Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar

6 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Abu Bakar menjalankan urusan Islam sesudah Rasulullah saw. ia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu.

Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar shahabat yang hafal al-Qur’an. Dan dalam peperangan ini gugur 70 qari dari shahabat. Umar bin Kaththab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar ia mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qari.

Dari segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan di tempat lain akan membunuh banyak qari pula sehingga al-Qur’an akan hilang dan musnah. Abu Bakar menolak usulan ini dan keberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan pintu hati Abu Bakar untuk menerima usulan tersebut.

Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit, mengingat kedudukannya dalam qira’at, penulisan, pemahaman dan kecerdasannya serta kehadirannya pada pembacaan terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu berdiskusi, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan al-Qur’an tersebut.

Zaid bin Tsabit memulai tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran [kumpulan] itu disimpan di tangan Abu Bakar. Setelah ia wafat mushaf itu berpindah ke tangan Hafshah, putri Umar. Pada permulaan kekhalifahan Utsman, Utsman memintanya dari tangan Hafshah.

Zaid bin Tsabit berkata: “Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada di sana. Abu Bakar berkata: ‘Umar telah datang kepadaku dan mengatakan, bahwa perang di Yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra; dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para qurra itu juga akan terjadi di tempat-tempat lain, sehingga sebagian al-Qur’an akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan al-Qur’an. Maka aku katakan kepadanya, bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah? Tetapi Umar menjawab dan bersumpah, Demi Allah perbuatan tersebut baik. Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan pintu hatiku untuk menerima usulnya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.’”

Zaid berkata lagi: “Abu Bakar berkata kepadaku: ‘Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemampuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah al-Qur’an dan kumpulkanlah.’”
“’Demi Allah.’” Kata Zaid lebih lanjut. “Sekiranya mereka memintaku untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku daripada perintah mengumpulkan al-Qur’an. Karena itu aku menjawab: ‘Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?’ Abu Bakar menjawab: ‘Demi Allah, itu baik.’ Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan pintu hatiku sebagaimana Dia telah membukakan pintu hati Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun mulai mencari al-Qur’an. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, kepingan-kepingan batu dan dari hafalan para penghafal, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah at-Taubah berada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kudapatkan pada orang lain, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri….” hingga akhir surah. Lembaran-lembaran [hasil kerjaku] tersebut kemudian disimpan di tangan Abu Bakar hingga wafatnya. Sesudah itu berpindah ke tangan Umar sewaktu masih hidup, dan selanjutnya berada di tangan Hafshah binti Umar.”

Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti, hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan di atas: “Dan aku dapatkan surah at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak aku dapatkan pada orang lain” tidak menghilangkan arti kehati-hatian tersebut dan tidak pula berarti bahwa akhir surah at-Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ia tidak mendapatkan akhir surah at-Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak para shahabat yang menghafalnya. Perkaaan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan. Jadi ayat akhir surah at-Taubah itu telah dihafal oleh banyak shahabat; dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Anshari.

Ibn Abu Daud (yaitu Abdullah bin Sulaiman bin Asy’as al-Azadi as-Sijistani salah seorang tokoh penghafal hadits. Ia mempunyai banyak kitab, antara lain: al-Musaahif, al-Musnad, at-Tafsiir, as-Sunan, al-Qiraa’aat dan an-Naasikh wal Mansuukh, lihat al-A’laam,oleh Zarkali, jilid 4 hal. 224) ia meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan: “Umar datang lalu berkata: ‘Barangsiapa menerima dari Rasulullah sesuatu dari al-Qur’an, hendaklah ia menyampaikannya.’ Mereka menuliskan al-Qur’an dari lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma, dan Zaid tidak mau menerima dari seseorang mengenai al-Qur’an sebelum disaksikan oleh dua orang saksi.” Ini menunjukkan bahwa Zaid tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran [langsung dari Rasulullah], sekalipun Zaid sendiri hafal. Ia bersikap demikian itu karena berhati-hati.

Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata kepada Umar dan Zaid: “Duduklah kamu berdua di pintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah.” Para perawi hadits ini orang-orang terpercaya, sekalipun hadits tersebut munqathi’ [terputus]. Ibn Hajar mengatakan: “Yang dimaksud dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.”

As-Sakhawi [lengkapnya Ali bin Muhammad bin ‘Abdus Samad, terkenal dengan nama as-Sakhasi. Ia menyusun sekumpulan syair tentang qira’at yang dikenal dengan nama as-Sakhawiyyah. Wafat 643 H) ia menyebutkan dalam Jamalul Qurra’, yang dimaksudkan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu tertulis di hadapan Rasulullah saw; atau dua saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengna salah satu cara yang dengan itu al-Qur’an diturunkan. Abu Syamah berkata: “Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskan al-Qur’an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat di hadapat Nabi saw., bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah at-Taubah, ‘Aku tidak mendapatkannya pada orang lain’ maksudnya ‘Aku tidak mendapatkannya dalam keadaan tertulis pada orang lain.’ Sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.” (lihat al-Itqaan jilin 1 hal 58)

Kita sudah mengetahui bahwa al-Qur’an sudah dicatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi; tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu al-Qur’an diturunkan. Dengan demikian, Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, di samping terdapat juga mushaf-mushaf pribadi pada sebagian shahabat, seperti mushaf Ali, mushaf Ubai dan mushaf Ibn Mas’ud. Tetapi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara seperti di atas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan, juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansukh dan secara ijma’ sebagaimana mushaf Abu Bakar. Keistimewaan-keistimewaan seperti itu hanya ada pada himpunan al-Qur’an yang dikerjakan oleh Abu Bakar.

Para ulama berpendapat bahwa penamaan al-Qur’an dengan “mushaf” itu baru muncul sejak saat itu, di saat Abu Bakar mengumpulkan al-Qur’an. Ali berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang pertama yang mengumpulkan Kitab Allah.”
Pengumpulan ini dinamakan pengumpulan kedua.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: