Macam-macam Qira’at, Hukum dan Kaidahnya

15 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Sebagian ulama menyebutkan bahwa qira’at ada yang mutawathir, ahad dan syadz. Menurut mereka, qira’at mutawatir ialah qira’at yang tujuh, sedang qira’at ahad ialah tiga qira’at yang menggenapkannya menjadi sepuluh qira’at ditambah qira’at para shahabat, dan selain itu ada qira’at syadz. Dikatakan, bahwa qira’at yang sepuluh adalah mutawathir. kemudian dikatakan pula bahwa yang menjadi pegangan dalam hal ini baik dalam qira’at yang termasuk qira’at tujuh, qira’at sepuluh maupun lainnya adalah dlabit atau kaidah tentang qira’at yang shahih.

Abu Syamah dalam al-Mursyidul Wajiz mengungkapkan, tidak sepantasnya kita tertipu oleh setiap qira’at yang disandarkan pada salah satu qira’at tujuh dengan menyatakan sebagai qira’at yang shahih [benar] dan seperti itulah qira’at tersebut diturunkan kecuali bila qira’at itu telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam dlabit. Dengan begitu, maka seorang penyusun tidak seyogyanya hanya memindahkan [menukil] qira’at yang dikatakannya berasal dari seorang imam tersebut tanpa menukil qira’at yang lain, atau khusus hanya menukilkan qira’at dari imam tujuh saja. tetapi hendaknya ia menukilkan semu qira’at berasal dari qurra’ lain. Cara demikian tidak mengeluarkan sesuatu qira’at dari keshahihannya. Sebab yang menjadi pedoman adalah terpenuhinya sifat-sifat atau syarat-syarat, bukan siapa yang kepadanya qira’at itu dihubungkan. Hal ini karena qira’at yang dihubungkan kepada setiap qari’ yang tujuh atau yang lain itu, ada yang disepakati [mujma’ ‘alaiHi) dan ada pula yang syadz. Hanya saja karena popularitas qari’ yang tujuh dan banyaknya qira’at mereka yang telah disepakati keshahihannya maka jiwa merasa tenteram dan cenderung menerima qira’at yang berasal dari mereka melebihi qira’at yang bersumber dari qari’-qari’ yang lainnya. (lihat al-itqaan jilid 1 hal 75)

Menurut mereka, dlabit atau kaidah qira’at yang shahih adalah sebagai berikut:

1. Kesesuaian qiraat tersebut sesuai dengan qaidah bahasa Arab sekalipun dalam satu segi, baik segi itu fasih maupun lebih fasih, sebab qira’at adalah sunah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi rujukan dengan berdasarkan pada isnad, bukan ra’yu [penalaran].

2. Qira’at sesuai dengan salah satu mushaf Utsmani, meskipun hanya sekedar mendekati saja. sebab, dalam penulisan mushaf-mushaf itu para shahabat telah bersungguh-sungguh dalam membuat rasm [cara penulisan mushaf] sesuai dengan macam-macam dialek qira’at yang mereka ketahui. Misalnya mereka akan menuliskan “ash-shiraatha” dalam ayat “iHdinash-shiraathal mustaqiim” (al-Faathihah: 6). Mereka tidak menuliskan sin yang merupakan asal ini agar lafadz tersebut dapat pula dibaca dengan sin yaitu “as-siraatha”. Meskipun dalam satu segi berbeda dengan rasam, namun qira’at dengan sin pun telah memenuhi atau sesuai dengan bahasa asli lafadz tersebut yang dikenal, sehingga kedua bacaan itu dianggap sebanding. Dan bacaan isymaam untuk itu pun dimungkinkan pula.

Yang dimaksud dengan sesuai yang hanya sekadar mendekati saja [muwafaqah ihtimaliyah] adalah contoh di atas. Misal yang lainnya seperti “maaliki yaumiddiin” (al-Faatihah: 4). Lafadz “maaliki” dituliskan dalam semua mushaf dengan membuang alif, sehingga dibaca “maali-i” sesuai dengan rasm secara tahqiq [jelas] dan dibaca pula “maaliki” sesuai dengan rasm secara ihtimal [kemungkinan]. Dan demikian pula contoh-contoh yang lain.

Contoh-contoh qira’at yang berbeda tetapi sesuai dengan rasm secara tahqiq adalah “ta’lamuuna” dengan ta’ dan ya’. Juga “yaghfirlakum” dengan ya’ dan nun’ dan lain-lain. Kekosongan rasm dari titik dan syakal baik ketika dihilangkan maupun ketika ditetapkan merupakan bukti betapa tingginya para shahabat dalam ilmu ejaan khususnya dan dalam pemahaman yang cemerlang terhadap kajian setiap ilmu.

Dalam menentukan qira’at yang shahih tidak disyaratkan qira’at itu harus sesuai dengan semua mushaf, cukup dengan apa yang terdapat dalam sebagian mushaf saja. misalnya qira’at Ibn ‘Amr “wa biz zuburi wa bil kitaabi” (Ali ‘Imraan: 184), dengan menetapkan ba’ pada kedua lafaz itu, qira’at ini dipandang shahih karena yang demikian ditetapkan pula dalam Mushaf Syami.

3. Qira’at itu harus shahih isnadnya, sebab qira’at merupakan sunah yang diikuti yang didasarkan pada keselamatan penukilan dan keshahihan riwayat. Seringkali ahli bahasa Arab mengingkari sesuatu qira’at hanya karena qira’at itu tidak sejalan dengan aturan atau lemah menurut kaidah bahasa, namun demikian para imam qira’at tidak menanggung beban apapun atas keingkaran mereka itu.

Itulah syarat-syarat yang ditentukan dalam dlabit bagi qira’at yang shahih. Apabila ketiga syarat itu terpenuhi yaitu:
1. Sesuai dengan bahasa Arab
2. Sesuai dengan rasam Mushaf
3. Shahih sanadnya
Maka qira’at tersebut adalah qira’at yang shahih. Dan bila salah satu syarat atau lebih tidak terpenuhi maka qira’at itu dinamakan qira’at yang lemah, syadz atau bathil.

Yang mengherankan ialah bahwa sebagian ahli Nahwu masih juga menyalahkan qira’at shahih yang telah memenuhi syarat-syarat tersebut hanya semata-mata qira’at tersebut bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmu nahwu yang mereka jadikan tolok ukur bagi keshahihan bahasa. Seharusnya qira’at yang shahih itu dijadikan hakim atau pedoman bagi kaidah-kaidah nahwu dan kebahasaan, bukan sebaliknya menjadikan kaidah ini sebagai pedoman bagi al-Qur’an. Hal ini karena al-Qur’an adalah sumber pertama dan pokok bagi pengambilan kaidah-kaidah bahasa, sedang al-Qur’an sendiri didasarkan pada keshahihan penukilan dari riwayat yang menjadi landasan para qari’, bagaimanapun juga adanya. Ibn Jaziri ketika memberikan komentar terhadap syarat pertama kaidah qira’at yang shahih ini menegaskan, “Kata-kata dalam kaidah di atas meskipun hanya dalam satu segi, yang kami maksudkan adalah suatu segi dari ilmu nahwu, baik segi itu fasih maupun lebih fasih, disepakati atau pun diperselisihkan. Sedikit berlawanan dengan kaidah nahwu tidaklah mengurangi keshahihan suatu qira’at jika qira’at itu telah tersebar luas, populer dan diterima para imam berdasarkan isnad yang shahih, sebab hal terakhir inilah yang menjadi dasar terpenting dan sendi paling utama. Memang, tidak sedikit qira’at yang diingkari oleh ahli Nahwu atau sebagian besar mereka, tetapi keingkaran mereka itu tidak perlu dihiraukan, seperti mensukunkan “baari’kum” dan “ya’murkum”, mengkhafadkan “wal arhaami”, menasabkan “liyujziyal qauman” dan memisahkan antara dudaaf dengan mudaaf ilaiHi, seperti dalam ayat “qatla aulaadaHum syurakaa-iHim” dan sebagainya.” (lihat al-itqaan jilid 1 hal 75, dan lihat kitab-kitab tarsir tentang ayat-ayat berikut: “wattaqullaaHal ladzii tasaa-aluuna biHii wal arhaam” (an-Nisaa’: 1), liyuhziya qauman kaanuu yaksibuun” (al-Jaatsiyah: 14) dan “wa kadzaalika zayyanna likatsiirim minal musyrikiina qatla aulaadaHum syurakaa-uHum” (al-An’am: 137)

