Salam dan Qiradh

7 Jan

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Salam adalah membeli suatu barang dengan harga kontan, tetapi barang yang dibelinya diserahkan pada waktu kemudian yang telah ditentukan. Sedangkan Qiradh adalah mengutangkan barang yang dibayar dengan barang juga.

Para imam madzab sepakat tentang bolehnya jual beli secara salam. Untuk sahnya jual beli dengan cara salam ini harus dipenuhi enam syarat berikut:

1. Jenis barangnya sudah diketahui
2. Mempunyai sifat yang diketahui
3. Kadarnya diketahui
4. Temponya diketahui
5. Harga barang harus diketahui
6. Harus menyerahkan harga barang pada waktu itu juga.

Hanafi menambahkan satu syarat lagi, yaitu harus ditentukan tempat penerimaan barang. Namun menurut ketiga madzab lainnya, bahwa yang diajukan Hanafi sebagai syarat yang ketujuh tidak termasuk syarat, tetapi merupakan suatu keharusan dalam jual beli.

Para imam madzab sepakat atas bolehnya jual beli secara salam terhadap barang-barang yang dapat ditakar, ditimbang, dan diukur yang dapat diterangkan dengan tegas dan jelas sifatnya. Para imam madzab juga sepakat atas bolehnya salam terhadap barang-barang yang dapat dihitung tetapi yang satunya tidak dapat berlebih dan berkurang, seperti telur, kecuai menurut Hanbali.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang jual-beli secara salam pada barang-barang yang dapat dihitung, tetapi satuan-satuannya dapat berlebih dan berkurang keadaannya, seperti buah delima dan buah semangka, Hanafi berpendapat: tidak boleh salam padanya, baik secara ditimbang maupun dihitung. Maliki: boleh secara mutlak. Syafi’i: boleh dengan cara ditimbang. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, yang lebih masyhur adalah boleh dengan cara dihitung secara mutlak.
Hambali: barang yang asalnya ditakar tidak boleh dijual secara salam dengan cara ditimbang, dan barang yang asalnya ditimbang tidak boleh dijual secara salam dengan cara ditakar.

Dibolehkan barang yang dijual secara salam diberikan segera atau ditangguhkan. Demikian menurut Syafi’i, Hanafi dan Maliki. Sedangkan pendapat Hambali: tidak dibolehkan penyerahan barang dengan segera, dan tentu saja harus ada penangguhan, meskipun beberapa hari.

Boleh dilakukan salam terhadap makhluk hidup, binatang ternak maupun burung. Demikian pula dengan cara qiradh. Menurut Hanafi: tidak sah salam terhadap makhluk hidup dan tidak meminta qiradh.

Dibolehkan menjual daging secara salam terhadap daging. Demikian pendapat Maliki dan Syafi’i. Sedangkan Hambali dan Hanafi melarang pada daging. Tidak dibolehkan melakukan salam terhadap roti, menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i. Sedangkan Maliki membolehkannya. Menurut Hambali: boleh menjual roti secara salam dan terhadap semua yang disentuh api [dimasak, digoreng atau dipanggang].

Boleh menjual barang-barang yang belum ada ketika terjadi akad salam secara salam. Demikian pendapat Maliki dan Syafi’i. Menurut Hambali, apabila menurut dugaan bahwa barang tersebut akan ada jika diperlukan. Hanafi berpendapat: kalau barang yang dipesan itu tidak ada ketika terjadi akan sampai diperlukan, maka tidak boleh.

Tidak boleh menjual permata yang sukar diperoleh secara salam, kecuali pendapat Maliki yang membolehkannya. Maliki membolehkan berserikat dan menguasakan kepada orang lain dalam menjual secara salam, sebagaimana dibolehkan dalam jual beli. Adapun, menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali: tidak boleh.

Qiradh sangat disukai dalam Islam. Demikian menurut kesepakatan imam madzab. Qiradh dapat dilakukan kapan saja ketika dikehendaki. Apabila tidak ditentukan waktunya, tidak harus ditunda pembayarannya. Adapun menurut pendapat Maliki, harus ditangguhkan pembayarannya. Boleh melakukan qiradh terhadap roti. Demikian pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Menurut Hanafi: tidak boleh sama sekali.

Apakah dibolehkan oleh hukum melakukan qiradh secara ditimbang atau dihitung? Dalam masalah ini Syafi’i mempunyai dua pendapat, dan yang paling shahih adalah boleh dengan cara ditimbang. Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Maliki berpendapat: boleh dipilih antara ditimbang atau dihitung.

Seseorang berhutang suatu barang dari orang lain, apakah dibolehkan orang yang memberi utang barang itu mengambil manfaat dari harta yang diutangkan, seperti menerima hadiah dari pinjaman? Hanafi, Maliki dan Hambali: tidak boleh jika tidak disyaratkan dalam akad. Syafi’i: jika hal itu tidak termasuk syarat, dibolehkan.

An-Nawawi dalam kitab ar-Raudhah menyebutkan: apabila orang yang berutang memberi hadiah kepada pemberi utang, boleh diterima tanpa dimakruhkan hukumnya. Sangat disukai bagi orang yang berutang mengembalikan utang dengan yang lebih baik daripada yang diutangkan, karena ada hadits shahih yang menjelaskan demikian. Orang yang memberi utang tidak dimakruhkan menerima pengembalian yang lebih baik tersebut.

Para imam madzab sepakat atas tidak bolehnya orang yang mempunyai utang untuk dibayar pada waktu yang ditentukan. Kemudian orang yang memberi utang menyuruh membayar lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan, dengan janji akan dibebaskan setengah dari utangnya.

Para imam madzab juga sepakat atas tidak bolehnya mempercepat pembayaran sebagian utang dan mengakhirkan sebagaiannya. Sebagaimana tidak bolehnya mengambil sebagian berupa benda sebelum datang waktunya, dan mengambil sebagiannya berupa harga. Namun tidak apa-apa jika sudah tiba waktunya, ia mengambil sebagian dan membebaskan sebagian yang lain atau ditunda pembayaran sebagiannya sampai waktu yang lebih lama.

Apabila seseorang memiliki piutang atas orang lain dengan cara qiradh atau jual beli yang ditentukan waktu pembayarannya, menurut pendapat Maliki, ia harus mengakhirkan pembayarannya sampai waktu yang telah ditentukan itu. Demikian pula, kalau ia mempunyai utang yang telah ditentukan waktu pembayarannya, maka diperpanjang waktunya. Begitu pula pendapat Hanafi kecuali dalam masalah jinayah dan qiradh. Syafi’i berpendapat: tidak harus melambat-lambatkan atau menunggu sampai tiba waktu pembayarannya. Pemberi utang boleh meminta sebelum tiba temponya.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: