Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (6)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

Dan firman Allah Ta’ala: fa dluriba bainaHum bisuuril laHuu baabum bathinuHuu fiiHir rahmatu wa dhaaHiruHuu ming qibaliHil ‘adzaabu (“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”) al-Hasan dan Qatadah mengatkan: “Yakni dinding pemisah antara surga dan neraka.” ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Inilah yang difirmankan Allah Ta’ala: wa bainaHumaa hijaab (“Dan di antara keduanya ada hijab [batas].”)(al-A’raaf: 46)

Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid dan beberapa ulama lainnya, dan pendapat itulah yang benar: baathinuHuu fiiHir rahmatu (“Di sebelah dalamnya terdapat rahmat”) yani surga dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Wa dhaaHiruHuu ming qibaliHil ‘adzaab (“Dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”) yakni neraka. demikianlah yang dikemukakan oleh Qatadah, Ibnu Zaid dan lain-lain.

Dan yang dimaksud dengan hal ini adalah dinding-dinding pagar yang sengaja dibuat pada hari kiamat kelak untuk memisahkan antara orang-orang mukmin dan munafik. Jika orang-orang mukmin telah sampai di sana, maka mereka akan melalui pintunya. Jika mereka semua telahmasuk, maka pintu itu akan ditutup rapat, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang munafik di belakang mereka dalam kebingungan, kegelapan, dan siksaan. Sebagaimana mereka dulu di dunia berada dalam kekufuran, kebodohan, keraguan dan kebimbangan. yunaaduunaHum alam nakum ma’akum (“Orang-orang munafik itu memanggil mereka: ‘Bukankah dahulu kami bersama-sama denganmu?”) maksudnya orang-orang munafik itu berseru kepada orang-orang yang beriman: “Bukankah dulu sewaktu di dunia kami bersama-sama kalian. Kita bersama-sama menghadiri shalat Jum’at dan mengerjakan shalat berjama’ah, berdiri bersama di ‘Arafah, kami mengikuti berbagai peperangan, serta mengerjakan kewajiban bersama kalian?”

Qaaluu balaa (“Mereka menjawab: ‘Benar.’”) maksudnya orang-orang mukmin menjawab ucapan orang-orang munafik seraya berkata: “Memang benar, kalian pernah bersama kami.”
Walaakinnakum fatantum anfusakum watarabbashtum wartabtum wa gharrakumul amaaniiyu (“Tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu [kehancuran kami] dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong.”) sebagian ulama salaf mengatakan: “Artinya, kalian telah mencelakakan dir kalian dengan berbagai kelezatan, kemaksiatan, nafsu syahwat dan kalian menunda-nunda taubat dari waktu ke waktu.”

Mengenai firman-Nya: wa tarabbashtum (“Kamu menunda-nunda”) Qatadah mengemukakan: “Yakni, terhadap kebenaran dan para pengikutnya.” Wartabtum (“Dan kamu ragu-ragu”) terhadap adanya kebangkitan setelah kematian.
Wa gharratkumul amaaniyyu (“Dan kamu ditipu oleh angan-angan kosong.”) maksudnya kalian mengatakan: “Kami akan diberi ampunan.” Kemudian dikatakan: “Kalian telah ditipu oleh dunia. hattaa jaa-a amrullaaHi (“sehingga datang ketetapan Allah”) artinya, kalian masih terus dalam keadaan seperti itu sehingga kematian menjemput kalian. Wa gharrakum billaaHil gharuur (“dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh yang amat penipu.”) yakni syaitan.

Qatadah mengatakan: “Mereka telah ditipu oleh syaitan, dan mereka terus seperti itu sehingga Allah mencampakkan mereka ke dalam neraka.” makna kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang mukmin kepada orang-orang munafik itu, bahwa kalian memang bersama-sama kami dalam wujud fisik semata yang tidak disertai niat dan tanpa hati. Dan kalian selalu dalam keadaan bimbang dan ragu. Selain itu, kalian juga hanya mencari perhatian orang-orang dan tidak pula berdzikir kepada Allah melainkan hanya sedikit sekali.

Fal yauma laa yu’khadzu mingkum fidyatuw walaa minalladziina kafaruu (“Pada hari ini tidak diterima tebusanmu dan tidak pula dari orang-orang kafir.”) maksudnya seandainya salah seorang di antara kalian pada hari itu datang dengan membawa emas sepenuh bumi dan sebanyak itu pula untuk menebus adzab Allah, niscaya Dia tidak akan menerimanya.

Firman-Nya: ma’waakumun naar (“Tempatmu ialah neraka.”) maksudnya neraka adalah tempat kembali kalian dan ke sana pula kalian akan dikembalikan.
Dan firman-Nya: Hiya maulaakum (“dialah tempat berlindungmu.”) nerakalah yang paling layak bagi kalian daripada tempat-tempat lainnya karena kekufuran dan keraguan kalian, dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Bersambung ke bagian 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: