Arsip | 07.08

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (13)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 28-29“28. Hai orang-orang yang beriman (kepada Para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 29. (kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadiid: 28-29)

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat an-Nasa-i, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia pernah membawa pengertian ayat ini kepada dua orang yang beriman dari kalangan Ahlul Kitab, dimana dia akan diberi pahala dua kali lipat, sebagaimana dikandung dalam ayat yang terdapat dalam surah al-Qashsash. Juga sebagaimana yang disebutkan dalam hadits asy-Sya’bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa al-Asy’ari, dimana ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pahala mereka dua kali, yaitu seorang dari kalangan Ahlul Kitab yang berimana kepada Nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala. Lalu seorang hamba yang menunaikan hak Allah dan hak mawalinya (orang yang memerdekakannya), maka ia mendapatkan dua pahala. Kemudian orang yang membimbing budak wanitanya dengan sebaik-baiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala.”

Demikian yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain. Penafsiran Ibnu ‘Abbas ini disepakati oleh adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim dan lain-lain. Dan penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan: “Ketika Ahlul Kitab menyombongkan diri bahwa mereka akan diberi pahala dua kali, Allah Ta’ala menurunkan ayat ini kepada umat manusia:
Yaa ayyuHal ladziina aamanut taqullaaHa wa aaminuu birasuuliHii yu’tikum kiflaini (“Hai orang-orangyang beriman [kepada para Rasul], bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian.”) yakni dua kali lipat. Mir rahmatiHii (“Karena rahmat-Nya”) dan memberikan tambahan lagi kepada mereka, wa yaj’allakum nuuran tamsyuuna biHii (“dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa berjalan.”) maksudnya berupa petunjuk yang dengannya kalian dapat melihat dan melepaskan diri dari kebutaan dan kebodohan, serta memberikan ampunan kepada kalian. Dengan demikian, Allah telah memberikan cahaya dan ampunan kepada umat Muhammad saw., demikianlahyang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Diantara dalil yang memperkuat pendapat tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu ‘Umar ra., ia bercerita: Rasulullah saw. telah bersabda: “Perumpamaan kalian dengan umat Yahudi dan Nasrani adalah seperti seseorang yang mempekerjakan beberapa orang pegawai. Lalu orang tersebut mengatakan: ‘Siapakah yang bersedia bekerja untukku dari mulai shalat Shubuh hingga pertengahan siang, maka aku akan memberikan satu qirath?’ ketahuilah, umat Yahudi itulah yang bersedia melakukannya. Lalu berkata lagi: ‘Siapakah yang bersedia bekerja untukku dari shalat Dhuhur sampai shalat ‘Asyar, maka akan aku beri satu qirath?’ ketahuilah, umat Nasrani lah yang bersedia melakukannya. Lalu berkata lagi: ‘Siapakah yang bersedia bekerja untukku dari mulai ‘Asyar hingga terbenam matahari, maka ia akan mendapatkan dua qirath?’ ketahuilah, itulah kalian (umat Muhammad) yang bersedia melakukannya. Umat Yahudi dan Nasrani menjadi marah dan mereka mengatakan: ‘Kami yang lebih banyak bekerja tetapi lebih sedikit upahnya.’ Ia bertanya: ‘Apakah aku telah mendhalimi kalian pada upah-upah kalian itu?’ mereka menjawab: ‘Tidak.’ Katanya lagi: ‘Itu hanyalah karunia dariku yang aku berikan kepada siapa saja yang aku kehendaki.’”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra., dan kami juga telah diberitahukan mengenai hal yang sama oleh Mu’mil, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar ra., yaitu hadits yang mirip dengan hadits Nafi’, darinya. Diriwayatkan sendiri oleh al-Bukhari. Ia meriwayatkan dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Nafi’. Dan hadits yang sama juga diriwayatkan dari Qutaibah, dari al-laits, dari Nafi’.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Perumpamaan kaum Muslimin dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani seperti orang yang mempekerjaan suatu kaum. Kaum itu mengerjakan pekerjaan untuknya dari pagi sampai malam dengan upah tertentu. Lalu mereka bekerja sampai pertengahan siang seraya berkata: ‘Kami tidak butuh upah apa yang kamu persyaratkan kepada kami. Dan apa yang telah kami kerjakan itu kami anggap batal.’ Lalu ia berkata kepada mereka: ‘Jangan lakukan hal itu. Kerjakan sisi pekerjaan kalian dan ambillah upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi meninggalkannya. Kemudian orang itu menyewa orang lain setelah mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: ‘Selesaikanlah sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah yang telah aku persyaratkan kepada mereka.’ Maka merekapun mau mengerjakannya hingga ketika waktu mengerjakan shalat ‘Asyar tiba. Mereka berkata: ‘Apa yang telah kami kerjakan kami anggap batal dan ambil kembali untukmu upah yang telah kamu janjikan itu.’ Maka orang itu berkata: ‘Selesaikanlah sisa pekerjaan kalian, sesungguhnya hanya tinggal sedikit sekali waktu yang tersisa. Namun mereka menolak. Selanjutnya ia menyewa kaum yang lain lagi untuk mengerjakannya sampai matahari tenggelam, hingga akhirnya merekapun berhasil mendapatkan pahala dua golongan. Begitulah perumpamaan mereka dan cahaya yang mereka peroleh.”
Demikian hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Imam al-Bukhari.

Oleh karena itu Allah berfirman: li allaa ya’lama aHlul kitaabi allaa yaqdiruuna ‘alaa syai-im min fadl-lillaaHi (“Supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tidak mendapatkan sedikitpun akan karunia Allah.”) maksudnya supaya benar-benar terbukti bahwa mereka itu sama sekali tidak mampu menolak apa yang diberikan Allah dan tidak juga dapat memberi apa yang ditolak-Nya.

Wa annal fadl-la biyadillaaHi yu’tiiHi may yasyaa-u wallaaHu dzul fadl-lil ‘adhiim (“dan bahwasannya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.”)