Berkata Abu ‘Amr ad-Dani, “Para imam qira’at tidak memperlakukan sedikitpun huruf-huruf al-Qur’an menurut aturan yang paling populer dalam dunia kebahasaan yang paling sesuai dengan kaidah bahasa Arab, tetapi menurut yang paling mantap [tegas] dan shahih dalam riwayat dan penukilan. Karena itu bila riwayat itu mantap, maka aturan kebahasaan yang popularitas bahasa tidak bisa menolak atau mengingkarinya, sebab qira’at adalah sunah yang harus diikuti dan wajib diterima seutuhnya serta dijadikan sumber acuan.” Zaid bin Tsabit berkata: “Qira’at adalah sunah muttaba’ah, sunah yang harus diikuti.” (hadits Sa’id bin Mansur dalam Sunan-nya)

Baihaqi menjelaskan, maksud perkataan tersebut ialah bahwa mengikuti orang-orang sebelum kita dalam hal qira’at al-Qur’an merupakan sunah atau tradisi yang harus diikuti, tidak boleh menyalahi mushaf yang merupakan imam dan tidak pula menyalahi qira’at-qira’at yang masyhur meskipun tidak berlaku dalam bahasa Arab.”

Sebagian ulama menyimpulkan macam-macam qira’at menjadi enam macam:

1. Mutawathir, yaitu qira’at yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, dan sejumlah orang seperti itu dan sanadnya bersambung hingga penghabisannya, yaitu Rasulullah saw. Dan inilah yang umum dalam hal qira’at.

2. Masyhur, yaitu qira’at yang shahih sanadnya tetapi tidak mencapai derajat mutawathir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan Rasm Utsmani serta terkenal pula di kalangan para ahli qira’at sehingga karenanya tidak dikategorikan qira’at yang salah atau syadz. Para ulama menyebutkan bahwa qira’at macam ini termasuk qira’at yang dapat dipakai atau digunakan.

3. Ahad, yaitu qira’at yang shahih sanadnya tetapi menyalahi rasm Utsmani, menyalahi kaidah bahasa Arab atau tidak terkenal seperti halnya qira’at masyhur yang disebutkan. Qira’at macam ini tidak termasuk qira’at yang dapat diamalkan bacaannya. Di antara contohnya adalah yang diriwayatkan dari Abu Bakrah, bahwa Nabi membaca “muttaki-iina ‘alaa rafaarifa khudl-riw wa ‘abaaqariya hisaan” (ar-Rahmaan: 76) (hadits Hakim) dan yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas bahwa ia membaca “laqad jaa-akum rasuulum min anfusikum” (at-Taubah: 128), dengan membaca fathah huruf fa’. (Hadits Hakim)

4. Syadz, yaitu qira’at yang tidak shahih sanadnya, seperti qira’at “malaka yaummad diin” (al-Faatihah: 4) dengan bentuk fi’il madli dan menasabkan “yauma”.

5. Maudlu’, yaitu qira’at yang tidak ada asalnya

6. Mudraj, yaitu ditambahkan ke dalam qira’at sebagai penafsiran, seperti qira’at Ibn ‘Abbas: “laisa ‘alaikum junaahun an tabtaghuu fadl-lam mir rabbikum fii mawaasimil hajji fa idzaa afadltum min ‘arafaatin” (al-Baqarah: 198) (HR Bukhari), kalimat “fii mawaa simil hajji” adalah penafsiran yang disisipkan ke dalam ayat.

Keempat macam terakhir ini tidak boleh diamalkan bacaannya.
Jumhur berpendapat bahwa qira’at yang tujuh itu mutawathir. dan yang tidak mutawathir, seperti masyhur, tidak boleh dibaca dalam maupun di luar shalat.

Nawawi dalam Syarh al-Muhadzdzab berkata: “Qira’at yang syadz tidak boleh dibaca baik di dalam maupun di luar shalat, karena ia bukan al-Qur’an. Al-Qur’an hanya ditetapkan dengan sanad yang mutawathir, sedang qira’at yang syadz tidak mutawathir. orang yang berpendapat selain ini adalah salah atau jahil. Seandainya seseorang menyalahi selain ini dan membaca dengan qira’at yang syadz, maka ia harus diingkari baik bacaan itu di dalam maupun di luar shalat. Para fuqaha Bagdad sepakat bahwa orang yang membaca al-Qur’an dengan qira’at yang syadz harus disuruh bertobat. Ibn ‘Abdil Barr menukilkan ijma’ kaum muslimin bahwa al-Qur’an tidak boleh dibaca dengan qira’at yang syadz dan juga tidak sah shalat di belakang orang yang membaca al-Qur’an dengan qira’at-qira’at syadz itu.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: