Hadits Arbain ke 11: Memilih yang Diyakini dan Meninggalkan Keraguan

28 Nov

Al-Wafi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 11 (Kesebelas)

Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra. cucu kesayangan Rasulullah saw. berkata, Aku hafal sabda Rasulullah saw., “Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi dan Nasa-i, Tirimidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

URGENSI HADITS

Hadits ini merupakan jawami’ul kalim (ucapan yang singkat dan padat). Sebuah ungkapan yang pendek namun mengandung kaidah yang penting dalam Islam. Dasar tersebut adalah meninggalkan syubhat [keraguan] dan memilih yang halal dan diyakini. Ibnu Hajar al-Haitamy berkata, “Hadits ini merupakan kaidah yang sangat penting dan dasar dari sikap wara’ yang merupakan poros dari ketakwaan, juga penyelamat dari keraguan dan ketidakjelasan yang menghalangi cahaya keyakinan.”

KANDUNGAN HADITS

1. Meninggalkan syubhat. Meninggalkan syubhat dan kometmen terhadap yang halal dalam masalah apapun, ibadah, muamalah, munakahat [pernikahan] dan berbagai permasalahan lainnya, dapat mengarahkan seorang muslim kepada sikap wara’ yang sangat potensial untuk menangkal bisikan setan. Hal ini akan mendatangkan manfaat yang besar baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam hadits ke enam telah disebutkan barangsiapa yang menghindari perkara syubhat, maka agama dan kehormatannya akan terjaga.

Sesuatu yang halal dan jelas tidak akan menimbulkan keraguan dalam hati seorang mukmin, bahkan akan melahirkan ketenangan dan kebahagiaan. Adapun sesuatu yang syubhat, meskipun ketika seseorang melakukannya tampak tidak ada masalah, namun andai kita belah dadanya tentulah akan kita jumpai keraguan dan kegundahan. Ini adalah satu bentuk kerugian dan siksaan mental. Kerugian itu akan semakin besar bilamana seseorang senantiasa melakukan sesuatu yang syubhat dan akhirnya terjerumus ke dalam lembah haram. Ingatlah bahwa orang yang menggembala di sisi pagar, lama-kelamaan akan melanggar pagar tersebut.

2. Berbagai ucapan dan sikap salafus shalih berkenaan dengan sesuatu yang meragukan. Abu Dzar al-Ghifari ra. berkata: “Kesempurnaan ketakwaan adalah meninggalkan beberapa hal yang halal, karena takut hal itu haram.” Abu Abdurrahman al-‘Umry berkata: “Jika seseorang memilih ke-wara’an, niscaya dia akan meninggalkan sesuatu yang diragukan dan mengerjakan sesuatu yang tidak meragukan.”

Fudhail berkata: “Banyak orang mengira bahwa orang yang wara’ itu sangat tegas. Jika aku dihadapkan pada dua perkara, tentu aku akan memilih yang terberat. Karenanya, tinggalkan perkara yang meragukan dan pilihlah perkara yang tidak meragukan.”
Hasan bin Abi Sinan, “Tidak ada yang lebih ringan dari wara’. Jika ada sesuatu yang meragukanmu maka tinggalkanlah.”

Adapun sikap dan perbuatan mereka berkaitan dengan perkara syubhat, tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka ucapkan. Sebagai contoh Yazid bin Zurai’. Ia tidak mengambil sedikitpun warisan dari ayahnya. Karena ayahnya adalah pegawai kerajaan dan ia khawatir jika warisan tersebut tidak halal.
Contoh lain Ibrahim Adham yang tidak mau minum air Zam-Zam, dengan alasan timba yang digunakan mengambil air tersebut milik penguasa, maka dikhawatirkan tidak halal. Dan banyak lagi contoh yang lainnya.

Beberapa kalangan beranggapan bahwa sikap-sikap di atas adalah berlebih-lebihan. Namun umat Islam perlu sekali teladan seperti itu. Agar mereka senantiasa bertumpu pada berbagai hal yang jelas dan halal, serta menghindari perkara-perkara syubhat. Andai contoh-contoh semacam ini tidak ada, tentulah lambat laun umat Islam akan terjerumus ke dalam lembah syubhat dan bahkan mungkin juga haram.

3. Jika keraguan berbenturan dengan keyakinan.
Dalam kondisi seperti ini kita pilih yang yakin, sebagaimana disebutkan dalam kaidah fiqih: “Al yaqiinu laa yuzulu bi syakk” (keyakinan tidak bida dihilangkan dengan keraguan). Sebagai contoh: seseorang berwudlu, lalu ragu-ragu apakah wudlunya batal atau tidak. Maka wudlunya tetap dianggap sah. Kaidah ini juga didasari oleh hadits Nabi saw: “Jika salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu di perutnya, lalu ia ragu-ragu, apakah telah keluar angin atau belum, maka janganlah keluar dari masjid hingga mendengar suara kentut atau mencium baunya.” (HR Muslim)

4. Orang yang meninggalkan syubhat adalah orang yang telah istiqamah dalam melaksanakan yang halal dan meninggalkan semua hal yang haram.
Logikanya, bagaimana seseorang mampu meninggalkan berbagai hal yang syubhat, sementara ia masih bergelimang dengan perkara-perkara yang haram. Orang seperti ini seharusnya membenahi dirinya dengan terlebih dahulu meninggalkan berbagai hal yang haram. Karena itulah ketika Ibnu Umar ra. ditanya oleh penduduk Irak perihal darah nyamuk, ia berkata: “Kalian bertanya kepadaku perihal darah nyamuk?….. sementara kalian telah membunuh Husain.”

5. Jujur adalah kedamaian, sedangkan kebohongan adalah kegundahan.
Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah kegundahan [keraguan]” merupakan isyarat untuk selalu jujur dalam segala hal, termasuk ketika menjawab satu pertanyaan, atau memberi fatwa. Adapun tanda dari kejujuran adalah ketenangan hati, sedangkan tanda kebohongan adalah kegundahan yang menyebabkan hatinya tidak tenang.

6. Hadits ini merupakan isyarat agar kita menetapkan berbagai hukum dan menjalankan semua permasalahan dalam kehidupan atas dasar keyakinan dan bukan keragu-raguan.

7. Sesuatu yang halal, kebenaran, dan kejujuran akan mendapatkan kedamaian dan keridlaan. Sedangkan sesuatu yang haram, kebatilan dan dusta akan melahirkan rasa gundah dan kebencian.

&

Iklan

3 Tanggapan to “Hadits Arbain ke 11: Memilih yang Diyakini dan Meninggalkan Keraguan”

  1. hamba allah 10 Maret 2016 pada 16.44 #

    Jika permasalahannya tentang talak ceritanya suami mentalak istri”apabila kau memukul/menyakiti fisik anak maka jatuhlah talak, dan istri mencubit dagu si anak tpi tidak keras dan anak tersebut tidak sakit, suami tidak mempermasalahkan karna tidak menyakiti seperti yang dimaksud suami dan tidak jatuh talak katanya, tpi istri merasa was was takut dan penuh keragu raguan jatuh atau tidak meski suami meyakinkan bahwa tidak jatuh talak, kadang merasa yakin tidak jatuh,kadang muncul keragu raguan apabila sholat dan berdzikir agak tenang dan yakin tpi kadang muncul keragu raguan bagaimana menurut ustadz mohon solusi nya ustadz

    • untungsugiyarto 10 Maret 2016 pada 22.28 #

      BismillaaHir rahmaanir rahiim.
      Saya hanya menggaris bawahi pada bahasan poin ke 3 dan 6:

      3. Jika keraguan berbenturan dengan keyakinan. Dalam kondisi seperti ini kita pilih yang yakin, sebagaimana disebutkan dalam kaidah fiqih: “Al yaqiinu laa yuzulu bi syakk” (keyakinan tidak bida dihilangkan dengan keraguan). Sebagai contoh: seseorang berwudlu, lalu ragu-ragu apakah wudlunya batal atau tidak. Maka wudlunya tetap dianggap sah. Kaidah ini juga didasari oleh hadits Nabi saw: “Jika salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu di perutnya, lalu ia ragu-ragu, apakah telah keluar angin atau belum, maka janganlah keluar dari masjid hingga mendengar suara kentut atau mencium baunya.” (HR Muslim)

      6: “Hadits ini merupakan isyarat agar kita menetapkan berbagai hukum dan menjalankan semua permasalahan dalam kehidupan atas dasar keyakinan dan bukan keragu-raguan.”

      Maka keraguan yang muncul itu adalah “bisikan syaitan” yang sebaiknya diabaikan saja. Dan yang terpenting adalah penekanan pada suami agar tidak menganggap mudah perkara talak sehingga istri menjadi “tertekan”. Sebab talak itu adalah jurus terakhir yang boleh ditempuh, namun bukan selalu menjadi solusi terbaik. Halal namun dibenci dalam perkara agama. Dan kondisi yang senantiasa islah (baca: rukun/ akur) lebih disukai karena memang rumah tangga dibangun untuk tujuan ibadah dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

      Dalam hal ini istri dibayangi keraguan bahwa talak telah jatuh. Namun hal yang meyakinkan adalah dirinya masih berada dalam ikatan pernikahan yang sah yang tidak bisa dibatalkan dengan keraguan yang muncul tersebut. WallaaHu a’lam.

  2. hamba allah 26 Mei 2016 pada 08.22 #

    Assalamualaikum,,
    Ustadz jika kejadiannya begini,
    Suami mentalak istri “apabila kau memukul/menyakiti fisik anak maka jatuhlah talak, lalu istri lupa mencubit punggung anak dan anak kesakitan baru istri teringat dengan talak,dan karena istri takut jatuh talak maka sudah melakukan rujuk dengan dua orang saksi, lalu setelah rujuk istri pernah mencubit dagu anak tapi tidak keras dan anak tidak merasa sakit,pernah memijit jari kaki anak ketika memotong kuku karena geram si anak tidak minta potong sampai kukunya panjang dan kotor,, pertanyaannya
    1-jatuhkah talak jika istri lupa dengan talak yang diberikan suami? Karena ada yang mengatakan jatuh talak bersyarat ketika syarat terjadi ada yang mengatakan tidak jatuh jika lupa
    2-jika sudah dirujuk apakah sah jatuh dan terhitung talak 1?
    3-seandainya jika kejadian yang mencubit punggung anak tidak jatuh,apakah kejadian yang setelah rujuk menyebabkan baru jatuh talak?
    Tolong di jawab ustadz
    Istri merasa was was dan ragu ragu jatuh atau tidak meski suami meyakinkan tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: