Turunnya Al-Qur’an Sekaligus

6 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasul kita Muhammad saw., untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya al-Qur’an pertama kali pada malam Lailatul Qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad saw.

Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Turunnya al-Qur’an yang kedua secara bertahab, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya sangat mengagetkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia hikmah ilahi yang ada di balik itu.

Rasulullah tidak menerima risalah agung ini sekaligus, dan kaumnya pun tidak pula puas dengan risalah-risalah tersebut karena kesombongan dan permusuhan mereka. oleh karena itu wahyu pun turun berangsur-angsur untuk menguatkan hati Rasul dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.

AL-QUR’AN TURUN SEKALIGUS

Firman Allah:

“Bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dengan yang batil.” (al-Baqarah: 185)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [al-Qur’an] pada malam Lailatul Qadar.” (al-Qadar: 1)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [al-Qur’an] pada suatu malam yang diberkahi.” (ad-Dukhan: 3)

Ketiga ayat di atas tidak bertentangan, karena malam yang diberkahi adalah malam lailatul Qadar dalam bulan Ramadlan. Tetapi lahir [dhahir] ayat-ayat itu bertentangan dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah saw. dimana al-Qur’an turun kepadanya selam dua puluh tiga tahun. Dalam hal ini para ulama mempunyai du madzab pokok:

1. Madzab pertama
Yaitu pendapat Ibnu ‘Abbas dan sejumlah ulama serta yang dijadikan pegangan oleh umumnya ulama. Yang dimaksud dengan turunnya al-Qur’an dalam ketiga ayat di atas adalah turunnya al-Qur’an sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian sesudah itu al-Qur’an diturunkan kepada Rasul kita Muhammad saw. secara bertahab selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian sejak beliau diutus sampai wafatnya. Beliau tinggal di Makkah sesudah diutus selama tiga belas tahun dan sesudah hijrah tinggal di Madinah salama sepuluh tahun. Ibnu ‘Abbas berkata: “Rasulullah saw. diutus pada usia empat puluh tahun. Beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun dan selama itu wahyu turun kepada beliau. Kemudian beliau diperintahkan hijrah selama sepuluh tahun. Beliau wafat dalam usia enam puluh tiga tahun.” (Hadits al-Bukhari)
Pendapat ini didasarkan pada berita-berita yang shahih dari Ibnu ‘Abbas dalam beberapa peristiwa, antara lain:

a. Ibnu ‘Abbas berkata: “al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul Qadar. Kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tahun.” Lalu ia membaca: “Dan tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa suatu yang ganjil, melainkan Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik penjelasannya.” (al-Furqaan: 33)
“Dan al-Qur’an telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya sebagian demi sebagian.” (al-Israa’: 106)

b. Ibnu ‘Abbas berkata: “Al-Qur’an itu dipisahkan dari adz-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia. Maka Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi saw.

c. Ibnu ‘Abbas ra. berkata: “Allah menurunkan al-Qur’an sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya saw. sebagian demi sebagian.”

d. Ibnu ‘Abbas berkata: “Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadlan ke langit dunia sekaligus, lalu ia diturunkan secara berangsur-angsur.”

2. Madzab kedua,
Yaitu yang diriwayatkan oleh asy-Sya’bi (asy-Sya’bi adalah ‘Amir bin Syahril, termasuk tabi’in besar dan salah satu guru Abu Hanifah yang terkemuka. Dia juga adalah ahli hadits dan ahli fiqih, wafat: 109 H) bahwa yang dimaksud dengan turunnya al-Qur’an dalam ketiga ayat di atas ialah permulaan turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah saw. Permulaan turunnya al-Qur’an itu dimulai pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadlan, yang merupakan malam yang diberkahi. Kemudian turunnya itu berlanjut sesudah itu secara bertahab sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan demikian al-Qur’an hanya satu macam cara turun, yaitu turun secara bertahab kepada Rasulullah saw.

Sebab yang demikian inilah yang dinyatakan al-Qur’an: “Dan al-Qur’an telah kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Israa’: 106)

Orang-orang musyrik yang diberitahu bahwa kitab-kitab samawi terdahulu turun sekaligus, menginginkan agar al-Qur’an juga diturunkan sekaligus:

“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (al-Furqaan: 32-33)

Dan keistimewaan bulan Ramadlan dan lailatul Qadar yang merupakan malam yang diberkahi itu tidak akan kelihatan oleh manusia kecuali apabila dimaksudkan dari ketiga ayat di atas adalah turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah saw. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam firman Allah mengenai perang Badar: “….dan (beriman kepada) apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami [Muhammad] di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Anfaal: 41)

Perang Badar terjadi dalam bulan Ramadlan. Dan yang demikian itu diperkuat pula oleh hadits yang dijadikan pegangan para penyelidik hadits permulaan wahyu. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. menceritakan cara permulaan wahyu, ia berkata: Wahyu yang diterima Rasulullah saw. dimulai dengan suatu mimpii yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari. Setelah itu beliau digemarkan [oleh Allah] untuk melakukan khalwat [‘uzlah]. Beliau melakukan khalwat di gua Hira’ –melakukan ibadah- selama beberapa malam kemudian pulang kepada keluarganya [Khadijah] untuk mengambil bekal. Demikian berulang-ulang hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di dalam gua Hira.
Pada suatu hari datanglah malaikat lalu berkata: “Bacalah.” Beliau menjawab: “Aku tak bisa membaca.” Rasulullah saw. menceritakan lebih lanjut: Malaikat itu lalu mendekatiku dan memelukku sehingga aku merasa lema sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi: “Bacalah.” Aku menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” Untuk kali yang ketiga ia mendekati dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi: “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan…Menciptakan manusia dari segumpal darah.. “ dan seterusnya.

Para penyelidik menjelaskan bahwa Rasulullah saw. pada mulanya diberitahu tentang mimpi pada bulan kelahirannya, yaitu bulan Rabi’ul Awwal. Pemberitahuan dengan mimpi ini lamanya enam bulan. Kemudian beliau diberi wahyu dalam keadaan sadar (tidak dalam keadaan tidur) pada bulan Ramadlan dengan iqra’. Dengan demikian, nas-nas yang terdahulu itu menunjukkan kepada satu pengertian.

3. Madzab ketiga,
Berpendapat bahwa al-Qur’an diturunkan ke langit dunia selama 23 malam lailatul Qadar (atau 25 malam lailatul qadar sesuai dengan perbedaan pendapat yang terdahulu tentang lamanya Rasul tinggal di Makkah). Yang pada tiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar itu ada yang ditentukan Allah untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Dan jumlah wahyu yang diturunkan ke langit dunia di malam lailatul qadar, untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah sepanjang tahun. Madzab ini adalah hasil ijtihad sebagian mufasir. Pendapat ini tidak mempunyai dalil.

Adapun pendapat kedua yang diriwayatkan oleh asy-Sya’bi, dengan dalil-dalil yang shahih dapat diterima, tidaklah bertentangan dengan madzab yang pertama yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas.

Dengan demikian maka pendapat yang kuat ialah bahwa al-Qur’anul Karim itu dua kali turun:
a. Diturunkan secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar di Baitul ‘Izzah di langit dunia.
b. Diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.

Al-Qurtubi telah menukil dari Muqatil bin Hayyan riwayat tentang kesepakatan (ijma’) bahwa turunnya al-Qur’an sekaligus dari Lahulu Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Ibnu ‘Abbas memandang tidak ada pertentangan antara ketiga ayat di atas yang berkenaan dengan turunnya al-Qur’an dengan kejadian nyata kehidupan Rasulullah saw. bahwa al-Qur’an itu turun selama dua puluh tiga tahun yang bukan bulan Ramadlan.

Dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa dia ditanya oleh ‘Atiyah bin al-Aswad, katanya: “Dalam hatiku terjadi keraguan tentang firman Allah: Bulan Ramadlan itulah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an; dan firman Allah: Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar; padahal al-Qur’an itu ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Dzul Qaidah, Dzul Hijjah, Muharram, Safar dan Rabi’ul Awwal.” Ibnu ‘Abbas menjawab: “Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar sekaligus. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan di sepanjang bulan dan hari.” (Hadits riwayat Ibnu Mardawaih dan Baihaqi dalam kitab al-Asma’ was Sifaat.)

Para ulama mengisyaratkan bahwa hikmah dari hal itu ialah menyatakan kebesaran al-Qur’an dan kemuliaan orang yang kepadanya al-Qur’an diturunkan. As-Suyuti mengatakan: “Dikatakan bahwa rahasia diturunkannya al-Qur’an sekaligus ke langit dunia adalah untuk memuliakannya dan memuliakan orang yang kepadanya al-Qur’an diturunkan; yaitu dengan memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir dan umat yang paling mulia. Kitab itu kini telah di ambang pintu dan akan segera diturunkan kepada manusia. Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghendaki disampaikannya al-Qur’an kepada mereka secara bertahab dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, tentulah ia diturunkan ke bumi sekaligus seperti halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Maka dijadikan-Nyalah dua ciri tersendiri: diturunkan secara sekaligus, kemudian diturunkan secara bertahab, untuk menghormati orang yang menerimanya.”

As-Sakhawi mengatakan dalam Jamalul Qurraa’: “Turunnya al-Qur’an ke langit dunia sekaligus itu menunjukkan suatu penghormatan kepada keturunan Adam di hadapan para malaikat, serta pemberitahuan kepada para malaikat akan perhatian Allah dan rahmat-Nya kepada mereka. dan dalam pengertian inilah Allah memerintahkan tujuh puluh ribu malaikat untuk mengawal surah al-An’am (al-Qur’an yang dikawal oleh para malaikat ialah yang turunnya diiringi dan dikelilingi oleh para malaikat. Diriwayatkan oleh Thabarani dan Abu ‘Ubaid di dalam Fadaailul qur’an: Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Surah al-An’am itu turun di Makkah sekaligus di waktu malam. Ia diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat yang menyerukan tasbih.”), dan dalam pengertian ini pula Allah memerintahkan Jibril agar mengimlakannya kepada para malaikat pencatat yang mulia, menuliskan dan membacakannya kepadanya.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: