Arsip | 09.02

Peranan Aqidah Islam dalam Pendidikan Awal

3 Jan

Peranan Aqidah Islam dalam Pendidikan Awal
Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Aqidah adalah konsep-konsep yang diimani manusia sehingga seluruh perilaku dan perbuatannya bersumber pada konsepsi tersebut. Aqidah Islam dijabarkan melalui rukun-rukun iman dan berbagai cabangnya seperti tauhid uluhiyah atau penjauhan diri dari perbuatan syirik. Aqidah Islam pun dikaitkan pada keimanan atas yang ghaib, rasul, kitab-kitab, malaikat, dan hari akhir. Dengan demikian, keimanan merupakan landasan aqidah, bahkan dijadikan sebagai tiang utama untuk bangunan pendidikan Islam. Untuk memahami itu semua, kita mesti memahami hakekat keimanan tersebut beserta urgensi yang dikandungnya.

&

Masalah-Masalah Pendidikan

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Jumhur fuqaha sepakat bahwa hukum-hukum syariat Islam berkisar pada lima permasalahan yang menjadi pangkal setiap cabang hukum. Mereka menamakan kelima masalah tersebut dengan Dharuriyat al-Khams yang terdiri atas pemeliharaan agama, pemeliharaan jiwa, pemeliharaan kekayaan, pemeliharaan kehormatan, dan pemeliharaan akal.

1. Pemeliharaan Agama
Allah telah memuliakan Islam, karenanya Dia tidak rela jika umat lain menindas kehidupan seorang muslim. Dia pun tidak menghendaki negara Islam hanya namanya saja tanpa berupaya menerapkan syariat Islam atau memberikan perlindungan kepada paham atheis, kemurtadan, kekafiran dan kezindiqan. Jika negara yang seperti itu menamakan dirinya dengan negara Islam, itu merupakan kebohongan belaka dan dusta besar sebab perlindungan atau toleransi terhadap paham-paham non Islam merupakan penodaan terhadap agam Islam serta mempermainkan keyakinan manusia.

Sehubungan dengan konsep-konsep tersebut, di bawah ini terdapat beberapa firman Allah:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [al-Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang yang musyrik tidak menyukai.” (at-Taubah: 33)

“…maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (at-Taubah: 12)

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menetapkan hukum-hukum Allah dalam pembahasan tentang jihad serta had bagi orang yang murtad, fasik, ahli bid’ah, dan lain-lain. Untuk ahli kitab, al-Qur’an menetapkan lain:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (at-Taubah: 29)

32. mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (at-Taubah: 32)

Pemahaman terhadap masalah-masalah di atas dapat melahirkan generasi yang siap memerangi musuh-musuh Allah dalam rangka mempertahankan agama, aqidah, kebanggaan terhadap syariat, ketinggian panji Islam, keistimewaan umat Islam, dan persaudaraan jihad di jalan Allah. Dengan beigitu tidak akan pernah lahir generasi yang menganggap sepele masalah-masalah fiqih Islam ketika menyusun program atau kurikulum pengajaran. Selain itu, bagi merekapun, jihad merupakan titik puncak keislaman dan tidak akan pernah terbesit niat untuk damai dengan agresor.

2. Pemeliharaan diri
Firman Allah:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (al-Israa’: 33)

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa Allah mengharamkan membunuh tanpa hak. Dalam ayat lain Dia berfirman:

“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (an-Nisaa’: 93)

Kasus pembunuhan pertama digambarkan Allah lewat kisah anak Adam yang membunuh saudaranya kemudian diakhiri dengan firman-Nya ini:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya….” (al-Maidah: 32)

Sehubungan dengan pembunuhan, Allahpun mengharamkan bunuh diri seperti yang tercantum dalam firman-Nya ini:

“….Dan janganlah membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu.” (an-Nisaa’: 29)

Melalui kajian fiqih Islam, terutama tentang hudud yang berkaitan dengan masalah hukum pembunuhan, diyat dan qishash. Pemahaman atas masalah tersebut akan menanamkan rasa hormat terhadap nyawa dan diri. Serta menjauhkan fikiran kita dari kebencian, kejahatan, dan lain-lain. Lewat itu pula akan tertanam keadilan dan sikap konsisten terhadap segala yang dia kerjakan.

3. Pemeliharaan materi
Firman Allah: “….dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu…” (an-Nuur: 33)

Harta adalah titipan Allah. Penitipan tersebut memiliki maksud yang jelas, yaitu agar dari harta tersebut dikeluarkan zakat sesuai batasannya. Selain itu, seluruh harta harus dikembangkan melalui cara yang ma’ruf atau sesuai syariat, tidak digunakan secara berlebihan, tidak dibelanjakan untuk hal-hal yang merusak akhlak, atau menyia-nyiakannya dengan memberikan harta tersebut kepada orang-orang bodoh yang tidak memahami nilai dan cara penggunaannya.

Untuk itu Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…” (an-Nisaa’: 5)

Dari ayat tersebut kita menemukan bahwa Allah memandang harta anak yatim yang belum sempurna akalnya sebagai milik umat. Melalui harta tersebut, berbagai urusan umat dan kehidupan perekonomiannya akan terlancarkan. Dengan demikian, anak yatim yang akalnya belum sempurna tidak diperbolehkan mengatur dan menjalankan kekayaan. Dari gambaran tersebut dapat kita simpulkan bahwa Islam sangat berhati-hati dalam urusan harta titipan Allah ini. Untuk anak yatim pun demikian hati-hati, apalagi jika harta itu diberikan kepada orang-orang yang memerangi Allah, Rasul-Nya dan umat Islam.

Pada ayat lain Allah swt. menyerukan pengharaman memakan harta yang diperoleh melalui menipu atau muslihat lainnya, seperti hasil suap-menyuap dan lain-lain:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu….” (an-Nisaa’: 29)

Melalui fiqih, Islam sangat respek mengatur harta kekayaan yang berkaitan dengan jual-beli, sewa menyewa, dan berbagai bentuk mu’amalah lainnya. Misalnya, dengan rinci, Islam menjelaskan tentang hukum riba, mulai dari jenis hingga hal-hal yang mirip dengan riba. Dengan begitu, syariat akan membiaskan berbagai manfaat pendidikan sehingga terciptalah pelajar yang bersikap ekonomis atau takut kepada Allah dalam hal yang berhubungan dengan harta. Hasilnya, pelajar tersebut tidak berlebihan dalam membelanjakan harta, tidak memubadzirkan harta, serta menghormati harta yang Allah titipkan kepada orang lain. Syariat Islam pun telah mendidik manusia untuk menghormati pekerjaan, usaha yang halal, dan mensyariatkan pewarisan kepada anak, baik kecil maupun besar.

4. Pemeliharaan Akal.
Allah sangat memuji hamba-hamba-Nya yang berakal dan menggunakan akalnya untuk berfikir sebagaimana firman-Nya ini:
“….Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (Thaahaa: 128)
Allah swt. mengulang-ulang pujian seperti itu dalam berbagai ayat yang senada setiap kali menuturkan salah satu tanda kekuasaan dan pengaturannya, misalnya “….bagi kaum yang memikirkan” (al-Baqarah: 164) dan ayat-ayat lainnya, atau “….kepada orang yang berfikir” (Yunus: 24) atau ayat-ayat lainnya. Contoh lain yang mengisyaratkan kepentingan akal dan berfikir dapat kita lihat dari larangan Islam meminum khamr. Islam memandang khamr sebagai minuman yang mengisyaratkan kemudlaratan bagi akal. Allah swt. menjelaskan hal itu dalam ayat berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (an-Nisaa’: 43)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa khamr dapat menimbulkan kekacauan pada manusia sehingga dia tidak menyadari apa yang diucapkan atau dilakukannya. Karena sebab itulah Islam mengharamkan khamr. Allah swt. pun mengisyaratkan kecaman bagi orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berfikir, untuk kebaikan, atau untuk penggalian pengetahuan lewat firman-Nya ini:

“Sesunggguhnya binatang [makhluk] seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa.” (al-Anfaal: 22)

Tujuan penyajian-penyajian firman Allah dalam al-Qur’an adalah mendidik akal manusia agar sarat dengan pengetahuan yang baik, penalaran ilmiah, pemikiran yang argumentatif, dan metode yang eksperimental.

5. Pemeliharaan kehormatan, keturunan, dan Nasab
Keutamaan pendidikan Islam adalah perlindungan terhadap anak-anak melalui benteng sosial yang kokoh. Islam menjadikan peran orang tua dalam tingkat kekuatan yang tidak dapat ditembus oleh gangguan atau kebimbangan yang menggoyahkan kehidupan keluarga. Islam pun menjadikan akad perkawinan sebagai perjanjian yang kuat dan mulia.

Firman Allah: “…Dan mereka [istri-istrimu] telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.” (an-Nisaa’: 21)

Islam sangat memelihara hubungan perkawinan dari pengkhianatan atau penghinaan apa pun yang bersumber dari istri maupun suami. Islam menjadikan hukuman mati atau hukum rajam bagi pihak yang nyata-nyata terbukti berkhianat berdasarkan empat orang saksi. Sebagaimana halnya umat, sebagai masyarakat besar yang berupaya melenyapkan pengkhianat, pencuri rahasia, penghina pemimpin, ataupun penghina sistem pemerintahannya, begitu juga keluarga.

Sebagai masyarakat kecil yang merupakan inti dan basis masyarakat, Allah mendorong keluarga untuk melakukan cara-cara di atas melalui syariat yang adil dan mulia. Dengan begitu, keluarga akan terpagari oleh kehormatan, kesucian, karisma, dan perhatian sekelilingnya. Hasilnya akan dinikmati anak-anak kita. Mereka ana memiliki keterkaitan dengan nasab yang mulia dan keluarga yang bersih. Dalam masyarakat yang menegakkan syariat Islam, tidak akan terdengar anak yang lahir di luar jalur hukum Islam seperti banyak terjadi di negara-negara yang jauh dari aqidah Islam.

Islam telah menyediakan jaminan bagi anak-anak melalui hukum-hukum yang disyariatkan Allah. Dengan hukum itu, setiap keluarga muslim akan terhindar dari perpecahan dan kesia-siaan, kaum wanita terhindar dari kerendahan moral. Kaum wanita akan memperoleh ketinggian derajat serta jauh dari orang-orang fasik yang menghancurkan kedudukan mereka di hati suami dan anak-anaknya melalui berbagai tuduhan yang batil dan orang-orang yan menjadikan wanita sekepal daging yang siap mereka kunyah. Islam telah menyusun hukum bagi tindakan yang dapat menghancukan hubungan suami istri. Hasilnya hubungan keturunan menjadi terpelihara dan manusia lebih memahami nasabnya.

Syariat Islam telah membuahkan terpeliharanya keturunan dari kesia-siaan. Anak-anak pun menemukan kehidupan yang aman. Mereka akan bersuka ria tanpa kekhawatiran yang mengancam kondisi psikologisnya atau kehilangan kehangatan ibu dan kebanggaan kepada bapak serta pemeliharaan dari keduanya. karena itulah kita banyak menemukan buku-buku fiqih dan syariat Islam yang mengkhususkan pembahasan pada masalah-masalah hukum menyusui, hukum perkawinan, hukum penyia-nyiaan, hukum li-an [sumpah kutukan], hukum talak, hukum hudud, hukum perawatan, serta berbagai cabang hukum lainnya.

&

Manusia Menurut Pandangan Islam

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Menurut pandangan ilmu psikologi, pandangan manusia terhadap dirinya sangat mempengaruhi pendidikannya. Lantas, bagaimana pendangan Islam tentang manusia?

Kesalah pahaman tentang manusia melingkupi manusia sejak manusia menempati bumi ini. Bisa jadi, kesalah pahaman itu cenderung pada hal-hal yang berlebihan, misalnya manusia menganggap dirinya sebagai wujud terhebat di alam semesta ini. Di satu sisi manusia menyerukan pandangan seperti itu, di sisi lain manusia memperbudak dirinya dengan egoisme, kecongkakan, dan ketakaburan sebagaimana seruan kaum ‘Aad ini: “….Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami…” (Fushilat: 15) serta seruan Fir’aun kepada kaumnya: “…hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku…” (al-Qashash: 38).

Al-Maududi mengatakan ada juga manusia yang mengangkat dirinya sebagai penanggung jawab manusia lewat upaya agar dipertuhan dengan tujuan kekuasaan, kegagahan, kehebatan, kedhaliman, keburukan, dan ketiranian.

Sikap berlebihan lainnya adalah kecenderungan manusia pada penempatan diri pada kehinaan dan kerendahan. Lalu manusia menundukkan kepala di depan setiap pohon, batu, sungai, gunung, atau binatang. Mereka tidak melihat adanya keselamatan kecuali dengan bersujud kepada matahari, bulan, bintang, api, atau benda lainnya yang dianggap mengandung kekuatan atau kemampuan untuk memberikan manfaat kepada mereka.

Islam menampilkan manusia sesuai dengan hakekatnya, menjelaskan asal-usulnya, keistimewaannya, tugasnya, hubungannya dengan alam semesta, atau kesiapannya untuk menerima kebaikan dan keburukan.

1. Hakekat Manusia dan Asal-Usul Penciptaannya
Hakekat manusia bersumber pada dua hal. Pertama ashal al ba’id [asal yang jauh], yaitu penciptaan pertama dari tanah yang kemudian Allah menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya sebagian ruh-Nya.
Kedua: ashal al-qarib [asal yang dekat] yaitu penciptaan manusia itu dari nuthfah. Untuk menjelaskan kedua asal tersebut Allah berfirman yang artinya:

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (as-Sajdah: 7-9)

Selain itu Al-Qur’an juga mengatakan bagaimana Allah menciptakan Adam:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (al-Hijr: 28-29)

Demikianlah al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia pada kehinaan yang dari kehinaan itu manusia diciptakan di dalam rahim ibunya, yaitu: “..dari saripati air yang hina [air mani]…” (as-Sajdah: 8)
“Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” (at-Thaariq: 6-7)
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air [mani], maka tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata.” (Yaasiin: 77)

Arahan al-Qur’an itu ditujukan untuk menghancurkan kecongkakan manusia dan melemahkan ketakaburannya sehingga dia benar-benar tawadlu dalam kehidupannya. Al-Qur’an pun memberikan kejelasan tentang pertolongan Allah yang telah diberikan kepada manusia ketika berada dalam kegelapan rahim, ketika ditumbuhkan sebagai janin dan dikembangkan hingga tuntas penciptaannya, seperti firman Allah:

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (az-Zumar: 6)

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (al-Mu’minuun: 12-14)

Ayat tersebut membawa manusia pada pengakuan atas keindahan dan rasa syukur kepada Pencipta. Buah pendidikan al-Qur’an ini, di antaranya terwujud dalam doa Rasulullah saw. berikut ini:
“Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya, memberinya rupa, pendengaran, dan penglihatan. Maka Mahasuci Allah sebagai Pencipta yang paling baik.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: “Ya Allah, kepada Engkaulah aku bersujud, kepada Engkaulah aku beriman, dan kepada Engkaulah aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya, memberi rupa, pendengaran dan penglihatan. Maka Mahasuci Allah sebagai Pencipta terbaik.”

2. Manusia: Makhluk yang Dimuliakan
Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan, kerendahan atau tidak berharga seperti binatang, benda mati, atau makhluk lainnya. Untuk itu Allah berfirman:

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (al-Israa’: 70)

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (al-Hajj: 65)

Allah telah menganugerahkan manusia dengan kemampuan yang dengannya manusia dapat menguasai semesta yang telah diperuntukkan Allah bagi manusia. Artinya Allah melarang manusia menghinakan diri pada semesta ini. Dia telah memberikan keamanan kepada manusia dalam menghadapi semesta karena manusia diberi kekuasaan untuk menundukkan alam semesta demi kemaslahatan umat manusia. Itulah dasar pendidikan Rabbani yang dengannya al-Qur’an menumbuhkan kehormatan dan harga diri dalam diri manusia sekaligus juga menumbuhkan kesadaran terhadap karunia Allah. Ketika manusia mengendarai kapal terbang atau mobil, hendaknya ia ingat kepada firman Allah berikut ini:

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan kami”. (az-Zukhruf: 13-14)

3. Manusia: Makhluk Istimewa dan Terpilih
Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dari kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. Ke dalam naluri manusia, Allah menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan sehingga manusia mampu memilih jalan yang mampu mengantarkannya kepada kebaikan dan kebahagiaan atau jalan yang menjerumuskannya pada kebinasaan. Dengan jelas Allah menyebutkan bahwa dalam hidupnya, manusia harus berupaya menyucikan, mengembangkan, dan meninggikan diri agar manusia terangkat dalam keutamaan. Allah berfirman:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7-10)

Untuk orang-orang yang memilih jalan kedurhakaan, Allah meratakan mereka sekaligus kotanya dengan tanah.

4. Manusia: Makhluk yang Dapat Dididik
Allah telah membekali manusia dengan kemampuan untuk belajar dan mengetahui sebagaimana firman-Nya ini:
“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3 dan 5)

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 31-32)

Allah pun telah menganugerahi manusia berbagai sarana untuk belajar, seperti penglihatan, pendengaran, dan hati sebagaimana firman Allah:
“… dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (an-Nahl: 78)

Sehubungan dengan itu, al-Maududi mengatakan: “Pendengaran merupakan pemeliharaan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain. Penglihatan merupakan pengembangan pengetahuan dengan hasil observasi dan penelitian yang berkaitan dengannya. Hati merupakan sarana membersihkan ilmu pengetahuan dari kotoran dan noda sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang murni. Jika ketiga pengetahuan itu dipadukan, terciptalah ilmu pengetahuan yang sesuai dengan yang dikaruniakan Allah kepada manusia yang hanya dengan ilmu pengetahuan itulah manusia mampu mengatasi dan menundukkan makhluk lain agar tunduk pada kehendaknya.”

Jika manusia tidak memanfaatkan sarana-sarana pendidikan tersebut, Allah swt. menggolongkan mereka dalam kehinaan sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut ini:

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf: 179)

Sarana pendidikan lain yang dimiliki manusia adalah bahasa, kemampuan untuk mengeluarkan gagasan, dan kemampuan untuk menulis. Keberadaan sarana pendidikan tersebut ditegaskan dalam firman Allah berikut:
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan bibir?” (al-Balad: 8-9)
“[Tuhan] Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara.” (ar-Rahmaan: 1-4)
“Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (al-Qalam: 1)

Melalui berfikir dan belajar, diharapkan manusia mampu mempelajari dan memahami syariat-syariat Allah. Lebih jelasnya lagi, Allah berfirman:
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 129)

Lewat inipun manusia diajak untuk mentafakuri penciptaan langit, bumi, dan dirinya sendiri sebagaimana firman Allah:
“Dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (adz-Dzaariyaat: 21)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan?” (al-Ghaasyiyah: 17)
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat?’ maka apakah kamu tidak memikirkan[nya]?” (al-An’am: 50)

Ayat-ayat di atas telah menegaskan bahwa Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana untuk merenung, tafakur, berfikir jernih, serta meneliti alam semesta ini. Kemudian dengan akal dan hatinya, manusia mengolah alam ini untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Kita didik secara ilmiah melalui berfikir, observasi, diskusi, hingga penyimpulan sampai akhirnya kita dapat meraih ilmu pengetahuan dan menghasilkan sesuatu. Jika demikian, sangat terasa penyia-nyiaan kita terhadap fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati sehingga yang asalnya umat Islam menjadi pemimpin atas umat lainnya, kini kita harus menyaksikan kemajuan orang lain.

5. Tanggung Jawab Manusia
Islam bukan hanya memuliakan, mengunggulkan, dan mengistimewakan manusia atas makhluk lainnya. Sejalan dengan ini Islam pun memberikan tanggung jawab yang disertai balasan sepadan. Islam membebani manusia dengan tanggung jawab penerapan syariat Allah dan perwujudan penghambaan kepada-Nya. Padahal, makhluk-makhluk lain tidak bersedia memikul tanggung jawab tersebut. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 72-73)

Sejalan dengan kebebasan, kehendak, dan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan, Allah telah menentukan balasan atau balasan yang setimpal dengan alternatif yang dipilih manusia, apakah yang dipilihnya itu kebaikan ataukah keburukan? Untuk itu Al-Qur’an mengatakan:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat [balasan]nya pula.” (al-Zalzalah: 7-8)

Atas pendengaran, penglihatan, hati dan seluruh anggota tubuh yang diberikan Allah, manusia bertanggung jawab untuk memanfaatkan semuanya dalam jalan kebaikan sebagaimana firman Allah berikut:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Israa’: 36)

Rasa tanggung jawab itu akan terpelihara di dalam diri manusia yang sadar, selalu ingat, adil, jauh dari penyelewengan, tidak tunduk pada hawa nafsu, jauh dari kedhaliman dan kesesatan serta istiqamah dalam segala perilaku. Rasulullah pun mengatakan bahwa manusia itu bertanggung jawab atas harta, umur dan kemudaannya lewat sabdanya ini:

“Tidaklah beranjak kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum dimintai pertanggungjawaban empat hal ini: tentang usia, dihabiskan untuk apa usia itu; tentang ilmu pengetahuan diamalkan untuk apa ilmunya itu; tentang harta, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa hartanya itu; dan tentang tubuhnya, dilusuhkan untuk apa tubuhnya itu.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

6. Ibadah kepada Allah: tugas tertinggi manusia.
Seluruh tugas manusia dalam hidup ini, berakumulasi pada tanggung jawabnya untuk beribadah dan mengesakan Allah sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya ini:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat: 56)

“Dan sesungguhnya, masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah sesuatupun di dalamnya disamping [menyembah] Allah.” (al-Jinn: 18)

&

Peranan Syariat dalam Kegiatan Berfikir, Landasan Syariat

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Hukum syar’i yang bersumber pada Al-Qur’an merupakan penentu ajaran Islam yang di dalamnya tercakup penjelasan aqidah yang wajib diimani, yang di atasnya berpijak peribadahan kepada Allah, dan yang diwujudkan lewat berbagai perintah dan larangan Allah. Penentuan hukum syar’i merupakan hak Allah semata-mata. Barangsiapa yang membuat hukum sendiri atau mentaati orang lain yang bertentangan atau tidak berkaitan dengan Allah dalam berbagai persoalan, maka dia telah menyekutukan Allah. Sehubungan dengan ini Allah berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…” (at-Taubah: 31)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Adi bin Hatim bahwa Adi bin Hatim berkunjung ke rumah Rasulullah saw. Ketika itu beliau tengah membaca surah at-Taubah di atas, lalu Adi bin Hatim berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah para ulama dan rahibnya.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Memang benar demikian, tetapi para ulama dan rahib itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram kepada manusia, lalu mereka mengikutinya. Itulah berarti manusia menyembah mereka.”
Lebih tegasnya lagi Allah swt. berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah…” (asy-Syura: 21)

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa….” (asy-Syuraa’: 13)

Syariat Islam merupakan salah satu landasan utama pendidikan Islam. Menurut makna al-Qur’an, syariat merupakan penjelasan aqidah dan ibadah yang diarahkan untuk menata kehidupan dan hubungan kemanusiaan. Berikut ini adalah beberapa penjelasan yang menunjukkan kedudukan syariat:

a. Syariat merupakan landasan berfikir yang meliputi segala imajinasi pemikiran tentang alam semesta, kehidupan dan manusia yang di dalamnya tercakup sikap Islam terhadap manusia, pandangan Islam terhadap alam semesta, serta hubungan manusia dengan makhluk Allah yang lain. Melalui syariat, seorang muslim memperoleh gambaran yang logis dan sempurna tentang hubungan dirinya dengan alam semesta sehingga dia dapat mengetahui asal-usul, tempat kembali, fungsi dan tujuan hidupnya. Dengan demikian syariat telah mencetak kekhasan seorang muslim sehingga ia mampu memberikan sesuatu yang lebih besar daripada potensinya, memiliki hasrat yang lebih luas daripada kesanggupannya, dan memiliki jangkauan pemikiran yang lebih panjang daripada perasaannya.

b. Melalui penerapan kaidah dan sistem perilaku yang sesuai dengan syariat, seorang muslim mampu menjadikan dirinya sebagai teladan, baik di dalam ketelitian, keteraturan, dan kejujuran hidupnya, ketinggian akhlaknya, atau perencanaan hidupnya yang senantiasa mendasarkan setiap tindakannya pada pemikiran. Perencanaan hidup akan membawa seorang muslim pada kebiasaan berencana sebelum bekerja, sehingga jelaslah tujuan, manfaat, serta produktifitas kerjanya.

c. Melalui pembiasaan untuk menepati syariat Islam, seorang muslim akan memahami keuniversalan hukum Islam. Artinya dia akan memahami bahwa hukum syara’ yang dalam hal ini terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, itu tidak disusun untuk mengatasi situasi individual atau kondisi-kondisi parsial belaka. Lebih dari itu syariat Islam disusun untuk dimanfaatkan dalam setiap kesempatan oleh siapapun, individual maupun kelompok. Untuk itu para fuqaha dan ulama ushul berkata: “Pertimbangan terdapat pada keumuman lafadz, bukan pada kekhususan sebab.”

Tampaknya disanalah letak elastisitas dan kedinamisan Islam serta kemampuan Islam untuk selalu memberi, mengeluarkan hukum-hukum dalam kondisi sulit sekalipun, dan memberikan solusi bagi setiap individu yang bermasalah, baik masalah sosial maupun psikologis. Elastisitas melahirkan melahirkan kelenturan akal seorang muslim dan kemampuannya yang langka dalam menemukan dalil dan hukum. Kemampuan tersebut merupakan hasil dari penghafalan atau pemahaman ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang kemudian diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika ia menemukan kaidah umum dalam hadits atau ayat yang dibacanya, dia akan mampu beranalogi atau menurut ahli mantik melakukan penarikan konklusi melalui pemanfaatan akal, tanpa mengada-ada apalagi pemaksaan. Misalnya saja, seorang muslim yang menemukan ayat: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” Seperti yang tercantum dalam surah Ali ‘Imraan: 185, al-Ankabuut: 57, dan al-Anbiyaa’: 35, dia akan menghubungkan ayat itu dengan dirinya lewat pertanyaan: “Kemanakah aku akan kembali?” atau mengkaitkannya pada tempat kembali diri-diri yang lain. Dengan demikian, dia telah menerapkan kaidah universal dari ayat tersebut pada dirinya sendiri atau pada kondisi yang memang akan terjadi yakni kematian yang cepat atau lambat pasti akan menimpa setiap yang bernyawa.

d. Penerapan syariat akan melahirkan masyarakat yang berperadaban. Betapa tidak, untuk memahami syariat, seorang muslim harus mampu membaca, menulis, tilawah al-Qur’an serta merenungi hukum dan maknanya. Seorang muslim dituntut memahami pengetahuan berhitung agar juga memahami hukum faraidh, dituntut memhamai pengetahuan sejarah agar juga memahami sirah atau ayat-ayat tentang jihad; memahami pengetahuan geografi agar juga memahami geografis tempat-tempat yang berhubungan dengan sejarah Islam sehingga dapat dijadikan cermin, misalnya tempat kaum Syu’aib (Madyan), kaum ‘Aad, kaum Fir’aun dan lain-lain. Dengan demikian memperdalam agama dan mempelajari syariat merupakan hal yang sangat dianjurkan Islam sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“…Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah: 122)

Ayat tersebut telah memadukan dua kewajiban manusia, yaitu belajar dan mengajar. Dengan demikian karakteristik syariat itu, diantaranya adalah dapat memperluas cakrawala syariat itu, mencerdaskan akal manusia, serta melahirkan anjuran atau kewajiban mencari ilmu. Bukankah itu berarti bahwa melalui penerapan syariat, umat Islam akan mencapai tingkat peradaban yang hingga kina tidak mampu dicapai oleh manusia lain?

Dewasa ini, dalam rangka menyingkapkan integritas kaidah alam semesta dan membuktikan pentingnya eksperimen penguat validitas kebenaran ilmiah, serta dalam menciptakan ilmu sejarah berikut kaidah umum dan sandarannya, linguistik, metrik puisi, kedokteran, astronomi, aljabar, dan optik, para profersor barat memanfaatkan syariat Islam. Sesungguhnyalah, syariat Islam merupakan sumber kekayaan ilmiah yang melahirkan ilmu-ilmu duniawi.

Itulah beberapa karakter pemikiran tentang syariat Islam. Berikut ini adalah beberapa konklusi penting tentang peran syariat Islam dalam mendidik akal manusia:

1. Pertama, mendidik umat Islam untuk berpandangan komprehensif dalam melihat diri dan kehidupannya serta mengaitkan dirinya dengan alam semesta dan segala aspek duniawi atau ukhrawi sesuai dengan ajaran al-Qur’an melalui keuniversalan daya pikirnya.

2. Mendidik umat Islam untuk berfikir sadar atas segala perkara yang dilakukannya, dikatakannya, dikehendakinya, atau yang ditulisnya.

3. Mendidik umat Islam untuk berfikir logis, melakukan uji coba, menarik kesimpulan, dan melakukan penelitian sebagaimana yang diajarkan al-Qur’an kepadanya.

4. Mendidik umat Islam agar gemar mencari ilmu dan mencapai kebenaran ilmiah sehingga lahirlah masyarakat yang memiliki budaya berfikir, sistem pengajaran, dan sistem pendidikan yang istimewa (tidak dimiliki oleh orang lain).

Manfaat di atas akan terealisasi selama syariat Islam benar-benar diterapkan. Pada dasarnya, manfaat-manfaat yang timbul dari penerapan syariat tersebut disusun bukan untuk disesuaikan yang timbul dari penerapan syariat tersebut disusun bukan untuk disesuaikan dengan kondisi manusiawi, walaupun kenyataannya hukum-hukum syara tersebut, berdasarkan makna universalnya, mampu menghimpun daya fikir manusia tentang alam semesta atau menghimpun aqidah manusia terhadap keghaiban. Justru syariat Islamlah yang menyuruh umat Islam mencari ilmu melalui pemahaman dan perhatian kita terhadap makrokosmos dan mikrokosmos, misalnya melalui tadabur alam atau pemahaman sejarah kehidupan.

Dari gambaran di atas, peran syariat terhadap kehidupan universal sangatlah tinggi. Tentu saja pengaruh tersebut, secara langsung, membiasi pemanfaatan penerapan syariat bagi kehidupan individu dan masyarakat. Hasilnya, lahirlah keterarahan yang sehat dan terlukislah gambaran kehidupan manusia yang aman dan tenteram karena mendasarkan hidupnya pada keadilan. Di bawah naungan keadilan tersebut, tumbuh dan hidup individu dan masyarakat yang saling mencintai.

&

Kehidupan Menurut Pandangan Islam

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Sistem pendidikan itu sangat beragam, sejalan dengan keragaman pandangan manusia terhadap kehidupan, mulai dari pandangan optimistis hingga pandangan pesimistis. Demikian, penjelasan tentang kehidupan dan peranannya dalam Islam menjadi sesuatu yang sangat penting.

1. Kehidupan: Ajang ujian dan cobaan Allah
Islam memandang kehidupan dengan kesungguhan serta sikap tanggung jawab. Jika kita memperhatikan pandangan Islam terhadap manusia, kita akan menemukan bahwa kehidupan manusia itu mengalami proses penciptaan yang diawali dengan peristiwa Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian menyempurnakannya serta meniupkan kepada manusia sebagian dari ruh-Nya. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya.

“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama [malaikat] yang sujud itu.” (al-Hijr: 30-32)

Sejak awal kehidupan manusia, Allah telah memberikan keistimewaan lebih kepada species manusia dibanding malaikat atau makhluk lainnya. Keistimewaan pertama terletak pada pemilikan ilmu, akal, kemauan, ikhtiar, dan kemampuan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Keistimewaan kedua terletak pada asal-usulnya. Manusia diciptakan dari tanah, darah dan daging. Sebagai implikasinya, manusia diciptakan dengan memiliki syahwat, naluri dan hal-hal yang muncul dari naluri tersebut, yang di antaranya berbentuk kebodohan, pertumpahan darah, kerusakan, kerugian, kemalasan, keluh kesah, dan kerakusan. Allah berfirman:

“….Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

“Demi maasa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih…” (al-‘Ashr: 1-3)

“….Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” (al-Baqarah: 30)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” (al-Ma’aarij: 19-20)

“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (al-‘Aadiyaat: 8)

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (al-Fajr: 20)

Ayat tersebut menunjukkan naluri ketamakan dan kecintaan manusia pada harta.

“….dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisaa’: 28)

Ayat tersebut menunjukkan adanya naluri manusia untuk mengikuti sesuatu yang lebih kuat.

“…..adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Israa: 11)

Ini menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang selalu tergesa-gesa dan cenderung tidak sabar.

“….dan adalah manusia itu sangat kikir.” (al-Israa’: 10)

“Tetapi kamu [orang-orang kafir] memilih kehidupan duniawi.” (al-A’laa: 16)

Sesungguhnya Allah telah memadukan dua keistimewaan manusia tersebut dengan sifat-sifat manusiawi yang berlawanan. Artinya, Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk memilih kebaikan atau keburukan. Untuk mengimbangi kekurangan manusia, Allah telah menyertakan pengontrol berupa akal, yang mengingatkan manusia pada syariat dan penyembahan kepada Allah. Pemahaman atas aspek diri, semesta, kehidupan, serta perpadanan dan hubungan saling menyempurnakan antaraspek memerlukan perenungan deskriptif kehidupan dari al-Qur’an. Dengan demikian, Islam telah menjadikan kehidupan duniawi sebagai ajang ujian dan cobaan yang harus dilalui manusia untuk mencapai kehidupan kekal di akhirat kelak. Di akhiratlah manusia akan dihisab, apakah kenikmatan atau kebinasaan yang akan di alaminya.

2. Ujian dan Cobaan Allah terhadap Manusia Pertama.
Kehidupan manusia diawali oleh pengujian Allah kepada Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah. Ketika itu Allah melarang Adam mendekati syajaratul khuldi (pohon kekekalan). Datanglah iblis yang menggoda Adam untuk memakan buah pohon surga ini. “…. dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (Thaahaa: 121).

Akibat kelalaian tersebut Adam diturunkan ke bumi dan mulailah babak baru permusuhan manusia dengan iblis. Untuk bekal Adam di bumi, Allah menerima tobat Adam, “Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (Thaahaa: 122). Dengan demikian Allah memberi petunjuk unttuk membedakan kebaikan dan keburukan lewat wahyu dan syariat kepada Adam dan turunannya.

Penurunan Adam dan iblis dari surga merupakan awal mulainya ujian Allah kepada setiap manusia sehingga berlakulah berbagai konflik batin, antara kebaikan dan keburukan, antara keimanan dan kekafiran, serta antara pengikut syariat dan pengikut hawa nafsu.

Dengan turunnya syariat dan ajaran Islam, manusia diharapkan akan mampu mengatasi konflik-konflik tersebut. Al-Qur’an dan as-Sunnah yang merupakan sumber utama syariat Islam harus menjadi bahan renungan manusia. Seruan-seruan di dalamnya, diantaranya adalah seruan Allah tentang konflik panjang manusia sejak Adam. Seruan-seruan tersebut tersebut diantaranya terdeskripsikan setelah pengisahan Adam, seperti:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf: 27)

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’raaf: 31)

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-A’raaf: 35-36)

Kemudian, dalam puluhan ayat lainnya, Allah menerangkan hasil akhir orang-orang yang beruntung dan yang rugi. Maka Dia memasukkan kaum mukminin yang menyambut seruan-Nya ke dalam surga Na’im.

3. Sifat kehidupan dunia menurut al-Qur’an
Karena hanya berisi kesenangan sementara, dunia bukan tujuan akhir manusia. Karenanya manusia dikatakan tertipu jika dia melupakan tujuan akhir yang diciptakan Allah untuknya, yaitu akhir yang abadi. firman Allah:

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (al-Baqarah: 86)

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) Pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 7-8)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imraan: 14)

“…Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (at-Taubah: 38)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …..” (al-Qashash: 77)

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (al-A’raaf: 32)

Kutipan terjemahan ayat-ayat di atas mengisyaratkan hubungan manusia dengan dunia serta sifat-sifat dunia yang penting kita ketahui. Sifat ini, diantaranya, adalah:

– Pertama, dunia adalah gambaran kesenangan yang sementara atau hanya sebagai sarana lintasan manusia untuk menuju ke akhirat. Karenanya dunia bukanlah tujuan terakhir manusia.

– Kedua, dunia sangat sarat perhiasan, keindahan, nafsu, syahwat, dan kelezatan yang justru inilah ujian dan cobaan hakiki bagi manusia.

– Ketiga, seorang muslim boleh, bahkan berhak menikmati keindahan dunia dalam batas yang sesuai syar’i. Dia dapat menikmati dunia bersama-sama orang kafir atau orang yang melihat Allah dari segi material [agnotis] dengan syarat tidak mendorong kelalaian kepada Allah. Dia dapat memiliki harta dengan pengeluaran zakatnya atau mempunyai anak untuk dididik ketaatan kepada Allah. Artinya seorang muslim dapat menikmati perkara yang dibolehkan syariat dengan tujuan untuk mengamalkan syariat tersebut.

– Keempat, dunia memiliki kaidah-kaidah sosial dan kamanusiaan yang diwujudkan dalam bentuk masyarakat dan bangsa. Barangsiapa yang berusaha di dunia, hasilnya akan dirasakan di dunia. Dan barangsiapa yang menaklukkan dunia untuk keridlaan Allah, dia akan beruntung dunia dan akhirat.

– Kelima, rentang waktu kehidupan di dunia ini sangatlah singkat tidak lebih dari sesaat menurut perhitungan akhirat.
“(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram; mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)” Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling Lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja”. (Thaahaa: 102-104)

– Keenam, kehidupan dunia adalah ajang keletihan, kerja keras, dan kesungguhan, sebagaimana firman Allah:
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (al-Isyiqaq: 6)

– Ketujuh, orang-orang yang beriman akan mendapatkan pertolongan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Pada dasarnya, tujuan kehidupan dunia ini bukan untuk melahirkan kekafiran dan kerusakan sebagaimana difirmankan Allah:
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (al-Mu’min: 51)

– Kedelapan, kehidupan dunia lebih banyak digunakan sebagai permainan, senda gurau, dan kebanggaan oleh manusia. Firman Allah:

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (at-Takaatsur: 1-2)

4. Aspek Pendidikan Kehidupan Dunia.
Pemahaman mendalam terhadap kehidupan dunia akan membawa sekaligus mendidik kaum muslimin pada pemahaman berbagai persoalan hidup dan terbiasa untuk hidup positif, terutama untuk hal-hal berikut:

– Pertama, seorang muslim harus berupaya keras menghindarkan tipuan dunia yang dapat melalaikannya dari tujuan penciptaan manusia. Hendaknya ia mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, waspada, bersabar dalam menghadapi bencana, dinamis, serta sering bermuhasabah agar tidak terpaku pada tujuan duniawi.

– Kedua, walaupun harus mengutamakan akhirat, seorang muslim tidak lantas harus menutup diri dari kebaikan dunia. Artinya, fasilitas dunia dia manfaatkan untuk kelancaran ibadah kepada Allah serta mengarahkan segala kenikmatan dunia ini untuk meraih keridlaan Allah.

– Ketiga, dengan pemahaman bahwa dunia ini adalah ajang ujian dan cobaan Allah, seorang muslim hendaknya bersabar dalam menghadapi persoalan dunia. Artinya hidupnya jauh dari rasa putus asa karena di dalam dirinya telah dipersiapkan kesabaran dan perjuangan.

– Keempat, setiap individu atau kelompok manusia harus bersiap diri memerangi musuh yang menghambat berkibarnya kebenaran dan keutamaan. Hendaknya kita tersadarkan bahwa Allah adalah penolong umat yang mewujudkan keimanan dalam perilakunya, mengikuti Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, serta memanfaatkan aneka potensi kekuatan dan keperkasaan sesuai dengan perintah Allah.

&

Dampak Edukatif Nasehat

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Dari sudut psikologis dan pendidikan, pemberian nasehat itu menimbulkan beberapa perkara, diantaranya:

1. Membangkitkan perasaan-perasaan ketuhanan yang telah dikembangkan dalam jiwa setiap anak didik melalui dialog, pengamalan, ibadah, praktek, dan metode lainnya. Perasaan ketuhanan yang meliputi ketundukan kepada Allah dan rasa takut terhadap azab-Nya atau keinginan menggapai surga-Nya. Nasehat pun membina dan mengembangkan perasaan ketuhanan yang baru ditumbuhkan.

2. Membangkitkan keteguhan untuk senantiasa berpegang pada pemikiran ketuhanan yang sehat, yang sebelumnya telah dikembangkan dalam diri obyek nasehat. Pemikiran ketuhanan ini dapat merupakan imajinasi sehat tentang kehidupan dunia dan akhirat, peran dan tugas manusia di alam semesta ini, nikmat-nikmat Allah, serta keyakinan bahwa Allah lah yang telah menciptakan alam semesta, kehidupan, kematian dan sebagainya. Contoh pemikiran tersebut dapat kita lihat dalam keteguhan memegang rukun iman dan pengesaan Allah melalui pengamalan syariat, ibadah, kekuatan dan kekuasaan mutlak.

3. Membangkitkan keteguhan untuk berpegang pada jamaah yang beriman. Masyarakat yang baik dapat menjadi pelancar berpengaruh dan meresapnya sebuah nasehat ke dalam jiwa. Oleh karena itu sebagian besar nasehat Qur’ani dan Nabawi ditampilkan dalam bentuk jamak, misalnya firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (an-Nisaa’: 58)

4. Dampak terpenting dari sebuah nasehat adalah adanya penyucian dan pembersihan diri yang merupakan salah satu tujuan utama dalam pendidikan Islam. Dengan terwujudnya dampak tersebut, kedudukan masyarakat meningkat dan mereka menjauhi berbagai kemungkaran dan kekejian sehingan seseorang tidak berbuat jahat kepada orang lain. Dengan kata lain, semuanya menjalankan perintah Allah dengan ma’ruf, adil, baik dan bijaksana, dan ihsan. Makna-makna tersebut terhimpun dalam firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dan memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapan mengambil pelajaran.” (an-Nahl: 90)

&

Dasar-Dasar Peribadahan

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

1. Hakekat Ibadah
Setiap sistem berfikir memerlukan sarana perealisasian atau perwujudan yang dilengkapi dengan penyemangat, usaha, dan gerak anggota tubuh yang sistematis. Jika perwujudan ini dilakukan secara berkelompok, maka setiap kelompok dibentuk berdasarkan usia, intelektual, dan kedudukan seseorang. Dengan demikian, kelompok tersebut dapat selaras dalam hal karakter psikologis, daya intelektual dan kemampuan fisik. Hal di atas membuktikan bahwa dunia manusia itu dunia yang tidak dapat memisahkan tubuh, akal, dan spiritualnya. Konsep seperti itulah yang dewasa ini dianut oleh manusia-manusia modern.

Lebih dari itu, sejak lama, Islam telah memiliki sistem berfikir yang lebih sempurna, bersifat edukatif, dan tidak dapat disamai oleh sistem manapun. Misalnya saja, dalam melakukan olah raga, manusia sekarang lebih menitikberatkan tujuan pada penyia-nyiaan waktu, sebab olah raga dilakukan tanpa mengaitkannya dengan berfikir dan bernalar sehat, apalagi dengan fitrah psikologi manusia. “[yaitu] orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka…” (al-A’raaf: 51)

Dengan kesempurnaan sistem berfikir itu, berbagai ibadah dalam Islam lebih merupakan amal shalih dan latihan spiritual yang berakal dan diikat oleh makna yang hakiki dan bersumber dari fitrah manusia. Pelaksanaan ibadah merupakan pengaturan hidup seorang muslim, baik itu melalui pelaksanaan shalat, pengaturan pola makan tahunan melalui puasa, pengaturan kehidupan sosial ekonomi muslim yang bertanggung jawab melalui zakat, pengaturan atau penghidupan integritas seluruh umat Islam dalam ikatan perasaan sosial melalui haji. Yang jelas, pelaksanaan ibadah telah menyatukan umat Islam dalam satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah semata serta penerimaan berbagai ajaran Allah, baik itu untuk urusan duniawi maupun ukhrawi. Firman Allah:

“….walaupun kamu membelanjakan semua [kekayaan] yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka…” (al-Anfaal: 162-163)

Setiap detik, menit, jam atau hari yang diisi dengan ibadah oleh seorang muslim, tiada lain, kecuali sebagai hubungan yang abadi antara dirinya dengan Allah sekaligus sebagai penjinak nafsu agar senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah. Karena itu seorang muslim bangun pada saat fajar atau tidur setelah isya untuk berdzikir kepada Allah; hanya memakan makanan yang halal dan menahan diri dari makanan yang dilarang oleh Allah; mengeluarkan harta yang wajib dikeluarkan; menyalurkan syahwat sesuai dengan jalan Allah; menahan syahwat yang hina, membahayakan, dan manusia telah dilindungi daripadanya oleh Allah; memasuki rumah, tidur dan kegiatan lainnya selalu disertai doa mengingat Allah; atau berdzikir kepada Allah ketika dianugerahi anak.

2. Hikmah pendidikan ibadah
Melalui peribadahan, banyak hal yang dapat diperoleh oleh seorang muslim yang kepentingannya bukan hanya mencakup individual, melainkan bersifat luas dan universal. Di antara hikmah pendidikan yang dapat kita ambil adalah:

a. Pertama, dalam konsepsi Islam, melalui ibadah manusia diajari untuk memiliki intensitas kesadaran berfikir. Dilihat dari segi syaratnya, ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang memiliki syarat. Syarat yang dimaksud adalah:
– Keikhlasan dan ketaatan kepada Allah.
– Pelaksanaan ketaatan sesuai dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
b. Kedua, dimanapun seorang muslim berada, melalui kegiatan yang ditujukan semata-mata untuk ibadah kepada Allah, ia akan selalu merasa terikat oleh ikatan yang berkesadaran, sistematis, kuat, serta didasarkan atas perasaan jujur dan kepercayaan diri. Dikatakan kesadaran karena pada dasarnya tidak ada ikatan yang luput dari perhatian masyarakat atau dilakukan secara membabi buta.

Sesungguhnya amal ibadah yang dilakukan melalui kerja sama antara seorang muslim dengan muslim lainnya akan melahirkan rasa kebersamaan dan kekuatan yang besar. Selain itu secara pribadi pun, muslim akan merasakan kelezatan dari sikap mengutamakan Allah sebagai sumber. Hasilnya, jika ternyata ikatan itu pecah karena masalah yang prinsipil, setiap individu muslim tidak akan merasakan kehilangan jati diri.

Tanpa bersatu secara lahir, landasan kesamaan akidah akan tetap menyatukan mereka. selain itu, dalam diri seorang muslim, selama dia mampu, selalu tertanam keutamaan beribadah secara berjamaah daripada munfarid. Jika ternyata langkah penyatuan umat Islam mendapatkan hambatan, mereka akan menyatukan hati dan jiwa melalui keimanan sehingga mereka menjadi tubuh dan jiwa yang satu.

c. Ketiga, dalam Islam, ibadah dapat mendidik jiwa seorang muslim untuk merasakan kebanggaan dan kemuliaan kepada Allah. Dia adalah Yang Paling Besar dari segala yang besar dan Paling Agung dari segala yang agung. Dalam kekuasaan Allah-lah kehidupan kaum tirani; Allah dapat menjatuhkan mereka kapanpun Dia kehendaki. Dalam kekuasaan-Nya lah kematian, kehidupan, rizky, kerajaan, keagungan dan kekuasaan. Konsep seperti itulah yang senantiasa diulang-ulang oleh seorang muslim dalam ibadah hariannya hingga ibadah tahunannya. Para khatib pun senantiasa mengulang konsep tersebut dalam ibadah mingguan, shalat Jum’at. Jika rasa bangga tersebut mengakar dalam jiwa umat Islam, dalam kehidupan individual atau dalam kehidupan masyarakatnya, setiap insan akan istiqamah dan senantiasa berada dalam batas-batas yang tetap hingga sirnalah kedhaliman, kecongkakan, eksploitasi, kehinaan, perbudakan, atau rasialisasi. Semua akan berada di bawah kibaran panji Allah.

d. Keempat, ibadah yang terus menerus dilakukan dalam kelompok yang padu, dibawah panji Allah yang satu, dan semuanya bermunajat kepada Rabb yang satu, akan melahirkan rasa kebersamaan sehingga kita terdorong untuk saling kenal, saling menasehati, atau bermusyawarah. Dari situ akan lahir umat Islam yang selalu bermusyawarah dengan dasar kerjasama, persamaan, dan keadilan.

e. Kelima, Sayyid Quthub dalam Manhaj at-Tarbiyat al-Islamiyah hal 39-40, mengatakan bahwa ibadah, seorang muslim akan terdidik untuk memiliki kemampuan dalam melakukan berbagai keutamaan secara konstan dan mutlak. Artinya setiap gerak seorang muslim tidak terbatas pada batasan geografis, bangsa, kepentingan nasional, atau partai yang berkuasa. Jelasnya, pergaulan seorang muslim itu meliputi seluruh manusia. Namun demikian, sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya, dimanapun dia berada, seorang muslim tetap sebagai muslim yang berakhlak mulia dan memperhatikan segi kemanusiaan.

f. Keenam, pendidikan yang berdasarkan ibadah dapat membekali manusia dengan muatan kekuatan yang intensitasnya tinggi dan abadi karena semuanya bersumber dari kekuatan Allah, kepercayaan kepada Allah, optimisme yang bersumber dari pertolongan Allah dan pahala surga, serta kesadaran dan cahaya yang bersumber dari Allah. Muatan inilah yang mendorong seorang muslim untuk tampil, memberinya kemampuan yang terus menerus untuk berjuang dan berjihad, serta menyuguhkan kepada manusia kekuatan yang hidup produktif, dan berkesadaran. Setiap muslim harus mempunyai muatan yang dinamis yang dapat menyiagakan kalbu dan menerangi jalan. Dengan demikian maka setiap muslim akan bangkit dari keterpurukannya sekaligus memperoleh cahaya Ilahi ketika sekelilingnya gulita sehingga dia akan menunjukkan segala perbuatan, muamalah dan penyiapan bekal untuk akhiratnya melalui ibadah kepada Allah.

Dalam Islam konsep perbuatan yang digolongkan ibadah sangat jelas, yaitu selama tujuan pelaksanaan perbuatan tersebut diarahkan kepada Allah. Untuk itu Allah berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

Itulah manhaj ibadah yang ditetapkan Islam. Otomatis, metode dan program pendidikan Islam pun didirikan di atas landasan manhaj yang mengandung kejujuran dan ketakwaan kepada Allah melalui komunikasi yang kekal dengan Allah.

g. Ketujuh, sesungguhnya mendidik seorang muslim dengan ibadah akan mempengaruhi jiwa yang bukan hanya karena di dalamnya ada muatan cahaya, kekuatan, perasaan dan harapan, melainkan karena melalui ibadah seorang muslim memiliki sarana untuk mengekspresikan tobatnya. Dengan tobat itu, kesalahan dan dampak dosa yang dilakukan anggota tubuh akan hilang.

Terjadinya sebuah dosa menunjukkan berpalingnya manusia dari kebenaran, ketaatan, dan ibadah kepada Allah, yang disertai dengan niat dan realisasi untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa tersebut. Melalui tobat, perbuatan dosa itu diganti dengan amal shalih.

Tobat merupakan ekspresi ibadah yang bertumpu pada kesadaran bahwa Allah, dengan segala nikmat, keperkasaan, dan hukum-Nya. Kesadaran itu menuntut adanya penyesalan atas apa yang luput dari kewaspadaan manusia untuk selalu menaati Allah. Lebih jauh lagi, Rasulullah saw. menyunahkan tobat. Setiap hari beliau memohon ampun sebanyak 70 kali setiap selesai shalat fardlu bahkan Allah memerintahkan untuk bertobat:

“…. dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 31)

Allah pun berjanji atas diri-Nya untuk menghapus berbagai kesalahan orang-orang yang bertobat dan mengampuni mereka seperti firman-Nya:

“…Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, [yaitu] bahwa barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (al-An’am: 54)

Rasulullah saw. mengajarkan bentuk tobat dan istighfar yang baik lewat sayyidul istighfar:
AllaaHumma anta rabbii laa ilaaHa illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘aHdika wa wa’dika mastatha’tu, a-‘uudzubika min syarri maa shana’tu, abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfirlii, innaHuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.
(“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menepati janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatanku yang jahat. Aku mengakui atas nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan aku pun mengakui dosaku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”

Hal ini diperjelas dengan hadits berikut ini:
“Barangsiapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan yakin, kemudian dia mati pada hari itu, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari dengan yakin, kemudian malam harinya meninggal, maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari).

Pakar psikologi, kedokteran, dan kesehatan mental sepakat mengatakan bahwa tobat dapat menyembuhkan berbagai krisis dan penyakit psikologis melalui pengembalian manusia pada adaptasi dengan diri, prinsip-prinsip, idealisme, dan dengan masyarakat muslim. Melalui tobat pun, masyarakat dapat terdidik untuk saling menumbuhkan sikap toleransi antar anggota. Sehubungan dengan konsep toleransi ini, Allah berfirman:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nuur: 22)

Contoh konkritnya terjadi pada zaman Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia pernah bersumpah untuk tidak memberikan shadaqah, yang biasa dia berikan kepada Masthah karena dia telah memfitnah putrinya, ‘Aisyah. Namun setelah ayat tersebut turun, Abu Bakar memaafkannya. Dengan demikian tobat dan permintaan ampun kepada Allah telah mengajari Abu Bakar untuk memaafkan Masthah.

&

Alam Semesta Menurut Pandangan Islam

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Menurut Islam pandangan terhadap alam semesta bukan hanya berdasarkan akal semata. Alam semesta difungsikan untuk menggerakkan emosi dan prasaan manusia terhadap keagungan al-Khaliq, kekerdilan manusia di hadapan-Nya, dan pentingnya ketundukan kepada-Nya. artinya, alam semesta dipandang sebagai dalil qath’i yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah.

1. Alam semesta: diciptakan untuk satu tujuan
Alam semesta ini tidak diciptakan berdasarkan permainan atau senda gurau. Firman Allah:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (ad-Dukhaan: 38-39)
“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan [tujuan] yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.” (al-Ahqaf: 3)

Kepada manusia disajikan berbagai pertanyaan dan anjuran untuk beribadat kepada Allah sekaligus mengesakan-Nya setelah manusia merenungkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, firman Allah:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka Itulah orang-orang yang merugi. Katakanlah: “Maka Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 62-64, dan 67)

Pandangan Islam terhadap alam semesta menimbulkan berbagai dampak dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah:

Pertama: keterkaitan seorang muslim dengan Pencipta semesta melalui tujuan yang paling tinggi, yaitu beribadat kepada Allah.
Kedua: mendidik manusia supaya bersungguh-sungguh karena seluruh semesta ini diciptakan untuk tujuan tertentu serta masa yang ditentukan pada sisi Allah, bukan untuk main-main atau senda gurau.

Firman Allah: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan [istri dan anak], tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, [tentulah Kami telah melakukannya].” (al-Anbiyaa’: 16-17)

Ayat tersebut mengajak manusia untuk mencapai tujuan dari berbagai fenomena semesta melalui cara yang serius, tanpa main-main, senda gurau, dan kesia-siaan. Selain itu, hendaknya, perenungan terhadap alam semesta ini merupakan perenungan yang logis dan ilmiah. Untuk mewujudkan ini, al-Qur’an mengarahkan pandangan si perenung pada masalah-masalah yang lebih mendalam.

2. Tunduknya semesta adalah takdir Allah.
Firman Allah:
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yaasiin: 37-40)

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (al-Hijr: 19-21)

Peredaran matahari dan bulan pada garis edarnya tidak akan menyimpang dan tidak akan berbeda musimnya. Masing-masing berjalan menurut sunah kauniyah yang telah diciptakan Allah dan selaras dengan ketetapan Allah. Demikian pula dengan gerak kehidupan di bumi, Allah telah memberikan penghidupan yang sesuai dengan kadar dan ketentuan. Dia telah menurunkan sesuatu, hujan misalnya, kecuali menurut kadarnya. Kepada manusia, Allah telah mengajarkan ihwal perhitungan melalui pergantian siang dan malam, pergantian musim, dan bulan-bulan Komariyah.

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Al-Israa’: 12)

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.” (al-An’am: 96)

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, seluruh ilmu hitung bertumpu pada pengulangan satuan bilangan yang sama dan penambahan bilangan yang satu ke bilangan yang lainnya. Konsep tersebut berlaku pada sistem penjumlahan, yang menambahkan berbagai kelompok bilangan yang berbeda; sistem perkalian yang mengulang kelompok bilangan yang sama; sistem pengurangan yang membuang salah satu satuan bilangan; serta sistem pembagian yang membagian perkalian satuan bilangan sejenis dan sama. Konsep tersebut melahirkan manusia-manusia yang pakar dalam bidang aritmatika, aljabar, kalkulus, diferensial, atau kalkulus integral. Dengan demikian konsep dasar bidang-bidang ilmu hitung itu lahir dari perhitungan hari, bulan, dan tahun yang semuanya itu berkaitan erat dengan kekuasaan Allah untuk menentukan rotasi bumi, bulan dan musim.

Dari gambaran di atas kita menemukan bahwa dalam mendidik manusia, al-Qur’an memiliki dua prinsip ilmiah yang melengkapi aspek pasivisme, finalitas dan logika. Dua prinsip itu adalah:

A. Pertama. Berulangnya berbagai kejadian semesta melalui sunnah yang ditetapkan Allah. Dia yang Mahaagung dan Mahatinggi berkuasa mengubah sunnah itu jika Dia kehendaki. Prinsip itu merupakan landasan dalam berfikir ilmiah, dengan landasan itu, manusia bereksploitasi dan berkreasi dalam segala fenomena peradaban.

B. Kedua, sesungguhnya sunnah-sunnah semesta dengan segala kejadian, fenomena dan wujudnya, mulai dari yang berupa atom hingga yang terbesar, merupakan ciptaan Allah yang diturunkan sesuai dengan kadarnya, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada satupun perkara yang melampaui batasan-Nya dan merusak keseimbangan atau sistem lain yang berdekatan, baik dengan mempengaruhi maupun dipengaruhi. Prinsip tersebut telah diambil oleh ilmuwan muslim dari al-Qur’an dan dikembangkan dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dalam perkembangannya, ilmu-ilmu itu dikuasai oleh ilmuwan Eropa, terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan metode berfikir ilmiah, kaidah ilmu modern, dan logika. Prinsip inilah yang menunjukkan logika yang ilmiah, yaitu melakukan observasi ilmiah berdasarkan analogi kuantitatif, bukan berdasarkan deskripsi kualitatif. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan akal secara cermat dan mengambil segala sesuatu berdasarkan analogi.

3. Keteraturan semesta: Kekuasaan Allah
Allah adalah penata sunnah semesta yang dengan topangan kekuasaan-Nya, Dia menjalankan dan mengatur semesta sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

“….dan Dia menahan [benda-benda] langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya…” (al-Hajj: 65)

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah…” (Fathir: 41)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu [juga] kamu keluar [dari kubur].” (ar-Ruum: 25)

Manusia merupakan bagian dari alam semesta ini. Karenanya dalam segala persoalan hidup dan matinya, manusia harus tunduk pada ketentuan Allah, Penguasa tertinggi dan sunnah-sunnah ciptaan-Nya.

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (al-An’am: 61)

4. Sunnatullah untuk Manusia
Agar hidup manusia teratur, Allah telah menyusun sunnah-sunnah yang diberikan melalui para Rasul. Dengan Sunnah-Nya, Allah berhak mengadzab umat, membinasakan sebagian umat, menetapkan ajal, dan mengubah berbagai kondisi seperti yang digambarkan dalam firman-Nya:

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan Ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (ar-Ra’du: 10-11)

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan.” (Ali ‘Imraan: 137)

Sunnah-sunnah Allah tersebut sangat mempengaruhi kehidupan ilmuwan muslim. Dalam Muqadimah-nya Ibnu Khaldun memperoleh arah yang jelas dari sunnah-sunnah kemasyarakatan yang dituturkan dalam al-Qur’an, terutama dalam bahasan tentang asas-asas sosiologi.

5. Alam semesta tunduk kepada Allah
Dari bahasan terdahulu, kita dapat menyimpulkan bahwa seluruh semesta ini tunduk pada pengaturan, perintah, iradat dan kehendak Allah. Allah menjelaskan hal itu dalam berbagai ayat:

“Mereka [orang-orang kafir] berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia berkehendak [untuk menciptakan] sesuatu, maka [cukuplah] Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah.’ Lalu jadilah ia.” (al-Baqarah: 117-118)

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.” (al-Israa’: 16-17)

Ketaatan dan ketundukan alam semesta membuktikan keagungan dan kesucian Allah. Maka manusia yang berfikir dan berakal, lebih layak lagi untuk mengakui nikmat dan karunia Allah, merasakan kebesaran-Nya, atau memuji dan menyucikan-Nya dengan bertasbih. Inilah pendidikan manusia yang paling mendasar.

6. Alam semesta: ditaklukkan untuk manusia
Agama Islam adalah agama yang istimewa. Melalui pengarahan bahwa manusia telah diberi kekuasaan oleh Allah untuk memanfaatkan segala potensi alam semesta ini. Yang jelas, Allah telah menaklukkan alam semesta bagi manusia, mulai dari yang pengaruhnya besar, seperti matahari, hingga yang pengaruhnya kecil, seperti atom dan lebah.

Firman Allah:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 32-34)

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 29)

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya), Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat petunjuk. Maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nahl: 12-18)

Ayat-ayat di atas dan juga ayat lain yang sejenis mendorong manusia untuk melembutkan hati, memuji Allah, menyukuri nikmat Allah, bertasbih kepada Allah, dan bertauhid kepada Allah, serta mampu mendidik daya afeksi dan emosional manusia untuk tunduk kepada Allah. Selain itu melalui ayat tersebut, akal manusia terdidik untuk terbiasa dalam kondisi ilmiah. Artinya kita menggunakan prinsip praktis dan penggunaan kaidah-kaidah ilmiah dalam mengolah potensi alam untuk kesejahteraan manusia.

Setiap ayat yang diturunkan sejak 14 abad silam, menuturkan pemanfaatan sinar matahari, cahaya bulan, tenaga angin, cahaya bintang, gunung-gunung, lautan, dan segala perkara yang telah ditundukkan Allah bagi manusia dan Allah pun telah memberikan kunci-kuncinya kepada manusia. Ketentuan tersebut mencakup segala perkara yang ada di bumi, sebagaimana difirmankan Allah:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 29)

Dilihat dari segi pendidikan, al-Qur’an telah mendidik manusia dalam pemanfaatan alam semesta melalui cara yang tidak menyesatkan atau melampaui batas. Dengan demikian pemanfaatan tersebut mengotori air sungai, tidak berlebihan dalam memanfaatkan satwa lautan, serta tidak mendhalimi saudaranya lewat permusuhan atau dusta.

Melalui pendidikan Islam, manusia dididik untuk memanfaatkan alam semesta sesuai dengan perintah dan batas-batas syariat-Nya. Allah tidak mentoleransi kedhaliman dan permusuhan, bahkan Dia menyerukan agar manusia saling mengasihi dan saling bertanggung jawab. Jika manusia mengingat Allah dalam segala perilaku, perbuatan, dan dalam pemanfaatan segala fasilitas hidup, manusia akan terhindar dari kedurhakaan, permusuhan, kerusakan, dan kebohongan.

&

Dasar-Dasar Psikologis dan Edukatif

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Model pendidikan Islam memang didasarkan atas perkara yang memang telah Allah ciptakan dalam diri manusia, yaitu kecintaan terhadap kelezatan, kenikmatan, kemewahan, kehidupan yang lestari, serta ketakutan terhadap kepedihan, kecelakaan, dan tempat kembali yang buruk.

Pada dasarnya, manusia dan binatang memiliki ketakutan dan kecintaan sehingga seluruh perilaku kehidupan ini senantiasa berupaya menjauhkan diri dari sesuatu yang dianggap dapat menyakitinya serta berupaya menggapai sesuatu yang dapat membahagiakan dan mendukung kelangsungan hidup speciesnya.

Namun Allah telah membedakan manusia dari binatang melalui kemampuan untuk belajar, merenung, dan memikirkan perkara-perkara yang akan dia hadapi setelah kehidupannya sehingga manusia akan berbuat dan menyiapkan masa depan, dapat membedakan antara yang mudharat dan manfaat.

Contoh yang sangat jelas adalah hasrat untuk menikah dalam diri pemuda yang sudah akil baligh. Namun kemudian ia menyadari bahwa dirinya belum mampu membiayai kehidupan rumah tangga, maka ia menundanya dan tetap tegas menolak kenikmatan di luar nikah. Masyarakat yang terdiri dari orang tua, teman-teman, kerabat dan lain-lain telah membuat pemuda tersebut mewaspadai dampak yang merugikan. Jika dia meraih kenikmatan dengan cara yang tidak disyariatkan atau mempercepat perkawinan padahal ia belum pantas dan layak, dia merasa masyarakat tersebut akan mengadilinya.

&

Targhib dan Tarhib

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Berdasarkan analisis terhadap ayat-ayat al-Qur’an, kita dapat mendefinisikan targhib, yakni janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan, dan kenikmatan. Namun penundaan tersebut bersifat pasti, baik dan murni, serta dilakukan melalui amal shalih dan pencegahan diri dari kelezatan yang membahayakan [pekerjaan buruk]. Yang jelas semua dilakukan untuk mencari keridlaan Allah dan itu merupakan rahmat dari Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Tarhib adalah ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau perbuatan yang dilarang oleh Allah. Selain itu juga karena menyepelekan pelaksanaan kewajiban yang telahh diperintahkan Allah.
Tarhib bisa diartikan sebagai ancaman dari Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya melalui penonjolan kesalahan atau penonjolan salah satu sifat keagungan dan kekuatan ilahiah agar mereka teringatkan untuk tidak melakukan kesalahan dan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah:

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.” (Maryam: 71-72)

“Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (az-Zumar: 15-16)

&