Arsip | 13.35

Perjalanan Rasulullah saw. yang Pertama ke Syam dan Usahanya Mencari Rizky

14 Nov

SIRAH NABAWIYAH; DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Ketika berusia dua belas tahun, Rasulullah saw. diajak pamanya, Abu Thalib, pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Sewaktu kafilah berada di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui Injil dan ahli tentang masalah-masalah kenasranian.

Bahira kemudian melihat Nabi saw., mengamatinya dan mulai mengajaknya bicara. Bahira kemudian menoleh pada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya: “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab: “Anakku [Abu Thalib memanggil Nabi Muhammad saw. dengan panggilan anak karena kecintaan yang mendalam].” Bahira bertanya: “Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata: “Dia adalah anak saudaraku.” Bahira bertanya: “Apa yang telah dilakukan oleh ayahnya?” Abu Thalib menjawab: “Ia meninggal ketika ibu anak ini mengadungnya.” Bahira berkata: “Anda benar. Bawalah ia pulang ke negerinya dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.” Abu Thalib kemudian cepat-cepat membawanya kembali ke Makkah (diringkas dari Sirah Ibnu Hisyam, 1/80; diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Tarikh-nya: 2/287; Baihaqi dalam Sunan-nya; dan Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah. Di antara riwayat-riwayat itu terdapat sedikit perbedaan menyangkut beberapa rincian).

Memasuki masa remaja, Rasulullah saw. berusaha mencari rizky dengan menggembalakan kambing. Rasulullah saw. pernah bertutur tentang dirinya: “Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)
Selama masa mudanya Allah telah memelihara dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti hura-hura dan permainan nista lainnya.

Bertutur Rasulullah saw. tentang dirinya: “Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah kecuali dua kali. Itupun kemudian dicegah oleh Allah. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Makkah: “Tolong awasi kambingku karena aku akan memasuki kota Makkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.” Kawan tersebut menjawab: “Lakukanlah.” Aku lalu keluar.

Ketika aku sampai di rumah pertama di Makkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata: “Apa ini?” mereka berkata: “Pesta.” Aku lalu duduk mendengarkannya. Allah kemudian menutup telingaku lalu aku tertidur dan tidak terbangunkan kecuali oleh panas matahari. Aku kemudian kembali kepada temanku lalu ia bertanya kepadaku dan akupun mengabarkannya. Pada malam yang lain, aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. aku pun masuk ke Makkah lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan.” (diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dan Hakim dari Ali bin Abi Thalib. Hakim berkata tentang riwayat ini: “Periwayatan ini sesuai dengan syarat Muslim.” Diriwayatkan oleh Thabrani dari hadits Ammar bin Yasir.)

BEBERAPA IBRAH

Hadist Bahira tentang Rasulullah saw. yakni hadits yang diriwayatkan oleh jumhur ulama shirah dan para perawinya dan dikeluarkan oleh at-Tirmidzi secara panjang lebar dari hadits Abu Musa al-Asy’ari menunjukkan bahwa para Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani memiliki pengetahuan tentang bi’tsah Nabi dengan mengetahui tanda-tandanya. Ini mereka ketahui dari berita kenabiannya serta penjelasan tentang tanda-tanda dan sifat-sifatnya yang terdapat di dalam Taurat dan Injil. Dalil tentang ini banyak sekali.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh para ulama shirah bahwa orang-orang Yahudi memohon kedatangan Rasulullah saw. [sebelum bi’tsah] untuk mendapatkan kemenangan atas kaum Aus dan Khazraj, dengan mengatakan: “Sesungguhnya, sebentar lagi akan dibangkitkan seorang Nabi yang kami akan mengikutinya. Lalu kami bersamanya akan membunuh kalian sebagaimana pembunuhan yang pernah dialami kaum ‘Aad dan Iram.” Ketika orang-orang Yahudi mengingkari janjinya, Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: “Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon [kedatangan Nabi] untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu.” (al-Baqarah: 89).

Al-Qurthubi dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika turun firman Allah yang artinya: “Orang-orang [Yahudi dan Nasrani] yang telah Kami beri al-Kitab [Taurat dan Injil] mengenal Muhammad seperti mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 146)

‘Umar Ibnu al-Khaththab bertana kepada Abdullah bin Salam [seorang ahli Kitab yang telahmasuk Islam]: “Apakah kamu mengetahui Muhammad saw. sebagaimana kamu mengetahui anakmu?” Ia menjawab: “Ya. Bahkan lebih banyak. Allah mengutus [malaikat] kepercayaan-Nya di langit kepada [orang] kepercayaan-Nya di bumi dengan sifat-sifatnya, lalu saya mengetahuinya. Adapun akan saya maka saya tidak mengetahui apa yang telah terjadi dari ibunya.”

Bahkan keislaman Salman al-Farisi juga disebabkan karena ia telah melacak berita Nabi Muhammad saw dan sifat-sifatnya dari Injil, para pendeta, dan ulama al-Kitab. Ini tidak dapat dinafikan oleh banyaknya para Ahli Kitab yang mengingkari adanya pemberitaan tersebut atau oleh tidak adanya isyarat penyebutan Rasulullah saw. di dalam Injil yang beredar sekarang ini. Hal ini karena terjadinya pemalsuan dan perubahan secara beruntun pada kitab-kitab tersebut telah diketahui dan diakui semua pihak. Mahabesar Allahyang berfirman di dalam Kitab-Nya: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab [Taurat], kecuali dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan: ‘Ini dari Allah.’ [dengan maksud] untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendir, dan kecelakaan besarlah bagi mereka karena apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 78-79)

Sehubungan dengan usaha Rasulullah saw. mengembalakan kambing dengan tujuan untuk mencari rizky,terdapat tiga pelajaran yang penting:

1. Selera tinggi dan perasaan halus. Dengan kedua sifat inilah Allah “memperindah” kepribadian Nabi-Nya, Muhammad saw. selama ini. Pamannyalahyang mengasuh dengan penuh kasih sayang sebagai seorang bapak. Akan tetapi, begitu merasakan kemampuan untuk bekerja, Rasulullah saw. segera melakukannya dan berusaha sekuat tenaga untuk meringankan sebagian beban nafkah dari pamannya. Barangkali hasil yang diperolehnya dari hasil pekerjaan yang dipilihkan Allah tersebut tidak begitu banyak dan penting bagi pamannya, tetapi ini merupakan akhlak yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan watak dan kebaikan perilaku.
2. Berkaitan dengan penjelasan tentang bentuk kehidupan yang diridlai oleh Allah untuk para hamba-Nya yang shalih di dunia. Sangatlah mudah bagi Allah mempersiapkan Nabi Muhammad saw.sejak awal kehidupannya, segala sarana kehidupan dan kemewahan yang dapat mencukupi sehingga tidak perlu lagi memeras keringat menggembalakan kambing. Akan tetapi hikmah ilahi menghendaki agar kita mengakui bahwa harta manusia yang terbaik adalah harta yang diperolehnya dari hasil usaha sendiri dan imbalan “pelayanan” yang diberikan kepada masyarakat dan saudaranya. Sebaliknya harta yang terburuk adalah harta yang didapatkan seseorang tanpa bersusah payah atau tanpa imbalan kemanfaatan yang diberikan kepada masyarakat.
3. Para aktifis dakwah [dakwah apa saja] tidak akan dihargai manakala mereka menjadikan dakwah sebagai sumber rizky-nya atau hidup dari mengharapkan pemberian dan sedekah orang.
Karena itu para aktifis dakwah Islam merupakan orang yang paling patut untuk mencari ma’isyah [nafkah]-nya melalui usahanya sendiri atau sumber yang mulia yang tidak mengandung unsur meminta-minta, agar mereka tidak “berhutang budi” kepada seseorang pun yang menghalanginya dari menyatakan kebenaran di hadapan “investor budi.”

Kendatipun hakekat ini belum terlintas dalam fikiran Rasulullah saw. pada masa itu karena beliau belum mengetahui bahwa dirinya akan diserahi urusan dakwah dan risalah ilahi, manhaj yang ditetapkan Allah untuk itu telah mengandung tujuan ini dan menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar tida ada sesuatu pun dari kehidupan Rasulullah saw. sebelum bi’tsah yang menghalangi jalan dakwahnya atau menimbulkan pengaruh negatif terhadap dakwahnya sesudah bi’tsah.

Menyangkut kisah Nabi saw. perihal dirinya yang telah mendapatkan pemeliharaan Allah dari segala keburukan sejak kecilnya dan awal masa remajanya, terdapat penjelasan mengenai dua hal yang sangat penting:

1. Nabi Muhammad saw. [juga] memiliki seluruh karakteristik manusia sehingga ia mendapati pada dirinya apa yang terdapat pada setiap pemuda berupa berbagai kecenderungan fitrah yang telah ditetapkan Allah pada manusia.
2. Sesungguhnya Allah, kendatipun demikian, telah melindunginya dari semua bentuk penyimpangan dan dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan berbagai tuntutan dakwah. Karena itu, sekalipun belum mendapatkan wahyu atau syariat yang melindunginya dari memperturutkan dorongan-dorongan nafsu, beliu telah mendapatkan perlindungan lain yang tersamar yang menghalanginya dari memperturutkan nafsunya yang tidak sesuai dengan dirinya yang telah dipersiapkan Alalh untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan menegakkan syariat Islam.

Terhimpunnya dua hal tersebut pada diri Rasulullah saw. menjadi dalil yang jelas akan adanya ‘inayah ilahi [pemeliharaan ilahi] secara khusus yang menuntunnya tanpa perantaraan faktor-faktor yang lazim [biasa], seperti pembinaan dan pengarahan. Siapakah gerangan yang mengarahkannya ke jalan ke-ma’shum-an ini, padahal semua orang di sekitarnya, keluarganya, kaum dan tetangga, asing sama sekali dari jalan tersebut, tersesat jauh dari arah jalan tersebut?

Jelas, hanya ‘inayah ilahi-lah yang memberikan kepada pemuda Muhammad saw. jalan terang berupa cahaya yang menembus lorong-lorong jahiliyah, termasuk tanda-tanda besar yang menunjukkan kenabian yang diciptakan dan disiapkan Allah untuknya. Juga menunjukkan bahwa arti kenabian merupakan asas pembentukan kepribadian dan arah kehidupannya, baik menyangkut kejiwaan maupun pemikiran.

Tidaklah sulit bagi Allah untuk mencabut, sejak kelahiran Rasulullah, dorongan-dorongan naluriahnya kepada kesenangan syahwat dan hawa nafsu. Dengan demikian beliau tidak akan pernah sama sekali menitipkan kambing gembalaannya kepada temannya untuk turun ke rumah-rumah Makkah mencari orang-orang yang begadang dan berhura-hura. Akan tetapi hal tersebut tidak menunjukkan, pada saat itu, pada kelaianan-kelainan pada tatanan kejiwaannya karena gejala ini ada contohnya pada setiap zaman. Jadi tidak ada sesuatu yang menunjukkan kepada “pemeliharaan tersembunyi.” Yang memalingkannya dari sesuatu yang tidak layak, di samping adanya dorongan-dorongan naluriah terhadapnya. Allah menghendaki agar manusia mengetahui inayah ilahiyah ini kepada Rasulullah saw. sehingga akan memudahkan keimanan terhadap risalahnya dan menjauhkan faktor-faktor keraguan terhadap kebenarannya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mujaadilah (8)

14 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujaadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
Surah Madaniyyah; surah ke 58: 22 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tidak diperbolehkan bagi seseorang memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya.”
Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Usamah bin Zaid al-Laitsi. Hadits tersebut dihasankan oleh at-Tirmidzi.

Mengenai firman Allah: wa idzaa qiilansyuzuu fansyuzuu (“Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah.”) Qatadah mengatakan: “Artinya, jika kalian diseru pada kebaikan, maka hendaklah kalian memenuhinya.” Sedangkan Muqatil mengatakan: “Jika diseru mengerjakan shalat, maka hendaklah kalian memenuhinya.”

Dan firman Allah: yarfa’illaaHulladziina aamanuu mingkum walladziina uutul ‘ilma darajaatin. wallaaHu bimaa ta’maluuna khabiir (“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya janganlah kalian berkeyakinan bahwa jika salah seorang di antara kalian memberikan kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang akan pergi lalu dia keluar, maka akan mengurangi hak-nya. bahkan hal itu merupakan ketinggian dan perolehan martabat di sisi Allah. Dan Allah swt. tidak menyia-nyiakan hal tersebut bahkan Dia akan memberikan balasan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya orang yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan akan memasyhurkan namanya.

Oleh karena itu Allah berfirman: yarfa’illaaHulladziina aamanuu mingkum walladziina uutul ‘ilma darajaatin. wallaaHu bimaa ta’maluuna khabiir (“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya, Dia Mahamengetahui orang-orang yang memang berhak mendapatkan hal tersebut dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abuth Thufail ‘Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin ‘Abdil Harits bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab di Asafan. ‘Umar mengangkatnya menjadi pemimpin Makkah lalu ‘Umar berkata kepadanya: “Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” ia menjawab: “Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka adalah Ibnu Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.” Maka ‘Umar bertanya: “Benar engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?” Dia pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia adalah seorang yang ahli membaca Kitabullah (al-Qur’an), memahami ilmu fara-idh dan pandai berkisah.” Lalu ‘Umar ra. berkata: “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum karena Kitab ini (al-Qur’an) dan merendahkan dengannya sebagian yang lainnya.”

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari az-Zuhri. Dan hadits yang sama juga diriwayatkan melalui jalan lain dari ‘Umar.

tulisan arab alquran surat al mujaadilah ayat 12-13“12. Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 13. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum Mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 12-13)

Allah berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman, jika salah seorang di antara mereka akan mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah saw. hendaklah ia mengeluarkan shadaqah terlebih dahulu yang dapat menyucikan dan membersihkan dirinya serta menjadikannya layak untuk berdiri di tempat itu. Oleh karena itu Allah berfirman: dzaalika khairul lakum wa athHaru (“Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih.”) fa illam tajiduu (“Jika kamu tidak memperoleh”) kecuali orang yang miskin yang tidak mampu melakukannya karena miskin: fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Allah swt. tidak memerintahkan hal tersebut kecuali kepada orang-orang yang mampu melakukannya.

Firman-Nya selanjutnya: a asyfaqtum an tuqaddimuu baina yadai najwaakum shadaqaat (“Apakah kamu takut akan [menjadi miskin] karena kamu memberikan shadaqah sebelum pembicaraan dengan Rasul?”) maksudnya apakah kalian merasa khawatir terhadap berlanjutnya kewajiban untuk mengeluarkan shadaqah sebelum mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah saw.?

Fa idz lam taf’aluu wa taaballaaHu ‘alaikum fa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata wa athii’ullaaHa wa rasuulaHuu wallaaHu khabiirum bima ta’maluun (“Maka jika kamu tidak melakukannya dan Allah telah memberi taubat kepadamu, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) dengan demikian, kewajiban shadaqah ini telah dihapus dari mereka. Dan ada yang berpendapat bahwa tidak ada yang dapat mengamalkan ayat ini sebelum dihapusnya kecuali ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Laits bin Abi Salim menceritakan dari Mujahid, ‘Ali berkata: “Terdapat satu ayat dalam Kitabullah yang tidak ada seorangpun yang mengamalkannya sebelum maupun sesudahku. Aku mempunyai satu dinar, lalu menukarnya dengan sepuluh dirham, dan jika aku berbicara tentang suatu rahasia dengan Rasulullah saw., aku bershadaqah dengan satu dirham, lalu perintah tersebut dihapuskan dan tidak ada seorang pun sebelum atau sesudahku yang mengamalkannya.” Setelah itu ‘Ali membacakan ayat ini: yaa ayyuHalladziina aamanuu idzaa naajaitumur rasuula faqaddimuu baina yadai najwaakum shadaqatan (“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan shadaqah [kepada orang miskin] sebelum pembicaraan itu.”

‘Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya: faqaddimuu baina yadai najwaakum shadaqatan (“Hendaklah kamu mengeluarkan shadaqah [kepada orang miskin] sebelum pembicaraan itu.”) yang demikian itu karena kaum Muslimin banyak mengajukan masalah kepada Rasulullah saw. sehingga mereka merasa takut dan khawatir memberatkan beliau, maka Allah hendak meringankan Nabi-Nya. Setelah beliau mengatakan hal tersebut, banyak dari kaum muslimin yang takut dan berhenti mengajukan masalah. Sehingga setelah itu Allah swt. menurunkan ayat: a asyfaqtum an tuqaddimuu baina yadai najwaakum shadaqaat (“Apakah kamu takut akan [menjadi miskin] karena kamu memberikan shadaqah sebelum pembicaraan dengan Rasul?”) dan Allah Ta’ala memberikan keluasan kepada mereka dan sama sekali tidak mempersempit mereka.

Bersambung ke bagian 9