan (“tumpukan pasir yang beterbangan.”)(al-Muzzammil: 14).

Firman Allah Ta’ala: fakaanat Habaa-am mumbatstsan (“Maka jadilah ia debu yang beterbangan.”) Abu Ishaq menceritakan dari al-Harits, dari ‘Ali ra: “Yakni seperti debu-debu yang dihamburkan, naik dan kemudian hilang, tidak ada sedikitpun yang tersisa darinya.” ‘Ikrimah mengemukakan: “Mumbatstsan berarti sesuatu yang diterbangkan dan dihamburkan oleh angin.”

Mengenai firman-Nya: fakaanat Habaa-am mumbatstsan (“Maka jadilah ia debu yang beterbangan.”) Qatadah berkata: “Seperti pohon kering yang diporak porandakan oleh angin.” Ayat ini seperti yang semisalnya menunjukkan akan hilangnya gunung-gunung dari tempatnya masing-masing, lenyap, dan porak poranda. Dan itu berlangsung bagai kapas yang diterpa angin.

Dan firman Allah selanjutnya: wa kuntum azwaajan tsalaatsatan (“Dan kamu menjadi tiga golongan”) yakni pada hari kiamat, manusia akan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: satu golongan berada di sebelah kanan ‘Arsy, mereka itulah orang-orang yang keluar dair bagian tubuh Adam sebelah kanan, buku catatan amal perbuatan mereka diberikan dengan tangan kanan mereka, dan mereka akan dibawa ke sebelah kanan pula.
As-Suddi mengatakan: “Mereka itu adalah para penghuni surga.”

Dan golongan lainnya di sebelah kiri ‘Arsy, mereka itulah orang-orang yang keluar dari bagian tubuh Adam sebelah kiri, dan akan diberikan buku catatan amal perbuatan mereka pada tangan kiri, dan mereka akan dibawa ke sebelah kiri. Mereka itu adalah para penghuni neraka secara umum – semoga Allah melindungi kita dari perbuatan mereka-.

Adapun golongan yang paling dulu sampai di hadapan Allah swt, mereka inilah yang paling khusus, lebih terhormat, dan lebih dekat daripada orang-orang yang berada di sebelah kanan yang merupakan pemuka mereka semua, di antara mereka adalah para Rasul, para Nabi, orang-orang yang benar [ash-Shiddiiquun], dan para syuhada’ yang jumlahnya lebih sedikit dari ash-haabul Yamiin.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: fa ash-haabul maimanati maa ash-haabul maimanatin. Wa ash-haabul masy-amati maa ash-haabul masy-amati. Was saabiquunas saabiquuna (“Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri tersebut. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu [masuk surga].”) demikianlah Allah telah membagi umat manusia menjadi tiga bagian di akhir surah pada saat mereka dihadirkan. Demikianlah Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya ini yang artinya: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.” (Faathir: 32)

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (1)

12 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Irbadh bin Sariyah, bahwasannya ia pernah menyampaikan hadits kepada mereka, bahwa Rasulullah saw. pernah membaca al-Musabbihat sebelum tidur dan beliau bersabda: “Sesungguhnya di dalamnya terdapat satu ayat yang leibh baik daripada seribu ayat.” (Dlaif, lihat kitab Dla’iif Abi Dawud no 1073)

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, melalui jalan Baqiyyah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan gharib.” Dan ayat yang dimaksudkan dalam hadits tersebut –wallaaHu a’lam- adalah firman Allah Ta’ala: Huwal awwalu wal aakhiru wadhdhaaHiru wal baathinu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in ‘aliim (“Dialah yang awal dan yang akhir, Yang Dhahir dan Yang Bathin dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.”)(al-Hadiid: 3).

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 1-3“1. semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 2. kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. 3. Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Hadiid: 1-3)

Allah swt. memberitahukan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Yakni, semua hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dan firman-Nya: wa Huwal ‘aziiz (“dan Dia Mahaperkasa”) yakni segala sesuatu tunduk kepada-Nya. alhakiim (“lagi Mahabijaksana”) dalam penciptaan, perintah, dan syariat-Nya.
laHuu mulkus samaawaati wal ardli yuhyii wa yumiitu (“Kepunyaan-Nya lah segala kerajaan lagit dan bumi. Dan menghidupkan dan mematikan.”) maksudnya Dia adalah Raja yang mengendalikan makhluk-Nya, menghidupkan, mematikan, dan memberi siapa saja yang Dia kehendaki. Wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”) artinya apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.

Dan firman Allah Ta’ala: Huwal awwalu wal aakhiru wadh-dhaaHiru wal baathin (“Dialah yang awal dan Yang akhir, Yang DhaHir dan Yang Bathin.”) ayat inilah yang diisyaratkan oleh hadits ‘Irbadh bin Sariyah di atas, yaitu merupakan ayat yang lebih baik dari seribu ayat. Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya, Abu Zumail memberitahu kami, ia bercerita: “Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, lalu kukatakan: “Ada sesuatu yang aku dapati di dalam dadaku?” ia bertanya: “Apa itu?” lalu kukatakan: “Demi Allah, aku tidak akan menceritakannya.” Lalu ia bertanya kepadaku: “Apakah sesuatu iatu berupa keraguan?” kemudian ia tertawa seraya berkata: “Tidak ada seorang pun yang terhindar dari hal itu. Sehingga Allah menurunkan firman-Nya [yang artinya]: ‘Maka jika engkau [Muhammad] berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebalummu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu.” (Yunus: 94).”

Selanjutnya ia berkata kepadaku: “Jika engkau mendapati sesuatu di dalam dirimu, maka bacalah: Huwal awwalu wal aakhiru wadh-dhaaHiru wal baathin. Wa Huwa bikulli syai-in ‘aliim (“Dialah yang awal dan Yang akhir, Yang DhaHir dan Yang Bathin. Dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.”)”

Terdapat beberapa perbedaan ungkapan dari para ahli tafsir mengenai ayat ini, yang kurang lebih berkisar sepuluh sampai duapuluh pendapat.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, Yahya berkata: “Yang mengetahui segala sesuatu secara lahir dan bathin.” Dan Syaikh kami, al-Hafizh al-Mizzi berkata: “Yahya disini adalah Ibnu Ziyad al-Farra’ yang ia mempunyai sebuah kitab yang diberi nama Ma’ani al-Qur’an.” Dan banyak hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan hal tersebut.

Di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra.,bahwa Rasulullah saw. senantiasa berdoa ketika hendak tidur: AllaaHumma rabbas samaawaatis sab’i wa rabbil ‘arsyil ‘adhiim, rabbanaa wa rabba kulli syai-in, munzilat tauraata wal injiili wal furqaani, faaliqal habbi wannawaa laa ilaaHa illaa anta a-‘uudzubika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaashiyatiHi, antal awwalu falaisa qablaka syai-un, wa antal aakhiru falaisa ba’daka syai-un, wa antal baathinu laisa duunaka syai-un iq-dli ‘annaad daina, wa aghninaa minal faqri (“Ya Allah, Rabb langit yang berlapis tujuh, Rabb ‘Arsy yang Agung. Ya Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, yang telah menurunkan Taurat, Injil dan al-Furqaan, yang menumbuhkan biji tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Tidak ada Ilah selain Engkau. Aku berlindung kepadamu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Engkaulah yang awwal, tidak ada sesuatupun sebelum-Mu. Engkau adalah al-Akhir, tidak ada sesuatupun setelah-Mu. Engkaulah yang Dhahir, tidak ada sesuatupun yang mengungguli-Mu, dan Engkaulah yang bathin, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Mu. Berikanlah kemampuan kepada kami untuk melunasi hutang, dan bebaskanlah kami dari kefakiran [kemiskinan].” (HR Muslim dalam Shahih-nya).

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (6)

12 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Lalu Allah berfirman seraya menggembleng hamba-hamba-Nya yang beriman untuk tidak seperti orang-orang kafir dan orang-orang munafik: yaa ayyuHalladziina aamanuu idzaa tanaajaitum falaa tatanaajau bil itsmi wal ‘udwaani wa ma’shiyatir rasuul (“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul.”) maksudnya sebagaimana yang dibisikkan oleh orang-orang bodoh dari orang-orang kafir kalangan Ahlul Kitab dan orang-orang munafik yang memberikan dorongan terhadap kesesatan mereka.

Wa tanaajau bilbirri wat taqwaa wat taqullaaHalladzii ilaiHi tuhsyaruun (“Dan berbicaralah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”) maksudnya Dia akan memberitahukan kepada kalian semua tentang perbuatan dan ucapan kalian yang telah Dia rinci satu persatu kepada diri kalian. Dan kelak Dia akan memberikan balasan kepada kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Shafwan bin Mihraz, dia berkata: Aku pernah memegang tangan Ibnu ‘Umar ketika dihadang oleh seorang laki-laki, lalu dia bertanya: “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah saw. tentang pembicaraan rahasia pada hari kiamat kelak?” Ibnu ‘Umar menjawab: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya mendekatkan orang yang beriman, lalu menempatkannya di bawah naungan-Nya dan menutupinya dari orang lain serta memaksanya supaya mengakui dosanya. Dan Allah akan mengatakan kepadanya: ‘Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa ini?’ Sehingga ketika orang itu telah mengakui dosa-dosanya dan dia beranggapan bahwa dia akan celaka, maka Allah pun berkata: ‘Aku telah menutupi semua dosa itu untukmu di dunia dan Aku akan mengampuninya untukmu pada hari ini.’ Kemudian diberikan catatan-catatan amal baiknya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka para saksi akan mengatakan: ‘Mereka itulah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka. Ketahuilah, sesungguhnya laknat Allah itu akan ditimpakan kepada orang-orang yang dhalim.’”
Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam ash-Shahihain, dari hadits Qatadah.

Kemudian Allah berfirman: innaman najwaa minasy syaithaani liyahzunalladziina aamanuu wa laisa bi-dlaarriHim syai-an illaa bi-idznillaaHi wa ‘alallaaHi falyatawakkalil mu’minuun (“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tidaklah memberi mudlarat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.”)

Yang dimaksud dengan an-najwa adalah hal-hal yang dirahasiakan, yang dengannya seorang mukmin akan berprasangka buruk. Minasy syaithaani liyahzunalladziina aamanuu (“adalah dari syaitan supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita.”) maksudnya hal tersebut bersumber dari mereka yang membicarakan rahasia tentang bujukan syaithan dan rayuannya, liyahzunalladziina aamanuu (“supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita”) maksudnya untuk mencelakai mereka, padahal sesungguhnya hal itu sama sekali tidak dapat mencelakai mereka kecuali dengan izin Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang merasakan hal tersebut, hendaklah dia segera memohon perlindungan kepada Allah serta bertawakal kepada-Nya. karena sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat mencelakai kecuali dengan izin Allah.

Dalam sunnah Rasulullah saw. telah dikeluarkan larangan berbisik-bisik yang dapat menyakiti orang lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika kalian sedang bertigaan, maka janganlah kalian saling berbisik-bisik berdua saja sedang mengabaikan yang lainnya, karena itu dapat menyedihkannya.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari al-A’masy. ‘Abdurrazzaq menceritakan, Ma’mar memberitahu kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: “Jika kalian tengah bertigaan, maka janganlah berbisik-bisik berduaan saja tanpa melibatkan yang ketiga, kecuali dengan seizinnya, karena hal itu akan menyedihkannya.” (HR Muslim)

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 11“11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Allah berfirman seraya mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman seraya memerintahkan kepada mereka untuk saling berbuat baik kepada sesama mereka di dalam majelis. Yaa ayyuHalladziina aamanuu idzaa qiila lakum tafassahuu fil majaalisi (“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis.’ Dan dibaca: fil majlisi. ‘
Fafsahuu yafsahillaaHu lakum (“Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.”) Yang demikian itu karena balasan itu sesuai dengan perbuatan, sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah hadits shahih: “Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.”

Dalam hadits lain disebutkan, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang ada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba itu terus membantu saudaranya.” (HR Muslim) dan banyak hadits lain yang serupa dengan ini.

Oleh karena itu Allah berfirman: fafsahuu yafsahillaaHu lakum (“Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.”) Qatadah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan majelis-majelis dzikir. Yaitu, jika mereka melihat salah seorang di antara mereka datang, maka mereka tidak memberikan peluang kepadanya untuk duduk di dekat Rasulullah saw. Kemudian Allah Ta’ala menyuruh mereka memberikan kelapangan sesama mereka.” Sedangkan Muqatil bin Hayyan berkata: “Ayat ini diturunkan pada hari Jum’at.”

Bersambung ke bagian 7