Arsip | 11.09

Laut Dipanaskan (Tafsir At-Takwir ayat 6)

12 Des

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kata Ibnu ‘Abbas ra. tentang firman Allah:
“Wa idzal bihaaru sujjirat (“Dan apabila laut dipanaskan”) (At-Takwir: 6)” dia katakan: “Lautan itu kelak akan dinyalakan, sehingga berubah menjadi api.”
Sedangkan Ibnu Wahab menuturkan dari Atha’ bin Yasar, bahwa dia membaca: “Wa jumi’asy syamsu wal qamara.” Lalu dia katakan bahwa keduanya akan dikumpulkan pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka, sehingga terciptalah api Allah yang sangat besar.

Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Yazid ar-Raqasy, dari Anas, yang menyampaikan hadits ini secara marfu’, bersambung kepada Nabi saw., dia berkata: “Bersabda Nabi saw.: ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ekor sapi yang terluka dalam neraka.” (Shahih: Shahih al-Jami’ [1643] dan ash-Shahihain [124], karya al-Albani, asy-Syaukani menyebutkan hadits ini dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah [459], dan dia sebutkan pula untuknya sejumlah mutabi’ dan syahid [hadits lain yang menguatkan hadits tersebut] yang ditanggapi oleh al-Allamah Abdur Rahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani –peneliti kitab ini-, dia katakan: “Pada sanad hadits-hadits mutabi’ terdapat tokoh yang tidak saya kenal. Maka ditolaknya berita ini, adalah berpangkal pada Yazid ar-Raqasyi. Dia sangat lemah, bukan apa-apa dalam doal periwayatan.”
Tetapi Syaukani berkata: “Hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari denngan lafadz: “Matahari dan bulan digulung pada hari kiamat.”
Dan kata al-Mu’allimi al-Yamani pula: “Yang dianggap munkar adalah kata-kata: Tsaurani ‘aqirani [dua ekor sapi yang terluka].”

Dan diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, dia berkata: “Matahari dan bulan akan didatangkan seakan-akan keduanya adalah dua ekor sapi yang terluka, lalu dilemparkan ke dalam neraka.”

KENAPA MATAHARI DAN BULAN MASUK NERAKA?

Al-Qurthubi mengatakan bahwa memang demikianlah diriwayatkan, matahari dan bulan menjadi dua ekor sapi, yakni “Tsauran”. Keduanya dikumpulkan dalam neraka, karena keduanya telah menjadi sesembahan selain Allah, tetapi neraka bukan merupakan tempat adzab bagi mereka berdua, karena keduanya tidak bernyawa. Mereka diperlakukan seperti itu, hanya agar orang-orang kafir semakin bungkam dan menyesal. Demikian kata sebagian ulama.

Ibnu Qissi, penulis Khal’u an-Na’lain berkata, “Ketahuilah, bahwa matahari dan bulan akan menjadi dua ekor sapi yang terpuruk dalam neraka Jahanam, seolah-olah digulung sedemikian rupa. Sehingga terjadilah siang yang sangat panas dan malam yang sangat dingin.

Maksudnya negeri ini tetap menjadi tempat tinggal. Tidak ada perbedaan antara suasana negeri ini dengan ketika dua benda itu masih bergerak, berjalan dan berputar. Orbit siang dan malam masih tetap beredar. Hanya saja di waktu itu sudah kosong dari rahmat Allah, sedang sekarang masih ada satu rahmat dan sekian banyak rahmat Allah. Dan juga, kosong dari matahari dan bulan. Keduanya telah berubah menjadi kehitaman dan nyala api yang memenuhi negeri ini. Dan perubahan itu tak lain adalah wujud dari murka Allah Ta’ala yang maha dahsyat, dikarenakan kemaksiatan orang-orang durhaka dan kefasikan orang-orang celaka, seperti kita saksikan sekarang.

Karena bagaimana pun mereka hampir tidak lepas dari matahari dan bulan, dimanapun mereka berada, bahkan tidak akan samar bagi keduanya mata siapapun yang berkhianat. Karena sesunngguhnya, tidak ada seorang pun yang bisa melihat tanpa cahaya keduanya. kalaupun keduanya ada di balik hijab, yakni terhalang bayang-bayang malam, atau ada di balik mendung di siang hari, namun sisa cahaya yang masih nampak di permukaan bumi, sebenarnya adalah cahaya keduanya juga, dan sinar yang ada pun sinar keduanya juga.

Dan kalaupun dikatakan di waktu itu keduanya mendapat murka Allah, tetapi murka-Nya kepada keduanya tidaklah besar, kecuali bahwa kendali rahmat dicabut dari keduanya, dan dicabut pula cahaya kelembutan dan kasih sayang. Demikian pula halnya sikap Allah kepada setiap fenomena kehidupan dunia ini, bila sudah tiba saatnya rahmat dicabut darinya, yang kemudian rahmat itu dialihkan dari ngeri ini, ke negeri kehidupan yanng sesungguhnya, yaitu ke alam yang penuh cahaya.”

Dalam kaitan ini Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Satu rahmat di antaranya Dia turunkan ke bumi. Dan dengan adanya rahmat yang satu itulah, maka binatang-binatang saling mengasihi, dan juga makhluk-makhluk lainnya saling mengasihi dan berhubungan dengan sesama kerabat.

Apabila hari kiamat telah terjadi, maka Allah mencabut rahmat yang satu itu, dan mengembalikannya kepada yang sembilan puluh sembilan, untuk menggenapkannya menjadi seratus seperti sebelumnya. Kemudian seratus rahmat itu Allah berikan semuanya kepada orang-orang mukmin. Dan negeri adzab beserta orang-orang fasik yang tinggal di sana, kosonglah dari rahmat Tuhan sekalian alam.

Dengan hilangnya rahmat yang satu itu, maka hilang pula dari bulan, kesejukan dan cahaya yang ada padanya selama itu. Tidak tersisa lagi padanya kecuali kegelapan dan hawa yang sangat dingin. Dan dengan hilangnya rahmat tersebut maka hilang pula dari matahari, sinar dan kecemerlangan yang ada padanya selama ini, dan tidak tersisa lagi padanya kecuali kehitaman yang amat pekat dan kehangusan. Dan hilang pula sifat kasih sayang yang sebelumnya ada pada kedua benda itu, yaitu sikap menunda [hukuman] terhadap orang-orang durhaka, dan tetap [mengasihi] terhadap orang-orang fasik.

Semua itu berarti [dicabut dari keduanya] kendali penahanan dan kekang pencegahan terhadap kehancuran dan kebinasaan. Dan itulah sunnah Allah Ta’ala dalam membiarkan tetap berlakunya [susuatu] sampai waktu-waktu tertentu, dan sunnah-Nya dalam menangguhkan [mengakhirkan makhluk] sampai batas-batas yang ditetapkan, kecuali Dia menghendaki lain. Dan kalau sudah demikian halnya, maka tidak ada yang bisa menolak perintah-Nya, dan tidak ada yang bisa mencegah ketetapan-Nya. tidak ada Tuhan selain Allah, Mahasucilah Dia.”
(Dalam Mustadrak-nya [4/276], al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah separuh dari hadits ini dengan lafadz yang serupa, sampai dengan sabda Rasul: “…semuanya kepada orang-orang mukmin.] lalu dia katakan: “Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhani [Bukhari dan Muslim], tetapi keduanya tidak meriwayatkannya dengan redaksi seperti ini.” Adapun asal hadits ini adalah Shahih al-Bukhari [6000] dan shahih Muslim [2752].)

&