Arsip | 13.43

Tajwid

8 Jan

TEHNIK KETUKAN

cover-buku-metode-sq

  1. Definisi Kharokat
  2. Memahami Ketukan
  3. Satu Khuruf  Satu Ketukan
  4. Spasi Tidak Diketuk
  5. Khuruf Mati Tetap Diketuk
  6. Khuruf Ber-tasydid = 2 ketukan
  7. “Wawu + Alif” Jamak = 1 ketukan
  8. Sukun Memendekkan Ketukan
  9. Tasydid Memendekkan Ketukan
  10. Ketukan Bacaan Qolqolah
  11. Mad Thobi’i (lihat ketukan) (Contoh Mad Thobi’i)
  12. Mad Badal (lihat ketukan)
  13. Mad Tamkin (lihat ketukan)
  14. Mad ‘Iwadl (lihat ketukan)
  15. Mad Shilah Qoshiroh (lihat ketukan)
  16. Mad ‘Aridl Lissukuun (lihat ketukan)
  17. Mad Lin/Layyin (lihat ketukan)
  18. Mad Wajib Muttashil (lihat ketukan)
  19. Mad Jaiz Munfashil (lihat ketukan)
  20. Perbedaan Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfashiil
  21. Mad Shilah Thowilah(lihat ketukan)
  22. Mad Lazim Mutsaqol Kalimi (lihat ketukan)
  23. Mad Lazim Mukhoffaf(lihat ketukan)
  24. Kalimi  Mad Farq (lihat ketukan)
  25. Mad Kharfi
  26. Mad Lazim Mukhoffaf  Kharfi(lihat ketukan)
  27. Mad Lazim Mutsaqol  Kharfi’(lihat ketukan)
  28. Mad Thobi’i Kharfi(lihat ketukan)
  29. Ghunnah (lihat ketukan) (contoh Ghunnah)
  30. Id-har Khalqi (lihat ketukan)
  31. Iqlab (lihat ketukan) (contoh Iqlab)
  32. Ikhfa’ Khaqiqi (lihat ketukan)
  33. Idghom Bighunnah (lihat ketukan)
  34. Idghom Bilaghunnah (lihat ketukan)
  35. Nun Wiqoyah (lihat ketukan)
  36. Id-har Syafawi (lihat ketukan)
  37. Ikhfa’ Syafawi (lihat ketukan)
  38. Idghom Mimi (lihat ketukan)
  39. Isymam (lihat ketukan)

Rasmul Bayan

8 Jan

Sarah  Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

A. Makna Shahadatain
1. Urgensi Syahadatain
2. Makna yang terkandung dalam syahadatain
3. Makna “ilah”
4. Loyalitas dan penolakan
5. Kalimat Allah lah yang tertinggi
6. Tahapan interaksi dengan syahadatain
7. Syarat-syarat diterimanya syahadatain
8. Ridla (kerelaan) dalam syahadat
9. Realisasi makna syahadatain
10. Realisasi syahadatain
11. Celupan dan perubahan

B. Ma’rifatullah
1. Urgensi mengenal Allah
2. Cara mengenal Allah
3. Penghalang ma’rifatullah
4. Bukti keberadaan Allah
5. Pengesaan Allah
6. Memurnikan ibadah
7. Bahaya syirik
8. Hidup di bawah naungan tauhid
9. Makna-makna laa ilaaHa illallaaH
10. Cinta kepada Allah
11. Tingkatan cinta
12. Konsekuensi cinta
13. Kesertaan Allah
14. Lakukan hanya yang terbaik
15. Ilmu Allah

C. Ma’rifatur rasul
1. Kebutuhan manusia terhadap Rasul
2. Definisi rasul
3. Kedudukan rasul
4. Sifat-sifat Rasul
5. Tugas Rasul
6. Karakteristik Risalah Muhammad saw.
7. Kewajiban kita kepada Rasul saw.
8. Hasil mengikuti Rasul saw.

D. Mengenal Islam
1. Makna Islam
2. Islam dan sunnatullah
3. Sifat Islam
4. Kesempurnaan Islam
5. Islam sebagai Pedoman hidup
6. Islam sebagai akhlak
7. Islam sebagai fikrah
8. Islam agama yang benar
9. Tabiat agama Islam
10. Amal Islami

E. Mengenal Manusia
1. Definisi manusia
2. Hakekat manusia
3. Potensi manusia
4. Jiwa manusia
5. Sifat manusia
6. Hakekat ibadah
7. Cakupan ibadah
8. Diterimanya ibadah
9. Hasil ibadah
10. Buah ketakwaan
11. Keseimbangan
12. Misi manusia
13. Membangun kejayaan

F. Mengenal al-Qur’an
1. Definisi al-Qur’an
2. Nama-nama al-Qur’an
3. Konsekuensi iman kepada al-Qur’an
4. Bahaya melupakan al-Qur’an
5. Syarat mendapat manfaat al-Qur’an

G. Ghazwul Fikri
1. Perang pemikiran
2. Tahapan perang pemikiran
3. Sarana perang pemikiran
4. Bahaya perang pemikiran
5. Sebab-sebab jahiliyah

H. Golongan Setan
1. Golongan setan
2. Ciri-ciri golongan setan

I. Problematikan dakwah
1. Kondisi kaum Muslim saat ini
2. Penyakit umat dalam dakwah
3. Problematika umat

J. Al-Haq wa al-Bathil
1. Konflik antara haq dan bathil
2. Kekuatan al-haq
3. Furqan
4. Istiqamah
5. Hizbullah

K. Takwinul Ummah
1. Membentuk umat
2. Membentuk kepribadian Islam
3. Berpegang teguh pada tali Allah
4. Perubahan Islami
5. Menyatukan hati
6. Sebab-sebab perpecahan dan solusinya
7. Ukhuwah Islamiyah

L. Tarbiyah Islamiyah
1. Urgensi tarbiyah
2. Tujuan tarbiyah
3. Sarana-sarana tarbiyah
4. Prinsip kesinambungan tarbiyah

M. Fiqih Dakwah
1. Keutamaan dakwah
2. Makna dakwah
3. Fiqh dakwah
4. Dasar-dasar tarbiyah takwiniyah
5. Unsur-unsur dakwah
6. Karakteristik dakwah
7. Rabbaniyatud dakwah
8. Bagaimana beradaptasi dengan Islam
9. Peran pemuda dalam mengemban Risalah
10. Penegakan agama
11. Pilar-pilar kebangkitan umat

 

Penyiksaan

8 Jan

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Permusuhan kaum Quraisy keapada Rasulullah saw. dan para shahabatnya semakin keras dan gencar. Rasulullah saw sendiri mengalami berbagai penganiayaan. Di antaranya apa yang diceritakan oleh Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata: “Apakah kalian hendak membunuh seorang yang mengucapkan Rabbku adalah Allah?” (HR Bukhari)

Berkata Abdullah bin Umar, “Ketika Nabi saw. sedang sujud di sekitar beberapa orang Quraisy, tiba-tiba Uqbah binn Abi Mu’ith datang dengan membawa kotoran binatang lalu melemparkannya ke punggung Nabi saw. Beliau tidak mengangkat kepalanya hingga Fatimah ra. membersihkannya dan melaksanati orang yang melakukan perbuatan keji itu.” (HR Bukhari)

Selain itu, Nabi saw. juga menghadapi berbagai penghinaan, ejekan dan cemoohan setiap kali beliau lewat di hadapan mereka. ath-Thabari dan Ibn Ishaq meriwayatkan bahwa sebagian mereka pernah menaburkan tanah ke atas kepala Rasulullah saw. ketika beliau sedang berjalan di sebuah lorong Makkah sehingga beliau kembali ke rumah dengan kepala kotor. Salah seorang anak perempuan Rasulullah kemudian membersihkannya sambil menangis. Akan tetapi Rasulullah saw. mengatakan kepadanya: “Wahai anakku, janganlah engaku menangis. Sesungguhnya Allah melindungi bapakmu.”

Demikian pula halnya para shahabat. masing-masing dari mereka telah merasakan berbagai macam penyiksaan. Di antara mereka bahkan ada yang meninggal dan buta karena dahsyatnya penyiksaan. Akan tetapi, semua itu tidak melemahkan semangat keimanan mereka.

Penyiksaan yang dialami oleh para shahabat ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Cukup disebutkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Khabbab ibnul Arit, ia berkata: Aku datang menemui Rasulullah saw. ketika beliau sedang berteduhdi Ka’bah. Kepada beliau aku berkata: “Wahai Rasulallah, apakah anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah kepada kami? Apakah anda tidak berdoa bagi kami?” beliau menjawab: “Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya jadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan besi sehingga kulit kepalanya terkelupas. Akan tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri semua persoalan itu sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada suapapun juga selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Akan tetapi, kalian tampak terburu-buru.”

BEBERAPA IBRAH

Apa yang terlintas di kepala setiap orang yang membaca kisah berbagai penyiksaan yang dialami oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya ialah pertanyaan: Mengapa Nabi saw. dan para shahabatnya harus merasakan penyiksaan, sedangkan mereka berada di pihak yang benar? Mengapa Allah tidak melindungi mereka, padahal mereka adalah tentara-tentara-Nya, bahkan di tengah-tengah mereka terdapat Rasul-Nya yang mengajak kepada agama-Nya dan berjihad di jalan-Nya?

Jawabnya: sesungguhnya sifat pertama bagi manusia di dunia ini adalah bahwa dia itu mukallaf, yakni dituntut oleh Allah untuk menanggung beban [taklif]. Melaksanakan perintah dakwah Islam dan berjihad menegakkan kalimat Allah merupakan taklif yang terpenting. Taklif merupakan konsekuensi terpenting dari ‘ubudiyah kepada Allah. Tidak ada arti ‘ubudiyah kepada Allah jika tanpa taklif. ‘Ubudiyah manusia kepada Allah merupakan salah satu dari konsekuensi uluhiyah-Nya. tidak ada keimanan kepada uluhiyah-Nya jika kita tidak memberikan ‘ubudiyah kepada-Nya.

Dengan demikian, ‘ubudiyah mengharuskan adanya taklif. Sementara itu taklif menuntut adanya kesiapan menanggung baban dan perlawanan terhadap hawa nafsu dan syahwat.
Karena itu kewajiban hamba Allah di dunia ini ialah mewujudkan dua hal berikut:
a. Berpegang teguh kepada Islam dan membangun masyarakat Islam yang benar
b. Menempuh segala kesulitan dan menghadapi segala resiko dan mengorbankan nyawa dan harta demi mewujudkan kewajiban tersebut.

Allah mewajibkan kita mempercayai tujuan dan sasaran, disamping mewajibkan kita menempuh jalan yang sulit dan panjang untuk mencapai tujuan tersebut, betapapun bahaya yang harus kita hadapi. Jika Allah menghendaki niscaya mudah bagi-Nya untuk membuka jalan perjuangan menegakkan masyarakata Islam. Akan tetapi perjuangan yang terlalu mudah itu belum dapat membuktikan sama sekali ‘ubudiyah seseorang kepada Allah bahwa dia telah menjual seluruh kehidupan dan hartanya kepada Allah, dan dia telah mengikuti sepenuhnya apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. Tanpa perjuangan berat belum dapat dibuktikan siapa yang mukmin sejati dan siapa yang munafik, siapa yang benar dan siapa berdusta.

Segala penderitaan dan kesulitan yang dialami para penyeru kepada Allah dan pejuang penegak masyarakat Islam merupakan sunnah Ilahiyah di dunia semenjak permulaan sejarah. Di samping merupakan tuntunan dari tiga hal berikut:
1. Pertama, sifat ‘ubudiyah manusia kepada Allah. Mahabenar Allah yang berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzaariyaat: 56)
2. Kedua, sifat taklif yang bersumber dari sifat ‘ubudiyah. Setiap orang, lelaki dan perempuan, yang sudah mencapai usia baligh diwajibkan [mukallaf] oleh Allah untuk menerapkan syariat Islam pada dirinya dan merealisasikan sistem Islam di dalam masyarakatnya dengan menanggung segala penderitaan dan kesulitan yang ada hingga makna taklif tersebut dapat terwujudkan.
3. Ketiga, pembuktian kebenaran orang-orang yang benar dan kedustaan orang-orang yang dusta. Jika manusia dibiarkan begitu saja mendakwakan Islam secara lisan, niscaya akan sama antara orang yang benar-benar beriman dengan orang-orang yang berpura-pura. Kerena itu, ujian dan cobaanlah yang membedakan orang yang benar-benar beriman dari orang-orang yang berpura-pura. Mahabenar Allah yang berfirman dalam kitab-Nya:

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 1-3)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yhang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali ‘Imraan: 142)

Karena hal itu sudah menjadi sunnatullah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya, sunnatullah itupun tidak akan pernah berubah sekalipun terhadap para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya. Karena itu Rasulullah saw. juga mengalami penganiayaan sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya. Demikian pula para shahabat Rasulullah saw. Di antara mereka bahkan ada yang meninggal atau buta akibat penyiksaan.

Demikian, akhirnya kita tahu bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dialami oleh kaum Muslim dalam menegakkan syariat Allah, kita sadari bahwa hal itu bukanlah rintangan atau hambatan yang menghalangi para pejuang, sebagaimana anggapan sebagian orang, atau mujahid untuk mencapai tujuan. Semua itu merupakan perjalanan di atas jalan yang telah digariskan oleh Allah bagi mereka yang ingin membuktikan keimanannya dan mencapai tujuannya.

Setiap muslim akan semakin dekat mencapai tujuan yang diperintahkan Allah kepadanya manakala ia semakin berat menghadapi penganiayaan atau mati syahid di tengah perjuangannya. Karena itu, seorang muslim tidak patut berputus asa manakala menghadapi penderitaan atau cobaan berat, bahkan ia harus semakin optimis terhadap kemenangan apabila dalam perjuangannya mewujudkan perintah Allah tersebut semakin banyak menghadapi cobaan dan penyiksaan. Mari kita perhatikan firman Allah berikut:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (al-Baqarah: 214)

Demikianlah jawaban Allah kepada orang-orang yang tidak memahami watak pergerakan Islam dan orang-orang yang menyangka bahwa penderitaan dan penganiayaan itu merupakan pertanda jatuhnya para mujahid dari kemenangan. “Ketahuilah bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat.”

Kenyataan ini lebih jelas lagi dapat kita perhatikan dalam kisah Khabbab Ibnul Arit ketika ia datang kepada Rasulullah saw. dalam keadaan memar dan babak belur sekujur tubuhnya akibat penganiayaan, dan meminta agar Rasulullah saw. berdoa bagi kemenangan kaum Muslim. Permintaan itu dijawab oleh Rasulullah saw. dengan jawaban yang maksudnya adalah:

“Jika engkau merasa heran dan terkejut melihat penyiksaan dan penganiayaan yang dialami oleh orang-orang yang berjihad di jalan Allah, ketahuilah bahwa itu adalah jalan yang seharusnya ditempuh. Itu adalah sunnatullah yang berlaku pada semua hamba-Nya yang beriman. Ada yang disikat dengan sikat besi hingga terkelupas kulitnya. Akan tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk mempertahankan keimanan. Adalah keliru jika engkau mengira bahwa penganiayaan dan penyiksaan itu akan menimbulkan keputusasaan dan pesimisme, tetapi sebaliknya, justru menjadi pertanda akan dekatnya kemenangan. Demi Allah, Allah pasti akan memengankan agama ini hingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapapun juga selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap srigala.”

Itulah sebabnya, Rasulullah saw. pernah menyampaikan berita gembira bahwa Allah akan menaklukkan negeri Persia dan Romawi kepada mereka. sungguhpun demikian, kedua imperium tersebut baru dapat ditaklukkan setelah Rasulullah saw. wafat. Adalah sesuai dengan kemuliaan Rasulullah saw. di sisi Allah jika Allah menaklukkan negeri tersebut di masa pemerintahan Rasulullah saw. di bawah pimpinannya secara langsung, bukan oleh salah seorang pengikutnya. Akan tetapi sungguh kemenangan itu berkaitan dengan ketetapan dan sunnatullah yang telah disebutkan di atas.

Kaum muslimin semasa hidupnya Rasulullah saw. belum “membayar” sepenuh “harga” kemenangan mereka di Syam dan Irak. Sebelum kemenangan, “harga” itu harus sudah dibayar sepenuhnya. Terbukanya dan tertakluknya suatu negeri tidak berkaitan dengan nama Rasulullah saw. atau harus di bawah pimpinannya mengingat kecintaan Allah yang begitu besar kepada beliau. Masalahnya ialah kaum muslimin yang telah berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya itu harus membuktikan kebenaran bai’at [janji setia] mereka dan membuktikan kebenaran janji mereka kepada Allah setelah mereka menandatangani “transaksi jual beli” dengan Allah di bahwa firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta benda mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (at-Taubah: 111)

&