Sumber-Sumber Pendidikan Islam

9 Des

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Pendidikan Islam sangat memperhatikan penataan individual dan sosial yang membawa penganutnya pada pemelukan dan pengaplikasian Islam secara komprehensif. Agar penganutnya mampu memikul amanat yang dikehendaki Allah, pendidikan Islam harus kita maknai secara rinci. Karena itu, keberadaan referensi atau sumber pendidikan Islam harus merupakan sumber utama Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.

A. Al-Qur’an: Sumber Pendidikan Rasul dan Shahabat
Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan al-Qur’an telah mempengaruhi sistem pendidikan Rasulullah saw. dan para shahabat. lebih-lebih ketika ‘Aisyah ra. menegaskan bahwa akhlak beliau adalah al-Qur’an. Pembuktian Allah lebih menegaskan hal itu:

“Berkatalah orang-orang kafir: ‘Mengapa al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil [teratur dan benar].” (al-Furqaan: 32)

Dari ayat di atas kita dapat mengambil dua isyarat yang berhubungan dengan pendidikan, yaitu mengokohkan hati dan pemantapan keimanan; serta sikap tartil dalam membaca al-Qur’an. Dalam hal membaca al-Qur’an, Allah swt. mengajari Rasulullah saw. seperti dijelaskan dalam firman-Nya ini:

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.” (al-Qiyaamah: 16-19)

Kehidupan Rasulullah saw., baik dalam kondisi damai maupun perang, ketika di rumah maupun di luar rumah, atau berada di tengah kaumnya dibuktikan dengan perkataan ‘Aisyah bahwa akhlak beliau adalah al-Qur’an. Maka, doa-doa beliau selalu diambil dari al-Qur’an. Dan tentang para shahabat, mereka tidak diragukan lagi untuk mengamalkan sekaligus mempelajari al-Qur’an. Bahkan seorang shahabat pernah berkata: “Kami, pada zaman Rasulullah, tidak pernah melewati sebuah surah Al-Qur’an pun sebelum kami menghafal dan mengamalkannya. Jadi kami belajar dan beramal sekaligus.”

Al-Qur’an telah memberikan pengaruh dan kesan yang mendalam hingga kaum muslimin lupa akan puisi. Padahal, sebelumnya mereka adalah kelompok masyarakat yang paling menyukai puisi, perdukunan, dongeng-dongeng Persia dan Arab sehingga melupakan ilmu hikmah.

B. Al-Qur’an: Sumber yang Edukatif
Kelebihan al-Qur’an, diantaranya, terletak pada metode yang menakjubkan dan unik sehingga dalam konsep pendidikan yang terkandung di dalamnya, al-Qur’an mampu menciptakan individu yang beriman yang senantiasa mengesakan Allah, serta mengimani hari akhir.

Al-Qur’an telah memberikan kepuasan penalaran yang sesuai dengan kesederhanaan dan fitrah manusia tanpa unsur paksaan dan di sisi lain disertai dengan pengutamaan afeksi dan emosi manusiawi. Dengan demikian, al-Qur’an mengetuk akal dan hati sekaligus. Al-Qur’an mengawali konsep pendidikannya dari hal yang sifatnya konkret, seperti hujan, angin, tumbuh-tumbuhan, guntur atau kilat menuju hal yang abstrak, seperti keberadaan, kebesaran, kekuasaan dan berbagai sifat kesempurnaan Allah.

Penyajian materi tersebut kadang-kadang menggunakan metode bertanya, baik untuk tujuan mengkritik maupun mengingatkan, atau menggunakan metode untuk menyukakan, menyebutkan keindahan, atau hal lain yang dapat menggali emosi Rabbaniah dalam diri seseorang, seperti ketundukan, rasa sukur, serta mahabbah dan kekhususan kepada Allah. Kemudian Al-Qur’an menampilkan masalah ibadah dan perilaku ideal sebagai aplikasi praktis akhlak Rasulullah.

Dengan demikian, metode tersebut sangat sesuai dengan apa yang dewasa ini digembor-gemborkan para psikolog dalam menggali unsur afeksi manusia. Lewat metode al-Qur’an ini, kita bisa berulang-ulang memberikan materi, kita akan merasakan bahwa metode ini berhasil mempengaruhi emosi yang dilengkapi pengalaman perilaku sehingga dalam diri seseorang tumbuhlah kesiapan emosi yang jika sewaktu-waktu materi yang bersangkutan disentuh, emosi tersebut akan kembali muncul. Itulah pengalaman emosional yang hanya kita peroleh dari metode Qur’ani. Jika perilaku ideal tersebut dilengkapi dengan sifat afeksi, artinya pendidikan telah berperan dalam penyatuan jiwa dan penggali potensi seorang manusia sehingga menjadi manusia yang berkualitas.

Lebih jelasnya lagi, metode pendidikan Qur’ani ini dapat kita analisa dari surah ar-Rahmaan. Dalam surah tersebut, Allah Yang Mahaagung menuturkan berbagai nikmat dan bukti-bukti kekuasaan-Nya. Dia mulai menuturkan eksistensi manusia, kekuasan-Nya dalam mendidik manusia, hingga tentang apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada manusia, seperti matahari, bulan, bintang, pepohonan, buah-buahan, langit dan bumi. Pada tiap ayat atau bisa juga pada sejumlah ayat, Allah membuktikan anugerah-Nya itu dengan menempatkan manusia di hadapan benda nyata, pengalaman, suara hati, dan jiwa. Maka setiap manusia tidak akan mampu mengingkari apa yang telah dirasakan dan diterima oleh akal dan hatinya. Hal ini jelas-jelas termaktub di dalam ayat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan: 13). Pertanyaan tersebut berlanjut hingga 30 pertanyaan lainnya yang senada tetapi memberikan anugerah emosional berlainan sesuai dengan ayat sebelumnya.

Itulah gambaran betapa al-Qur’an itu memberikan metode pendidikan yang edukatif. Dan otomatis itupun berpengaruh pada kurikulum serta metode pendidikan Islam. Dengan demikian, penurunan al-Qur’an yang dimulai dengan ayat-ayat yang mengandung konsep pendidikan dapat dimulai dengan ayat-ayat yang mengandung konsep pendidikan dapat menunjukkan bahwa tujuan al-Qur’an yang terpenting adalah pendidikan manusia melalui metode yang bernalar serta sarat dengan kegiatan meneliti, membaca, mempelajari, dan observasi ilmiah terhadap manusia sejak manusia masih di dalam bentuk segumpal darah dalam rahim ibu sebagaimana firman Allah: “Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahapemurah. Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 1-5)

Dalam surah asy-Syams dengan berulang-ulang Allah swt. menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat dididik, disucikan, dan ditinggikan.

C. As-Sunnah: Teladan Pendidikan Islam
Setelah al-Qur’an, pendidikan Islam menjadikan as-Sunnah sebagai dasar dan sumber kurikulumnya. Secara harfiah, sunnah berarti jalan, metode dan program. Sedangkan secara istilah, sunnah adalah sejumlah perkara yang dijelaskan melalui sanad yang shahih, baik itu berupa perbuatan, perkataan, peninggalan, sifat, pengakuan, larangan, hal yang disuka dan dibenci, peperangan, tindak-tanduk, dan seluruh kehidupan Nabi saw. Pada hakekatnya, keberadaan sunnah ditujukan untuk mewujudkan dua sasaran, yang pertama, menjelaskan apa yang terdapat dalam al-Qur’an. Tujuan ini diisyaratkan dalam firman-Nya:

“….Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.” (an-Nahl: 44)

Kedua, menjelaskan syariat dan pola perilaku sebagaimana ditegaskan Allah:
“Dialah yanag mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah [as-Sunnah]…” (al-Jumu’ah: 2)

Ayat tersebut merujuk pada keberadaan as-Sunnah sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Syafi’i dan jalan ilmiah untuk mewujudkan ajaran-ajaran al-Qur’an. Tujuan ini ditegaskan oleh Sabda Rasulullah saw.:
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan sesuatu yang seperti al-Kitab itu.”

Dalam dunia pendidikan, as-Sunnah memiliki dua manfaat pokok.
Manfaat pertama, as-Sunnah mampu menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan Islam sesuai dengan konsep al-Qur’an, serta lebih merinci penjelasan al-Qur’an. Kedua, as-Sunnah dapat menjadi contoh yang tepat dalam penentuan pendidikan. Misalnya kita dapat menjadikan kehidupan Rasulullah saw. dengan para shahbat atau pun anak-anak sebagai sarana penanaman keimanan.

Rasulullah saw. adalah sosok pendidik yang agung dan pemilik metode pendidikan yang unik. Beliau sangat memperhatikan manusia sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan akalnya, terutama jika beliau berbicara dengan anak-anak. Jenis bakat dan kesiapan pun merupakan pertimbangan beliau dalam mendidik manusia. Kepada wanita beliau mamahami fitrahnya sebagai wanita. Kepada laki-laki beliau memahami fitrahnya sebagai laki-laki. Dan seterusnya. Biliau sangat memahami kondisi naluriah setiap orang sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik material maupun spiritual. Beliau senantiasa mengajak setiap orang untuk mendekati Allah dan syariat-Nya sehingga terpeliharalah fitrah manusia melalui pembinaan diri setahap demi setahap, penyatuan kecenderungan hati, dan pengarahan potensi menuju derajat yang lebih tingggi. Lewat cara itulah beliau membawa masyarakat pada kebangkitan dan ketinggian derajat.

Sebagian ulama Islam telah menemukan tujuan-tujuan pendidikan kenabian tersebut yang kemudian mereka klasifikasikan menjadi kelompok hadits yang memiliki tujuan pendidikan tertentu, seperti yang terdapat dalam at-Targhib wat Tarhib, karya ahli hadits Abdul ‘Adhim al-Mundziri (581-656). Materi buku tersebut meliputi hadits-hadits pembinaan diri yang mendorong manusia untuk mencintai amal kebaikan dan menjauhi keburukan. Buku tersebut terdiri atas beberapa jilid yang materinya meliputi berbagai masalah kehidupan material, spiritual, harta, jasmaniah, individual, sosial, ritual dan pemikiran.

Selain itu, ada juga ulama yang mengklasifikasikan hadits dari kehidupan praktis Rasulullah saw. yang kemudian juga disusun menjadi buku seperti Tuhfah al-Maudud fii Ahkam al-Maulud nya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dan al-‘Adab al-Mufrad nya Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Buku-buku tersebut sarat dengan konsepsi Nabi dalam mendidik dan memperlakukan anak-anak dan anak yatim, seperti mengungkapkan rasa sayang, mencium, bersenda gurau dan lain-lain. Buku itupun dilengkapi dengan konsep yang berhubungan dengan etika masyarakat.

Di dalam Adab al-Mufrad, materi dilengkapi dengan bahasa tentang sahabat dan tabi’in. Penyusunan buku itupun tidak berpegang teguh pada syarat tertentu seperti yang dipegang pengarangnya ketika menyusun al-Jami’ ash-Shahih. Cara penyusunannya lah yang membedakan buku tersebut dengan shahih Bukhari. Tampaknya buku-buku yang berhubungan dengan pendikan Islam banyak yang bisa dijadikan sebagai referensi pendidikan Islam.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: