Arsip | 15.51

Hadist Arbain ke 12: Menyibukkan Diri dengan Sesuatu yang Bermanfaat

6 Des

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 12 (Keduabelas)

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Di antara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya)

URGENSI HADITS

Abu Hurairah ra. Shahabat yang selalu menyertai beliau dan banyak mengadopsi perilaku beliau berkata: “Rasulullah menjelaskan hadits tersebut kepada kami dengan kalimat yang singkat dan penuh manfaat, di dalamnya terkumpul kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.”

Para ulama sepakat bahwa hadits ini merupakan jawami’ul kalim yang menjadi keistimewaan Rasulullah saw. yang tidak dimiliki nabi-nabi sebelumnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hadits ini merupakan separuh dari agama, karena agama pada dasarnya adalah melakukan sesuatu [al fi’lu] dan menghindari sesuatu [at-tark], dan hadits ini merupakan dasar untuk menghindari suatu perbuatan, dengan demikian separuh dari agama.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menghimpun semua ajaran agama. Karena secara tekstual menyebutkan tentang at-tarku dan secara kontekstual mengisyaratkan al-fi’lu. Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini dasar yang sangat penting berkaitan masalah akhlak.”
Abu Dawud berkata, “Siklus hadits-hadits ada pada empat hadits… salah satunya adalah hadits ini.” (syarah Ibnu Daqiq al-‘Id terhadap al-Arba’in)

KANDUNGAN HADITS

1. Membangun masyarakat yang mulia
Islam menghendaki terciptanya kedamaian dalam masyarakat. Tidak ada pertentangan dan permusuhan. Juga menghendaki kedamaian bagi individu, hidup di dunia dengan penuh kebahagiaan, disayangi dan tidak disakiti, hingga ketika meninggal dunia kelak, ia mendapatkan kemenangan dan keberuntungan.

Yang biasanya menimbulkan perpecahan dan mengacaukan masyarakat adalah campur tangan terhadap urusan orang lain, terutama masalah yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Karena itulah salah satu tanda muslim sejati dan tandan kebenaran iman seseorang adalah sikap tidak campur tangan terhadap urusan orang lain.

2. Menyibukkan diri dengan urusan yang tidak mendatangkan manfaat adalah kesia-siaan dan tanda lemahnya iman.
Dalam kehidupannya, manusia senantiasa dikelilingi oleh manusia lain. Berbagai kesibukan dan hubungan satu sama lain sangat banyak dan beragam. Maka seorang muslim bertanggung jawab penuh dalam setiap langkah dan perbuatannya, setiap waktu yang dipergunakannya, dan setiap kata yang diucapkannya. Jika seseorang kemudian disibukkan oleh hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat, hingga ia meninggalkan kewajiban yang seharusnya ia lakukan, melupakan amanat yang sepatutnya ia emban, maka di dunia akan mendapat cela dan di akhirat akan mendapat siksa. Hal ini adalah tanda lemahnya iman yang ada dalam dirinya, bahkan Islamnya hampir mendekati orang-orang yang mengaku Islam, namun hanya sebatas di bibir dan lidah.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa salah seorang sahabat meninggal dunia, lalu seseorang berkata, “Berilah kabar gembira dengan surga.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Apakah kalian tidak tahu… mungkin ia pernah mengucapkan perkataan yang tidak mendatangkan manfaat atau bakhil terhadap sesuatu [harta] yang sebenarnya tidak akan berkurang.” (HR Tirmidzi)

3. Menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat merupakan jalan keselamatan.
Jika seorang muslim menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya, niscaya ia akan menyibukkan diri dengan berbagai hal yang mendatangkan manfaat, bagi dunia maupun akhiratnya, dan akan menghindari segala hal yang tidak mendatangkan manfaat.

Perlu diketahui bahwa perkara yang bermanfaat lebih sedikit dibanding dengan perkara yang tidak bermanfaat. Karenanya dengan membatasi diri pada perkara yang bermanfaat, niscaya dia akan terhindar dari segala keburukan dan dosa, dan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratnya. Ini adalah tanda kesempurnaan Islam dan iman seseorang. Ia pun akan mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhannya.

Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian baik [sempurna] Islamnya, maka setiap kebaikan yang dikerjakan akan dicatat [baginya] sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap keburukan yang dilakukan akan dicatat seperti apa yang ia lakukan [tidak dilipatgandakan].” (HR Bukhari)

Imam Malik menyebutkan bahwa Luqman pernah ditanya: “Apa yang menjadikan ada sampai pada derajat seperti ini?” ia menjawab: “Kejujuran, menepati janji, dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.”

4. Sibukkan diri anda dengan mengingat Allah swt. niscaya anda akan menjauhi perkara yang tidak bermanfaat.
Seorang muslim yang beribadah kepada Allah swt. seolah-olah melihat-Nya, merasakan kedekatan Allah swt. niscaya dia akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang mendatangkan manfaat. Dengan demikian, ia akan menghindari perkara yang tidak mendatangkan manfaat. Jika ia mampu melakukan ini maka yang demikian itu adalah bukti kebenaran imannya kepada Allah. Namun jika ia tetap melakukan berbagai hal yang tidak bermanfaat, maka hal itu pertanda bahwa ia tidak mampu menghadirkan rasa dekat kepada Allah swt. dan bukti bahwa keimanannya belum benar.
Hasan al-Bashri berkata: “Tanda, bahwa Allah berpaling dari hamba-Nya adalah jika seorang hamba menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat.”

5. Perkara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.
Perkara yang mendatangkan manfaat bagi manusia adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan kebutuhan manusia paling mendasar, seperti: sandang, pangan dan papan. Juga perkara-perkara yang berhubungan dengan keselamatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Di luar masalah-masalah ini, maka tergolong perkara yang tidak mendatangkan manfaat.

Jad bisa disimpulkan bahwa perkara yang tidak mendatangkan manfaat adalah berbagai keinginan yang melebihi kebutuhan dasar. Seperti menumpuk harta dan kenikmatan, gila kedudukan dan kehormatan. Karenanya tanda kebenaran iman seorang muslim adalah tidak melakukan hal-hal tersebut.

Termasuk perkara yang tidak bermanfaat adalah sesuatu yang pada dasarnya dibolehkan , namun tidak membawa manfaat berarti bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Contoh: permainan, gurauan dan berbagai masalah lainnya yang mengurangi kewibawaan dan tidak membawa manfaat. Maka setiap muslim lebih baik meninggalkannya, karena perkara-perkara tersebut dapat menyia-nyiakan waktu dan hal ini kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Banyak bicara, terutama perkataan yang tidak mendatangkan manfaat. Bahkan banyak bicara, cenderung membawa kepada perkataan yang haram. Karena itu seorang muslim seharusnya tidak banyak mengumbar perkataan atau bahkan dengan mudah menerima dan menuturkan suatu yang bersifat kabar burung.

Tirmdizi meriwayatkan dari Muadz ra. bahwa Rasulullah saw. bersabada ketika ditanya: “Apakah perkataan kita akan dimintai pertanggungjawabannya?” Beliau menjawab: “Hus. Tidaklah manusia ditenggelamkan ke dalam neraka kecuali akibat perkataan mereka.” Rasulullah saw. bersabda: “Perkataan manusia adalah sebuah dosa [baginya] dan bukan pahala, kecuali amar ma’ruf nahi munkar dan dzikrullah [mengingat Allah].”

6. Seorang muslim seharusnya menyibukkan diri dengan berbagai masalah yang bernilai dan bukan disibukkan dengan masalah-masalah yang tidak berarti.

7. Seorang muslim hendaknya senantiasa mensucikan jiwanya dengan cara menjauhi semua masalah yang tidak bermanfaat.

&

Hadits Arbain ke 37: Keadilan dan Karunia Allah

6 Des

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 37 (tiga puluh tujuh)Ibnu ‘Abbas ra. berkata, Rasulullah bersabda meriwayatkan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencatat amal baik dan buruk. Kemudian Dia menjelaskan, “Barangsiapa yang ingin melakukan kebaikan tetapi belum melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika ia benar-benar melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan, bahkan hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih.
Sedangkan orang yang ingin melakukan keburukan tapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh. Jika ia melakukan keburukan itu, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR Bukhari-Muslim)

URGENSI HADITS

Ini adalah hadits qudsi yang memuat kabar gembira dan harapan yang besar terhadap karunia dan rahmat Allah yang Mahaluas. Hadits ini memberikan harapan dan dorongan untuk bekerja keras dengan terus melakukan muraqabah kepada Allah swt.

KANDUNGAN HADITS

1. Perbuatan yang baik.
Semua kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat dari kebaikan itu. Karena ia tidak hanya sekedar berkeinginan, namun merefleksikan apa yang menjadi keinginannya dalam bentuk konkrit. Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa melakukan amal baik, maka baginya [pahala] sepuluh kali lipat amalnya…” (al-An’am: 160)

Namun demikian Allah masih akan melipatgandakan lebih dari sepuluh kali lipat, akan tetapi semua itu tergantung dengan kehendak Allah swt. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-Nya: “Perumpamaan [nafkah yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan [ganjaran] bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas [kurnia-Nya] lagi Mahamengetahui.” ) (al-Baqarah: 261)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Seorang laki-laki datang dengan membawa unta yang terikat, lalu berkata: “Ya Rasulallah, unta ini [saya berikan] untuk keperluan fii sabilillah.” Rasulullah saw. menjawab, “Kamu akan menadapatkan seratus unta pada hari kiamat kelak.” (HR Muslim)
Dilipatgandakannya suatu kebaikan lebih dari sepuluh tentu dipengaruhi oleh kualitas keimanan, keikhlasan, dan kesesuaian amal tersebut.

2. Perbuatan buruk
Semua perbuatan buruk yang dilakukan seseorang, akan ditulis apa adanya [satu keburukan] dan tidak dilipatgandakan. Allah swt. berfirman: “Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya [dirugikan].” (al-An’am: 160)
Meskipun demikian keburukan tersebut bisa menjadi lebih berat dosanya, sesuai dengan tempat, waktu dan pelakunya.

a. Yang berkaitan dengan waktu
Yaitu pada bulan-bulan haram [yang disucikan]. Maksudnya jika seseorang melakukan suatu dosa di waktu tersebut, maka dosanya lebih besar daripada jika ia melakukannya di luar waktu-waktu tersebut. Allah berfirman,
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” (at-Taubah: 36)

Dalam menafsirkan hadits ini Qatadah berkata: “Ketahuilah sesungguhnya kedhaliman di bulan haram adalah sebesar-besar kesalahan dan dosa, jika dibandingkan dengan waktu lain. Meskipun di dalam keadaan apapun kedhaliman tidak dilipatgandakan dosanya, namun Allah melipatgandakan terhadap apa-apa yang dikehendaki.”

b. Yang berkaitan dengan tempat
Tempat tersebut adalah tanah suci. Jika seseorang melakukan suatu dosa di tempat tersebut, maka dosanya lebih berat daripada jika dilakukan di tempat lain. Hal ini dikarenakan tanah haram adalah tempat yang mulia. Allah swt. berfirman:
“[Musim] haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (al-Baqarah: 197)

Ibnu Umar berkata: “Perbuatan fasik adalah melakukan maksiat di tanah suci.”
Allah juga berfirman: “Dan barangsiapa bermaksud melakukan kejahatan secara dhalim di dalamnya [Masjidil Haram], niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (al-Hajj: 25)

Karena itulah banyak shahabat dan Salafush shalih takut tinggal di tanah haram. Mereka khawatir mengerjakan dosa di tempat suci itu. Di antara mereka: Ibnu Abbas ra., Abdullah bin Amru bin ‘Ash ra., Umar bin Abdul ‘Aziz.
Umar berkata: “Saya melakukan tujuh puluh kali kesalahan di luar Makkah, itu lebih baik bagi saya daripada melakukan satu kesalahan di Makkah.”
Mujahid berkata: “Kesalahan [dosa] yang dilakukan di Makkah akan dilipatgandakan seperti melipatgandakan kebaikan.”

c. Yang berkaitan dengan perilaku buruk.
Allah akan melipatgandakan balasan dari keburukan yang dilakukan oleh orang-orang tingkat ma’rifat dan kedekatannya dengan Allah yang sangat tinggi. Firman Allah:

“Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (al-Ahzab: 30-31)

3. Berazam untuk melakukan kebaikan.
Yang dimaksud dengan azam disini adalah keinginan dan berusaha untuk merealisasikan. Bukan sekedar lintasan fikiran yang tidak diiringi oleh keinginan yang kuat untuk melaksanakan.

Barangsiapa yang mempunyai keinginan seperti itu, untuk melakukan kebaikan, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan secara utuh. Karena keinginan yang kuat untuk melakukan suatu kebaikan merupakan penyebab atau permulaan dari kebaikan itu sendiri. Dan penyebab kebaikan pada dasarnya adalah kebaikan juga.

Abu Hurairah ra. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, Allah swt. berfirman: “Jika hamba-Ku berazam untuk melakukan kebaikan, maka Aku tulis azam itu sebagai suatu kebaikan.” (HR Muslim)

Khuraim bin Fatik ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang ingin melakukan kebaikan, dan tidak melakukannya [karena suatu hal yang lain]. Tapi Allah mengetahui bahwa keinginan tersebut benar-benar dari hatinya dan ia juga berusaha untuk melaksanakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan.”

Abu Darda’ berkata: “Barangsiapa yang ketika hendak tidur berniat untuk melakukan qiyamul lail, akan tetapi ia tidak terbangun hingga subuh, maka baginya pahala dari apa yang diniatkannya.”
Sa’id binn Musayib berkata: “Barangsiapa yang berniat melakukan shalat, puasa, haji atau jihad, akan tetapi ia terhalang oleh satu dan lain hal, maka apa yang ia niatkan akan sempai kepada Allah.”

4. Berniat melakukan dosa
Jika seseorang berniat melakukan dosa, namun tidak melakukannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai suatu kebaikan penuh. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Jika ia meninggalkan karena-Ku.”(HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, membatalkan niat untuk berbuat dosa terikat dengan unsur pemicunya; hanya karena Allah. Dalam kondisi seperti inilah orang yang membatalkan niatnya untuk melakukan dosa akan mendapatkan pahala. Karena pada dasarnya, dengan membatalkan niatnya untuk melakukan perbuatan dosa karena Allah, berarti ia telah melakukan amal shalih, yaitu keridlaan Allah swt.

Sedangkan orang yang membatalkan niatnya untuk melakukan suatu dosa karena dipicu oleh perasaan takut terhadap manusia, atau agar diperhatikan manusia, maka tidak akan dicatat sebagai kebaikan. Bahkan ada yang berpendapat hal tersebut justru akan dicatat sebagai dosa. Karena ia telah mendahulukan rasa takut terhadap manusia daripada rasa takut kepada Allah, dan ini adalah haram. Demikianlah halnya dengan riya’.

Qadli Iyadh mendukung pendapat yang mengatakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas ra. terikat dengan hadits Abu Hurairah ra.
Ibnu Hajar berkata: “Bisa jadi dipandang sebagai sebuah kebaikan orang yang meninggalkan keburukan tanpa menghadirkan niat. Meskipun tingkatan kebaikannya lebih rendah dari meninggalkan keburukan dengan niat karena Allah. Sebagaimana disebutkan di atas, meninggalkan kemaksiatan adalah mencegah keburukan, dan mencegah keburukan adalah kebaikan. Bisa jadi orang yang berniat bermaksiat lalu membatalkannya, maka ditulis sebagai satu kebaikan saja. jika ia meninggalkan karena takut kepada Allah, maka dituliskannya sebagai kebaikan yang berlipat ganda.”

Al-Khathabi berkata: “Dituliskannya kebaikan atas orang yang meninggalkan keburukan kecuali jika ia mampu melakukannya. Karena manusia tidak dianggap meninggalkan keburukan kecuali jika dia mampu melakukannya. Termasuk dalam kategori yang tidak bisa melakukan adalah yang keinginannya terhalangi oleh sebuah penghalang, seperti seorang lelaki yang datang kepada salah seorang perempuan untuk zina, namun mendapatkan pintu terkunci dan tidak mampu membukanya.”

5. Karunia yang besar.
Dalam riwayat Muslim yang lain, terdapat tambahan, “Atau Allah akan menghapusnya, dan tidaklah seseorang membinasakan dirinya di hadapan Allah, melainkan ia akan binasa.” Ini menunjukkan bahwa karunia Allah sangat besar, karena Allah tidak menghancurkan seseorang kecuali orang itu sendiri yang membawa dirinya pada kehancuran, melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan, berani melakukan keburukan, dan berpaling dari kebaikan. Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Celakalah orang yang kesendiriannya mengalahkan kebersamaannya dengan orang lain.”

6. Malaikat mengetahui apa yang diniatkan manusia
Dalam mengetahui keinginan manusia tersebut kemungkinan melalui ilham, mungkin juga karena malaikat memang bisa mengetahui isi hati. Ada juga yang mengatakan bahwa malaikat mengetahui melalui bau yang dicium, karena keinginan melakukan suatu dosa mengeluarkan bau busuk, sedangkan keinginan untuk melakukan suatu kebaikan akan berbau wangi.

7. Keutamaan puasa.
Puasa mempunyai nilai lebih, jika dibanding dengan ibadah-ibadah lainnya. Karena berlipat gandannya pahala puasa tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Dan Rasulullah bersabda: “Semua amalan Ibnu Adam untuknya sendiri, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku lah yang akan memberinya pahala.” Selain itu, puasa merupakan tingkatan kesabaran yang paling mulia. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (az-Zumar: 10)

8. Sesungguhnya rahmat Allah terhadap hamba-Nya sangatlah luas, pengampunan-Nya mencakup semua dosa, dan pemberian-Nya tidak ada habisnya.

9. Allah tidak akan menghitung berfikir untuk melakukan maksiat sebagai suatu dosa kecuali jika telah direfleksikan dalam bentuk konkret.

10. Seorang muslim hendaknya senantiasa berniat untuk melakukan kebaikan. Dengan niat tersebut semoga akan tercatat sebagai pahala kebaikan. Di samping itu, bertekad untuk melakukan amalan kebaikan jika kondisi memungkinkan.

11. Ikhlas dalam ketaatan dan dalam rangka meninggalkan maksiat adalah kunci untuk mendapatkan pahala. Semakin tinggi keikhlasan seseorang, maka semakin bertambah pula kadar pahala yang akan didapatkan.

&

Hadits Arbain ke 30: Rambu-Rambu Allah

6 Des

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 30 (tiga puluh)Abu Tsa’labah al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka janganlah sampai diabaikan. Dia telah meletakkan batasan-batasan, maka jangan sampai diterjang. Dia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan dilanggar. Dia juga telah mendiamkan beberapa hal, karena sayang kepada kalian dan bukan karena lupa, maka jangan sampai kalian ributkan.”
(Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan yang lain)

URGENSI HADITS

Hadits ini termasuk jawami’ul kalim yang menjadi keistimewaan Rasulullah saw. Ungkapan ini singkat, namun penuh makna. Sebagian ulama berkata: “Selain hadits ini tidak ada haditsn yang menghimpun masalah ushuliyah dan furu’iyah.” Karena Rasulullah saw. membagi syariat Allah menjadi empat jenis: faraidh [kewajiban], maharim [yang diharamkan], hudud [ketentuan hukum], dan maskut anhu [hal-hal yang tidak diperbincangkan].

Ibnu Sam’ani berkata: “Orang yang menamalkan hadits ini, layak mendapatkan pahala dan terhindar dari siksa. Karena orang yang melakukan hal-hal yang wajib, menjauhi larangan, tidak melanggar ketentuan-ketentuan yangn wajib, menjauhi larangan, tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang digariskan, dan tidak mempersoalkan berbagai perkara yang didiamkan, maka ia telah menghimpujn semua keutamaan dan memenuhi hak-hak agama. Karena syaria tidak keluar dari hal-hal yang disebutkan dalam hadits ini.”

KANDUNGAN HADITS

1. Keharusan melakukan hal-hal yang fardlu dan wajib
Fardlu adalah sesuatu yang diperintahkan secara tegas oleh Allah kepada hamba-Nya, seperti: shalat, zakat, puasa dan haji.
Madzab Syafi’i berpendapat bahwa setiap yang diwajibkan oleh syara’, baik melalui al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau dalil syar’i yang lain, maka disebut fardlu. Jadi pengertian fardlu sama dengan wajib, kecuali dalam masalah haji. Dalam haji, fardlu adalah amalan yang tidak bisa diganti dengan dam, seperti: thawaf ifadhah. Sedangkan wajib adalah amalan yang bisa diganti dengan dam, seperti thawaf wada’.

Madzab Hanafi berpendapat, bahwa fardlu adalah yang diperintahkan melalui dalil yang qath’i [pasti], seperti: shalat dan zakat. Sedangkan wajib adalah yang diperintahkan melalui dalil dhanni (tidak pasti, misalnya dengan qiyas atau khawab wahid [bukan mutawathir]) seperti zakat fitrah.

Fardlu dibagi menjadi dua:

a. Fardlu ‘ain, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada setiap individu. Seperti shalat wajib, zakat dan puasa.
b. Fardlu kifayah, yaitu kewajiban yang apabila adalah salah satu atau sebagian orang yang melakukannya, maka semua orang Islam terbebas dari dosa. Namun jika tidak ada orang yang melakukannya, maka semua orang Islam mendapatkan dosa, seperti: shalat jenazah, menjawab salam, amar ma’ruf nahi munkar.

2. Tidak melampaui batasan-batasan yang telah ditentukan Allah
Batasan-batasan tersebut adalah hukum-hukum yang dimaksud untuk mencegah dari perbuatan yang dilarang. Sebagai contoh: hukuman zina, hukuman mencuri, hukuman minum minuman keras.

Ketika Ibnu Zaid berusaha meminta keringanan hukuman bagi wanita dair Bani Makhzumiyah yang dijatuhi kukuman potong tangan, Rasulullah saw. menjawab: “Apakah kamu meminta keringan hukuman yang telah ditentukan oleh Allah?”
Jadi ketentuan hukuman-hukuman ini harus dilaksanakan apa adanya, tidak boleh ditambah atau dikurangi.

Adapun penambahan hukuman terhadap orang yang minum minuman keras, dari 40 cambukan ke 80 cambukan, adalah hal yang bisa diterima, karena jumlah peminum minuman keras pada zaman Umar bin Khaththab meningkat, maka tambahan tersebut dapat membuat jera yang lain. Dengan demikian tambahan tersebut adalah ijtihad dari Umar ra. sedangkan kita diperintahkan Rasulullah untuk mencontoh Umar bin Khaththab ra, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Contohlah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.” Juga dalam hadits beliau yang dalam bentuk yang lebih umum. “Berpegang teguhlah terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-rasyidin.

Keputusan Umar juga telah disepakati oleh para shahabat, terlebih setelah Ali ra. berkata: “Wahai Amirul Mukminin, barangsiapa yang minum minuman keras maka ia akan berkata tidak karuan maka ia telah menuduh orang lain tanpa bukti, sedangkan hukuman bagi orang yang menuduh orang lain adalah delapan puluh kali… Allah befirman, “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zina] dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka [yang menuduh itu] delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selamanya. Dan mereka itulah oran-orang yang fasik.” (an-Nurr: 4)
Ali ra. juga berkata: “40 atau 80, keduanya adalah sunnah.”

3. Larangan mendekati berbagai hal yang diharamkan.
Yaitu hal-hal yang secara jelas telah diharamkan di dalam al-Qur’an dan hadits, seperti: kesaksian palsu, makan harta anak yatim, dan riba. Allah swt. berfirman: “Katakanlah: ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.” (al-An’am: 151)
Rasulullah saw. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah haram.”
Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram bagi kalian.”
Hal-hal yang diharamkan tidaklah banyak, dan semuanya mengandung mudharat. Selain hal-hal yang disebutkan keharamannya, maka masuk dalam kategori halal.
Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang telah Allah halalkan bagi kamu.” (al-Maa-idah: 87)

4. Rahmat Allah kepada hamba-Nya
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa apa-apa yang didiamkan oleh Allah swt. atau tidak ditegaskan halal haramnya, adalah rahmat Allah kepada hamba-Nya. hal-hal semacam ini boleh dilakukan atau ditinggalkan.
Karena diamnya Allah swt. bukanlah karena kesalahan atau kelalaian, Mahasuci Allah dari semua itu. Allah berfirman: “Dan tidaklah Rabb-mu lupa.” (Maryam: 64)
“Rabb-mu tidak akan salah dan tidak [pula] lupa.” (Thaha: 52)

5. Tidak boleh banyak bertanya
Larangan ini mungkin khusus pada zaman Nabi Muhammad saw. karena dengan banyak pertanyaan terhadap sesuatu yang belum disebut, dikhawatirkan menjadi penyebab turunnya satu hukum yang justru akaan memberatkan.
Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Nabimu] hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.” (al-Maa-idah: 101)

Namun bisa juga larangan itu masih berlaku hingga sekarang, terutama pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya tidak mendatangkan kemaslahatan. Rasulullah saw. bersabda: “Cukuplah dengan apa yang aku jelaskan. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan berselisih dengan para nabinya.”

Dalam sabdanya yang lain, “Celakalah orang-orang yang suka membahas perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya.”
Larangan itu juga terhadap usaha untuk mendalami satu masalah hingga tahab berlebih-lebihan, sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Mas’ud ra. “Janganlah menanyakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Janganlah mendalami sesuatu secara berlebihan. Cukuplah dengan apa yang dipahami oleh para shahabat ra…”

Para shahabat tidak banyak bertanya kepada Rasulullah saw. Ada keheranan pada diri shahabat ra. ketika sekelompok orang badui datang kepada Rasulullah saw. dan mendengarkan dengan seksama jawaban yang diberikan oleh beliau.

Masuk dalam kategori mempermasalahkan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat adalah membahas dan mempermasalahkan perkara-perkara ghaib. Padahal kita hanya diperintahkan untuk meyakininya tanpa dijelaskan bagaimana bentuknya. Karena, membahas masalah ghaib sangat mungkin akan melahirkan keraguan atau bahkan mendustakan.

Ibnu Ishak berkata: “Tidak boleh memikirkan sang pencipta dan juga ciptaan-Nya, kecuali pernah didengar [dari al-Qur’an atau hadits] sebagai contoh ayat: “Dan tiada suatupun melainkan ia bertasbih dengan memuji-Nya.” (al-Israa’: 44)
Maka tidak boleh memikirkan bagaimana benda-benda padat bertasbih? Kita hanya diperintahkan mempercayai bahwa semua benda yang ada di alam semesta ini bertasbih, bagaimana cara bertasbihnya? wallaaHu a’lam.

Rasulullah saw. bersabda: “Setan datang kepada salah seorang di antara kamu lalu bertanya: ‘siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yangmenciptakan itu?’ hingga pada satu pertanyaan: ‘Siapakah yang menciptakan Tuhan kamu?’ jika sampai pada pertanyaan itu maka berlindunglah kepada Allah dan hentikanlah.” (HR Bukhari)

Beliau juga bersabda: “Manusia tidak henti-hentinya bertanya, sehingga ia akan bertanya, ‘Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ barangsiapa yang bertemu dengan pertanyaan ini maka ucapkanlah: ‘Saya beriman kepada Allah.’” (HR Muslim)

6. Hadits ini menyuruh kita untuk mematuhi semua kewajiban, komitmen dengan rambu-rambu yang ada, menjauhi larangan dan tidak mempermasalahkan berbagai hal yang didiamkan.

&

Hubungan antara Islam dan Pendidikan

6 Des

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

1. Pendidikan Islam: Kewajiban Umat Islam
Islam merupakan syariat Allah bagi manusia yang dengan bekal syariat itu manusia beribadah. Agar manusia mampu memikul dan merealisasikan amanat besar itu, syariat itu membutuhkan pengamalan, pengembangan, dan pembinaan. Pengembangan dan pembinaan itulah yang dimaksud dengan pendidikan Islam.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

Tampaknya tidak ada perealisasian syariat Islam kecuali melalui penempaan diri, generasi muda, dan masyarakat dengan landasan iman dan tunduk kepada Allah. Untuk itu pendidikan Islam merupakan amanat yang harus dikenalkan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya, terutama dari orang tua atau pendidik kepada anak-anak dan murid-muridnya. Dan kecelakaan yang akan menimpa orang yang mengkhianati amanat itu.

Pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah. Artinya manusia tidak merasa keberatan atas ketetapan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana digambarkan Allah dalam firman-Nya ini:
“Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’: 65)

Dengan demikian, tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia dari keburukan dan kerugian kecuali keimanan kepada Allah dan hari akhir, beramal shalih, dan saling berpesan menetapi kesabaran dalam mewujudkan kebenaran serta memerangi kebathilan. Allah swt. telah berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi ketaatan.” (al-‘Ashr: 1-3)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa keselamatan manusia dari kerugian dan adzab Allah dapat tercapai melalui tiga bentuk pendidikan berikut:
– pertama: pendidikan individu yang membawa manusia pada keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah swt. serta berimaan kepada yang ghaib;
– kedua, pendidikan diri yang membawa manusia pada amal shalih dalam menjalani hidupnya sehari-hari; dan
– ketiga: pendidikan masyarakat yang membawa manusia pada sikap saling pesan dalam kebenaran dan saling memberi kekuatan ketika menghadapi kesulitan yang pada intinya, semuanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah.

2. Pendidikan Islam: Tuntutan Duniawi dan Ukhrawi
Pada hakekatnya, berbagai bencana yang menimpa masyarakat Islam, kedhaliman manusia, dan dominasi negara maju merupakan dampak negatif dari sistem pendidikan manusia yang hingga saat ini masih dianggap acuan.

Islam adalah manhaj Rabbani yang sempurna, tidak membunuh fitrah manusia, dan diturunkan untuk membentuk pribadi yang sempurna dalam diri manusia. Artinya pendidikan Islam dapat membentuk pribadi yang mampu mewujudkan keadilan ilahiah dalam komunitas manusia serta mampu mendayagunakan potensi alam dengan pamakaian yang adil. Dengan demikian, tidak ada ketundukan pada sistem pendidikan di luar Islam apalagi jika sudah menyaksikan kegagalan pendidikan modern dan filsafat barat dalam menyelamatkan umat manusia dari kegelapan dan kedhaliman abad pertengahan. Tragisnya, kondisi seperti ini memburuk ke arah kehancuran, kesia-siaan, dan pendangkalan kemanusiaan.

Jika kita membandingkan dua karakter pendidikan tersebut, ternyata pendidikan Islam-lah yang dewasa ini sangat dibutuhkan umat manusia. Melalui pendidikan Islam, kita dapat menyelamatkan manusia dari penindasan dan pencampakan sistem materialisme, paham serba boleh, pemanjaan, dan lain-lain lewat orang tua mereka. Kita pun dapat menyelamatkan anak-anak di negara-negara dunia ketiga yang dilanda bencana kelaparan, kehinaan, dan penjajahan kaum tiran.

Melalui pendidikan Islam, dalam diri kita akan tertanam pemuliaan dan penghargaan terhadap manusia walaupun banyak tantangan yang harus dihadapi sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “…Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin…” (Munafiqun: 8)

&