Arsip | 15.03

PRIORITAS PERJUANGAN PEMIKIRAN

3 Jan

Yusuf Qardhawy, Fiqih Prioritas

Yang juga patut kita beri perhatian dalam usaha perbaikan masyarakat ialah mendahulukan segala hal yang berkaitan dengan pelurusan pemikiran, cara pandang, dan cara bertindak mereka. Tidak diragukan lagi bahwa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan perbaikan di dalam masyarakat. Karena sangat tidak masuk akal, bahwa amal perbuatan dapat meniti jalan yang benar, kalau pemikirannya tidak lurus. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:

“Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya sendiri bengkok?”

Oleh sebab itu, barangsiapa yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.

Atas dasar itu, pertarungan pemikiran –yakni pelurusan pemikiran yang menyimpang, dan konsep-konsep yang tidak benar– harus diberi prioritas dan didahulukan atas perkara yang lain. Hal ini digolongkan sebagai ‘perang besar’ –dengan al-Qur’an sebagai senjatanya– sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat al-Furqan; dan juga tergolong sebagai perang dengan lidah dengan memberikan penjelasan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw, “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta benda, jiwa, dan lidah kalian. ”

PERJUANGAN PEMIKIRAN DI DALAM PELATARAN ISLAM

Ada dua jenis medan pertarungan dalam pemikiran:

Pertama, pertarungan di luar Islam, melawan atheisme, orang-orang Nasrani, dan orang-orang orientalis yang selalu memerangi Islam, dari segi aqidah, syariah, warisan pemikiran, dan budaya. Mereka senantiasa memerangi kebangkitan apapun yang didasarkan pada Islam.

Kedua, pertarungan di dalam pelataran Islam, untuk membetulkan arah perbuatan yang patut dilakukan dalam Islam. Mengarahkan perjalanan hidupnya, dan meluruskan gerakannya, sehingga perbuatan tersebut dapat meniti jalan yang benar untuk menuju tujuan yang benar pula. Kami akan mempersingkat perbincangan tentang hal itu, karena sesungguhnya perbaikan secara internal merupakan dasar dan landasan yang harus kita beri prioritas.

Tidak diragukan lagi bahwa kita sekarang ini menghadapi berbagai arus pemikiran yang tidak benar:

a. Arus Pemikiran Khurafat:

1. Khurafat dalam aqidah;
2. bid’ah dalam ibadah;
3. Pemikiran yang stagnan;
4. Taqlid dalam fiqh;
5. Perilaku yang negatif; dan
6. Permainan yang tidak benar dalam politik.

b. Arus Pemikiran Literal

Yakni arus pemikiran yang literal. Arus pemikiran ini, walaupun keras dalam perkara agama dan pembelaannya, memiliki sifat-sifat yang menjadi ciri khas penganutnya; seperti:

1. Kontroversialisme dalam Aqidah;
2. Formalisme dalam ibadah;
3. Zahiriyah dalam fiqh;
4. Parsialisme dalam memberikan perhatian;
5. Kering dalam ruh;
6. Kasar dalam melakukan da’wah; dan
7. Menyempitkan diri dalam perselisihan pendapat.

c. Arus Pemikiran yang Reaktif dan Keras

Ada lagi aliran yang menolak masyarakat dengan semua institusinya. Walaupun pengikut aliran ini memiliki kelebihan dalam hal semangat dan keikhlasannya, tetapi ada sifat-sifat lain yang dimiliki olehnya; antara lain:

1. Keras dan kaku dalam menjalankan ajaran agama;
2. Membanggakan diri sehingga merasa superior dan melecehkan masyarakat;
3. Memiliki wawasan yang sempit dalam memahami agama, kenyataan hidup, suMah kauniyah, dan sunnah kemasyarakatan;
4. Tergesa-gesa mengambil tindakan sebelum waktunya;
5. Cepat mengkafirkan dan tidak hati-hati;
6. Mempergunakan kekuatan untuk mewujudkan cita-citanya; dan
7. Berprasangka buruk kepada selain kelompoknya.

d. Arus pemikiran yang moderat

Akan tetapi, ada pula arus pemikiran yang moderat, yang didasarkan pada keseimbangan dalam memahami agama, kehidupan, dan perjuangan untuk memenangkan agama. Arus pemikiran ini juga memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari arus pemikiran lainnya; antara lain penekanannya terhadap prinsip-prinsip berikut ini:

1. Memahami ajaran agama dengan pemahaman yang menyeluruh, seimbang, dan mendalam;
2. Memahami kehidupan nyata tanpa meremehkan atau takut kepadanya. Yaitu kehidupan nyata kaum Muslimin dan kehidupan nyata musuh-musuh mereka;
3. Memahami sunnatullah dan hukum-hukum-Nya yang tetap dan tidak berubah-ubah, khususnya hukum yang berkaitan dengan masyarakat manusia;
4. Memahami tujuan syariah, dengan amalan lahiriah yang tidak stagnan;
5. Memahami masalah prioritas, yang berkaitan dengan fiqh pertimbangan;
6. Memahami perselisihan pendapat dan tata caranya, serta menghadapinya dengan sifat yang diajarkan oleh Islam (bekerja sama dalam masalah yang disepakati dan memberikan toleransi kepada orang yang berselisih pendapat dengannya);
7. Mempertimbangkan antara perkara-perkara syariah yang tetap dengan perubahan zaman;
8. Menggabungkan antara pendapat salaf dan khalaf (antara pendapat yang orsinil dan pendapat yang modern);
9. Percaya kepada adanya perubahan pemikiran, kejiwaan dan perilaku yang didasarkan kepada perubahan budaya manusia;
10.Mengemukakan Islam sebagai proyek peradaban yang sempurna, untuk membangkitkan umat dan menyelamatkan manusia dari filsafat materialisme modern;
11.Mengambil jalan yang paling mudah dalam memberikan fatwa dan memberikan kabar gembira dalam melakukan da’wah;
12.Memunculkan nilai-nilai sosial dan politik dalam Islam, seperti: kebebasan, kehormatan, musyawarah, keadilan sosial, dan menghormati hak asasi manusia;
13.Mau berdialog dengan orang lain dengan cara yang baik, yaitu dengan para penentang dari orang-orang bukan Islam, atau orang Islam yang inferior secara pemikiran dan keruhanian; dan
14.Mempergunakan jihad sebagai jalan untuk mempertahankan kehormatan kaum Muslimin dan negeri mereka.

Itulah arus pemikiran yang harus kita percayai dan kita anjurkan, serta kita anggap sebagai ungkapan hakiki tentang Islam, sebagaimana diturunkan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya, dan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw dalam sunnah dan sirah-nya; serta seperti apa yang dipahami dan diterapkan oleh para sahabat dan khulafa’ rasyidin serta yang dipahami oleh para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik; sehingga mereka menjadi abad yang terbaik dalam perjalanan hidup umat ini.

TUGAS PENTõNG ARUS PEMIKIRAN MODERAT

Tidak diragukan lagi bahwa arus pemikiran di atas menjadi tumpuan harapan bagi hari esok dan masa depan umat. Kita harus berusaha keras untuk menganjurkan orang berpikiran seperti itu; mendidik para pendukungnya; memberikan jawaban yang memuaskan terhadap musuhnya; melakukan dialog dengan para penentangnya.

Di antara perkara yang kita ketahui bersama sekarang ini dengan bukti-bukti yang cukup memadai ialah bahwasanya kekuatan-kekuatan yang menentang –baik yang ada di dalam dan di luar– lebih takut terhadap arus pemikiran seperti ini daripada yang lainnya. Bahkan kekuatan itu cenderung lebih membenci dan memusuhinya daripada arus-arus pemikiran lainnya.

Dahulu musuh-musuh Islam mewaspadai arus pemikiran yang keras dan kaku, namun kini telah muncul ancaman baru, sehingga mereka berkata, “Hati-hati terhadap Islam yang moderat. Ia lebih berbahaya daripada yang lainnya. Arus-arus pemikiran yang lain umurnya pendek dan tidak dapat hidup lama. Adapun arus pemikiran Islam yang moderat ini terus-menerus berlangsung dalam tempo yang cukup lama. Kemoderatan arus ini –menurut dugaan mereka– tidak dapat dianggap aman. Ia mulai bergerak dengan moderat tetapi kemudian berkembang menjadi ekstrem, karena sesungguhnya ekstremitas tetap tersimpan dalam Islam, sebagaimana yang mereka katakan.

Dari sini musuh-musuh Islam mengkhawatirkan bahaya Islam yang terus merangkak menuju mereka, yang mereka namakan sebagai ‘bahaya hijau,’ sekaligus mereka jadikan sebagai musuh baru, sebagai ganti ‘bahaya merah’ yang telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya komunisme dari daratan Eropa. Akan tetapi musuh-musuh Islam yang betul-betul sadar, percaya bahwa bahaya Islam hanyalah khayalan belaka dan bukan kenyataan.

Arus pemikiran yang moderat ini mesti menghadapi orang-orang seperti itu dan menyingkapkan kepalsuan mereka, serta mau melakukan dialog dengan orang-orang yang moderat dari kalangan mereka.

Di samping itu, arus pemikiran ini selayaknya juga menghadapi anak-anak mereka sendiri dan para mahasiswa yang ada di dalam negeri Islam, dan juga orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam tetapi mereka memusuhi proyek peradaban Islam dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Mereka berdiri pada barisan musuh umat dan agamanya. Mereka adalah orang yang disifatkan oleh Rasulullah saw yang mulia dalam hadits Hudzaifah yang disepakati ke-shahih-annya bahwa mereka adalah:

“Para penganjur kepada pintu-pintu neraka Jahanam. Barangsiapa menyambut ajakan mereka, mereka akan dilemparkan ke dalamnya.” Kemudian para sahabat berkata, “Tunjukkan sifat-sifat mereka kepada kami wahai Rasulullah.” Beliau kemudian bersabda, “Mereka berkulit seperti kita, dan berbicara dengan bahasa kita.” (Muttafaq ‘Alaih dari Hudzaifah, al-Lu’lu’ wal-Marjan.)

Oleh sebab itu, adalah penting bagi kita untuk memerangi orang- orang yang merusak pemikiran umat, menyesatkan mereka dari hakikat dan identitas yang asli (fitrah Islam). Mereka meletakkan racun berbisa dalam madu yang manis, dan dalam lemak yang lezat; berupa bahan bacaan (majalah, tabloid dsb.), atau audio-visual (berupa musik dan tontonan-tontonan yang menjijikkan). Media-media seperti itu menghancurkan moral anak-anak kita, sebagaimana penyakit AIDS yang begitu dahsyat membunuh manusia.

Sesungguhnya saudara-saudara kita yang ter-Barat-kan (Westernized) membawa pemikiran para penjajah, setelah para penjajah itu sendiri mencabut tongkatnya dan meninggalkan tanah air kita. Merekalah yang membawa kembali konsep-konsep Orientalis dan Salibis, yang kebanyakan tidak bekerja dengan tulus untuk kemajuan peradaban kita pada hari ini. Kalaupun ada yang betul-betul tulus hatinya, mereka tidak mempunyai perangkat yang baik untuk memahami peradaban kita, sumber-sumber dan warisan yang diberikan olehnya. Perangkat yang paling penting adalah bahasa dan cita rasa terhadap bahasa tersebut.

Pertarungan kita yang hakiki adalah pertarungan kita melawan “para ekstrimis” yang sebenarnya. Mereka terdiri atas para pengikut sekularisme dan sisa-sisa Marxisme. Pada hari ini mereka menggunakan baju liberalisme Barat, yang mempertajam senjata pena mereka untuk memerangi Kebangkitan Islam, dan kebangkitan barunya; mengacaukan da’wahnya; menghalangi para dainya; dan menciptakan istilah-istilah baru untuk menjauhkan umat dari agamanya (Islam); seperti: Islam politik, atau fundamentalisme. Mereka jugamenciptakan perpecahan dan pertempuran berdarah antara rakyat dan pemerintahan Islam yang sedang berkuasa, untuk melemahkan kekuatan negara. Pertempuran itu tidak pernah berhenti, karena bila satu pertempuran selesai, maka muncul pertempuran lainnya dengan bentuk yang baru dan lebih dahsyat.

Sesungguhnya usaha untuk mengalihkan pertarungan dari jalur itu, dan upaya untuk menciptakan musuh-musuh yang berasal dari kalangan aktivis Islam itu sendiri, yang berselisih pendapat dengan sebagian orang dalam masalah-masalah cabang di dalam fiqh, ataupun cabang di dalam aqidah, ataupun dalam memberikan prioritas amalan, atau dalam masalah-masalah kecil lainnya, merupakan satu kelalaian besar akan hakikat musuh yang mengintai dari semua arah.

Musuh-musuh ini menginginkan agar umat Islam saling membunuh antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Mereka hanya ingin menonton pertarungan itu dari jauh, kemudian di akhir pertarungan mereka memberikan pukulan yang mematikan terhadap semua kelompok yang sedang bertarung itu. Kalau ada di antara para da’i Muslim yang melakukan hal itu, maka ini adalah musibah yang sangat besar. Karena sesungguhnya ketidaktahuan terhadap masalah seperti itu dianggap sangat membahayakan. Dan siapa yang melakukannya padahal dia mengetahui masalah yang sebenarnya, sungguh merupakan musibah yang lebih besar, yang sudah barang tentu bahayanya juga jauh lebih besar. Sebab, ia dapat dianggap sebagai satu bentuk pengkhianatan terhadap Islam, umat, dan kebangkitan.

Salah seorang penyair berkata, “Kalau kamu tidak mengetahui bahwa kamu sedang diadu domba maka itu adalah suatu musibah. Tetapi bila kamu mengetahuinya, maka musibahnya lebih dahsyat. ”

Saya yakin bahwa arus pemikiran moderat ini mempunyai tugas besar yang harus diusahakan dengan serius. Tugas itu mesti dilakukan dengan kejujuran dan keikhlasan untuk menyatukan barisan kaum Muslimin –barisan orang-orang yang bekerja untuk Islam– di atas landasan yang tidak mengandung pertentangan, atau di atas dasar rukun aqidah yang enam: iman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdirnya. Selain didasarkan kepada rukun amalan yang lima: dua kalimah syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Rumah Allah. Serta didasarkan kepada dasar-dasar sifat dan perilaku yang baik, serta menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan yang diharamkan, khususnya dosa-dosa besar.

Sebenarnya kita dapat melakukan pertemuan yang didasarkan kepada landasan-landasan utama tersebut, dan tidak mengapa bagi kita untuk berselisih pendapat dalam masalah-masalah juz’iyyat dan kecil. Kita boleh berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah, berbeda pendirian, dan berbeda pendapat dalam mengambil kesimpulan hukum melalui ijtihad.

Perbedaan seperti itu diperlukan dalam menjalankan agama, dan sudah menjadi tabiat manusia biasa, serta sifat alam semesta dan kehidupan ini, sebagaimana yang telah saya paparkan secara terperinci dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-lkhtilaf al-Masyru’ wa al-Tafarruq al-Madzmum.

Saya telah menyebutkan pada berbagai buku yang saya tulis bahwasanya boleh saja jumlah jamaah para aktivis Islam menjadi banyak, asal jumlah yang banyak itu mempunyai spesialisasi masing-masing, dan bukan jumlah yang banyak tetapi saling bertentangan dan bermusuhan satu sama lain. Karena sesungguhnya pertentangan dan permusuhan akan menyebabkan kehancuran.

Kita harus berusaha dengan gigih untuk menyatukan para aktivis yang berkhidmat untuk Islam, menyokong da’wahnya, menegakkan syariahnya, dan menyatukan umatnya. Usaha gigih dalam bentuk pemikiran dan tindakan praktis untuk mendekatkan jurang pemisah, menanamkan kepercayaan, menanamkan suasana toleran dan prasangka baik, menjernihkan jiwa dari perasaan ujub, tertipu, dan menuduh serta menghina orang lain.

“Seseorang telah dianggap berbuat jahatr apabila dia telah melakuan penghinaan terhadap saudaranya yang Muslim.” (7 Diriwayatkan okh Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Menurut pandangan saya, pekerjaan tersebut tergolong prioritas yang sangat penting dan harus didahulukan di lapangan Islam pada hari ini. Jika para aktivis Islam tidak menyadari adanya perpecahan yang sedang mereka jalani, maka seluruh umat Islam akan dilindas. Mereka akan dimangsa oleh taring dan kuku tajam musuh Islam dan umat Islam. Arus pemikiran akan dimatikan demi arus pemikiran yang lain. Satu kelompok akan dibunuh menyusul kelompok yang lain sampai semuanya dapat dimusnahkan.

Apabila kita pada hari ini memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai kekuatan umat kita yang besar, dari satu benua ke benua yang lain, maka hendaknya kita berjerih payah –paling tidak– untuk menyatukan kekuatan besar yang terpisah-pisah itu agar dapat menyongsong Kebangkitan Islam. Kebangkitan yang dapat diajak untuk berdialog dan saling memahami, yaitu dengan menghilangkan ganjalan-ganjalan dan ektremisme, mendekatkan konsep-konsep berlainan, mengatur langkah, menghadapi berbagai masalah perjalanan hidup umat dalam satu barisan, bekerja sama, dan memberikan toleransi pada perbedaan pendapat.

Usaha saling memahami, bekerja sama dan menyatukan pandangan merupakan satu kewajiban agama, dan keperluan hidup yang sangat mendesak. Jika kita tidak dapat disatukan oleh satu pemikiran, maka hendaknya kita dapat disatukan oleh pelbagai bencana yang mengancam kita; sebagaimana dikatakan oleh Syauqi,

“Kalau jenis diri kita ini wahai Ibn Talh memisahkan kita, maka sesungguhnya pelbagai musibah yang mengancam seharusnya dapat menyatukan barisan kita.”

PENERAPAN HUKUM SYARIAH ATAUKAH PEMBINAAN DAN INFORMASI

Terjadi suatu perdebatan di sini bahwasanya kebanyakan orang-orang yang bekerja di lapangan Islam –khususnya orang-orang yang sangat ambisius- memberikan perhatian yang sangat besar kepada persoalan yang mereka sebut “penerapan syariah Islam”. Mereka hanya memberikan perhatian kepada satu segi saja, yaitu penerapan hukum Islam, terutama hukum hudud, qishas, dan ta’zir.

Sesungguhnya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pekerjaan tersebut merupakan salah satu bagian dari Islam, yang tidak boleh kita lalaikan, atau kita berpaling darinya. (Lihat buku kami Malamih al-Mujtama’ al-Muslim al-ladzi Nansyuduh, bab “at-Tasyri’ wal-Qanun.”)

Akan tetapi kalau kita sangat berlebihan memberikan perhatian kepadanya dan membicarakannya, serta menganggapnya sebagai masalah yang utama dan puncak tujuan kita, maka sesungguhnya hal ini akan membawa kesan yang buruk terhadap pemikiran Islam, dan amal Islami, atau kesan yang tidak baik dalam pemikiran masyarakat awam. Keadaan seperti ini dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, yang dapat membahayakan syariah dan da’wahnya. Saya selalu mengatakan, “Sesungguhnya hukum-hukum saja tidak akan dapat menciptakan masyarakat, dan tidak dapat membangun umat. Sesungguhnya yang dapat membentuk masyarakat dan membangun umat adalah pendidikan dan pengajaran, kemudian hukum-hukum tersebut memberikan perlindungan dan perisai kepadanya.”

Oleh sebab itu, kita mesti memberikan perhatian terhadap persoalan yang hakiki ini dari segi pemikiran dan tindakan. Kita harus membuat rencana pengembangan dan rancangan yang sesuai untuk mempersiapkan “Pendidikan Islam yang Sempurna dan Modern” yang terus mengikuti perkembangan anak-anak Muslim sejak dari buaian, hingga mereka keluar dari universitas, dengan mempergunakan metode yang sesuai, sistem yang menarik, sarana audio visual, teknnologi canggih, yang dapat mewujudkan pentingnya agama bagi kehidupan, dan menegaskan kesempurnaan Islam, keadilan hukum-hukumnya, kemukjizatan kitab sucinya, keagungan Rasul, keseimbangan peradaban, dan kekekalan umatnya.

Pendidikan itu tidak harus dilakukan dalam pelajaran agama atau pendidikan Islam saja. Tetapi dimasukkan dalam setiap mata pelajaran, bahan-bahan kajian ilmiah dan sastra. Pendidikan itu dimasukkan dalam mata pelajaran dan ilmu-ilmu sosial, bahasa dan sastra, dan juga dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Suasana di sekolah, tempat belajar harus diusahakan yang Islami agar dapat membantu menumbuhkan generasi Muslim yang percaya kepada Allah, bangga terhadap agama dan umatnya. Generasi yang tumbuh dengan sempurna dengan ruh, akal, tubuh dan perasaannya, ikhlas kepada tuhannya, berkhidmat kepada negaranya, toleran terhadap orang lain, dan melakukan kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Kita harus menghadapi pemikiran fiIsafat, metodologi materialisme dan komunisme, yang kosong dari ruh agama, dan bertolak belakang dengan filsafat Islam tentang pandangannya terhadap Allah dan manusia, serta tentang hidup dan alam semesta, dan tentang agama serta dunia.

Di samping itu kita juga mesti membuat penelitian dan pengembangan dalam bidang lainnya, misalnya dalam bidang informasi dan kebudayaan, yang memiliki pengaruh dan kesan yang luar biasa terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Perangkat informasi yang membentuk pemikiran, kecenderungan, perasaan, trend pemikiran dan jiwa manusia.

Dalam keadaan apapun, bidang inforrnasi ini tidak boleh kita berikan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Islam, sebagai rujukan yang paling tinggi dalam kehidupan kaum Muslimin dan jamaah Muslim, dalam bergaul, berpikir dan berperilaku.

Ada dua titik tolak yang saling menyempurnakan dalam tindakan yang dapat kita lakukan.

Pertama, mempersiapkan ahli informasi Muslim dalam semua bidang kehidupan, pada semua peringkatnya, yang mampu menampilkan bahwa Islam mempunyai berbagai kemampuan yang besar untuk setiap zaman.

Termasuk dalam kelompok ini adalah para seniman dari berbagai bidang; seniman dalam bidang nasyid, drama, dan lakon.

Atas dasar itu, kita memerlukan orang yang dapat menulis skenario, sutradara (pengarah), artis, juru kamera, dan juga eksekutifnya.

Perkara ini tidaklah mudah, karena berkaitan dengan hukum-hukum agama dan non-agama. Kita harus membuat target tertentu, prasarana yang jelas, pentahapan yang jelas, agar tidak mengalami kekurangan, dan pembinaan manusia dapat dilakukan dengan sempurna. (9 Lihat buku kami Malamih al-Mujtama’ al-Muslim al-ladzi Nansyuduh, bab “al-Lahw wa al-Funun.”)

Kedua, kita berusaha mempengaruhi para ahli informasi dan seniman di masa kini. Karena sesungguhnya di antara mereka ada orang-orang Islam yang salat dan mau berpuasa, tetapi mereka –karena latar belakang pendidikan dan budayanya—menyangka bahwa apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan Islam, dan tidak mendatangkan kemurkaan Allah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang telah mengetahuinya, akan tetapi mereka terpengaruh dengan gaya hidup orang di sekitarnya dan kebiasaan hidupnya sehari-hari.

Kita harus berusaha dengan keras untuk meraih mereka, sehingga mereka memahami ajaran agama mereka dan bertobat kepada Thhan, dan akhirnya mereka bergabung dengan kafilah dai islam dan sifat-sifat utamanya.

Pada tahun-tahun terakhir ini saya telah menyaksikan beberapa orang seniman dan artis yang bertobat, dan para bintang film wanita. Akan tetapi kebanyakan mereka telah menjauhkan diri dari seni dan para seniman, untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka lari membawa agamanya.

Sebetulnya, ada tindakan yang lebih baik yang dapat mereka lakukan. Ialah tetap berada dalam bidang sulit itu, dan mempergunakan perkataan Umar bin Khattab setelah dia masuk Islam sebagai pedoman mereka:

“Demi Allah, tidak ada suatu tempat yang dahulu saya pergunakan untuk menyebarkan kejahiliyahan kecuali tempat itu harus sayapergunakan juga untuk menyebarkan Islam.”

Tindakan seperti ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan melakukan kerja sama berbagai pihak, dan menyingkirkan kerikil-berikil tajam di jalanan.

&

MENGAPA PEMBINAAN LEBIH DIBERI PRIORITAS?

3 Jan

Yusuf Qardhawy, Fiqih Prioritas

Mengapa pembinaan lebih diberi prioritas daripada peperangan? Dalam memberikan jawaban bagi pertanyaan di atas dapat kami jelaskan beberapa hal berikut ini:

Pertama, sesungguhnya peperangan dalam Islam bukan sembarang perang. Ia adalah peperangan dengan niat dan tujuan yang sangat khusus. Ia adalah peperangan dalam membela agama Allah SWT. Nabi saw pernah ditanya tentang seorang lelaki yang berperang karena perasaan fanatik terhadap kaumnya, dan seorang yang berperang agar dia dikatakan sebagai pemberani, serta orang yang berperang untuk memperoleh barang pampasan, manakah di antara mereka yang termasuk berperang di jalan Allah? Nabi saw menjawab, “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah yang berada di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Jama’ah [Ahmad dan penyusun al-Kutub al-Sittah], dari Abu Musa, Shahih Jami’ as-Shaghir [6417])

Sikap melepaskan diri dari berbagai dorongan duniawi tidak dapat muncul dengan tiba-tiba, tetapi harus melalui pembinaan yang cukup panjang, sehingga dia melakukan ajaran agamanya hanya untuk Allah.

Kedua, sesungguhnya hasil perjuangan yang ingin dinikmati oleh orang-orang Islam yang ikut berperang ialah kemenangan mereka atas kekafiran. Kemenangan dan kekuasaan ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman dan melaksanakan tugas serta kewajibannya. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah:

“…sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar…” (al-Hajj: 40-41)

“Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku…” (an-Nur: 55)

Sesungguhnya orang-orang yang diberi kedudukan dan kemenangan oleh Allah sebelum pembinaan mereka ‘matang,’ seringkali malah melakukan berbagai kerusakan di muka bumi daripada melakukan perbaikan.

Ketiga, menurut sunnatullah, kedudukan itu tidak akan dapat terwujudkan, kecuali setelah orang yang berhak memperolehnya lulus dari berbagai ujian Allah terhadap hati mereka, sehingga dapat dibedakan antara orang yang buruk hatinya dan orang yang baik hatinya. Itulah salah satu bentuk pendidikan praktis yang dialami oleh para nabi dan orang-orang yang menganjurkan orang lain untuk berpegang kepada ajaran Allah pada setiap zaman.

Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah yang lebih utama bagi orang mu’min, mendapatkan ujian atau mendapatkan kedudukan di muka bumi ini?” Dia menjawab, “Apakah ada pemberian kedudukkan sebelum terjadinya ujian? Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan kedudukan kepada Yusuf setelah dia mengalami ujian dari Allah, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja dia kehendaki di bumi Mesir itu…” (Yusuf: 56)

Sesungguhnya kedudukan yang diperoleh dengan cara yang mudah dan gampang dikhawatirkan akan mudah dihilangkan oleh orang yang mendudukinya dan menyia-nyiakan hasilnya. Berbeda dengan orang-orang yang berjuang dengan jiwa dan harta benda mereka sendiri, sehingga mereka merasakan suka-duka, dan ujian yang sangat berat hingga dia diberi kemenangan oleh Allah SWT.

&

PEMBINAAN SEBELUM JIHAD

3 Jan

Yusuf Qardhawy, Fiqih Prioritas

INILAH yang menjadikan para pembaharu pada hari ini menyerukan wajibnya mendahulukan pendidikan daripada peperangan, mendahulukan pembentukan pribadi daripada menduduki pos-pos yang penting.

Yang kami maksudkan dengan pendidikan dan pembentukan di sini ialah membina manusia mu’min, yang dapat mengemban misi da’wah; bertanggung jawab menyebarkan risalah Islam; tidak kikir terhadap harta benda; tidak sayang kepada jiwanya dalam melakukan perjuangan di jalan Allah. Pada saat yang sama dia merupakan contoh hidup yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam dirinya, sekaligus menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam dirinya orang melihat Islam yang benar-benar hidup.

Pembinaan dan pendidikan manusia seperti itu merupakan tuntutan manusia sepanjang zaman, khususnya apabila kita hendak membuat landasan bagi agama yang baru, atau umat baru yang mempunyai misi yang baru. Ketika ada suatu agama yang sedang melemah, kemudian umatnya dihinggapi dengan kerapuhan, maka agama ini memerlukan suasana baru, dan umatnya perlu dihidupkan. Maka tidak ada jalan bagi agama itu kecuali melakukan pembaruan, menghidupkan dan memperbaiki umatnya. Yaitu mendidik generasi baru untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya.

Pembinaan dan pembentukan manusia seperti itu, merupakan gambaran yang paling tepat bagi generasi mu’min yang hendak mengemban panji perbaikan dan kebangkitan. Usaha seperti itu harus mendahului perjuangan bersenjata untuk mengubah suatu masyarakat dan mendirikan negara.

Oleh karena itu, tugas penting yang dilakukan oleh Al-Qur’an pada masa Makkah –selama tiga belas tahun– adalah membina manusia, mendidik generasi baru dengan pendidikan keimanan, akhlak, dan akal pikirannya secara sempurna. Teladan yang paling sempurna bagi generasi baru ini adalah Rasulullah saw.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (al-Ahzab: 21)

Tugas utama al-Qur’an pada periode Makkah ialah menanamkan aqidah, Sifat-sifat yang baik, akhlak yang mulia; menanamkan pandangan hidup yang sehat, pemikiran yang benar; menolak keyakinan-keyakinan Jahiliyah, sifat-sifat buruk yang merusak pemikiran manusia dan perilakunya; serta menjalin hubungan yang kuat antara manusia dan tuhannya dengan jalinan yang tidak dapat dipisahkan.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (al-Muzzzammil: 1-5)

Pembinaan yang mendalam pada ‘sekolah’ malam, sekolah al-Qur’an adalah untuk mempersiapkan penerimaan ‘perkataan yang berat’ yang ditunggu tunggu olehnya. Ungkapan berat di sini tidak lain adalah berat dari segi tanggung jawabnya.

Kemudian ayat-ayat al-Qur’an turun dengan cara seperti itu, menanamkan aqidah dan konsep-konsep; menanamkan nilai-nilai dan sifat-sifat mulia; menyucikan akal dan hati dari kotoran-kotoran Jahiliyah; mendidiknya di atas makna-makna iman. Pekerjaan yang menuntut kesabaran, keteguhan, ketegaran, pengorbanan dalam membela kebenaran dan melawan kebatilan, dalam membersihkan akal pikiran dari penipuan yang buta terhadap para nenek moyang, pemimpin dan pembesar yang sesat. Pendidikan seperti ini mesti dilakukan sebelum turunnya satu ayat yang memerintahkan peperangan bersenjata, pertumpahan darah terhadap orang-orang musyrik dan para penyembah Taghut.

Bahkan para sahabat datang kepada Nabi saw mengadukan kepadanya bahwa di antara mereka ada yang dipukul, dan dilukai oleh orang-orang musyrik. Para sahabat menuntut kepada Nabi saw untuk mengangkat senjata sebagai usaha membela diri, memerangi musuh mereka dan musuh agama mereka. Akan tetapi Nabi saw berkata kepada mereka, sebagaimana dikisakkan oleh al-Qur’an:

“… Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat…” (an-Nisa’: 77)

Jawaban itu bukan berarti melecehkan perjuangan bersenjata, yang merupakan puncak pengabdian dalam Islam. Akan tetapi jawaban itu ada kaitannya dengan pelbagai pemberian prioritas; khususnya prioritas terhadap pendidikan dan pembentukan pribadi Muslim.

Di antara pendidikan yang baik yaitu menyiapkan jiwa-jiwa yang sanggup berperang ketika tiba masanya untuk itu, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Muzzammil:

“…Dia mengetahui balnva akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah…” (al-Muzzammil: 20)

Perjuangan yang terakhir ialah perjuangan bersenjata, berjuang dengan pedang dan tombak. Sedangkan perjuangan dengan da’wah dan memberikan penjelasan kepada manusia, dan perjuangan dengan al-Qur’an adalah perjuangan yang harus dilakukan sejak hari pertama. Dalam surat al-Furqan –yang tergolong surat Makkiyah– Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw:

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar” (al-Furqan: 52)

Begitu pula berjihad dalam kesabaran dan keteguhan, serta mempertahankan diri ketika menerima siksaan dari orang-orang kafir ketika berda’wah di jalan Allah. Begitulah yang disebutkan pada awal surat al-Ankabut:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dan azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dan semesta alam.” (al-Ankabut: 2-6)

Pendidikan yang sedang kita bincangkan adalah termasuk jenis pendidikan ini, yakni berjihad di jalan Allah.

Imam Ibn al-Qayyim menyebutkan dalam al-Hady al-Nabawi, terdapat tiga belas tingkatan jihad. Empat tingkatan jihad yang berkaitan dengan jihad terhadap hawa nafsu, dua tingkatan jihad terhadap setan, tiga tingkatan jihad kepada pelaku kezaliman, bid’ah, dan kemungkaran, dan empat tingkatan lainnyajihad terhadap orang-orang kafir, dan jihad dengan hati, lidah, dan harta benda. Jihad yang mesti ditempatkan pada urutan yang terakhir ialah jihad dengan jiwa dan tangan kita.”

Dia melanjutkan, “Karena jihad yang paling utama itu adalah mengatakan sesuatu yang benar di hadapan suasana yang sangat keras; seperti mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang ditakutkan siksaannya, maka dalam hal ini Rasulullah saw menduduki tempat jihad yang tertinggi dan paling sempurna.”

Karena jihad terhadap musuh-musuh Allah merupakan bagian dari jihad seorang hamba terhadap hawa nafsunya dalam meniti jalan Allah; sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw,

“Orang yang sebenanya berjihad ialah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya dalam meniti ketaatan terhadap Allah. Dan orang yang sebenanya berhijrah ialah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang oleh-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, 6: 21, dari Fudhalah bin ‘Ubaid dengan lafal, “Orang yang berhijrah ialah orang yang berhijrah dari kesalahan dan dosa-dosa.” yang di-shahih-kan oleh Ibn Hibban (al-Ihsan. 4862); al-Hakim, 1: 11; yang di-shahih-kan olehnya sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim. yang juga disepakati oleh adz-Dzahabi)

Maka sesungguhnya jihad terhadap hawa nafsu harus didahulukan daripada jihad terhadap musuh Islam. Karena sesungguhnya orang yang belum berjihad melawan hawa nafsunya terlebih dahulu untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, dan meninggalkan apa yang dilarang baginya, serta memeranginya di jalan Allah, maka dia tidak boleh melakukan jihad terhadap musuh yang ada di luar dirinya. Bagaimana mungkin dia dapat melawan musuh dari luar, pada saat yang sama musuh dari dalam dirinya masih menguasainya dan tidak dia perangi di jalan Allah SWT? Sehingga tidak mungkin ia keluar melawan musuhnya, sebelum dia memerangi musuh yang berada di dalam dirinya.

Dengan adanya dua musuh ini, seorang hamba diuji untuk melawannya. Dan di antara kedua musuh ini masih ada musuh yang ketiga, yang tidak mungkin baginya untuk memerangi kedua musuh itu kecuali dengan melakukan perang terlebih dahulu kepada musuh yang ketiga ini. Musuh ini berdiri menghalangi hamba Allah untuk melakukan peperangan terhadap kedua musuh itu. Dia selalu menggoda hamba Allah dan menggambarkan bahwa kedua musuh itu begitu berat baginya, karena dengan memerangi kedua musuh itu manusia akan meninggalkan perkara-perkara yang lezat dan enak. Sesungguhnya manusia tidak akan dapat memerangi kedua musuh itu kecuali dia telah mengalahkan musuh yang ketiga. Perang terhadap musuh yang ketiga ini merupakan dasar bagi peperangan terhadap musuh yang pertama dan kedua. Musuh yang ketiga itu adalah setan. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuhmu …” (Fathir: 6)

Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan bahwa kita harus mempergunakan segala kekuatan kita untuk memeranginya. Seakan-akan dia adalah musuh yang tidak ada hentinya, dan tidak ada seorang hambapun yang boleh melalaikan perang terhadapnya.

Itulah tiga musuh yang harus diperangi oleh manusia. Kaum Muslimin telah diuji untuk memerangi ketiga musuh itu karena ketiga-tiganya telah menguasai diri mereka sebagai ujian dari Allah SWT… sebagian orang di antara mereka diciptakan sebagai ujian atas sebagian yang lain, untuk menguji siapakah yang betul-betul membela Rasulullah saw dan siapakah yang termasuk dalam kelompok yang membela setan.

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar betul-betul berjuang, sebagaimana mereka diperintahkan agar betul-betul bertaqwa kepada-Nya. Taqwa yang benar ialah mentaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya, ingat kepada-Nya dan tidak melupakan, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengingkari-Nya. Dan jihad yang benar ialah berjihad terhadap hawa nafsunya, untuk menyerahkan hati, lidah, dan seluruh anggota tubuhnya kepada Allah. Semua untuk Allah dan demi Allah, bukan untuk dirinya dan demi dirinya sendiri.

Orang mu’min yang benar ialah orang yang memerangi setan dan mendustakan janji-janji yang diberikan olehnya, mengingkarinya, dan menentang larangannya. Sesungguhnya, setan memberikan janji dan harapan yang palsu, menipu manusia, menyuruh kepada perbuatan keji, dan melarangnya untuk bertaqwa kepada Allah SWT, melarangnya menjaga kesucian diri, dan melarang untuk beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, perangilah setan, dustakan segala janjinya, dan jangan turuti perintahnya. Sehingga dengan demikian akan tumbuh kekuatan untuk melakukan peperangan terhadap musuh-musuh Allah SWT yang berada di luar dirinya, dengan hati, lidah, tangan, dan harta kekayaannya, untuk menegakkan kalimat Allah yang Maha Tinggi.

Ibn al-Qayyim berkata, “Jika perkara itu telah dipahami, maka sesungguhnya jihad itu memiliki empat tingkatan: Jihad terhadap hawa nafsu, jihad terhadap setan, jihad terhadap orang-orang kafir, dan jihad terhadap orang-orang munafiq.”

Sementara jihad terhadap diri sendiri, musuh yang ada di dalam diri manusia itu juga memiliki empat tingkatan:

Pertama, berjihad terhadap diri sendiri untuk mengajarkan petunjuk kepadanya, petunjuk agama yang benar yang tidak ada kemenangan, kebahagian hidup di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Kalau manusia tidak mengetahui petunjuk tersebut, maka dia akan mengalami kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat

Kedua, berjihad terhadapnya untuk melaksanakan petunjuk tersebut setelah diketahuinya. Jika tidak, maka pengetahuan yang dimilikinya hanya akan berwujud ilmu pengetahuan tanpa amal. Kalaupun ilmu itu tidak membahayakannya, tetapi pasti tidak bermanfaat baginya.

Ketiga, berjuang terhadap diri sendiri untuk mengajak orang lain kepada petunjuk tersebut, mengajari orang yang belum mengetahuinya. Jika tidak, maka dia akan termasuk orang yang menyembunyikan petunjuk dan penjelasan yang diturunkan oleh All ah SWT. Ilmunya tidak bermanfaat, dan tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah SWT.

Keempat, berjuang dengan penuh kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam mengajak orang lain kepada petunjuk Allah SWT. Dia bertahan terhadap berbagai kesulitan itu karena Allah SWT.

Apabila empat tingkatan jihad ini telah dapat dilalui dengan sempurna, maka dia akan menjadi manusia rabbani. Para ulama salaf sepakat bahwasanya orang yang memiliki ilmu pengetahuan tidak berhak untuk disebut sebagai manusia rabbani sampai dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain dapat disebut sebagai orang yang mulia di kerajaan langit.

Adapun berjuang melawan setan itu ada dua tingkatan.

Pertama, berjihad untuk menolak berbagai bentuk syubhat dan keraguan yang mengotori iman agar tidak sampai kepada hamba Allah SWT.

Kedua, berjihad untuk menolak berbagai kehendak yang merusak dan nafsu syahwat agar tidak sampai kepada mereka. Jihad yang pertama harus dilakukan dengan keyakinan, dan jihad yang kedua harus dilawan dengan kesabaran. Allah SWT berfirman:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)

Sedangkan berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq juga ada empat tingkatan: dengan hati, dengan lidah, dengan harta benda, dan dengan jiwa. Jihad melawan orang-orang kafir itu khusus dilakukan dengan tangan, sedangkan jihad melawan orang-orang munafiq dilakukan dengan lidah.

Adapun jihad terhadap pelaku kezaliman, bid’ah, dan kemungkaran ada tiga tingkatan: Dengan tangan apabila mampu melakukannya. Jika tidak, maka berjihad dengan lidah. Dan bila tingkatan yang kedua ini juga tidak mampu dia lakukan, maka harus berjuang dengan hati. Itulah tiga belas tingkatan dalam melakukan jihad. (2 Lihatlah Zad al-Ma’ad, 3:5-11, cet. Mu’assasah ar-Risalah, yang ditahqiq oleh Syu’aib al-Arnauth.)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Barangsiapa meninggal dunia tidak pernah berjihad, dan tidak pernah berniat untuk berjihad, maka dia akan meninggal dunia di atas kemunafiqan.” (3 Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Imarah (1910) dari Abu Hurairah r.a.)

Tidak diragukan lagi bahwa enam tingkat yang pertama dalam
jihad di atas termasuk ke dalam kategori pendidikan yang kita
maksudkan dalam pembahasan ini. Tingkatan yang pertama ialah berjihad melawan diri sendiri dan berjuang melawan setan.

&

MEMPERBAIKI DIRI SEBELUM MEMPERBAIKI SISTEM

3 Jan

Yusuf Qardhawy, Fiqih Prioritas

DI ANTARA prioritas yang dianggap sangat penting dalam usaha perbaikan (ishlah) ialah memberikan perhatian terhadap pembinaan individu sebelum membangun masyarakat; atau memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem dan institusi. Yang paling tepat ialah apabila kita mempergunakan istilah yang dipakai oleh al-Qur’an yang berkaitan dengan perbaikan diri ini; yaitu:

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keaduan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)

Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi setiap usaha perbaikan, perubahan, dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai dari individu, yang menjadi fondasi bangunan secara menyeluruh. Karena kita tidak bisa berharap untuk mendirikan sebuah bangunan yang selamat dan kokoh kalau batu-batu fondasinya keropos dan rusak.

Individu manusia merupakan batu pertama dalam bangunan masyarakat. Oleh sebab itu, setiap usaha yang diupayakan untuk membentuk manusia Muslim yang benar dan mendidiknya –dengan pendidikan Islam yang sempurna– harus diberi prioritas atas usaha-usaha yang lain. Karena sesungguhnya usaha pembentukan manusia Muslim yang sejati sangat diperlukan bagi segala macam pembinaan dan perbaikan. Itulah pembinaan yang berkaitan dengan diri manusia.

Sesungguhnya pembinaan manusia secara individual untuk menjadi manusia yang salih merupakan tuga utama para nabi Allah, tugas para khalifah pengganti nabi, dan para pewaris setelah mereka.

Pertama-tama yang harus dibina dalam diri manusia ialah iman. Yaitu menanamkan aqidah yang benar di dalam hatinya, yang meluruskan pandangannya terhadap dunia, manusia, kehidupan, dan tuhan alam semesta, Pencipta manusia, pemberi kehidupan. Aqidah yang mengenalkan kepada manusia mengenai prinsip, perjalanan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Aqidah yang dapat menjawab pelbagai pertanyaan yang sangat membingungkan bagi orang yang tidak beragama: “Siapa saya? Dari manakah saya berasal? Akan kemanakah perjalan hidup saya? Mengapa saya ada di dunia ini? Apakah arti hidup dan mati? Apa yang terjadi sebelum adanya kehidupan? Dan apakah yang akan terjadi setelah kematian? Apakah misi saya di atas planet ini sejak saya masih di alam konsepsi hingga saya meninggal dunia?

Iman –bukan yang lain– adalah yang memberikan jawaban memuaskan bagi manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan besar berkaitan dengan perjalanan hidup manusia itu. Ia memberikan tujuan, muatan makna, dan nilai bagi kehidupannya. Tanpa iman manusia akan menjadi debu-debu halus yang tidak berharga di alam wujud ini, dan sama sekali tidak bernilai jika dihadapkan kepada kumpulan benda di alam semesta yang sangat besar. Umur manusia tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan perjalanan geologis yang berkesinambungan pada alam semesta, dan yang akan terus berlangsung dan tidak akan berakhir.

Kekuatan Manusia tidak akan ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan pelbagai kejadian di alam semesta yang mengancam keselamatannya; seperti: gempa bumi, gunung meletus, angin ribut, banjir, yang merusak dan membunuh manusia. Ketika berhadapan dengan pelbagai peristiwa alamiah itu, manusia tidak dapat berbuat apa-apa, walaupun dia mempunyai ilmu pengetahuan, kemauan, dan teknologi canggih.

Selamanya, iman merupakan pembawa keselamatan. Dengan iman kita dapat mengubah jati diri manusia, dan memperbaiki segi batiniahnya. Kita tidak dapat menggiring manusia seperti kita menggiring binatang ternak; dan kita tidak dapat membentuknya sebagaimana kita membentuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari besi, perak atau bijih tambang yang lainnya.

Manusia harus digerakkan melalui akal dan hatinya. Ia harus diberi kepuasan sehingga dapat merasakan kepuasan itu. Ia harus diberi petunjuk agar dapat meniti jalan yang lurus; dan ia harus digembirakan dan diberi peringatan, agar dia dapat bergembira dan merasa takut dengan adanya peringatan tersebut.

Imanlah yang menggerakkan dan mengarahkan manusia, serta melahirkan berbagai kekuatan yang dahsyat dalam dirinya. Manusia tidak akan memperoleh kejayaan tanpa iman. Karena sesungguhnya iman membuatnya menjadi makhluk baru, dengan semangat yang baru, akal baru, kehendak baru, dan filsafat hidup yang juga baru. Sebagaimana yang kita saksikan ketika para ahli sihir Fir’aun beriman kepada Tuhan nabi Musa dan Harun. Mereka menentang kesewenangan Fir’aun, sambil berkata kepadanya dengan penuh ketegasan dan kewibawaan:

“… maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja… (Taha: 72)

Kita juga dapat melihat para sahabat Rasulullah saw yang keimanan mereka telah memindahkan kehidupan Jahiliyah mereka kepada kehidupan Islam; dari penyembahan berhala, dan penggembalaan kambing kepada pembinaan umat dan menuntun manusia kepada petunjuk Allah SWT, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.

Selama tiga belas tahun di Makkah al-Mukarramah, seluruh perhatian dan kerja-kerja Nabi saw –yang berbentuk tabligh dan da’wah– ditumpukan kepada pembinaan generasi pertama berdasarkan keimanan.

Pada tahun-tahun itu belum turun penetapan syariah yang mengatur kehidupan masyarakat, menetapkan hubungan keluarga dan hubungan sosial, serta menetapkan sanksi terhadap orang yang menyimpang dari undang-undang tersebut. Kerja yang dilakukan oleh al-Qur’an dan Rasulullah saw adalah membina manusia dan generasi sahabat Rasulullah saw, mendidik dan membentuk mereka, agar mereka dapat menjadi pendidik di dunia ini setelah kepergian baginda Rasul.

Dahulu, rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam memainkan peranan untuk itu. Kitab suci Allah SWT diturunkan kepada Rasul-Nya sedikit demi sedikit sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi pada saat itu; agar dia membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan, untuk memantapkan keyakinan hati mereka, dan orang-orang yang beriman kepadanya. Nabi saw menjawab berbagai pertanyaan orang musyrik pada waktu itu dengan mematahkan hujah-hujah mereka, sehingga hal ini sangat besar perannya dalam membina kelompok orang-orang beriman, memperbaiki dan mengarahkan perjalanan hidup mereka. Allah SWT berfirman:

“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (al-Isra,: 106)

“Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok. Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (al-Furqan: 32-33)

Tugas terpenting yang mesti kita lakukan pada hari ini apabila kita hendak melakukan perbaikan terhadap keadaan umat kita ialah melakukan permulaan yang tepat, yaitu membina manusia dengan pembinaan yang hakiki dan bukan hanya dalam bentuk luarnya saja. Kita harus membina akal, ruh, tubuh, dan perilakunya secara seimbang. Kita membina akalnya dengan pendidikan; membina ruhnya dengan ibadah; membina jasmaninya dengan olahraga; dan membina perilakunya dengan sifat-sifat yang mulia. Kita dapat membina kemiliteran melalui disiplin; membina kemasyarakatannya melalui kerja sama; membina dunia politiknya dengan penyadaran. Kita harus mempersiapkan agama dan dunianya secara bersama-sama agar ia menjadi manusia yang baik, dan dapat mempengaruhi orang untuk berbuat baik, sehingga dia terhindar dari kerugian di dunia dan akhirat; sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat- menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Usaha itu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali melalui pandangan yang menyeluruh terhadap wujud ini, dan juga dengan filsafat hidup yang jelas, proyek peradaban yang sempurna, yang dipercayai oleh umat, sehingga ia mendidik anak lelaki dan perempuannya dengan penuh keyakinan, bekerja sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dan berjalan pada jalur yang telah digariskan. Bagaimanapun, semua institusi yang ada di dalam umat (masjid dan universitas, buku dan surat kabar, televisi dan radio) mesti melakukan kerja sama yang baik, sehingga tidak ada satu institusi yang naik sementara institusi yang lainnya tenggelam, atau ada satu perangkat yang dibangun dan pada saat yang sama perangkat lainnya dihancurkan. Pernyataan di atas dibenarkan oleh ucapan penyair terdahulu:

“Dapatkah sebuah bangunan diselesaikan; Apabila engkau membangunnya dan orang lain menghancurkannya?”

&

MAKRUH

3 Jan

Yusuf Qardawy, Fiqih Prioritas

BAGIAN paling rendah dalam rangkaian perkara-perkara yang
dilarang adalah perkara makruh; yaitu makruh tanzihi. Sebagaimana diketahui, makruh ini ada dua macam; makruh
tahrimi dan makruh tanzihi. Makruh tahrimi ialah perkara
makruh yang lebih dekat kepada haram; sedangkan makruh tanzihi
ialah yang lebih dekat kepada halal. Dan itulah yang
dimaksudkan dengan istilah makruh pada umumnya.

Banyak sekali contoh yang kita kenal dalam perkara ini.
Barangsiapa yang pernah membaca buku Riyadh as-Shalihin, yang
ditulis oleh Imam Nawawi, maka dia akan dapat menemukan
berbagai contoh tentang perkara yang makruh ini. Seperti
makruhnya orang yang makan sambil bersandar, minum dari bawah
bejana air, meniup minuman, beristinja’ dengan tangan kanan,
memegang farji dengan tangan kanan tanpa adanya uzur, berjalan
dengan satu sandal, bertengkar di masjid dan mengangkat suara
di dalamnya, berbisik di masjid pada hari Jumat ketika imam
sedang berkhotbah, membesar-besarkan suara ketika berbicara,
mengucapkan doa, “Ya Allah ampunilah dosaku kalau engkau mau.”
“Kalau Allah dan Fulan menghendaki”, berbincang-bincang
setelah makan malam yang paling akhir, shalat ketika makanan
sudah dihidangkan, mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa,
atau untuk melakukan Qiyamul Lail.

Perkara yang makruh –sebagaimana didefinisikan oleh para
ulama– ialah perkara yang apabila ditinggalkan kita
mendapatkan pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapatkan
dosa.

Oleh karena itu, tidak ada siksa bagi orang yang melakukan
perkara yang dianggap makruh tanzihi. Hanya saja, ia akan
dikecam apabila melakukan sesuatu yang pantas mendapatkan
kecaman apalagi jika ia melakukannya berulang-ulang.

Akan tetapi, kita tidak perlu menganggap mungkar tindakan
semacan ini (makruh tanzihi); agar mereka tidak terjebak dalam
kesibukan memerangi hal-hal yang makruh padahal di saat yang
sama mereka sedang melakukan hal-hal yang jelas diharamkan
oleh agama.

&

SYUBHAT

3 Jan

Yusuf Qardawy, Fiqih Prioritas

SETELAH tingkatan perkara-perkara kecil yang diharamkan, maka
di bawahnya adalah syubhat. Yaitu perkara yang tidak diketahui
hukumnya oleh orang banyak, yang masih samar-samar kehalalan
maupun keharamannya. Perkara ini sama sekali berbeda dengan
perkara yang sudah sangat jelas pengharamannya.

Oleh sebab itu, orang yang memiliki kemampuan untuk
berijtihad, kemudian dia melakukannya, sehingga memperoleh
kesimpulan hukum yang membolehkan atau mengharamkannya, maka
dia harus melakukan hasil kesimpulan hukumnya. Dia tidak
dibenarkan untuk melepaskan pendapatnya hanya karena khawatir
mendapatkan celaan orang lain. Karena sesungguhnya manusia
melakukan penyembahan terhadap Allah SWT berdasarkan hasil
ijtihad mereka sendiri kalau memang mereka mempunyai keahlian
untuk melakukannya. Apabila ijtihad yang mereka lakukan
ternyata salah, maka mereka dimaafkan, dan hanya mendapatkan
satu pahala.

Dan barangsiapa yang hanya mampu melakukan taklid kepada orang
lain, maka dia boleh melakukan taklid kepada ulama yang paling
dia percayai. Tidak apa-apa baginya untuk tetap mengikutinya
selama hatinya masih mantap terhadap ilmu dan agama orang yang
dia ikuti.

Barangsiapa yang masih ragu-ragu terhadap suatu perkara, dan
belum jelas kebenaran baginya, maka perkara itu dianggap
syubhat, yang harus dia jauhi untuk menyelamatkan agama dan
kehormatannya; sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits
Muttafaq ‘Alaih:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya
yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada
perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui hukumnya
oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi
syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan
kehormatan dirinya, dan barangsiapa yang terjerumus ke
dalamnya, maka dia telah terjerumus dalam perkara yang
haram. Seperti penggembala yang menggembala ternak-nya
di sekitar tempat yang masih diragukan bila binatang
ternaknya memakan rumput di sana.” 63

Orang yang bodoh diharuskan bertanya kepada orang yang pandai
dan dapat dipercaya dalam perkara yang masih diragukan,
sehingga dia mengetahui betul hakikat hukumnya. Allah SWT
berfirman:

“…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Tidakkah mereka mau bertanya kalau mereka tidak tahu?
Karena sesungguhnya kesembuhan orang yang tersesat
adalah dengan bertanya.” 64

Cara orang menghadapi masalah syubhat inipun bermacam-macam,
tergantung kepada perbedaan pandangan mereka, perbedaan tabiat
dan kebiasaan mereka, dan juga perbedaan tingkat wara’ mereka.

Ada orang yang tergolong kawatir yang senantiasa mencari
masalah syubhat hingga masalah yang paling kecil sehingga
mereka menemukannya. Seperti orang-orang yang meragukan
binatang sembelihan di negara Barat, hanya karena masalah yang
sangat sepele dan remeh. Mereka mendekatkan masalah yang jauh
dan menyamakan hal yang mustahil dengan kenyataan. Mereka
mencari-cari dan bertanya-tanya sehingga mereka mempersempit
ruang gerak mereka sendiri, yang sebetulnya diluaskan oleh
Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika
diteranglan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu…”
(al-Ma’idah: 101)

Sebagai orang Muslim tidaklah patut bagi kita untuk
mencari-cari hal yang lebih sulit.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari
‘Aisyah sesungguhnya Nabi saw pernah ditanya, “Sesungguhnya
ada suatu kaum yang datang kepada kami dengan membawa daging,
dan kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah
ketika menyembelihnya ataukah tidak.” Maka Nabi saw bersabda,
“Sebutlah nama Allah dan makanlah.”

Imam Ibn Hazm mengambil hadits ini sebagai suatu kaidah:
“Sesuatu perkara yang tidak ada pada kami, maka kami tidak
akan menanyakannya.”

Diriwayatkan bahwasanya Umar r.a. pernah melintasi sebuah
jalan kemudian dia tersiram air dari saluran air rumah
seseorang; ketika itu dia bersama seorang kawannya. Maka
kawannya berkata, “Hai pemilik saluran air, airmu ini suci
atau najis?” Maka Umar berkata, “Hai pemilik saluran air,
jangan beritahu kami, karena kami dilarang mencari-cari
masalah.”

Ada sebuah hadits shahih dari Nabi saw bahwa ada seseorang
yang mengadu kepadanya tentang orang yang merasa bahwa dia,
merasakan sesuatu, ketika shalat atau ketika berada di masjid.
Maka Nabi saw menjawab, “Jangan kembali, sampai dia ‘mendengar
suara’ atau merasa buang angin. ”

Dari hadits ini para ulama menetapkan suatu kaidah: “Keyakinan
tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. Dan sesungguhnya
orang itu harus berbuat sesuai dengan keyakinan asalnya dan
menyingkirkan keraguannya.” Inilah cara yang paling pasti
untuk menyingkirkan keraguan.

Pada suatu hari Rasulullah saw pernah menyambut undangan
seorang Yahudi. Beliau memakan makanannya dan tidak bertanya
apakah halal ataukah tidak? Apakah wadah-wadahnya suci ataukah
tidak. Nabi saw dan para sahabatnya mengenakan pakaian yang
diambil dari mereka, pakaian yang ditenun oleh orang-orang
kafir dan wadah yang dibuat oleh mereka. Ketika kaum Muslimin
berperang, mereka juga membagi-bagikan wadah, pakaian,
kemudian mereka pakai semuanya. Ada riwayat yang shahih bahwa
mereka juga mempergunakan air dari wadah air kaum musyrik.65

Sebaliknya, ada orang-orang yang sangat keras sikapnya karena
berpegang kepada hadits shahih dari Nabi saw bahwasanya beliau
pernah ditanya tentang bejana Ahli Kitab, yang memakan babi,
dan meminum khamar. Beliau menjawab “Jika kamu tidak menemukan
yang lainnya, maka basuhlah dengan air, kemudian makanlah
dengan bejana itu.” 66

Imam Ahmad menafsirkan bahwa syubhat ialah perkara yang berada
antara halal dan haram; yakni yang betul-betul halal dan
betul-betul haram. Dia berkata, “Barangsiapa yang menjauhinya,
berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Yaitu sesuatu yang
bercampur antara yang halal dan haram.”

Ibn Rajab berkata, “Masalah syubhat ini berlanjut kepada cara
bermuamalah dengan orang yang di dalam harta bendanya
bercampur antara barang yang halal dan barang yang haram.
Apabila kebanyakan harta bendanya haram, maka Ahmad berkata,
‘Dia harus dijauhkan kecuali untuk sesuatu yang kecil dan
sesuatu yang tidak diketahui.’ Sedangkan ulama-ulama yang lain
masih berselisih pendapat apakah muamalah dengan orang itu
hukumnya makruh ataukah haram?

Jika kebanyakan harta bendanya halal, maka kita diperbolehkan
melakukan muamalah dengannya, dan makan dari harta bendanya.
Al-Harits meriwayatkan dari Ali bahwasanya dia berkata tentang
hadiah-hadiah yang diberikan oleh penguasa: “Tidak apa-apa,
jika yang diberikan kepada kamu berasal dari barang yang lebih
banyak halalnya daripada haramnya, karena dahulu Nabi saw dan
para sahabatnya pernah melakukan muamalah dengan orang-orang
musyrik dan Ahli Kitab, padahal mereka tidak menjauhi hal-hal
yang haram secara menyeluruh.”

Jika ada suatu perkara yang masih diragukan maka perkara ini
dikatakan syubhat. Dan orang-orang wara’ (yang lebih
berhati-hati dalam menjauhkan diri dari kemaksiatan)
meninggalkan perkara yang termasuk dalam syubhat ini. Sufyan
berkata, “Hal itu tidak mengherankan saya, yang lebih
mengherankan bagi saya ialah cara dia meninggalkannya.”

Az-Zuhri dan Makhul berkata, “Tidak apa-apa bagi kita untuk
memakan sesuatu yang kita tidak tahu bahwa barang itu haram,
jika tidak diketahui dengan mata kepalanya sendiri bahwa di
dalam barang itu terdapat sesuatu yang haram.” Ini sesuai
dengan apa yang ditegaskan oleh Ahmad dalam riwayat Hanbal.

Ishaq bin Rahawaih berpendapat sesuai dengan riwayat yang
berasal dari Ibn Mas’ud dan Salman, dan lain-lain yang
mengatakan bahwa perkara ini termasuk rukhshah; serta
berdasarkan riwayat yang berasal dari al-Hasan dan Ibn Sirin
yang membolehkan pengambilan sesuatu yang berasal dari riba
dan judi, sebagaimana dinukilkan oleh Ibn Manshur.

Imam Ahmad berkata tentang harta benda yang masih diragukan
kehalalan dan keharamannya, “Jika harta benda itu jumlahnya
sangat banyak, maka harta-harta yang haram harus dikeluarkan,
dan kita boleh mengadakan transaksi dengan harta yang masih
tersisa. Tetapi jika harta bendanya sedikit kita harus
menjauhi barang-barang itu semuanya. Dengan alasan bahwa
sesungguhnya barang yang jumlahnya hanya sedikit dan tercampur
dengan sesuatu yang haram, maka dengan menjauhinya kita lebih
selamat dari benda yang haram tersebut, dan berbeda dengan
barang yang jumlahnya banyak. Di antara sahabat kami ada yang
lebih berhati-hati dalam menjaga suasana wara’nya sehingga
mereka lebih membawa masalah ini kepada pengharaman. Kelompok
ini membolehkan transaksi dengan harta yang sedikit maupun
banyak setelah mengeluarkan barang-barang haram yang tercampur
di dalam barang-barang tersebut. Ini merupakan pendapat mazhab
Hanafi dan lain-lain. Pendapat inilah yang diikuti oleh
orang-orang wara’, seperti Bisyr al-Hafi.

Sekelompok ulama salaf yang lain memberikan keringanan untuk
memakan makanan dari orang yang diketahui bahwa di dalam
hartanya ada sesuatu yang haram, selama orang itu tidak tahu
barang haram itu dengan mata kepalanya sendiri; sebagaimana
pendapat Makhul dan al-Zuhri yang kami sebutkan di muka.
Begitu pula pendapat yang diriwayatkan dari Fudhail bin
‘Iyadh.

Sehubungan dengan hal ini ada beberapa riwayat yang berasal
dari para ulama salaf. Ada sebuah riwayat yang berasal dari
Ibn Mas’ud bahwasanya dia ditanya tentang orang yang mempunyai
tetangga yang memakan barang riba secara terang-terangan. Dia
merasa tidak bersalah dengan adanya barang kotor yang dia
pergunakan untuk makanan para tamu undangannya itu. Ibn Mas’ud
menjawab, “Penuhi undangannya, karena sesungguhnya jamuan itu
untukmu dan dosanya ditanggung olehnya.” 67

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang itu berkata, “Aku
tidak tahu sesuatupun dari miliknya selain barang yang kotor
dan haram.” Ibn Mas’ud menjawab: “Penuhi undangannya.” Imam
Ahmad men-shahih-kan riwayat ini dari Ibn Mas’ud, akan tetapi
dia menolak isi riwayat darinya dengan berkata, “Dosa itu
melingkari (hawazz) hati.” 68

Bagaimanapun, perkara-perkara syubhat yang tidak jelas apakah
itu halal atau haram, karena banyak orang yang tidak
mengetahui hukumnya, sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw
kadang-kadang kelihatan jelas oleh sebagian orang bahwa ia
halal atau haram sebab dia memiliki ilmu yang lebih. Sedangkan
sabda Nabi saw menunjukkan bahwa ada perkara-perkara syubhat
yang diketahui hukumnya oleh sebagian manusia, tetapi banyak
orang yang tidak mengetahuinya.

Untuk kategori orang yang tidak mengetahuinya, terbagi menjadi
dua:

Pertama, orang yang mendiamkan masalah ini dan tidak mengambil
tindakan apa-apa karena ini adalah masalah syubhat.

Kedua, orang yang berkeyakinan bahwa ada orang lain yang
mengetahui hukumnya. Yakni mengetahui apakah masalah ini
dihalalkan atau diharamkan. Ini menunjukkan bahwa untuk
masalah yang masih diperselisihkan halal haramnya adalah sama
di sisi Allah, sedangkan orang yang lainnya tidak
mengetahuinya. Artinya, orang lain itu tidak dapat mencapai
hukum yang sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah SWT walaupun
dia berkeyakinan bahwa pendapatnya mengenai masalah syubhat
itu sudah benar. Orang seperti ini tetap diberi satu pahala
oleh Allah SWT karena ijtihad yang dilakukannya, dan dia
diampuni atas kesalahan yang telah dilakukannya.

“Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang syubhat
maka berarti telah menyelamatkan agama dan
kehormatannya. Dan barangsiapa yang telah terjerumus
dalam syubhat, maka dia telah terjerumus ke dalam
sesuatu yang haram”

Hadits ini membagi manusia dalam masalah syubhat, menjadi dua
bagian; yakni bagi orang yang tidak mengetahui hukumnya.

Adapun orang yang mengetahui hukumnya, dan mengikuti petunjuk
ilmu pengetahuan yang dimilikinya, maka dia termasuk pada
kelompok ketiga, yang tidak disebutkan di sini karena hukumnya
sudah jelas. Inilah kelompok terbaik dalam tiga kelompok yang
menghadapi masalah syubhat, karena ia mengetahui hukum Allah
dalam perkara-perkara syubhat yang dihadapi oleh manusia, dan
dia mengambil tindakan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang
dimilikinya.

Sedangkan kelompok yang tidak mengetahui hukum Allah terbagi
menjadi dua:

Pertama, orang yang menjauhi syubhat tersebut. Kelompok ini
dianggap telah menyelamatkan (istabra’a) agama dan
kehormatannya. Makna istabra’a di sini ialah mencari
keselamatan untuk agama dan kehormatannya, agar terhindar dari
kekurangan dan keburukan.

Hal ini menunjukkan bahwa mencari keselamatan untuk kehormatan
diri adalah terpuji, seperti halnya mencari kehormatan untuk
agamanya. Oleh sebab itu, ada ungkapan: “Sesungguhnya sesuatu
yang dipergunakan oleh seseorang untuk menjaga kehormatan
dirinya termasuk sedekah.”

Kedua, orang yang terjerumus ke dalam syubhat padahal dia tahu
bahwa perkara itu syubhat baginya. Sedangkan orang yang
melakukan sesuatu yang menurut pandangan orang syubhat, tetapi
menurut pandangan dirinya sendiri bukan syubhat, karena dia
tahu bahwa perkara itu halal, maka tidak ada dosa baginya di
sisi Allah SWT. Akan tetapi, kalau dia khawatir bahwa
orang-orang akan mengecam dirinya karena melakukan hal itu,
maka meninggalkan perkara itu dianggap sebagai penyelamatan
terhadap kehormatan dirinya. Dan ini lebih baik. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Nabi saw kepada orang yang sedang
melihatnya berdiri bersama Shafiyah; yakni Shafiyah binti
Huyai.69

Anas keluar untuk shalat Jumat, kemudian dia melihat
orang-orang telah shalat dan kembali, kemudian dia merasa
malu, lalu dia masuk ke sebuah tempat yang tidak tampak oleh
orang banyak, kemudian dia berkata, “Barangsiapa yang tidak
malu kepada orang, berarti dia tidak malu kepada Allah.”

Kalau seseorang melakukan suatu perkara dengan keyakinan bahwa
perkara itu halal, dengan ijtihad yang telah diketahui oleh
orang banyak, atau dengan taklid yang telah dilakukan oleh
orang banyak, kemudian ternyata keyakinannya salah, maka hukum
perkara yang dilakukannya adalah mengikut hukum ketika dia
melakukannya. Akan tetapi kalau ijtihadnya lemah, dan
taklidnya tidak begitu terkenal di kalangan orang banyak,
kemudian dia melakukan hal itu hanya sekadar mengikuti hawa
nafsu, maka perkara yang dia lakukan dihukumi sebagai orang
yang melakukan syubhat.

Dan orang yang melakukan perkara syubhat padahal dia
mengetahui bahwa perkara itu masih syubhat, maka orang seperti
ini adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw bahwa dia
termasuk orang yang terjerumus dalam sesuatu yang haram.
Pernyataan ini dapat ditafsirkan ke dalam dua hal:

Pertama, syubhat yang dilakukan tersebut –dengan keyakinan
bahwa apa yang dilakukan adalah syubhat– merupakan penyebab
baginya untuk melakukan sesuatu yang haram –yang diyakini
bahwa perkara itu adalah haram.

Dalam riwayat as-Shahihain untuk hadits ini disebutkan,

“Barangsiapa yang berani melakukan sesuatu yang masih
diragukan bahwa sesuatu itu berdosa, maka dia tidak
diragukan lagi telah terjerumus dalam sesuatu yang
jelas berdosa.” 70

Kedua, sesungguhnya orang yang memberanikan diri untuk
melakukan sesuatu yang masih syubhat baginya, dan dia tidak
mengetahui apakah perkara itu halal ataukah haram; maka tidak
dijamin bahwa dia telah aman dari sesuatu yang haram. Dan oleh
karena itu dia dianggap telah melakukan sesuatu yang haram
walaupun dia tidak mengetahui bahwa hal itu haram.

Sesungguhnya Allah SWT telah menjaga hal-hal yang diharamkan
dan melarang hamba-Nya uneuk mendekatinya. Larangan itu Dia
namakan dengan batas-batas haram. Oleh karena itu Dia
menganggap bahwa orang yang menggembalakan binatang ternaknya
di sekitar batas-batas itu dan dekat dengannya, dianggap telah
melanggar dan memasuki kawasan yang diharamkan oleh-Nya.
Begitu pula orang yang melanggar batas-batas halal, kemudian
dia terjerumus ke dalam syubhat, maka dia dianggap sebagai
orang yang mendekatkan diri kepada sesuatu yang haram. Dan
sesungguhnya Allah SWT tidak bermaksud mencampur adukkan haram
yang murni, agar orang terjerumus ke dalamnya. Hal ini
menunjukkan bahwa kita harus menjauhi perkara-perkara yang
diharamkan-Nya dan meletakkan batas antara manusia dan sesuatu
yang haram itu

Tirmidzi dan Ibn Majah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin
Yazid, dari Nabi saw bersabda,

“Seorang hamba tidak akan dapat mencapai tingkat
orang-orang yang bertaqwa sampai dia meninggalkan
sesuatu yang tidak apa-apa baginya karena khawatir akan
apa-apa baginya.”71

Abu Darda, berkata, “Kesempurnaan taqwa itu ialah bila seorang
hamba sudah bertaqwa kepada Allah SWT; sehingga dia menjauhi
dosa yang paling kecil sekalipun, dan meninggalkan sebagian
perkara yang dia anggap halal karena khawatir perkara tersebut
haram. Dia meletakkan batas antara dirinya dan sesuatu yang
haram itu.”

Al-Hasan berkata, “Ketaqwaan akan tetap berada pada diri orang
yang bertaqwa kalau mereka banyak meninggalkan hal-hal yang
halal karena khawatir ada sesuatu yang haram di dalamnya.”

Ats-Tsauri berkata, “Mereka dinamakan orang yang bertaqwa
karena mereka menjauhi apa yang tidak dijauhi oleh orang
banyak.” 72

Diriwayatkan dari Ibn Umar berkata, “Sesungguhnya aku suka
meletakkan batas penghalang antara diriku dan sesuatu yang
haram dan yang halal, dan aku tidak akan membakarnya.”

Maimun bin Mahran berkata, “Seseorang tidak dianggap telah
melakukan sesuatu yang halal, sampai dia membuat batas antara
dirinya dan sesuatu yang haram, dengan sesuatu yang halal.” 73

Sufyan bin Uyainah, 74 berkata, “Seseorang tidak dianggap
telah mencapai hakikat iman sampai dia menciptakan batas
antara yang halal dan yang haram dengan sesuatu yang halal,
dan dia meninggalkan dosa serta yang serupa dengannya.” 75

Itulah seharusnya tindakan yang harus dilakukan oleh setiap
orang sesuai dengan tingkatan keilmuannya. Ada orang yang
tidak keberatan sama sekali untuk melakukan syubhat, karena
dia telah tenggelam di dalam hal-hal yang haram, bahkan dalam
dosa-dosa besar. Na’udzu billah. Di samping itu, hal-hal yang
syubhat harus tetap dalam posisi syar’inya dan tidak
ditingkatkan kepada kategori haram yang jelas dan pasti.
Karena sesungguhnya di antara perkara yang sangat berbahaya
ialah meleburkan batas-batas antara berbagai tingkatan hukum
agama, yang telah diletakkan oleh Pembuat Syariah agama ini,
di samping perbedaan hasil dan pengaruh yang akan
ditimbulkannya.

Catatan kaki:

63 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Nu’man bin Basyir (52),
(2051); dan diriwayatkan oleh Muslim (1599)

64 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir (Shahih al-Jami’
as-Shaghir, 4362)

65 Lihat Bukhari (344); Ibn Rajab, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam,
1:199.

66 Muttafaq Alaih, diriwayatkan oleh Bukhari (5478): Muslim
(1390) dari Abu Tsa’labah al-Khasyani.

67 Diriwayatkan oleh Abd al-Razzaq di dalam al-Mushannaf,
4675, 4676, dengan isnad yang shahih.

68 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir, 8747-8750,
kemudian disebutkan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’, 1: 176,
dan berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani seluruhnya dengan
sanad yang rijal-nya shahih.” Al-Hawazz sebagaimana yang
dijelaskan dalam buku an-Nihayah, adalah perkara-perkara yang
melingkupi hati atau yang paling banyak mempengaruhinya. Yakni
sesuatu yang terbetik di dalam hati, dan mendorong orang unruk
melakukan maksiat karena dia sudah kehilangan ketenangan
dirinya. Syamar meriwayatkan hadits ini dengan kata hawazz,
yang artinya melintas dan menguasainya.

69 Diriwayatkan oleh Bukhari (2035): Muslim (2175): Abu Dawud
(2470): dan Ahmad 6:337 dari hadits Shafiyyah.

70 Diriwayatkan oleh Bukhari saja (2051).

71 Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2451); Ibn Majah (4215).
Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini hasan gharib, padahal dalam
rangkaian sanad hadits ini ada Abdullah bin Yazid al-Dimasyqi
yang dianggap dha’if.”

72 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 7:384, dari
ucapan Sufyan bin Uyainah.

73 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 4:84.

74 al-Hilyah, 7:288

75 Ibn Rajab. Jami al-‘Ulum wa al-Hikam, 1:209,200, cet.
Al-Risalah yang di-tahqiq (diseleksi) oleh Syu’aib al-Arnauth,
yang beberapa takhrij haditsnya telah kita gunakan.

&

BID’AH DALAM AQIDAH

3 Jan

Yusuf Qardawy, Fiqih Prioritas

SEBAGAI tambahan penjelasan bagi kemaksiatan, dalam syariah agama ini kita mengenal apa yang disebut dengan bid’ah. Yaitu sesuatu yang diada-adakan oleh manusia dalam urusan agama.
Baik bid’ah yang berkaitan dengan aqidah yang dinamakan dengan bid’ah ucapan, maupun bid’ah yang berkaitan dengan amalan. Bid’ah-bid’ah ini merupakan salah satu jenis perkara yang
diharamkan tetapi berbeda dengan kemaksiatan yang biasa. Sesungguhnya pelaku bid’ah ini mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan bid’ah-bid’ah tersebut, dan berkeyakinan bahwa dengan bid’ahnya itu dia telah melakukan ketaatan terhadap Allah dan beribadah kepada-Nya. Dan inilah yang paling membahayakan.

Bid’ah itu sendiri bisa berupa keyakinan yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw dan ajaran yang terdapat di dalam Kitab Allah. Dan bid’ah untuk jenis ini kita sebut dengan bid’ah dalam aqidah (al-bid’ah al-i’tiqadiyyah) atau bid’ah dalam ucapan (al-bid’ah al-qawliyyah); yang sumbernya ialah mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak didasari dengan ilmu pengetahuan. Perkara ini termasuk salah satu perkara haram yang sangat besar. Bahkan Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa perkara ini merupakan perkara haram yang paling besar. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.'” (al-A’raf: 33)

Termasuk dalam hal ini ialah perbuatan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, tanpa dasar yang jelas; sebagaimana difirmankan oleh-Nya:

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’
Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?'” (Yunus: 59)

Selain itu, juga perbuatan yang dimaksudkan untuk beribadah kepada Allah tetapi tidak disyariahkan dalam ajaran agama-Nya, seperti mengadakan upacara-upacara keagamaan yang tidak
diajarkan oleh agama.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariahkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?…” (as-Syura: 21)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Jauhilah, hal-hal baru dalam urusan agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.”59

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami, dan ia tidak ada dalam ajaran kami, maka sesuatu itu tidak diterima.”60

Kedua macam bid’ah di atas –sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Qayyim– adalah saling bergantung satu dengan lainnya. Jarang sekali bid’ah yang terpisah satu dengan lainnya; sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: “bid’ah dalam perkataan berkawin dengan bid’ah amalan; kemudian kedua
“pengantin” itu sibuk merayakan perkawinannya. Lalu keduanya melahirkan anak-anak zina yang hidup di negeri Islam; kemudian mereka bersama-sama kaum Muslimin menuju kepada Allah SWT.”

Syaikh Islam Ibn Taimiyah berkata, “Hakikat “dikawinkannya” kekafiran dengan bid’ah adalah lahirnya kerugian di dunia dan akhirat.”

Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama. Di samping itu, orang yang melakukan bid’ah tidak merasa perlu bertobat, dan kembali kepada jalan yang benar. Bahkan dia malah mengajak orang lain untuk menjalankan bid’ah itu bersama-sama. Seluruh isi bid’ah itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. bid’ah menolak semua ajaran agama yang dibenarkan. Ia memberi dukungan kepada orang yang memusuhi
agama, dan memusuhi orang yang mendukung agama ini. Ia menetapkan apa yang di-nafi-kan oleh agama, dan me-nafi-kan apa yang telah ditetapkan oleh agama.6,

Seluruh bid’ah tidak berada pada satu tingkatan. Ada bid’ah yang berat dan ada pula bid’ah yang ringan. Ada bid’ah yang disepakati dan ada pula bid’ah yang dipertentangkan.

Bid’ah yang berat ialah bid’ah yang dapat menjadikan pelakunya sampai kepada tingkat kekufuran. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan kepada kita dari perbuatan tersebut. Misalnya,
kelompok-kelompok yang keluar dari pokok-pokok ajaran agama ini, dan memisahkan diri dari umat; seperti: Nashiriyah, Druz, Syi’ah Ekstrim dan Ismailiyah yang beraliran kebatinan, dan lain-lain; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali: “Secara lahiriah mereka menolak, dan secara batiniah mereka kufur.” Syaikh Islam Ibn Taimiyah berkata, “Mereka lebih kufur daripada orang Yahudi dan Nasrani, dan oleh sebab itu perempuan mereka tidak boleh dinikahi, sembelihan mereka tidak
boleh dimakan, padahal sembelihan Ahli Kitab boleh dimakan dan wanita mereka boleh dinikahi.”

Bid’ah berat yang tidak sampai membuat pelakunya termasuk ke dalam kekufuran tetapi hanya sampai kepada kefasiqan. Yaitu kefasiqan dalam bidang aqidah dan bukan kefasiqan dalam perilaku mereka. Pelaku bid’ah ini kadang-kadang shalatnya paling lama dibandingkan dengan orang lain. Mereka paling banyak berpuasa dan membaca al-Qur’an; seperti yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij. “Salah seorang di antara kalian akan meremehkan shalatnya jika dibandingkan dengan shalat
mereka (orang-orang Khawarij), meremehkan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka, dan meremehkan tilawahnya jika dibandingian dengan tilawah mereka.” Letak kerusakan mereka bukan pada perasaan mereka, tetapi pada akal pikiran mereka yang enggan dan membatu. Sehingga mereka mau membunuh orang-orang Islam dan membiarkan orang-orang yang menyembah
berhala.

Kelompok yang serupa dengan Khawarij ini sangat banyak, seperti Rafidhah, Qadariyah, Mu’tazilah dan mayoritas kelompok Jahmiyah, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Qayyim.62

Ada bid’ah yang termasuk kategori bid’ah yang ringan, yang sebabnya berasal dari kesalahan dalam melakukan ijtihad, atau salah dalam mempergunakan dalil, bid’ah seperti ini sama dengan dosa-dosa kecil dalam kemaksiatan.

Di samping itu, ada pula bid’ah yang masih diperselisihkan. Artinya, sesuatu kaum yang menetapkan bahwa suatu perkara termasuk bid’ah tetapi kaum Muslimin yang lainnya tidak mengatakannya bid’ah. Contohnya, bertawassul dengan Nabi saw, hamba-hamba Allah yang salih. Perkara ini adalah amalan
furu’iyah dan bukan masalah aqidah dan pokok-pokok agama; sebagaimana dikatakan oleh Imam Hasan al-Banna, yang dikutip Imam Muhammad bin Abd al-Wahab.

Contoh lainnya, ialah disiplin melakukan ibadah. Apakah hal ini termasuk bid’ah atau tidak?

Sesungguhnya, bid’ ah tidak berada pada tingkat yang sama, dan begitu pula orang yang melakukannya. Ada orang yang menganjurkan kepada bid’ah, dan ada pula orang yang hanya
sekadar ikut melakukan bid’ah dan tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Semua kelompok memiliki keterkaitan hukum yang berbeda.

Catatan kaki:

59 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Irbad bin Sariyah. 43, 44; dan Hakim. 1:95; dan Ibn Hibban

60 Munattaq ‘Alaih. Diriwayatkan oleh Bukhari, 2697; dan diriwayatkan oleh Muslim. 1718.

61 Lihat Madarij al-Salikin, I :222-223.

62 Lihat Madarij al-Salikin. 1: 362

KEMAKSIATAN BESAR YANG DILAKUKAN OLEH HATI MANUSIA

3 Jan

Yusuf Qardawy, Fiqih Prioritas

DOSA-DOSA besar itu tidak hanya terbatas kepada amalan-amalan lahiriah, sebagaimana anggapan orang banyak, akan tetapi kemaksiatan yang lebih besar dosanya dan lebih berbahaya ialah yang dilakukan oleh hati manusia.

Amalan yang dilakukan oleh hati manusia adalah lebih besar dan lebih utama daripada amalan yang dilakukan oleh anggota
tubuhnya. Begitu pula halnya kemaksiatan yang dilakukan oleh hati manusia juga lebih besar dosanya dan lebih besar
bahayanya.

KEMAKSIATAN ADAM DAN KEMAKSIATAN IBLIS

Al-Qur’an telah menyebutkan kepada kita dua bentuk kemaksiatan yang mula-mula terjadi setelah terciptanya Adam dan setelah dia ditempatkan di surga.

Pertama, kemaksiatan yang dilakukan oleh Adam dan istrinya
ketika dia memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah
SWT. Itulah jenis kemaksiatan yang berkaitan dengan
amalan-amalan anggota tubuh yang lahiriah, yang didorong oleh kelupaan dan kelemahan kehendak manusia; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Thaha: 115)

Iblis terlaknat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yaitu
ketika Adam lupa dan lemah kekuatannya. Iblis menampakkan
kepada Adam dan istrinya bahwa larangan Allah untuk memakan buah pohon itu sebagai sesuatu yang indah. Ia menipu mereka, dan menjanjikan sesuatu kepada mereka sehingga mereka terjatuh ke dalam janji-janji manis Iblis.

Akan tetapi, Adam dan istrinya segera tersadarkan iman yang
bersemayam di dalam hati mereka, dan mereka mengetahui bahwa mereka telah melanggar larangan Allah; kemudian mereka bertobat kepada Tuhannya, dan Allah SWT menerima tobat mereka:

“… dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (Thaha: 121-122)

Keduanya berkata, “Ya tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya,
maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 37)

Kedua, kemaksiatan yang dilakukan oleh Iblis ketika dia
diperintahkan oleh Allah –bersama para malaikat– untuk
bersujud kepada Adam sebagai penghormatan kepadanya, yang diciptakan oleh Allah SWT dengan kedua tangan-Nya, kemudian Dia tiupkan ruh kepadanya.

“Maka bersujudlah para malaikat itu bersama-sama, kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama-sama malaikat yang sujud itu. Allah berfirman: “Hai lblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu akan tetap menimpamu hingga hari kiamat kelak.”” (al-Hijr: 30-35)

Itulah keengganan dan kesombongan terhadap perintah Allah
sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah:

“… maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”  (al-Baqarah: 34)

Iblis membantah dan berkata kepada Tuhannya dengan sombongnya:

“… Aku lebih baik daripada dirinya. engkau ciptakan saya dari api sedang dia engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12)

Perbedaan antara kedua bentuk kemaksiatan tersebut ialah bahwa kemaksiatan Adam adalah kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota badan yang tampak, kemudian dia segera bertobat.
Sedangkan kemaksiatan Iblis adalah kemaksiatan dalam hati yang tidak tampak; yang sudah barang tentu akan diberi balasan yang sangat buruk oleh Allah SWT. Kami berlindung kepada Allah dari segala kemaksiatan tersebut.

Tidak heranlah bahwa setelah itu datang peringatan yang sangat keras terhadap kita dari melakukan kemaksiatan dalam hati, yang digolongkan kepada dosa-dosa besar. Kebanyakan
kemaksiatan dalam hati itu adalah pendorong kepada kemaksiatan besar yang dilakukan oleh anggota tubuh kita yang tampak; dalam bentuk meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah, atau melakukan segala larangannya.

KESOMBONGAN

Sebagaimana yang kita ketahui dari kisah Iblis bersama dengan Adam, kesombongan dapat mendorong kepada penolakan terhadap perintah Allah SWT. Dia berfirman:

“Berkata Iblis: ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal dari) lumpur hitam yang diberi bentuk.'” (al-Hijr: 33)

“… Aku lebih baik daripada dirinya…” (Shad: 76)

Atas dasar itulah kita diperingatkan untuk tidak melakukan kesombongan dan melakukan penghinaan terhadap orang lain; sehingga Rasulullah saw bersabda,

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan.”27

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Kemegahan adalah kain-Ku, kesombongan adalah selendang-Ku, dan barangsiapa yang merebutnya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya.” 28

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Seseorang akan dianggap telah melakukan keburukan apabila dia menghina saudaranya sesama Muslim.” 29

“Barangsiapa yang mengulurkan pakaiannya (memanjangkan pakaian yang dikenakannya secara berlebihan) maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat kelak.”30

Selain dari hadits-hadits tersebut, al-Qur’an dalam berbagai ayatnya mencela orang yang melakukan kesombongan, dan menjelaskan bahwa kesombongan mencegah banyak orang untuk beriman kepada Rasulullah saw, sekaligus menjerumuskan diri mereka ke neraka Jahanam:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenarannya)…” (an-Nahl: 14)

“Maka masuklah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu (an-Nahl: 29)

“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong.” (an-Nahl: 23)

“… Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Ghafir: 35)

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku…” (al-A’raf: 146)

KEDENGKIAN DAN KEBENCIAN

Dalam kisah dua orang anak nabi Adam yang dikisahkan oleh al-Qur’an kepada kita, kita dapat menemukan kedengkian (hasad) yang mendorong kepada salah seorang di antara dua bersaudara itu untuk membunuh saudaranya yang berhati baik.

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa.”
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?.” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (al-Ma’idah: 27-31)

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk berlindung kepada Allah
dari kejahatan orang-orang yang dengki.

“Dan dari kejahatan orang dengki apabila dia sedang dengki.” (al-Falaq: 5)

Al-Qur’an mengatakan bahwa hasad adalah salah satu sifat orang Yahudi.

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran, karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia itu.?…” (an-Nisa’: 54)

Allah menjadikan hasad sebagai salah satu penghalang keimanan terhadap ajaran Islam, dan merupakan salah satu sebab penipuan terhadapnya:

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki (yang timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran…” (al-Baqarah: 109)

Rasulullah saw mengatakan bahwa kedengkian dan kebencian merupakan salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan sangat mempengaruhi agamanya. Beliau saw bersabda,

“Penyakit umat terdahulu telah merambah kepada kamu semua yaitu: kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Aku tidak berkata pencukur rambut, tetapi pencukur agama.” 31

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Tidak akan bertemu di dalam diri seorang hamba, keimanan dan kedengkian.”32

Rasulullah saw bersabda, “Manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama dia tidak mempunyai rasa dengki”33

KEKIKIRAN YANG DIPERTURUTKAN

Di antara bentuk kemaksiatan hati yang besar ialah tiga hal yang dianggap merusak kehidupan manusia, yang kita diperingatkan oleh hadits Nabi saw untuk menjauhinya: “Ada tiga hal yang dianggap dapat membinasakan kehidupan manusia, yaitu kekikiran (kebakhilan) yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban orang terhadap dirinya sendiri.”34

Banyak sekali hadits yang mencela sifat kikir ini:

“Kekikiran dan keimanan selamanya tidak akan bertemu
dalam hati seorang hamba.” 35

“Keburukan yang ada di dalam diri seseorang ialah, kekikiran yang meresahkan dan sikap pengecut yang melucuti.” 36

“Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah kekikiran, karena sesungguhnya kekikiran itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu; karena ia membuat mereka menumpahlan darah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” 37

“Jauhilah kekikiran, karena sesungguhnya umat sebelum kamu telah binasa karena kekikiran ini. Kekikiran itu menyuruh memutuskan silaturahmi, maka mereka memutuskannya; kekikiran itu menyuruh bakhil, maka mereka bakhil; kekikiran itu menyuruh berbuat keji, maka mereka berbuat keji.” 38

Para ulama berkata, “Kikir adalah sifat bakhil yang disertai dengan tamak. Ia melebihi keengganan untuk memberikan sesuatu karena kebakhilan. Bakhil hanyalah untuk hal-hal yang berkaitan dengan pemberian harta benda saja, sedangkan kikir berkaitan dengan pemberian harta benda dan juga kebaikan atau ketaatan. Dan kekikiran yang meresahkan (al-syukhkh al-hali’)ialah yang membuat pelakunya selalu resah, dan sangat gelisah.
Artinya, dia selalu gelisah dan khawatir bila ada haknya yang diminta orang.” Mereka berkata, “Kekikiran selamanya tidak pernah akan bertemu dengan pengetahuan terhadap Allah. Karena sesungguhnya keengganan untuk menafkahkan harta benda dan memberikannya kepada orang lain adalah karena takut miskin, dan ini merupakan kebodohan terhadap Allah, dan tidak mempercayai janji dan jaminannya. Atas dasar itulah hadits Nabi saw menafikan pertemuan antara kekikiran dan keimanan di dalam hati manusia. Masing-masing menolak yang lain.

HAWA NAFSU YANG DITURUTI

Di antara hal-hal yang dapat membinasakan (al-muhlikat) manusia sebagaimana disebutkan oleh hadits Nabi saw ialah hawa nafsu yang dituruti; yang juga diperingatkan oleh al-Qur’an dalam berbagai ayatnya. Allah SWT pernah berkata kepada Dawud:

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu penguasa di maka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan

MEMBEDAKAN ANTARA KEKUFURAN, KEMUSYRIKAN, DAN KEMUNAFIQAN YANG BESAR DAN YANG KECIL

3 Jan

Yusuf Qardawy, Fiqih Prioritas

SATU hal yang sangat penting di sini ialah kemampuan untuk
membedakan tingkat kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan.
Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan ini ada
tingkat-tingkatnya.

Akan tetapi, nash-nash agama menyebutkan kekufuran,
kemusyrikan, dan kemunafiqan hanya dalam satu istilah, yakni
kemaksiatan; apalagi untuk dosa-dosa besar. Kita mesti
mengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita tidak
mencampur adukkan antara berbagai istilah tersebut, sehingga
kita menuduh sebagian orang telah melakukan kemaksiatan berupa
kekufuran yang paling besar (yakni ke luar dari agama ini)
padahal mereka sebenarnya masih Muslim. Dengan menguasai
penggunaan istilah itu, kita tidak menganggap suatu kelompok
orang sebagai musuh kita, lalu kita menyatakan perang terhadap
mereka, padahal mereka termasuk kelompok kita, dan kita juga
termasuk dalam kelompok mereka; walaupun mereka termasuk orang
yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk
menangani masalah ini sebaiknya kita mengaca pada peribahasa
Arab: “Hidungmu adalah bagianmu, walaupun hidung itu pesek.”

KEKUFURAN BESAR DAN KEKUFURAN KECIL

Sebagaimana diketahui bahwasanya kekufuran yang paling besar
ialah kekufuran terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana
yang telah kami sebutkan di muka sehubungan dengan kekufuran
orang-orang atheis; atau kekufuran terhadap kerasulan Muhammad
saw sebagaimana kekufuran yang dilakukan oleh orang Yahudi dan
Nasrani. Mereka dikategorikan sebagai orang-orang kafir
terhadap kerasulan Muhammad dalam hukum-hukum dunia Adapun
balasan yang akan diterima oleh mereka, tergantung kepada
sejauh mana rintangan yang pernah mereka lakukan terhadap
Rasulullah saw setelah dijelaskan bahwa beliau adalah
Rasulullah saw; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan
ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Adapun bagi orang yang belum jelas kebenaran baginya, karena
dakwah Islam belum sampai kepada mereka, atau telah sampai
tetapi tidak begitu jelas sehingga dia tidak dapat memandang
dan mempelajarinya, maka dia termasuk orang-orang yang
dimaafkan. Allah SWT berfirman:

“… dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus
seorang rasul.” (al-Isra,: 15)

Diyakini bahwasanya kaum Muslimin bertanggung jawab –sampai
kepada batas yang sangat besar– terhadap kesesatan
bangsa-bangsa di muka bumi; kebodohan mereka akan hakikat
Islam; dan keterjerumusan mereka kepada kebathilan musuh
Islam. Kaum Muslimin harus berusaha dengan keras dan
sungguh-sungguh untuk menyampaikan risalah Islam, menyebarkan
dakwah mereka kepada setiap bangsa dengan bahasa mereka,
sehingga mereka mendapatkan penjelasan mengenai Islam dengan
sejelasjelasnya, dan panji risalah Muhammad dapat ditegakkan.

Sedangkan kekufuran yang kecil ialah kekufuran yang berbentuk
kemaksiatan terhadap agama ini, bagaimanapun kecilnya.

Misalnya orang yang sengaja meninggalkan shalat karena malas,
dengan tidak mengingkari dan tidak mencelanya. Orang seperti
ini, menurut jumhur ulama adalah orang yang berbuat maksiat,
atau fasiq, dan tidak kafir; walaupun dalam beberapa hadits
dikatakan sebagai kafir. Sebagaimana hadits: “Batas antara
kami dan mereka adalah shalat.” “Barangsiapa yang
meninggalkannya, maka dia termasuk kafir.”3 “Batas antara
seseorang dengan kekufuran ialah meninggalkan shalat.”4

Ibn Hazm –dengan Zhahiriyahnya– tidak mengatakan bahwa orang
yang meninggalkan shalat termasuk kafir… Selain itu, ada
riwayat yang berasal dari Imam Ahmad tidak mengatakan bahwa
orang yang meninggalkan shalat itu adalah kafir. Tetapi dia
dihukumi sebagai orang kafir, kalau imam atau qadhi telah
memanggilnya dan memintanya untuk bertobat, kemudian dia
enggan menuruti permintaan itu.

Imam Ibn Qudamah mendukung pendapat tersebut dan mengatakan
bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir –asal
orang itu tidak mengingkarinya dan tidak mengabaikannya. Jika
dia dibunuh karena meninggalkan shalat, maka hal itu adalah
sebagai pelaksanaan hudud dan bukan karena kafir. Ada riwayat
lain yang juga berasal dari Ahmad, yang dipilih oleh Abu
Abdillah bin Battah, yang tidak setuju dengan pendapat bahwa
orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Abu Abdillah
mengatakan, “Inilah pendapat mazhab, dan tidak ada pendapat
yang bertentangan dengannya dalam mazhab ini.”

Ibn Qudamah mengatakan, “Ini merupakan pendapat kebanyakan
fuqaha, dan juga pendapat Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i…”
seraya mengutip hadits-hadits yang disepakati ke-shahih-annya
5 yang mengharamkan api neraka atas orang yang mengatakan:
“Tiada tuhan selain Allah,” dan orang yang mengatakannya akan
dikeluarkan darinya; karena di dalam hati orang ini masih ada
kebaikan sebesar biji gandum. Selain itu, Ibn Qudamah juga
berargumentasi dengan qaul para sahabat dan konsensus kaum
Muslimin yang mengatakan, “Sesungguhnya kami belum pernah
mengetahui pada suatu zaman yang telah berlalu ada seseorang
yang meninggalkan shalat kemudian dia tidak dimandikan dan
dishalatkan ketika meninggal dunia, kemudian tidak dikubur di
kuburan kaum Muslimin; atau yang ahli warisnya tidak boleh
mewarisi dirinya, atau dia mewarisi keluarganya yang telah
meninggal dunia; atau ada dua orang suami istri yang
dipisahkan karena salah seorang di antara keduanya
meninggalkan shalat, padahal orang yang meninggalkan shalat
sangat banyak. Kalau orang yang meninggalkan shalat dianggap
sebagai kafir, maka akan jelaslah hukum yang berlaku atas
mereka.”

Ibn Qudamah menambahkan, “Kami belum pernah mengetahui
pertentangan yang terjadi antara kaum Muslimin tentang
orang-orang yang meninggalkan shalat bahwa mereka wajib
mengqadhanya. Sampai kalau dia murtad, dia tidak wajib
mengqadha shalat dan puasanya. Adapun hadits-hadits terdahulu
(yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat
dianggap kafir), maka sesungguhnya hadits tersebut ingin
memberikan tekanan yang lebih berat dan menyamakannya dengan
kekufuran, dan bukan ungkapan yang sebenarnya. Sebagaimana
sabda Rasulullah s aw, “Mencela orang Muslim adalah kefasikan
dan membunuhnya adalah kekufuran.”6

“Barangsiapa berkata kepada saudaranya, ‘Hai kafir,
maka sesungguhnya kalimat ini akan kembali kepada salah
seorang di antara mereka.”7

Ungkapan-ungkapan seperti itu sebetulnya dimaksudkan untuk
memberikan tekanan dan ancaman, dan pendapat terakhir inilah
yang paling tepat di antara dua pendapat di atas. Wallah
a’lam.8

PENJELASAN IMAM IBN AL-QAYYIM

Dalam buku al-Madarij, imam Ibn al-Qayyim berkata, “Kekufuran
itu adalah dua macam: kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar
adalah penyebab kekalnya seseorang di api nereka, sedangkan
kufur kecil hanya menyebabkan ancaman Allah SWT dan tidak
kekal di api neraka.” Sebagaimana dijelaskan oleh sabda Nabi
saw,

“Ada dua hal yang menyebabkan kekafiran dalam umatku:
yaitu orang yang menyesali nasabnya dan orang yang
berkhianat.”9

Dalam as-Sunan, Nabi saw bersabda,

“Barangsiapa mendatangi istrinya dari duburnya, maka
dia telah ingkar dengan apa yang diturunkan kepada
Muhammad.” 10

Dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda,

“Barangsiapa datang kepada dukun atau peramal, kemudian
dia mempercayai apa yang dia katakan, maka dia telah
kufur terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah
kepada Muhammad.” 11

“Janganlah kamu menjadi kafir lagi sesudahku, kemudian
sebagian dari kamu memukul leher sebagian yang lain.”12

Berikut ini ada baiknya kami kemukakan tentang penakwilan Ibn
Abbas dan para sahabat yang lainnya terhadap firman Allah SWT:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa
yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang kafir.” (al-Ma’idah: 44)

Ibn Abbas berkata, “Bukan kafir yang mengakibatkan pindahnya
agama, tetapi kalau dia melalukannya maka dia dianggap kafir,
dan tidak seperti orang yang kafir terhadap Allah dan hari
akhir.” Begitu pula pendapat Thawus.

Atha’ berkata, “Yang serupa itu adalah kekufuran di bawah
kekufuran kezaliman di bawah kezaliman, dan kefasiqan di bawah
kefasiqan.”

Sebagian dari mereka ada yang mentakwilkan ayat meninggalkan
hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai orang
yang ingkar kepada-Nya. Ini adalah pendapat Ikrimah.
Penakwilan ini tidak dapat diterima karena sesungguhnya ingkar
kepada-Nya adalah kufur.

Diantara mereka ada yang menakwilkan bahwa meninggalkan hukum
yang dimaksudkan oleh ayat di atas ialah meninggalkan hukum
dengan seluruh ayat yang diturunkan oleh Allah SWT. Dia
menambahkan: “Termasuk di dalamnya ialah hukum yang berkaitan
dengan tauhid dan Islam.” Ini adalah penakwilan Abd al-Aziz
al-Kinani, yang merupakan penakwilan yang jauh juga. Karena
sesungguhnya ancamannya diberikan kepada orang yang menafikan
hukum yang telah diturunkan olehnya, yang mencakup penafian
dalam kadar yang banyak (semuanya) atau hanya sebagian saja.

Ada juga orang yang menakwilkan ayat tersebut dengan
mengatakan bahwa yang dimaksudkan ialah menetapkan hukum yang
bertentangan dengan nash, dengan sengaja, bukan karena tidak
mengetahui atau karena salah takwil. Begitulah yang dikisahkan
oleh al-Baghawi dari para ulama pada umumnya.

Ada yang mentakwilkan bahwa yang dimaksudkan oleh ayat itu
ialah para ahli kitab. Yaitu pendapat Qatadah, al-Dhahhak, dan
lain-lain. Dan ini dianggap sebagai penakwilan yang cukup
jauh, karena bertentangan dengan bentuk lahiriah lafal
tersebut sehingga ia tidak dapat ditakwilkan seperti itu.13

Ada pula yang berpendapat: “Hal itu adalah kufur yang dapat
mengeluarkan seseorang dari agama ini.”

Yang benar ialah bahwa sesungguhnya memutuskan hukum dengan
sesuatu yang tidak diturunkan oleh Allah SWT mengandung dua
kekufuran, kecil dan besar, melihat keadaan hakimnya. Kalau
dia berkeyakinan bahwa wajib baginya untuk menetapkan hukum
dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam suatu masalah,
kemudian dia mengetahui bahwa menyimpang darinya dianggap
sebagai suatu kemaksiatan, dan dia juga mengakui bahwa hal itu
akan mendapatkan siksa, maka tindakan ini termasuk kufur
kecil. Jika dia berkeyakinan bahwa tidak wajib baginya
menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam
suatu masalah, kemudian dia merasa bebas untuk menetapkan
hukum tersebut –padahal dia yakin bahwasanya ada hukum Allah
dalam masalah tersebut– maka tindakan ini dianggap sebagai
kekufuran besar. Jika dia tidak tahu dan dia melakukan
kesalahan, maka dia dianggap bersalah dan dihukum sebagai
orang yang memiliki dua kesalahan.

Maksudnya, sesungguhnya semua kemaksiatan merupakan satu
bentuk kekufuran kecil. Ia bertolak belakang dengan
kesyukuran, yakni bekerja untuk melakukan ketaatan. Upaya
untuk menetapkan hukum itu sendiri boleh jadi merupakan satu
bentuk kesyukuran, atau kekufuran, atau yang lain, yaitu tidak
syukur atau tidak kufur…. Wallah a’lam.14

KEMUSYRIKAN BESAR DAN KEMUSYRIKAN KECIL

Sebagaimana adanya pembagian kategori besar dan kecil dalam
kekufuran, begitu pula dalam kemusyrikan. Ada yang besar dan
ada pula yang kecil.

Kemusyrikan yang besar telah diketahui bersama, sebagaimana
dikatakan oleh Ibn al-Qayyim: “Yaitu mempersekutukan sesuatu
dengan Allah SWT. Mencintai sesuatu sebagaimana dia mencintai
Allah. Inilah kemusyrikan yang setara dengan kemusyrikan
karena menyamakan tuhan-tuhan orang musyrik dengan Tuhan alam
semesta. Dan oleh karena itu, mereka berkata kepada
tuhan-tuhan mereka ketika di neraka kelak, ‘Demi Allah,
sungguh kita dahulu di dunia dalam kesesatan yang nyata,
karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan alam semesta.'”l5

Kemusyrikan seperti ini tidak dapat diampuni kecuali dengan
tobat kepada-Nya, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,
dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik
itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya…”
(an-Nisa’: 48)

Dapat diampuni kalau seseorang tidak mengetahui bahwa amalan
itu adalah amalan jahiliyah dan musyrik, yang sangat dicela
oleh al-Qur’an, sehingga dia terjerumus ke dalamnya, mengakui
kebenarannya, dan menganjurkan orang kepadanya, serta
menganggapnya sebagai sesuatu yang baik. Dia tidak tahu bahwa
apa yang sedang dia lakukan adalah pekerjaan orang jahiliyah,
atau orang yang serupa dengannya, atau orang yang lebih jahat
daripada mereka atau di bawah mereka. Karena ketidaktahuannya,
hatinya menentang Islam, menganggap kebaikan sebagai
kemungkaran, dan menganggap kemungkaran sebagai kebaikan;
menganggap sesuatu yang bid’ah sebagai Sunnah, dan menganggap
sunnah sebagai bid’ah; mengkafirkan orang lain yang beriman
dan bertauhid, serta menganggap bid’ah orang-orang yang
mengikuti R3Sulullah saw, orang-orang yang menjauhi hawa nafsu
dan segala bentuk bid’ah. Oleh sebab itu, barangsiapa yang
memiliki mata hati yang hidup, maka dia akan melihat kebenaran
itu dengan mata kepalanya sendiri.

Ibn al-Qayyim berkata, “Sedangkan kemusyrikan kecil adalah
seperti riya’, memamerkan diri kepada makhluk Allah, bersumpah
dengan selain Allah, sebagaimana ditetapkan oleh hadits Nabi
saw yang bersabda,

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia
telah musyrik.” 16

Dan ucapan seseorang kepada orang lain: ‘Kalau Allah
menghendaki dan engkau menghendaki’; ‘Ini berasal dari Allah
dan dari engkau’; ‘Aku bersama Allah dan engkau’; ‘Kepada
siapa lagi aku bergantung kecuali kepada Allah dan engkau’;
‘Aku bertawakkal kepada Allah dan kepadamu’; ‘Jika tidak ada
kamu, maka tidak akan terjadi begini dan begitu’; dan
ucapan-ucapan seperti ini dapat dikategorikan sebagai
kemusyrikan besar, terpulang kepada orang yang mengatakannya
dan tujuannya. Nabi saw bersabda kepada seorang lelaki yang
berkata kepadanya: “Kalau Allah SWT dan engkau
menghendakinya.” Maka Nabi saw bersabda, “Apakah engkau hendak
menjadikan diriku, sebagai sekutu Allah? Katakan: “Kalau Allah
sendiri menghendaki.”” Ucapan seperti ini adalah yang paling
ringan dibandingkan dengan ucapan yang lainnya.

Di antara bentuk kemusyrikan lainnya ialah sujudnya seorang
murid kepada syaikhnya. Orang yang bersujud, dan orang yang
disujudi dianggap sama-sama melakukan kemusyrikan.

Bentuk yang lainnya yaitu mencukur rambut untuk syaikhnya,
karena sesungguhnya hal ini dianggap sebagai penyembahan
terhadap selain Allah, dan tidak ada yang berhak mendapatkan
penyembahan dengan cara mencukur rambut kecuali dalam ibadah
kepada Allah SWT saja.

Bentuk kemusyrikan yang lainnya ialah bertobat kepada syaikh.
Ini adalah suatu kemusyrikan yang besar. Karena sesungguhnya
tobat tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah SWT. Seperti
shalat, puasa, dan haji. Ibadah-ibadah ini hanya khusus untuk
Allah SWT saja.

Dalam al-Musnad disebutkan bahwa kepada Rasulullah saw
didatangkan seorang tawanan, kemudian dia berkata, “Ya Allah,
sesunggguhnya aku bertobat kepada-Mu dan tidak bertobat kepada
Muhammad.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Dia telah mengetahui
hak untuk yang berhak memilikinya.”

Tobat adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah SWT
sebagaimana sujud dan puasa.

Bentuk kemusyrikan lainnya ialah bernazar kepada selain Allah,
karena sesungguhnya hal ini termasuk kemusyrikan dan dosanya
lebih besar daripada dosa bersumpah atas nama selain Allah .

Kalau ada orang yang bersumpah dengan selain Allah dianggap
musyrik, maka bagaimana halnya dengan orang yang bernazar
untuk selain Allah? Dalam as-sunan ada hadits yang berasal
dari Uqbah bin ‘Amir dari Rasulullah saw yang bersabda, “Nazar
adalah sumpah.”

Di antara bentuk kemusyrikan yang lainnya ialah takut kepada
selain Allah, bertawakkal kepada selain Allah, dan beramal
karena selain Allah, tunduk dan merendahkan diri kepada selain
Allah, meminta rizki kepada selain Allah, dan memuji kepada
selain Allah karena memberikan sesuatu kepadanya dan tidak
memuji kepada Allah SWT, mencela dan marah kepada Allah karena
belum mendapat rizki, dan belum ditakdirkan untuk
mendapatkannya, menisbatkan nikmat-nikmat-Nya kepada selain
Allah, dan berkeyakinan bahwa di alam semesta ini ada sesuatu
yang tidak dijangkau oleh kehendak-Nya.” 17

KEMUNAFIQAN BESAR DAN KEMUNAFIQAN KECIL

Kalau di dalam kekufuran dan kemusyrikan ada yang besar dan
ada juga yang kecil, maka begitu pula halnya dengan
kemunafiqan. Ia juga ada yang besar dan ada pula yang kecil.

Kemunafiqan besar adalah kemunafiqan yang berkaitan dengan
aqidah, yang mengharuskan pelakunya tetap tinggal
selama-lamanya di dalam neraka. Bentuknya ialah menyembunyikan
kekufuran dan menampakkan Islam. Beginilah bentuk kemunafiqan
pada zaman Nabi saw, yang ciri-cirinya disebutkan di dalam
al-Qur’an dan di jelaskan kepada hamba-hamba yang beriman,
agar mereka berhati-hati terhadap orang-orang munafiq,
sehingga mereka sedapat mungkin menjauhi perilaku mereka.

Sedangkan kemunafiqan kecil ialah kemunafiqan dalam amal
perbuatan dan perilaku, yaitu orang yang berperilaku seperti
perilaku orang-orang munafiq, meniti jalan yang dilalui oleh
mereka, walaupun orang-orang ini sebenarnya memiliki aqidah
yang benar. Inilah sebenarnya yang diingatkan oleh beberapa
hadits yang shahih.

“Ada empat hal yang apabila kamu berada di dalamnya,
maka kamu dianggap sebagai orang munafiq murni. Dan
barangsiapa yang mempunyai salah satu sifat tersebut,
maka dia dianggap sebagai orang munafiq hingga ia
meninggalkan sifat tersebut. Yaitu apabila dia
dipercaya dia berkhianat, apabila berbicara dia
berbohong, dan apabila membuat janji dia mengingkari,
apabila bertengkar dia melakukan kecurangan.” 18

Hadits yang lain menyebutkan, “Tanda-tanda orang munafiq itu
ada tiga: Apabila bicara, dia berbohong; apabila berjanji dia
mengingkarinya; dan apabila dipercaya, dia berkhianat.”19

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Walaupun dia berpuasa,
shalat, dan mengaku bahwa dia Muslim.” 20

Hadits-hadits ini dan hadits-hadits yang serupa dengannya
menjadikan para sahabat mengkhawatirkan bahwa diri mereka
termasuk golongan munafiq. Sehingga al-Hasan berkata, “Tidak
ada yang takut kecuali omng mu’min dan tidak ada yang merasa
aman darinya kecuali orang munafiq.”

Bahkan, Umar berkata kepada Hudzaifah yang pernah diberi
penjelasan oleh Nabi saw mengenai ciri-ciri orang munafiq:
“Apakah diriku termasuk golongan mereka?”

Umar r.a. pernah memperingatkan adanya orang munafiq yang
cerdik pandai, sehingga ada orang yang bertanya, “Bagaimana
mungkin ada orang munafiq yang pandai?” Dia menjawab: “Pandai
lidahnya, tetapi bodoh hatinya.”

Sebagian sahabat berkata, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu
dan kekhusyu’an orang munafiq?” Lalu ada orang yang berkata
kepada mereka, “Bagaimanakah bentuknya kekhusyu’an orang
munafiq itu?” Dia menjawab, “Badannya kelihatan khusyu’ tetapi
hatinya tidak khusyu’.” 21

DOSA-DOSA BESAR

Setelah kekufuran dan berbagai tingkatannya, maka di bawahnya
ada kemaksiatan, yang terbagi menjadi dosa-dosa besar, dan
dosa-dosa kecil. Dosa besar ialah dosa yang sangat berbahaya,
yang dapat menimbulkan kemurkaan, laknat Allah, dan neraka
Jahanam. Orang yang melakukannya kadang-kadang harus dikenai
hukum had di dunia ini.

Para ulama berselisih pendapat dalam memberikan batasan
terhadap dosa besar ini. Barangkali yang paling dekat ialah
kemaksiatan yang pelakunya dapat dikenakan had di dunia, dan
diancam dengan ancaman yang berat di akhirat kelak, seperti
masuk neraka, tidak boleh memasuki surga, atau mendapatkan
kemurkaan dan laknat Allah SWT. Itulah hal-hal yang
menunjukkan besarnya dosa itu.

Ada pula nash-nash agama yang menyebutkan batasannya secara
pasti dan mengatakannya ada tujuh 22 macam dosa besar setelah
kemusyrikan; yaitu: Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah
untuk membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar; sihir;
memakan riba; memakan harta anak yatim; menuduh perempuan
mukmin melakukan zina; melakukan desersi dalam peperangan.
Sedangkan hadits-hadits shahih lainnya menyebutkan: Menyakiti
kedua hati orang tua, memutuskan tali silaturahim, menyatakan
kesaksian yang palsu, bersumpah bohong, meminum khamar,
berzina, melakukan homoseksual, bunuh diri, merampok,
mempergunakan barang orang lain secara tidak benar,
mengeksploitasi orang lain, menyogok, dan meramal.

Termasuk dalam kategori dosa besar ini ialah meninggalkan
perkara-perkara fardu yang mendasar, seperti: meninggalkan
shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa alasan di bulan
Ramadhan, dan tidak mau melaksanakan ibadah haji bagi orang
yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci.

Dosa-dosa besar yang disebutkan oleh pelbagai hadits banyak
sekali macamnya. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan
oleh hadits, “Tidakkah telah saya beritahukan kepada kamu
semua mengenai dosa-dosa besar?”23 Kemudian beliau menyebutkan
berbagai dosa besar setelah kemusyrikan: menyakiti hati kedua
orangtua, dan mengucapkan persaksian yang palsu.

Dalam sebuah hadits shahih dikatakan bahwa Nabi saw bersabda.

“Sesungguhnya, yang termasuk salah satu dosa besar
ialah orang yang melaknat kedua orang tuanya.” Kemudian
ada seorang sahabat yang bertanya: “Bagaimana mungkin
seseorang dapat melaknat kedua orang tuanya?” Nabi saw
menjawab, “Seorang lelaki, mencela ayah seorang lelaki,
yang lainnya, kemudian lelaki yang ayahnya dicela itu
mencela ayah orang yang mencelanya, dan mencela
ibunya.”24

Yakni orang yang ayahnya dicela itu, kemudian membalasnya
dengan mencela ayah dan ibunya.

Hadits Nabi saw menganggap bahwa pencelaan terhadap kedua
orangtua secara tidak langsung termasuk salah satu jenis dosa
besar, dan bukan hanya termasuk sesuatu yang diharamkan; lalu
bagaimana halnya dengan orang yang langsung mencela dan
menyakiti hati kedua orangtuanya? Bagaimana halnya dengan
orang yang langsung menyiksa dan memukul kedua orang tuanya?

Bagaimana pula dengan orang yang membuat kehidupan mereka
bagaikan neraka jahim karena kekerasan dan perbuatan yang
menyakitkan hati?

Syariah agama ini telah membedakan antara kemaksiatan yang
didorong oleh suatu kelemahan dan kemaksiatan yang didorong
oleh kezaliman. yang pertama ialah bagaikan zina, dan yang
kedua ialah bagaikan riba. Dari riba adalah dosa yang paling
berat di sisi Allah SWT, sehingga al-Qur’an tidak pernah
mengatakan sesuatu maksiat sebagaimana yang dikatakannya dalam
hal riba:

“… dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)
jika kamu orang- orang yang beriman. Maka jika kamu
tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu
…” (al-Baqarah: 278-279)

Rasulullah saw yang mulia melaknat orang yang memakan riba,
orang yang menyuruh orang lain memakan riba, penulisnya, dan
kedua saksi atas perbuatan riba itu, sambil bersabda,

“Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang lelaki dan
dia mengetahui, maka hal itu lebih berat daripada tiga
puluh enam kali berzina.”25

Dan beliau membagi riba menjadi tujuh puluh macam, atau
tujuhpuluh dua atau tujuh puluh tiga macam. Yang paling rendah
dari berbagai macam bentuk itu ialah seorang lelaki yang
menikahi ibunya.26

Catatan Kaki:

3 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Hibban, dan
Hakim dari Buraidah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih
al-Jami’ as-Shaghir (4143)

4 Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah
dari Jabir, ibid., (2848)

5 Lihatlah hadits~hadits ini dalam al-Mughni, 3:356; yang
ditahqiq oleh Dr. Taraki dan Dr. Halwa.

6 Muttafaq ‘Alaih dari Ibn Mas’ud, al-Lu’lu’ wa al-Marjan (43)

7 Muttafaq ‘Alaih dari Ibn Umar, ibid., 39

8 Lihat al-Mughni, 3:351-359

9 Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.
(Shahih al-Jami’ as-Shaghir: 138).

10 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3904); Tirmidzi (135); dan Ibn
Majah (939).

11 Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dari Abu Hurairah r.a.
(Shahih al-Jami’ as-Shaghir).

12 Muttafaq ‘Alaih dari Jarir dan Ibn Umar, sebagaimana
disebutkan dalam al-Lu’lu’wal-Marjan (44) dan (45).

13 Lihat rincian yang berkaitan dengan masalah ini dalam
fatwa- fatwa yang terperinci dalam buku kami yang berjudul,
Fatawa Mu’ashirah, juz 2, bagian Fatwa: al-Hukm bi ghair ma
Anzala Allah.

14 Lihat Madarij as-Salikin, 1: 335-337

15 Surat as-Syu’ara’, 97-98

16 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim dari Ibn Umar
(Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 8462)

17 Lihat Madarij as-Salikin, 1:344-346.

18 Muttafaq ‘Alaih, dari Abdullah bin Umar; al-Lu’lu’
wal-Marjan (37).

19 Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah r.a., ibid., (38).

20 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab
al-Iman, 109, 110.

21 Madarij al-Salikin, 1: 358

22 Lihat makalah kami yang membahas tentang kemurtadan dan
cara mengatasinya dalam masyarakat Islam; di dalam buku kami
yang berjudul Malaamih al-Majtama’ al-Muslim al-ladzi,
Nansyuduh, bagian al-‘Aqidah wa al-Iman, penerbit Maktabah
Wahbah, Kairo.

23 Ada riwayat dari Abu Hurairah r.a. dalam as-Shahihain dan
lain-lain, yang mengisyaratkan tentang 41 dosa besar ini,
yaitu hadits: “Jauhilah tujuh macam dosa besar (atau hal-hal
yang dapat membinasakan).” Al-Lu’lu’ wa al-Marjan (56).

24 Hadits Abu Bakar, yang diriwayatkan oleh Muttafaq ‘Alaih;
al-Lu’lu’ wa al-Marjan (54).

25 Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani dari Abdullah bin
Hanzhalah, sebagaimane disebutkan dalam Shahih al-Jami’
as-Shaghir.

26 Diriwayatkan oleh Thabrani dari al-Barra’; al-Hakim dari
Ibn Mas’ud; Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. sebagaimana
disebutkan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (3537) (3539) dan
(3541)

PRIORITAS DALAM PERKARA YANG DILARANG

3 Jan

Dr. Yusuf Al Qardhawy, Fiqih Prioritas

PADA bab terdahulu kami telah membahas mengenai perbedaan tingkat dalam perkara-perkara yang diperintahkan, dari perkara yang mustahab hingga perkara yang wajib, fardu kifayah, ardu ain, dan tingkatan fardu ‘ain. Pada bab ini kami juga hendak menguraikan perbedaan tingkat ada perkara-perkara yang dilarang, karena sesungguhnya perkara-perkara yang dilarang tidak berada pada tingkat yang sama. Ia juga memiliki berbagai tingkat yang sangat berbeda.

Yang paling tinggi ialah kufur kepada Allah SWT dan yang paling rendah ialah perkara yang makruh tanzihi, atau yang dikatakan dengan khilaf al-awla (bila kita meninggalkannya, maka hal ini adalah lebih baik).

Kekufuran terhadap Allah SWT juga bertingkat-tingkat dan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

KUFUR ATHEIS

Yang dimaksudkan dengan kufur atheis ialah yang pelakunya tidak percaya bahwa alam semesta ini mempunyai Tuhan, yang mempunyai malaikat, kitab-kitab suci, rasul yang memberi

kabar gembira dan peringatan, serta tidak percaya kepada adanya akhirat di mana manusia akan diberi balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan di dunia ini, baik berupa kebaikan maupun keburukan, Mereka tidak mengakui ketuhanan, kenabian, kerasulan, dan pahala di akhirat kelak, Bahkan mereka adalah sebagaimana pendahulu mereka yang dikatakan di dalam al-Qur’an:

“Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.'” (al-An’am: 29)

Atau sebagaimana yang diungkapkan oleh sebagian orang atheis: “Hidup ini hanyalah lahir dari rahim kemudian ditelan oleh tanah, dan tidak ada apa-apa lagi selepas itu.”

Inilah bentuk kekufuran orang-orang materialis pada setiap zaman. Dan itulah yang menjadi dasar pemikiran orang-orang komunis yang telah tercabut akar-akarnya dan yang menetapkan dalam undang-undang dasar negara mereka: “Tuhan tidak ada, dan hidup ini hanya materi saja.”

Agama menurut pandangan mereka hanyalah sesuatu yang diada-adakan, dan ketuhanan adalah omong kosong belaka. Dan oleh karena itu ada ucapan tokoh filosof materialisme yang ingkar terhadap Tuhan, dan sangat terkenal di kalangan mereka: “Tidaklah benar bahwa sesungguhnya Allah menciptakan manusia. Yang benar ialah bahwa sesungguhnya manusialah yang menciptakan Allah.”

Ucapan ini merupakan kesesatan yang sangat jauh, yang tidak dapat diterima oleh logika akal sehat, logika fitrah, logika ilmu pengetahuan, logika alam semesta, logika sejarah, dan juga logika wahyu yang didasarkan pada bukti-bukti yang sangat pasti mengenai keberadaan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“… Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh jauhnya.” (an-Nisa’: 136)

Inilah tingkat kekufuran yang paling tinggi.

KUFUR SYIRIK

Di bawah tingkat kekufuran di atas ialah kufur syirik, seperti kemusyrikan yang dilakukan oleh orang Arab pada zaman Jahiliyah. Dahulu mereka percaya tentang adanya Tuhan, yang menciptakan langit, bumi, dan manusia, serta yang memberikan rizki, kehidupan, dan kematian kepada mereka. Akan tetapi, di samping adanya pernyataan tentang adanya Tuhan itu -yang disebut dengan tauhid rububiyyah, mereka juga mempersekutukan Allah- yang disebut dengan tauhid ilahiyyah, dengan menyembah tuhan-tuhan yang lain, baik yang berada di bumi maupun yang berada di langit. Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciplakan langit dan bumi?,’ niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (az-Zukhruf: 9)

“Dan sesungguhrrya jika kamu tanyakan kepada mereka. ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? n Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’…'” (al-Ankabut: 61)

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya).'” (Yunus: 31)

Mereka percaya kepada adanya Pencipta, Pemberi Rizki, dan Pengatur alam semesta. Akan tetapi mereka masih menyembah tuhan-tuhan yang lain berupa pohon, batu, barang tambang, dan lain-lain, dengan mengatakan:
“… Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya …” (az-Zumar: 3)

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.'” … (Yunus: 18)

Bentuk kemusyrikan seperti ini bermacam-macam. Ada kemusyrikan Arab penyembah berhala; kemusyrikan Majusi Persia yang mengatakan ada dua macam tuhan, yaitu tuhan baik atau tuhan cahaya, dan tuhan buruk atau tuhan gelap; kemusyrikan Hindu dan Budha, dan para penyembah berhala lainnya yang masih mewarnai pikiran ratusan juta orang di
Asia dan Afrika; yang merupakan jenis kekufuran yang paling banyak pengikutnya.

Kemusyrikan itu ialah tempat tumbuhnya berbagai bentuk khurafat, dan bersemayam pelbagai kebathilan, yang sekaligus merupakan kejatuhan martabat manusia. Di mana manusia menyembah benda yang dia ciptakan sendiri, benda yang tidak dapat berkhidmat kepada dirinya, yang akhirnya manusia itu sendiri yang berkhidmat kepada benda ciptaannya, dan bahkan menjadi hambanya, tunduk dan taat kepadanya. Allah SWT berfirman:

“… Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit dan disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
(al-Hajj: 31)

KEKUFURAN AHLI KITAB

Di bawah kekufuran di atas adalah kekufuran ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Kekufuran mereka ialah karena mereka mendustakan kerasulan Muhammad saw, yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah-Nya yang terakhir, dandiberi kitab suci yang abadi, yang dalam satu segi membenarkan Taurat dan Injil, dan dari segi yang lain melakukan perbaikan ajaran yang terdapat pada kedua kitab
suci tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT berfirman:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu …” (al-Ma’idah: 48)

Di antara ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw ialah membenarkan konsep ketuhanan, karena banyak sekali penyelewengan yang telah mereka lakukan terhadap ajaran
kitab suci dan keyakinan mereka. Sehingga penyelewengan itu membuat keruh ajaran yang tadinya jernih, dan mengeluarkan mereka dari kemurnian tauhid yang dibawa oleh Ibrahim, bapak para nabi. Kitab taurat mereka beri muatan makna inkarnasi dan penyerupaan Allah dengan seseorang dari mereka, sehingga Allah dianggap sebagai salah seorang dari kalangan manusia, yang mempunyai rasa takut, iri hati, cemburu, dan juga bertengkar dengan manusia dan dikalahkan olehnya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang Israil … Begitulah penyelewengan itu mereka lakukan terhadap lembaran kitab Taurat.

Hal yang serupa juga dilakukan terhadap aqidah Nasrani yaitu dengan masuknya konsep Trinitas, pengaruh keyakinan Roma kepada agama ini, setelah masuknya raja Konstantinopel Imperium Romawi ke dalam agama Nasrani. Kasus ini justru menguntungkan negaranya, dan merugikan agamanya, sehingga sebagian ulama kita mengatakan: “Sesungguhnya Roma tidak diwarnai oleh Nasrani, tetapi justru Nasrani yang diwarnai oleh Roma.”

Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani meski digolongkan kepada orang-orang kafir -karena mereka mendustakan ajaran Islam, dan kenabian Muhammad saw- mereka menempati kedudukan khusus dalam tingkat kekufuran ini, sehingga mereka dikatakan sebagai “Ahli Kitab Samawi.” Mereka beriman kepada sejumlah tuhan, rasul yang diutus dari langit, dan juga percaya kepada balasan di akhirat kelak. Atas dasar itu, mereka adalah orang yang paling dekat dengan kaum Muslimin daripada yang lain. Al-Qur’an membolehkan kaum Muslimin untuk memakan makanan mereka dan melakukan pernikahan dengan
mereka:

“… Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula bagi mereka). Dan dihalalkan mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu…” (al-Ma’idah: 5)

Surat yang sama pula, yakni surat al-Ma’idah, berbicara tentang kekufuran orang-orang Nasrani karena mereka mengatakan:

“… sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam …” (Surat al-Ma’idah, 72)
“… bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga …” (Surat al-Ma’idah, 73)

Oleh karena itu, tidak benar orang yang mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang Nasrani pada hari ini berbeda dengan orang-orang Nasrani ketika al-Qur’an diturunkan.” Karena kita semua telah tahu bahwa ajaran agama Nasrani telah terkristalisasi dan dikenal pasti batas- batas keyakinannya sejak adanya ‘Seminar Nicea’ yang sangat terkenal pada tahun 325 M.
Pada era Makkah, para sahabapun mengetahui kedekatan para ahli kitab -khususnya orang-orang Nasrani- kepada orang-orang Roma. Para ahli kitab ini begitu sedih dengan kekalahan orang-orang Nasrani dari Bizantium terhadap orang-orang Persia, yang Majusi. Dan pada masa yang sama, para penyembah berhala dari kaum musyrik Makkah sangat bergembira dengan kemenangan yang diraih oleh orang Persia. Kedua golongan ini diketahui kepada siapa mereka lebih dekat dan kepada siapa mereka lebih jauh. Kekalahan orang-orang Roma ini disebutkan dalam awal surat ar-Rum sebagai berikut:

“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah …” (ar-Rum: 1-5)

Begitulah kaidah penting yang diletakkan di depan kita, untuk memberikan pertimbangan dan pengambilan keputusan dalam bergaul dengan orang-orang non-Islam. Secara umum, ahli kitab, adalah lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada pengikut faham atheis dan paganisme, selama tidak ada factor yang menjadikan ahli kitab sebagai musuh yang paling keras dan paling dengki dengan kaum Muslimin; sebagaimana peristiwa yang sedang terjadi di Serbia dan apa yang dilakukan oleh orang Yahudi.

Ditegaskan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada yang dapat menjaga kedamaian dengan kaum Muslimin, sehingga mereka dapat kita perlakukan secara damai. Dan ada pula di antara mereka yang suka menyerang dan memerangi kaum Muslimin, sehingga kita harus memerangi mereka sebagaimana mereka telah memerangi kita. Ada pula di antara mereka yang hanya sekadar kafir saja, ada yang kafir dan zalim, ada yang kafir dan menghalangi jalannya agama Allah. Semua bentuk kekufuran ini ada hukumnya masingmasing. Allah SWT berfirman:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan (tidak pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Mumtahanah: 8-9)

Tepatnya, sesungguhnya orang-orang ahli dzimmah mempunyai hak untuk bertempat tinggal karena mereka termasuk penduduk “Dar al-Islam.” Kita mempunyai hak dan kewajiban atas mereka, dan sebaliknya mereka juga memiliki hak dan kewajiban atas kita, kecuali perbedaan-perbedaan dalam ajaran agama. Mereka tidak diwajibkan untuk melepaskan identitas agama mereka, dan begitu pula kaum Muslimin.

KEKUFURAN ORANG MURTAD

Para ulama sepakat bahwa bentuk kekufuran yang paling buruk ialah kemurtadan (ar-riddah); yaitu keluarnya seseorang dari Islam setelah dia mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Kufur setelah Islam adalah lebih buruk daripada kufur yang asli. Musuh-musuh Islam akan tetap berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengembalikan kekufuran kepada para pemeluk Islam. Allah SWT berfirman:

“… Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…” (al-Baqarah: 217)
Kemudian Allah menjelaskan balasan orang yang mengikuti musuh yang menyesatkan dari ajaran agama itu dengan firman-Nya:

” … Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 217)

Kemurtadan dianggap sebagai pengkhianatan kepada Islam dan umat Islam, karena di dalamnya terkandung desersi, pemihakan dari satu umat kepada umat yang lain. Ia serupa dengan pengkhianatan terhadap negara, karena dia menggantikan kesetiaannya kepada negara lain, kaum yang lain. Sehingga dia memberikan cinta dan kesetiaannya kepada mereka, dan mengganti negara dan kaumnya.

Kemurtadan bukan sekadar terjadinya perubahan pemikiran, tetapi perubahan pemberian kesetiaan dan perlindungan, serta keanggotaan masyarakatnya kepada masyarakat yang lain yang bertentangan dan bermusuhan dengannya.

Oleh karena itulah, Islam menerapkan sikap yang sangat tegas dalam menghadapi kemurtadan, khususnya bila para pelakunya menyatakan kemurtadan diri mereka, dan menjadi penganjur kepada orang lain untuk melakukan kemurtadan. Karena sesungguhnya mereka merupakan bahaya yang sangat serius terhadap identitas masyarakat, dan menghancurkan dasar-dasar aqidahnya. Oleh sebab itu, ulama dari kalangan tabiin menganggap penganjur kemurtadan sebagai orang yang disebut dalam ayat ini:

“… orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi …” (al-Ma’idah: 33)

Syaikh Islam, Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa usaha melakukan kerusakan di muka bumi dengan cara menyebarkan kekufuran dan keraguan terhadap agama Islam adalah lebih berat daripada melakukan kerusakan dengan cara mengambil harta benda, dan menumpahkan darah.

Pendapat ini benar, karena sesungguhnya hilangnya identitas umat, penghancuran aqidahnya adalah lebih berbahaya dibandingkan kehilangan harta benda dan rumah mereka, serta terbunuhnya beberapa orang di antara mereka. Oleh sebab itu, al-Qur’an seringkali menganjurkan kepada orang-orang yang beriman untuk memerangi kemurtadan orang-orang yang telah beriman, dan tidak berdiam diri dalam menghadapi keadaan itu, serta tidak takut mendapatkan celaan ketika melakukan kebenaran. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela …” (al-Ma’idah: 54)

Al-Qur’an juga mengancam orang-orang munafiq apabila mereka menampakkan kekufurannya. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab yang besar dari sisi-Nya, atau azab dengan tangan kami. Sebab itu, tunggulah, sesungguhrrya kami menunggu-nunggu bersama kamu.'” (Surat at-Taubah: 52)
Sesungguhnya mereka akan ditimpa azab dari tangan kaum Muslimin apabila mereka menampakkan kekufuran yang mereka sembunyikan. Karena sesungguhnya kaum Muslimin tidak dapat mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kaum Muslimin hanya akan memperlakukan mereka dengan apa yang tampak dari lidah dan tubuh mereka.

Banyak hadits shahih yang menyebutkan hukum bunuh bagi orang-orang yang murtad (keluar dari Islam). Ada riwayat yang berasal dari Umar, yang menunjukkan bolehnya memenjarakan orang-orang murtad dan terus menahannya sehingga dia mau melihat kembali dirinya dan bertobat kepada Tuhannya. Pandangan ini dianut oleh an-Nakha’i dan ats-Tsauri.

Begitulah pendapat yang saya pilih sehubungan dengan kemurtadan secara diam-diam. Adapun kemurtadan yang ditampakkan dan menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama, maka saya kira Umar bin Khattab, an-Nakhai, dan at-Tsauri juga tidak akan memberikan toleransi terhadap pemikiran yang merusak aqidah umat itu, dan mendiamkan pelakunya bergerak dengan leluasa, walaupun mereka didukung oleh suatu kekuatan di belakang mereka.

Kita mesti membedakan antara kemurtadan yang ringan dan kemurtadan yang berat. Kita mesti membedakan orang murtad yang diam saja dan orang murtad yang menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama; karena sesungguhnya orang yang disebut terakhir ini termasuk orang yang memerangi Allah, Rasul-Nya dan berusaha membuat kerusakan di muka bumi. Para ulama juga telah membedakan antara bid’ah yang ringan dan bid’ah yang berat, antara orang yang menganjurkan kepada bid’ah dan orang yang tidak menganjurkannya.

KEKUFURAN ORANG MUNAFIQ

Di antara kekufuran yang termasuk dalam kategori yang berat dan sangat membahayakan kehidupan Islam dan eksistensinya ialah kekufuran orang-orang munafiq. Karena orang-orang munafiq hidup dengan dua wajah di tengah-tengah kaum Muslimin. Mereka ikut serta mengerjakan shalat, membayar zakat, mendirikan syiar-syiar Islam, padahal di dalam batin mereka, mereka hendak menipu orang-orang Islam, membuat makar terhadap mereka, dan menyokong musuh-musuh mereka.

Oleh karena itu, al-Qur’an menganggap penting untuk memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri, dan mengungkapkan tabir kehidupan mereka, serta menjelaskan sifat-sifat dan perilaku mereka. Sehingga surat al-Taubah dinamakan dengan al-Fadhihah (sebuah skandal), karena mengikuti pelbagai golongan mereka dan menguraikan tentang sifat-sifat mereka; sebagai satu surat khusus yang diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafiq. Di samping itu banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kehidupan mereka.

Awal surat al-Baqarah berbicara tentang orang-orang yang bertaqwa sebanyak tiga ayat, tentang orang-orang kafir sebanyak empat ayat, sedangkan tentang orang-orang munafiq sebanyak tiga belas ayat.

Oleh karena itu, Allah SWT akan membenamkan orang-orang munafiq di lapisan neraka paling bawah; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (an-Nisa’: 145-146)

Pada zaman kita sekarang ini banyak sekali orang-orang murtad yang tidak mengindahkan wahyu Ilahi, dan tidak menganggap syariah ini sebagai rujukan yang paling tinggi dalam mengendalikan pemikiran, perilaku dan berbagai hubungan yang dijalin antar manusia. Mereka menghina agama Islam, para dainya, dan penganut agama yang mulia ini.

Mereka adalah orang-orang munafiq, yang hendak membawa nama Islam, ingin tetap berada di tengah-tengah orang Islam, padahal mereka lebih jahat daripada orang-orang munafiq pada zaman Nabi saw. Dahulu, orang-orang munafiq di zaman Rasulullah saw berangkat pergi shalat dengan malas, dan kini orang-orang munafiq tidak mau melaksanakannya. Tidak malas dan juga tidak bersemangat. Dahulu mereka tidak ingat kepada Allah SWT kecuali sangat sedikit sekali, dan kini mereka tidak ingat kepada Allah SWT sedikit atau banyak. Dahulu mereka ikut serta dalam barisan kaum Muslimin memerangi musuh-musuh mereka, dan kini mereka bersama-sama musuh Islam memerangi kaum Muslimin. Dahulu mereka tampak bersama-sama kaum Muslimin di masjid-masjid mereka, dan kini mereka bersama-sama orang kafir dalam permainan dan kekejian mereka.

Kalau saja mereka menyatakan kekufuran mereka, maka akan jelas sikap yang dapat kita ambil, dan kita dapat istirahat, akan tetapi mereka adalah seperti yang disebutkan Allah SWT:

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak menyadarinya.” (al-Baqarah: 9)

&