Mengenai firman-Nya: li allaa ya’lama aHlul kitaabi (“Supaya ahlul Kitab mengetahui”) Ibnu Jarir mengungkapkan: “Maksudnya supaya mereka menyadari.” Dan hal itu telah diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, bahwa ia membacanya dengan “likai ya’lama” demikianlah perkataan ‘Atha’ bin ‘Abdillah dan Sa’id bin Jubair. Ibnu Jarir berkata: “Karena bangsa Arab menjadikan kata “laa” (tidak) sebagai penghubung pada setiap kalimat yang masuk pada awal atau akhir kalimat tersebut, maka ia tidak mempunyai arti. Sebagaimana firman Allah: maa mana’aka allaa tasjuda (“apakah yang menghalangimu untuk bersujud [kepada Adam]?”)(al-A’raaf: 12) kata “laa” tidak diartikan.
Wa maa yusy’irukum annaHaa idzaa jaa-at laa yu’minuun (“Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang, mereka tidak akan beriman?”)(al-An’am: 109)
Wa haraamun ‘alaa qaryati aHlaknaaHaa annaHum laa yarji’uun (“Sungguh tidak mungkin atas [penduduk] suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali [kepada Kami].”) (al-Anbiyaa’: 95)

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (12)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 26-27“26. dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, Maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik. 27. kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (al-Hadiid: 26-27)

Allah memberitahukan sejak mengutus Nuh as., Dia tidak mengutus setelahnya seorang Rasul dan Nabi pun melainkan dari keturunannya. Demikian juga dengan Nabi Ibrahim as., Dia tidak menurunkan satu kitab pun dari langit dan tidak pula mengutus seorang Rasul serta tidak mewahyukan kepada seorang pun melainkan dia berasal dari silsilah keturunannya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam surah lain yang artinya: “Dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya.” (al-Ankabuut: 27).

Bahkan, termasuk Nabi terakhir dari kalangan Bani Israil, ‘Isa bin Maryam as., yang telah diberi kabar gembira atas kehadiran Rasul sesudahnya, Muhammad saw. oleh karena itu Allah berfirman: tsumma qaffainaa ‘alaa aatsaariHim birusulinaa wa qaffainaa bi-‘Iisabni maryama wa aatainaaHul injiila (“Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-Rasul Kami dan Kami iringkan pula ‘Isa putera Maryam, dan Kami berikan kepadanya Injil.”) yaitu al-Kitab yang diturunkan Allah kepadanya. Wa ja’alnaa fii quluubil ladziinat taba’uuHu (“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya”) yakni para Hawariyyun [para pengikut setia], ra’fataw wa rahmatan (“Rasa santun dan kasih sayang.”) terhadap sesama makhluk.

Dan firman Allah: wa raHbaaniyyatanib tadaa’uuHaa (“Dan mereka mengada-adakan rabbyaniyah”) yakni yang dibuat-buat oleh kaum Nasrani (rahbaniyyah ialah tidak beristri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara). Maa katabnaaHaa ‘alaihim (“Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.”) maksudnya sedang Kami sama sekali tidak pernah mensyariatkan hal itu bagi mereka, tetapi mereka mengadakan hal seperti itu karena terdorong oleh diri mereka sendiri.

Sedangkan firman-Nya: illabtighaa-a ridlwaanillaaHi (“Tetapi [mereka] sendirilah yang mengada-adakannya] untuk mencari keridlaan Allah.”) mengenai hal ini terdapat dua pendapat: pertama, dengan melakukan itu mereka bertujuan mencari keridlaan Allah. Demikian yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubair dan Qatadah. Kedua, menyatakan bahwa artinya: Kami tidak menetapkan hal tersebut bagi mereka, tetapi kami tetapkan hal tersebut bagi mereka dalam rangka mencari keridlaan Allah.

Fa maa ra’auHaa haqqa ri’aayatiHaa (“Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.”) maksudnya mereka tidak mengerjakan apa yang mereka buat-buat itu dengan sebaik-baiknya. Demikianlah Allah hinakan mereka dari dua sisi. Pertama, karena mereka telah berbuat bid’ah dalam menjalankan agama Allah, yaitu menjalankan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan Allah. Kedua, karena mereka tidak mengerjakan apa yang mereka buat-buat itu dan yang mereka akui sebagai sesuatu yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah.

Fa aatainal ladziina aamanuu minHum ajraHum (“Maka Kami berikan kepada orang-orang beriman di antara mereka pahalanya.”) yakni mereka yang beriman kepadaku dan membenarkan diriku. Wa katsiirum minHum faasiquun (“Dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik.”) yaitu mereka yang mendustakan dan menentang diriku.

Imam Ahmad meriwayatkan, Husain Ibnu Muhammad memberitahu kami, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwasannya ada seorang laki-laki yang mendatanginya seraya berkata: “Berpesanlah kepadaku.” Maka Abu Sa’id berkata: “Engkau meminta kepadaku apa yang dulu pernah aku pinta kepada Rasulullah saw. Aku berpesan kepadamu untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Dia adalah pokok dari segala sesuatu. Kemudian engkau juga harus berjihad, karena jihad merupakan rabbaniyyah dalam Islam. Hendaklah engkau berdzikir kepada Allah dan membaca al-Qur’an, karena sesungguhnya ia merupakan ruh dirimu di langit dan ingatanmu di bumi.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. wallaaHu a’lam.

Bersambung ke bagian 13

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (11)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 25“25. Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (al-Hadiid: 25)

Allah berfirman: laqad arsalnaa rusulanaa bil bayyinaati (“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata.”) yakni dengan berbagai macam mukjizat, hujjah-hujjah dan dalil-dalil yang kuat.
Wa anzalnaa ma’aHumul kitaaba (“Dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab.”) yakni berita yang benar. Wal miizaan (“dan neraca.”) yaitu keadilan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah dan lain-lain. Itulah kebenaran yang diakui oleh akal sehat yang menentang berbagai pendapat [pemikiran] yang menyimpang. Sebagaimana firman Allah: was samaa-a rafa’aHaa wa wa-dla’al miizaan (“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca keadilan.”) (ar-Rahmaan: 7)

Oleh karena itu dalam surah ini Allah berfirman: liyaquuman naasu bil qisth (“Supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”) yakni kebenaran dan keadilan, yaitu dengan cara mengikuti apa yang telah disampaikan oleh para Rasul sekaligus mentaati segala apa yang diperintahkan kepada mereka. Sesungguhnya apa yang dibawa para Rasul itu adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi dan tidak ada kebenaran lain selainnya. Sebagaimana firman Allah: wa tammat kalimaatu rabbika shidqaw wa ‘adlan (“Telah sempurna kalimat Rabb-mu [al-Qur’an] sebagai kalimat yang benar dan adil.”)(al-An’am: 115). Artinya, benar dalam beritanya dan adil dalam perintah serta larangannya.

Firman-Nya lebih lanjut: wa anzalnaa hadiida fiiHi ba’sun syadiidun (“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat.”) maksudnya, Kami telah membuat besi untuk menekan orang-orang yang menolak kebenaran dan menentangnya setelah hujjah disampaikan kepada mereka. Oleh karena itu Rasulullah saw. menetap di Makkah setelah mendapatkan risalah kenabian selama tigabelas tahun, selama itu telah diwahyukan kepada beliau surah-surah Makkiyyah yang semua itu merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik, penerangan dan penjelasan mengenai tauhid sekaligus sebagai bukti.

Setelah hujjah ditegakkan bagi orang-orang yang menentang, Allah mensyariatkan hijrah dan memerintahkan mereka berperang dengan pedang, memenggal batang leher, dan terhadap siapa saja yang menentang, mendustakan dan membangkang terhadap al-Qur’an serta mendustakannya.

Ahmad dan Abu Dawud telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda: “Aku diutus dengan membawa pedang sebelum hari kiamat datang, sehingga hanya Allah saja yang diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Dan dijadikan rizkyku berada di bawah naungan tombakku, serta dijadikan kehinaan dan kerendahan ada pada orang-orang yang menentang perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka.”

Oleh karena itu Allah berfirman: fiiHi ba’sun (“yang padanya terdapat kekuatan yang hebat”) yakni persenjataan, seperti pedang, tombak, lembing, baju besi dan lain-lain. Wa manaafi’u linnaasi (“dan berbagai manfaat bagi manusia.”) yakni dalam kehidupan mereka, seperti [bahan membuat] mata bajak, kampak, beliung, gergaji dan alat-alat tenun, berladang, memasak, membuat roti dan apapun yang manusia tidak akan dapat beraktifitas kecuali dengan menggunakan alat tersebut.

Dan firman Allah: wa liya’lamallaaHu may yanshuruHuu wa rusulaHuu bilghaib (“Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong [agama]-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya.”) yakni orang yang menyandang pedang dengan niat untuk menolong agama Allah dan Rasul-Nya. innallaaHa qawiyyun ‘aziiz (“Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”) yakni Mahakuat dan Mahaperkasa, Dia akan membantu siapa saja yang menolong-Nya, tanpa dilatarbelakangi kebutuhan-Nya terhadap manusia. Dan sesungguhnya Allah mensyariatkan jihad itu hanyalah untuk menguji sebagian mereka melalui sebagian lainnya.

Bersambung ke bagian 12

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (10)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 22-24“22. tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 23. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, 24. (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan Barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (al-Hadiid: 22-24)

Allah menceritakan tentang takdir-Nya yang telah ditetapkan terhadap makhluk-Nya sebelum Dia memulai penciptaannya. Allah berfirman: maa ashaaba mim mushiibatin fil ardli walaa fii anfusikum (“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri.”) yakni di ufuk maupun di dalam diri kalian. Illaa fii kitaabim ming qabli an nab-ra-aHaa (“Melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauhul mahfudz] sebelum Kami menciptakannya.”) yakni sebelum Kami [Allah] menciptakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sedangkan yang lainnya mengatakan: “Yakni ming qabli an nab-ra-aHaa [sebelum Kami menciptakannya] kembali kepada al-anfusu [dirimu].”
Dan ada pula yang mengatakan: “Bahwa kata itu kembali kepada musibah.”
Dan yang paling benar, bahwa kata itu kembali kepada penciptaan makhluk dan umat manusia karena adanya dalil ayat yang mengarah kesana.

Qatadah mengatakan: “Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa di bumi.” Lebih lanjut ia mengatakan: “Yakni, musim kemarau.”
Walaa fii anfusikum (“dan tidak pula [pada] dirimu sendiri.”) Qatadah berkata: “Yakni lapar dan rasa sakit.” Kemudian dia mengatakan: “Telah sampai kepada kami bahwasannya tidak ada seorang pun yang tertimpa musibah dengan tertusuk kayu, kakinya terkena batu dan uratnya putus melainkan disebabkan oleh suatu dosa, dan yang dimaafkan oleh Allah adalah lebih banyak.”
Ayat yang agung ini adalah dalil paling nyata untuk mematahkan paham Qadariyah yang menafikan pengetahuan Allah yang ada sebelumnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir [ketentuan] makhluk lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.”

Muslim meriwayatkan di dalam kitab shahih-nya dari hadits ‘Abdullah bin Wahb. Ibnu Wahb menambahkan: “Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.”
Demikian diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia mengatakan: “Hadits tersebut hasan shahih.”

Firman-Nya: inna dzaalika ‘alallaaHi yasiir (“Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”) artinya bahwa ilmu Allah [Allah mengetahui] tentang segala sesuatu sebelum penciptaan dan penulisannya orang pasti sesuai dengan kejadian yang ada saat kejadian itu terjadi adalah mudah bagi Allah, karena Dia mengetahui yang telah dan akan terjadi. Dan sesuatu yang tidak akan terjadi dan kalau saja terjadi, dan bagaimana terjadinya Allah telah mengetahuinya.

Dan firman Allah: likailaa ta’sau ‘alaa maa faatakum walaa tafrahuu bimaa aataakum (“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”) maksudnya, Kami telah memberitahukan kepada kalian tentang pengetahuan Kami yang lebih dulu ada, dan penulisan [perencanaan] Kami tentang segala sesuatu sebelum diadakannya dan ketetapan Kami terhadap alam ini sebelum diwujudkannya agar kalian mengetahui bahwa apa yang menimpa diri kalian bukan untuk menyalahkan diri kalian, dan apa yang tidak ditujukan kepada kalian, maka tidak akan pernah menimpa kalian. Oleh karena itu janganlah kalian berputus asa terhadap sesuatu yang luput dari kalian, karena jika Dia menetapkan sesuatu, sudah pasti akan terjadi.

Wa laa tafrahuu bimaa aataakum (“Dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”) yakni yang datang kepada kalian. Kata “aataakum” berarti memberi kalian, dan kedua pengertian tersebut sama. Dengan kata lain, janganlah kalian membanggakan diri atas orang lain karena nikmat yang telah diberikan Allah pada kalian. Karena itu nikmat itu datang bukan karena usaha dan jerih payah kalian, tetapi ia datang karena sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala sekaligus sebagai rizkynya yang diberikan kepada kalian. Janganlah kalian menjadikan nikmat Allah itu untuk seuatu kejahatan, kesombongan dan berbangga diri atas orang lain.

Oleh karena itu Allah berfirman: wallaaHu laa yuhibbu kulla mukhtaaling fakhuur (“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”) maksudnya membangga-banggakan diri, sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.

‘Ikrimah mengatakan: “Tidak ada seorang pun melainkan akan merasakan bahagia dan sedih. Tetapi jadikanlah kebahagiaan itu sebagai wujud rasa syukur, dan jadikanlah pula kesedihan itu sebagai kesabaran.”

Selanjutnya Allah berfirman: alladziina yabkhaluuna wa ya’muruunan naasa bil bukhli (“[yaitu] orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir.”) yakni mereka mengerjakan kemungkaran dan mendorong orang lain untuk mengerjakannya pula.
Wa may yatawalla (“Dan barangsiapa yang berpaling”) yakni dari perintah-perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya: fa innallaaHa Huwal ghaniyyul hamiid (“Maka sesungguhnya Allah, Dia lah Yang Mahakaya lagi Mahaterpuji.”

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (9)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 20-21“20. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. 21. berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadiid: 20-21)

Allah berfirman seraya merendahkan dan menghinakan kehidupan dunia: annamal hayaatud dun-yaa la’ibuw wa laHwuw wa ziinatuw wa tafaakhurum bainakum wa takaatsurung fil amwaali wal aulaad (“Bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu dan berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.”) yakni yang dihasilkan oleh hal-hal duniawi bagi penghuninya hanyalah yang disebutkan ini. Yang demikian itu sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dijadikan indah pada [pandangan] manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imraan: 14)

Kemudian Allah memberikan perumpamaan bahwa kehidupan dunia sebagai bunga yang akan hancur dan nikmat yang pasti hilang, dimana Dia berfirman: kamatsalil ghaitsin (“Seperti hujan”) yaitu hujan yang turun setelah manusia berputus asa.

A’jabal kuffaara nabaatuHuu (“Yang tanam-tanamannya mengagumkan petani”) maksudnya tanam-tanaman yang tumbuh akibat turunnya hujan itu menakjubkan para petani. Sebagaimana para petani itu merasa kagum dengan tanam-tanaman itu, maka demikian pula kehidupan dunia, ia telah membuat orang-orang kafir terkagum-kagum, karena mereka adalah makhluk paling rakus dan paling tertarik kepada kehidupan dunia.

Tsumma yaHiiju fataraaHu mushfaran tsumma yakuunu huthaaman (“Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.”) maksudnya tanaman itu berubah menjadi kering sehingga engkau melihatnya berwarna kuning setelah sebelumnya berwarna hijau. Dan setelah itu semuanya berubah menjadi lapuk. Yakni berubah menjadi kering dan hancur. Demikianlah kehidupan dunia berlangsung. Pertama muda belia, lalu menginjak dewasa, kemudian menjadi lemah tak berdaya. Ketika perumpamaan itu menunjukkan sirna dan musnahnya dunia yang pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak, dan bahwasannya akhirat pasti ada dan tidak mungkin tidak, Allah mengingatkan agar mewaspadai kehidupan dunia dan menanamkan kecintaan terhadap kebaikan di dalamnya.

Wa fil aakhirati ‘adzaabun syadiiduw wa maghfiratum minallaaHi wa ridlwaanuw wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa’ul ghuruur (“Dan di akhirat [nanti] ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”) maksudnya tidak ada lagi di akhirat, yang pasti datang dan sudah dekat itu, kecuali hanya ada adzab yang pedih atau ampunan dan keridlaan dari Allah.

Wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa’ul ghuruur (“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”) yakni semua itu hanya merupakan kesenangan fana, yang menipu siapa saja yang cenderung kepadanya. Sesungguhnya manusia yang tertipu olehnya dan dibuat terkagum-kagum, sehingga ia meyakini bahwasannya tidak ada alam lain selain dunia dan tidak ada akhirat setelah dunia, padahal sesungguhnya ia [dunia] sangat hina dan sangat kecil dibandingkan dengan alam akhirat.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda: “Satu tempat sepanjang cambuk di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Bacalah, ‘Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.’”) hadits ini ditegaskan di dalam kitab Shahih tanpa adanya tambahan. wallaaHu a’lam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sendalnya. Dan neraka pun sama dengan hal itu.”
Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits itu sendirian dalam bab ar-Raqaa-iq dari hadits ats-Tsauri, dari al-A’masy.

Dan dalam hadits di atas terdapat dalil yang menunjukkan dekatnya kebaikan dan keburukandari ummat manusia. Karena demikian keadaannya, maka Allah Ta’ala memerintahkan untuk segera menuju pada kebaikan dengan mengerjakan ketaatan dan meninggalkan berbagai larangan yang dapat menghapuskan dosa dan kesalahan dan mendapatkan pahala serta derajat [yang tinggi].

Oleh karena itu Allah berfirman: saabiquu ilaa maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluHaa ka-‘ardlis samaa-i wal ardli (“Berlomba-lomba lah kamu kepada [mendapatkan] ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) dan yang dimaksud di sini adalah sejenis langit dan bumi.

u-‘iddat lilladziina aamanuu billaaHi wa rusuliHi dzaalika fadl-lullaaHi yu’tiiHi may yasyaa-u wallaaHu dzul fadl-lil ‘adhiim (“Yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.”) maksudnya apa yang diberikan Allah kepadanya semata-mata merupakan bagian dari rahmat dan karunia-Nya yang diberikan kepada mereka, juga tidak lain merupakan kebaikan-Nya.

bersambung ke bagian 10

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (8)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 18-19“18. Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. 19. dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. bagi mereka pahala dan cahaya mereka. dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka Itulah penghuni-penghuni neraka.” (al-Hadiid: 18-19)

Allah menceritakan tentang pahala yang akan diberikan kepada laki-laki maupun perempuan yang menyedekahkan harta benda mereka kepada orang-orang yang membutuhkan, orang-orang fakir dan miskin:
Wa aqradlullaaHa qardlan hasanan (“Dan mereka meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.”) yakni mereka menyerahkan harta benda mereka dengan niat tulus karena mencari keridlaan Allah. Mereka tidak mengharapkan balasan apapun dari orang-orang yang telah mereka beri, tidak pula ucapan terimakasih. Oleh karena itu Allah berfirman: yudlaa’afu laHum (“Niscaya akan dilipatgandakan [pembayarannya] kepada mereka.”) artinya kebaikan yang mereka kerjakan akan dibalas sepuluh kali lipatnya dan bahkan lebih banyak dari itu, mencapai tujuh ratus kali lipat atau bahkan lebih dari itu. Wa laHum ajrung kariim (“dan bagi mereka pahala yang banyak.”) yakni pahala yang melimpah lagi baik, tempat kembali yang baik lagi mulia.

Dan firman Allah Ta’ala: walladziina aamanuu billaaHi wa rusuliHii ulaa-ika Humush shaadiquuna (“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang yang shiddiqin”) yang demikian itu merupakan kalimat yang sempurna, dimana Allah Ta’ala mensifati orang-orang mukmin sebagai orang-orang shiddiqun [orang-orang yang teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan mereka inilah yang dianugerahi nikmat sebagaimana tersebut dalam surah al-Faatihah ayat 7].

Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas ra. mengenai firman Allah: walladziina aamanuu billaaHi wa rusuliHii ulaa-ika Humush shaadiquuna (“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang yang shiddiqin”) bagian ayat ini dipisahkan. Wasy-syuHadaa-u ‘inda rabbiHim laHum ajruHum wa nuuruHum (“Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka.”)

Abudh Dhuha mengatakan: “Mereka itulah orang-orang shiddiqun.” Kemudian dia mengawali kembali melalui firman-Nya: wasy syuHadaa-u ‘inda rabbiHim (“Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka.”) demikianlah yang dikatakan oleh Masruq, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan dan lain-lain.

Al-A’masy menceritakan dari Abudh Dhuha, dari Masruq, dari ‘Abdullah bin Mas’ud mengenai firman Allah: ulaa-ika Humush shaadiquuna wasy syuHadaa-u ‘inda rabbiHim (“mereka itu orang-orang yang shiddiqin. Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka.”) ia mengatakan: “Mereka terdiri dari tiga golongan, yaitu orang-orang yang bersedekah, orang-orang shiddiqun, dan orang-orang yang mati syahid. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqun, dan orang-orang yang mati syahid serta orang-orang yang shalih.” (an-Nisaa’: 69).

Dengan demikian itu, Allah Ta’ala telah membedakan antara orang-orang shiddiqun dan orang-orang yang mati syahid. Hal itu menunjukkan bahwa keduanya merupakan golongan yang terpisah. Dan tidak diragukan lagi bahwa shiddiq lebih tinggi kedudukannya daripada syahid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik bin anas dalam kitabnya al-Muwaththa’, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga akan [dapat saling] melihat para penghuni kamar yang berada di atas mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang berkerlap-kerlip yang tinggi menjulang di atas ufuk, dari arah timur maupun barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.”
Para shahabat berkata: “Ya Rasulallah, itu adalah tempat-tempat para Nabi yang tidak akan dapat digapai oleh selain mereka.”
Beliau menjawab: “Benar. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya [akan ada yang dapat menggapainya]. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.”
Al-Bukhari dan Muslim telah sepakat meriwayatkannya dari hadits Malik.

Ulama lain mengatakan: “Yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: ulaa-ika Humush shaadiquuna wasy syuHadaa-u ‘inda rabbiHim (“mereka itu orang-orang yang shiddiqin. Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka.”) dengan demikian Allah menceritakan tentang orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa mereka adalah orang-orang shiddiqun dan para syuhada.” Demikian yang diceritakan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid.

Dan firman Allah: wasy syuHadaa ‘inda rabbiHim (“Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka.”) yakni di surga yang penuh kenikmatan. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab ash-shahihain: “Sesungguhnya arwah para syuhada berada di dalam paruh burung hijau yang beterbangan di surga sekehendaknya, kemudian kembali menuju pelita-pelita itu. Kemudian, Rabbmu menjenguk sejenak, lalu Dia berfirman: ‘Apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab: ‘Kami ingin Engkau mengembalikan ke dunia, lalu kami berjuang di jalan-Mu sehingga kami mati terbunuh lagi seperti apa yang kami alami pertama kali.’ Maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah memutuskan bahwa mereka tidak akan kembali lagi ke sana [dunia].’”

Firman Allah Ta’ala: laHum ajruHum wa nuuruHum (“bagi mereka pahala dan cahaya mereka.”) maksudnya di sisi Allah, mereka akan mendapatkan pahala yang banyak dan cahaya yang agung [besar] di hadapan mereka. Dalam hal itu, mereka mempunyai tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dulu pernah mereka kerjakan di dunia.

Dan firman Allah Ta’ala: walladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ash-haabul jahiim (“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.”) Allah menyebutkan orang-orang yang celaka dan menjelaskan keadaan mereka.

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (7)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 16-17“16. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. 17. ketahuilah olehmu bahwa Sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (al-Hadiid: 16-17)

Allah berfirman: “Adapun sekarang adalah saatnya bagi orang-orang mukmin mempunyai hati yang khusyu’ untuk berdzikir kepada Allah.” Dengan kata lain, telah tiba saat hati mereka menjadi lunak ketika berdzikir, mendapatkan nasehat, dan mendengarkan al-Qur’an, lalu memahaminya dan tunduk patuh kepadanya; mendengar dan mentaatinya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Hasan bin Muhammad ash-Shabah dari Muslim, Yunus bin ‘Abdul A’la memberitahu kami, dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Tidak ada tenggang waktu antara keislaman kami dengan teguran Allah melalui ayat: alam ya’ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuHum lidzikrillaaHi (“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”) melainkan hanya empat tahun saja.”

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim pada akhir kitab. Dan diriwayatkan oleh an-Nasa-i pada penafsiran ayat ini. Selain itu, hal tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Mengenai firman-Nya: alam ya’ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuHum lidzikrillaaHi (“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”) Qatadah mengatakan: “Diceritakan kepada kami bahwa Syaddad bin Aus pernah meriwayatkan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: ‘Sesungguhnya yang pertama kali diangkat dari manusia adalah kekhusyu’annya.’”

Dan firman Allah selanjutnya: wa laa nazala minal haqqi walaa yakuunuu kalladziina uutul kitaaba ming qablu fathaala ‘alaiHimul amadu faqasat quluubuHum (“Dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.”)
Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang sebelum mereka yang telah diberi al-Kitab di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dimana setelah waktu berlalu, mereka merubah kitab Allah yang berada di tangan mereka dan menjualnya dengan harga yang sangat murah serta melemparkannya ke belakang punggung mereka. Selanjutnya mereka menghadapkan diri pada pendapat-pendapat yang sangat beragam dan membingungkan. Mereka bertaklid kepada beberapa orang dalam urusan agama Allah. Dan mereka menjadikan pendeta-pendeta dan pemuka agama mereka sebagai ilah-ilah mereka sendiri selain Allah. Pada saat itulah hati merekapun menjadi keras, sehingga mereka tidak mau lagi menerima nasehat. Hati merekapun tidak mau melunak oleh janji dan juga ancaman Allah.

Wa katsiirum minHum faasiquun (“Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”) yakni dalam amal perbuatan mereka. Dengan demikian hati mereka telah menjadi rusak dan amal mereka pun semuanya tidak berarti. Dengan kata lain hati mereka telah rusak dan mengeras dan jadilah watak mereka suka untuk merubah ucapan dari proporsinya. Dan mereka meninggalkan amal perbuatan yang telah diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin untuk menyerupai mereka dalam suatu hal, baik dalam masalah-masalah ushul [pokok] maupun furu’ [cabang].

Dan firman Allah: i’lamuu annallaaHa yuhyil ardla ba’da mautiHaa qad bayyannaa lakumul aayaati la’allakum ta’qiluun (“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran [Kami] supaya kamu memikirkannya.”)
Di dalam ayat tersebut terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala akan melunakkan hati sebelum tadinya membatu, dan akan memberikan petunjuk kepada orang yang berada dalam keadaan bingung, setelah sebelumnya berada dalam kesesatan, membukakan jalan dari berbagai kesulitan setelah sebelumnya berada dalam kesusahan yang mencekam. Sebagaimana Allah telah menghidupkan bumi yang sebelumnya mati dengan air hujan yang tercurah, demikianjuga Allah akan memberikan petunjuk kepada hati-hati yang membatu itu dengan bukti-bukti dan dalil al-Qur’an.

Dia akan memasukkan cahaya ke dalam hati setelah sebelumnya ia berada dalam keadaan terkunci yang tidak pernah dapat dijangkau oleh siapapun. Mahasuci Allah, Rabb Pemberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya setelah ia berada dalam kesesatan, dan akan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya setelah ia berada dalam kesempurnaan petunjuk. Dia lah Rabb yang mengerjakan apa saja yang dikehendaki, Dia Mahabijaksana dan Mahaadil dalam segala perbuatan, Mahalembut, Mahamengetahui, Mahabesar, lagi Mahatinggi.

Bersambung ke bagian 8

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (6)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

Dan firman Allah Ta’ala: fa dluriba bainaHum bisuuril laHuu baabum bathinuHuu fiiHir rahmatu wa dhaaHiruHuu ming qibaliHil ‘adzaabu (“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”) al-Hasan dan Qatadah mengatkan: “Yakni dinding pemisah antara surga dan neraka.” ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Inilah yang difirmankan Allah Ta’ala: wa bainaHumaa hijaab (“Dan di antara keduanya ada hijab [batas].”)(al-A’raaf: 46)

Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid dan beberapa ulama lainnya, dan pendapat itulah yang benar: baathinuHuu fiiHir rahmatu (“Di sebelah dalamnya terdapat rahmat”) yani surga dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Wa dhaaHiruHuu ming qibaliHil ‘adzaab (“Dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”) yakni neraka. demikianlah yang dikemukakan oleh Qatadah, Ibnu Zaid dan lain-lain.

Dan yang dimaksud dengan hal ini adalah dinding-dinding pagar yang sengaja dibuat pada hari kiamat kelak untuk memisahkan antara orang-orang mukmin dan munafik. Jika orang-orang mukmin telah sampai di sana, maka mereka akan melalui pintunya. Jika mereka semua telahmasuk, maka pintu itu akan ditutup rapat, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang munafik di belakang mereka dalam kebingungan, kegelapan, dan siksaan. Sebagaimana mereka dulu di dunia berada dalam kekufuran, kebodohan, keraguan dan kebimbangan. yunaaduunaHum alam nakum ma’akum (“Orang-orang munafik itu memanggil mereka: ‘Bukankah dahulu kami bersama-sama denganmu?”) maksudnya orang-orang munafik itu berseru kepada orang-orang yang beriman: “Bukankah dulu sewaktu di dunia kami bersama-sama kalian. Kita bersama-sama menghadiri shalat Jum’at dan mengerjakan shalat berjama’ah, berdiri bersama di ‘Arafah, kami mengikuti berbagai peperangan, serta mengerjakan kewajiban bersama kalian?”

Qaaluu balaa (“Mereka menjawab: ‘Benar.’”) maksudnya orang-orang mukmin menjawab ucapan orang-orang munafik seraya berkata: “Memang benar, kalian pernah bersama kami.”
Walaakinnakum fatantum anfusakum watarabbashtum wartabtum wa gharrakumul amaaniiyu (“Tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu [kehancuran kami] dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong.”) sebagian ulama salaf mengatakan: “Artinya, kalian telah mencelakakan dir kalian dengan berbagai kelezatan, kemaksiatan, nafsu syahwat dan kalian menunda-nunda taubat dari waktu ke waktu.”

Mengenai firman-Nya: wa tarabbashtum (“Kamu menunda-nunda”) Qatadah mengemukakan: “Yakni, terhadap kebenaran dan para pengikutnya.” Wartabtum (“Dan kamu ragu-ragu”) terhadap adanya kebangkitan setelah kematian.
Wa gharratkumul amaaniyyu (“Dan kamu ditipu oleh angan-angan kosong.”) maksudnya kalian mengatakan: “Kami akan diberi ampunan.” Kemudian dikatakan: “Kalian telah ditipu oleh dunia. hattaa jaa-a amrullaaHi (“sehingga datang ketetapan Allah”) artinya, kalian masih terus dalam keadaan seperti itu sehingga kematian menjemput kalian. Wa gharrakum billaaHil gharuur (“dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh yang amat penipu.”) yakni syaitan.

Qatadah mengatakan: “Mereka telah ditipu oleh syaitan, dan mereka terus seperti itu sehingga Allah mencampakkan mereka ke dalam neraka.” makna kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang mukmin kepada orang-orang munafik itu, bahwa kalian memang bersama-sama kami dalam wujud fisik semata yang tidak disertai niat dan tanpa hati. Dan kalian selalu dalam keadaan bimbang dan ragu. Selain itu, kalian juga hanya mencari perhatian orang-orang dan tidak pula berdzikir kepada Allah melainkan hanya sedikit sekali.

Fal yauma laa yu’khadzu mingkum fidyatuw walaa minalladziina kafaruu (“Pada hari ini tidak diterima tebusanmu dan tidak pula dari orang-orang kafir.”) maksudnya seandainya salah seorang di antara kalian pada hari itu datang dengan membawa emas sepenuh bumi dan sebanyak itu pula untuk menebus adzab Allah, niscaya Dia tidak akan menerimanya.

Firman-Nya: ma’waakumun naar (“Tempatmu ialah neraka.”) maksudnya neraka adalah tempat kembali kalian dan ke sana pula kalian akan dikembalikan.
Dan firman-Nya: Hiya maulaakum (“dialah tempat berlindungmu.”) nerakalah yang paling layak bagi kalian daripada tempat-tempat lainnya karena kekufuran dan keraguan kalian, dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Bersambung ke bagian 7

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (5)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 12-15“12. (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada meraka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”. 13. pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. 14. orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu. 15. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. dan Dia adalah sejahat-jahat tempat kembali”. (al-Hadiid: 12-15)

Allah berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang mukmin yang bersedekah, bahwa pada hari kiamat kelak mereka akan memperoleh cahaya yang terang di hadapan mereka di pelataran hari kiamat sesuai dengan amal yang mereka perbuat. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud mengenai firman Allah: yas’aa nuuruHum baina aidiiHim (“Sedang cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”) ia mengatakan: “Sesuai dengan amal perbuatan mereka, mereka akan berjalan melintasi jembatan. Di antara mereka ada yang cahayanya seperti gunung. Ada pula yang cahayanya seperti pohon kurma dan ada pula yang cahayanya seperti seorang yang berdiri tegak. Dan yang paling gelap cahayanya adalah orang-orang yang cahayanya terdapat pada ibu jari mereka, terkadang bercahaya dan terkadang padam.”

Hal ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir. Sufyan ats-Tsauri bercerita dari Hushain, dari Mujahid, dari Junadah bin Abi Umayyah, ia berkata: “Sesungguhnya kalian tertulis di sisi Allah dengan nama-nama, tanda-tanda, tempat, rahasia, dan majelis kalian. Dan jika hari kiamat tiba, akan dikatakan: “Hai fulan, inilah cahayamu. Hai fulan, tidak ada cahaya bagimu”” dan kemudian dia membacakan: yas’aa nuuruHum baina aidiiHim (“Sedang cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”)

Masih mengenai firman-Nya ini: yas’aa nuuruHum baina aidiiHim (“Sedang cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”) al Hasan mengatakan: “Yakni, di atas ash-Shirath.”

Dan firman Allah: wa bi aimaaniHim (“dan disebelah kanan mereka.”) adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni disebelah kanan mereka terdapat buku catatan mereka.” Sebagaimana difirmankan oleh Allah: faman uutiya kitaabaHu biyamiiniHii (“Maka barangsiapa yang kitab amalnya diberikan di tangan kanannya.”)(al-Israa’: 71)

Firman-Nya: busyraakumul yauma jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Pada hari ini ada berita gembira untukmu, [yaitu] surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) maksudnya dikatakan kepada mereka: “Pada hari ini ada kabar gembira bagi kalian berupa surga.”) dengan kata lain, bagi kalian kabar gembira berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Khaalidiina fiiHaa (“Yang kamu kekal di dalamnya”) artinya kamu akan tinggal di dalamnya untuk selamanya. Dzaalika Huwal fauzul ‘adhiim (“Itulah keberuntungan yang besar.”)

Dan firman Allah: yauma yaquulul munaafiquuna wal munaafiqaatu lilladziina aamanun dhuruunaa naqtabis min nuurikum (“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya mu.”) yang demikian itu merupakan kabar dari Allah Ta’ala tentang apa yang akan terjadi pada hari kiamat kelak di pelataran kiamat, berupa berbagai hal yang menakutkan lagi mengerikan, juga berupa berbagai goncangan dan hal-hal buruk lainnya.

Pada saat itu tidak ada orang yang selamat kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya serta menjauhi semua larangan-Nya. Jadi orang kafir dan munafik tidak akan dapat memanfaatkan cahaya orang mukmin, sebagaimana orang buta tidak akan dapat memanfaatkan cahaya orang yang dapat melihat.

Dan orang-orang munafik berkata kepada orang-orang yang beriman: undhuruunaa naqtabis min nuurikum qiilar ji’uu waraa-akum faltamisuu nuuran (“’Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.’ Dikatakan [kepada mereka]: ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya [untukmu].’”) yang demikian itu merupakan tipu daya Allah yang ditujukan kepada orang-orang munafik, dimana Dia berfirman: yukhaadi’uunallaaHa wa Huwa khaadi’uHum (“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah membalas tipuan mereka.”)(an-Nisaa’: 142)

Sehingga merekapun kembali ke tempat dimana cahaya dibagikan, namun mereka tidak mendapatkan sedikitpun cahaya tersebut. Al-‘Aufi, adh-Dhahhak dan lain-lain mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Ketika orang-orang berada di kegelapan, tiba-tiba Allah mengirimkan cahaya. Ketika orang-orang mukmin melihat cahaya itu, merekapun menghadapkan wajah ke arah cahaya tersebut. Cahaya itu merupakan petunjuk dari Allah untuk menuju ke surga.

Dan ketika orang-orang munafik melihat orang-orang mukmin telah berangkat, mereka pun mengikutinya, maka Allah pun memberikan kegelapan bagi mereka [orang-orang munafik]. Dan pada saat itu mereka berkata: undhurunaa naqtabis min nuurikum (“Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.”) sesungguhnya kami bersama kalian di dunia. Maka orang-orang mukmin berkata: irji’uu waraa-akum (“Kembalilah kamu ke belakangmu.”) yakni dari tempat dimana kalian datang dari kegelapan. Lalu carilah cahaya di sana.”)

Abul Qasim ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memanggil manusia pada hari kiamat kelak dengan nama-nama mereka sebagai tirai penghalang dari-Nya atas hamba-hamba-Nya. Sedang di atas ash-Shirath, Allah Ta’ala memberikan cahaya kepada setiap orang mukmin dan munafik. Dan jika mereka telah berada di atas Shirath, Allah segera menarik kembali cahaya orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan. Kemudian orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami supaya kami bisa mengambil sebagaian dari cahaya kalian.’ Maka orang-orang Mukmin berkata: ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami untuk kami.’ Pada saat itu seseorang tidak akan mengingat orang lain.”

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (4)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

Dan firman Allah: laa yastawii mingkum man anfaqa ming qablil fathi wa qaatala (“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan [hartanya] dan berperang sebelum penaklukan [Makkah].”) maksudnya tidak sama orang yang berinfak waktu sebelum penaklukan Makkah dengan orang yang tidak berinfak pada waktu itu; karena sebelum penaklukan Makkah keadaan yang dialami sangat genting, tidak ada yang beriman saat itu kecuali orang-orang yang benar-benar kuat keimanannya. Sedangkan setelah penaklukan Makkah, Islam muncul dengan penuh kegemilangan, dan orang-orangpun datang berduyun-duyun masuk agama Allah.

Oleh karena itu Allah berfirman: ulaa-ika a’dhamu darajatam minalladziina anfaquu mim ba’du wa qaataluu wa kullaw wa ‘adallaaHul husnaa (“Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan [hartanya] dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka [balasan] yang lebih baik.”) jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengna al-fath di sini adalah pembebasan kota Makkah. Dan yang terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah saw. adalah sebagai berikut, dimana beliau bersabda: “Jangalah kalian mencela/mencaci para shahabatku. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan pernah dapat mencapai nilai satu mud pun [dari kebaikan] salah seorang dari mereka [para shahabat], dan tidak pula setengahnya.”

Dan firman Allah Ta’ala: wa kullaw wa ‘adallaaHul husnaa (“Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka [balasan] yang lebih baik.”) yakni orang-orang yang berinfak sebelum pembebasan kota Makkah dan juga sesudahnya. Bagi mereka keseluruhannya pahala atas apa yang telah mereka kerjakan, meskipun di antara mereka terdapat perbedaan dan tingkatan pahala tersebut. Dan demikianlah yang disebutkan dalam hadits yang terdapat dalam kitab shahih: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang-orang mukmin yang lemah, dan untuk tiap-tiap mereka ada kebaikan masing-masing.” (HR Muslim, Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)

Allah mengingatkan hal tersebut dengan maksud agar salah satu sisi tidak rusak karena adanya pujian terhadap yang pertama saja tidak pada yang lain. Oleh karena itu, Dia mengiringi pujian pertama itu dengan pujian dan sanjungan terhadap yang lainnya dengan disertai kelebihan orang-orang yang pertama. karenanya Allah berfirman: wallaaHu bimaa ta’maluuna khabiir (“Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya berdasarkan pengetahuan-Nya pula Dia membedakan antara pahala orang yang berinfak dan berperang sebelum pembebasan Makkah dengan orang-orang yang melakukan itu setelah pembebasan kota Makkah. Yang demikian itu tidak lain karena Dia mengetahui niat dan tujuan orang-orang generasi pertama dan keikhlasan mereka yang sempurna, keteguhan mereka berinfak ketika dalam keadaan susah, miskin dan dalam kesempitan. Dan dalam sebuah hadits disebutkan: “Satu dirham mendahului seratus ribu dirham.” (HR an-Nasa-i)

Dan tidak diragukan lagi di kalangan orang-orang yang beriman, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah orang yang mendapat perhatian besar dari ayat ini, dimana ia menjadi tokoh dari orang yang mengamalkan ayat ini dari semua umat-umat para nabi yang ada, karena ia telah menginfakkan seluruh hartanya dalam rangka mencari keridlaan Allah swt. dan tidak ada seorangpun di sisi-Nya yang mendapatkan nikmat seperti apa yang diberikan kepadanya. wallaaHu a’lam.

Dan firman Allah: man dzalladzii yuqridlullaaHa qardlan hasanan (“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.”) ‘Umar bin al-Khaththab mengatakan: “Yakni infak di jalan Allah.” Ada pula yang mengatakan: “Yakni nafkah yang diberikan kepada keluarga.” Dan yang benar bahwa kata itu bersifat lebih umum dari pengertian di atas. Jadi siapa saja yang berinfak di jalan Allah secara tulus ikhlas dan dengan niat yang tulus, maka ia telah masuk ke dalam keumuman ayat ini.

Oleh karena itu Allah berfirman: man dzalladzii yuqridlullaaHa qardlan hasanan fayudlaa’ifu laHuu (“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan [balasan] pinjaman itu untuknya.”) sebagaimana yang Dia firmankan dalam ayat lain yang artinya: “Maka, Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (al-Baqarah: 245).

Firman-Nya yang lain: adl’aafang katsiiratun (“Dengan lipat ganda yang banyak.”) wa laHuu ajrung kariim (“Dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”) yakni pahala yang baik dan pemberian yang megah, yaitu surga pada hari kiamat.

Bersambung ke bagian 5