Hadits Arbain ke 25: Karunia dan Luasnya Rahmat Allah

11 Des

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 25 (dua puluh limaAbu Dzar ra. berkata, beberapa shahabat berkata kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulallah, orang-orang kaya itu mengumpulkan banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka (sementara kami tidak bisa bershadaqah).”
Beliau bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian shadaqahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (subhanallah) adalah shadaqah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, setiap tahmid (alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap tahlil (laa ilaaHa illallaaH) adalah shadaqah, menyeru kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah, dan bersetubuh dengan istri juga shadaqah.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?” Beliau menjawab: “Bukankah jika disalurkan pada yang haram dia berdosa? Maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala.” (HR Muslim)

KANDUNGAN HADITS

1. Berlomba-lomba mendapatkan kebaikan
Berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan amal shalih adalah diperintahkan. Karena itu setiap muslim hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan amal shalih.

Abu Dzar al-Ghifari ra. yang menceritakan kepada kita fenomena persaingan di kalangan para shahabat ra. untuk mendapatkan kebaikan. Ia menyaksikan bagaimana Rasulullah saw. menyikapinya dengan arif, bagaimana Islam memberikan peluang yang amat luas untuk berbuat baik.

Dikisahkan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin (sebagian kecil dari kalangan Anshar) merasa tidak bisa memperbanyak amal kebaikan, karena mereka tidak memiliki harta untuk diinfakkan, sebagai bukti keimanan mereka. padahal mereka selalu mendengar berbagai hadits dan ayat al-Qur’an yang mendorong untuk berinfak, memuji orang-orang yang berinfak dan menjanjikannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Mereka juga melihat saudara-saudaranya seiman yang kaya, berlomba-lomba untuk berinfak. Ada yang menginfakkan seluruh hartanya. Ada yang menginfakkan separuh hartanya. Ada yang memberikan beribu-ribu dinar. Ada yang membawa tumpukan hartanya kepada Rasulullah saw. lalu Rasulullah saw. mendoakan mereka dan memohonkan ampunan dan keridlaan dari Allah terhadap mereka.

Fenomena tersebut menggugah jiwa para shahabat yang miskin, untuk bisa memiliki kelebihan dan derajat sebagaimana saudara-saudaranya. Bukan karena dengki dengan harta yang dimiliki saudaranya, dan bukan semata-mata menginginkan kekayaan. Akan tetapi didorong oleh rasa ingin bersaing dalam kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Mereka selalu berkumpul dan datang kepada Rasulullah saw. mendukan kondisi yang dialami, dengan air mata yang berlinang lantaran tidak ada sesuatu yang bisa diinfakkan. Mereka berkata: “Ya Rasulallah, orang-orang kaya telah mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan kami tidak, karena mereka juga shalat sebagaimana kami shalat, mereka juga puasa sebagaimana kami puasa. Tidak ada kelebihan sama sekali dalam hal ini. Akan tetapi, mereka lebih dari kami, karena mereka berinfak dengan kelebihan hartanya. Sedangkan kami tidak memiliki apapun yang bisa kami infakkan agar bisa menyusul mereka. padahal kami benar-benar ingin bisa mencapai kedudukan mereka. apa yang perlu kami perbuat?”

2. Sikap Rasulullah saw. yang arif dan bijaksana, serta banyakknya peluang untuk berbuat baik.
Rasulullah benar-benar memahami keinginan mereka yang begitu kuat untuk bisa mencapai derajat yang paling tinggi di sisi Tuhannya. Dengan sikap bijaksana yang dimilikinya, beliau kemudian menenangkan kegelisahan mereka. yaitu dengan memberitahukan, bahwa pintu kebaikan sangat luas. Ada beberapa amalan yang menyamai pahala orang berinfak, bahkan bisa melebihinya. Namun semua itu tentunya sesuai dengan usaha masing-masing. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melaikan [sekedar] apa yang Allah berikan kepadanya.” (ath-Thalaq: 7)
Bukankah Allah telah menjadikan berbagai hal, yang dapat kalian shadaqahkan?
Macam-macam shadaqah dari kalian itu banyak sekali. Ada yang berbentuk infak untuk keluarga. Ada yang tidak berbentuk infak. Semua pahalanya tidak lebih kecil dari pahala infak di jalan Allah.

3. Dzikir kepada Allah adalah sebaik-baik shadaqah untuk diri sendiri.
Jika kalian tidak mempunyai kelebihan harta, maka ucapkanlah subhaanallah, allaHu akbar, alhamdulillah dan laa ilaaHa illallaaH. Karena setiap lafadz tersebut memiliki pahala seperti pahala shadaqah. Sebagai kita ketahui bahwa kalimat-kalimat tersebut adalah amalan-amalan yang kekal.

Allah berfirman: “Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shahih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk mejadi harapan.” (al-Kahfi: 46)
“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain]. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Ankabut: 45)

Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hari, satu malam dan satu waktu, kecuali Allah memberikan shadaqah kepada hamba yang Dia kehendaki. Dan tiada pemberian Allah yang lebih berharga dari memberikan kemudahan kepada hamba-Nya untuk berdzikir kepada-Nya.” (HR Ibnu Majah)

Suatu ketika Rasulullah saw. ditanya: “Hamba yang bagaimanakah yang paling baik di sisi Allah pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “Orang yang banyak berdzikir.” (HR Ahmad)

4. Dakwah adalah shadaqah kepada masyarakat
Pintu untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar senantiasa terbuka lebar. Orang yang melakukan kewajiban tersebut, akan mendapatkan pahala yang tidak kalah dengan pahala orang yang berinfak. Bahkan bisa jadi lebih banyak. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw.: “Setiap kebaikan adalah shadaqah.”
Lebih-lebih umat yang mau melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah sebaik-baik umat.
Firman Allah: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imraan: 110)

5. Luasnya karunia Allah
Allah telah memberikan pahala kepada kita semua, siang dan malam, jika dalam kehidupan ini kita senantiasa ikhlas. Karena kita senantiasa memberi nafkah kepada keluarga kita.
Rasulullah saw. bersabda: “Dan nafkah yang diberikan seseorang kepada keluarganya adalah shadaqah.” (HR Muslim dan lainnya)
“Semua yang kamu infakkan dengan hanya mengharapkan keridlaan Allah, maka kamu akan mendapatkan pahala, termasuk sesuap nasi yang dimakan istrimu.” (Muttafaq alaih)
Bahkan ketika kita berhubungan badan dengan istri, agar terhindar dari perbuatan haram, juga mendapat pahala. Selama semua itu kita lakukan dengan penuh keikhlasan.

6. Semua perbuatan tergantung niatnya.
Termasuk karunia Allah yang diberikan kepada setiap muslim, adalah semua kebiasaan yang dilakukan aakan mempunyai nilai ibadah jika disertai niat yang baik. Bahkan dengan niat yang baik, semua perkara menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Jika seorang muslim makan atau minum, dengan makanan dan minuman yang halal, disertai niat untuk menjaga tubuhnya agar mampu melaksanakan perintah Tuhannya, maka makan dan minum tersebut dinilai ibadah dan diberi pahala. Terlebih jika dalam pelaksanaannya dilakukan sambil mengingat Allah, ketika hendak memuali dan ketika mengakhirinya. Memulai dengan membaca basmalah, dan diakhiri dengan membaca alhamdulillah. Sebagaimana dianjurkan dalam hadits.

Jika ia menggauli istrinya, dengan niat agar terhindar dari yang diharamkan, memberikan hak istri, atau memperoleh keturunan yang shalih yang senantiasa menyembah Allah, maka hubungan tersebut dicatat sebagai ibadah dan akan ditulis sebagai amalan kebaikan. Terlebih jika dalam pelaksanaannya mengucapkan doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

“Jika salah seorang dari kalian akan mendatangi [menggauli] istrinya, dan berdoa: ‘Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rizky yang Engkau berikan kepada kami.’ Lalu keduanya ditakdirkan mempunyai anak, [dari hubungan tersebut], niscaya setan tidak akan membahayakannya.”

Pahala yang dimiliki oleh seorang Muslim, yang senantiasa menghindari berbagai hal yang diharamkan, akan selalu berkembang dan bertambah di sisi Allah swt. Terlebih jika ia senantiasa memperbarui niat. Selalu merasa bahwa dalam meninggalkan maksiat, tidak lain kecualii untuk merealisasikan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah swt. juga karena mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya.

Orang-orang seperti ini termasuk golongan Ibadur Rahmaan yang disebut Allah dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (al-Furqaan: 73)
Dan termasuk golongan al-Mukminuun ash-Shaadiquun yang disebutkan Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Rabb lah mereka bertawakkal.” (al-Anfaal: 2)

7. Pintu kebaikan terbuka lebar
Pintu-pintu kebaikan dan shadaqah tidak berbatas apa yan disebutkan dalam hadits di atas. Masih banyak amalan-amalan lain yang bisa dilakukan seorang muslim, yang berpahala seperti pahala shadaqah.

Rasulullah saw. bersabda: “Setiap manusia diwajibkan shadaqah setiap hari, mulai terbitnya matahari hingga tenggelam kembali.” para shahbat bertanya: “Ya Rasulallah, dari mana kami bershadaqah.” Rasulullah saw. menjawab: “Pintu kebaikan sangat banyak: tasbih, tahmid, takbir, tahlil, amar ma’ruf nahi munkar, membuang sesuatu yang membahayakan dari jalan, memahamkakn orang bisu, menuntun orang buta, menunjukkan arah bagi orang yang bertanya, membantu orang yang minta pertolongan dan menolong orang yang lemah, semua itu adalah shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR Ibnu Hibban)

Dalam hadits lain disebutkan, “Dengan tidak melakukan kejahatan kepada orang lain, adalah shadaqah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Juga disebutkan: “Senyummu kepada saudaramu [sesama muslim] adalah shadaqah… dan memberikan air yang ada di timbamu untuk saudaramu adalah shadaqah.” (HR Ibnu Majah)

8. Berusaha bijaksana dalam menyelesaikan masalah dan senantiasa memberi harapan.

9. Keutamaan dzikir-dzikir disebutkan dalam hadits di atas, dan bahwa pahalanya menyamai pahala shadaqah, apalagi jika diucapkan setelah shalat wajib.
Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku beritahu satu amal perbuatan. Jika kalian melakukannya, niscaya kalian dapat menyamai keutamaan generasi terdahulu dan tidak tertandingi oleh generasi setelah kalian. Kalian menjadi generasi terbaik kecuali jika dibanding dengan orang yang juga melakukannya? Hendaknya kalian membaca tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali, setiap habis shalat.”

10. Anjuran kepada orang-orang fakir untuk bershadaqah jika tidak menyulitkan diri dan keluarganya. Juga anjuran kepada orang kaya agar senantiasa berdzikir, meskipun ia telah banyak mengeluarkn shadaqah, untuk menambah kebaikan dan pahala.

11. Shadaqah bagi orang yang mampu, tetap lebih mulia daripada dzikir. Karena shadaqah mempunyai manfaat bagi orang lain. Sedangkan dzikir, manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri. Namun jika orang kaya, menggabungkan pahala shadaqahnya dengan dzikir, tentulah akan mendapatkan pahala yang sangat besar di sisi Allah swt.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa orang-orang fakir (yang tersebut dalam hadits di atas) mendatangi Rasulullah saw. untuk kedua kalinya. Mereka berkata: “Ya Rasulallah, teman-teman kami yang kaya mendengar nasehatmu. Lalu mereka melakukan yang kami lakukan.” Rasulullah saw. menjawab: “Itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya.” (HR Muslim)

12. Menyedekahkan sesuatu yang ia sendiri masih memerlukannya, atau diperlukan oleh keluarganya hukumny makruh. Bahkan bisa juga haram, jika kebutuhan tersebut hingga tingkat membahayakan (jika tidak terpenuhi).
Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik shadaqah adalah dari harta yang lebih.” (HR Bukhari)

13. Keutamaan orang kaya yang senantiasa bersyukur dan berinfak, juga orang fakir yang sabar dan senantiasa mengharapkan pahala.

14. Keutamaan amar ma’ruf nahi munkar. Ia merupakan fardlu kifayah. Jika tidak ada satu orangpun yang melaksanakannya, maka semua masyarakat akan turut berdosa.

15. Berlaku baik terhadap istri, memberikan semua haknya dan berusaha untuk membuatnya senang dan bahagia.

16. Dorongan untuk bertanya tentang berbagai hal yang bermanfaat dan bisa meningkatkan keimanan dan keislaman bagi seorang muslim.

17. Orang yang ingin bertanya, diperbolehkan bertanya, jika menurutnya orang yang ditanya akan suka dengan pertanyaannya.

18. Anjuran untuk menjelaskan suatu dalil bagi orang yang belajar, termasuk menjelaskan hal-hal yang samar dalam dalil yang ada, agar mempunyai pengaruh yang mendalam dalam jiwa orang yang belajar, supaya dapat segera mengamalkannya.

19. Disyariatkan qiyas.

&

Iklan

2 Tanggapan to “Hadits Arbain ke 25: Karunia dan Luasnya Rahmat Allah”

  1. nurjianti 11 Desember 2013 pada 09.01 #

    InsyaAllah postingannx bermnfaat akh’… izin share,

    • untungsugiyarto 11 Desember 2013 pada 09.10 #

      Silakan… silakan… Terima kasih telah bekerja sama mendakwahkan berita ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: