Waktu Shalat Shubuh

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Shalat shubuh bermula dari saat terbitnya fajar shadik dan berlangsung sampai terbitnya matahari, sebagaimana tersebut dalam hadits yang lalu.

Disunnahkan menyegerakan shalat shubuh dengan melakukannya di awal waktu, berdasarkan hadits Abu Mas’ud al-Anshari: Bahwa Rasulullah saw. melakukan shalat shubuh di saat kelam di akhir malam, kemudian pada kali yang lain dilakukannya ketika hari telah mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukannya pada waktu gelap tersebut sampai beliau wafat, dan tak pernah lagi di waktu hari telah mulai terang.” (HR Abu Daud dan Baihaqi dan sanadnya shahih)

Dan dari ‘Aisyah ra. katanya: “Mereka, perempuan-perempuan Mukminat itu ikut melakukan shalat fajar bersama Nabi saw. dengan menyelubungi badan mereka dengan kain, dan setelah selesai shalat, mereka pulang ke rumah masing-masing tanpa dikenal oleh seorang pun disebabkan hari gelap.” (HR Jamaah)

Adapun hadits Rafi’ bin Khudeij, bahwa Nabi saw. bersabda: “Berpagihari-lah melakukan shalat shubuh karena pahalanya bagimu lebih besar.” Dan menurut suatu riwayat: “Berterang benderanglah melalukan shalat fajar, karena pahalanya lebih besar.” (HR Yang Berlima dan disahkan oleh Turmudzi dan Ibnu Hibban)

Maka yang dimaksud dengan terang benderang itu ialah ketika hendak pulang dari menyelesaikannya dan bukan ketika hendak memulainya. Jadi artinya ialah: Panjangkanlah bacaan dalam shalat, hingga kamu selesai dan berangkat pulang hari sudah mulai terang, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. biasa membaca dari 60-100 ayat, atau mungkin juga yang dimaksud menyelidiki kepastian terbitnya fajar, hingga ia tidak melakukannya berdasarkan hanya dugaan atau sangkaan belaka.

Barangsiapa mendapatkan satu rakaat sebelum habis waktu, berarti ia telah mendapatkan shalat keseluruhannya, berdasarkan hadits Abu Hurairah: bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat, berarti ia mendapatkan keseluruhan shalat itu.” (HR Jamaah)
Ketentuan ini mencakup semua shalat.

Dan menurut riwayat Bukhari: “Bila salah seorang di antaramu mendapatkan satu sujud dari shalat ‘ashar sebelum matahari terbenam, hendaklah ia menyelesaikan shalatnya. Dan jika ia mendapatkan satu sujud dari shalat shubuh sebelum matahari terbit, hendaklah ia menyempurnakan pula shalatnya.”

Yang dimaksud dari sujud di sini ialah rakaat. Dan menurut lahir hadits, siapa-siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh atau ‘ashar, tidaklah dimakruhkan baginya shalat sewaktu matahari terbit atau saat ia terbenam, walaupun kedua waktu itu merupakan waktu-waktu makruh.

Begitu juga shalat dianggap ada’i jika mendapatkan satu rakaat penuh, walaupun tidak dibolehkan menyengaja ta’khir sampai waktu tersebut.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: