Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (7)

13 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Janganlah seseorang membangungkan orang lain dari tempat duduknya lalu dia menempati tempat duduk itu, tetapi hendaklah kalian melapangkan dan meluaskan.” (HR Bukhari, Muslim dari hadits Nafi’)

Dan Imam Syafi’i meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seseorang dari kalian membangunkan saudaranya [dari tempat duduknya] pada hari Jum’at. Tetapi hendaklah mengatakan: ‘Lapangkanlah kalian.’”
Hadits tersebut diriwayatkan berdasarkan syarat Sunan, tetapi mereka tidak mengeluarkannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah seseorang boleh membangunkan orang lain dari tempat duduknya kemudian ia duduk di tempat itu, akan tetapi lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan kepada kalian.”
Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Syuraih bin Yunus dan Yunus bin Muhammad al-Mu-addib dari Falih, dengan lafadz: “Janganlah seseorang bangun dari tempat duduknya untuk diberikan kepada orang lain tetapi hendaklah kalian melapangkan diri, niscaya Allah akan memberikan kelapangan kepada kalian.” (HR Ahmad)

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang boleh tidaknya berdiri untuk menyambut orang yang datang. Perbedaan pendapat mereka ini terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada di antara mereka yang memberikan keringanan untuk berdiri dengan berlandaskan pada hadits: “Berdirilah kalian untuk menyambut pemimpin kalian.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Ada juga yang melarang berdiri menyambut orang yang datang dengan berdasarkan hadits ini: “Barangsiapa yang suka disambut oleh orang-orang dengan berdiri, maka hendaklah ia menduduki tempatnya di neraka.” (HR at-Tirmidzi)

Di antara mereka ada juga yang merinci, dimana mereka ini mengatakan, dibolehkan menyambut orang yang datang dari perjalanan jauh atau seorang pejabat dalam wilayah kekuasaannya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah Sa’ad bin Mu’adz, yang ia merupakan pejabat dari Bani Quraizhah, dimana ia diminta Nabi saw. untuk datang. Ketika ia tiba, Rasulullah saw. berkata kepada kaum muslimin: “Berdirilah kalian menyambut pemimpin kalian.”

Hal itu dimaksudkan untuk menguatkan posisi Sa’ad dalam kedudukannya. wallaaHu a’lam. Adapun menyambut orang-orang yang datang dengan berdiri itu sebagai suatu kebiasaan, maka hal itu merupakan syi’arnya non Islam.

Dan dalam beberapa kitab as-Sunnan disebutkan: “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para Shahabat Nabi saw. selain Rasulullah saw. sendiri. Dan jika beliau datang, mereka tidak berdiri untuk menyambut kedatangan beliau karena mereka mengetahui ketidaksukaan beliau terhadap hal tersebut.”

Dan dalam hadits yang diriwayatkan dalam kitab as-sunan, bahwa Rasulullah saw. senantiasa duduk di ujung majelis, tetapi tempat dimana beliau duduk selalu menjadi pusat perhatian majelis. Para shahabat duduk sesuai dengan kedudukan mereka. Abu Bakar duduk di sebelah kanan beliau, sedangkan ‘Umar duduk di sebelah kiri beliau. Dan seringkali Utsman dan ‘Ali berada di hadapan beliau. Sebab keduanya termasuk juru tulis yang menulis wahyu, dan beliau memang menyuruh keduanya melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda: “Hendaklah orang-orang yang sabar dan berfikiran luas duduk di dekatku, kemudian disusul oleh orang-orang berikutnya.”
Yang demikian itu tidak lain supaya mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Mas’ud, ia bercerita: Rasulullah saw. senantiasa mengusap pundak-pundak kami dalam shalat seraya mengatakan: “Luruskan dan janganlah kalian berselisih yang menyebabkan hati kalian pun tercerai berai. Hendaklah orang-orang yang sabar lagi berfikiran luas menempati tempat setelahku, kemudian disusul oleh orang-orang setelahnya, dan setelah itu orang-orang setelahnya.”

Abu Mas’ud mengatkan: “Sedangkan kalian sekarang ini lebih parah perselisihannya.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan beberapa penulis kitab as-Sunan kecuali at-Tirmidzi melalui beberapa jalan dari al-A’masy. Jika demikian perintah Rasulullah saw. kepada para shahabatnya dalam shalat, yaitu supaya orang-orang yang berakal dan berilmu menempati posisi setelah beliau, maka di luar shalat sudah pasti lebih dari itu.

Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Luruskanlah barisan dan rekatkanlah antara pundak dan isilah tempat yang kosong, berlemah lembutlah kalian di hadapan saudara-saudara kalian dan janganlah kalian berikan sela untuk syaitan. Dan barangsiapa menyambung barisan, maka Allah akan menyambung dirinya, dan barangsiapa memutuskan barisan, maka Dia pun akan memutuskan dirinya.”

Demikianlah Ubay bin Ka’ab, tokoh ulama tafsir, apabila ia sampai kepada shaff pertama, ia menaris seseorang yang awam dan menempatinya (di shaff tersebut) sambil berhujjah dengan hadits ini: “Hendaklah orang-orang yang sabar dan berfikiran luas menempati tempat setelahku.”

Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Umar tidak mau duduk di tempat dimana seseorang duduk padanya, lalu berdiri untuknya, dalam rangka menerapkan hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Dan dalam hadits shahih diceritakan, ketika Rasulullah saw. duduk, tiba-tiba ada tiga orang datang, salah seorang di antara mereka langsung menempati tempat kosong di sela-sela barisan, lalu ia mengisinya. Salah seorang lagi duduk di belakang orang-orang, sedang yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ketiga orang itu. Adapun orang yang pertama, maka ia berlindung kepada Allah dan Allah pun melindunginya. Sedangkan orang yang kedua merasa malu sehingga Allah pun merasa malu kepadanya. Dan orang yang ketiga berpaling sehingga Allah pun berpaling darinya.”

Bersambung ke bagian 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: