Pengumpulan al-Qur’an dalam Arti Penulisannya Pada Masa Nabi saw.

6 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Rasulullah saw. telah mengangkat para penulis wahyu al-Qur’an dari shahabat-shahabat terkemuka, seperti Ali, Mu’awiyah, ‘Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit. Bila ayat turun, beliau memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati. Di samping itu sebagian shahabat pun menuliskan al-Qur’an yang turun itu atas kemauan sendiri, tanpa diperintah oleh Nabi saw; mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau batang kayu, pelana, potongan tulang-belulang binatang. Zaid binn Tsabit berkata: “Kami menyusun al-Qur’an di hadapan Rasulullah pada kulit binatang.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan sanad yang memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para shahabat dalam menuliskan al-Qur’an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan dengan demikian, penulisan al-Qur’an ini semakin menambah hafalan mereka.

Jibril membacakan al-Qur’an kepada Rasulullah pada malam-malam bulan Ramadlan setiap tahunnya. Abdullah bin Abbas berkata: “Rasulullah saw. adalah orang yang paling pemurah, dan puncak kemurahannya pada bulan Ramadlan ketika ia ditemui oleh Jibril. Beliau ditemui Jibril pada tiap malam bulan Ramadlan; Jibril membacakan al-Qur’an kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh Jibril itu beliau sangat pemurah sekali.” (Muttafaq ‘alaih)

Para shahabat senantiasa menyodorkan al-Qur’an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.

Tulisan-tulisan al-Qur’an pada masa Nabi saw. tidak terkumpul dalam satu mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Mu’adz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafal seluruh isi al-Qur’an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan al-Qur’an di hadapan Nabi di antara mereka yang disebutkan di atas.

Rasulullah wafat di saat al-Qur’an telah dihafal dan tertuliskan dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau ditertibkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembaran secara terpisah dan dalam bentuk tujuh huruf, tetapi al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh [lengkap].

Bila wahyu turun segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis oleh para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan pembukuannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang me-nasikh [menghapuskan] ayat yang turun sebelumnya.

Susunan atau tertib penulisan al-Qur’an tidak tertib menurut nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi saw. –beliau menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan di surah anu. Andaikan pada masa Nabi al-Qur’an itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-Zarkasy berkata: “Al-Qur’an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah al-Qur’an selesai turun semua, yaitu dengna wafatnya Rasulullah saw.”

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit yang mengatakan: “Rasulullah telah wafat, sedangkan al-Qur’an belum dikumpulkan sama sekali.” Maksudnya ayat-ayat dan surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al-Khattaabi berkata: “Rasulullah tidak mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf itu karena senantiasa beliau menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafa’ur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaan-Nya. dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.” (al-Itqaan, jilid1 hal 57)

Pengumpulan al-Qur’an di masa Nabi ini dinamakan:
a. Penghafalan; dan
b. Pembukuan yang pertama

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: