Arsip | 09.31

Hadits Arbain ke 24: Larangan Berbuat Dzalim

13 Nov

Al-Wafi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 24 (dua puluh empat)

Abu Dzar al-Ghifarai ra. berkata, Nabi saw. mensabdakan firman Allah swt.:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman kepada diri-Ku dan Aku menjadikan kedzaliman itu haram di antara kalian. Karena itu, jangan saling mendhalimi.
Wahai hamba-Ku, kalian semua tersesat, kecuali yang Ku-beri petunjuk. Karena itu mintalah petunjuk kepada-Ku, pasti Ku-beri petunjuk.
Wahai hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali yang Ku-beri makan. Karena itu mintalah makan kepada-Ku, pasti Ku-beri makan.
Wahai hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali yang Ku-beri pakaian. Karena itu mintalah pakaian kepada-Ku, pasti Ku-beri pakaian.
Wahai hamba-Ku, kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari. Sedangkan Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampun kepada-Ku, pasti Ku-ampuni.
Wahai hamba-Ku, kalian tidak dapat menjangkau kemudharatan-Ku. Karena itu sedikitpun kalian tidak mampu menimpakan mudharat kepada-Ku. Kalian juga tidak dapat menjangkau kemanfaatan-Ku, karena itu kalian sedikitpun tidak mampu memberi manfaat kepad-Ku.
Wahai hamba-Ku, andaikan kalian semua yang pertama dan yang terakhir, dari bangsa manusia dan jin, menjadi seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, sama sekali tidak menambah kekuasaan-Ku.
Wahai hamba-Ku, andaikan kalian semua yang pertama dan yang terakhir, dari bangsa manusia dan jin, menjadi seperti orang yang paling jahat di antara kalian, sama sekali tidak mengurangi kekuasan-Ku
Wahai hamba-Ku, andaikan kalian semua yang pertama dan yang terakhir, dari bangsa manusia dan jin, berkumpul di satu dataran, mengajukan permintaan kepada-Ku, lalu masing-masing Aku kabulkan permintaaannya. Hal itu sama sekali tidak mengurangi kekayaan-Ku, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan ke laut.
Wahai hamba-Ku, semua itu adalah amal perbuatan kalian. Aku hitung lalu Aku beri balasan. Karena itu barangsiapa mendapt kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa mendapatkan selain itu hendaklah tidak mencela kecuali dirinya sendir.” (HR Muslim)

URGENSI HADITS

Ini adalah hadits qudsi yang penuh berkah dan sangat penting. Ia mencakup dasar-dasar yang fundamental dalam Islam, dan berbagai masalah furu’ serta adab-adabnya. Dalam kitabnya; al-Adzkar, Imam Nawawi menyebutkan bahwa Abu Idris al-Haulani apabila akan mengucapkan hadits ini bersimpuh, untuk menghormatinya. Perawi sanad ini adalah orang-orang Damaskus. Imam Ahmad Ibnu Hambal berkata, “Penduduk Syam tidak memiliki hadits yang lebih mulia dari hadits ini.”

KANDUNGAN HADITS

1. Definisi Hadits Qudsi.
Hadits qudsi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rasulullah dari Allah swt. melalui Jibril, wahyu, ilham atau mimpi. Redaksiaonalnya diserahkan kepada Nabi saw. Tidak ada perbedaan antara hadits Nabi dengan hadits Qudsi kecuali pada sanad periwayatannya. Hadits qudsi diriwayatkan Rasulullah dari Rabb-nya. karena itu hadtis qudsi lebih banyak disandarkan kepada Allah swt. sebagai pernyataan bahwa Dia lah sumber pertama. kadang-kadang disandarkan kepada Rasulullah saw. karena beliaulah yang menyampaikan dari Rabb-nya.

Dari definisi tersebut di atas kita bisa tahu perbedaan antara al-Qur’an dengan Hadits Qudsi:
a. Al-Qur’an adalah mu’jizat, baik lafadz maupun artinya. Sedangkan hadits qudsi bukanlah mukjizat.
b. Al-Qur’an, sah dibaca dalam shalat. Sedangkan hadits qudsi tidak
c. Mengingkari al-Qur’an dihukumi kafir. Sedangkan mengingkari hadits qudsi dihukumi fasik.
d. Al-Qur’an baik lafadz maupun maknanya dari Allah swt. sedangkan hadits qudsi hanya maknanya saja yang dari Allah, sedangkan lafadznya dari Nabi saw.
e. Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan dengan maknanya saja. sedangkan hadits qudsi boleh.
f. Al-Qur’an tidak boleh disentuh oleh orang yang hadats [tidak suci]. Sedangkan hadits qudsi tidak ada syarat bersuci bagi orang yang menyentuhnya.
g. Orang yang junub tidak boleh membaca atau membawa al-Qur’an. Sedangkan ia diperbolehkan membaca atau membawa hadits qudsi.
h. Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka ia akan mendapat sepuluh kebaikan. Sedangkan sekedar membaca hadits qudsi tidak berpahala.
i. Jual beli al-Qur’an hukumnya haram [menurut Imam Ahmad] atau makruh [menurut Syafi’i]. Sedangkan jual beli hadits qudsi tidak makruh apalagi haram.

Hadits qudsi dinamakan juga hadits Ilhiyah. Jumlahnya lebih dari seratus hadits. Ada beberapa ulama yang telah menghimpun hadits-hadits qudsi, di antaranya: Ali bin Balban dalam kitabnya yang berjudul al-Maqashid as-Sanniyah fii al-Ahadits al-Ilahiya. Buku ini menghimpun seratus hadits qudsi.

2. Allah mengharamkan kedzaliman atas diri-Nya.
Dalam hadits di atas secara jelas Allah melarang kedhaliman bagi diri-Nya sendiri. “Sesungguhnya Aku mengharamkan kedhaliman atas diri-Ku.” Hal senada juga secara jelas dinyatakan dalam al-Qur’an “Dan tidaklah Aku berlaku dhalim terhadap para hamba.” (Ali ‘Imraan: 3)
“Sesungguhnya Allah tidak mendhalimi manusia sedikitpun.”
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dhalim meskipun hanya sebiji sawai.” (an-Nisaa’: 40)

3. Allah melarang hamba-Nya berbuat dhalim.
Allah juga mengharamkan hamba-Nya berlaku dhalim dan saling mendhalimi di antara mereka. Dengan demikian, siapapun tidak boleh mendhalimi orang lain.
Kedhaliman terbagi menjadi dua:
a. Kedhaliman terhadap diri sendiri. Yang paling besar dalam kategori ini adalah syirik terhadap Allah swt. Allah berfirman: “Sesungguhnya syirik adalah kedhaliman [dosa] yang paling besar.” (Luqman: 13). Karena berbuat syirik berarti memposisikan makhluk pada posisi Sang Pencipta. Padahal tidak ada sekutu bagi Allah.
Yang tingkatannya di bawah syirik, adalah maksiat dan berbagai dosa besar maupun kecil. Semuanya adalah kedhaliman terhadap diri sendiri, karena menyeret dirinya sendiri ke dalam siksa dan kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.

b. Kedhaliman terhadap orang lain.
Bentuk kedhaliman ini telah dilarang berulang kali dalam berbagai hadits Nabi saw. ‘Abdullah bin ‘Umar ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kedhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Abu Musa al-Asy’ari ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah memberikan tempo kepada orang dhalim. Hingga apabila Dia menyiksannya, Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian beliau membaca ayat, “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (Huud: 102)

Tidak diragukan lagi, bahwa menegakkan keadilan dan mencegah kedhaliman di antara manusia adalah merupakan maksud dan tujuan Islam yang terpenting. Karena keadilan adalah dasar tegaknya hukum dan peradaban. Sedangkan kedhaliman adalah sebab utama hancurnya suatu bangsa, peradaban, dan kedamaian. Juga merupakan sebab kemarahan Allah di akhirat.

4. Merasa butuh kepada Allah.
Semua makhluk sangat butuh kepada Allah swt. untuk mendapatkan kemaslahatan dan menolak hal-hal yang membahayakan, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka sangat membutuhkan hidayah, rizky, rahmat, dan ampunan-Nya. Dengan menampakkan rasa butuh tersebut, seorang muslim akan dekat dengan Allah swt.. Kebenaran ubudiyah, akan tampak melalui tiga hal:

a. Memohon. Allah sangat senang jika ada hamba-Nya yang menampakkan rasa butuh dengan memohon kepada-Nya dalam segala urusan, baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat, seperti: makanan dan pakaian. Sebagaimana mereka memohon hidayah dan ampunan. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Hendaklah setiap orang di antara kalian meminta kepada Allah, semua keperluannya sekalipun hanya tali sendalnya yang putus.”
b. Memohon hidayah
c. Taat secara total. Yaitu dengan menaati semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (7)

13 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Janganlah seseorang membangungkan orang lain dari tempat duduknya lalu dia menempati tempat duduk itu, tetapi hendaklah kalian melapangkan dan meluaskan.” (HR Bukhari, Muslim dari hadits Nafi’)

Dan Imam Syafi’i meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seseorang dari kalian membangunkan saudaranya [dari tempat duduknya] pada hari Jum’at. Tetapi hendaklah mengatakan: ‘Lapangkanlah kalian.’”
Hadits tersebut diriwayatkan berdasarkan syarat Sunan, tetapi mereka tidak mengeluarkannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah seseorang boleh membangunkan orang lain dari tempat duduknya kemudian ia duduk di tempat itu, akan tetapi lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan kepada kalian.”
Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Syuraih bin Yunus dan Yunus bin Muhammad al-Mu-addib dari Falih, dengan lafadz: “Janganlah seseorang bangun dari tempat duduknya untuk diberikan kepada orang lain tetapi hendaklah kalian melapangkan diri, niscaya Allah akan memberikan kelapangan kepada kalian.” (HR Ahmad)

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang boleh tidaknya berdiri untuk menyambut orang yang datang. Perbedaan pendapat mereka ini terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada di antara mereka yang memberikan keringanan untuk berdiri dengan berlandaskan pada hadits: “Berdirilah kalian untuk menyambut pemimpin kalian.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Ada juga yang melarang berdiri menyambut orang yang datang dengan berdasarkan hadits ini: “Barangsiapa yang suka disambut oleh orang-orang dengan berdiri, maka hendaklah ia menduduki tempatnya di neraka.” (HR at-Tirmidzi)

Di antara mereka ada juga yang merinci, dimana mereka ini mengatakan, dibolehkan menyambut orang yang datang dari perjalanan jauh atau seorang pejabat dalam wilayah kekuasaannya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah Sa’ad bin Mu’adz, yang ia merupakan pejabat dari Bani Quraizhah, dimana ia diminta Nabi saw. untuk datang. Ketika ia tiba, Rasulullah saw. berkata kepada kaum muslimin: “Berdirilah kalian menyambut pemimpin kalian.”

Hal itu dimaksudkan untuk menguatkan posisi Sa’ad dalam kedudukannya. wallaaHu a’lam. Adapun menyambut orang-orang yang datang dengan berdiri itu sebagai suatu kebiasaan, maka hal itu merupakan syi’arnya non Islam.

Dan dalam beberapa kitab as-Sunnan disebutkan: “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para Shahabat Nabi saw. selain Rasulullah saw. sendiri. Dan jika beliau datang, mereka tidak berdiri untuk menyambut kedatangan beliau karena mereka mengetahui ketidaksukaan beliau terhadap hal tersebut.”

Dan dalam hadits yang diriwayatkan dalam kitab as-sunan, bahwa Rasulullah saw. senantiasa duduk di ujung majelis, tetapi tempat dimana beliau duduk selalu menjadi pusat perhatian majelis. Para shahabat duduk sesuai dengan kedudukan mereka. Abu Bakar duduk di sebelah kanan beliau, sedangkan ‘Umar duduk di sebelah kiri beliau. Dan seringkali Utsman dan ‘Ali berada di hadapan beliau. Sebab keduanya termasuk juru tulis yang menulis wahyu, dan beliau memang menyuruh keduanya melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda: “Hendaklah orang-orang yang sabar dan berfikiran luas duduk di dekatku, kemudian disusul oleh orang-orang berikutnya.”
Yang demikian itu tidak lain supaya mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Mas’ud, ia bercerita: Rasulullah saw. senantiasa mengusap pundak-pundak kami dalam shalat seraya mengatakan: “Luruskan dan janganlah kalian berselisih yang menyebabkan hati kalian pun tercerai berai. Hendaklah orang-orang yang sabar lagi berfikiran luas menempati tempat setelahku, kemudian disusul oleh orang-orang setelahnya, dan setelah itu orang-orang setelahnya.”

Abu Mas’ud mengatkan: “Sedangkan kalian sekarang ini lebih parah perselisihannya.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan beberapa penulis kitab as-Sunan kecuali at-Tirmidzi melalui beberapa jalan dari al-A’masy. Jika demikian perintah Rasulullah saw. kepada para shahabatnya dalam shalat, yaitu supaya orang-orang yang berakal dan berilmu menempati posisi setelah beliau, maka di luar shalat sudah pasti lebih dari itu.

Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Luruskanlah barisan dan rekatkanlah antara pundak dan isilah tempat yang kosong, berlemah lembutlah kalian di hadapan saudara-saudara kalian dan janganlah kalian berikan sela untuk syaitan. Dan barangsiapa menyambung barisan, maka Allah akan menyambung dirinya, dan barangsiapa memutuskan barisan, maka Dia pun akan memutuskan dirinya.”

Demikianlah Ubay bin Ka’ab, tokoh ulama tafsir, apabila ia sampai kepada shaff pertama, ia menaris seseorang yang awam dan menempatinya (di shaff tersebut) sambil berhujjah dengan hadits ini: “Hendaklah orang-orang yang sabar dan berfikiran luas menempati tempat setelahku.”

Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Umar tidak mau duduk di tempat dimana seseorang duduk padanya, lalu berdiri untuknya, dalam rangka menerapkan hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Dan dalam hadits shahih diceritakan, ketika Rasulullah saw. duduk, tiba-tiba ada tiga orang datang, salah seorang di antara mereka langsung menempati tempat kosong di sela-sela barisan, lalu ia mengisinya. Salah seorang lagi duduk di belakang orang-orang, sedang yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ketiga orang itu. Adapun orang yang pertama, maka ia berlindung kepada Allah dan Allah pun melindunginya. Sedangkan orang yang kedua merasa malu sehingga Allah pun merasa malu kepadanya. Dan orang yang ketiga berpaling sehingga Allah pun berpaling darinya.”

Bersambung ke bagian 8