Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Utsman

6 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Penyebaran Islam bertambah luas dan para qurra pun tersebar di pelbagai wilayah, dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at [bacaan] dari qari yang dikirim kepada mereka. cara-cara pembacaan [qira’at] al-Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan “huruf” yang dengannya al-Qur’an diturunkan. Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaan qira’at ini. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah saw., sehingga terjadi pembicaraan tentang bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. dan pada gilirannya akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian itu harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azerbaizan dengan penduduk Irak, di antara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu adalah Hudzaifah bin al-Yama. Ia melihat banyak perbedaan dengan cara-cara membaca al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Hudzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya.

Utsman juga memberitahukan kepada Hudzaifah bahwa sebagian perbedaan itupun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qira’at kepada anak-anak. Anak-anak akan tumbuh sedang di antara mereka terdapat perbedaan dalam qira’at. Para shahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka sepakat untuk menyalin lembaran-lembaran pertama yang pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf.

Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafshah [untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya] dan Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit al-Anshari, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin ‘As, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, ketiga orang terakhir ini adalah suku Quraisy; dan memerintahkan mereka untuk menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketika orang Quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena al-Qur’an turun dalam logat mereka.

Dari Anas: Bahwa Hudzaifah bin al-Yaman datang kepada Utsman. Ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam sebagian Armenia dan Azarbaijan bersama penduduk Irak. Hudzaifah sangat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan. Lalu ia berkata kepada Utsman: “Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan [dalam masalah Kitab] sebagaimana perselisihan orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Utsman kemudian mengirim surat kepada Hafshah yang isinya: ‘Sudilah kiranya anda kirimkan kepada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan al-Qur’an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.’ Hafshah mengirimkan kepada Utsman, dan Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya. Mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Utsman berkata kepada ketiga orang Quraisy itu: “Bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit dengan sesuatu dari al-Qur’an, maka tulislah dengan logat Quraisy, karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Quraisy.”

Mereka melaksanakan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafshah. Selanjutnya Utsman mengirimkan ke setiap wilayah mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua al-Qur’an atau mushaf lain dibakar. Zaid berkata: “Ketika kami menyalin mushaf, saya teringat akan satu ayat dari surah al-Ahzab yang pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah; maka kami mencarinya, dan kami dapatkan pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari. Ayat itu ialah: …. minal mu’miniina rijaalun shadaquu maa ‘aaHadullaaHa ‘alaiHi…. (“…Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah [al-Ahzab: 23]”) lalu kami tempatkan ayat ini pada surah tersebut dalam mushaf. (HR Bukhari)

Berbagai Atsar atau keterangan para shahabat menunjukkan bahwa perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Hudzaifah bin al-Yaman, tetapi juga mengejutkan para shahabat lainnya. Dikatakan oleh Ibnu Jarir: Ya’qub bin Ibrahim bercerita kepadaku, bahwa Abu Qalabah berkata: “Pada masa kekhalifahan Utsman telah terjadi seorang guru qira’at mengajarkan qiraat seseorang, dan guru lain juga mengajarkan qiraat orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu pada suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal yang demikian itu juga menjalar kepada guru-guru tersebut.” Kata Ayyub: “Aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: ‘Sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat tersebut.’ Dan hal ini akhirnya sampai juga kepada khalifah Utsman, maka ia berpidato: “Kalian yang ada di hadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca al-Qur’an. Penduduk daerah yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai shahabat-shahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam [mushaf al-Qur’an pedoman] saja.”

Abu Qalabah berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku, katanya: “Aku adalah salah seorang di antara mereka yang disuruh menuliskan.” Kata Abu Qalabah: “Terkadang mereka berselisih tentang satu ayat, maka mereka menanyakan kepada seseorang yang telah menerimanya dari Rasulullah, akan tetapi orang tadi mungkin tengah berada di luar kota, sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum dan sesudah serta membiarkan tempat letaknya, sampai orang itu datang atau dipanggil. Ketika penulisan mushaf telah selesai, Khalifah Utsman menuliskan surat kepada semua penduduk daerah yang isinya: “Aku telah melakukan yang demikian dan demikian. Aku telah menghapus apa yang ada padaku, maka hapuskanlah apa yang ada padamu.” (lihat jilid pertama Tafsir at-Tabari, yang disunting dan dikeluarkan oleh dua orang bersaudara Muhammad Muhammad Syakir dan Ahmad Muhammad Syakir, cetakan Darul Ma’arif hal 61 dan 62)

Ibn Asytah (yakni Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Asytah; seorang penulis terpercaya yang mengkhususkan diri dengan ilmu-ilmu al-Qur’an; wafat 360 H) dia meriwayatkan melalui Ayyub dari Abu Qalabah, keterangan yang sama. Dan Ibn Hajar menyebutkan dalam al-Fath bahwa Ibn Abu Daud telah meriwayatkan pula melalui Abu Qalabah dalam Masaahif.

Suwaid bin Gaflah berkata: Ali mengatakan: “Katakanlah segala yang baik tentang Utsman, demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf al-Qur’an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata: ‘Bagaimana pendapatmu tentang qiraat ini? Saya mendengar bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qiraatnya lebih baik dari qiraat orang lain. Ini telah mendekati kekafiran.’ Kami berkata: ‘Bagaimana pendapatmu?’ ia menjawab: ‘Aku berpendapat agar manusia bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.’ Kami berkata: ‘Baik selaki pendapatmu itu.’ (HR Ibn Abu Daud dengan sanad yang shahih)

Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman itu telah disepakati oleh para shahabat. mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf [dialek] dari tujuh huruf al-Qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat. Dan Utsman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafshah. Lalu dikirimkan pula ke setiap wilayah masing-masing satu mushaf, dan ditahannya satu mushaf untuk Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang kemudian dikenal dengan nama “Mushaf Imam”. Penamaan ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat terdahulu dimana ia mengatakan: “Bersatulah wahai shahabat-shahabat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam [mushaf al-Qur’an pedoman].”

Kemudian ia memerintahkan membakar semua bentuk lembaran atau mushaf yang selain itu. Umat pun menerima perintah itu dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditinggalkan. Keputusan itu tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam kategori keringangan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir. Dan inilah yang terjadi.

Ibnu Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Utsman: “Ia menyatukan umat Islam dalam satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf yang ‘berlainan’ dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut (lihat teks ini dalam Tafsir Ibn Jarir at-Tabari, jilin 1 hal 64 dan 65. Dalam anotasi Ibn Hajar berkata dalam al-Fath jilid 9, hal 18 ketika ia memberi syarah terhadap hadits Bukhari: “Di dalam riwayat sebagian besar dari mereka disebutkan an yukhriqa dengan menggunakan “kha”. Dalam riwayat al-Marwazi dengan “ha” lebih kuat karena kharaqal kitaab au saub berarti merobek-robeknya.)
Umat pun mendukungnya dengan taat, dan mereka melihat bahwa dengan begitu Utsman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Maka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya, sesuai dengan permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lainnya sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum Muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian daripadanya. Tetapi hal yang demikian itu demi kebaikan kaum Muslimin sendiri. Dan sekarang ini tidak ada lagi qiraat bagi kaum Muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih oleh imam mereka yang bijaksana dan tulus hati ini. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainnya.

Apabila sebagian orang yang lemah pengetahuannya berkata: “Bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu?” Maka jawabnya ialah: “Sesungguhnya perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardlu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan [ruskhshah]. Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan dengan tujuh huruf itu wajib pula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, beritanya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan al-Qur’an di kalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.

Jika memang demikian halnya, maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yang tujuh tersebut, yang menjadi kewajiban mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang telah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan itu sangat berguna bagi Islam dan kaum Muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama daripada melakukan sesuatu yang malah lebih merupakan bencana terhadap Islam dan pemeluknya daripada menyelamatkannya.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: