Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hadiid (7)

18 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadiid (Besi)
Surah Madaniyyah; surah ke 57:29 ayat

tulisan arab alquran surat al hadid ayat 16-17“16. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. 17. ketahuilah olehmu bahwa Sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (al-Hadiid: 16-17)

Allah berfirman: “Adapun sekarang adalah saatnya bagi orang-orang mukmin mempunyai hati yang khusyu’ untuk berdzikir kepada Allah.” Dengan kata lain, telah tiba saat hati mereka menjadi lunak ketika berdzikir, mendapatkan nasehat, dan mendengarkan al-Qur’an, lalu memahaminya dan tunduk patuh kepadanya; mendengar dan mentaatinya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Hasan bin Muhammad ash-Shabah dari Muslim, Yunus bin ‘Abdul A’la memberitahu kami, dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Tidak ada tenggang waktu antara keislaman kami dengan teguran Allah melalui ayat: alam ya’ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuHum lidzikrillaaHi (“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”) melainkan hanya empat tahun saja.”

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim pada akhir kitab. Dan diriwayatkan oleh an-Nasa-i pada penafsiran ayat ini. Selain itu, hal tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Mengenai firman-Nya: alam ya’ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuHum lidzikrillaaHi (“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”) Qatadah mengatakan: “Diceritakan kepada kami bahwa Syaddad bin Aus pernah meriwayatkan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: ‘Sesungguhnya yang pertama kali diangkat dari manusia adalah kekhusyu’annya.’”

Dan firman Allah selanjutnya: wa laa nazala minal haqqi walaa yakuunuu kalladziina uutul kitaaba ming qablu fathaala ‘alaiHimul amadu faqasat quluubuHum (“Dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.”)
Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang sebelum mereka yang telah diberi al-Kitab di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dimana setelah waktu berlalu, mereka merubah kitab Allah yang berada di tangan mereka dan menjualnya dengan harga yang sangat murah serta melemparkannya ke belakang punggung mereka. Selanjutnya mereka menghadapkan diri pada pendapat-pendapat yang sangat beragam dan membingungkan. Mereka bertaklid kepada beberapa orang dalam urusan agama Allah. Dan mereka menjadikan pendeta-pendeta dan pemuka agama mereka sebagai ilah-ilah mereka sendiri selain Allah. Pada saat itulah hati merekapun menjadi keras, sehingga mereka tidak mau lagi menerima nasehat. Hati merekapun tidak mau melunak oleh janji dan juga ancaman Allah.

Wa katsiirum minHum faasiquun (“Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”) yakni dalam amal perbuatan mereka. Dengan demikian hati mereka telah menjadi rusak dan amal mereka pun semuanya tidak berarti. Dengan kata lain hati mereka telah rusak dan mengeras dan jadilah watak mereka suka untuk merubah ucapan dari proporsinya. Dan mereka meninggalkan amal perbuatan yang telah diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin untuk menyerupai mereka dalam suatu hal, baik dalam masalah-masalah ushul [pokok] maupun furu’ [cabang].

Dan firman Allah: i’lamuu annallaaHa yuhyil ardla ba’da mautiHaa qad bayyannaa lakumul aayaati la’allakum ta’qiluun (“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran [Kami] supaya kamu memikirkannya.”)
Di dalam ayat tersebut terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala akan melunakkan hati sebelum tadinya membatu, dan akan memberikan petunjuk kepada orang yang berada dalam keadaan bingung, setelah sebelumnya berada dalam kesesatan, membukakan jalan dari berbagai kesulitan setelah sebelumnya berada dalam kesusahan yang mencekam. Sebagaimana Allah telah menghidupkan bumi yang sebelumnya mati dengan air hujan yang tercurah, demikianjuga Allah akan memberikan petunjuk kepada hati-hati yang membatu itu dengan bukti-bukti dan dalil al-Qur’an.

Dia akan memasukkan cahaya ke dalam hati setelah sebelumnya ia berada dalam keadaan terkunci yang tidak pernah dapat dijangkau oleh siapapun. Mahasuci Allah, Rabb Pemberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya setelah ia berada dalam kesesatan, dan akan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya setelah ia berada dalam kesempurnaan petunjuk. Dia lah Rabb yang mengerjakan apa saja yang dikehendaki, Dia Mahabijaksana dan Mahaadil dalam segala perbuatan, Mahalembut, Mahamengetahui, Mahabesar, lagi Mahatinggi.

Bersambung ke bagian 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: