Masalah-Masalah Pendidikan

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Jumhur fuqaha sepakat bahwa hukum-hukum syariat Islam berkisar pada lima permasalahan yang menjadi pangkal setiap cabang hukum. Mereka menamakan kelima masalah tersebut dengan Dharuriyat al-Khams yang terdiri atas pemeliharaan agama, pemeliharaan jiwa, pemeliharaan kekayaan, pemeliharaan kehormatan, dan pemeliharaan akal.

1. Pemeliharaan Agama
Allah telah memuliakan Islam, karenanya Dia tidak rela jika umat lain menindas kehidupan seorang muslim. Dia pun tidak menghendaki negara Islam hanya namanya saja tanpa berupaya menerapkan syariat Islam atau memberikan perlindungan kepada paham atheis, kemurtadan, kekafiran dan kezindiqan. Jika negara yang seperti itu menamakan dirinya dengan negara Islam, itu merupakan kebohongan belaka dan dusta besar sebab perlindungan atau toleransi terhadap paham-paham non Islam merupakan penodaan terhadap agam Islam serta mempermainkan keyakinan manusia.

Sehubungan dengan konsep-konsep tersebut, di bawah ini terdapat beberapa firman Allah:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [al-Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang yang musyrik tidak menyukai.” (at-Taubah: 33)

“…maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (at-Taubah: 12)

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menetapkan hukum-hukum Allah dalam pembahasan tentang jihad serta had bagi orang yang murtad, fasik, ahli bid’ah, dan lain-lain. Untuk ahli kitab, al-Qur’an menetapkan lain:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (at-Taubah: 29)

32. mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (at-Taubah: 32)

Pemahaman terhadap masalah-masalah di atas dapat melahirkan generasi yang siap memerangi musuh-musuh Allah dalam rangka mempertahankan agama, aqidah, kebanggaan terhadap syariat, ketinggian panji Islam, keistimewaan umat Islam, dan persaudaraan jihad di jalan Allah. Dengan beigitu tidak akan pernah lahir generasi yang menganggap sepele masalah-masalah fiqih Islam ketika menyusun program atau kurikulum pengajaran. Selain itu, bagi merekapun, jihad merupakan titik puncak keislaman dan tidak akan pernah terbesit niat untuk damai dengan agresor.

2. Pemeliharaan diri
Firman Allah:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (al-Israa’: 33)

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa Allah mengharamkan membunuh tanpa hak. Dalam ayat lain Dia berfirman:

“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (an-Nisaa’: 93)

Kasus pembunuhan pertama digambarkan Allah lewat kisah anak Adam yang membunuh saudaranya kemudian diakhiri dengan firman-Nya ini:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya….” (al-Maidah: 32)

Sehubungan dengan pembunuhan, Allahpun mengharamkan bunuh diri seperti yang tercantum dalam firman-Nya ini:

“….Dan janganlah membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu.” (an-Nisaa’: 29)

Melalui kajian fiqih Islam, terutama tentang hudud yang berkaitan dengan masalah hukum pembunuhan, diyat dan qishash. Pemahaman atas masalah tersebut akan menanamkan rasa hormat terhadap nyawa dan diri. Serta menjauhkan fikiran kita dari kebencian, kejahatan, dan lain-lain. Lewat itu pula akan tertanam keadilan dan sikap konsisten terhadap segala yang dia kerjakan.

3. Pemeliharaan materi
Firman Allah: “….dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu…” (an-Nuur: 33)

Harta adalah titipan Allah. Penitipan tersebut memiliki maksud yang jelas, yaitu agar dari harta tersebut dikeluarkan zakat sesuai batasannya. Selain itu, seluruh harta harus dikembangkan melalui cara yang ma’ruf atau sesuai syariat, tidak digunakan secara berlebihan, tidak dibelanjakan untuk hal-hal yang merusak akhlak, atau menyia-nyiakannya dengan memberikan harta tersebut kepada orang-orang bodoh yang tidak memahami nilai dan cara penggunaannya.

Untuk itu Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…” (an-Nisaa’: 5)

Dari ayat tersebut kita menemukan bahwa Allah memandang harta anak yatim yang belum sempurna akalnya sebagai milik umat. Melalui harta tersebut, berbagai urusan umat dan kehidupan perekonomiannya akan terlancarkan. Dengan demikian, anak yatim yang akalnya belum sempurna tidak diperbolehkan mengatur dan menjalankan kekayaan. Dari gambaran tersebut dapat kita simpulkan bahwa Islam sangat berhati-hati dalam urusan harta titipan Allah ini. Untuk anak yatim pun demikian hati-hati, apalagi jika harta itu diberikan kepada orang-orang yang memerangi Allah, Rasul-Nya dan umat Islam.

Pada ayat lain Allah swt. menyerukan pengharaman memakan harta yang diperoleh melalui menipu atau muslihat lainnya, seperti hasil suap-menyuap dan lain-lain:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu….” (an-Nisaa’: 29)

Melalui fiqih, Islam sangat respek mengatur harta kekayaan yang berkaitan dengan jual-beli, sewa menyewa, dan berbagai bentuk mu’amalah lainnya. Misalnya, dengan rinci, Islam menjelaskan tentang hukum riba, mulai dari jenis hingga hal-hal yang mirip dengan riba. Dengan begitu, syariat akan membiaskan berbagai manfaat pendidikan sehingga terciptalah pelajar yang bersikap ekonomis atau takut kepada Allah dalam hal yang berhubungan dengan harta. Hasilnya, pelajar tersebut tidak berlebihan dalam membelanjakan harta, tidak memubadzirkan harta, serta menghormati harta yang Allah titipkan kepada orang lain. Syariat Islam pun telah mendidik manusia untuk menghormati pekerjaan, usaha yang halal, dan mensyariatkan pewarisan kepada anak, baik kecil maupun besar.

4. Pemeliharaan Akal.
Allah sangat memuji hamba-hamba-Nya yang berakal dan menggunakan akalnya untuk berfikir sebagaimana firman-Nya ini:
“….Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (Thaahaa: 128)
Allah swt. mengulang-ulang pujian seperti itu dalam berbagai ayat yang senada setiap kali menuturkan salah satu tanda kekuasaan dan pengaturannya, misalnya “….bagi kaum yang memikirkan” (al-Baqarah: 164) dan ayat-ayat lainnya, atau “….kepada orang yang berfikir” (Yunus: 24) atau ayat-ayat lainnya. Contoh lain yang mengisyaratkan kepentingan akal dan berfikir dapat kita lihat dari larangan Islam meminum khamr. Islam memandang khamr sebagai minuman yang mengisyaratkan kemudlaratan bagi akal. Allah swt. menjelaskan hal itu dalam ayat berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (an-Nisaa’: 43)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa khamr dapat menimbulkan kekacauan pada manusia sehingga dia tidak menyadari apa yang diucapkan atau dilakukannya. Karena sebab itulah Islam mengharamkan khamr. Allah swt. pun mengisyaratkan kecaman bagi orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berfikir, untuk kebaikan, atau untuk penggalian pengetahuan lewat firman-Nya ini:

“Sesunggguhnya binatang [makhluk] seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa.” (al-Anfaal: 22)

Tujuan penyajian-penyajian firman Allah dalam al-Qur’an adalah mendidik akal manusia agar sarat dengan pengetahuan yang baik, penalaran ilmiah, pemikiran yang argumentatif, dan metode yang eksperimental.

5. Pemeliharaan kehormatan, keturunan, dan Nasab
Keutamaan pendidikan Islam adalah perlindungan terhadap anak-anak melalui benteng sosial yang kokoh. Islam menjadikan peran orang tua dalam tingkat kekuatan yang tidak dapat ditembus oleh gangguan atau kebimbangan yang menggoyahkan kehidupan keluarga. Islam pun menjadikan akad perkawinan sebagai perjanjian yang kuat dan mulia.

Firman Allah: “…Dan mereka [istri-istrimu] telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.” (an-Nisaa’: 21)

Islam sangat memelihara hubungan perkawinan dari pengkhianatan atau penghinaan apa pun yang bersumber dari istri maupun suami. Islam menjadikan hukuman mati atau hukum rajam bagi pihak yang nyata-nyata terbukti berkhianat berdasarkan empat orang saksi. Sebagaimana halnya umat, sebagai masyarakat besar yang berupaya melenyapkan pengkhianat, pencuri rahasia, penghina pemimpin, ataupun penghina sistem pemerintahannya, begitu juga keluarga.

Sebagai masyarakat kecil yang merupakan inti dan basis masyarakat, Allah mendorong keluarga untuk melakukan cara-cara di atas melalui syariat yang adil dan mulia. Dengan begitu, keluarga akan terpagari oleh kehormatan, kesucian, karisma, dan perhatian sekelilingnya. Hasilnya akan dinikmati anak-anak kita. Mereka ana memiliki keterkaitan dengan nasab yang mulia dan keluarga yang bersih. Dalam masyarakat yang menegakkan syariat Islam, tidak akan terdengar anak yang lahir di luar jalur hukum Islam seperti banyak terjadi di negara-negara yang jauh dari aqidah Islam.

Islam telah menyediakan jaminan bagi anak-anak melalui hukum-hukum yang disyariatkan Allah. Dengan hukum itu, setiap keluarga muslim akan terhindar dari perpecahan dan kesia-siaan, kaum wanita terhindar dari kerendahan moral. Kaum wanita akan memperoleh ketinggian derajat serta jauh dari orang-orang fasik yang menghancurkan kedudukan mereka di hati suami dan anak-anaknya melalui berbagai tuduhan yang batil dan orang-orang yan menjadikan wanita sekepal daging yang siap mereka kunyah. Islam telah menyusun hukum bagi tindakan yang dapat menghancukan hubungan suami istri. Hasilnya hubungan keturunan menjadi terpelihara dan manusia lebih memahami nasabnya.

Syariat Islam telah membuahkan terpeliharanya keturunan dari kesia-siaan. Anak-anak pun menemukan kehidupan yang aman. Mereka akan bersuka ria tanpa kekhawatiran yang mengancam kondisi psikologisnya atau kehilangan kehangatan ibu dan kebanggaan kepada bapak serta pemeliharaan dari keduanya. karena itulah kita banyak menemukan buku-buku fiqih dan syariat Islam yang mengkhususkan pembahasan pada masalah-masalah hukum menyusui, hukum perkawinan, hukum penyia-nyiaan, hukum li-an [sumpah kutukan], hukum talak, hukum hudud, hukum perawatan, serta berbagai cabang hukum lainnya.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: