Menjual Batang dan Buahnya

13 Des

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para Imam madzab sepakat bahwa yang termasuk menjual pekarangan adalah tanah dan segala bangunan yang berada di atasnya termasuk kamar mandinya. Namun suatu yang dapat dipindahkan tidak termasuk di dalamnya, seperti timba, kerekan, tempat tidur, pintu, bejana, rak dan paku yang masih bagus. Menurut Hanafi: segala yang dipandang hak rumah tidak termasuk dalam penjualan meskipun bersambung dengan pekarangan. Zufar berpendapat apabila di dalam rumah terdapat perkakas dan kain-kain, barang tersebut masuk penjualan.

Apabila seseorang menjual pohon kurma, sedangkan di atasnya terdapat mayang kurma yang belum dikawinkan, ia ikut dijual. Adapun yang belum dikawinkan tidak termasuk. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hanafi berpendapat: mayang yang sedang keluar adalah hak penjual. Ibn Abi Laila berpendapat: buah kurma adalah hak pembeli.

Para imam madzab sepakat bahwa tidak termasuk yang terjual adalah pelana, kekang, dan tali kekang dalam penjualan kuda. Adapun menurut sebagian ulama, semua itu termasuk yang terjual.

Apabila seseorang menjual sebatang pohon yang di atasnya terdapat buah milik penjual maka penjual tidak dibebani keharusan memetik buah tersebut dengan segera, tetapi harus ditunggu masa memetiknya menurut kebiasaan. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi berpendapat: harus dipetik segera, tidak boleh dinantikan masa memetiknya.

Tidak dibolehkan menjual buah-buahan dan tanaman sebelum nyata baiknya dengan tidak disyaratkan memetik segera. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi berpendapat: menjualnya adalah sah secara mutlak dan hendaknya dipetik segera.

Jika seseorang menjual buah-buahan sesudah nyata baiknya, hukumnya adalah boleh. Demikian menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Sedangkan menurut Hanafi: tidak boleh menjualnya dengan syarat tidak dipetik segera.

Yang termasuk dalam penjualan adalah segala sesuatu yang ada bersamanya di dalam kebun itu. Adapun yang ada pada kebun lain, tidak termasuk di dalamnya. Demikian menurut Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Maliki berpendapat: boleh menjual yang ada di sekitarnya jika telah nyata kebaikan pada sebatang kurma, boleh dijual seluruh buah yang ada pada kebun tersebut. Al-Laits berpendapat: apabila telah nyata baiknya pada satu jenis buah-buahan yang ada dalam kebun, dibolehkan menjual seluruh jenis buah-buahan yang berada dalam kebun tersebut.

Apabila seseorang menjual buah yang telah nyata bainya dan buah yang akan keluar sesudah itu, penjualannya tidak sah. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan menurut Maliki: sah penjualannya.

Apabila seseorang menjual setumpuk makanan dengan mengecualikan beberapa mud, atau beberapa gantang yang sudah ditentukan, penjualannya tidak sah, sebagaimana tidak boleh mengecualikan suatu cabang tertentu dari sebatang pohon. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Menurut pendapat Maliki: Hal demikian adalah boleh.

Apabila seseorang mengatakan: “Aku jual kepadamu buah-buahan kebun ini kecuali seperempatnya.” Maka penjualan seperti itu adalah sah. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab. Al-Awza’i berpendapat: tidak sah penjualan yang demikian.

Tidak sah menjual kambing dengan mengecualikan sesuatu darinya, seperti kulit ataupun lainnya, baik dalam mukim maupun di dalam safar. Demikian menurut Hanafi dan Syafi’i. Menurut Hambali: hal demikian dibolehkan, jika yang dikecualikan adalah kepala dan telapaknya yang berada di bawah tumit. Maliki: boleh yang demikian dalam safar, tidak jika dalam mukim.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: