Arsip | 06.44

Apakah Tenda, Istana dan Kecantikan Bidadari Itu Berbeda-beda?

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di dunia, tempat hidup kita yang sekarang ini adalah tempat ujian dan cobaan, seolah tidak pernah ditemukan suatu rumah atau kedudukan menyerupai rumah atau kedudukan yang lain. Tidak juga satu kebun menyerupai kebun yang lain dan tidak pula satu istana menyerupai istana yang lain, sedangkan yang membangun dan memakmurkan bumi adalah manusia dengan segala kemampuan dan segi-segi kemanusiaannya.

Lalu bagaimana jika yang membangun adalah Allah, pencipta segala yang ada seluruhnya, dengan hanya berfirman, “Kun fayakun (adalah engkau maka iapun ada).” Seperti apa dan bagaimana besarnya?

Di surga tidak akan dijumpai satu tenda yang mirip dengan tenda yang lain, tidak juga istana menyerupai istana yang lain, kamar, kebun, sungai, bahkan kerajaan seorang mukmin tidak menyerupai dengan lainnya. Perbedaan yang benar-benar besar. Pangkat atau derajat yang ada juga banyak sekali, sedangkan perbedaan antara keduanya sangat besar. wallaaHu a’lam.

Diceritakan dari Ubadah bin ash-Shamit bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Surga itu terdapat 100 tingkat atau derajat. Antara satu tingkat dan tingkat yang lain jaraknya seperti jarak antara langit dan bumi.”

Firman Allah dalam hadits qudsi: “Aku siapkan untuk hamba-Ku, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.”

Segala sesuatu yang disiapkan Allah tersebut tidak akan ada yang mirip satu sama lain, baik dari segi kecantikan maupun kebaikannya. Allah berbicara tentang penyiapan dan macamnya bahwa hal itu tidak akan mungkin pernah terlintas di dalam hati manusia. Oleh karena itu, pada kenyataannya akan jauh di luar bayangan. Menurut ash-Shufy yang dimaksud tidak ada kemiripan di sini adalah dari segi teknik atau desain. Maksudnya, di antara istana, kebun, bangunan, tidak ada kemiripan. Begitu pula dengan derajatnya, ada yang tinggi, ada pula yang di bawahnya, dan juga tidak mungkin benar-benar sama.

Di surga tidak dijumpai keserupaan secara mutlak, baik bentuk bagian luar bangunan mana saja, teknik pewarnaan bagian dalam, rumah, maupun tempat orang mukmin dalam kerajaannya.

Di setiap tempat terdapat bidadari milik orang-orang mukmin. Setiap bidadari memiliki kecantikan dan kebaikan yang berbeda sama sekali antara satu dengan lainnya. Tidak akan ada bidadari yang mirip. Setiap bidadari memiliki kecantikan yang menggoda dan kebaikan yang cemerlang, dengan aneka kecantikan yang indah dan berbeda dari bidadari yang mana saja. wallaaHu a’lam.

&

Nama-Nama Pintu Surga

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Firman Allah yang artinya: “…sehingga apabila mereka sampai kepadanya [surga] pintu-pintunya dibukakan…” (az-Zumar: 73)

Segolongan ulama ahli tafsir mengatakan bahwa pada ayat di atas, huruf wau berarti delapan sehingga dapat disimpulkan bahwa surga mempunyai delapan pintu. Pendapat pertama ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab berikut:

Dari Umar bin Khaththab ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak seorangpun di antara kalian yang berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya, kemudian ia mengucapkan “AsyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaHu wa asyHadu anna Muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah)” kecuali dibukakan baginya ke delapan pintu surga, yang dapat ia masuki dari manapun ia suka.” (HR Muslim)

Dalam menentukan pintu-pintu surga ini, sebagian ulama menjelaskan, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits dalam kitab al-Muwatha’, karangan Imam Malik, dan telah disahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang bersedekah kepada sepasang suami istri di jalan Allah, ia akan dipanggil dari balik pintu-pintu surga, dengan suara: ‘Hai hamba Allah, inilah yang lebih baik.’
Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan shalat, ia akan dipanggil dari balik pintu shalat.
Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang melakukan jihad, dia akan dipanggil dari balik pintu jihad.
Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan puasa, dia akan dipanggil dari balik pintu ar-Rayyan [pintu kesegaran].
Dan barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang bersedekah, ia akan dipanggil dari balik pintu sedekah.”
Abu Bakar ra. bertanya: “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulallah, bagi orang yang dipanggil dari salah satu pintu itu, tentu tidak ada keberatan baginya. Namun apakah ada seseorang yang dipanggil dari balik semua pintu itu?” Rasulullah saw. menjawab: “Ya, ada. Dan aku mengharapkan engkau termasuk dari golongan mereka itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Syeikh Qadhi Iyadh berkata: “Imam Muslim dalam hadits ini telah menuturkan tentang pintu-pintu surga yang empat, sementara imam yang lain menyebutkannya hingga delapan pintu, yaitu ditambah dengan pintu taubat, pintu kadziminal ghaidh (orang-orang yang mampu menahan amarahnya), pintu Radhin (orang-orang yang ridha), dan pintu Aiman (kanan). Orang-orang yang bisa masuk surga dari pintu-pintu tersebut adalah mereka yang masuk surga tanpa hisab.”

Sebagian ulama menyatakan bahwa pintu surga lebih dari delapan. Pernyataan ini didasarkan pada sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Umar bin Khaththab ra.:

Dari Umar bin Khaththab ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berwudlu dengan sempurna, kemudian mengucapkan, ‘AsyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wahdaHuu laa syariikalaHu wa asyHadu anna muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah).’ Dengan sebenarnya atau dari lubuk hatinya –perawi hadits ini sepertinya ragu antara kata-kata ‘sebenarnya’ atau kata ‘dari lubuk hatinya’ – baginya akan dibukakan pintu-pintu surga yang delapan buah di antara pintu-pintu di hari kiamat.” (HR Bukhari)

Kalimat dalam hadits “Baginya akan dibukakan pintu-pintu surga yang delapan buah di antara pintu-pintu di hari kiamat.” Mengisyaratkan bahwa jumlah pintunya lebih dari delapan. Namun menurut pendapat Mahir Ahmad asy-Syufy, riwayat yang paling benar adalah yang menyatakan bahwa jumlahnya delapan buah.

&

Derajat Ahli Surga yang Terendah dan Tertinggi

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah langsung dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Nabi Musa bertanya kepada Tuhannya, ‘Apa saja pangkat terendah dari ahli surga?’ Allah berfirman: ‘Seseorang yang akan datang setelah ahli surga semuanya masuk surga, lalu dikatakan kepadanya, masuklah ke dalam surga.’ Ia pun bertanya, ‘Ya Tuhanku, tetapi bagaimana caranya, sedangkan orang-orang telah berada pada posisi mereka masing-masing dan memperoleh anugerah mereka?’
Lalu dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu rela mendapat penghormatan seperti raja diraja di dunia?’ iapun berkata, ‘Ya, saya rela, wahai Tuhanku.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Ya kamu akan mendapatkan seperti itu dan lima kali lipatnya.’ Ia pun berkata, ‘Saya rela, wahai Tuhanku.’
Lalu Allah befirman: ‘Ini untukmu dan sepuluh kali lipatnya. Bagimu apa yang telah engkau saksikan dan telah engkau lihat.’ Ia pun berkata, ‘Ya, saya rela, wahai Tuhanku.’
Nabi Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, kalau posisi yang paling tinggi?’ Allah berfirman: ‘Mereka adalah orang-orang yang Aku kehendaki, Aku siapkan penghormatan bagi mereka dengan kekuasaan-Ku, dan Aku selesaikan dengan kekuasaan-Ku pula sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.’”
Rasulullah saw. bersabda, seperti yang dijelaskan dalam firman Allah: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyenangkan hati…” (as-Sajdah: 17).” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Maka bacalah jika kalian suka firman Allah yang menyatakan, “Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyenangkan hati..” (as-Sajdah: 17) (Hr Bukhari dan Muslim)

&

Macam-Macam Kesejahteraan Ahli Surga

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Abu Bakar bin Abi Daud meriwayatkan sebuah hadits dari Mahmud bin Khalid, dan Abbas Ibnul Walid, dari Auza’i dari Harun bin Diyab, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ahli surga akan dibangkitkan dengan rupa seperti Nabi Adam saat berusia sekitar 33 tahun, kulitnya mulus dan bersih, dan matanya seperti bercelak atau bersifat mata. Lalu mereka berangkat menuju sebuah pohon di surga. Kemudian mereka memakai pakaian dari pohon tersebut sehingga pakaian mereka tidak basah dan kemudaan mereka tidak berlalu.” (HR Ibnu Abi Daud, Abu Nu’aim dan Thabrani)

