Waktu Shalat ‘Ashar

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Waktu shalat ‘ashar bermula bila bayang-bayang suatu benda itu sama panjang dengan benda itu sendiri, yakni setelah bayangan waktu tergelincir, dan berlangsung sampai terbenamnya matahari.

Dari Abu Hurairah ra.: “Bahwa Nabi saw. telah bersabda: ‘Siapa yang masih mendapatkan satu rakaat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, berarti ia telah mendapatkan shalat ‘Ashar.” (HR Jamaah serta Baihaqi dengan susunan perkataan sebagai berikut: “barangsiapa telah melakukan satu rakaat shalat ‘ashar sebelum matahari terbenam, kemudian melanjutkan shalatnya setelah matahari terbenam, maka berarti waktu ‘asharnya belum lagi luput.”)

Waktu fadhilah dan ikhtiar [utama dan biasa] berakhir dengan menguningnya cahaya matahari. Atas pengertian inilah ditafsirkan hadits-hadits Jabir dan Abdullah yang lalu.

Adapun yang menangguhkan shalat setelah saat menguning tersebut maka walaupun diperbolehkan tapi hukumnya makruh jika tak ada udzur.

Dari Anas ra: Saya dengar Rasulullah saw. bersabda: “Itu adalah shalat orang munafik. Ia duduk menunggu-nunggu matahari, hingga bila telah berada di antara dua tanduk setan, maka dipatuknya empat kali. Hanya sedikit ia mengingat Allah.” (HR Jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah)

Berkata Nawawi dalam “Syarah Muslim”: “Menurut shahabat kita, waktu ‘ashar itu ada lima macam:
1. Waktu fadhilah atau utama,
2. Waktu ikhtiar atau biasa,
3. Waktu jawaz yakni diperbolehkan tanpa makruh.
4. Waktu diperbolehkan tapi makruh, dan
5. Waktu uzur.”

Adapun waktu fadhilah ialah awal waktunya. Dan waktu ikhtiar berlangsung sampai bayang-bayang suatu benda itu dua kali panjangnya. Waktu jawaz dari saat itu sampai kuningnya matahari dan waktu makruh dari saat kuning hingga terbenamnya, sedang waktu uzur ialah waktu dhuhur bagi orang yang diberi kesempatan untuk menjama’ shalat ‘ashar dengan dhuhur, disebabkan dalam perjalanan atau karena hujan.

Melakukan shalat ‘ashar pada waktu yang kelima ini disebut ada’i yakni mengerjakan pada waktunya, dan jika telah luput kesemuanya disebabkan oleh terbenamnya matahari, maka disebut qadla’.

Pentingnya menyegerakan shalat ‘ashar pada hari mendung, diterima dari Buraida al aslami, katanya: pada suatu waktu kami berada di sebuah peperangan, bersama Rasulullah saw., sabdanya: “Segeralah melakukan shalat pada hari mendung! Karena siapa-siapa yang luput shalat ‘asharnya maka gugurlah amalan-amalannya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Berkata Ibnu Qaiyim: “Meninggalkan itu ada dua rupa: meninggalkan secara keseluruhan tanpa melakukannya sama sekali, maka ini menggugurkan semua amalan. Kedua meninggalkan secara sebagian-sebagian pada hari tertentu. Maka ini menggugurkan amalan pada hari itu.”

Shalat ‘ashar merupakan shalat wustha, artinya pertengahan. Firman Allah: “Peliharalah shalat-shalat itu, begitupun shalat wustha dan beribadahlah kepada Allah dengan menaati perintah-perintah-Nya.”

Dan telah diterima beberapa hadits shahih yang menegaskan bahwa shalat ‘asharlah yang dimaksud dengan shalat wustha.

1. Dari Ali ra: bahwa Rasulullah saw. bersabda pada waktu perang Ahzab: “Allah akan memenuhi kubur dan rumah-rumah mereka dengan api neraka, sebagaimana mereka menghalang-halangi kita dari shalat wustha sampai matahari terbenam.” (HR Bukhari dan Muslim. Sedang pada riwayat Muslim, Ahmad dan Abu Daud berbunyi berikut: “Mereka menghalangi kita shalat wustha, yakni shalat ‘ashar.”)

2. Dari Ibnu Mas’ud, katanya: orang-orang musyrik telah menahan Rasulullah saw. dari melakukan shalat ‘ashar sampai matahari menjadi merah dan kuning. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: ‘Mereka halangi kita dari shalat wustha yakni shalat ‘ashar. Semoga Allah akan memenuhi rongga perut dan kuburan mereka dengan api neraka!’ – atau ‘mengisi rongga perut dan kuburan mereka dengan api neraka.’-“ (HR Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah)

&

Satu Tanggapan ke “Waktu Shalat ‘Ashar”

  1. abu ubaidah al ISLAMiy 13 Januari 2018 pada 09.04 #

    بسم الله الرحمان الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
    Ada yg berpendapat bahwa bertanya ke dukun itu boleh asal dgn keyakinan bahwa semua tjd hanya atas izin ALLAH

    Jawab : klo percaya semua tjd hanya atas izin ALLAH, knp koq malah percaya sama dukun yg jelas2 minta tolong jin kafir???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: