Arsip | 14.11

Siasat Perundingan

10 Jan

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar dalam kitab Siirah menyebutkan bahwa Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata, telah diceritakan bahwa pada suatu hari, ‘Utbah bin Rabi’ah yang merupakan seorang pembesar saat duduk di tempat perkumpulan kaum Quraisy berkata, padahal saat itu Rasulullah sedang duduk sendiri di dalam masjid: “Hai kaum Quraisy, bolehkah aku menemui Muhammad untuk membicarakan dan memperbincangkan beberapa hal, mudah-mudahan ia dapat menerima sebagiannya, lalu kita dapat memberikan apa saja yang dia inginkan dan dia pun menghentikan aksinya terhadap kita.”
Saat itu Hamzah telah masuk Islam dan mereka pun melihat bahwa para shahabat Rasulullah saw. semakin bertambah banyak. Merekapun berkata: “Tentu wahai Abul walid. Temui dan berbicaralah kepadanya.” Lalu ‘Utbah pun berdiri menemui Rasulullah saw. hingga duduk di hadapannya dan berkata: “Hai anak saudaraku, sesungguhnya engkau berasal dari golongan kami, dimana aku tahu keluarga dan kedudukan keturunanmu. Sesungguhnya engkau telah membawa suatu perkara besar kepada kaummu, yang dengannya engkau memecah-belah kesatuan mereka, engkau bodoh-bodohkan akal fikiran mereka, engkau cela sesembahan mereka dan agama mereka serta engkau kafirkan nenek moyang mereka yang telah pergi. Dengarlah aku. Aku hendak mengajukan kepadamu beberapa hal yang perlu engkau tinjau kembali. mudah-mudahan engkau menerima sebagiannya.” Lalu Rasulullah saw. mejawab: “Katakanlah hai Abu Walid, aku mendengarkan.” Utbah melanjutkan perkataannya: “Hai anak saudaraku, jika dengan hal yang engkau bawa ini engkau menginginkan harta, kami akan menghimpun harta-harta kami hingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya. Jika engkau menginginkan kemuliaan, kami ingin mengangkatmu sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak memutuskan perkara tanpamu. Jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan mengangkatmu sebagai raja kami. Jika yang engkau alami ini adalah penyakit yang tidak mampu engkau tolak dari dirimu, maka kami akan mencarikan untukmu beberapa orang dokter (tabib) dan kami sumbangkan harta-harta kami, hingga engkau sembuh darinya.” Hingga ketika Utbah selesai dan didengarkan oleh Rasulullah saw., beliaupun bertanya: “Apakah engkau telah selesai wahai Abul Walid?” Dia menjawab: “Ya.” Nabi berkata: “Dengarlah dariku.” Dia menjawab: “Lakukanlah.”
Beliau menjawab: “Haamiim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan.”
Kemudian beliau meneruskan bacaannya. Ketika Utbah mendengarkannya, dia diam dan meletakkan kedua tangannya ke belakang punggungnya sambil bersandar mendengarkannya, dan ketika sampai pada ayat : “Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” (Fushilat: 13) Uthbah menutup mulut Nabi saw. dengan tangannya memohon supaya berhenti membaca karena takut ancaman yang terkandung dalam ayat itu.

Utbah lalu berdiri menemui para sahabatnya, maka sebagian mereka saling berkata kepada sebagian lainnya: “Kami bersumpah demi Allah, Abul Walid datang dengan wajah yang berbeda dari (tadi) saat dia pergi.” Ketika dia duduk, mereka berkata: “Apa yang terjadi padamu hai Abul Walid?” Dia menjawab: “Aku telah mendengar suatu perkataan yang demi Allah belum pernah aku mendengar perkataan seperti itu sedikitpun. Demi Allah, itu bukanlah sihir, bukan pula syair dan bukan pula ramalan. Hai bangsa Quraisy, taatlah kepadaku dan jadikanlah ketaatan itu untukku. Biarkanlah laki-laki itu dengan apa yang disampaikannya. Jauhkanlah diri kalian darinya. Demi Allah, perkataan yang baru saja aku dengar akan mempunyai berita besar. Jika bangsa Arab mendapatkannya, maka cukuplah bagi kalian orang lain yang membereskannya. Dan jika ia menguasai bangsa Arab, maka kerajaannya berarti kerajaan kalian, kehormatannya berarti kehormatan kalian dan kalian akan menjadi manusia yang paling berbahagia.” Mereka berkata: “Demi Allah, hai Abul Walid, engkau telah tersihir oleh lisannya.” Dia menjawab: “Ini pendapatkau. Silakan kalian lakukan apa saja yang kalian pandang (ingin) untuk kalian.”
Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang kaum musyrik, termasuk al-Walid bin Mughirah dan al-‘Ash bin Wail, datang menemui Rasulullah saw. untuk menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepada beliau dengan syarat beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka. ketika Nabi saw. menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan, “Bagaimana jika anda menyembah tuhan-tuhan kami sehari dan kami menyembah Tuhanmu sehari [bergantian]?” akan tetapi tawaran itu ditolak oleh Nabi saw. Berkenaan dengan hal ini Allah menurunkan firman-Nya:
“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah [juga] menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (al-Kaafiruun: 1-6)
Para pembesar Quraisy tidak berputus asa membujuk Nabi saw. Secara beramai-ramai mereka mendatangi Rasulullah saw. menawarkan kembali apa yang pernah ditawarkan oleh Uthbah kepada Nabi saw. Mereka menawarkan kekuasan, harta kekayaan, dan pengobatan.
Kepada mereka, Rasulullah saw. mengatakan: “Aku tidak memerlukan semua yang kalian tawarkan. Aku tidak berdawakwah karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan, tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Aku kemudian menyampaikan risalah Rabb-ku dan aku sampaikan nasehat kepadamu. Jika kamu menerima dakwahku, kebahagiaanlah bagimu di dunia dan di akhirat. Jika kamu menolak ajakanku, aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu.”

Selanjutnya mereka berkata kepada Nabi saw., “Jika anda tidak bersedia menerima tawaran kami, sesungguhnya anda sudah mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya, dan lebih keras hidupnya selain kami. Karena itu mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan gunung-gunung yang menghimpit ini dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai untuk kami sebagaimana sungai Syam dan irak, dan membangkitkan bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushayyi bin Kilab karena dia seorang tokoh yang terkenal jujur sehingga kami dapat bertanya kepadanya tentang apa yang anda katakan. Mintalah untuk anda kebun, istana, tambang emas dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini anda buru. Jika anda telah melakukan apa yang kami minta , kami baru akan mempercayai bahwa Dia mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana anda katakan.”
Nabi saw. menjawab: “Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak meminta hal itu kepada Allah.” Setelah perdebatan yang panjang akhirnya mereka berkata kepada Rasulullah saw. : “Kami dengar bahwa anda mempelajari itu semua dari seorang yang tinggal di Yamamah yang bernama ar-Rahman. Demi Allah, kami tidak percaya kepada ar-Rahman. Sesungguhnya kami telah berusaha sepenuhnya kepada anda, wahai Muhammad. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan anda berdakwah kepada kami sampai kami hancur atau anda mengalahkan kami.” Mereka kemudian bangkit dan meninggalkan Nabi saw.

BEBERAPA IBRAH:

1. Menjelaskan kepada kita tentang kebersihan dakwah nabi saw. dari segala kepentingan dan tujuan pribadi yang biasanya menjadi motivasi para penyeru ideologi baru serta penganjur pembaruan dan revolusi.
Apakah melalui dakwah, Rasulullah saw. bermaksud memburu kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan? Apakah dakwahnya hanya merupakan manifestasi dari segala kebusukan yang tersimpan di dadanya?
Semua tuduhan itu merupakan senjata yang biasa digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dakwah Islam. Akan tetapi betapa agung dan mulianya rahasia kehidupan yang dipersiapkan Rabb semesta alam kepada Rasul-Nya. Allah telah mengisi kehidupan Rasulullah saw. dengan sikap-sikap dan peristiwa-peristiwa yang menghancurkan semua tuduhan busuk yang dilontarkan para musuh Islam dan membuat mereka bingung mencari cara yang harus ditempuh untuk melancarkan serangan pemikiran.

Adalah termasuk kebijaksanaan Allah bahwa kaum musyrikin Quraisy telah melakukan beberapa kali perundingan [penawaran] kepada Rasulullah saw. setelah mereka membayangkan dalam fikiran mereka sendiri tuduhan-tuduhan tersebut, kendatipun mereka sangat mengetahui tabiat dan tujuan dakwah Rasulullah saw. Beliau tidak akan mau menerima berbagai bujukan mereka. demikianlah hikmah ilahiyah telah menghendakinya, tiap tuduhan palsu dan ghazwul fikri [serangan pemikiran] yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

Para orientalis, seperti Kramer dan van Vloten, setelah lama memeras otak, tetapi tidak juga berhasil menemukan peluang untuk menodai kesucian Rasulullah saw. Akhirnya dengan mengesampingkan kebenaran, mereka menuduh bahwa Muhammad saw. berdakwah semata-mata memburu kekuasaan dan kekayaan.
Akan tetapi, jauh sebelum para orientalis ini datang, Allah telah memerlihatkan bagaimana Utbah bin Rabi’ah atas nama kaum Quraisy menawarkan semua yang dituduhkan itu ke hadapan Nabi saw. Tawaran itu ditolak sama sekali oleh Rasulullah saw., bahkan setekah itu, beliau tetap tabah menghadapi penyiksaan dan penganiayaan kaum Quraisy.
Seandainya dakwah Rasulullah saw. semata-mata mengejar kekuasaan dan harta kekayaan, niscaya beliau tidak akan pernah bersedia menanggung penyiksaan dan tidak menolak tawaran seraya mengatakan:

“Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan, tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabbku dan aku sampaikan nasehat kepadamu. Jika kamu menerima dakwahku, kebahagiaanlah bagimu di dunia dan di akhirat. Jika kamu menolak ajakanku, aku bersabar mengikuti petunjuk Allah hingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu.”

Dalam hal ini, kehidupan sehari-hari Rasulullah saw. juga membenarkan ucapannya ini. Beliau tidak hanya menolak kekuasaan /harta kekayaan hanya dengan lisannya saja, bahkan kehidupan sehari-hari beliau penuh dengan kesederhanaan, tidak pernah lebih dari kehidupan kaum fakir dan miskin. ‘Aisyah ra. berkata dalam riwayat Bukhari: “Sampai Nabi saw. meninggal, belum pernah ada dalam rak makananku sesuatu yang bisa dimakan manusia kecuali secuil roti dan itupun aku makan untuk beberapa hari.”
Anas ra. berkata dalam sebuah hadits riwayat Bukhari: “Sampai meninggal, Nabi saw. belum pernah makan di atas piring; sampai meninggal, beliau belum pernah makan roti yang berkualitas baik.”

Kehidupan Rasulullah saw. sungguh sangat sederhana, baik dalam pakaian maupun menyangkut perabot rumahnya. Beliau tidur hanya di atas tikar anyaman, bahkan belum pernah sama sekali tidur di atas hamparan yang lembut dan empuk hingga istri-istrinya pada suatu hari mendatangi beliau mengadukan hal ihwal kehidupan yang memprihatinkan. Mereka menuntut perbaikan keadaan, paling tidak sedikit di bawah kehidupan istri shahabatnya. Mendengar tuntutan ini, Rasulullah saw. marah dan tidak memberikan jawaban apapun sehingga Allah menurunkan firman-Nya yang artinya:

“ Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, Maka Marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (al-Ahzab: 28-29)

Rasulullah saw. kemudian membacakan kedua ayat ini kepada istrinya dan memberikan pilihan kepada mereka: hidup bersamanya dengan kondisi seadanya atau tetap menuntut perbaikan kehidupan dengan diceraikan secara baik. Mereka kembali memilih hidup bersama Rasulullah saw. dengan kondisi seadanya. (=diriwayatkan oleh Bukhari. Lihat pula Ibnu Katsir menafsirkan dua ayat tersebut.)

Apakah setelah itu masih ada akal –akal siapapun- yang meragukan keikhlasan dakwah Nabi saw.? masih adakah –setelah penjelasan ini- orang yang mencoba menuduh Rasulullah saw. berdakwah karena ambisi kekuasaan dan harta kekayaan?

2. Penjelasan mengenai makna hikmah [kebijaksanaan] yang menjadi prinsip dakwah Rasulullah saw.

Apakah hikmah berarti bahwa dalam berdakwah anda boleh berbuat “kebijaksanaan” sendiri sesuka hati anda, betapapun cara dan bentuk “kebijaksanaan” tersebut? Apakah syariat Islam memberikan kebebasan kepada anda untuk menempuh sarana apa saja selama tujuan anda benar? Tidak! Sesungguhnya syariat Islam telah menentukan sarana kepada kita sebagaimana telah menentukan tujuan. Anda tidak boleh mencapai tujuan yang disyariatkan Allah kecuali dengan jalan tertentu yang telah dijadikan Allah sebagai sarana untuk mencapainya. Semua “kebijaksanaan” dan policy dakwah Islam harus dirumuskan sesuai dengan batas-batas sarana yang telah disyariatkan.

Apa yang telah disebutkan di muka merupakan dalil bagi apa yang telah ditegaskan ini. Tidaklah cukup “kebijaksanaan” seandainya Rasulullah saw. menerima tawaran kaum Quraisy untuk menjadi penguasa atau raja sehingga dengan kekuasaan itu beliau bisa memanfaatkannya sebagai sarana dakwah Islam? Apalagi kekuasaan dan pemerintahana itu memiliki pengaruh besar di dalam jiwa manusia. Perhatikanlah bagaimana cara penganjur ideologi yang baru saja berhasil merebut kekuasaan, memanfaatkan kekuasaan itu untuk memaksakan pemikiran dan ideologi mereka kepada rakyat.

Akan tetapim, Nabi saw. tidak mau menggunkan cara-cara seperti ini di dalam dakwahnya karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah Islam itu sendiri.
Jika cara-cara seperti ini dibenarkan dan dianggap sebagai “kebijaksanaan” yang syar’i, niscaya tidak akan ada bedanya antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara dakwah Islam dan dakwah-dakwah kebatilan.

Kemuliaan dan kejujuran, baik menyangkut sarana maupun tujuan, adalah landasan utama falsafah agama ini [Islam]. Tujuan harus sepenuhnya didasarkan pada kejujuran, kemuliaan, dan kebenaran. Demikian pula sarana harus didasarkan kepada prinsip kejujuran, kebenaran, dan kemuliaan.

Dari sinilah para da’i Islam dituntut untuk lebih banyak berkorban dan berjihad karena mereka tidak dibenarkan menempuh jalan dan sarana sekehendak hatinya. Mereka harus mengambil jalan dan sarana yang sudah disyariatkan, betapapun besar resiko yang harus dihadapi.

Adalah keliru jika anda beranggapan bahwa prinsip hikmah [kebijaksanaan] dalam dakwah Islam ini disyariatkan untuk mempermudah tugas seorang dai atau untuk menghindari penderitaan dan kesulitan. Rahasia disyariatkannya prinsip hikmah dalam dakwah ialah untuk mengambil jalan dan sarana yang paling efektif agar bisa diterima akal dan fikiran manusia. Artinya apabila perjuangan dakwah menghadapi beraneka ragam rintangan dan hambatan, langkah yang bijaksana bagi para da’i dalam hal ini adalah melakukan persiapan untuk berjihad dan berkorban dengan jiwa dan harta. Hikmah ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Disinilah perbedaan antara hikmah dan tipu daya, antara hikmah dan menyerah.

Kita tentu ingat dan mengetahui ketika Rasulullah saw. merasa optimis melihat tanda-tanda kesediaan tokoh-tokoh Quraisy untuk memahami Islam. Dengan perasaan gembira dan perhatian sepenuhnya, beliau menjelaskan hakekat Islam kepada mereka sehingga ketika seorang shahabat buta, Abdullah Ibnu Ummi Maktum, lewat kemudian duduk mendengarkan di samping mereka dan bertanya kepada beliau. Rasulullahs aw. Membuang muka darinya karena beliau tidak ingin kehilangan kesempatan baik tersebut, di samping bahwa pertanyaan Ibnu Ummi Maktum bisa dijawab pada kesempatan lain.

Akan tetapi, kebijaksanaan Rasulullah saw. mendapat teguran dari Allah di dalam surah ‘Abasa kendatipun tujuannya sangat mulia. Cara tersebut mengandung sikap yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam, yaitu mengabaikan dan menyakiti hati Abdullah Ibnu Ummi Maktum karena ingin menarik hati kaum musyrik.

Tegasnya, tidak ada seorang pun yang dibenarkan untuk mengubah, melanggar, dan meremehkan hukum-hukum dan prinsip-prinsip Islam dengan dalih kebijaksanaan dalam berdakwah. Hal ini karena suatu kebijaksanaan tidak bisa disebut bijaksana jika tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan syariat dan prinsip-prinsipnya.

3. Sikap Rasulullah saw. terhadap berbagai tawaran yang diajukan kaum Quraisy kepadanya tersebut mendapat dukungan dari Allah.

Berkenaan dengan ini Allah menurunkan ayat:
“dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk Kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas Kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas Kami sebuah kitab yang Kami baca”. Katakanlah: “Maha suci Tuhanku, Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (al-Israa’:90-93)

Allah tidak mengabulkan permintaan mereka bukan karena Rasulullah saw. tidak diberi mukjizat selain al-Qur’an, sebagaimana anggapan sebagian orang, melainkan karena Allah mengetahui bahwa mereka tidak menuntut hal itu melainkan karena kekafiran, keangkuhan, dan penghinaan mereka kepada Rasulullah saw. Ini dapat kita perhatikan dari cara-cara dan bentuk-bentuk tuntutan yang mereka ajukan. Seandainnya mereka jujur dan serius ingin meyakini kebenaran Nabi saw., niscaya Allah akan mengabulkan permintaan mereka. sikap kau Quraisy ini sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir”. (al-Hijr: 14-15)

Dengan demikian, tahulah kita bahwa hal ini tidak bertentangan dengan pemuliaan Allah kepada Nabi-Nya melalui beraneka macam mukjizat.

&