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ahli surga yang akan masuk surga kulitnya mulus dan bersih, dan matanya seperti bercelak atau bersifat mata, dengan usia rata-rata sekitar 33 tahun.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Abu Nu’aim)

&

Tiga Golongan Mukmin yang Pertama Masuk Surga

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ditampakkan kepadaku tiga golongan orang yang pertama kali masuk surga, yaitu orang-orang yang mati syahid, orang-orang yang suci serta menjaga kesuciannya, dan para hamba sahaya yang beribadah kepada Allah dengan baik serta memberi nasehat kepada tuannya.” (HR Ahmad dalam Musnad, Hakim dalam al-Mustadrak, dan Baihaqi dalam as-Sunan)

&

Sifat Golongan Pertama yang Masuk Surga

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya golongan pertama yang akan masuk surga, wajahnya tampak seperti bulan di malam purnama, sedangkan golongan sesudahnya wajahnya bercahaya seperti bintang kejora di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak ingusan, dan tidak meludah. Sisir mereka terbuat dari emas. Aroma keringat mereka seperti parfum. Aroma dupanya harum seperti dupa India. Istri-istri mereka adalah para bidadari. Postur tubuh mereka seperti bapak mereka, yaitu Nabi Adam as. sekitar 60 hasta di langit.” (HR Abu Ya’la, Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Golongan pertama yang akan masuk surga, tidak ingusan, tidak buang air kecil, dan tidak buang air besar. Sisir mereka terbuat dari emas. Aroma dupanya seperti dupa India. Aroma keringat mereka seperti parfum. Setiap orang mempunyai dua istri yang sumsum betisnya kelihatan di balik dagingnya karena kecantikannya. Tak ada perbedaan pendapat di antara mereka. mereka tidak saling dengki satu sama lain. Mereka bertasbih kepada Allah, setiap pagi dan petang.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang bertakwa dan beramal shalih. Mereka beriman kepada Allah hingga sampai pada derajat takwa yang tinggi, sebagaimana mereka sampai pada derajat amal shalih yang tinggi. Merekalah orang-orang yang tidak akan dihisab amalnya. Mereka juga tidak akan ditimbang, tidak ada buku amal, kecuali buku yang tertuliskan, “Lulus karena Allah dan Rasul saw.” mereka lah golongan pertama yang sudah kita bicarakan. Rasulullah saw. mengutarakan sifat-sifat mereka.

Diriwayatkan dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’id ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Akan masuk surga dari umatku 70.000 atau 700.000 –perawi hadits ini, Abu Hazim bimbang antara perkataan nabi 70.000 ataukah 700.000.- mereka semua kompak satu sama lain. Yang berada di barisan pertama tidak langsung masuk ke surga hingga yang berada di bagian terakhir masuk juga. Wajah-wajah mereka tampak seperti bulan di malam purnama.” (HR Muslim)

Di antara karunia, kenikmatan, dan kemuliaan Allah bahwa setiap satu orang dari yang 70.000 itu membawa 70.000 orang pula.

Dari Abu Bakar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku dianugerahi Allah 70.000 orang dari umatku masuk surga tanpa hisab. Wajah mereka tampak seperti bulan di malam purnama. Hati mereka semuanya sama. Lalu aku memohon tambahan kepada Allah dan Allah menambahkan untukku setiap satu orang menjadi 70.000 orang.” (HR Ahmad dalam Musnad dengan sanad yang shahih)

Dari Abu Umamah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tuhanku berjanji kepadaku bahwa akan ada 70.000 orang dari umatku yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa. Dan setiap seribu orang bersama 70.000 orang dan tiga genggaman dari genggaman Tuhanku.” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Hibban)

Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu. Aku melihat ada seorang nabi yang disertai rombongan kecil. Ada pula nabi yang disertai oleh satu dua orang saja., bahkan ada seorang nabi yang tanpa pengikut seorang pun. Kemudian tampak satu rombongan besar yang kusangka itu adalah umatku. Akan tetapi dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya, tetapi lihatlah di ufuk sana.’ Kemudian aku melihat ke ufuk itu. Tiba-tiba aku melihat satu rombongan besar, lalu dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Di sana aku melihat rombongan yang lebih besar lagi. Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Itulah umatmu yang di dalamnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa hisab dan tanpa disiksa terlebih dahulu.’

Rasulullah kemudian bangkit dan masuk ke dalam rumah. Orang-orang ramai membicarakan tentang orang-orang yang akan masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Salah seorang dari mereka berkata: “Mungkin saja mereka adalah shahabat-shahabat Rasulullah.” Ada pula yang mengatakan: “Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan dia tidak menyekutukan Allah.” Mereka pun menafsirkan bermacam-macam. Kemudian Rasulullah keluar dari rumahnya dan bertanya kepada mereka. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” kemudian mereka menceritakannya. Rasulullah bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya ramalan dan hanya kepada Allah mereka berserah diri.” Kemudian Ukasyah bin Mihshan berkata, “Wahai Rasulallah, doakanlah saya agar termasuk golongan mereka.” Rasulullah menjawab: “Ya, engkau termasuk di antara mereka.” kemudian berdirilah orang lain sambil berkata: “Wahai Rasulallah, doakanlah saya agar termasuk golongan mereka.” beliau menjawab: “Engkau telah didahului oleh Ukasyah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Firman Allah: “Dan orang-orang yang paling dahulu [beriman] merekalah yang paling dahulu [masuk surga], mereka itulah orang yang dekat [kepada Allah], berada dalam surga kenikmatan, segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (al-Waaqi’ah: 10-14)

&

Orang yang Pertama Masuk Surga

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Rasulullah saw. adalah orang pertama yang masuk surga, sedangkan umatnya adalah umat yang pertama di antara umat-umat nabi yang lain yang masuk surga. Di dalam hadits disebutkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang masuk surga setelah Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Saya adalah orang yang pertama mengetuk pintu surga.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku mendatangi pintu surga, lalu akau memintanya untuk dibuka. Malaikat yang bertugas menjaga pintu surga bertanya, ‘Anda siapa?’ aku menjawab: ‘Muhammad.’ Lalu ia berkata: ‘Aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga untuk siapapun sebelum anda.’” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Malaikat Jibril mendatangiku seraya memperlihatkan pintu surga yang akan dimasuki oleh umatku.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulallah, saya senang jika saya bisa melihat bersamamu.” Rasulullah saw. menjawab: “Wahai Abu Bakar, engkau adalah orang pertama yang masuk surga dari umatku.” (HR Abu Dawud)

&

Orang-Orang Mukmin Melintasi Jembatan Menuju Surga

10 Des

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Ketika orang-orang mukmin berhasil melintasi jembatan shirath dan selamat dari neraka, mereka pun berhenti sejenak. Sebagian mereka ada yang diizinkan oleh Allah untuk masuk surga, kecuali orang yang masih punya utang kedhaliman kepada orang lain. Orang tersebut masih ditahan di atas jembatan lengkung antara surga dan neraka, untuk mengembalikan kedhalimannya terhadap orang lain. Setelah itu barulah mereka diizinkan masuk surga.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang mukmin lolos dari neraka, lalu mereka ditahan di atas jembatan yang melengkung antara surga dan neraka untuk mengembalikan kedhaliman dari seseorang terhadap orang lain yang masih tersisa. Setelah benar-benar bersih, barulah mereka diizinkan masuk surga. Demi Allah, Dzat Yang Maha Menguasai Muhammad, tidak ada seorang pun yang bisa memberikan tempatnya di surga kepada orang lain, sebagaimana saat di dunia.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Boleh jadi, mereka yang semula termasuk berpangkat tinggi di dunia, tetapi karena sering berbuat aniaya kepada saudara-saudaranya sesama muslim, timbangan antara kebaikan dan keburukannya menjadi sama. Hal ini membuat penghitungan amalnya menjadi lama. Mereka melihat orang yang sedang melintasi jembatan shirath berjatuhan ke dalam api neraka sehingga mereka ketakutan. Dan mereka melihat ahli surga di dalam surga, mereka pun memanggilnya.”

“….Salaamun ‘alaikum [salam sejahtera bagimu]’ mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera [masuk].” (al-A’raaf: 46)

Anas ra. meriwayatkan hadits qudsi dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Allah Swt. berfirman: ‘Akan ada suara yang memanggil dari tengah ‘Arsy pada hari kiamat, wahai umat Muhammad, sesungguhnya apa yang Aku miliki untuk kalian telah Aku berikan kepada kalian dan yang tersisa adalah tanggungan, seperti kedhaliman. Maka, hendaklah kalian saling memberi, lalu masuklah ke surga dengan rahmat-KU.” (HR Ibrahim al-Muqri dalam at-Tabshirah)

Dari Umi Hani’ ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berfirman: ‘Akan ada yang memanggil, wahai ahli tauhid, hendaklah kalian saling memaafkan satu dengan yang lain dan Akulah yang akan memberikan pahala.” (HR Thabrani)

&