Peranan Syariat dalam Kegiatan Berfikir, Landasan Syariat

3 Jan

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat; Abdurrahman An-Nahlawi

Hukum syar’i yang bersumber pada Al-Qur’an merupakan penentu ajaran Islam yang di dalamnya tercakup penjelasan aqidah yang wajib diimani, yang di atasnya berpijak peribadahan kepada Allah, dan yang diwujudkan lewat berbagai perintah dan larangan Allah. Penentuan hukum syar’i merupakan hak Allah semata-mata. Barangsiapa yang membuat hukum sendiri atau mentaati orang lain yang bertentangan atau tidak berkaitan dengan Allah dalam berbagai persoalan, maka dia telah menyekutukan Allah. Sehubungan dengan ini Allah berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…” (at-Taubah: 31)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Adi bin Hatim bahwa Adi bin Hatim berkunjung ke rumah Rasulullah saw. Ketika itu beliau tengah membaca surah at-Taubah di atas, lalu Adi bin Hatim berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah para ulama dan rahibnya.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Memang benar demikian, tetapi para ulama dan rahib itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram kepada manusia, lalu mereka mengikutinya. Itulah berarti manusia menyembah mereka.”
Lebih tegasnya lagi Allah swt. berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah…” (asy-Syura: 21)

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa….” (asy-Syuraa’: 13)

Syariat Islam merupakan salah satu landasan utama pendidikan Islam. Menurut makna al-Qur’an, syariat merupakan penjelasan aqidah dan ibadah yang diarahkan untuk menata kehidupan dan hubungan kemanusiaan. Berikut ini adalah beberapa penjelasan yang menunjukkan kedudukan syariat:

a. Syariat merupakan landasan berfikir yang meliputi segala imajinasi pemikiran tentang alam semesta, kehidupan dan manusia yang di dalamnya tercakup sikap Islam terhadap manusia, pandangan Islam terhadap alam semesta, serta hubungan manusia dengan makhluk Allah yang lain. Melalui syariat, seorang muslim memperoleh gambaran yang logis dan sempurna tentang hubungan dirinya dengan alam semesta sehingga dia dapat mengetahui asal-usul, tempat kembali, fungsi dan tujuan hidupnya. Dengan demikian syariat telah mencetak kekhasan seorang muslim sehingga ia mampu memberikan sesuatu yang lebih besar daripada potensinya, memiliki hasrat yang lebih luas daripada kesanggupannya, dan memiliki jangkauan pemikiran yang lebih panjang daripada perasaannya.

b. Melalui penerapan kaidah dan sistem perilaku yang sesuai dengan syariat, seorang muslim mampu menjadikan dirinya sebagai teladan, baik di dalam ketelitian, keteraturan, dan kejujuran hidupnya, ketinggian akhlaknya, atau perencanaan hidupnya yang senantiasa mendasarkan setiap tindakannya pada pemikiran. Perencanaan hidup akan membawa seorang muslim pada kebiasaan berencana sebelum bekerja, sehingga jelaslah tujuan, manfaat, serta produktifitas kerjanya.

c. Melalui pembiasaan untuk menepati syariat Islam, seorang muslim akan memahami keuniversalan hukum Islam. Artinya dia akan memahami bahwa hukum syara’ yang dalam hal ini terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, itu tidak disusun untuk mengatasi situasi individual atau kondisi-kondisi parsial belaka. Lebih dari itu syariat Islam disusun untuk dimanfaatkan dalam setiap kesempatan oleh siapapun, individual maupun kelompok. Untuk itu para fuqaha dan ulama ushul berkata: “Pertimbangan terdapat pada keumuman lafadz, bukan pada kekhususan sebab.”

Tampaknya disanalah letak elastisitas dan kedinamisan Islam serta kemampuan Islam untuk selalu memberi, mengeluarkan hukum-hukum dalam kondisi sulit sekalipun, dan memberikan solusi bagi setiap individu yang bermasalah, baik masalah sosial maupun psikologis. Elastisitas melahirkan melahirkan kelenturan akal seorang muslim dan kemampuannya yang langka dalam menemukan dalil dan hukum. Kemampuan tersebut merupakan hasil dari penghafalan atau pemahaman ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang kemudian diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika ia menemukan kaidah umum dalam hadits atau ayat yang dibacanya, dia akan mampu beranalogi atau menurut ahli mantik melakukan penarikan konklusi melalui pemanfaatan akal, tanpa mengada-ada apalagi pemaksaan. Misalnya saja, seorang muslim yang menemukan ayat: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” Seperti yang tercantum dalam surah Ali ‘Imraan: 185, al-Ankabuut: 57, dan al-Anbiyaa’: 35, dia akan menghubungkan ayat itu dengan dirinya lewat pertanyaan: “Kemanakah aku akan kembali?” atau mengkaitkannya pada tempat kembali diri-diri yang lain. Dengan demikian, dia telah menerapkan kaidah universal dari ayat tersebut pada dirinya sendiri atau pada kondisi yang memang akan terjadi yakni kematian yang cepat atau lambat pasti akan menimpa setiap yang bernyawa.

d. Penerapan syariat akan melahirkan masyarakat yang berperadaban. Betapa tidak, untuk memahami syariat, seorang muslim harus mampu membaca, menulis, tilawah al-Qur’an serta merenungi hukum dan maknanya. Seorang muslim dituntut memahami pengetahuan berhitung agar juga memahami hukum faraidh, dituntut memhamai pengetahuan sejarah agar juga memahami sirah atau ayat-ayat tentang jihad; memahami pengetahuan geografi agar juga memahami geografis tempat-tempat yang berhubungan dengan sejarah Islam sehingga dapat dijadikan cermin, misalnya tempat kaum Syu’aib (Madyan), kaum ‘Aad, kaum Fir’aun dan lain-lain. Dengan demikian memperdalam agama dan mempelajari syariat merupakan hal yang sangat dianjurkan Islam sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“…Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah: 122)

Ayat tersebut telah memadukan dua kewajiban manusia, yaitu belajar dan mengajar. Dengan demikian karakteristik syariat itu, diantaranya adalah dapat memperluas cakrawala syariat itu, mencerdaskan akal manusia, serta melahirkan anjuran atau kewajiban mencari ilmu. Bukankah itu berarti bahwa melalui penerapan syariat, umat Islam akan mencapai tingkat peradaban yang hingga kina tidak mampu dicapai oleh manusia lain?

Dewasa ini, dalam rangka menyingkapkan integritas kaidah alam semesta dan membuktikan pentingnya eksperimen penguat validitas kebenaran ilmiah, serta dalam menciptakan ilmu sejarah berikut kaidah umum dan sandarannya, linguistik, metrik puisi, kedokteran, astronomi, aljabar, dan optik, para profersor barat memanfaatkan syariat Islam. Sesungguhnyalah, syariat Islam merupakan sumber kekayaan ilmiah yang melahirkan ilmu-ilmu duniawi.

Itulah beberapa karakter pemikiran tentang syariat Islam. Berikut ini adalah beberapa konklusi penting tentang peran syariat Islam dalam mendidik akal manusia:

1. Pertama, mendidik umat Islam untuk berpandangan komprehensif dalam melihat diri dan kehidupannya serta mengaitkan dirinya dengan alam semesta dan segala aspek duniawi atau ukhrawi sesuai dengan ajaran al-Qur’an melalui keuniversalan daya pikirnya.

2. Mendidik umat Islam untuk berfikir sadar atas segala perkara yang dilakukannya, dikatakannya, dikehendakinya, atau yang ditulisnya.

3. Mendidik umat Islam untuk berfikir logis, melakukan uji coba, menarik kesimpulan, dan melakukan penelitian sebagaimana yang diajarkan al-Qur’an kepadanya.

4. Mendidik umat Islam agar gemar mencari ilmu dan mencapai kebenaran ilmiah sehingga lahirlah masyarakat yang memiliki budaya berfikir, sistem pengajaran, dan sistem pendidikan yang istimewa (tidak dimiliki oleh orang lain).

Manfaat di atas akan terealisasi selama syariat Islam benar-benar diterapkan. Pada dasarnya, manfaat-manfaat yang timbul dari penerapan syariat tersebut disusun bukan untuk disesuaikan yang timbul dari penerapan syariat tersebut disusun bukan untuk disesuaikan dengan kondisi manusiawi, walaupun kenyataannya hukum-hukum syara tersebut, berdasarkan makna universalnya, mampu menghimpun daya fikir manusia tentang alam semesta atau menghimpun aqidah manusia terhadap keghaiban. Justru syariat Islamlah yang menyuruh umat Islam mencari ilmu melalui pemahaman dan perhatian kita terhadap makrokosmos dan mikrokosmos, misalnya melalui tadabur alam atau pemahaman sejarah kehidupan.

Dari gambaran di atas, peran syariat terhadap kehidupan universal sangatlah tinggi. Tentu saja pengaruh tersebut, secara langsung, membiasi pemanfaatan penerapan syariat bagi kehidupan individu dan masyarakat. Hasilnya, lahirlah keterarahan yang sehat dan terlukislah gambaran kehidupan manusia yang aman dan tenteram karena mendasarkan hidupnya pada keadilan. Di bawah naungan keadilan tersebut, tumbuh dan hidup individu dan masyarakat yang saling mencintai.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: