Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Waaqi’ah (7)

2 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat)
Surah Madaniyyah; surah ke 56: 96 ayat

tulisan arab alquran surat al waaqi'ah ayat 41-56“41. dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? 42. dalam (siksaan) angin yang Amat panas, dan air panas yang mendidih, 43. dan dalam naungan asap yang hitam. 44. tidak sejuk dan tidak menyenangkan. 45. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan. 46. dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar. 47. dan mereka selalu mengatakan: “Apakah bila Kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, Apakah Sesungguhnya Kami akan benar-benar dibangkitkan kembali? 48. Apakah bapak-bapak Kami yang terdahulu (juga)?” 49. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, 50. benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal. 51. kemudian Sesungguhnya kamu Hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, 52. benar-benar akan memakan pohon zaqqum, 53. dan akan memenuhi perutmu dengannya. 54. sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. 55. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. 56. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan”. (al-Waaqi’ah: 41-56)

Setelah menceritakan tentang keadaan golongan kanan, Allah swt. lanjutkan dengan menjelaskan keadaan golongan kiri, dengan firman-Nya: wa ash-haabusy syimaali maa ash-haabusy syimaal (“dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?”) maksudnya siapakah orang-orang yang disebut sebagai golongan kiri itu? Lebih lanjut Dia menafsirkan hal itu dengan firman-Nya: fii samuumin (“Dalam angin yang sangat panas”) maksudnya udara yang sangat panas membara. Wa hamiim (“dan air yang mendidih”) yakni air yang sangat panas. Wa dhillim miy yahmuum (“dan dalam naungan asap yang hitam”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni berada di bawah naungan asap.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Abu Shalih, Qatadah, as-Suddi, dan lain-lain.

Oleh karena itu disini Allah berfirman: wa dhillim miy yahmuum (“Dan dalam naungan asap yang hitam”) yakni asap hitam. Laa baaridiw walaa kariim (“Tidak sejuk dan tidak menyenangkan”) maksudnya bukan tiupan yang baik dan bukan pula pemandangan yang indah. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hasan dan Qatadah: wa laa kariim (“dan tidak menyenangkan”) yakni bukan suatu pemandangan yang menyenangkan. adh-Dhahhak mengatakan: “Setiap minuman yang tidak tawar dan tidak pula menyegarkan.”

Setelah itu Allah menyebutkan kelayakan mereka mendapatkan hal tersebut, sehingga Dia berfirman: innaHum kaanuu qabla dzaalika mut-rafiina (“Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup dalam mewah-mewh”) maksudnya dulu ketika mereka di dunia, mereka senantiasa bersenang-senang dan mencari kelezatan diri sendiri dengan tidak mempedulikan apa yang dibawa oleh para Rasul.
Wa kaanuu yushirruuna (“dan mereka terus menerus”) yakni mereka senantiasa tidak berniat sedikitpun untuk bertaubat. ‘alal hintsil ‘adhiiim (“Mengerjakan dosa yang besar”) yakni kufur kepada Allah, menjadikan berhala dan para sekutu sebagai ilah selain Allah.

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yang dimaksud dengan al hintsil ‘adhiim adalah kemusyrikan.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain. Sedangkan asy-Sya’bi mengemukakan:”Hal itu berarti sumpah palsu.”

Wa kaanuu yaquuluuna a idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban wa ‘idhaaman a innaa la mab’uutsuuna. A wa aabaa-unal awwaluun (“Dan mereka selalu mengatakan: ‘Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? apakah bapak-bapak kami yang terdahulu [dibangkitkan pula]?’”) maksudnya, mereka mengucapkan itu dengan maksud untuk mendustakan dan menggap mustahil akan kejadiannya.

Allah berfirman: qul innal awwaliina wal aakhiriina. Lamajmuu’uuna ilaa miiqaati yaumim ma’luum (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian. Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu dan orang-orang yang kemudian. Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.’”) maksudnya, beritahukanlah kepada mereka hai Muhammad, bahwa orang-orang yang hidup pertama dan yang hidup kemudian dari seluruh anak cucu Adam akan dikumpulkan di pelataran hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang tertinggal.

Lamajmuu’uuna ilaa miiqaati yaumim ma’luum (“Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu dan orang-orang yang kemudian. Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.’”) maksudnya hari itu sudah ditentukan dan dipastikan, tidak akan maju atau mundur, dan tidak akan bertambah atau berkurang.

Tsumma innakum ayyuHadl-dlaalluunal mukadzdzibuuna. La akiluuna min syajaratim min jaqquum. Fa maa li-uuna minHal buthuun (“Kemudian sungguh kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya.”) yakni mereka semua akan ditangkap dan dilemparkan sampai mereka makan pohon zaqqum sehingga perut mereka dipenuhi dengan pohon tersebut.

Fa syaaribuuna ‘alaiHi minal hamiim. Fasyaaribuuna syurbal Hiim (“Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.”) maksudnya kata alHiim berarti unta yang sangat kehausan. Bentuk tunggal [mufrad]nya adalah aHiimun, sedangkan bentuk mu’annatsnya adalah Haimaa-un.

Dari ‘Ikrimah bahwasannya ia pernah berkata: “AlHiim berarti unta sakit yang minum air tetapi tidak pernah merasa kenyang.” Sedangkan as-Suddi mengemukakan: “AlHiim berarti penyakit yang menyerang unta, sehingga ia tidak pernah merasa kenyang sampai mati. Demikian juga dengan penghuni neraka jahanam, mereka tidak akan pernah merasa kenyang meminum air mendidih yang sangat panas untuk selamanya.”

Haadzaa nuzuluHum yaumaddiin (“Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.”) yang demikian itu telah diterangkan, yakni jamuan yang dihidangkan kepada mereka di sisi Rabb mereka pada hari mereka dihisab kelak.

Bersambung ke bagian 8

Satu Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Waaqi’ah (7)”

  1. Ruddy Darusman 8 Juli 2018 pada 23.22 #

    Aku mencari tafsir surat al waqiah yang menerangkan bahwa apabila sesorang yang telah diakui ke solehan nya di dunia oleh Alloh SWT.maka dia akan diperlihatkan pada sebuah tangga,dimana tangga itu yang pernah dipakai oleh rossululloh untuk naik ke sidrtatul muntaha kwtika beliau isra mi’raj.mohon penjelasannya ayat yang mana dari surat al waqiah yang menerangkan hal itu.terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: