Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (4)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

Dan firman Allah: laa yastawii mingkum man anfaqa ming qablil fathi wa qaatala (“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan [hartanya] dan berperang sebelum penaklukan [Makkah].”) maksudnya tidak sama orang yang berinfak waktu sebelum penaklukan Makkah dengan orang yang tidak berinfak pada waktu itu; karena sebelum penaklukan Makkah keadaan yang dialami sangat genting, tidak ada yang beriman saat itu kecuali orang-orang yang benar-benar kuat keimanannya. Sedangkan setelah penaklukan Makkah, Islam muncul dengan penuh kegemilangan, dan orang-orangpun datang berduyun-duyun masuk agama Allah.

Oleh karena itu Allah berfirman: ulaa-ika a’dhamu darajatam minalladziina anfaquu mim ba’du wa qaataluu wa kullaw wa ‘adallaaHul husnaa (“Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan [hartanya] dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka [balasan] yang lebih baik.”) jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengna al-fath di sini adalah pembebasan kota Makkah. Dan yang terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah saw. adalah sebagai berikut, dimana beliau bersabda: “Jangalah kalian mencela/mencaci para shahabatku. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan pernah dapat mencapai nilai satu mud pun [dari kebaikan] salah seorang dari mereka [para shahabat], dan tidak pula setengahnya.”

Dan firman Allah Ta’ala: wa kullaw wa ‘adallaaHul husnaa (“Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka [balasan] yang lebih baik.”) yakni orang-orang yang berinfak sebelum pembebasan kota Makkah dan juga sesudahnya. Bagi mereka keseluruhannya pahala atas apa yang telah mereka kerjakan, meskipun di antara mereka terdapat perbedaan dan tingkatan pahala tersebut. Dan demikianlah yang disebutkan dalam hadits yang terdapat dalam kitab shahih: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang-orang mukmin yang lemah, dan untuk tiap-tiap mereka ada kebaikan masing-masing.” (HR Muslim, Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)

Allah mengingatkan hal tersebut dengan maksud agar salah satu sisi tidak rusak karena adanya pujian terhadap yang pertama saja tidak pada yang lain. Oleh karena itu, Dia mengiringi pujian pertama itu dengan pujian dan sanjungan terhadap yang lainnya dengan disertai kelebihan orang-orang yang pertama. karenanya Allah berfirman: wallaaHu bimaa ta’maluuna khabiir (“Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya berdasarkan pengetahuan-Nya pula Dia membedakan antara pahala orang yang berinfak dan berperang sebelum pembebasan Makkah dengan orang-orang yang melakukan itu setelah pembebasan kota Makkah. Yang demikian itu tidak lain karena Dia mengetahui niat dan tujuan orang-orang generasi pertama dan keikhlasan mereka yang sempurna, keteguhan mereka berinfak ketika dalam keadaan susah, miskin dan dalam kesempitan. Dan dalam sebuah hadits disebutkan: “Satu dirham mendahului seratus ribu dirham.” (HR an-Nasa-i)

Dan tidak diragukan lagi di kalangan orang-orang yang beriman, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah orang yang mendapat perhatian besar dari ayat ini, dimana ia menjadi tokoh dari orang yang mengamalkan ayat ini dari semua umat-umat para nabi yang ada, karena ia telah menginfakkan seluruh hartanya dalam rangka mencari keridlaan Allah swt. dan tidak ada seorangpun di sisi-Nya yang mendapatkan nikmat seperti apa yang diberikan kepadanya. wallaaHu a’lam.

Dan firman Allah: man dzalladzii yuqridlullaaHa qardlan hasanan (“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.”) ‘Umar bin al-Khaththab mengatakan: “Yakni infak di jalan Allah.” Ada pula yang mengatakan: “Yakni nafkah yang diberikan kepada keluarga.” Dan yang benar bahwa kata itu bersifat lebih umum dari pengertian di atas. Jadi siapa saja yang berinfak di jalan Allah secara tulus ikhlas dan dengan niat yang tulus, maka ia telah masuk ke dalam keumuman ayat ini.

Oleh karena itu Allah berfirman: man dzalladzii yuqridlullaaHa qardlan hasanan fayudlaa’ifu laHuu (“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan [balasan] pinjaman itu untuknya.”) sebagaimana yang Dia firmankan dalam ayat lain yang artinya: “Maka, Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (al-Baqarah: 245).

Firman-Nya yang lain: adl’aafang katsiiratun (“Dengan lipat ganda yang banyak.”) wa laHuu ajrung kariim (“Dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”) yakni pahala yang baik dan pemberian yang megah, yaitu surga pada hari kiamat.

Bersambung ke bagian 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: