Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (12)

3 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 48-51“48. Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu Lihat hujan keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. 49. dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. 50. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. 51. dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin (kepada tumbuh-tumbuhan) lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar.” (ar-Ruum: 48-51)

Allah menjelaskan bagaimana Dia menciptakan awan yang dapat menurunkan hujan. Dia berfirman: AllaaHul ladzii yursilur riyaaha fatutsiiru sahaaban (“Allah, Dia lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan.”) adakalanya dari lautan –sebagaimana yang diceritakan oleh banyak orang–, atau sesuai apa yang dikehendaki Allah.
Fa yabsuthuHuu fis samaa-i kaifa yasyaa-u (“Dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya.”) yaitu dibentangkan, diperbanyak dan ditumbuhkan serta membuat sesuatu yang sedikit menjadi banyak, yang memunculkan awan seperti yang engkau lihat dengan mata kepala sendiri seperti tameng. Kemudian Dia bentangkan hingga memenuhi bagian-bagian ufuk, dan terkadang awan datang dari arah lautan membawa sesuatu yang berat dan penuh. Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (al-A’raaf: 57)

Demikian pula Dia berfirman disini:
AllaaHul ladzii yursilur riyaaha fatutsiiru sahaaban fayabsuthuHuu fis samaa-i kaifa yasyaa-u wa yaj’aluHuu kisafan (“Allah, Dia lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan, dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal.”) Mujahid, Abu ‘Amr bin al-‘Alla dan Mathar al-Waraq berkata: “Yaitu, potongan-potongan.” Sedangkan yang lain berkata: “Yaitu bergumpal-gumpal.” Sebagaimana dikatakan oleh adh-Dhahhak. Dan yang lain berkata: “Hitam karena banyaknya air. Engkau melihatnya bertumpuk-tumpuk, berat dan dekat ke bumi.”

Firman Allah: fataral wadqa yakhruju min khilaaliHi (“Lalu kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya.”) yakni engkau melihat hujan, yaitu tetasannya keluar dari celah-celah awan.
Fa idzaa ashaaba biHii may yasyaa-u min ‘ibaadiHii idzaaHum yastabsyiruun (“Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”) yaitu karena kebutuhan mereka terhadapnya, mereka merasa gembira dengan turun dan sampainya hujan kepada mereka.

Dan firman Allah: wa in kaanuu ming qabli ay yunazzala ‘alaiHim ming qabliHii lamublisiin (“Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.”) Ibnu Jarir berkata: “Kalimat ini sebagai taukid/penguat dan dia menceritakan hal tersebut dari sebagian ahli bahasa Arab. Kemudian, hujan datang secara tiba-tiba kepada mereka setelah mereka berputus asa. Setelah sebelumnya tanah-tanah mereka dalam keadaan gersang dan kering, lalu bumi itu menjadi hidup, subur dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

Untuk itu Allah berfirman: fandhur ilaa aatsaari rahmatillaaHi (“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah.”) yakni hujan. Kaifa yuhyil ardla ba’da mautiHaa (“Bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati.”) kemudian dengan hal itu Dia menyandarkan tentang hidupnya jasad-jasad manusia setelah mengalami kematian, terpisah-pisah dan kehancuran. Maka Allah befirman: inna dzaalika lamuhyil mautaa (“Sesungguhnya [Rabb yang berkuasa seperti] demikian benar-benar [berkuasa] menghidupkan orang-orang yang telah mati.”) yaitu, Rabb yang melakukan hal tersebut tentu Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati. Wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Wa la in arsalnaa riihan fara-auHu mushfarral ladhalluu mim ba’di yakfuruun (“dan sungguh, jika kami mengirimkan angin [kepada tumbuh-tumbuhan] lalu mereka melihat [tumbuh-tumbuhan itu] menjadi kuning [kering], benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar.”

Allah berfirman: wa la-in arsalnaa riihan (“Dan sungguh, jika kami mengirimkan angin.”) yang kering pada tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam lalu tumbuh, menua dan tegak lurus di atas pokoknya, maka mereka melihat tumbuh-tumbuhan itu mushfarra, yaitu menguning. Maka mulailah terjadi kerusakan, dimana mereka setelah itu tetap menjadi orang-orang yang ingkar. Yaitu mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Ubaidullah bin ‘Amr berkata: “Angin itu ada delapan; empat di antaranya mengandung rahmat dan empat lainnya mengandung adzab.

Sedangkan empat angin yang mengandung rahmat adalah: an-Naasyiraat, al-Mubasysyiraat, al-Mursaalaat dan adz-Dzaariyaat. Sedangkan angin yang mengandung adzab adalah: ‘aqiim, dan Sharshar di daratan serta ‘Aashif dan Qaashif di lautan.

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menggerakkannya dengan gerakan rahmat, hingga menjadi lapang, rahmat, gembira dan kasih sayang-Nya, dibawa oleh awan yang berisi air, seperti laki-laki memancarkan air maninya kepada wanita hingga hamil. Dan jika Dia menghendaki, niscaya Dia menggerakkannya dengan gerakan adzab dengan menjadikannya mandul dan mengandung siksaan yang pedih serta menjadikannya siksa bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Lalu Dia menjadikannya angin Sharshar [gemuruh], ‘Aatiya [sangat dingin] dan merusak apa saja yang dijangkaunya.

Angin-angin itu berbeda-beda dalam hembusannya yang deras dan sepoi-sepoi, selatan dan utara. Dan dalam masalah manfaat dan pengaruhnya lebih besar perbedaannya. Angin yang lembut dan basah mampu memperkuat tumbuh-tumbuhan dan tubuh-tubuh hewan, sedangkan angin yang lain mengeringkannya. Angin yang lain dapat menggerakkan dan mengeraskannya, yang lainnya lagi dapat memperkuat dan memperkokohnya dan yang lainnya meringankan dan melemahkannya.

Bersambung ke bagian 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: