Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (3)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 7-11“7. berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. 8. dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah Padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. dan Sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. 9. Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. 10. dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, Padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. 11. siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (al-Hadiid: 7-11)

Allah memerintahkan kepada kalian beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya secara sempurna, terus-menerus, penuh keteguhan, dan untuk selamanya. Selain itu Dia juga memerintahkan agar berinfak dari harta benda yang telah Dia kuasakan kepada kalian. Yakni harta Allah yang kalian pinjam. Karena boleh jadi harta itu memang berada di tangan orang-orang sebelum kalian, kemudian berpindah ke tangan kalian, sehingga Allah membimbing kalian untuk taat kepada-Nya. Jika memang mereka mau mengerjakan perintah tersebut. Dan jika mematuhi, maka Allah akan membuat perhitungan dan menyiksa mereka karena tindakan mereka meninggalkan apa yang telah diwajibkan kepada mereka.

Firman Allah: mimmaa ja’alakum mustakhlafiina fiiHi (“Dari hartamu yang Allah telah menjadikanmu menguasainya.”) di dalamnya terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa harta itu kelak akan berpindah darimu, mungkin ke tangan ahli warismu yang akan ia pergunakan untuk ketaatan kepada Allah, sehingga ia akan lebih berbahagia dengan apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya melebihi dirimu. Atau sebaliknya, ia akan mempergunakannya untuk bermaksiat kepada Allah, sehingga dengan demikian engkau telah ikut membantunya berbuat dosa dan permusuhan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mutharrif Ibnu ‘Abdillah asy-Sikhir, dari ayahnya, ia bercerita: Aku pernah sampai kepada Rasulullah saw. dan beliau bersabda: “’Bermegah-megah telah menjadikan kalian lalai.’ Ibnu Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku,’ padahal tidak ada yang menjadi milikmu melainkan makanan yang telah kamu makan kemudian habis, atau pakaian yang kamu pakai lalu menjadi usang, atau harta yang kamu sedekahkan maka harta itu kekal bersamamu.” Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Syu’bah. Dan dia menambahkan: “Adapun yang selain itu, maka ia akan pergi dan ditinggalkan untuk orang lain.”

Dan firman Allah: falladziina aamanuu mingkum wa angfaquu laHum ajrung kabiir (“Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan [sebagian] dari hartanya memperoleh pahala yang besar.”) yang demikian itu merupakan motivasi untuk beriman dan berinfak dalam ketaatan.

Wa maa lakum laa tu’minuuna billaaHi warrasuulu yad’uukum litu’minuu birabbikum (“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyuruhmu supaya kamu beriman kepada Rabb-mu.”) maksudnya, apa yang menghalangi kalian untuk beriman, padahal Rasul telah berada di tengah-tengah kalian dan mengajak kalian kepada hal itu, serta menjelaskan kepada kalian tentang hujjah-hujjah dan bukti-bukti nyata yang menunjukkan kebenaran apa yang ia bawa kepada kalian.

Dan telah diriwayatkan dalam sebuah hadits melalui beberapa jalan pada awal-awal penjelasan kitab al-iimaan dalam kitab shahih Bukhari, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda kepada para shahabatnya: “Siapakah orang-orang mukmin yang paling kalian kagumi keimanannya?” mereka menjawab: “Para malaikat.” Rasulullah saw berkata: “Jelas mereka beriman karena mereka berada di sisi Rabb mereka.” Mereka menjawab: “Jadi, para Nabi?” Rasulullah saw. bersabda: “Jelas mereka beriman karena wahyu diturunkan kepada mereka.” Mereka menjawab: “Kalau begitu kami.” Beliau menjawab: “Jelas kalian beriman karena aku berada di tengah-tengah kalian. Tetapi orang mukmin yang dikagumi imannya adalah kaum yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran suci, yang mereka beriman kepada apa yang dikandungnya.”

Dan telah disebutkan beberapa sisi dari hal itu pada awal surah al-Baqarah pada firman Allah yang artinya: “Yaitu mereka beriman kepada yang ghaib.” (al-Baqarah: 3)

Dan firman-Nya: wa qad akhadza miitsaaqakum (“Dan sesungguhnya Dia telah mengambil pernjanjianmu.”) sebagaimana difirmankan Allah yang artinya: “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan pernjanjian-Nya yang telah diikatkan-Nya denganmu ketika kamu mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat.’” (al-Maa-idah: 7).

Dan yang dimaksud dengan hal itu adalah bai’at Rasulullah saw. Ibnu Jarir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah perjanjian yang diambil dari mereka ketika mereka masih berada di dalam tulang rusuk Adam. Dan itu pula yang menjadi pendapat Mujahid. wallaaHu a’lam.

Dan firman Allah: Huwal ladzii yunazzilu ‘alaa ‘abdiHii aayaatim bayyinaatin (“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang.”) yakni hujjah-hujjah yang jelas dan dalil-dalil yang gamblang, serta bukti-bukti yang pasti. Liyukhrijakum minadh-dhulumaati ilan nuur (“Supaya Dia mengeluarkanmu dari kegelapan menuju cahaya.”) yakni dari gelapnya kebodohan, kekufuran, dan pendapat yang bertolak belakang dengan cahaya petunjuk, keyakinan dan keimanan.

Wa innallaaHa bikum lara-uufur rahiim (“Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahapenyantun lagi Mahapenyayang terhadapmu.”) yakni dengan diturunkan-Nya kitab-kitab-Nya dan diutusnya para Rasul-Nya untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia serta menyingkirkan kesulitan dan menghapuskan keraguan. Setelah Dia memerintahkan kepada mereka pertama kali untuk beriman dan berinfak lalu menekan mereka untuk beriman dan menjelaskan bahwa Dia telah menghilangkan segala bentuk rintangan, maka Allah Ta’ala juga menggalakkan mereka untuk berinfak, dimana Dia berfirman: wa maa lakum allaa tunfiquu fii sabiilillaaHi walillaaHi miiraatsus samaawaati wal ardli (“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan [sebagian hartamu] pada jalan Allah, padahal Allah lah yang mempusakai [mempunyai] langit dan bumi?”) maksudnya keluarkanlah infak dan janganlah kalian takut miskin dan melarat, karena sesungguhnya Rabb yang karena-Nya kamu berinfak di jalan-Nya, adalah Pemilik langit dan bumi, di tangan-Nya pengendalian keduanya, dan di sisi-Nya pula perbendaharaan keduanya berada. Dia adalah Raja Pemilik ‘Arsy dan Dialah yang telah berfirman yang artinya: “Dan barang apa yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia lah Pemberi rizky yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39).

Dengan demkian barangsiapa bertawakkal keapda Allah, maka ia akan berinfak dan tidak akan pernah takut melarat, dan ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala akan memberikan ganti kepadanya.

Bersambung ke bagian 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: