Keraguan yang Harus Ditolak dalam Hal Pengumpulan Al-Qur’an

6 Jan


Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Ada beberapa keraguan yang ditiupkan oleh para pengumbar hawa nafsu untuk melemahkan kepercayaan terhadap al-Qur’an dan kecermatan pengumpulannya. Di sini dikemukakan beberapa hal yang penting di antaranya dan kemudian jawabannya:

1. Mereka berkata bahwa sumber-sumber lama [atsar] menunjukkan bahwa ada beberapa bagian al-Qur’an yang tidak dituliskan dalam mushaf-mushaf yang ada di tangan kita ini. Sebagai bukti [dalil] dikemukakannya:

Aisyah berkata: Rasulullah pernah mendengar seseorang membaca al-Qur’an di Masjid, lalu katanya: “Semoga Allah mengasihinya. Ia telah mengingatkan aku akan ayat anu dan ayat anu dari surah anu.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Aku telah menggugurkannya dari ayat ini dan ini.” Dan ada lagi riwayat yang mengatakan: “Aku telah dibuat lupa terhadapnya.” (Hadits ini terdapat dalam dua kitab Shahih Bukhari-Muslim dengan redaksi yang hampir sama)

Argumen ini dapat dijawab bahwa teringatnya Rasulullah saw. akan satu atau beberapa ayat yang ia lupa atau ia gugurkan karena lupa itu hendaknya tidak menimbulkan keraguan dalam hal pengumpulan al-Qur’an karena riwayat yang mengandung “menggugurkan” itu telah ditafsirkan oleh riwayat lain: “Aku telah dibuat lupa terhadapnya” [kuntu unsiituHaa]. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “menggugurkannya” adalah “lupa” sebagaimana ditunjukkan pula oleh kata-kata “telah mengingatkan aku”. Kelupaan atau lupa bisa saja terjadi pada Rasulullah dalam hal yang tidak merusak “tabligh”.

Di samping itu ayat-ayat tersebut telah dihafal oleh Rasulullah, dicatat oleh para penulis wahyu serta dihafal oleh para shahabat. hafalan dan pencatatannya pun telah mencapai tingkat mutawatir. Dengan demikian lupa yang dialami oleh Rasulullah sesudah itu tidak mempengaruhi kecermatan [ketelitian] dalam pengumpulan al-Qur’an. Inilah maksud hadits di atas. Oleh karena itu bacaan orang ini – yang hanya merupakan salah seorang di antara para penghafal yang jumlahnya mencapai tingkat mutawatir- mengingatkan Rasulullah saw, “Ia telah mengingatkan aku akan ayat anu dan ayat anu.”

Lalu mereka menukil firman Allah dalam surah al-A’laa: sanuq-ri-uka falaa tansaa, illaa maa syaa-alaaHu (“Kami akan membacakan [al-Qur’an] kepadamu [Muhammad] maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki.”) Mereka katakan bahwa pengecualian dalam ayat ini menunjukkan bahwa ada beberapa ayat yang terlupakan oleh Rasulullah saw.

Mengenai hal ini dapat dijawab: bahwa Allah telah berjanji kepada Rasul-Nya untuk membacakan al-Qur’an dan memeliharanya serta mengamankannya dari kelupaan, sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya: “Kami akan membacakan [al-Qur’an] kepadamu [Muhammad] maka kamu tidak akan lupa” namun karena ayat ini mengesankan bahwa seakan-akan hal itu merupakan keharusan, padahal Allah berbuat menurut kehendak-Nya secara bebas, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (al-Anbiyaa’: 23), maka ayat tersebut segera disusul dengan pengecualian, “kecuali kalau Allah menghendaki”, untuk menunjukkan bahwa pemberitahuan mengenai pembacaan al-Qu’an kepada Rasul dan pengamanannya dari keluapaan itu tidak keluar dari kehendak-Nya pula. Sebab bagi Allah tidak ada yang tidak dapat dilakukan. Syaikh Muhammad Abduh mengemukakan dalam menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: “Oleh karena itu janji tersebut dituangkan dalam ungkapan yang menunjukkan keharusan dan kekal, sehingga terkadang memberi kesan bahwa kekuasaan Allah tidak meliputi yang selain itu, dan bahwa didatangkanlah pengecualian dengan firman-Nya “Kecuali kalau Allah menghendaki.” Sebab, jika Dia berkehendak membuatmu [Muhammad] lupa terhadap sesuatu, tak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan kehendak-Nya.

Dengan demikian, maka yang dimaksudkan di sini adalah ‘peniadaan kelupaan secara total’. Mereka mengatakan: “Pengertian demikian seperti halnya perkataan seseorang kepada shahabatnya: ‘Engkau berbagi denganku dalam apa yang aku miliki, kecuali kalau Allah menghendaki.’ Dengan perkataan ini dia tidak bermaksud untuk mengecualikan sesuatu, karena ungkapan demikian sedikit sekali atau jarang dipergunakan untuk menunjukkan arti nafi [negatif]. Dan demikian pulalah maksud pengecualian dalam firman-Nya pada surah Hudd: “Adapun orang-orang yang berbahagia, tempat mereka di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki [yang lain]; sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108). Pengecualian seperti ini untuk menunjukkan bahwa pengabadian dan pengekalan itu semata-mata karena kemurahan dan keluasan karunia Allah, bukan keharusan dan kewajiban bagi-Nya. Dan jika Dia berkehendak untuk mencabutnya, maka tidak ada seorang pun dapat merintanginya.

Mengenai riwayat, bahwa Nabi telah melupakan sesuatu sehingga perlu diingatkan, maka seandainya hal itu benar, tetapi ini tidaklah menyangkut kitab dan hukum-hukum Allah yang diturunkan kepada Nabi agar disampaikan kepada umat. Dengan demikian segala pendapat yang dilontarkan orang lain dari yang telah dikemukakan ini merupakan penyusupan dari orang-orang atheis yang merasuki fikiran orang-orang yang lalai, untuk menodai apa yang sudah disucikan oleh Allah. Karena tidak pantas bagi orang yang mengenal kedudukan Rasulullah saw. dan beriman kepada Kitabullah berpegang kepada pendapat semacam itu sedikitpun juga.”

2. Mereka mengatakan, dalam al-Qur’an terdapat sesuatu yang bukan al-Qur’an. Untuk pendapatnya ini mereka berdalil dengan riwayat yang mengatakan bahwa Ibn Mas’ud mengingkari surah an-Naas dan al-Falaq termasuk bagian dari al-Qur’an. Terhadap pendapat ini dapat dijawab: bahwa riwayat yang diterima Ibnu Mas’ud itu tidak benar, karena bertentangan dengan kesepakatan umat. An-Nawawi mengatakan dalam Syarh al-Muhazzab: “Kaum Muslimin sepakat bahwa kedua surah (an-Naas dan al-Falaq) itu dan surah al-Faatihah termasuk al-Qur’an. Dan siapa saja yang mengingkarinya, sedikitpun, ia adalah kafir. Sedangkan riwayat yang diterima dari Ibn Mas’ud adalah batil, tidak shahih.” Ibn Hazm berpendapat, riwayat tersebut merupakan pendustaan dan pemalsuan atas nama [terhadap] Ibn Mas’ud.

Seandainya riwayat itu benar, maka yang dapat dipahami ialah bahwa Ibn Mas’ud tidak pernah mendengar kedua surah mu’awwizatain, yakni surah an-Naas dan surah al-Falaq itu secara langsung dari Nabi, sehingga ia berhenti, tidak memberikan komentar mengenainya. Selain itu pengingkaran Ibn Mas’ud tersebut tidak dapat membatalkan konsensus [ijma’] kaum Muslimin bahwa kedua surah itu merupakan bagian al-Qur’an yang mutawatir. Argumentasi ini dapat pula dipergunakan untuk menjawab isyu yang menyatakan bahwa mushaf Ibn Mas’ud tidak memuat surah al-Fatihah sebab al-Fatihah adalah Ummul Qur’an, induk al-Qur’an, yang status qur’aniyah-nya tidak seorangpun meragukannya.

3. Segolongan syi’ah ekstrim menuduh bahwa Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengubah al-Qur’an serta menggugurkan beberapa ayat dan surahnya. Mereka (Ketiga shahabat itu) telah mengganti dengan lafal Ummatun hiya arbaa min ummatin- “Satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain” (an-Nahl: 92), yang asalnya adalah: a’immatun hiya azkaa min a’immatikum- “Imam-imam yang lebih suci daripada imam-imam kamu.” Mereka juga menggugurkan dari surah al-Ahzab ayat-ayat mengenai keutamaan “Ahlul bait” yang panjangnya sama dengan surah al-An’am, dan menggugurkan pula surah mengenai kekuasaan [al-wilayah] secara total dari al-Qur’an.

Terhadap golongan ini dapat dikemukakan bahwa tuduhan tersebut adalah batil, omong kosong yang tanpa dasar dan tuduhan yang tanpa bukti. Bahkan membicarakannya merupakan suatu kebodohan. Selain itu, sebagian ulama syi’ah sendiri cuci tangan dari anggapan bodoh semacam ini. Dan apa yang diterima dari Ali, orang yang mereka jadikan tumpuan [tasyayyu’] bertentangan dengan hal itu dan bahkan menunjukkan terjadinya kesepakatan [ijma’] mengenai kemutawatiran al-Qur’an yang tertulis dalam mushaf.

Diriwayatkan bahwa Ali mengatakan mengenai pengumpulan al-Qur’an oleh Abu Bakar: “Manusia yang paling berjasa bagi mushaf-mushaf al-Qur’an adalah Abu Bakar, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya, karena dialah orang pertama yang mengumpulkan Kitabullah.”

Ali juga mengatakan berkenaan dengan pengumpulan al-Qur’an oleh Utsman: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Jauhilah sikap berlebihan [bermusuhan] terhadap Utsman dan perkataanmu bahwa dialah yang membakar mushaf. Demi Allah, ia membakarnya berdasarkan pesetujuan kami, shahabat-shahabat Rasulullah saw.” lebih lanjut ia mengatakan: “Seandainya yang menjadi penguasa pada masa Utsman adalah aku, tentu aku pun akan berbuat terhadap mushaf-mushaf itu seperti yang dilakukan Utsman.”

Apa yang diriwayatkan dari Ali sendiri ini telah membungkam para pendusta yang mengira bahwa mereka adalah pembela Ali, sehingga mereka berani berperang untuk sesuatu yang tidak mereka ketahui karena kefanatikannya yang membuta kepada Ali, sedang Ali sendiri berlepas tangan dari mereka. (lihat Manaahilul Irfaan, jilid 1 hal 464)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: