Perbedaan antara Pengumpulan al-Qur’an pada Masa Abu Bakar dengan Utsman

6 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Dari teks-teks sebelumnya jelaslah bahwa pengumpulan mushaf oleh Abu Bakar berbeda dengan pengumpulan yang dilakukan oleh Utsman dalam motif dan caranya. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya al-Qur’an karena banyaknya para hufadh yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para qari. Sedangkan motif Utsman untuk mengumpulkan al-Qur’an adalah karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca al-Qur’an yang disaksikannya sendiri di daerah-daerah dan mereka saling menyalahkan satu terhadap lainnya.

Pengumpulan al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar adalah memindahkan semua tulisan atau catatan al-Qur’an yang semula bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang-belulang dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas pada bacaan yang tidak dimansukh dan mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika al-Qur’an itu diturunkan.

Sedangkan pengumpulan yang dilakukan oleh Utsman adalah menyalinnya dalam satu huruf di antara ketujuh huruf itu untuk mempersatukan kaum Muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya. Ibn Tin dan yang lainnya berkata: “Perbedaan pengumpulan Abu Bakar dengan pengumpulan Utsman ialah bahwa pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar disebabkan oleh kekhawatiran akan hilangnya sebagian al-Qur’an karena kematian para penghafalnya, sebab ketika itu al-Qur’an belum terkumpul dalam satu tempat. Lalu Abu Bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat dan surahnya, sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. kepada mereka.

Sedang pengumpulan yang dilakukan oleh Utsman disebabkan banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan. Karena khawatir akan timbul “bencana”, Utsman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu ke dalam satu mushaf dengan menertibkan/menyusun surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa Quraisy saja dengan alasan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka [Quraisy], sekalipun pada mulanya memang diizinkan membaca dengan bahasa selain Quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir. Karena itulah ia membatasinya hanya satu logat saja.”

al Haris al-Muhasibi mengatakan: “Yang masyhur di kalangan orang banyak ialah bahwa pengumpulan al-Qur’an itu Utsman. Padahal sebenarnya tidak demikian. Utsman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam bacaan [wajah] qiraat. Itu pun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum Muhajirin dan Anshar yang hadir di hadapannya, serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi antara penduduk Irak dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf tersebut dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana al-Qur’an diturunkan. Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan al-Qur’an secara keseluruhan [lengkap] adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.” (Lihat al Itqaan, jilid 1 hal 60 dan 61)

dengan usahanya itu Utsman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga al-Qur’an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan Utsman ke berbagai daerah:

a. Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirim ke Makkah, Syam, Bashrah, Kufah, Yaman, Bahrain dan Madinah. Ibn Abu Daud mengatakan: Aku mendengar Abu Hatim as-Sijistani berkata: “Telah ditulis tujuh buah mushaf, lalu dikirim ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan sebuah ditahan di Madinah.”

b. Dikatakan pula bahwa jumlahnya ada empat buah, masing-masing dikirim ke Irak, Syam, Mesir dan Mushaf Imam; atau dikirim ke Kufah, Bashrah, Syam dan mushaf Imam. Berkata Abu ‘Amr ad-Dani dalam al-Muqni’: “Sebagian besar ulama berpendapat bahwa ketika Utsman menulis mushaf, ia membuatnya sebanyak empat buah salinan dan ia kirimkan ke setiap daerah masing-masing satu buah: ke Kufah, Bashrah, Syam dan ditinggalkan satu buah untuk dirinya sendiri.”

c. Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima. As-Suyuti berkata bahwa pendapat inilah yang masyhur.

Adapun lembaran-lembaran yang dikembalikan kepada Hafsah, tetap berada di tangannya hingga ia wafat. Setelah itu lembaran-lembaran tersebut dimusnahkan (Tafsir Tabari, jilid 1 hal 61) dan dikatakan pula bahwa lembaran-lembaran tersebut diambil oleh Marwan bin Hakam lalu dibakar.

Mushaf-mushaf yang ditulis oleh Utsman itu sekarang hampir tidak ditemukan sebuah pun juga. Keterangan yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dalam kitabnya “Fadaa’ilul Qur’an” menyatakan bahwa ia menemukan satu buah di antaranya di masjid Damsyik di Syam. Mushaf itu ditulis dalam lembaran –menurutnya- terbuat dari kulit unta. Dan diriwayatkan pula mushaf Syam ini dibawa ke Inggris setelah beberapa lama berada di tangan kaisar Rusia di perpustakaan Leningrad. Juga dikatakan bahwa mushaf itu terbakar dalam masjid Damsyik pada tahun 1310 H.
Pengumpulan al-Qur’an oleh Utsman ini disebut dengan “Pengumpulan Ketiga” yang dilaksanakan pada 25 H.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: